PART 11
Keberuntungan tidak memihak pada
kami, kami bertemu dengan sekelompok Lizardman di tengah jalan. Saat kami semua
sampai di lantai teratas Labyrinth, sudah tiga puluh menit berlalu dan kami
masih belum bisa mengejar para anggota The Army.
“Mungkin mereka sudah menggunakan
kristal mereka untuk kabur?”
Kuro berkata dengan bercanda,
tapi tidak ada satupun dari kami yang mempercayai kalau mereka akan
melakukannya. Sebagai hasilnya, tanpa sadar kami mempercepat langkah kami.
Ketika kami sudah setengah jalan,
sebuah suara yang membuat rasa khawatir kami menjadi sungguhan bergema di
dinding. Kami semua segera berhenti untuk mendengarkan.
“Ahhhh…”
Suara yang samar terdengar itu,
tidak salah lagi, sebuah teriakan.
Tapi itu bukanlah teriakan
monster. Kami semua melihat satu sama lain dan mulai berlari dengan cepat.
Karena kami memiliki dexterity yang tinggi, Ryuzaki dan aku berlari lebih cepat
dibanding dengan yang lainnya, dan sebuah perbedaan jarak dengan cepat terbuka
diantara kami dan grup Kuro. Tapi ini bukanlah saat dimana kami bisa
mengkhawatirkan hal itu. Kami berlari seperti angin melewati koridor yang
bersinar biru berkebalikan dengan arah kami berlari tadi.
Dengan segera, dua pintu besar
tadi terlihat di pandangan kami. Mereka sudah terbuka, dan kami bisa melihat
api biru berkelap kelip serta sebuah bayangan besar bergerak perlahan didalam.
Kami juga mendengar banyak suara teriakan dan logam yang berbenturan.
“Tidak…!”
aku berteriak dengan nada sedih
dan mempercepat lariku. Ryuzaki mengikuti dengan dekat dibelakang. Kaki kami
hanya sedikit menyentuh lantai, seperti kalau kami terbang di udara. Aku
menyadari kalau kami sudah mencapai batas dari sistem support. Selama itu,
tiang-tiang di kedua sisi gang terlewati oleh kami.
Ketika kami sudah berada di dekat
pintu, Ryuzaki dan aku dengan cepat mengurangi kecepatan kami. Percikan keluar
dari sepatu kami, dan kami berhasil berhenti tepat di depan pintu masuk.
“Hey! Apa kalian baik-baik
saja!?”
Aku berteriak dan mencondongkan
tubuhku kedepan agar bisa melihat lebih jelas.
Di dalam—terlihat seperti neraka.
Api putih kebiruan menyala
diseluruh lantai. Sebuah bayangan besar berdiri tepat ditengah semua ini,
tubuhnya bersinar seperti terbuat dari logam. Itu adalah sang demon biru: The
Gleameyes.
Saat The Gleameyes mengayun
pedang yang berukuran sangat besar miliknya yang mirip dengan zanbato ke
sekitarnya, sebuah napas api keluar dari mulutnya. Damage yang diterimanya
masih belum mencapai sepertiga HPnya. Di baliknya, terdapat sekumpulan
bayangan, ukuran mereka sangat kecil dibandingkan sang demon. Mereka adalah
grup The Army, dan anggota mereka sibuk berlarian untuk menyelamatkan nyawa
mereka sendiri.
Mereka tidak sanggup berpikir
lagi untuk berbicara. Aku memeriksa jumlah mereka dan segera menyadari kalau
dua dari mereka menghilang. Bagus kalau mereka telah lari dengan menggunakan
teleport item, tapi-.
Ketika aku memikirkannya, salah
satu dari mereka terkena sisi dari zanbato dan terpental ke udara. HPnya telah
memasuki zona merah. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini, tapi demon itu
sekarang berada diantara anggota The Army dan pintu keluar, dan sebagai
hasilnya mereka tidak bisa kabur. Aku berteriak kearah player yang terjatuh.
“Apa yang kau lakukan!? Cepat
gunakan Kristal teleport item!”
Pria itu melihat kearahku.
Wajahnya memantulkan warna kebiruan dari api disekelilingnya dan penuh dengan
keputus asaan. Lalu dia berteriak kearahku:
“Tidak bias digunakan…! K-kristal
nya tidak bekerja!!”
“Wha…”
Aku tidak bisa mengatakan apapun.
Apakah itu berarti kalau ruangan ini adalah <Anti-Crystal Area>? Itu
adalah sebuah jebakan langka yang muncul di dungeon beberapa kali, tapi itu
tidak pernah muncul di ruangan boss hingga sekarang.
“Bagaimana itu bisa…!”
aku bernapas dengan cepat. Di
situasi ini kami tidak bisa menerjang begitu saja untuk menyelamatkan mereka.
Kemudian, seorang player di balik demon itu mengeraskan suaranya dan berteriak.
“Apa yang kau katakan!! Kata
melarikan diri tidak berlaku bagi The Liberation Army!! Lawan!! Kubilang
lawan!!”
Itu tidak salah lagi adalah suara
Cobert.
“Kau brengsek!”
Aku berteriak. Bukti kalau dua
orang telah menghilang didalam area tanpa-kristal —itu berarti mereka telah
mati, telah menghilang dari dunia ini untuk selamanya. Itu adalah hal yang
harus dihindari apapun yang terjadi, dan si bodoh ini masih mengatakan hal
seperti itu? Aku merasakan darahku mendidih karena amarah.
Lalu Kuro dan party nya tiba.
“Hey, apa yang terjadi!?”
Aku dengan cepat memberitahu
situasi ini padanya. Ketika dia mendengarnya, ekspresi Kuro menjadi gelap.
“Apa…apa tidak ada sesuatupun
yang bisa kita lakukan…?”
Kita mungkin bisa berlari kedalam
dan membuka jalan keluar bagi mereka. Tapi karena kami tidak bisa menggunakan
kristal diruangan ini, kami tidak bisa mengabaikan kemungkinan kalau salah satu
dari kami bisa mati. Kami tidak mempunyai cukup orang untuk melawan. Ketika aku
susah payah memikirkan jalan keluarnya, Cobert entah bagaimana berhasil membuat
para anggotanya berbaris lagi dan berteriak.
“Serbu-!”
Dua dari sepuluh orang telah
kehilangan hampir seluruh HP mereka dan berbaring di lantai. Kedelapan orang
lainnya berbaris empat-empat dengan Cobert ditengahnya, yang memimpin
penyerbuan dengan pedangnya yang terangkat tinggi.
“Jangan-!!”
Tapi suaraku tidak mencapai
mereka.
Itu adalah serangan yang sia-sia.
Jika mereka berlari menerjang bersamaan, mereka tidak akan bisa menggunakan
sword skills mereka dengan benar dan hanya akan menambah kekacauan. Mereka
harus bertarung secara bertahan, bergantian satu-satu untuk memberikan damage,
dan dengan cepat melakukan switching ke anggota yang selanjutnya.
Demon itu berdiri dengan tegak
dan mengeluarkan auman yang mengguncangkan lantai sebelum menghembuskan api
yang sangat terang. Sepertinya apinya dihitung sebagai serangan yang memberikan
damage, dan mereka berdelapan melambat ketika api biru itu menyelimuti mereka.
Sang demon mengambil kesempatan itu dan mengayunkan pedang besarnya. Tubuh
seseorang terpental ke udara, terbang melewati kepala sang demon, dan kemudian
terjatuh dengan keras ke tanah didepan kami.
Itu adalah Cobert.
HPnya telah menghilang
sepenuhnya. Dengan ekspresi yang sepertinya tidak mengerti situasi, dia
perlahan menggerakkan mulutnya.
-Ini mustahil.
Ucapnya tanpa bersuara. Lalu,
dengan sebuah sound effect yang mengerikan yang menusuk jiwa kami, tubuhnya
pecah menjadi sebuah pusaran yang terbuat dari polygon. Setelah itu, aku
mengeluarkan teriakan singkat melihat kematiannya yang sia-sia.
Dengan pemimpin mereka yang telah
tiada, anggota The Army segera menjadi ribut. Mereka berlari kesana kemari
sambil berteriak. Semua HP mereka sudah dibawah setengahnya.
“Tidak…tidak…tidak lagi…”
Ketika aku mendengar suara
Ryuzaki yang menegang, Aku melirik kesamping kearahnya. Aku segera mencoba
untuk menarik tangannya...
Tapi aku terlambat.
“Tidak-!!”
Dengan teriakan ini, Ryuzaki
berlari seperti kilat. Dia mengeluarkan rapier nya dan menerjang kearah The
Gleameyes seperti kilatan cahaya.
“Ryuzaki!!”
Aku berteriak. Tanpa ada pilihan
lain, aku menarik pedangku dan mengikutinya.
“Eh, apa boleh buat!!”
Kuro dan party nya kemudian berteriak
dan mengikuti kami.
Serangan ceroboh Ryuzaki mengenai
punggung demon itu ketika perhatiannya mengarah ke anggota The Army. Tapi HPnya
hampir tidak berkurang sama sekali.
The Gleameyes itu mengaum,
kemudian berbalik kebelakang dan mengayunkan zanbato miliknya kebawah. Ryuzaki
segera melangkah kesamping untuk menghindar, tapi dia tidak bisa menghindar
sepenuhnya dan terjatuh karena guncangannya. Serangan kedua mengarah kepadanya
tanpa menunggunya bersiap-siap.
“Ryuzaki-!!”
Aku merasa tubuhku mendingin karena
takut ketika aku berdiri mencegah diantara Ryuzaki dan pedang itu. Pedangku
tepat waktu menahan serangannya. Lalu, aku merasakan efek benturan itu
diseluruh tubuhku saat guncangannya mengenaiku.
Saat percikan keluar dari kedua
pedang, pedang demon itu mengenai lantai hanya beberapa cm dari Ryuzaki.
Pedangnya membuat sebuah lubang besar dilantai dengan sound effect yang seperti
ledakan.
“Mundur!”
“Aku akan melindungi kalian semua”
Aku berteriak dan bersiap untuk
serangan selanjutnya. Pedangnya datang kearahku berkali kali dengan tenaga yang
kuat seperti kalau itu akan mencabut nyawaku dengan satu serangan. Tidak ada
satupun celah bagiku untuk melakukan counterattack.
Teknik The Gleameyes berdasar
kepada two-handed sword skill. Tapi mereka agak sedikit diubah, yang membuat
mereka sulit untuk dibaca. Aku berkonsentrasi penuh untuk bertahan dengan
menghindar dan menangkis. Tapi serangan-serangannya sangat kuat dan mengurangi
HP ku setiap ayunannya.
“Argh!!”
Akhirnya, satu dari serangannya
mengenai tubuhku dengan tepat. Aku merasakan efek benturan yang mengejutkanku,
dan HP ku berkurang banyak.
Equipment dan skill ku jauh dari
tank player. Jika ini terus berlanjut, itu hanya akan membawaku kearah
kematian. Ketakutan akan kematian membuat tubuhku menggigil. Aku bahkan tidak
bisa lagi mencoba untuk kabur.
Hanya ada satu hal yang bisa
kulakukan. Aku harus melawannya dengan semua yang kupunya sebagai seorang
damage dealer.
“Ryuzaki! Kuro! Tahan bosnya dan
berikan aku sepuluh detik!”
Aku berteriak dan mengayunkan pedangku
dengan keras untuk menangkis serangan musuh dan membuat sebuah break point.
Lalu aku melompat kesamping dan berguling. Kuro segera menggantikan posisiku
dan menahan demon itu dengan katananya.
Tapi katana Kuro dan rapier
Ryuzaki adalah senjata yang mengandalkan kecepatan jadi mereka kekurangan
berat. Aku sadar kalau itu tidak mudah bagi mereka untuk menahan zanbato demon
itu. Sambil berbaring di lantai, aku membuka menu dengan tangan kiriku.
Aku tidak boleh membuat kesalahan
sedikitpun sekarang. Dengan jantungku yang berdetak dengan kencang, aku mulai
menggerakkan jari tangan kananku. Aku membuka item list ku, mengambil sesuatu
didalamnya, dan mengequip nya di tempat kosong di profil equipment ku. Lalu aku
membuka skill window dan mengganti weapon skill ku.
Setelah menyelesaikan semua itu,
aku menyentuh tombol OK dan menutup windownya. Aku memastikan berat tambahan
dipunggungku, kemudian mengangkat kepalaku dan berteriak:
“Aku selesai!!”
Aku melihat Kuro terkena serangan
sekali, dan HP nya berkurang saat dia melangkah mundur. Biasanya, dia bisa
menggunakan crystal untuk menyembuhkan dirinya, tapi itu tidak bisa dilakukan
di ruangan ini. Sekarang, Ryuzaki sedang bertarung dengan demon itu, dan dalam
beberapa detik saja HP nya telah berkurang lebih dari setengah dan berubah
kuning.
Setelah dia mendengarku, Ryuzaki
mengangguk tanpa melihat kearahku dan mengeluarkan teriakan pendek sebelum
melakukan skill menusuk.
“Yaaaa!”
Sebuah melayang diudara dan
mengenai senjata The Gleameyes, membuat percikan keluar dari pedangnya. Saat
terdengar sebuah suara keras, jarak diantara Ryuzaki dan demon itu melebar.
“Switch!!”
Aku tidak melewatkan kesempatan
itu dan menerjang lurus kearah musuhku. Demon itu dengan cepat sadar dari
effect stun dan mengangkat pedangnya tinggi di udara. Dengan pedang ditangan
kananku, aku menangkis pedang demon itu yang turun bersamaan dengan jejak
pedang yang seperti api. Lalu aku menggapai punggungku dengan tangan kiriku dan
menggenggam pegangan pedang baru. Aku menarik pedangku dan menusuknya dengan
satu gerakan lancar. HP demon itu terlihat berkurang saat serangan telak
pertama mengenai tubuhnya
“Grouaaaaa!”
Demon itu mengaum dengan amarah
dan mencoba melakukan serangan menebas kebawah lagi. Kali ini, aku menyilangkan
kedua pedangku dan menangkisnya sepenuhnya. Saat posturnya tidak seimbang, aku
mencoba untuk menghentikan gaya bertahanku dan melakukan sebuah combo attack.
Tangan kananku menebas dengan
horizontal kearah perut demon itu. Pedang ditangan kiriku segera mengikuti
untuk menebas secara vertikal ke tubuhnya. Kanan, kiri, lalu kanan lagi. Aku
mengayunkan pedangku seakan saraf di kepalaku memasuki keadaan sangat cepat.
Suara dari logam yang beradu terdengar keras satu demi satu ketika api-api
putih berkelap-kelip di udara.
Ini adalah extra skill yang telah
kusembunyikan, <Dual Blades>, dan teknik yang kugunakan adalah sword
skill tingkat tingginya yang disebut <Ultimate Starburst Stream>, sebuah
combo serangan 25-hit.
“Ahhhhh!!”
Tanpa memperhatikan beberapa
serangan yang berhasil ditahan oleh pedang demon itu, aku terus berteriak saat
aku terus menyerang tanpa henti dengan pedangku. Mataku memanas, dan
penglihatanku hanya melihat demon itu. Meskipun pedang demon itu masih mengenai
tubuhku beberapa kali, benturannya terasa seperti itu terjadi di dunia lain
yang jauh. Sementara itu, adrenaline terus mengalir diseluruh tubuhku, dan
gelombang otakku meningkat setiap kali pedangku mengenai sasaran.
Lebih, lebih cepat. Ritme
seranganku sudah melampaui dua kali kecepatan normalnya, tapi itu masih terasa
sangat lambat dihadapan indra ku yang dipercepat. Aku meneruskan seranganku
dengan kecepatan yang sepertinya telah melebihi bantuan sistemnya.
“…ahhhhhhhhh!!”
Dengan teriakan itu aku
mengeluarkan serangan terakhir dari combo 25-hit ku, yang menusuk dada The
Gleameyes.
“Kkaaaaaaahh!!”
Ketika indra ku kembali normal,
aku sadar kalau bukan hanya aku yang berteriak. Demon raksasa itu mengaum
kearah atap dengan napasnya yang berhembus keluar dari mulut dan hidungnya.
Lalu tubunya berhenti bergerak,
dan saat itu aku menyadari kalau-
The Gleameyes pecah menjadi
pecahan biru yang tak terhitung jumlahnya. Sisa-sisa dari cahaya biru
menghujani seluruh ruangan.
Ini sudah…berakhir…?
Merasa pusing dari efek samping setelah
pertarungan, aku mengayunkan kedua pedangku sekali lagi sebelum menyarungkan
mereka ke sarungnya yang berada di pundakku. Aku segera memeriksa HP ku. Ada
satu garis merah dengan beberapa titik yang tersisa. Ketika aku melihat kearah
HP ku tanpa mempedulikannya, tiba-tiba aku merasa kalau kekuatan menghilang
dari tubuhku dan terjatuh kelantai tanpa mengeluarkan suara.
Penglihatanku menjadi kabur dan
gelap.
PART 12
"…to! Kirito!
Ryuzaki dan Kuro memanggil,
dengan suara yang hampir seperti jeritan, memaksaku untuk bangun. Saat aku
duduk, rasa sakit menusuk kepalaku dan membuat wajahku mengernyit.
"Owww…"
Aku melihat sekeliling dan
menyadari kalau kami masih di ruang bos. Pecahan berwarna biru muda masih
berterbangan di sekitarku. Sepertinya aku kehilangan kesadaran selama beberapa
detik.
Ryuzaki berlutut di lantai,
dengan wajahnya berada tepat di depan mataku. Alisnya mengerut, dan dia
menjitak kepalaku. Itu terlihat seperti kalau dia sangat khawatir.
"Kau idiot…! Kenapa…!?
"
Dia berteriak, dan kemudian dia
memelukku. Ini mengejutkanku hingga membuatku melupakan rasa sakitku sejenak.
Aku hanya bisa berkedip karena terkejut.
"…Jangan memeluk aku terlalu
keras. Kau akan membuat HPku menghilang. "
Aku berkata dengan nada bercanda,
tapi Ryuzaki menanggapinya dengan ekspresi yang benar-benar marah. Dia
meminumkan sebuah botol kecil ke dalam mulutku. Cairan yang mengalir merupakan
potion berkualitas tinggi yang rasanya seperti campuran dari jus lemon dan teh
hijau. Itu akan menyembuhkan HPku sepenuhnya dalam waktu tiga menit, tapi
kelelahanku akan bertahan agak lama.
Ryuzaki memeriksa untuk
memastikan kalau aku telah meminum semuanya. Kemudian, ketika wajahnya mulai
agak sedikit ceria, dia mulai berdiri dan memeriksa item heal yang tersisa.
Aku mengangkat kepalaku ke arah
suara langkah kaki yang terdengar dan melihat Kuro mendekat. Dia terlihat agak
merasa bersalah karena tidak sempat membantu di saat terakhir pertarungan,
tetapi dia tetap mulai berbicara .
"Kami sudah selesai
menyembuhkan semua sisa anggota The Army, tapi Cobert dan dua anak buahnya
telah meninggal…"
"…Ya. Ini pertama kalinya
seseorang meninggal dalam pertarungan melawan boss sejak lantai 67…"
"Itu bahkan tidak bisa
disebut sebagai pertarungan. Cobert idiot itu… Kau tidak bisa melakukan apapun
jika kau mati ... "
Kuro meludah. Lalu ia menarik
napas panjang, menggelengkan kepalanya, dan bertanya padaku untuk mengubah
mood.
"Tapi kembali ke topik,
apa-apaan skill barusan itu!?"
"...Apakah aku harus
menjelaskan hal itu kepadamu?"
"Tentu saja! Aku belum
pernah melihat hal seperti itu sebelumnya! "
Tiba-tiba aku menyadari bahwa
selain Ryuzaki, semua orang yang berada di dalam ruangan menatapku, menunggu
jawaban dariku.
"... Ini adalah sebuah skill
ekstra: <Dual Blades>"
Ekspresi takjub terlihat dari
anggota grup Kuro dan sisa dari The Army yang selamat.
Semua weapon skill harus
dipelajari dengan urutan tertentu tergantung jenisnya. Contohnya misalnya
pedang, kau harus melatih skill one-handed straight sword sedikit sebelum
<Rapier> dan <Two-Handed Sword> muncul di daftar skill.
Tentu saja, Kuro tertarik, dan ia
mendesakku untuk memberitahu sisanya.
"Jadi apa syarat yang harus
dipenuhi adalah?"
"Aku pasti sudah
menyebarkannya jika aku tahu itu."
Saat Aku menggeleng, Kuro
menghela napas dan bergumam.
"Kau benar…"
Weapon skill yang tidak memiliki
syarat yang jelas untuk muncul disebut skill ekstra. Mereka bahkan
kadang-kadang disebut syarat acak. Contohnya <Katana> Kuro. Tapi
<Katana> tidak terlalu jarang dan sering muncul selama kau terus melatih
skill Curved Sword (Pedang Lengkung).
Sebagian besar sepuluh lebih
skill ekstra yang telah ditemukan sampai sekarang, termasuk <Katana>,
paling sedikit ada sepuluh orang yang menggunakan mereka. Kecuali <Dual Blades>ku
dan satu skill ekstra yang lain.
Sepertinya kedua skill itu
dibatasi hanya untuk satu orang, jadi mereka bisa disebut sebagai <Unique
Skill>. Aku telah menyembunyikan keberadaan Unique Skill ku sampai sekarang.
Tapi mulai hari ini, berita bahwa aku adalah pengguna Unique Skill yang kedua
akan menyebar ke seluruh dunia. Tidak mungkin aku bisa menyembunyikannya
setelah menggunakannya di depan begitu banyak orang.
"Aku kecewa Rizuka. Kau
bahkan tidak bisa mengatakan padaku bahwa kau mempunyai skill yang mengagumkan.
"
"Aku sudah akan
memberitahumu jika aku tahu kondisi untuk membuat itu muncul. Tapi aku
benar-benar tidak tahu pikir bagaimana hal itu terjadi. "
Aku menjawab keluhan Kuro dengan
mengangkat bahu.Tidak ada sedikit pun kebohongan pada apa yang aku katakan.
Sekitar setahun yang lalu, aku membuka jendela kemampuanku suatu hari dan
menemukan nama <Dual Blades> muncul di sana. Aku benar-benar tidak punya
petunjuk tentang kondisi apa untuk membuatnya muncul.
Sejak itu, aku hanya melatihnya
saat tidak ada orang di sekitar. Bahkan setelah aku hampir menguasainya, aku
jarang menggunakannya terhadap monster kecuali keadaan darurat. Selain
menggunakannya untuk melindungi diri dalam bahaya, aku hanya tidak suka jenis
skill ini karena terlalu menarik perhatian.
Aku bahkan berpikir bahwa akan
lebih baik jika pengguna lain Twin Blades muncul ---
Aku menggaruk daerah sekitar
telingaku dan bergumam.
"... Jika itu menjadi
diketahui bahwa aku punya seperti skill langka, tidak hanya orang akan
menggangguku untuk informasi ... mungkin menarik jenis masalah lain juga
..."
Kuro mengangguk.
"Semua player mudah cemburu.
Aku tidak akan karena aku seorang wanita pengertian, tapi pasti ada banyak
orang iri. Belum lagi ... "
Kuro tiba-tiba berhenti bicara
dan memandang Ryuzaki, yang masih diam dan sedang menatap wajahku, dan
tersenyum penuh arti.
"... Yah, anggaplah
penderitaan sebagai cara lain untuk melatih dirimu, Rizuka muda."
"Jadi, untukmu itu hanya
masalah orang lain ...?"
Kuro membungkuk dan menepukku di
bahu, lalu berbalik dan berjalan ke arah sisa dari <The Army> yang
selamat.
"Hei, kalian, bisakah kalian
kembali ke markas kalian sendirian?"
Salah satu dari mereka mengangguk
pada pertanyaan Kuro. Dia adalah seorang anak yang terlihat seperti ia masih
berada di usia remaja.
"OK. Beritahu atasan kalian
apa yang terjadi di sini hari ini dan bahwa mereka tidak seharusnya melakukan
sesuatu hal bodoh lagi. "
"Ya. ... ... Dan, err ...
... terima kasih."
"Terima kasih pada dia yang
di sana."
Kuro menunjukku dengan jempolnya.
Para pemain dari The Army berdiri dengan gemetar, berbalik arah Ryuzaki dan
aku, yang masih di lantai, dan membungkuk dalam-dalam sebelum berjalan keluar
ruangan. Begitu mereka sampai lorong, mereka menggunakan kristal mereka untuk
teleport keluar satu demi satu.Setelah lampu biru pudar, Kuro meletakkan
tangannya di pinggul dan mulai berbicara.
"Yah, mari kita lihat ... Kami
akan melanjutkan ke lantai 76 dan membuka pintu gerbang sana. Bagaimana
denganmu? Kau bebas hari ini, apa kau ingin melakukannya? "
"Tidak, aku akan
menyerahkannya kepadamu. Aku benar-benar capek. "
"Jika itu alasannya...
berhati-hatilah dalam perjalananmu pulang. "
Kuro mengangguk dan kemudian
memberi isyarat kepada teman satu timnya. Keenamnya berjalan ke pintu besar di
sudut ruangan. Dibalik itu seharusnya ada tangga ke lantai berikutnya. Pengguna
Katana berhenti di depan pintu dan berbalik.
"Hei ... Ryuzaki. Kau tahu ketika
kau melompat masuk untuk menyelamatkan para anggota The Army ... "
"... Kenapa dengan
itu?"
"Aku ... yah, benar-benar
senang. Itu saja yang aku ingin katakan. Sampai ketemu lain waktu. "
Aku tidak mengerti apa yang ia
katakan. Ketika aku memiringkan kepalaku, Kuro memberiku acungan jempol, lalu
membuka pintu dan menghilang melalui itu dengan grupnya.
Hanya Ryuzaki dan aku yang
tersisa di ruang besar bos . Api biru yang telah bergejolak dari lantai telah
menghilang beberapa waktu lalu, dan suasana seram yang pernah memenuhi ruangan
itu menghilang tanpa jejak. Cahaya lembut yang memenuhi jalan sekarang
membanjiri ruangan ini juga. Tidak satu tanda pertempuran yang tersisa.
Aku mengatakan sesuatu kepada
Ryuzaki, yang masih diam membisu.
"Hei ... Ryuzaki ...."
"... ... Aku sangat takut
.... Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan ... ... jika kau mati. "
Suaranya gemetar lebih lemah dari
yang pernah kudengar sebelumnya.
"... Apa yang kau bicarakan?
Kau kan yang pertama kali menyerang masuk. "
Aku mengatakan hal ini saat aku mulai
berdiri dan menatap wajah Ryuzaki dengan senyuman, tapi ini benar-benar
bukanlah situasi dimana aku perlu khawatir tentang itu.Saat aku dengan lembut
memeluknya, telingaku hampir saja ketinggalan suaranya yang kecil.
"Aku akan mengambil
istirahat sejenak dari guild."
"Is, istirahat ...
kenapa?"
"... Aku berkata bahwa aku
akan menjadi satu tim denganmu untuk sementara waktu ... Apakah kau sudah
lupa?"
Sesaat setelah aku mendengar hal
itu...
Disuatu tempat di dalam hatiku,
muncul suatu perasaan yang hanya bisa digambarkan sebagai kerinduan yang kuat.
Bahkan itu mengagetkan ku.
Aku—solo player Rizuka—adalah
orang yang mengabaikan semua player demi menjaga diriku agar tetap hidup di
dunia ini. Aku adalah pecundang yang telah berpaling dari teman satu-satunya
dan melarikan diri 2 tahun lalu, pada hari saat semua ini dimulai.
Orang seperti diriku, yang bahkan
tak punya hak untuk mengharapkan seorang rekan—apalagi sesuatu yang lebih dari
itu.
Aku sudah menyadari hal ini
dengan cara yang menyakitkan dan tak terlupakan. Aku telah bersumpah untuk
tidak berharap lagi, tidak pernah merindukan perhatian orang lain.
Tapi-
Pelukanku, yang sudah terlanjur
erat, tidak ingin pergi dari tubuh Ryuzaki. Aku hanya tak bisa lepas dari
kehangatan tubuh virtualnya
Aku mengubur konflik yang
bertentangan ini dengan emosi yang tak bisa dijelaskan, dan kemudian menjawab
dengan jawaban singkat.
“…baiklah.”
Setelah mendengar jawabanku,
kepala Ryuzaki mengangguk sedikit.
Keesokan harinya.
Aku sudah bersembunyi di lantai
dua di toko milik Near sejak pagi ini. Aku duduk di bangku yang terbuat dari
batu sambil dengan kaki menyilang dan meminum teh yang rasanya aneh, yang tidak
bisa kupikir mungkin itu adalah produk gagal. Aku juga sedang dalam mood yang
tidak baik.
Seluruh Algade — tidak, mungkin
seluruh orang di Devilcraft sedang sibuk membicarakan kejadian kemarin.
Penyelesaian sebuah lantai, yang
berarti pembukaan sebuah kota baru, sudah cukup untuk memulai banyak sekali
gosip. Tapi kali ini, berbagai rumor lain juga tercampur kedalamnya, seperti
«Iblis yang membantai sepasukan anggota The Army» dan «Pengguna Pedang Ganda
yang membunuh sang iblis sendirian dengan 50 serangan»… Seharusnya ada batas
dimana orang bisa melebih-lebihkan sesuatu.
Entah bagaimana mereka telah
menemukan dimana aku tinggal. Hasilnya, para pemain pedang dan penjual
informasi berkumpul di rumahku sejak pagi. Akhirnya aku harus menggunakan
kristal teleport untuk kabur.
“Aku akan pindah… Ke lantai yang
sangat sepi, ke sebuah desa dimana mereka tidak akan pernah bisa menemukanku….”
Ketika aku menggumamkan keluhanku
tanpa henti, Near berjalan mendekatiku dengan sebuah senyuman.
“Hey, jangan seperti itu.
Bukankah bagus menjadi terkenal untuk sekali dalam hidupmu. Kenapa kau tidak
menyelenggarakan seminar saja? Aku akan mengurus tiket dan tempatnya…”
“Nggak mungkin ah!”
Aku berteriak dan melempar gelas
yang ada di tangan kananku, mengincar area yang berada 50cm di sebelah kanan
kepala Near. Tapi tanpa sadar aku melakukan gerakan yang mengaktifkan skill
Melempar Senjata dan melemparkan gelas itu ke dinding dengan kecepatan tinggi.
Gelasnya meninggalkan jejak cahaya sebelum mengenai dinding dengan suara yang
kencang. Untungnya, ruangannya adalah benda yang tidak bisa dihancurkan, jadi
tidak ada apapun yang terjadi selain munculnya tulisan «Immortal Object». Jika
aku mengenai sebuah hiasan, benda itu pasti akan hancur.
“Ah, apa kau mau membunuhku!?”
Aku mengankat tangan kananku
sebagai tanda minta maaf dan kembali bersandar di kursi setelah mendengar teriakan
berlebihan yang dikeluarkan sang pemilik toko.
Near sedang memeriksa harta yang
kudapat dari pertarungan kemarin. Setiap beberapa lama dia mengeluarkan suara
yang aneh, yang kemungkinan besar ada barang yang cukup berharga didalamnya.
Aku berencana untuk membagi rata
uang yang kudapat dari menjual barang-barang itu pada Ryuzaki, tapi ini sudah
lewat batas waktu janji pertemuan dan dia masih belum datang. Aku sudah
mengirimkannya sebuah pesan, jadi dia pasti tahu dimana aku sekarang…
Kami berpisah di jalan utama dari
gerbang teleport lantai 75 kemarin. Dia berkata kalau dia akan mengajukan cuti
dan pergi ke markas BoK di Grandum di lantai 55. Aku bertanya padanya jika aku
harus ikut dengannya, mengingat masalah dengan Cradil dan yang lainnya. Tapi
dia mengatakan kalau dia baik-baik saja dengan sebuah senyuman diwajahnya, jadi
aku melupakan niatku.
Sudah 2 jam sejak waktu
perjanjian. Jika dia telat seperti ini, apa itu berarti sesuatu telah terjadi?
Tidakkah seharusnya aku pergi dengannya? Aku meminum teh yang ada di gelas
dengan sekali teguk untuk menenangkan rasa khawatir ku.
Sesaat setelah aku meminum habis
teh di poci teh yang ada di hadapanku, dan Near menyelesaikan pemeriksaan
item-item ku, aku mendengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Kemudian,
pintunya dengan cepat terbuka.
“Hey, Ryuzaki…”
Aku hampir saja mengatakan
"Kau terlambat" tapi aku menghentikannya. Ryuzaki mengenakan
seragamnya seperti biasa, tapi wajahnya menunjutkan wajah tanpa ekpresi dan
matanya menunjukkan rasa khawatir. Dia menaruh kedua tangannya di depan, dan
kemudian berkata:
“Apa yang harus kita lakukan
Rizuka”
Dia memaksakan untuk mengeluarkan
suara yang hampir terdengar seperti bisikan.
“Sesuatu…yang buruk telah
terjadi…”
Setelah meminum sedikit teh yang baru dimasak, wajah Ryuzaki sedikit kembali cerah dan dia mulai menjelaskan dengan sedikit kaku. Near turun kembali ke lantai pertama setelah menyadari suasananya.
“Kemarin…setelah aku kembali ke
markas di Grandum, aku melaporkan semua yang terjadi pada ketua guild. Kemudian
aku mengatakan kalau aku ingin mengambil cuti dari guild dan kembali kerumah…
Kupikir, aku akan mendapat izin selama pertemuan pagi rutinitas guild…”
Ryuzaki, yang duduk di depanku,
menatap mataku dan menggenggam dengan erat gelas teh nya sebelum melanjutkan
pembicaraan.
“Ketua…berkata kalau aku bisa
mengambil istirahat sejenak dari guild. Tapi ada satu syarat… Dia bilang
kalau…dia ingin bertarung…dengan Kirito…”
“Apa…?”
Aku tidak dapat mengerti apa yang
dia maksudkan selama beberapa saat. Bertarung…apa itu maksudnya sebuah duel? Apa
hubungannya duel dengan Ryuzaki mengambil cuti?
Ketika aku menanyakannya…
“Aku juga tidak tahu….”
Ryuzaki menggelengkan kepalanya
sambil melihat ke arah jendela.
“Aku sudah mencoba mengatakan
padanya kalau tidak ada artinya melakukan hal itu…tapi dia tidak mau
mendengarkan perkataanku…”
“Tapi…ini menyulitkan. Kalau
orang itu tiba-tiba menyampaikan persyaratan seperti ini…”
Aku bergumam saat wajah dari
ketua guild itu terbayang di pikiranku.
“Aku tahu. Ketua biasanya
membiarkan kami saat kami merencanakan strategi untuk menyelesaikan sebuah
lantai, apalagi kegiatan guild sehari-hari. Tapi aku tidak tahu kenapa kali ini
dia…”
Meski ketua BoK punya kharisma
yang luar biasa, yang menarik kekaguman bukan hanya dari seluruh anggota
guildnya tapi juga hampir semua orang-orang yang berada di garis depan, dia
tidak pernah memberikan instruksi ataupun perintah. Aku bertarung disampingnya
beberapa kali dalam pertarungan melawan boss dan aku juga mengagumi
kemampuannnya untuk mempertahankan barisan tanpa berkata apapun.
Pria seperti itu mengajukan
keberatan dengan memberikan syarat untuk melakukan duel denganku, sebenarnya
apa maksudnya ini?
Meski aku benar-benar
kebingungan, aku berbicara kepada Ryuzaki
“…yah, ayo ke Grandum dulu. Aku
akan mencoba berbicara langsung dengannya.”
“Ya… Maaf. Aku selalu membuatmu
repot…”
“Aku senang melakukan apapun,
karena kau adalah…”
Ryuzaki melihat kearahku dengan
berharap ketika aku berhenti ditengah kalimatku.
“…partnerku yang penting.”
Ryuzaki mencibir dengan rasa
tidak puas, tapi kemudian dia menunjukkan senyuman yang hangat.
Pria Terkuat, Legenda Hidup, Sang
Paladin, dan lain-lain, ketua dari Blodd of the Knights punya begitu banyak
gelar hingga tidak bisa dihitung dengan tangan lagi.
Namanya adalah Artix. Sebelum
«Dual Blades» milikku diketahui secara luas, dia dikenal sebagai satu-satunya
pengguna unique skill diantara enam ribu player di Devilcraft.
Kemampuan ekstra miliknya
menggunakan kombinasi dari sebuah pedang dan perisai, yang keduanya berbentuk
salib, dan membiarkannya mengubah antara menyerang dan bertahan dengan bebas.
Itu dinamakan «Holy Sword». Aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri
selama beberapa kali, dan menyadari kalau aspek yang paling menonjol dari skill
itu adalah kekuatan bertahannya yang sangat hebat. Rumor mengatakan kalau tidak
ada seorangpun yang pernah melihat HP nya masuk ke zona kuning. Selama
pertarungan melawan boss di lantai 50 yang menyebabkan kematian banyak player,
dia mampu menahan barisan sendirian selama lebih dari sepuluh menit. Hal itu
masih menjadi topik pembicaraan yang populer hingga sekarang.
Tidak ada senjata yang bisa
menembus perisai berbentuk salib milik Artix.
Ini adalah salah satu pendapat
yang diakui oleh sebagian besar orang di Devilcraft.
Ketika aku sampai di lantai 55
dengan Ryuzaki, aku merasakan rasa tegang yang tidak bisa dijelaskan. Tentu
saja, Aku tidak ada keinginan untuk beradu pedang dengan Artix. hanya ingin
memintanya untuk mengabulkan permintaan Ryuzaki untuk cuti sementara dari guild;
hanya itu tujuanku.
Grandum, merupakan tempat tinggal
di lantai 55, yang dijuluki «Kota Besi». Ini karena Grandum, tidak seperti
kota-kota lainnya yang terbuat dari batu, hampir seluruhnya terdiri dari menara
raksasa yang terbuat dari besi hitam yang mengkilap. karena kotanya memiliki
banyak sekali blacksmith, populasi playernya lumayan tinggi. Tetapi, karena
tidak ada pohon atau penghijauan di sekeliling jalan, itu memunculkan perasaan
kalau kota ini dingin sekali saat angin musim dingin berhembus.
Kami datang melalui gerbang plaza
dan melangkah sepanjang jalan yang terbuat dari lempengan besi yang ditempelkan
dengan paku. Langkah kakiku terlihat berat; mungkin itu karena aku takut dengan
apa yang akan terjadi nanti.
Kami berjalan diantara
menara-menara besi selama sekitar sepuluh menit hingga sebuah menara yang lebih
besar berdiri dihadapan kami. Tombak besi menonjol keluar diatas gerbang yang
sangat besar, dimana bendera putih dengan salib merah berkibar diantara angin
yang dingin. Itu adalah markas dari guild Blood of the Knight.
Ryuzaki berhenti disampingku. Dia
melihat keatas menara selama beberapa saat dan berkata:
“Sebelumnya, markas kami adalah
sebuah rumah kecil di desa yang berada dipinggir lantai 39 . Semua orang selalu
protes kalau itu terlalu kecil dan ramai. Aku tidak menentang perluasan
guild…tapi kota ini terlalu dingin, dan aku tidak menyukainya…”
“Ayo cepat selesaikan hal ini;
lalu kita bisa mencari sesuatu yang hangat untuk dimakan.”
“Kau selalu berbicara tentang
makanan.”
Ryuzaki tersenyum dan
menggerakkan tangan kirinya untuk menggenggam jari-jari tangan kananku. Dia
sama sekali tidak melihat kearahku, yang kebingungan karena kelakuannya, dan
berdiri seperti itu selama beberapa detik.
“Baiklah, pengisian selesai!”
Lalu dia melepaskan tanganku dan
mulai berjalan menuju menara itu dengan langkah yang panjang. Aku buru-buru
mengikutinya dari belakang.
Setelah menaiki tangga, kami
mencapai dua buah gerbang yang terbuka lebar, meski ada seorang penjaga dengan
armor berat dan sebuah tombak yang lumayan panjang di kedua sisi. Asuna
berjalan mendekati mereka, hak dari sepatunya berbunyi setiap kali menyentuh
lantai. Saat dia mendekati mereka, kedua penjaga itu memberi hormat dengan
mengangkat tombak mereka dari atas tanah.
“Terima kasih atas kerja keras
kalian.”
Dengan jawabannya yang tegas dan
langkahnya yang percaya diri, sulit untuk mempercayai kalau dia adalah orang
yang sama dengan gadis yang depresi yang berada di rumah Near satu jam yang
lalu. mengikuti Ryuzaki dari belakang, aku melewati kedua penjaga itu dan masuk
kedalam menara dengannya.
Seperti bangunan lainnya di
Grandum, menara ini juga dibuat dari besi hitam. Lantai pertamanya terdiri dari
lobby yang luas, tapi tidak ada seorangpun didalamnya sekarang.
Berpikir kalau bangunannya lebih
dingin dibandingkan dengan jalan diluar, kami melangkah melewati lantai mosaik,
yang dibuat dengan cermat dari berbagai jenis logam, dan mencapai sebuah tangga
spiral.
Kami menaiki tangga itu; langkah
kaki kami bergema sepanjang lorong. Tangganya menjulang tinggi sekali, orang
dengan status vitality yang rendah pasti akan menyerah ditengah jalan. Setelah
melewati begitu banyak pintu, aku mulai khawatir tentang berapa jauh lagi kami
harus pergi. Lalu Ryuzaki tiba-tiba berhenti didepan sebuah pintu besi yang
dingin.
“Ini…?”
“Ya…”
Ryuzaki mengangguk dengan
ekspresi ragu diwajahnya. Tapi sepertinya dia segera mencapai keputusan. Dia
mengangkat tangan kanannya, mengetuk pintunya dengan keras, dan membukanya
tanpa menunggu jawaban. Aku mengedipkan mataku saat cahaya terang keluar dari
ruangan tersebut.
Didalam adalah ruangan besar yang
meliputi luas satu lantai dari menara ini. Dinding di keempat sisinya terbuat
dari kaca transparan. Cahaya yang tersaring olehnya mewarnai ruangan dengan
warna abu-abu monoton.
Sebuah meja setengah lingkaran
berdiri ditengah ruangan; lima pria duduk di kursi dibelakangnya. Aku tidak
pernah melihat keempat orang di samping, tapi aku mengenal dengan baik orang
yang berada ditengah. Dia adalah sang Paladin Artix.
Dia tidak terlihat begitu
mengesankan. Umurnya kira-kira sekitar 25 tahun. Wajahnya tajam seperti seorang
sarjana, dan sehelai rambutnya yang berwarna abu-abu mencuat keluar di
keningnya. Jubah yang berwarna merah cerah menghiasi tubuhnya yang tinggi dan
langsing itu membuatnya lebih terlihat seperti seorang penyihir yang tidak ada
di dunia ini dibandingkan dengan seorang pemain pedang.
Tapi yang paling mencolok dari
wajahnya adalah matanya. Matanya yang berwarna kuning misterius itu memancarkan
aura kuat yang mampu menekan orang-orang. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu
dengannya; tapi sejujurnya, aku masih merasa terintimidasi.
Ryuzaki berjalan mendekati meja,
suara langkah dari sepatunya bergema, dan dia memberikan hormat ringan.
“Aku datang untuk mengatakan
salam perpisahan untuk sementara.”
Artix menunjukkan sebuah senyuman
pahit dan berkata:
“Tidak perlu terburu-buru.
Pertama-tama biarkan aku berbicara dengannya dulu.”
Dia melihat kearahku saat
mengatakan hal itu. Aku menarik tudung kepalaku dan berdiri disamping Ryuzaki.
“Apa ini pertama kalinya aku
bertemu denganmu diluar pertarungan melawan boss, Rizuka?”
“Tidak…kita pernah berbicara
selama beberapa waktu saat pertemuan menyusun strategi di lantai 67.”
Aku menjawabnya dengan nada
formal tanpa menyadarinya.
Artix mengangguk sedikit dan
menepukkan kedua tangannya diatas meja bersamaan.
“Itu adalah pertarungan yang
sulit. Kami hampir mendapat beberapa kerugian di dalam guild. Bahkan meski
mereka menyebut kami sebagai guild terhebat, Kami selalu kekurangan orang. Meski
begitu sekarang kau mencoba untuk mengambil salah satu player terhebat kami
yang berharga.”
“Jika dia begitu berharga,
bagaimana kalau lebih memikirkan lagi dalam menyeleksi bodyguardnya?”
Pria yang duduk di paling kanan
berdiri mendengar jawahbanku yang tajam, ekspresinya berubah. Tapi Artix
menghentikannya hanya dengan mengayunkan tangan saja.
“Aku sudah menyuruh Cradil untuk
kembali kerumahnya dan merenungkan kesalahannya. Aku harus meminta maaf karena
masalah karena telah merepotkanmu. Tapi, Kami tidak bisa diam dan membiarkanmu
mengambil wakil ketua kami begitu saja. Rizuka-”
Dia tiba-tiba menatapku; matanya
yang tajam menunjukkan kehendak yang tak tergoyahkan dibaliknya.
“Jika kau ingin
membawanya—menangkan dia dengan pedangmu, dengan «Dual Blades». Jika kau
bertarung denganku dan menang, maka Asuna boleh pergi denganmu. Tapi jika kau
kalah, maka kau harus bergabung dengan Blood of the Knights.”
“…”
Aku akhirnya merasa kalau aku
bisa mengerti sedikit tentang pria misterius ini.
Dia adalah orang yang terobsesi
dengan duel pedang. Terlebih lagi, Dia punya kepercayaan diri yang tak
tergoyahkan dengan kemampuannya sendiri. Dia adalah orang yang tidak bisa
membuang harga dirinya sebagai seorang gamer meski terjebak dalam game kematian
ini. Dengan kata lain, dia sama sepertiku.
Setelah mendengar kata-kata
Artix, Ryuzaki, yang diam sejak tadi, membuka mulutnya dan berbicara seperti
dia tidak bisa menahannya lagi.
“Ketua, aku tidak bilang kalau
aku ingin berhenti dari guild. Aku hanya ingin keluar sementara, untuk
istirahat dan memikirkan tentang beberapa hal…”
Aku menaruh tanganku di belakang,
yang kata-katanya telah menjadi semakin kesal, dan mengambil satu langkah
kedepan. Aku menghadapi tatapan Heathcliff secara langsung, dan mulutku
bergerak dengan sendirinya.
“Baiklah, jika kau ingin
berbicara melalui pedang, maka aku tidak keberatan. Kita akan menentukan hal
ini dengan sebuah duel.”
“Auu--!!! Kamu itu sangat bodohbodohbodoh!!!”
Kami kembali ke Algade, dilantai
kedua toko Near. Setelah mengusir si pemilik toko yang penasaran kembali ke
lantai satu, aku mencoba menenangkan Ryuzaki.
“Aku sudah berusaha keras untuk
meyakinkannya, meski begitu kau mengatakan hal seperti itu!!!”
Ryuzaki duduk diatas tempat untuk
mengistirahatkan tangan dari kursi batu yang kududuki, dan menggunakan
tangannya yang dikepalkan untuk menggiling kepalaku.
“Maaf! Maafkan aku! Aku mengikuti
arus begitu saja dan…”
Dia akhirnya tenang setelah dia
menjitak kepalaku dengan keras; tapi sekarang dia tertawa. Aku harus menahan
rasa sakit akibat jitakkan Ryuzaki dan melihat perbedaan besar antara
kelakuannya di markas dan kelakuannya sekarang.
“Tenang saja. Kami telah
memutuskan untuk menggunakan aturan serangan pertama, jadi tidak ada bahaya
yang diikutkan. Selain itu, bukan berarti aku pasti akan kalah kan…”
“Uuh~~~~…”
Ryuzaki membuat sebuah suara
marah dan menyilangkan kakinya yang panjang dan langsing diatas tempat
mengistirahatkan tangan.
“…Ketika aku melihat «Dual
Blades» milikmu, kupikir kalau skill mu berada di level yang sangat berbeda.
Tapi itu sama seperti «Holy Sword» milik ketua… Bisa dibilang kalau kekuatannya
cukup untuk menghancurkan keseimbangan game. Sejujurnya, aku tidak tahu siapa
yang akan menang… Tapi apa yang akan kau lakukan? Jika kau kalah, tidak masalah
jika aku tidak bisa mengambil cuti, tapi kau harus bergabung dengan BoK,
Ryuzaki.”
“Yah kau bisa bilang kalau aku
masih bisa mencapai tujuanku, tergantung bagaimana kau memikirkannya.”
“Eh? Kenapa?”
Aku harus memaksa membuka mulutku
untuk menjawabnya.
“Err, yah, selama…selama Ryuzaki
berada denganku, aku tidak masalah bergabung dengan guild.”
Dengan nada yang sok bisa bahasa
inggris aku mengatakan:
In the past, I would never have
said something like this, even if it was to save my own life. Ryuzaki sangat
terkejut saat aku mengatakan itu, dan dia sangat senang. Untuk beberapa saat, aku
berdiri, berjalan menuju jendela, dan melihat matahari terbenam.
Dari balik semua itu, aku bisa
mendengar suara alunan musik yang indah yang berada lantai 1 tempat Near berada.
Apa yang baru saja kukatakan
adalah kenyataan, tapi aku masih merasa ragu untuk bergabung dengan sebuah
guild. Ketika aku mengingat satu-satunya nama dari guild yang pernah kuikuti,
yang sekarang sudah tidak ada lagi, sebuah rasa sakit yang menusuk terasa di
hatiku.
‘Yah, aku tidak ada keinginan
untuk kalah…’
Aku berpikir seperti itu, lalu
mensudahi melihat matahari terbenam dan berjalan mendekati Ryuzaki.
Segera sesudah itu, aku
mengistirahatkan kepalaku dengan lembut di pundak Ryuzaki.
PART 13
Area tempat tinggal yang baru
dibuka di lantai tujuh puluh tiga adalah sebuah kota yang mengingatkan kita
terhadap kota kuno Roma. Menurut peta, namanya adalah «Collinia». Seluruh kota
sudah dipenuhi dengan aktivitas, berkat sejumlah besar petarung dan pedagang
yang telah menetap, serta orang-orang lainnya yang tidak ikut dalam
menyelesaikan permainan tetapi datang untuk melihat-lihat. Puncak dari semua
itu, acara spesial yang langka akan diselenggarakan disini hari ini, sehingga
tamu-tamu telah mengalir keluar dari gerbang teleport sejak pagi ini.
Kota tersebut sebagian besar
dibangun dari batu bata dari kapur putih. Satu bangunan mencolok diantara
bangunan-bangunan seperti candi dan saluran-saluran air yang lebar kota itu;
bangunan itu merupakan coloseum besar yang menjulang didepan gerbang alun-alun.
Tempat tersebut sempurna untuk tempat menyelenggarakan duel antara Artix dan
aku. Tapi ...
"Popcorn napas-api hanya
dengan sepuluh Coll per-bungkus! Sepuluh Coll! "
"Bir hitam dingin dijual
disini~!"
Banyak pedagang menjual
barang-barang mereka di depan pintu masuk coliseum, mereka memanggil-manggil
kepada penonton yang antri dan menjual minuman-minuman yang tampak aneh.
"... Ini, apa-apaan ini
...?"
Terkejut dengan pemandangan yang
ada didepanku, aku hanya bisa bertanya pada Ryuzaki, yang berdiri di sampingku.
"A-aku nggak tahu ..."
"Hei, bukannya itu anggota
BoK yang menjual tiket!? Bagaimana bisa hal ini berubah menjadi acara besar
seperti ini!? "
"Aku nggak tahu ..."
"Apa ini tujuan Artix
sebenarnya ...?"
"Nggak, aku pikir kepala
keuangan, Daigen-san, orang yang ada dibalik hal ini. Dia nggak akan melewatkan
kesempatan seperti ini. "
Saat Ryuzaki tertawa, aku hanya
melonggarkan bahuku dan merasa benar-benar tak berdaya.
"... Kita kabur saja yuk
Rizuka. Kita bisa pergi tinggal di sebuah desa kecil dan beberapa ladang di
lantai dua puluh."
"Aku setuju saja dengan hal
itu, tapi ..."
Aku lalu menambahkan dengan
menggoda:
"Kamu akan membuat nama yang
benar-benar buruk untuk dirimu kalau kamu kabur sekarang."
"Sial ..."
"Yah, itu salahmu sendiri,
bukan? Ah ... Daigen-san. "
Ketika aku mengangkat kepalaku,
aku melihat seorang pria gemuk yang berjalan terhuyung-huyung ke arah kami, dia
begitu lebar sehingga tidak mungkin menemukan orang yang kurang cocok untuk mengenakan
seragam hitam-putih BoK selain dirinya.
Dengan senyuman lebar menutupi
wajah bulatnya, ia mulai berbicara kepada kami:
"Terimakasih ke Rizuka-chan
kita membuat banyak uang! Kalau kamu cuma melakukannya setiap bulan sekali aku
akan benar-benar bersyukur! "
"Nggak akan!!"
"Ayo, ayo, ruangan tunggunya
disebelah sini. Ayo, silahkan ke sebelah ini. "
Aku pasrah pada nasibku dan
mengikutinya. Aku bahkan tidak peduli lagi tentang apa yang akan terjadi.
Ruang tunggu tersebut adalah
ruang kecil yang menghadap ke arena. Setelah Daigen mengantarku ke pintu masuk,
dia mengatakan sesuatu tentang menyesuaikan harga taruhan dan pergi menghilang.
Aku bahkan tidak punya energi lagi untuk mengumpatnya. Dari ruang tunggu, aku
bisa mendengar sorak-sorai tidak jelas yang tidak terhitung jumlahnya diluar.
Tampaknya tempat duduk penonton sudah penuh.
Ketika hanya tinggal kami berdua,
aku memegang telapak tangan Ryuzaki dengan kedua tangannya dan dia berbicara
dengan ekspresi serius.
"... Meskipun ini
pertandingan First Strike, akan berbahaya kalau kamu kena serangan langsung
oleh critical-strike yang kuat. Terutama karena banyak jurus pemimpin bahkan
nggak diketahui, kamu harus meninggalkan pertandingan kalau kamu merasa ada
yang salah, mengerti? Aku nggak akan pernah memaafkan kamu kalau kamu melakukan
sesuatu yang berbahaya lagi seperti hal yang lalu!"
"Kamu harusnya lebih
mengkhawatirkan Artix."
Aku tersenyum dan mencubit kedua
pipi Ryuzaki.
Saat pengumuman menyatakan
dimulainya duel, kerumunan para penonton mengeluarkan sorak yang menggelegar.
Aku menarik kedua pedang yang ada di punggungku sedikit, dan kemudian
memasukannya kembali ke dalam sarung pedang yang menghasilkan sebuah dentangan.
Setelah itu, aku mulai berjalan menuju lingkaran cahaya persegi di arena.
Bagian tempat duduk yang
mengelilingi amfiteater itu penuh sesak dengan orang-orang. Dugaanku setidaknya
ada sekitar seribu penonton. Aku bisa melihat Kuro dan Near di baris depan,
meneriakkan hal-hal berbahaya seperti "potong-potong dia" dan
"bunuh dia."
Aku berjalan ke tengah arena lalu
berhenti. Kemudian, si merah tua muncul dari ruang tunggu sebaliknya, dan
sorakan-sorakan menjadi lebih intens.
Berbeda dengan seragam biasa
Blood of Knights, yang hitam diatas putih, Heathcliff mengenakan surcoat merah
yang sebaliknya. Meskipun dia seperti aku dan hampir tidak memakai baju besi,
ia memegang perisai putih-murni, besar, berbentuk salib ditangan kirinya, yang
segera menarik perhatianku. Pedangnya kelihatannya disarungkan dalam perisai,
karena aku bisa melihat pegangan berbentuk salib menonjol dari sebelah atasnya.
Artix berjalan pelan sampai ia
berdiri tepat di hadapanku. Dia melirik ke arah kerumunan dan kemudian
berbicara dengan senyum pahit.
"Saya harus minta maaf,
Rizuka-chan. Saya benar-benar tidak tahu bahwa hal ini akan terjadi."
"Aku akan meminta bagian
uangku."
"Tidak ... Setelah
pertarungan ini kamu akan menjadi bagian dari guild kami. Saya akan menunjuk
duel ini sebagai salah satu misi dari guild."
Artix kemudian menghapus senyumanya,
dan matanya yang berwarna logam mulai memancarkan energi yang meluap.
Terintimidasi, aku tanpa sadar mengambil setengah langkah mundur. Pada
kenyataannya, kami mungkin berbaring ditempat yang jauh dari satu sama lain, dengan
hanya data digital ditukarkan diantara kami. Tapi, aku masih merasa sesuatu
yang hanya bisa disebut niat membunuh.
Pikiranku pindah ke keadaan
bertarung, dan mataku menerima tatapan Artix secara langsung. Sorakan-sorakan
yang ada seolah-olah bergerak menjauh. Sebelum aku menyadari, inderaku sudah
mulai bertambah cepat, dan bahkan rasanya warna-warna disekitar telah berubah.
Artix memalingkan tatapannya dan
berjalan ke tempat sekitar sepuluh meter jauhnya dariku. Dia kemudian
mengangkat tangan kanannya dan memanipulasi layar menu yang muncul tanpa
meliriknya. Sebuah pesan duel muncul didepanku. Aku setuju dan mengatur mode ke
first strike.
Hitung mundur dimulai. Aku nyaris
tidak bisa mendengar teriakan-teriakan disekitarku sekarang.
Darahku mulai memompa lebih
cepat. Aku menaklukkan sedikit ragu yang tersisa dan melepaskan keinginanku
untuk bertarung. Lalu aku mengeluarkan kedua pedangku pada saat yang sama dari
belakang punggungku. Lawanku bukanlah orang yang bisa aku kalahkan kecuali
kalau aku serius dari awal.
Artix menarik pedang panjang,
tipis dari perisainya, dan kemudian memegangnya dengan mantap saat dia memasuki
posisi bertarungnya.
Dia berdiri dengan perisainya
mengarah padaku dan sisi kanan tubuhnya menjauh dariku. Aku tidak bisa
merasakan kekuatan yang terpaksa dari posisinya. Aku menyadari bahwa mencoba
untuk memprediksi gerakannya hanya akan membingungkanku lebih jauh, dan
memutuskan untuk langsung maju dan menyerang dengan kekuatan penuh.
Meskipun tidak ada diantara kami
yang melirik layar duel, kami berdua langsung menerjang segera setelah pesan
«Duel» muncul.
Aku menurunkan posisiku saat aku
berlari; tubuhku hampir menggores lantai saat meluncur.
Aku memutar tubuhku tepat sebelum
mencapai Artix dan mengayunkan pedang yang ada ditangan kananku ke kiri atas.
Serangan itu ditahan oleh perisainya yang berbentuk salib dan menghasilkan
beberapa percikan api. Tetapi seranganku adalah bagian dari dua serangan
beruntun. Nol koma satu detik setelah serangan pertama, pedang kiri-ku meluncur
ke belakang perisai. Itu adalah tipe-menerjang jurus Dual Blades «Double
Circular».
Serangan dari kiri dibelokkan
oleh pedang panjang-nya; efek lingkaran cahaya-nya berhenti di tengah jalan.
Meskipun mengecewakan, langkah ini hanya sinyal untuk memulai pertempuran.
Menggunakan kekuatan dari jurus pedang, aku melebar jarak antara kita dan
kemudian menerjang pada lawanku lagi.
Kali ini, Artix membalas dengan
menerjang menggunakan perisainya. Lengan kanannya tersembunyi dibalik
perisainya yang besar berbentuk salib, sehingga sulit untuk dilihat.
"Cheh!"
Aku berlari ke kanan untuk
menghindari serangannya. Kupikir kalau aku berdiri di sisi perisai Artix, aku
akan memiliki cukup waktu untuk bereaksi terhadap serangan meskipun aku tidak
bisa melihat lintasannya.
Tapi kemudian Artix mengangkat
perisainya secara horizontal.
"Haa!!"
Dengan teriakan yang rendah, ia
melancarkan serangan menusuk dengan perisainya. Serangannya datang padaku,
meninggalkan jejak cahaya putih.
"Ahh!!"
Aku hanya bisa bertahan dengan
menyilangkan kedua pedangku. Tubrukan yang kuat itu mengguncang seluruh tubuhku
dan mengirimku terbang ke belakang beberapa meter. Aku menusukkan pedang
kanan-ku ke dalam tanah untuk menghentikan diriku dari jatuh dan kemudian
berbalik di udara sebelum mendarat.
Itu hal yang tidak terduga, tapi
tampaknya bahwa perisai itu sendiri juga bisa digunakan sebagai senjata. Mirip
dengan Dual Blades dalam beberapa hal. Aku awalnya berpikir bahwa kecepatan
seranganku yang sangat cepat akan memungkinkanku untuk menang dalam duel first
strike; tapi tampaknya aku salah.
Artix berlari ke arahku,
memperdekat jarak diantara kami dan menolak memberiku waktu untuk pulih. Pedang
dengan gagang berbentuk salib di tangan kanannya ditusukkan ke arahku dengan
kecepatan yang bisa menyaingi Ryuzaki the «Flash».
Saat lawan mulai serangan
beruntun-nya, aku hanya bisa menggunakan kedua pedangku untuk bertahan. Sebelum
duel, Ryuzaki menjelaskan sebanyak mungkin tentang «Holy Sword»; tetapi tampaknya
kursus kilat hanya tidak cukup. Oleh karena itu, aku hanya bisa mengandalkan
keputusan sepersekian detik untuk menahan serangan yang masuk.
Setelah menggunakan pedang
kiri-ku untuk menangkis serangan keatas terakhir dari serangan beruntun
delapan-nya, aku segera mencoba jurus pedang satu-serangan, «Vorpal Strike»,
dengan tangan kananku.
"Hya ... aaa!!"
Dengan suara metalik seperti
mesin jet, jurus pedang itu meninggalkan jejak cahaya merah sebelum menabrak
tengah perisai-nya. Rasanya seolah-olah aku telah memukul dinding batu; tapi
tanganku tetap bergerak untuk menyelesaikan serangan.
Claang!! Suara tabrakannya
berdentang, dan kali ini Heathcliff terdorong kebelakang. Aku tidak bisa
benar-benar menembus perisainya, tetapi aku merasakan perasaan berhasil
«menembus» pertahanannya. HP Artix telah terkurangi sedikit, tapi tidak cukup
untuk memutuskan pertarungan.
Heathcliff mendarat dengan lugas
dan memperlebar jarak di antara kami.
"... Kecepatan reaksi yang
mengesankan."
"Sepertinya pertahananmu
terlalu sempurna ...!!"
Aku menerjang saat mengatakan hal
ini. Artix juga mengangkat pedangnya dan mendekat kearahku.
Kami mulai saling bertukar
serangan pada kecepatan yang membutakan. Pedangku diblokir oleh perisainya;
pedangnya dibelokkan oleh pedangku. Berbagai jejak cahaya yang berbeda warna
muncul dan memudar terus menerus disekitar kami, sedangkan suara senjata kami
yang beradu mengguncang lantai arena. Sebuah serangan kecil berhasil masuk
beberapa kali, dan HP kami berkurang sedikit demi sedikit. Meskipun kedua
pemain gagal membuat serangan telak, salah satu akan menang saat HP lawan-nya
turun sampai dibawah lima puluh persen.
Tapi aku tidak peduli lagi
tentang hal itu. Aku merasakan diriku mempercepat dalam kegembiraan, karena ini
adalah pertama kalinya aku menghadapi lawan yang begitu kuat sejak terjebak
dalam AQWO. Setiap kali inderaku menajam, kecepatan seranganku naik lagi satu
tingkat.
Aku masih belum mencapai batasku.
Aku masih bisa bertambah cepat. Ikuti aku kalau kau bisa, Artix!!!
Saat aku mengeluarkan setiap
kekuatan yang ada padaku, aku tenggelamkan diriku dalam sukacita yang ganas dalam
mengayunkan pedangku. Aku pasti sedang tertawa. Sementara pertukaran serangan
pedang bertambah intensif, HP dari kedua belah pihak terus menurun sampai
hampir mencapai area lima puluh persen.
Saat itu, wajah tenang Artix
akhirnya menunjukkan kilatan emosi.
Apa itu? Kegugupan? Aku merasakan
kecepatan serangannya menurun sedikit.
"Haaaa!"
Pada saat itu, aku meninggalkan
semua pertahanan dan meluncurkan sebuah serangan dengan kedua pedangku: «Ultimate
Starburst Stream». Sisi tajam pedangku bergerak dengan cepat ke arah Artix
bagaikan kobaran api dari sebuah surya yang terkemuka.
"Argh ...!"
Artix mengangkat perisai
berbentuk salib nya untuk menahan.Tapi aku hanya mengabaikannya dan terus
menyerangnya dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Sementara itu, responnya
menjadi lebih lambat.
-Aku bisa menerobos!!
Aku yakin bahwa serangan terakhir
akan menerobos pertahanannya. Dengan perisainya lebih ke arah kanan, seranganku
dari kiri melesat ke dalam, menggambar lintasan cahaya. Jika serangan ini
masuk, HP-nya pasti akan berkurang drastis sampai dibawah tanda setengah, dan
aku akan memenangkan-
Lalu, pada saat itu, seluruh
duniaku bergetar.
"-!?"
Bagaimana aku menjelaskannya?
Seolah-olah beberapa waktuku telah diambil dariku.
Untuk beberapa persepuluh detik,
segala sesuatu di sekitarku terlihat membeku; segalanya kecuali Artix. Perisai
yang seharusnya ada di kanan tiba-tiba muncul disebelah kiri, seolah-olah aku
sedang menonton video yang berhenti, dan menahan pedangku.
"Ap-!"
Aku tertegun disaat yang fatal
setelah serangan kuat tersebut ditahan. Tidak akan mungkin Artix akan
kehilangan kesempatan itu.
Pedang panjang ditangan kanannya
meluncurkan jurus satu-serangan, yang datang padaku dengan akurasi yang
menjijikan yang pasti akan memutuskan pertandingan. Aku jatuh ke tumpukan yang
tidak sedap dipandang. Aku bisa melihat pesan sistem ungu, yang mengumumkan
bahwa duel berakhir, dengan sudut mataku.
Posisi bertarungku sudah
menghilang. Aku hanya berbaring disana, pikiranku kosong, bahkan saat
sorak-sorai masuk kedalam kepalaku sekali lagi.
"Rizuka!!"
Ryuzaki berlari menghampiri dan
mengguncangku kembali ke kesadaranku.
"Ah ... ya ... aku baik-baik
saja."
Ryuzaki melihat ekspresi
kosong-ku dengan khawatir.
Aku kalah-?
Aku masih tidak bisa percaya hal
ini. Kecepatan tidak wajar Artix selama saat-saat akhir telah melewati batas
dari pemain- melewati batas dari setiap manusia. Aku bahkan melihat
poligon-poligon yang membentuk avatar-nya terdistrosi sesaat karena kecepatan
yang mustahil.
Saat aku duduk ditanah, aku
mengangkat kepalaku dan menatap wajah Artix.
Tetapi ekspresi pemenang tersebut
tampak marah untuk suatu alasan. Paladin merah tersebut menatap kami dengan
mata logam-nya, lalu berbalik tanpa kata dan berjalan ke ruang tunggu-nya
ditengah-tengah gemuruh sorak-sorai.
PART 14
"Wha... apa itu!?”
"Apa yang kamu maksud? Kamu
tahu apa ini. Sekarang, ayo bangun!"
Benda yang telah Ryuzaki paksakan
kepadaku adalah pakaian baruku. Walaupun pakaian itu memiliki desain yang sama
dengan armor yang biasa aku pakai,tetapi warnanya lebih merah dan menyilaukan.
Terdapat sebuah salib kecil di setiap mansetku dan satu salib besar di bagian
punggungku; ketiganya di warnai merah cerah. Pakaian ini, tanpa keraguan
sedikitpun, adalah sebuah seragam terbaru BoK.
"...aku bilang aku ingin
sesuatu yang polos...”
"Seragam ini sudah cukup
polos. Yeah, kamu cocok memakai pakaian ini!!”
Aku terperosot kembali ke kursi
goyang ketika semua kekuatan hilang dari tubuhku. Aku masih tinggal di lantai
kedua dari toko milik Near. Tempat ini telah menjadi tempat perlindungan dari
bencanaku, jadi pemilik toko yang patut dikasihani itu hanya dapat tidur di
tempat tidur sederhana pada lantai pertama. Satu-satunya alasan dia belum
mengusirku adalah karena Ryuzaki datang setiap hari untuk membantu di toko. Hal
itu adalah kesempatan periklanan terbaik yang dapat dia dapatkan.
Sementara aku mengeluh di
kursiku, Ryuzaki datang dan duduk di sandaran tangan, yang telah menjadi tempat
pilihannya. Dia menggoyangkan kursinya sembari tersenyum, seakan-akan keadaan
sulitku sekarang terasa menyenangkan baginya, dan kemudian menepukkan kedua
tangannya seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.
"Ah, kita lebih baik
mengucapkan salam perkenalan kita dengan baik. Sebagai anggota dari guild, aku
harap kita dapat akur.”
Karena dia tiba-tiba membungkuk,
aku menegakkan punggungku untuk menjawab.
"A-aku juga berharap kita
dapat akur.... lalu kemudian juga, aku hanyalah seorang anggota biasa sedangkan
kamu adalah wakil-ketua, jadi...”
Kekalahanku dalam duel melawan
Artix telah terjadi dua hari yang lalu. Karena aku bukanlah orang yang akan
mengingkari janjinya, aku bergabung dengan Blood of the Knights seperti yang
telah aku setujui dengan Artix, guild memberiku waktu dua hari untuk
bersiap-siap, jadi mulai besok aku akan mengikuti perintah mereka untuk
menjelajahi labirin dari lantai tujuh-puluh-enam.
Bergabung dengan sebuah guild,
huh-.
Ryuzaki menatapku karena dia
mendengar helaan napas pelanku.
"... kamu terlibat dalam
semua ini karena aku.”
"Nah, tidak apa-apa. Hal ini
adalah kesempatan baik untukku. Aku juga mulai merasakan batasan-batasan dalam
bermain solo...”
"Aku sangat lega mendengarmu
mengatakan hal itu... Hey, Rizuka-chan...”
Kedua mata Ryuzaki yang seperti
blackberry menatap langsung kepadaku.
"Dapatkah kamu memberitahukanku
mengapa kamu menghindari guild-guild... menghindari orang-orang...? Aku rasa
ini bukanlah karena kamu adalah seorang beta tester ataupun unique skill user,
karena kamu adalah orang yang sangat baik.”
Aku memindahkan pandanganku ke
bawah dan secara perlahan menggoyangkan kursiku.
"...dahulu... lebih dari
satu tahun yang lalu sebenarnya, aku pernah bergabung dengan sebuah guild...”
Kata-kataku keluar dengan begitu
mudahnya sehingga hal itu mengejutkanku. Mungkin ini karena aku merasa
pandangan mata Ryuzaki akan dapat mencairkan kepedihan yang menusukku setiap
kali aku memikirkan mengenai hal ini.
"Aku pernah ditawarkan
sebuah posisi dalam guild setelah aku bertemu dan membantu mereka secara
kebetulan di dalam sebuah area labirin... Guild ini berukuran kecil dengan
hanya enam anggota, termasuk aku, dan guild ini memiliki nama yang menarik:
«Black Cats of the Full Moon»."
Ryuzaki tersenyum ringan.
"Pemimpin guildnya adalah
orang yang baik. Dia adalah seorang pengguna two-handed staff bernama Keita.
Dia selalu mengutamakan anggota guild dahulu di dalam situasi apapun, sehingga
semua sangat mempercayainya. Dia memberitahukanku bahwa dia sedang mencari
seseorang untuk menjadi forward, karena kebanyakan anggota guildnya menggunakan
senjata dua tangan dengan jarak jangkau yang lebih jauh ...”
Sejujurnya, level mereka semuanya
jauh berada di bawah levelku. Tidak, aku seharusnya mengatakan bahwa akulah
yang menaikkan level terlalu banyak.
Bila aku telah memberitahukan dia
levelku, Keita pasti akan berpikir sebaliknya untuk mengundangku. Tetapi aku
telah lelah pergi ke labirin sendirian hari demi hari, dan suasana seperti
keluarga dari para «Black Cats» telah membuatku iri. Hal ini terasa seperti
mereka adalah teman dalam dunia nyata, karena percakapan mereka antar satu
dengan yang lain tidak memiliki kecanggungan ataupun jarak yang biasanya tampak
dalam percakapan online antara para pemain; hal itu jugalah yang telah
membuatku terpikat dalam.
Secara terus terang, aku tidak
mempunyai hak apapun mengenai keinginan untuk mendapatkan kepedulian dari orang
lain. Aku telah kehilangan hak itu ketika aku memutuskan untuk menjadi solo
player dan secara egois menaikkan level hanya untuk kepentinganku sendiri.
Tetapi aku telah meredam suara hatiku dan bergabung dengan guildnya, menyembunyikan
baik levelku dan masa laluku sebagai beta-tester.
Keita bertanya kepadaku bila aku
dapat melatih salah satu dari pengguna tombak mereka menjadi pengguna
pedang-dan-perisai. Karena kemudian akan ada tiga forward , termasuk diriku
sendiri, dan guild ini akan menjadi sebuah kelompok yang timbang.
Pengguna tombak yang telah
dipercayakan kepadaku adalah seorang gadis pendiam dengan rambut hitam
sepanjang bahu bernama Sachi. Saat kami pertama kali dikenalkan, dia berkata,
dengan tersenyum malu, bahwa walaupun dia telah lama menjadi gamer, dia belum
dapat berteman dengan banyak orang karena kepribadiannya. Setiap kali tidak ada
kegiatan guild, aku bepergian dengannya dan mengajarinya bagaimana menggunakan
single-handed-sword.
Sachi dan aku memiliki kemiripan
dalam banyak hal. Kami berdua sama-sama canggung dalam bersosialisasi, memilih
untuk memagari diri sendiri, akan tetapi takut akan kesendirian.
Lalu suatu hari, dia tiba-tiba
memberitahukanku bahwa dia takut akan kematian, bahwa dia merasa sangat takut
akan permainan kematian ini sehingga dia tidak mau pergi keluar dan berlatih.
Sebagai jawaban atas pembukaan
rahasianya, aku hanya dapat mengatakan “Aku tidak akan membiarkanmu mati.” Aku
tidak dapat mengatakan apapun kepadanya karena aku masih mencoba untuk
menyembunyikan levelku. Setelah dia mendengar jawabanku, dia menangis sedikit
sebelum memaksakan diri untuk tersenyum.
Pada hari yang lain, beberapa
waktu kemudian, kami berlima, semua anggota guild kecuali Keita, pergi kedalam
sebuah labirin. Keita tidak ikut karena dia sedang pergi untuk menawar sebuah
rumah untuk digunakan sebagai markas utama kami dengan uang yang telah berhasil
kami tabung.
Walaupun labirin yang kami
datangi sudah diselesaikan, masih terdapat beberapa area yang belum dijelajahi
di dalamnya. Salah satu dari kami menemukan sebuah peti harta ketika kami
bersiap-siap untuk pergi. Aku menyarankan yang lain untuk tidak menghiraukan
peti itu, karena kami berada di dekat garis depan sehingga monster yang ada
memiliki level yang tinggi. Selain itu, aku tidak mempercayai trap dismantling
skill dari anggota guild. Tetapi karena hanya Sachi dan aku yang menolak untuk
membuka peti harta itu, kami kalah dalam voting 3 banding 2.
Jebakan yang ada adalah tipe
alarm, salah satu dari tipe-ripe terburuk dari jebakan yang ada. Segera sesudah
kami membuka peti itu, sebuah alarm yang memekakkan telinga berbunyi, dan
monster mulai mengalir masuk dari semua pintu masuk kedalam ruangan itu. Kami
segera berusaha untuk kabur dengan ber-teleport.
Tetapi ternyata jebakannya
berlapis dua. Ruangan itu juga adalah Anti-Crystal Area- sehingga
kristal-kristal milik kami tidak berfungsi.
Di sana sungguh-sungguh terdapat
terlalu banyak monster untuk ditahan. Anggota-anggota yang lain jatuh dalam
kebingungan total dan berlarian tanpa tujuan. Aku mencoba untuk membuka jalan
dengan menggunakan teknik pedang tingkat tinggi yang telah aku sembunyikan
hingga sekarang, tetapi para anggota yang panik tidak dapat melarikan diri pada
waktunya. Satu per satu, HP mereka jatuh ke angka nol, dan mereka berteriak
sebelum meledak menjadi kepingan-kepingan. Aku berpikir setidaknya aku dapat
menyelamatkan Sachi dan mengayunkan pedangku tiada henti.
Tetapi hal itu sudah terlambat.
Aku melihat Sachi berusaha menggapaiku dengan tangannya sementara sebuah
monster memotongnya dengan tanpa ampun. Kedua matanya tetap mempercayaiku
bahkan ketika dia terpecah seperti sebuah patung kaca dan menghilang. Dia telah
mempercayaiku dan bergantung padaku hingga akhir; tetapi karena kata-kataku
sangat lemah dan dangkal, mereka telah menjadi tidak lebih dari sebuah janji
kosong, sebuah kebohongan.
Keita telah menunggu kami di
dalam penginapan yang telah digunakan sebagai markas sementara kami dengan
kunci dari markas utama baru di tangannya. Setelah kembali kedalam penginapan
seorang diri, aku menjelaskan kepada Keita tentang apa yang terjadi. Dia terus
mendengarkan tanpa suara hingga aku selesai, lalu bertanya kepadaku:
"Bagaimana kamu selamat?”
Lalu aku mengungkapkan levelku
yang sesungguhnya dan bahwa aku telah menjadi beta tester.
Keita melotot kepadaku
seakan-akan aku adalah sesuatu yang menjijikkan, lalu berkata satu hal.
-Seorang beater sepertimu tidak
mempunyai hak apapun untuk bergabung dengan kami.
Kata-kata itu telah menusuk
menembusku seakan-akan mereka adalah sebuah pedang baja.
"...apa yang terjadi...
dengan orang itu...?”
"Dia bunuh diri.”
Tubuh Ryuzaki bergetar di atas
kursinya.
"Dia melompat dari pinggir
lantai. Kemungkinan besar mengutukku...hingga saat-saat terakhirnya...”
Aku merasakan tenggorokanku
menyempit. Sementara aku menghitung-hitung kembali ingatan-ingatan itu yang
telah aku kunci jauh di dalam lubuk hatiku, emosi-emosi yang menyakitkan dari
waktu itu kembali dengan kemurnian yang sempurna. Aku menggertakan gigiku. Walaupun
aku ingin menggapai Ryuzaki untuk penghiburan, sebuah suara di dalam pikiranku
berbisik, “kamu tidak mempunyai hak untuk melakukan hal itu,” yang
meninggalkanku dengan satu-satunya pilihan untuk mengepalkan kepalan tanganku
dengan erat.
"Aku telah membunuh mereka.
Bila aku tidak menyembunyikan fakta bahwa aku adalah seorang beta tester, aku
pasti akan dapat membujuk mereka untuk tidak menghiraukan peti itu. Yang
melakukannya adalah aku... Akulah yang telah membunuh Keita... dan Sachi...”
Dengan kedua mataku terbuka
lebar, aku memaksakan kata-kata ini keluar dari gigiku yang bergemeretak.
Ryuzaki tiba-tiba berdiri,
mengambil dua langkah ke arahku, dan mengusap wajahku dengan kedua tangannya. Dia
menarik wajahnya yang tampan lebih dekat ke arahku dengan sebuah senyum hangat.
"Aku tidak akan mati.”
Dia mengatakan hal itu dengan
berbisik, akan tetapi suara itu terdengar sangat jelas. Aku merasa kekuatan
meninggalkan tubuhku yang tegang.
"Karena, aku... aku adalah
seseorang yang akan menjagamu.”
Setelah mengatakan hal ini,
Ryuzaki mencium pipiku dan memelukku. Aku merasakan sebuah kegelapan yang
lembut dan hangat menutupiku.
Sementara aku menutup kedua
mataku, pikiranku menembus selubung gelap dari ingatanku dan melihat
wajah-wajah dari anggota Black Cat; mereka semua duduk di sebuah meja
penginapan, bermandikan dengan sebuah cahaya oranye.
Aku tidak dapat dimaafkan. Aku
tidak akan pernah dapat membayar harga dari kesalahan-kesalahanku.
Akan tetapi walaupun begitu,
wajah-wajah yang menetap di ingatanku kelihatannya tersenyum.
Pada hari berikutnya, aku memakai
mantel yang sangat merah menyilaukan itu dan pergi dengan Ryuzaki menuju
Grandum pada lantai 55.
Mulai hari ini, aku akan memulai
tugasku sebagai anggota guild Blood of the Knight. Akan tetapi, berlawanan
dengan kelompok biasanya yang beranggotakan lima-orang, Asuna memanfaatkan
wewenangya dan memperbolehkan kami untuk membuat kelompok dua-orang; jadi dalam
kenyataannya, hal ini tidak berbeda dengan kemarin.
Tetapi perintah yang menunggu
kami di dalam markas utama benar-benar tidak terduga.
"Latihan...?
"Ya. Kita akan membuat
kelompok berisika empat orang dan pergi melalui area labirin dari lantai
lima-puluh-lima hingga kita mencapai area tempat tinggal di lantai
lima-puluh-enam.”
Pria yang mengatakan hal ini
adalah salah satu dari empat pria lain yang berada di rapat ketika aku
berbicara dengan Artix, Dia adalah seorang pria besar dengan ikal rambut pirang
tebal dan kelihatan seperti seorang pembawa kapak.
"Tunggu, Godfree!
Rizuka-chan akan...”
Sementara Asuna mulai berdebat,
Godfree mengangkat sebelah alisnya dan menjawab dengan sebuah suara, yang
percaya diri, bila bukan angkuh.
"Bahkan sang wakil-ketua
harus mengikuti aturan. Aku tidak keberatan mengenai kelompok yang dia ikuti
untuk penjelajahan. Tetapi sebagai pemimpin dari pasukan pelopor , aku harus
menguji kemampuannya. Bahkan bila dia adalah seorang pengguna unique skill,
kita tidak benar-benar tahu apakah dia akan berguna bagi kita.”
"Dengan kekuatan Rizuka-chan,
tidak mungkin dia akan menjadi sebuah gangguan...”
Aku menenangkan Ryuzaki yang
gelisah sebelum berkata:
"Bila kamu ingin melihat,
maka aku akan menunjukkanmu. Tetapi aku tidak ingin membuang-buang waktu pada
labirin level rendah seperti itu. Apakah bergegas melaluinya dalam satu kali
perjalanan akan kamu setujui?”
Godfree menutup mulutnya dengan
ekspresi tidak senang. Lalu dia pergi setelah berkata:
"Berkumpul di gerbang kota
sebelah barat dalam tiga puluh menit.”
"Sikap macam apa itu!?”
Ryuzaki menendang sebuah pilar
baja dengan sepatunya karena jengkel.
"Maafkan aku, Rizuka-chan.
Mungkin akan lebih baik bila kita melarikan diri saja...”
"Bila kita melakukan hal
itu, semua anggota dari guild akan secara bersama-sama mengutukku hingga mati.”
Dia tersenyum dan dengan bercanda
memukul kepala ku
"Uuuu, Aku berpikir bahwa
kita akan bersama hari ini haruskah aku pergi bersamamu...?”
"Aku akan segera kembali.
Tunggulah di sini.”
"Yeah... hati-hati...”
Ryuzaki mengangguk dengan enggan.
Setelah melambaikan tanganku ke arahnya, aku berjalan keluar dari markas besar.
Tetapi ketika aku tiba di tempat
yang telah di tentukan yaitu gerbang sebelah barat aku melihat sesuatu yang
jauh lebih mengejutkan.
Di sebelah Godfree berdiri orang
yang paling tidak ingin aku temui di dunia ini Kura.
PART 15
“...Apa yang kau maksud dengan
hal ini?”
Aku bertanya kepada Godfree
secara perlahan.
“Hmm, aku sudah tahu apa yang
telah terjadi diantara kalian berdua. Tetapi karena sekarang mulai saat ini
kalian adalah teman seperjuangan dari guild yang sama, aku berpikir saat ini
adalah kesempatan yang baik untuk memperbaiki perseteruan diantara kalian
berdua.”
Sementara aku menatap Godfree
yang tertawa terbahak-bahak, Kura berjalan secara perlahan kearahku.
“…”
Aku menjadi curiga dan bersiap
untuk bereaksi terhadap situasi apapun. Walaupun kami berada dalam safe area,
tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan.
Tetapi berlawanan dengan semua
perkiraanku, Kura tiba-tiba menundukkan kepalanya. Dia kemudian menggumamkan
sesuatu secara lirih dibalik rambut panjangnya.
“Maaf... atas apa yang telah
kuperbuat kepadamu...”
Kali ini aku benar-benar
terkejut. Mulutku menganga karena heran dan aku tidak dapat berkata apa-apa.
“Aku tidak akan berlaku kasar
lagi... Aku berharap kau dapat memaafkanku...”
Aku tidak dapat melihat raut
wajahnya dibalik rambut panjang & berminyaknya.
“Ah... tidak apa-apa...”
Saat aku memaksakan diriku untuk
mengangguk, aku bertanya-tanya mengenai apa yang telah terjadi. Apakah dia
telah melakukan operasi penggantian kepribadian atau sesuatu yang lain?
“Ya, ya. Sekarang masalah sudah
terselesaikan!!”
Godfree kembali tertawa
terbahak-bahak. Aku merasa sangat curiga; Kura pasti telah merencanakan
sesuatu, tetapi aku tidak dapat menebaknya dengan melihat kepalanya yang
tertunduk. Berkebalikan dengan emosi yang dilebih-lebihkan, AQWO masih
kesulitan untuk menampilkan ekspresi wajah yang semu. Aku hanya dapat menerima
permintaan maafnya sekarang, tetapi aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak
lengah.
Anggota terakhir akhirnya tiba
setelah beberapa waktu, dan kami mulai berangkat menuju labirin. Saat aku
hendak melangkah, Godfree menghentikanku dengan nada kasar:
“Tunggu... latihan hari ini akan
dilakukan dalam keadaan yang paling realistis. Aku ingin melihat sebagaimana
bagus kalian menghadapi keadaan genting, jadi aku akan mengambil semua kristal
kalian...”
“...bahkan teleport crystal
kami?”
Godfree hanya mengangguk. Aku
ragu-ragu mengenai hal ini. Kristal, terutama teleport crystal, adalah jaring
pengaman terakhir pada death game ini. Aku tidak pernah bertualang tanpa kristal-kristal
ini. Aku hendak menolak, tetapi masalah ini mungkin saja membuat Ryuzaki berada
dalam situasi yang bermasalah, jadi aku memutuskan untuk menahan ucapanku.
Melihat Kura dan yang lainnya
menyerahkan kristal mereka dengan patuh, aku tidak memiliki pilihan lain selain
mengikuti. Godfree bahkan memeriksa inventory-ku secara seksama setelah itu.
“Hmm, baguslah. Sekarang mari
kita berangkat”
Dibawah perintah Godfree, kami
berjalan keluar dari Grandum dan berjalan menuju area labirin yang dapat kami
lihat di arah barat dari kejauhan.
Area latihan pada lantai lima
puluh lima adalah daerah tandus nyaris tanpa tumbuhan. Aku hendak menyelesaikan
latihan secepat mungkin, sehingga aku menyarankan untuk berlari sepanjang jalan
ke arah labirin, tetapi saranku ditolak mentah-mentah dengan sebuah lambaian
tangan dari Godfree.Hal ini mungkin karena dia memfokuskan untuk menaikkan
strength stat-nya dan mengabaikan dexterity.Aku hanya dapat menyerah dan
meneruskan perjalanan melalui gurun tanpa akhir ini.
Kami beberapa kali bertemu dengan
monster-monster. Tetapi mengenai hal ini, aku tidak mempunyai cukup kesabaran
untuk menunggu perintah Godfree, jadi aku dengan mudahnya menebas mereka saat
itu juga.
Pada akhirnya, setelah melewati
beberapa gunung yang tinggi dan berbatu, batu-batu kapur berwarna abu-abu dari
labirin akhirnya terlihat...
“Baiklah, kita sekarang
beristirahat disini!”
Setelah Godfree mengumumkan hal
ini dengan nada kasar, kelompok ini berhenti.
“...”
Aku ingin langsung menerobos
masuk kedalam labirin; tetapi karena aku mengetahui bahwa hal ini akan ditolak
walaupun aku mengusulkannya, aku hanya menghela napas dan duduk pada sebuah
batu. Saat ini sudah mendekati tengah hari.
“Aku akan membagikan
makanannya..”
Godfree kemudian mengambil empat
kantung kulit dan melemparkannya kepada masing masing anggota. Aku menangkap
milikku dengan satu tangan dan membukanya tanpa mengharapkan apa-apa. Didalam
kantong itu terdapat sebotol air dan roti keras yang dijual di toko milik NPC.
Aku membuka botolnya dan meminum
seteguk penuh sementara mengutuk keberuntunganku; aku bisa saja memakan
sandwich buatanku sendiri bila semuanya telah berjalan lancar.
Lalu, aku tiba-tiba menyadari
bahwa Kural duduk di batu yang jauh. Dia bahkan tidak membuka kantungnya, dan
kedua mata dibalik rambut panjangnya menatap dengan niat buruk kearah kami.
Apakah yang mungkin sedang dia
tatap...?
Hawa dingin tiba-tiba menyerang
sekujur tubuhku. Da sedang menunggu sesuatu terjadi. Sesuatu itu... kemungkinan
besar-
Aku langsung membuang botol yang
kubawa dan mencoba untuk memuntahkan cairan itu dari mulutku.
Tetapi sudah terlambat. Tenagaku
tiba-tiba menghilang dan aku terjatuh. Terlihat HP bar di ujung penglihatanku;
HP bar ini dikelilingi gambar petir berwarna hijau yang biasanya tidak ada
disana.
Tidak mungkin aku salah; apa yang
baru aku minum adalah racun untuk melumpuhkan.
Saat aku melihat sekeliling, aku
mengetahui bahwa Godfree dan yang lainnya juga telah menggeliat ditanah. Aku
langsung mencari kedalam kantung menggunakan tangan kiriku, tetapi hal ini
hanya memperkuat rasa panik-ku. Aku telah menyerahkan semua antidote crystal-ku
kepada Godfree. Aku masih memiliki sebuah potion,tetapi potion ini tidak
berpengaruh terhadap kelumpuhan.
“Ku...kukuku...”
Tawa yang melengking mencapai
telingaku. Sementara dia duduk di batu, Kuradeel memegang perutnya dengan kedua
tangan dan tertawa terbahak-bahak. Kelopak matanya yang tebal menunjukkan
ekstasi kegilaan yang aku ingat dengan sangat baik.
“Waha! Haha! Hyahahahaha!!”
Dia tertawa terbahak-bahak sambil
menengadah ke langit, kelihatannya tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Godfree menatapnya dengan ekspresi wajah kebingungan.
“Apa... apa yang terjadi...?
Bukankah airnya... disiapkan... olehmu, Kura...”
“Godfree! Cepat, gunakan antidote
crystal!!”
Setelah mendengarkan teriakanku,
Godfree akhirnya mulai mencari didalam kantung di sisi tubuhnya.
“Hya-!!”
Dengan teriakan yang aneh,
Kuradeel melompat dari batu tempat duduknya dan menendang tangan kiri Godfree
dengan sepatunya. Sebuah kristal hijau bergulir dari tangan Godfree. Kuradeel
mengambilnya, dan memasukkan tangannya kedalam kantung Godfree, mengambil
kristal yang tersisa dalam kantong, dan memasukkannya kedalam kantungnya
sendiri.
Semuanya telah berakhir.
“Kura… apa, apa yang kau lakukan?
Apakah ini adalah semacam... latihan?”
“Bodoh!!”
Kura mengatakan hal ini sembari
dia menendang Godfree, yang masih belum dapat mengerti apa yang sedang terjadi
dan menggumamkan hal bodoh ini, pada mulutnya.
“Argh!”
HP Godfree menurun sedikit, dan
pada saat yang bersamaan cursor Kuradeel berubah dari kuning menjadi warna
oranye yang menunjukkan status kriminal. Tetapi hal ini tidak mengubah apapun.
Tidak mungkin seseorang akan melewati lantai yang telah diselesaikan.
“Godfree-san, aku selalu
menganggap kamu sebagai seorang idiot, tetapi aku tidak pernah membayangkan
bahwa kamu akan separah ini. Apakah otakmu juga terbuat dari otot?
Tawa tajam Kuradeel membahana
keseluruh gurun.
“Masih banyak hal yang ingin aku
katakan kepadamu... tetapi aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan makanan
pembuka...”
Kuradeel menghunuskan two-handed
sword miliknya sembari berkata. Dia mengangkatnya tinggi ke udara dan
meregangkan tubuh kurusnya. Cahaya mentari terpantul dari bilah pedangnya yang
tebal saat dia mengayun-ayunkan pedang itu.
“T-tunggu, Kura! Kau... apa...
apa yang kau katakan ... bukankah... bukankah ini adalah latihan?”
“Tutup mulutmu dan matilah.”
Kura meludah dan mengayunkan
pedangnya tanpa ampun. Terdengar suara yang keras dan menjengkelkan , dan HP
Godfree menurun secara drastis.
Godfree akhirnya menyadari
seberapa serius keadaannya dan mulai berteriak. Tetapi sekarang sudah
terlambat.
Dua, tiga kali pedangnya terayun
kebawah tanpa ampun dengan berkilatan cahaya, dan HP Godfree berkurang banyak
dalam setiap ayunan pedang itu. Kemudian, saat HP Godfree mencapai area merah,
Kura berhenti.
Saat aku baru saja berpikir bahwa
dia tidak akan membunuh tidak peduli seberapa gilanya dia, Kura membalik
pegangan pedangnya dan secara perlahan menusukkannya ke tubuh Godfree. Saat HP
Godfree berkurang sedikit demi sedikit, Kuradeel mulai mendorong pedang itu
dengan seluruh tubuhnya.
“Aaaaaaaahhh!!”
“Hyahahahaha!!”
Sementrara teriakan Godfree
menjadi semakin keras, Kura mulai berteriak juga. Pedang itu mulai tertanam
dalam tubuh Godfree secara perlahan-lahan dan HP-nya berkurang secara stabil-
Sementara anggota lain dan diriku
melihat dalam diam, pedang Kuradeel menembus tubuh Godfree sepenuhnya, dan HP
bar-nya menjadi nol pada saat yang bersamaan. Godfree kemungkinan besar tetap
tidak mengerti apa yang terjadi walaupun pada saat itu tubuhnya terpecah
menjadi pecahan yang tak terhitung.
Kura secara perlahan menarik
pedangnya dari tanah, lalu memalingkan mukanya seperti boneka mekanis dan melihat anggota lainnya.
“Ah!! Ahhh!!”
Dengan teriakan-teriakan pendek
ini, anggota tersebut mengayun-ayunkan lengannya dalam usahanya untuk melarikan
diri. Kura mulai berjalan kearahnya dengan langkah yang aneh.
“…Aku tidak ada dendam
terhadapmu... tetapi menurut rencanaku, hanya aku saja yang kembali dengan
selamat…”
Dia kemudian mengangkat pedangnya
sembari bergumam kepada dirinya sendiri.
“Aaaahh!”
“Kau ingin dengar~? Sebenarnya,
kelompok kami--”
Dia mengayunkan pedangnya;
telinganya tidak mendengar teriakan-teriakan anggota lainnya itu.
“Telah disergap di gurun oleh
sekelompok besar dari PKers-.”
Dia mengayunkan pedangnya lagi.
“Kami bertarung dengan sengit,
tetapi tiga anggota yang lain telah meninggal-.”
Dan pedangnya terayun lagi.
“Aku hanyalah satu-satunya yang
tersisa, tetapi aku berhasil mengusir para kriminal itu dan berhasil bertahan
hidup sebelum kembali ke HQ-.”
Setelah serangan ke-empat, HP
dari anggota itu habis. Sebuah suara yang membuat tubuhku menggigil berbunyi.
Tetapi Kuradeel bersikap seakan dia telah mendengarkan suara dari seorang dewi.
Dia berdiri disana, di tengah ledakan serpihan-serpihan, dan mendengarkannya
dengan ekspresi bahagia tergambar di wajahnya.
Kali ini bukan hari pertamanya...
Aku sangat yakin akan hal ini.
Cursor miliknya mungkin telah berubah menjadi warna oranye dari kriminal baru
beberapa waktu yang lalu, tetapi masih ada banyak cara tercela untuk membunuh
orang tanpa merubah warna cursor-nya. Akan tetapi, mengerti mengenai hal ini
sekarang tidak akan memecahkan masalah apapun.
Akhirnya, Kura berbalik untuk melihatku,
dengan kegembiraan yang tak tertahankan tergambar jelas di wajahnya. Dia
berjalan perlahan kearahku, pedangnya membuat suara yang memuakkan saat dia
menggoreskannya di tanah sepanjang perjalanannya.
“Hey.”
Dia merundukkan badan di
sebelahku, yang masih tergeletak di tanah, dan berbisik kepadaku.
“Karena idiot sepertimu, aku
harus membunuh dua orang yang benar-benar tidak bersalah.”
“Walaupun begitu kau terlihat
sangat senang akan hal itu.”
Aku merespon sementara aku dengan
putus asa berusaha mencari jalan keluar dari situasi ini. Dari tubuhku, yang
dapat bergerak hanyalah bibir dan tangan kiriku. Karena kelumpuhan mencegah
seseorang untuk membuka menu window, berarti hal ini juga melarang player untuk
mengirim pesan jenis apapun. Walaupun aku tahu bahwa hal ini tidak akan banyak
membantu, aku berusaha untuk menggerakkan tangan kiriku, yang berada pada
blind-spot dari Kura, sementara aku terus berbicara.
“Mengapa seseorang sepertimu
bergabung dengan BoK? Sebuah criminal guild akan lebih cocok untukmu.”
“Keh, mengapa kamu bertanya
mengenai sesuatu yang sudah pasti? Aku bergabung karena gadis itu.”
Dia mengatakannya dengan suaranya
yang parau dan menjilat bibirnya. Saat aku menyadari bahwa dia sedang berbicara
tentang Ryuzaki darahku mulai mendidih.
“Kau bajingan tengik ...!”
“Woah, mengapa kamu menatapku
seperti itu? Bukankah semuanya ini hanyalah sebuah permainan...? Jangan
khawatir, aku akan menjaga wakil ketua-mu yang berharga itu. Lagipula,aku
mempunyai banyak item yang berguna.”
Kura mengambil botol air minum
yang telah diracuninya dan mengguncangkannya untuk membuat suara percikan.
Kemudian dia memberikan kedipan mata yang aneh dan meneruskan pembicaraanya.
“Dan kamu baru saja mengatakan
sesuatu yang sangat menarik, bahwa aku lebih cocok menjadi anggota criminal
guild.”
“…yah, itu adalah sebuah
kebenaran.”
“Aku sedang memujimu. Kamu sangat
jeli.”
Kekekeke.
Kura sepertinya sedang memikirkan
sesuatu saat dia tertawa. Kemudian dia tiba-tiba melepaskan sarung tangan
kirinya.Dia menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan lengan bawahnya
sehingga aku dapat melihat apa yang ada dibaliknya.
“...!!”
Saat aku melihat apa yang ada
disana—nafasku tiba-tiba terhenti. Apa yang ada disana adalah sebuah tato. Tato
itu berwujud karikatur seperti manga tentang sebuah peti mati hitam kelam.
Sebuah mulut dan sepasang mata membentuk seringai lebar pada permukaan tutup
peti; tulang-belulang dari sebuah tangan tengkorak menggapai keluar dari dalam
peti.
“Itu... adalah lambang dari...
«Laughing Coffin»?”
Aku menanyakan hal itu dengan
suara serak. Kuradeel tersenyum dan mengangguk setuju.
«Laughing Coffin» sebelumnya
adalah grup PK terbesar dan terburuk di Devilcraft. Mereka dipimpin oleh
seseorang yang kejam dan licik, dan terus bereksperimen tanpa akhir dengan
metode-metode baru untuk membunuh orang; pada akhirnya, jumlah pemain yang
telah dibunuhnya berjumlah hingga tiga digit satuan.
Para pemain pertama mencoba
memecahkan masalah ini dengan negosiasi, tetapi setiap pembawa pesan yang
dikirim segera dibunuh. Kami bahkan tidak dapat mengerti kenapa mereka
melakukan PK, karena hal ini hanya menurunkan kemungkinan unuk menyelesaikan
permainan ini, dan karena hal ini kami tidak dapat berkomunikasi dengan baik
dengan mereka. Beberapa waktu yang lalu, para pemain yang bertujuan untuk
menyelesaikan permainan ini telah membentuk grup penaklukan yang menyaingi
grup-grup pembunuh boss, dan pada akhirnya menghancurkan guild mereka setelah
beberapa pertarungan yang panjang dan berdarah.
Ryuzaki dan aku juga pernah
menjadi bagian dari grup tersebut. Tetapi informasi mengenai grup ini telah
bocor entah dimana, dan para Pker telah bersiap-siap dan menantikan kami. Dalam
usaha kerasku untuk melindungi teman seperjuanganku, pada akhirnya aku mengambil
nyawa dari dua anggota Laughing Coffin secara tidak sengaja.
“Apakah ini...untuk balas dendam?
Kamu adalah orang yang selamat dari Laughing Coffin?”
Aku menanyakan hal ini dengan
suara parau. Kuradeel secara virtual meludahkan jawabannya:
“Heh, tidak mungkin. Mengapa aku
akan melakukan hal sebodoh itu? Aku baru-baru saja bergabung dengan Laughing
Coffin, dan hanya dalam semangat. Aku belajar teknik melumpuhkan ini dari
mereka... ah, cerita yang membosankan.”
Dia berdiri dengan gerakan yang
hampir mirip dengan mesin dan mengangkat pedangnya lagi.
“Baikah, kita sudah cukup lama
berbicara. Efek racunnya akan segera habis sebentar lagi, jadi aku perlu
menyelesaikannya sekarang. Aku telah memimpikan saat ini... semenjak duel saat
itu...”
Api berkobar di kedua matanya,
yang terbuka lebar sekali hingga bernentuk lingkaran. Dia tersenyum sambil
menjulurkan lidahnya, dan dia bahkan berjinjit saat dia bersiap untuk
mengayunkan pedangnya.
Sesaat sebelum dia bergerak,aku
melemparkan mata pisau di tangan kiriku hanya menggunakan pergelangan tanganku.
Walaupun sebenarnya aku mengarahkannya ke arah wajah dimana cederanya akan
lebih parah, accuracy penalty dari kelumpuhan meyebabkan mata pisau baja itu
meleset dan menusuk lengan kiri Kural. HP Kura hanya berkurang sedikit, sementara
aku jatuh kedalam situasi yang tanpa harapan.
“...sakit juga ...”
Kura mengerutkan alisnya dan
melebarkan senyumnya, kemudian menusuk lengan kananku dengan ujung pedangnya.
Dia kemudian memelintirkannya dua kali, lalu tiga kali.
“Argh...!”
Walaupun aku tidak merasakan
sakit sedikitpun, perasaan yang tidak mengenakkan dari stimulasi di syaraf
menyebar keseluruh tubuhku bersamaan dengan efek kuat dari kelumpuhan. Setiap
kali pedang itu menusuk lenganku, HP-ku berkurang secara lambat tapi pasti.
Apakah masih disana...? Apakah
efek dari racunnya masih belum hilang...?
Aku menggertakan gigiku dan
menunggu saat dimana tubuhku akan terbebas. Jangka waktu dari kelumpuhan
berbeda-beda berdasarkan dari kekuatan racun lainnya. Tetapi kebanyakan racun
penyebab kelumpuhan kehilangan efektivitasnya dalam waktu kurang lebih lima
menit atau sekitar itu.
Kura menarik pedangnya lalu
menusuk kaki kiriku. Perasaan tidak mengenakkan kembali menyebar ke seluruh
tubuhku, dan sistem dari permainan ini mengkalkulasikan tingkat cederanya tanpa
ampun.
“Jadi...? Bagaimana rasanya...?
Bagaimana rasanya mengetahui bahwa kau akan mati sebentar lagi...? Maukah
kau... beritahu aku...?”
Kura mengatakan hal ini dengan
hampir berbisik saat dia menatap wajahku dengan penuh perhatian.
“Katakan sesuatu cumi-cumi...
Menangis dan berteriaklah kalau kamu tidak ingin mati...”
HP-ku menurun hingga dibawah
garis tengah dan berubah menjadi warna kuning. Kelumpuhannya masih belum hilang
juga. Sekujur tubuhku menjadi semakin dingin, seakan-akan kematian sedang
menyelubungiku dengan udara beku, rasa dinginnya secara perlahan merangkak dari
kedua kakiku.
Aku telah melihat banyak pemain
yang meninggal di dalam AQWO. Mereka semua memiliki ekspresi wajah yang sama
saat mereka terpecah menjadi pecahan yang tak terhitung jumlahnya dan
menghilang; ekspresi itu selalu merupakan ekspresi sederhana dari sebuah
perenungan, sebuah ekspresi yang menanyakan, ”apakah aku benar-benar akan mati
seperti ini?”
Ekspresi itu kemungkinan besar
disebabkan karena, jauh didalam hati kita, tidak seorangpun dari kita ingin
menerima peraturan mutlak dari permainan ini. Kita sebenarnya tidak ingin
mempercayai bahwa kematian didalam permainan ini berarti kematian yang
sesungguhnya.
Kita semua menaruh harap pada
sebuah spekulasi, bahwa “mungkin kita hanya akan kembali ke dunia nyata saat HP
kita menjadi nol dan kita menghilang.” Tentu saja, kau perlu mati sendiri untuk
mengetahui apakah yang sebenarnya akan terjadi. Bila kau berpikir mengenai hal
ini seperti itu, lalu kematian akan menjadi salah satu cara untuk melarikan
diri dari permainan ini-.
“Hey, hey, katakan sesuatu. Aku
benar-benar berusaha membunuhmu sekarang.”
Kura menarik pedangnya dari kakiku
dan kali ini menusuk dadaku. HP-ku menurun secara drastis dan menuju ke area berbahaya
warna merah.Tetapi aku merasa hal ini bukanlah hal yang menjadi perhatianku,
seakan-akan ini semua terjadi di dunia lain yang jauh. Walaupun aku sedang
disiksa dengan pedang ini, pikiranku sedang berjalan kearah jalan yang kelam,
seakan-akan kain yang berat dan tebal perlahan-lahan menutupinya.
Lalu kemudian—rasa takut yang
kuat tiba-tiba mencengkeram hatiku.
Ryuzaki. Bila aku meghilang dan
meninggalkannya sendiri di dunia ini, Ryuzaki akan jatuh ke tangan Kura dan
harus merasakan rasa sakit yang sama denganku. Kemungkinan itu membuat rasa
sakit yang tak tertahankan yang mengejutkanku dan membuatku kembali sadar.
“Kaaaah!!”
Aku membuka mataku, mencengkeram
pedang yang tertanam kedalam dadaku, dan mulai menariknya keluar dengan
kekuatan yang masih ada padaku. Aku hanya memiliki sekitar sepuluh persen HP
tersisa. Kura lalu berteriak kaget:
“Huh... huh? Apa ini, kamu takut
mati?”
“Ya... Aku... tidak boleh mati
dulu…”
“Heh!! Hyahaha!! Begini lebih
baik!!”
Kura tertawa seperti burung yang
aneh dan menekan pedangnya dengan seluruh berat tubuhnya. Aku menahannya dengan
satu tangan. Sistemnya melakukan perhitungan-perhitungan yang rumit berdasarkan
atas kekuatanku dan Kura dan menetapkan hasilnya.
Hasil akhirnya—pedangnya kembali
menusukku lagi, perlahan tetapi pasti. Aku dipenuhi dengan rasa takut dan putus
asa.
Apakah ini akhirnya?
Apakah aku akan mati?
Meninggalkan Ryuzaki dan teman-temanku didalam dunia yang gila ini?
Aku berusaha melawan pedang yang
perlahan-lahan mendekat dan rasa putus asa yang menggapai dari dalam diriku.
“Mati!! Mati Matilah!!”
Kura berteriak dengan suara yang
melengking.
Niat membunuh yang berbentuk
pedang yang bersinar kusam mendekat sentimeter demi sentimeter. Lalu akhirnya,
ujung dari pedang itu mencapai tubuhku—dan perlahan menusuk masuk...
Pada saat yang sama, sehembus
angin bertiup.
Ini adalah hembusan angin merah
tua dan putih murni.
“Huh...!?”
Dengan seruan terkejut ini,
pembunuh itu beserta pedangnya terlempar tinggi ke udara. Aku terdiam menatap
bayang-bayang dari orang yang telah datang.
“...Aku belum terlambat... Aku
belum terlambat... terima kasih, Tuhan... Aku belum terlambat...”
Suaranya yang bergetar terdengar
lebih indah daripada kepakan sayap seorang malaikat penolong. Bibirnya bergetar
hebat sembari dia jatuh berlutut dan melihatku.
“Masih hidup kamu masih hidup
kan, Rizuka-chan…?”
“...yah Aku masih hidup...”
Suaraku terdengar begitu lemah
sehingga hal itu mengejutkanku. Ryuzaki mengangguk sekali dan mengeluarkan
kristal berwarna merah muda dari kantungnya, lalu meletakkan tangan kirinya
pada dadaku dan berteriak.
“Heal!”
Kristal itu pecah dan HP bar-ku
terisi saat itu juga. Setelah memastikan kesembuhanku, Ryuzaki berbisik
kepadaku
“...Tunggu disini. Aku akan
segera membereskan ini sayang...”
Ryuzaki lalu berdiri, menghunuskan
pedangnya dengan keren, dan mulai berjalan.
Sasarannya, Kura masih berusaha
untuk mengangkat tubuhnya dari tanah. Saat dia melihat orang yang berjalan
kearahnya, kedua matanya terbelalak.
“R-Ruzaki-sama... b-bagaimana
anda sampai disini...? I-ini, cuma latihan, ya, tadi ada kecelakaan ditengah
latihan...”
Kura melompat keatas seakan-akan
dia memiliki pegas ditubuhnya dan berusaha untuk mengutarakan alasan dengan
suaranya yang gugup. Tetapi sebelum dia selesai, tangan kanan Ryuzaki bercahaya
dan ujung pedangnya merobek mulut Kuradeel. Dia tidak menjadi kriminal karena
musuhnya telah memiliki cursor oranye.
“Ahh!!”
Kura menutupi mulutnya dengan
tangannya, menyondorkan badan kebelakang, dan terhenti sesaat.Kemudian, sembari
dia kembali berdiri tegak, kedua matanya penuh dengan amarah yang kukenal.
“Kau laki-laki busuk... kau
berbuat terlalu jauh... Heh, tidak apa-apa. Aku hanya perlu mengurusmu juga...”
Tetapi dia berhenti ditengah
kata-katanya; Ryuzaki telah mulai menyerang dengan ganas segera setelah dia
mempererat genggaman pada pedangnya. Pedang miliknya menggambar
lintasan-lintasan cahaya yang tak terhitung banyaknya saat pedangnya miliknya
menyayat dan menusuk Kura dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan aku tidak
dapat melihat jalur pedangnya, dan aku berada beberapa level diatasnya. Aku
hanya menyaksikan pangeran ini mengayunkan pedangnya hampir seakan-akan dia
sedang melawan musuh yang sangat kuat.
Gayanya itu sangat keren. Ryuzaki
memukul mundur musuhnya dengan tanpa ekspresi, rambut hitam kehitam-hitamnya
mengalir sementara percikan-percikan kemarahan menyelimuti sekujur tubuhnya;
kekerenannya tak terlukiskan.
“Ah!! Kaaaa!!”
Kura sudah mulai panik, pedangnya
terayun liar tanpa sekalipun menggores Ryuzaki. Sementara HP-nya menurun dari
daerah kuning ke daerah merah, Kura akhirnya membuang pedangnya kesamping dan
berteriak dengan kedua tangannya terangkat diudara.
“B-baiklah!! Baiklah!! Aku minta
maaf!!”
Dia lalu berlutut dan memohon.
“A-aku akan meninggalkan guild!
Aku tidak akan muncul dihadapan kalian berdua lagi!! Jadi-“
Ryuzaki mendengarkan
permohonannya dalam diam.
Dia lalu mengangkat pedangya
perlahan dan membalik pegangan pedangnya. Tangannya yang kekar menegang karena
gugup, dan kemudian terangkat beberapa sentimeter saat dia bersiap untuk
menusuk Kura. Pada saat itu pembunuh itu berteriak lebih keras.
“Heeeek hentikan! A-aku tidak mau
mati-!!”
Pedangnya terhenti tiba-tiba
seperti menghantam dinding yang tidak terlihat. Tubuh mungilnya mulai gemetar
dengan hebat.
Aku dapat sepenuhnya memahami
konflik didalam diri Ryuzaki, mengenai rasa takut dan amarahnya.
Dari apa yang aku tahu, dia belum
pernah membunuh siapapun didalam permainan ini. Karena bila seorang pemain
terbunuh didunia ini maka dia juga akan mati didunia nyata, PK didalam network
game ini sama dengan pembunuhan yang sebenarnya.
—Ya. Berhenti, Ryuzaki. Jangan
melakukannya.
Ketika aku meneriakkan hal ini
kepada diriku sendiri, aku juga memikirkan hal yng sebaliknya pada saat yang
sama.
—Tidak, jangan ragu-ragu. Ini
adalah kesempatan yang dia tunggu.
Perkiraanku menjadi kenyataan 0.1
detik kemudian.
“Ahahahaha!”
Aku tidak yakin kapan Kura
mengambil pedangnya lagi, tetapi dia tiba-tiba mengayunkannya keatas dengan
sebuah teriakan.
Pedang milik Asuna berdentang dan
terlempar dari genggaman tangan kanannya.
“Ah...!?”
Saat Ryuzaki berseru dan
kehilangan keseimbangannya,sebuah sinar metalik berkilat diatas kepalanya.
“Wakil-ketua, kamu masih terlalu
naif.”
Dengan sebuah jeritan yang
dipenuhi kegilaan, Kura mengayunkan pedangnya tanpa ragu-ragu, menggambarkan
sebuah garis cahaya merah kelam.
“Ahhhhhhh!!”
Kali ini,akulah yang berteriak.
Aku melompat dari tanah dengan kaki kananku, yang telah pulih dari kelumpuhan,
dan terbang sejauh beberapa meter sebelum mendorong Ryuzaki kesamping dengan
tangan kananku sementara aku menangkis pedang Kura dengan tangan kiriku.
Buk.
Dengan suara yang tidak
mengenakkan ini, tangan kiriku terpotong mulai dari siku kebawah. Icon
kehilangan anggota tubuh menyala dibawah HP bar-ku. Sementara garis-garis merah
darah mengalir keluar dari luka potong ditangan kiriku, tangan kananku
meluruskan jari-jarinya dan-.
Aku menusukkan tanganku kedalam
celah diantara baju zirah Kura yang tebal. Tanganku berpendar kuning saat
tanganku tertanam dalam kedalam perut Kuradeel.
Aku telah dengan sukses membalas
dengan teknik jarak sangat dekat «Embracer», yang segera menghabiskan sisa dua
puluh persen HP Kura. Tubuhnya yang kurus kering dan cekung bergetar dengan
hebat disampingku, lalu kehilangan semua kekuatannya dan jatuh terkulai.
Saat great sword miliknya jatuh
ke tanah dan berdentang, dia berbisik kedalam telingaku:
“Kau... pembunuh...”
Dia mengejek dengan suara
"kuku"
Seluruh tubuh Kuradeel terpecah
menjadi banyak pecahan kaca. Aku terdorong oleh tekanan dingin dari
poligon-poligon yang menghilang dan terjatuh kebelakang.
Untuk sementara waktu, pikiranku
yang kelelahan ,dan terbekukan hanya mengetahui suara dari angin yang
berhembus.
Lalu aku mendengar langkah tak
beraturan yang berjalan di jalan setapak. Saat aku mengalihkan pandanganku, aku
dapat melihat tubuh yang terlihat rapuh berjalan kearahku dengan ekspresi
hampa.
Ryuzaki berjalan kearahku dengan
kepala tertunduk, dan jatuh berlutut didepanku seperti boneka yang telah
terputus benangnya. Walaupun dia menjangkauku dengan tangan kananya, dia
tiba-tiba menarik tangannya kembali sebelum tangannya dapat menyentuhku.
“...Maafkan aku, semuanya ini
karena aku...”
Ryuzaki mengucapkan hal ini dengan
ekspresi duka yang mendalam. Air mata mengalir sedikit dari kedua mata yang
besar. Aku hampir tidak bisa mengucapkan suatu kata pendek dari kerongkonganku
yang kering:
“Ryuzaki...”
“Maafkan aku... aku... tidak
akan... bertemu si cantik Rizuka-chan... l... lagi.”
Aku memaksakan diriku untuk
menegakkan tubuhku kembali, yang akhirnya merasa telah pulih. Tubuhku masih
dipenuhi dengan rasa tidak nyaman karena cidera parah yang aku dapatkan, tetapi
dengan cepat dia memelukku dengan erat. Lalu, diamenutupi bibir indahnya, dengan
bibirku.
“...!”
Badanku menjadi kaku, dan mencoba
pergi, tetapi dia menahan tubuhku yang mungil dengan rapat dengan semua
kekuatan yang dipunya. Hal ini tanpa diragukan adalah sesuatu yang berlawanan
dengan kode pencegahan pelanggaran sikap.. Pada saat ini, pesan sistem seharusnya
sudah tampil didepan Ryuzaki, dan bila dia menyentuh OK, aku akan segara
di-teleportasi ke area penjara dari Black Iron Castle.
Tetapi dia tetap tidak
melonggarkan pelukannya. Saat bibirnya meninggalkan bibirku, bibirnya menyentuh
pipiku sebelum aku memendamkan wajahku pada lekukan lehernya. Lalu dia
berbisik:
“Hidupku hanya untukmu, Rizuka.
Jadi aku akan menggunakannya untukmu. Aku akan selalu bersamamu hingga akhir.”
Dia menarik ku lebih dekat dengan
lengan kiriku yang masih memiliki ikon kehilangan anggota tubuh yang dikenakan
selama tiga menit. Aku menarik nafas dengan gemetar dan kemudian berbisik
membalas:
“...A-aku akan melindungimu juga.
Aku akan melindungimu selamanya. Jadi...”
Aku tidak dapat meneruskan
kata-katanya. Jadi dia mendengar isakan tangisku dengan tangan kami saling
berangkulan satu sama lain.
Kehangatan
dari tubuh kami mulai melelehkan hatiku yang beku sedikit demi sedikit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar