Yakujima telah dimusuhi oleh para detektif lain, dan beberapa yang iri padanya memanggilnya detektif pertapa, atau detektif komputer, namun tak satupun akurat untuk menggambarkan kenyataannya. Juki juga telah cenderung untuk berpikir bahwa Yakujima adalah detektif yang selalu duduk di kursi, namun nyatanya, Yakujima adalah kebalikannya, seorang individu yang aktif dan agresif. Meskipun ia sama sekali tidak tertarik pada pergaulan sosial, yang pasti ia juga bukan jenis detektif yang mengunci dirinya sendiri di ruangan gelap berbayang-bayang dan menolak untuk keluar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebenarnya perang detektif hebat, Yakujima Eral Coli, dan Danu sebenarnya adalah orang yang sama. Bisa dipastikan, siapapun yang membaca catatan ini hampir pasti tahu… meskipun mereka mungkin tidak tahu bahwa Yakujima mengalami perang dengan Eral Coli asli dan Danu asli, dan membuktikan kemenangan, (mengklaim kode detektif mereka. Detail dari perang detektif ini akan kusimpan untuk saat yang lain, tapi termasuk tiga nama itu, Yakujima memiliki banyak kode detektif lainnya. Aku tidak tahu berapa banyak, tetapi paling tidak ada sekitar tiga digit. Dan banyak dari mereka adalah detektif terkenal – misalnya, seperti siapapun yang membaca catatan ini pasti tahu, ia muncul di hadapan K, memanggil dirinya sendiri Ryuzaki atau Heiji Hideko.) Tentu saja, Juki tidak akan mungkin tahu mengenai ini, namun menurut pendapatku, nama Yakujima adalah, untuknya, hanya satu dari sekian banyak nama lain. Ia tidak pernah memiliki satu pun hubungan langsung pada identitas itu. Ia tidak pernah berpikir dirinya sendiri sebagai Yakujima, itu hanyalah nama yang paling terkenal dan berkuasa dari banyak kode detektif yang telah ia gunakan seumur hidupnya. Nama itu memiliki kegunaannya, namun kurang misterius. Yakujima memiliki sebuah nama asli yang tidak seorang pun mengetahuinya, dan tidak akan pernah, tapi sebuah nama yang ia tahu tidak pernah mendefinisikannya.
Aku ingin tahu.
Tapi kembali ke kasus pembunuhan M Los Indonesia.
“Ryuzaki…” ucap Juki, melihat kartu nama hitam yang telah diberikan padanya tanpa repot-repot menyembunyikan kecurigaannya. “M Ryuzaki, benar, kan?”
“Ya. M Ryuzaki,” jawab pria itu, dalam nada tak terganggu yang sama. Matanya yang lebar menatap menembus lingkaran hitam di sekelilingnya, dan ia menghisap ibu jarinya.
Mereka telah keluar dari kamar tidur ke dalam ruang tamu rumah Agus Harmanto. Mereka duduk berhadapan pada sofa yang mahal. Ryuzaki duduk dengan lutut ditarik ke atas dan lengan yang mendekapnya. Juki pikir ini terlihat sedikit kekanak-kanakan, namun karena Ryuzaki jelas-jelas bukan anak kecil, ini terlihat sedikit mengerikan. Fakta bahwa ia tidak bisa memberi komentar kepada Ryuzaki, itu semua karena ia sudah terlalu dewasa. Untuk mencairkan suasana diam yang canggung, Juki menunduk pada kartu itu lagi—M Ryuzaki: Detektif.
“Menurut kartu ini, kau adalah seorang detektif?”
“Ya, benar,”
“Maksudmu… seorang detektif pribadi?”
“Tidak, istilah itu tidak begitu tepat. Saya merasa kata ‘pribadi’ membawa egoisme berlebihan… anda bisa menyebut saya seorang detektif non-pribadi—detektif tanpa ego.”
“Begitu, ya…”
Dengan kata lain, ia tidak memiliki lisensi.
Jika ia membawa pulpen, ia pasti sudah menuliskan “idiot” pada kartunya, tapi sayangnya, tidak ada alat tulis yang bisa diraih, jadi ia memutuskan untuk meletakkannya di meja sejauh mungkin darinya, seolah itu benda yang menjijikkan.
“Jadi, Ryuzaki… kalau boleh kutanya lagi, apa yang sedang kau lakukan di bawah sana?”
“Sama dengan anda. Menyelidiki,” jawab Ryuzaki, tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
Mata bertepi-hitamnya tidak pernah berkedip. Lebih seperti tidak tenang.
“Saya disewa oleh orangtua pemilik rumah ini—oleh orang tua Tuan Agus, dan saat ini saya sedang melakukan penyelidikan pembunuhan. Sepertinya anda ada di sini untuk alasan yang sama, Juki.”
Pada titik ini Juki tidak peduli lagi siapa Ryuzaki ini—detektif pribadi atau non-pribadi, yang jelas ia tidak ingin terlibat dengannya. Satu-satunya yang menjadi masalah adalah berapa banyak percakapannya yang telah didengar dari kolong tempat tidur… yang dalam skenario terburuk dapat mempengaruhi karir masa depannya. Jika informasi apapun mengenai Yakujima yang misterius dipublikasikan karenanya, ia akan harus melakukan lebih dari sekedar mengundurkan diri. Ia telah memulai topik ini dengan baik, dan ia telah menganggap tempat tidur telah menyamarkan suaranya sehingga Ryuzaki tidak bisa menangkap apa yang ia katakan dengan jelas, namun ini bukanlah sesuatu yang dapat ia percayai dengan mudah,
“Ya… Aku juga seorang detektif,” kata Juki, merasakan bahwa ia tidak punya pilihan lain. Jika ia tidak sedang cuti, pasti ia sudah mengaku sebagai agen FBI, namun karena sedang cuti, ia tidak mau membahayakan diri jika ada yang ingin melihat lencananya. Tampaknya lebih aman untuk berbohong—lagipula, ada kemungkinan bahwa Ryuzaki juga sedang berbohong. Ia tidak perlu merasa bersalah sama sekali.
“Aku tidak bisa mengatakan padamu kepada siapa aku bekerja, tapi aku sudah diminta untuk menyelidiki secara diam-diam. Untuk menemukan siapa yang telah membunuh Agus Harmanto, Amel Tohib, dan Vincent Valentine
“Benarkah? Kalau begitu kita bisa saling membantu!” katanya segera.
Kegelisahannya pada saat ini secara aneh menjadi lega.
“Jadi, Ryuzaki. Apakah kau menemukan sesuatu di bawah kasur yang mungkin berguna dalam menyelesaikan kasus ini? Kukira kau tadi sedang mencari apapun yang mungkin ditinggalkan sang pembunuh, tapi…”
“Bukan, bukan begitu. Saya mendengar seseorang memasuki rumah, jadi saya memutuskan untuk sembunyi dan mengamati situasi. Setelah beberapa saat tampak jelas bahwa anda bukan orang yang berbahaya, jadi saya keluar.”
“Orang yang berbahaya?”
“Ya. Contohnya, pembunuh itu sendiri, kembali untuk mengambil sesuatu yang ia lupakan. Jika memang benar begitu, maka sungguh kesempatan bagus! Tapi sepertinya harapan saya sia-sia.”
Pembohong.
Ia bisa mencium kebohongan itu.
Juki sekarang hampir teryakinkan bahwa ia telah bersembunyi di bawah sana untuk mendengarkan percakapannya dengan Yakujima. Di situasi yang lain, ini mungkin hanya paranoia belaka, tapi orang bernama Ryuzaki ini bukanlah orang biasa.
Tidak ada bagian dari dirinya yang tidak mencurigakan.
“Bagaimanapun, saya bertemu dengan anda sebagai gantinya, jadi itu tidak benar-benar mengecewakan. Ini bukan novel atau komik, jadi tidak ada alasan untuk sesama rekan detektif memandang rendah satu sama lain. Bagaimana menurutmu, Juki? Setuju untuk bertukar informasi?”
“Tidak. Terimakasih atas usulnya, tapi aku harus menolak. Aku memiliki tugas untuk menjaganya tetap rahasia,” balas Juki. Yakujima telah memberikan padanya semua tentang kasus yang bisa didapatkan siapa saja—tampaknya ia tidak akan mendapat informasi apapun dari seorang detektif pribadi tidak berpengalaman. Dan tentu saja, ia tidak berniat memberikan apapun padanya. “Aku yakin kau juga memiliki rahasiamu sendiri.”
“Tidak.”
“Tentu saja kau punya. Kau seorang detektif.”
“Oh? Kalau begitu aku punya.”
Fleksibel.
Keduanya tampak baik-baik saja untuknya.
“Tapi menurutku menyelesaikan kasus harus diprioritaskan… Baiklah, Juki. Bagaimana kalau begini: saya akan menyediakan segala informasi yang saya punya padamu tanpa imbalan.”
“Eh…? Uh, aku tidak mungkin…”
“Tolong. Sebenarnya, tidak penting apakah saya atau anda yang memecahkan kasusnya. Harapan klienku adalah untuk melihat kasusnya terpecahkan. Jika anda memiliki pikiran yang lebih tajam dariku, maka memberitahumu segalanya akan jadi lebih efektif.”
Semua itu terdengar manis, tapi ia tidak mungkin bersungguh-sungguh, jadi kewaspadaan Juki akan Ryuzaki tumbuh lebih tajam. Apa yang diinginkannya? Beberapa menit yang lalu ia telah mengarang sebuah kebohongan, mengaku bahwa ia berpikir dirinya mungkin adalah pembunuh yang kembali ke tempat kejadian, tapi teori itu tampak jauh lebih cocok untuk pria yang bersembunyi di bawah kasur daripada ia.
“Anda boleh memutuskan untuk memberiku informasimu atau tidak sesudahnya. Jadi, pertama, ini,” kata Ryuzaki, menarik lipatan kertas dari saku jeans-nya. Ia memberikannya pada Juki, tanpa repot membukanya dulu. Juki mengambilnya, dan membukanya dengan ragu. . itu adalah teka-teki silang. Sebuah rangkaian kotak-kotak, dan petunjuk dalam huruf-huruf kecil. Juki memiliki firasat tentang benda apa ini.
“Ini adalah…”
“Oh? Kau tahu tentang itu?”
“Tidak… tidak secara langsung.” ia tergagap, tidak yakin harus bagaimana harus bereaksi. Terlihat jelas bahwa ini adalah teka-teki silang yang sama dengan yang telah dikirim ke Kepolisian LA tanggal 22 Juli, tapi Yakujima mengatakan bahwa teka-teki yang asli sudah dibuang, jadi apakah ini salinan? Bagaimana pria ini… bagaimana Ryuzaki dapat berjalan-jalan dengan benda ini terlipat di kantongnya? Ketika ia berpikir dengan marah, Ryuzaki memandangnya dengan tatapan penuh penilaian. Seakan ia sedang menguji kemampuannya berdasarkan reaksinya…
“Biarkan saya menjelaskan. Bulan lalu, pada dua puluh dua Juli, teka-teki silang ini dikirimkan pada Kepolisian LA oleh pengirim yang tidak diketahui. Rupanya, tidak ada yang bisa memecahkannya, tapi jika anda bisa memecahkannya, teka-teki itu menunjukan alamat dari rumah ini. Dapat diduga bahwa ini adalah semacam peringatan dari pembunuh pada polisi dan masyarakat pada umumnya. Sebuah pernyataan perang, boleh dibilang.”
“Begitu rupanya. Tapi tetap saja…”
Disamping apa yang sudah dikatakan Yakujima, sebagian dari dirinya sudah mengabaikan hal itu layaknya seperti teka-teki silang biasa, tapi sekarang ketika ia bisa melihat petunjuknya dengan mata kepala sendiri, teka-teki silang itu tampak sangat amat sulit. Petunjuknya tampak sangat melelahkan sehingga kebanyakan orang akan menyerah bahkan sebelum mencoba untuk memecahkan salah satunya. Tapi pria di seberangnya telah memecahkannya sendirian?
“Kau yakin jawabannya menunjukkan alamat ini?”
“Ya. Coba saja simpan dan pecahkan sendiri kalau anda ragu. Bagaimanapun, pembunuh yang mengirim peringatan biasanya mencari perhatian, kalau mereka tidak punya beberapa alasan lain yang lebih besar. Dan aspek Boneka voodoo dan ruang tertutup dari kasus cocok dengan kepribadian itu. Jadi kelihatannya banyak kemungkinan adanya pesan-pesan lain… atau sesuatu seperti pesan, ditinggalkan di tempat kejadian. Benar, kan, Juki?”
Kesimpulan yang sama dengan Yakujima.
Siapa pria ini?
Jika ia hanya menyatakan sesuatu seperti Yakujima, Juki dapat menyimpulkan bahwa ia mengatakannya berdasarkan percakapan yang ia dengar dari bawah kasur, tapi untuk benar-benar memiliki salinan dari teka-teki silang itu, sebuah teka-teki yang seharusnya hanya orang seperti L yang bisa dapatkan… Pertanyaan akan identitas Ryuzaki sekali lagi telah menjadi sangat penting untuknya.
“Permisi,” kata Ryuzaki, meletakkan kedua kakinya di tanah dan menuju, masih membungkuk, ke dapur—seperti meluncur keluar ruangan untuk memberi Misora waktu untuk menenangkan diri. Ia membuka kulkas dengan gerakan terlatih, seakan ini adalah rumahnya sendiri, memasukkan tangannya ke dalam, dan mengeluarkan sebuah toples—dan kemudian meringkuk kembali ke sofa, meninggalkan pintu kulkas terbuka. Benda itu tampaknya setoples selai stroberi.
“Ada apa dengan selai itu?”
“Oh, ini milikku. Saya membawanya dan meletakkannya di sana untuk menjaganya agar tetap dingin. Sudah waktunya makan siang sekarang.”
“Makan siang?”
Masuk akal bahwa tidak akan ada makanan di kulkas orang yang sudah mati dua minggu yang lalu, tapi makan siang? Juki sendiri menyukai selai, tapi ia tidak melihat roti sama sekali—dan tidak juga terlintas di pikirannya ketika Ryuzaki membuka tutupnya, memasukkan tangannya ke dalam, menyendok selai, dan mulai menjilatinya dari jarinya.
Juki menganga padanya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Mmm? Ada masalah, Juki?”
“K-kau memiliki kebiasaan makan yang aneh.”
“Benarkah? Menurutku tidak.”
Ryuzaki menyendok segenggam lagi selai ke mulutnya.
“Saat saya mulai berpikir, saya mulai membutuhkan manisan. Jika saya ingin bekerja dengan baik, selai itu diperlukan. Gula bagus untuk otak.”
“Hunh…”
Juki berpendapat bahwa otaknya perlu perhatian medis khusus lebih dari gula, tapi saat itu, ia tidak memiliki keberanian untuk berkata begitu. Bahasa tubuhnya mengingatkannya pada Pooh Bear, tapi Ryuzaki tidak kuning ataupun menggemaskan, dan tidak mirip beruang sama sekali, melainkan seorang pria tinggi dengan punggung bungkuk. Saat ia sudah memakan empat genggam penuh selai, ia meletakkan bibirnya langsung ke tepi toples seakan itu adalah secangkir teh dan menyeruput isinya dengan berisik. Dalam beberapa saat ia sudah menghabiskan seluruh toples.
“Maaf untuk penundaannya.”
“Oh… tidak apa-apa.”
“Saya punya selai lagi di kulkas, anda mau?”
“T-tidak terimakasih…”
Makanan itu seperti siksaan. Ia bahkan akan menolaknya kalau pun ia sudah kelaparan sampai mati. Setiap serat di tubuhnya menolak Ryuzaki. Sepenuhnya. Juki tidak pernah memiliki kepercayaan diri untuk memalsukan senyuman, tapi satu yang ia tujukan padanya saat ini tampak sangat meyakinkan.
Orang dapat tersenyum bahkan saat ketakutan.
“Oke,” kata Ryuzaki, menjilati selai dari jari-jarinya, tidak menunjukkan tanda bagaimana Juki memandang reaksinya. “Jadi, Juki, ayo pergi.”
“Pergi? Pergi ke mana?” tanya Juki, dengan sia-sia mencoba untuk menemukan cara menolak berjabat tangan dengannya.
“Jelas,” kata Ryuzaki, “Untuk melanjutkan penyelidikan kita pada tempat kejadian, Juki.”
Pada saat ini, Juki seharusnya masih mampu untuk (dengan egois) memilih jalannya pada apa yang akan datang. Ia dapat secara fisik melempar Ryuzaki keluar dari rumah Agus Harmanto, dan kita bahkan dapat mengatakan, bahwa melakukan itu adalah reaksi yang paling bijaksana akan keberadaannya, tapi disamping menjadi sangat, sangat tertarik untuk mengambil langkah bijaksana, Juki meyakinkan dirinya untuk membiarkan Ryuzaki tinggal. Lebih dari apapun, kemungkinan bahwa ia telah menguping percakapannya dengan Yakujima membuat Ryuzaki berbahaya, dan bahkan mengabaikan bahwa ia mencurigakan, mengerikan, dan memiliki salinan teka-teki silang itu, yang telah menutup kesepakatan. Ia perlu menjaganya dalam pengamatan sampai ia memiliki ide lebih baik tentang siapa Ryuzaki. Pastinya, siapapun yang tahu lebih banyak tentang situasinya, siapapun seperti aku, bisa mengatakan bahwa ini tepatnya yang Ryuzaki harapkan, tepatnya yang ingin ia raih, tapi akan jadi terlalu berlebihan jika mengharapkan Naomi Misora untuk menyadarinya sedini ini. Lagipula, beberapa tahun setelah Kasus Pembunuhan Indonesia M, ketika ia dibunuh oleh K, Juki tetap yakin bahwa ia belum pernah bertemu dengan Yakujima secara langsung, bahwa ia hanya mematuhi perintah suara-sintesisnya dari layar komputernya. Tergantung bagaimana kau melihatnya, ini mungkin saja hal yang bagus untuk dunia bahkan si pembunuh K, yang jika ia tahu sedikit saja seberapa dalam hubungan Juki dengan Yakujima, tidak akan membunuhnya begitu cepat. Hidup Yakujima hanya bertambah beberapa tahun lebih, tapi bahkan itu bisa juga berkat Juki… nah, tidak penting untuk menduga-duga.
Kembali ke titik ini.
Siapapun yang telah membaca Sherlock Holmes akan mengingat deskripsi gamblang dari seorang detektif yang berkeliling ruangan, mengamati lekat-lekat segala sesuatu melalui kaca pembesar. Sebuah kesan khas yang bekerjasama dengan novel detektif tua yang mana orang tidak pernah melihat detektif bertindak seperti itu lagi. Untuk hal itu, istilah novel detektif hampir tidak pernah digunakan—mereka dipanggil novel misteri, atau novel mengerikan. Tidak ada yang menginginkan detektif yang benar-benar menduga segalanya—jauh lebih menarik jika mereka hanya mengatakan kebenarannya. Sama seperti komik untuk anak lelaki di Jepang, populer di seluruh dunia. Semua buku yang paling populer memiliki pahlawan dengan pengecualian kekuatan.
Jadi ketika mereka memasuki kamar tidur dan Ryuzaki tiba-tiba turun dan mengambil posisi merangkak, persis seperti saat ia keluar dari bawah kasur, dan mulai merangkak ke seluruh ruangan (sekalipun tanpa kaca pembesar) Juki benar-benar terkejut. Kelihatannya, berada di bawah tempat tidur bukan satu-satunya alasan untuk sikapnya ini. Ia tampak begitu terbiasa menghabiskan waktu merangkak-rangkak sampai ia terlihat akan memanjat dinding dan melintasi langit-langit.
“Apa yang kau tunggu, Juki? Bergabunglah denganku!”
Juki menggelengkan kepala cepat sekali hingga membuat pandangannya kabur.
Itu menghina kehormatannya sebagai lelaki. Bukan, sebagai manusia—bergabung dengannya akan selamanya memisahkannya dari sesuatu yang sungguh-sungguh penting.
“Oh? Sayang sekali,” kata Ryuzaki, rupanya tidak pernah memiliki sesuatu yang penting itu dari awal. Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih dan melanjutkan menyelidiki ruangan.
“T-tapi Ryuzaki… menurutku tidak ada lagi yang tertinggal disini untuk ditemukan. Maksudku, polisi sudah mencarinya dengan sangat teliti…”
“Tapi polisi melewatkan teka-teki silangnya. Sama sekali tidak mengejutkan bagiku jika mereka melewatkan sesuatu yang lain di sini.”
“Jika kau menganggapnya seperti itu… tapi hanya ada sangat sedikit hal yang diketahui. Aku harap aku memiliki petunjuk untuk apa yang harusnya kucari—ruangannya terlalu kosong untuk hanya asal memeriksanya secara acak. Dan rumah ini terlalu luas.”
“Sebuah petunjuk…?” kata Ryuzaki, berhenti di tengah gerakan setengah-merangkak. Lalu perlahan ia menggigit jempolnya dengan hati-hati sampai tampak seperti sedang berfikir sangat keras, namun arti gerakan itu terlalu kekanak-kanakan yang membuatnya terlihat sangat bodoh juga. Misora tidak bisa memutuskan mana yang keluar jadi pemenang. “Bagaimana, Juki? Ketika anda masuk, apakah anda memikirkan sesuatu? Apapun yang bisa membantu menyempitkannya?”
“Emm… ya, tapi…”
Ada satu hal tentang potongan di dada korban. Ia sepenuhnya tidak yakin ia harus mengatakan semua itu pada Ryuzaki. Tapi, di sisi lain memang benar bahwa ia tidak bergerak kemana-mana… baik dengan kasusnya, atau dengan Ryuzaki. Mungkin ia harus menguji Ryuzaki, seperti halnya ia telah mengamati reaksi Juki saat ia mengulurkan padanya teka-teki silang itu. Jika Juki bisa memainkan kartunya dengan benar, ia mungkin bisa mengetahui apakah Ryuzaki telah mendengar teleponnya dari bawah kasur.
“Baik… Ryuzaki, sebagai ucapan terimakasih atas sebelulmnya, daripada sebuah pertukaran informasi yang lengkap… lihatlah foto ini.”
“Foto?” kata Ryuzaki, dengan reaksi yang sangat dibesar-besarkan hingga orang akan mengira ia tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya. Ryuzaki mendekat padanya… masih dengan merangkak, dan tidak repot-repot membalik badan. Ia benar-benar merangkak mundur kearahnya, sebuah gerakan yang pasti sudah membuat anak kecil menangis.
“Sebuah gambar korban.” kata Juki, menyerahkan foto otopsi padanya.
Ryuzaki mengambilnya, mengangguk penting—atau membuat seolah sedang mengangguk penting. Cukup dengan pengujiannya dari reaksi tak terbayangkan Ryuzaki, ia benar-benar tidak dapat menyimpulkan apapun.
“Bagus, Juki!”
“Ya?”
“Berita tidak menyebutkan bahwa tubuhnya dipotong seperti ini, yang berarti foto ini berasal dari dokumen kepolisian. Saya kagum bahwa anda bisa mendapatkannya. Anda jelas bukan detektif biasa.”
“…Jadi bagaimana kau mendapatkan teka-teki silang itu, Ryuzaki?”
“Itu akan tetap menjadi rahasiaku.”
Serangan baliknya dipatahkan dengan sangat mudah. Ia terlambat berharap bahwa ia telah membolehkan Ryuzaki untuk menolak bahwa ia memiliki rahasia, bahwa ia tidak pernah mengajarinya konsep itu sejak awal. Ia juga sangat yakin itu tidak masuk akal secara gramatikal.
“Saya juga tidak bertanya bagaimana kau mendapatkan foto ini, Juki. Tapi bagaimana ini bisa berhubungan dengan idemu?”
“Ya, baiklah… Kupikir jika pesannya mungkin berada pada sesuatu yang sudah tidak ada di ruangan lagi, tapi ada di ruangan pada saat itu. Dan yang hal yang paling jelas yang seharusnya ada disini, tetapi tidak ada…”
“Adalah pemilik ruangan, Agus Harmanto. Pintar.”
“Dan jika kau melihat gambar itu dari sudut yang benar… apakah bekas luka itu terlihat seperti huruf bagimu? Kupikir mungkin itu adalah semacam pesan…”
“Oh?” kata Ryuzaki, menahan gambarnya tetap diam sempurna ketika ia menggerakkan kepalanya dengan tersentak-sentak. Apakah tidak ada tulang yang padat di lehernya? Ia bergerak seperti manusia karet. Juki melawan keinginannya untuk berpaling. “Bukan, bukan huruf.”
“Bukan? Kukira terbaca seperti itu…”
“Bukan, bukan, Misora, saya tidak menyangkal seluruh idenya, hanya sebagian. Ini bukan huruf, tapi angka Romawi.”
Oh.
Benar, angka Romawi, hal yang sama yang ia lihat pada jam dan rak dinding setiap hari—V dan I, jelas, dan C, M, D, X, dan L… ia harusnya sudah menduganya ketika ia melihat tiga I saling berdekatan—itu bukan tiga I, tapi III. Tapi ada L juga setelahnya, dan ia telah menghubungkannya dengan nama detektif itu dan teralih sendiri.
“I adalah satu, II adalah dua, III adalah tiga, IV adalah empat, V adalah lima, VI adalah enam, VII adalah tujuh, VIII adalah delapan, IX adalah sembilan, X adalah sepuluh, L adalah lima puluh, C adalah seratus, D adalah lima ratus, M adalah seribu. Jadi luka ini bisa dibaca sebagai 16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, dan 31,” kata Ryuzaki, membaca angka-angka yang rumit tanpa sedetikpun jeda. Apakah ia ahli dalam angka Romawi, atau apakah pikirannya benar-benar bekerja secepat itu?
“Ini cuma foto, jadi mungkin saya tidak membacanya dengan benar, tapi ada delapan puluh persen kemungkinan saya benar.”
“Persen?”
“Bagaimanapun, saya takut itu tidak mengubah situasi. Kecuali kita bisa menemukan apa seharusnya arti angka-angka itu, akan sangan berbahaya menduga bahwa mereka adalah pesan dari si pembunuh. Mungkin mereka pengalih perhatian.”
“Permisi, Ryuzaki,” kata Juki, mengambil satu langkah ke belakang.
“Untuk apa?”
“Aku harus membenahi rambutku.”
Tanpa menunggu respon, Juki meninggalkan kamar tidur dan menaiki tangga, menuju toilet di lantai dua (bukan di lantai satu). Ia mengunci pintunya dari dalam dan mengeluarkan telepon genggamnya. Ia ragu-ragu sesaat, lalu menelepon Yakujima. Di saluran nomor lima. Beberapa bunyi bip singkat, dan akhirnya terhubung.
“Ada apa, Juki?”
Suara sintetis itu.
Merendahkan suaranya dan menyembunyikan mulutnya di balik tangannya, Juki berkata, “Sesuatu yang harus kulaporkan.”
“Kemajuan dalam kasus? Kerja yang sangat cepat.”
“Bukan… yah, sedikit. Aku mungkin telah menemukan sebuah pesan dari si pembunuh.”
“Mengagumkan.”
“Tapi bukan aku yang menyadarinya. Bagaimana mengatakannya… semacam detektif pribadi yang misterius…”
Seorang detektif pribadi misterius.
Kalimat itu hampir membuatnya tertawa.
“…baru saja muncul.”
“Begitu,” suara sintetis itu berkata, lalu terdiam.
Itu adalah kesunyian yang sama sekali tidak nyaman untuk Juki, ia telah memutuskan untuk menunjukkan gambar itu pada Ryuzaki dan bermaksud mengujinya. Ketika Yakujima tidak mengatakan apa-apa, Juki melanjutkan dengan menjelaskan apa yang Ryuzaki katakan tentang foto otopsi itu. Dan bahwa ia memiliki salinan dari teka-teki silang itu. Sepotong informasi ini akhirnya menghasilkan reaksi dari Yakujima, tapi karena itu hanyalah suara sintetis, ia tidak bisa membaca emosi di baliknya.
“Apa yang harus kulakukan? Sebetulnya, kupikir berbahaya untuk melepaskan pandanganku darinya.”
“Apakah ia keren?”
“Hunh?”
Pertanyaan Yakujima benar-benar keluar dari pembicaraan, dan ia memaksa untuk menanyakannya untuk kedua kalinya sebelum Juki menjawab, masih tidak bisa mengerti dengan arah pembicaraan.
“Tidak, sepenuhnya tidak,” katanya jujur, “Menyeramkan dan menyedihkan, dan sangat mencurigakan hingga jika aku tidak sedang cuti, aku akan langsung menahannya ketika aku melihatnya. Jika kita membagi semua orang di dunia menjadi yang lebih baik mati atau tidak, tak ada keraguan di benakku bahwa ia akan jadi yang pertama. Benar-benar orang aneh yang membuatku kagum bahwa ia belum membunuh dirinya sendiri.”
“…”
Tidak ada jawaban.
Tentang apa ini sebenarnya?
“Juki, instruksi anda.”
“Ya?”
“Saya membayangkan bahwa anda berfikir hal yang kurang lebih sama dengan saya, tapi biarkan detektif pribadi ini melakukan apa yang disukainya untuk sementara. Sebagian karena itu berbahaya membiarkannya lepas dari pengawasan anda, tapi lebih penting lagi karena sangat penting untuk mengamati gerakannya. Saya percaya pujian untuk dugaan foto autopsi lebih menjadi milik anda daripada miliknya, tapi ia jelas bukan orang biasa.”
“Aku setuju.”
“Apakah ia ada di dekat sini?”
“Tidak, aku sendirian. Aku menelepon dari kamar mandi, di lantai atas dan di belakang rumah, jauh dari kamar tidur.”
“Segera kembalilah ke sisinya. Saya akan menyelidikinya, dan mencoba untuk menemukan apakah seorang detektif bernama Ryuzaki benar-benar telah disewa oleh orangtua Agus Harmanto.”
“Baik.”
“Anda bisa menggunakan saluran yang sama lain kali menelepon.” Dan ia menutup telepon.
Juki menutup teleponnya.
Ia harus kembali secepatnya, sehingga tidak akan tampak mencurigakan, tapi ia telah meninggalkannya dengan waktu yang kurang tepat, pergi ke kamar mandi.
Ryuzaki sedang berdiri tepat di depan pintu. “Eek…!”
“Juki. Anda ada di atas sini?”
Ia tidak sedang merangkak, tapi meskipun begitu, Juki menelan ludah. Sudah berapa lama ia ada di sana?
“Setelah anda keluar dari ruangan, saya menemukan sesuatu yang menarik dan tidak bisa menunggu. Jadi saya menyusul. Apakah anda sudah selesai?
“Y-ya…”
“Kemarilah.”
Ia berderap keluar, masih membungkuk, menuju tangga. Masih terguncang, Juki mengikutinya. Apakah ia telah mendengarkan semuanya dari balik pintu? Pertanyaan ini menyiksanya. Ia menemukan sesuatu yang menarik? Itu mungkin saja hanya beberapa kalimat… ia telah menjaga suaranya sangat pelan sehingga tidak mungkin ia bisa mendengar, tapi bagaimanapun ia telah hampir pasti mencoba untuk menguping. Yang berarti…
“Oh, Juki,” kata Ryuzaki, tanpa berbalik.
“Y-ya?”
“Kenapa saya tidak mendengar suara siraman toilet sebelum anda keluar ruangan?”
“Sepertinya terdengar kasar untuk menanyakan hal seperti itu pada seorang yang anti mainstream, Ryuzaki,” ucap Juki akhirnya, agak canggung karena kesalahannya. Ryuzaki tidak tampak terpengaruh.
“Benarkah? Bagaimanapun… belum terlambat kalau anda belum menyiramnya. Anda masih bisa kembali. Gender dianggap sama saja kalau berhubungan dengan kebersihan.”
Cara yang benar-benar menyeramkan untuk menyimpulkannya.
Dalam setiap katanya.
“Aku tadi sedang menelepon. Laporan teratur untuk klien-ku. Tapi aku tidak ingin kau mendengarnya.”
“Oh? Tapi tetap saja, mulai sekarang, lebih baik anda menyiramnya. Untuk kamuflase juga bagus.”
“Sepertinya begitu.”
Mereka sampai di kamar tidur. Ryuzaki langsung merangkak setelah melewati ambang pintu. Terlihat lebih seperti kegiatan religius pembawa sial daripada penyelidikan Sherlock Holmes.
“Di sebelah sini.” Ryuzaki meraih dirinya sendiri melewati karpet ke arah rak buku.
Rak buku milik Agus, dengan lima-puluh-tujuh buku yang tertata rapi. Itu adalah tempat pertama yang diselidikinya setelah berbicara dengan Yakujima.
“Kau bilang kau menemukan sesuatu yang baru?”
“Ya. Sesuatu yang baru—tidak, lebih tepatnya begini. Saya sudah menemukan fakta penting.”
Usaha Ryuzaki untuk terlihat keren mengganggunya. Ia mengabaikannya.
“Jadi, maksudmu, kau menemukan semacam petunjuk, begitu?”
“Lihat,” kata Ryuzaki, menunjuk sisi kanan rak kedua dari bawah. “Ada sebelas seri dari komik Jepang terkenal bernama Sword art online.”
“Lalu?”
“Saya suka komik ini.”
“Benarkah?”
“Ya.”
Bagaimana ia harus merespon? Berlawanan dengan harapannya, ia merasakan ekspresinya melembut, namun tidak berusaha untuk memeriksa penolakan dalam dirinya, saat Ryuzaki melanjutkan.
“Kau Nikkei, bukan?”
“Nikkei…? Kedua orangtuaku berasal dari Indonesia. Pasporku sekarang memang Inggris, tapi aku tinggal di Inggris hingga setelah SMA…”
“Jadi anda pasti tahu komik ini. Ciptaan Argus Present. Saya membaca semua serinya. Asuna benar-benar mengagumkan! Saya suka anime-nya juga. Cinta dan keberanian dan harapan—Apa lagi 16,5nya!”
“Ryuzaki, kau mau seperti ini dulu beberapa saat? Kalau begitu, aku akan menunggu di ruangan lain…”
“Kenapa anda melakukannya saat saya bicara denganmu?”
“Er, um… maksudku, aku juga menyukai Asuna. Aku menonton anime-nya. Tapi aku memilih menyukai 16.5
Ia benar-benar ingin memberitahu Ryuzaki tepatnya betapa sedikit kepeduliannya pada hobi Ryuzaki, namun diragukan apakah detektif pribadi ini bisa mengerti pendapat yang ditujukan padanya masuk akal. Meragukan seperti Ryuzaki sendiri.
Atau apakah itu terlalu membesar-besarkan?
“Bagus. Kita harus membicarakan detil kesenangan yang diberika anime di lain waktu, tapi untuk sekarang, lihat di sini.”
“Hunh…” ucap Juki, melihat serial Sword Art Online di rak buku dengan patuh.
“Menyadari sesuatu?”
“Tidak juga…”
Itu hanyalah setumpuk komik. Pada dasarnya mereka dapat menyimpulkan Agus Hermanto pintar berbahasa Jepang, dan menyukai komik… tapi banyak orang seperti itu di Indonesia. Membaca versi Jepang asli dan bukan terjemahannya juga bukan hal yang benar-benar aneh. Dengan adanya jual beli Internet, sangat mudah untuk mendapatkannya.
Mata bertepi-gelap Ryuzaki menatap lurus padanya. Merasa tidak nyaman, Juki menghindari tatapannya, memeriksa setiap seri. Namun bahkan setelah ia selesai memeriksa semuanya, ia tidak menemukan fakta yang menarik atau apapun yang bisa dijadikan petunjuk.
“Aku tidak melihat apa-apa… ada sesuatu tentang satu dari komik-komik ini?”
“Tidak.”
“Hah?” Ada lebih dari nada marah dari suaranya. Ia tidak suka dipermainkan. “Tidak? Apa maksudmu?”
“Bukan salah satu,” kata Ryuzaki. “Sesuatu yang seharusnya ada di sini, tetapi tidak ada. Juki, anda lah yang menemukannya—pesan apapun dari sang pembunuh menunjukkan apapun yang seharusnya ada menjadi tidak ada. Anda lah yang menemukan bahwa ini berarti tubuh Agus Hermanto. Saya tidak berpikir saya harus menjelaskan ini padamu—lihat baik-baik, Juki. Tidak semua ada di sini. Seri keempat dan kesembilan hilang.”
“Eh?”
“Sword art online ada empat seri. Bukan tiga.”
Juki melihat buku-buku itu lagi, dan nomornya berurutan dari satu, dua, dan tiga , Jika Ryuzaki benar, dan ada empat seri, jadi satu seri menghilang—seri empat.
“Hmm… benar. Tapi… Ryuzaki, lalu kenapa? Maksudmu pembunuhnya mengambul dua seri itu bersamanya? Itu memang mungkin, tapi sepertinya mereka memang menghilang dari awal. Mungkin ia bermaksud mengambilnya nanti. Tidak semua orang membaca komik berurutan, kau tahu. Maksudku, mungkin ia berhenti di tengah-tengah bagian Dickwood, di sini…”
“Mustahil,” kata Ryuzaki, yakin “Tidak ada yang akan melewati satu seri di tengah-tengah Sword Art Online. Saya benar-benar yakin fakta ini dapat diterima di pengadilan.”
Pria ini pernah ada di pengadilan?
“Atau paling tidak, jika anggota jaksa tahu banyak tentang komik Jepang.”
“Jaksa yang buruk.”
“Pembunuhnya jelas-jelas membawa buku-buku itu bersamanya,” kata Ryuzaki, terang-terangan mengacuhkannya. Juki tidak akan membiarkan ini. Kakinya tertanam di tanah yang lebih realistis.
“Tapi kau tidak punya bukti sama sekali, Ryuzaki. Sama mungkinnya jika ia hanya meminjamkannya pada seorang teman.”
“Sword Art Online?! Anda bahkan tidak akan meminjamkannya pada orangtuamu! Anda akan menyuruh mereka membelinya sendiri! Satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah pembunuh itu mengambilnya!” Ryuzaki bersikeras, cukup memaksa.
Ia tidak berhenti di sana.
“Lagipula, tidak ada seorangpun yang hanya ingin membaca seri keempat —saya berani mempertaruhkan selaiku!”
“Jika maksudmu selai yang tadi kau makan, setoples hanya berharga sekitar lima dolar.”
Min Ayahana pasti akan menjadi sangat kecewa.
“Jadi itu cocok, Juki, bahwa saat pembunuh itu memindahkan dua seri dari ruangan, ia menggantinya dengan benda lain, untuk alasan yang sama sekali tak ada hubungannya.”
Karena dua buku itu memang menghilang, mengabaikan logika dan kemungkinan untuk saat ini dan mengikuti hipotesis ini… “Tetap saja aneh, ‘kan? Maksudku, Ryuzaki, rak buku ini…”
Terisi penuh. Sangat rapat sehingga akan sulit untuk memindahkan sebuah buku. Jika ia benar-benar memindahkan dua seri, maka seharusnya akan ada celah… atau…
“Ryuzaki. Apa kau tahu berapa banyak halaman dari buku keempat Sword art online?”
“Ya. 192 halaman .”
Ia tidak mengharapkan Ryuzaki untuk tahu jawabannnya… tetapi 192 halaman jawabannya memang tepat. Juki memandang sekilas sepanjang rak, mencari dari lima-puluh-tujuh buku untuk sebuah buku setebal 192 halaman. Tidak butuh waktu lama. Hanya ada satu buku setebal itu di rak ini—
Sword art online vs accel world manga.
Ketika ia mengambilnya dari rak, memang, buku itu benar-benar 192 halaman.
Juki membuka-buka halamannya dengan penuh harap, tapi ia tidak menemukan hal yang terlihat menarik.
“Ada apa, Juki?”
“Oh… aku berpikir jika pembunuhnya menaruh pengganti di rak untuk menggantikan dua buku yang diambilnya dan jika pengganti itu adalah pesan yang sebenarnya.”
Dengan asumsi memang Agus Harmanto yang telah menyusun bukunya dengan hati-hati sehingga mengisi rak dengan tepat. Mungkin saja itu terjadi terburu-buru, dan sang pembunuh mengisi dengan buku dari ruangan lain sekenanya—dan dengan pikiran itu, tidak ada yang tahu apakah komik sword art online memang milik Agus Harmanto. Dengan kurangnya pembatas buku, mungkin saja itu bagian dari pesan pembunuh—tapi lalu apa? Jika memang begitu, hanya akan membuatnya lebih jelas bahwa ada pesan yang tertinggal. Tapi jika tidak ada yang aneh pada rak buku itu sendiri, maka seluruh teori runtuh. Tidak lebih dari sekedar khayalan.
“Tidak buruk. Bukan, malah sangat bagus—selain itu tak akan masuk akal,” kata Ryuzaki, meraih ke arah Juki.
Sesaat ia mengira Ryuzaki ingin berjabat tangan, dan panik, tapi kemudian ia menyadari Ryuzaki hanya menginginkan Sword art online vs accel world manga. Ia menyerahkannya pada Ryuzaki. Ryuzaki mengambilnya dengan telunjuk dan ibu jarinya, dan mulai membaca. Membaca cepat—ia melewati 192 halaman dengan kecepatan luar biasa.
Kurang dari lima menit untuk membaca seluruh buku.
Juki hampir ingin membuatnya membaca Natsuhiko Kyogoku
“Saya tahu!”
“Eh? Kau menemukan sesuatu?”
“Tidak. Tidak ada apapun di sini. Jangan melihatku seperti itu. Saya bersumpah, saya tidak bercanda. Ini hanya manga hiburan, bukan pesan, atau bahkan metafora seperti Boneka vodoo. Dan tentu saja, tidak ada huruf apapun yang tersembunyi di antara halaman, atau tersisip di garis tepi.”
“Garis tepi?”
“Ya, tidak ada apapun di garis tepi kecuali nomor halaman.”
“Nomor halaman?” gaung Misora. Nomor halaman… angka? Angka, seperti… angka Romawi?
“Ryuzaki, jika potongan di dada korban adalah angka Romawi, apa yang dikatakannya”
“16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, dan 31.”
Ingatan yang bagus. Bahkan tanpa melihat kembali fotonya. Hampir seperti ingatan fotografis—pertama halaman buku, dan sekarang ini.
“Kenapa dengan itu?”
“Mungkin saja mereka menunjukkan halaman dalam buku ini, tapi… dua dari angka-angka itu empat digit. Buku itu hanya setebal 192 halaman. Tidak cocok.”
“Ya… tidak, Juki, bagaimana jika itu berputar balik? Contohnya, 92 bisa dilihat sebagai 192 ditambah seratus, dan menunjukkan halaman 100.”
“…yang maksudnya?”
“Aku tidak tahu. Coba saja… 16 mudah, halaman 16. 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, 31…”
Ryuzaki menyipitkan mata bertepi-gelap-nya.
Bahkan tidak melihat buku. Benarkah? Bahkan dalam kecepatan membaca seperti itu, ia mengingat seluruh isinya dengan sempurna? Apakah itu mungkin? Apakah ia benar-benar bisa melakukannya? Apapun itu, Juki hanya bisa berdiri dan menunggu.
“… aku tahu.”
“Bahwa tidak ada apapun di sana?”
“Tidak… ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sangat spesifik, Juki.” Ryuzaki menyerahkan Sword art online vs accel world manga kembali ke Juki. “Buka halaman 16,” ucapnya.
“Baik.”
“Apa kata pertama halaman itu?”
“Quadratic.”
“Selanjutnya halaman 59. Kata pertamanya?”
“Ukulele.”
“Selanjutnya halaman 295. 1423 berputar tiga kali, dan mencapai 295 di putaran keempat. Kata pertama?”
“Tenacious.”
Mereka melanjutkan. 159 adalah halaman 159, 13 adalah 13, 7 adalah 7, 582 adalah 206, 752 adalah 348, 1001 adalah 249, 40 adalah 40, 51 adalah 51, dan 31 adalah 31, dan di setiap halaman, Misora membacakan kata pertamanya. Secara berurutan: “rabble,” “table,” “egg,” “arbiter,” “equable,” “thud,” “effect,”“elsewhere,” dan “name.”
“Jadi.”
“Jadi… apa?”
“Ambil huruf pertama dari setiap kata.”
“Huruf pertama? Um…”
Juki kembali ke masing-masing halaman lagi. Ia tidak memiliki ingatan yang buruk, tetapi tidak bisa mengingat dua puluh kata sekaligus. Paling tidak, tidak tanpa diperingatkan bahwa ia harus melakukannya.
“A-M-E-E-L-T-O-H-H-I-B-B… ameel to hipp ? Apa?”
“Sangat mirip dengan nama korban kedua, benar?”
“Mungkin…”
Korban kedua. Gadis berumur enam-belas tahun. Amel Tohib.
“Ada kemiripan yang samar… Amel Tohib… hanya ada empat huruf berbeda.”
“Ya. Bagaimanapun,” kata Ryuzaki, enggan. “Empat huruf dari dua belas terlalu banyak. Sepertiga dari mereka salah. Bahkan jika satu huruf saja berbeda, seluruh teorinya runtuh. Kecuali itu sesuai dengan sempurna, tidak bisa dibilang pesan. Kukira akan ada sesuatu, tapi mungkin saja hanya kebetulan…”
“Tapi… untuk sebuah kebetulan…”
Terlalu jelas.
Bagaimana bisa?
“Tetap saja, Juki… tidak cocok tetap tidak cocok. Kita tadi sangat dekat, tapi…”
L memang benar.
Pembunuhnya meninggalkan pesan.
Potongan di tubuh, satu buku yang hilang—pembunuhnya telah meninggalkan pesan. Sama seperti teka-teki silang yang dikirim pada polisi, sebuah pesan menjelaskan korban berikutnya…
“Kerja bagus, Juki,” kata Ryuzaki, tenang. “Analisis yang sangat bagus. Tak pernah terlintas di pikiranku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar