Selasa, 04 Desember 2012

Adventure Quest World Online (AQWO) 11-15


PART 11
Keberuntungan tidak memihak pada kami, kami bertemu dengan sekelompok Lizardman di tengah jalan. Saat kami semua sampai di lantai teratas Labyrinth, sudah tiga puluh menit berlalu dan kami masih belum bisa mengejar para anggota The Army.
“Mungkin mereka sudah menggunakan kristal mereka untuk kabur?”
Kuro berkata dengan bercanda, tapi tidak ada satupun dari kami yang mempercayai kalau mereka akan melakukannya. Sebagai hasilnya, tanpa sadar kami mempercepat langkah kami.
Ketika kami sudah setengah jalan, sebuah suara yang membuat rasa khawatir kami menjadi sungguhan bergema di dinding. Kami semua segera berhenti untuk mendengarkan.
“Ahhhh…”
Suara yang samar terdengar itu, tidak salah lagi, sebuah teriakan.
Tapi itu bukanlah teriakan monster. Kami semua melihat satu sama lain dan mulai berlari dengan cepat. Karena kami memiliki dexterity yang tinggi, Ryuzaki dan aku berlari lebih cepat dibanding dengan yang lainnya, dan sebuah perbedaan jarak dengan cepat terbuka diantara kami dan grup Kuro. Tapi ini bukanlah saat dimana kami bisa mengkhawatirkan hal itu. Kami berlari seperti angin melewati koridor yang bersinar biru berkebalikan dengan arah kami berlari tadi.
Dengan segera, dua pintu besar tadi terlihat di pandangan kami. Mereka sudah terbuka, dan kami bisa melihat api biru berkelap kelip serta sebuah bayangan besar bergerak perlahan didalam. Kami juga mendengar banyak suara teriakan dan logam yang berbenturan.
“Tidak…!”
aku berteriak dengan nada sedih dan mempercepat lariku. Ryuzaki mengikuti dengan dekat dibelakang. Kaki kami hanya sedikit menyentuh lantai, seperti kalau kami terbang di udara. Aku menyadari kalau kami sudah mencapai batas dari sistem support. Selama itu, tiang-tiang di kedua sisi gang terlewati oleh kami.
Ketika kami sudah berada di dekat pintu, Ryuzaki dan aku dengan cepat mengurangi kecepatan kami. Percikan keluar dari sepatu kami, dan kami berhasil berhenti tepat di depan pintu masuk.
“Hey! Apa kalian baik-baik saja!?”
Aku berteriak dan mencondongkan tubuhku kedepan agar bisa melihat lebih jelas.
Di dalam—terlihat seperti neraka.
Api putih kebiruan menyala diseluruh lantai. Sebuah bayangan besar berdiri tepat ditengah semua ini, tubuhnya bersinar seperti terbuat dari logam. Itu adalah sang demon biru: The Gleameyes.
Saat The Gleameyes mengayun pedang yang berukuran sangat besar miliknya yang mirip dengan zanbato ke sekitarnya, sebuah napas api keluar dari mulutnya. Damage yang diterimanya masih belum mencapai sepertiga HPnya. Di baliknya, terdapat sekumpulan bayangan, ukuran mereka sangat kecil dibandingkan sang demon. Mereka adalah grup The Army, dan anggota mereka sibuk berlarian untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri.
Mereka tidak sanggup berpikir lagi untuk berbicara. Aku memeriksa jumlah mereka dan segera menyadari kalau dua dari mereka menghilang. Bagus kalau mereka telah lari dengan menggunakan teleport item, tapi-.
Ketika aku memikirkannya, salah satu dari mereka terkena sisi dari zanbato dan terpental ke udara. HPnya telah memasuki zona merah. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini, tapi demon itu sekarang berada diantara anggota The Army dan pintu keluar, dan sebagai hasilnya mereka tidak bisa kabur. Aku berteriak kearah player yang terjatuh.
“Apa yang kau lakukan!? Cepat gunakan Kristal teleport item!”
Pria itu melihat kearahku. Wajahnya memantulkan warna kebiruan dari api disekelilingnya dan penuh dengan keputus asaan. Lalu dia berteriak kearahku:
“Tidak bias digunakan…! K-kristal nya tidak bekerja!!”
“Wha…”
Aku tidak bisa mengatakan apapun. Apakah itu berarti kalau ruangan ini adalah <Anti-Crystal Area>? Itu adalah sebuah jebakan langka yang muncul di dungeon beberapa kali, tapi itu tidak pernah muncul di ruangan boss hingga sekarang.
“Bagaimana itu bisa…!”
aku bernapas dengan cepat. Di situasi ini kami tidak bisa menerjang begitu saja untuk menyelamatkan mereka. Kemudian, seorang player di balik demon itu mengeraskan suaranya dan berteriak.
“Apa yang kau katakan!! Kata melarikan diri tidak berlaku bagi The Liberation Army!! Lawan!! Kubilang lawan!!”
Itu tidak salah lagi adalah suara Cobert.
“Kau brengsek!”
Aku berteriak. Bukti kalau dua orang telah menghilang didalam area tanpa-kristal —itu berarti mereka telah mati, telah menghilang dari dunia ini untuk selamanya. Itu adalah hal yang harus dihindari apapun yang terjadi, dan si bodoh ini masih mengatakan hal seperti itu? Aku merasakan darahku mendidih karena amarah.
Lalu Kuro dan party nya tiba.
“Hey, apa yang terjadi!?”
Aku dengan cepat memberitahu situasi ini padanya. Ketika dia mendengarnya, ekspresi Kuro menjadi gelap.
“Apa…apa tidak ada sesuatupun yang bisa kita lakukan…?”
Kita mungkin bisa berlari kedalam dan membuka jalan keluar bagi mereka. Tapi karena kami tidak bisa menggunakan kristal diruangan ini, kami tidak bisa mengabaikan kemungkinan kalau salah satu dari kami bisa mati. Kami tidak mempunyai cukup orang untuk melawan. Ketika aku susah payah memikirkan jalan keluarnya, Cobert entah bagaimana berhasil membuat para anggotanya berbaris lagi dan berteriak.
“Serbu-!”
Dua dari sepuluh orang telah kehilangan hampir seluruh HP mereka dan berbaring di lantai. Kedelapan orang lainnya berbaris empat-empat dengan Cobert ditengahnya, yang memimpin penyerbuan dengan pedangnya yang terangkat tinggi.
“Jangan-!!”
Tapi suaraku tidak mencapai mereka.
Itu adalah serangan yang sia-sia. Jika mereka berlari menerjang bersamaan, mereka tidak akan bisa menggunakan sword skills mereka dengan benar dan hanya akan menambah kekacauan. Mereka harus bertarung secara bertahan, bergantian satu-satu untuk memberikan damage, dan dengan cepat melakukan switching ke anggota yang selanjutnya.
Demon itu berdiri dengan tegak dan mengeluarkan auman yang mengguncangkan lantai sebelum menghembuskan api yang sangat terang. Sepertinya apinya dihitung sebagai serangan yang memberikan damage, dan mereka berdelapan melambat ketika api biru itu menyelimuti mereka. Sang demon mengambil kesempatan itu dan mengayunkan pedang besarnya. Tubuh seseorang terpental ke udara, terbang melewati kepala sang demon, dan kemudian terjatuh dengan keras ke tanah didepan kami.
Itu adalah Cobert.
HPnya telah menghilang sepenuhnya. Dengan ekspresi yang sepertinya tidak mengerti situasi, dia perlahan menggerakkan mulutnya.
-Ini mustahil.
Ucapnya tanpa bersuara. Lalu, dengan sebuah sound effect yang mengerikan yang menusuk jiwa kami, tubuhnya pecah menjadi sebuah pusaran yang terbuat dari polygon. Setelah itu, aku mengeluarkan teriakan singkat melihat kematiannya yang sia-sia.
Dengan pemimpin mereka yang telah tiada, anggota The Army segera menjadi ribut. Mereka berlari kesana kemari sambil berteriak. Semua HP mereka sudah dibawah setengahnya.
“Tidak…tidak…tidak lagi…”
Ketika aku mendengar suara Ryuzaki yang menegang, Aku melirik kesamping kearahnya. Aku segera mencoba untuk menarik tangannya...
Tapi aku terlambat.
“Tidak-!!”
Dengan teriakan ini, Ryuzaki berlari seperti kilat. Dia mengeluarkan rapier nya dan menerjang kearah The Gleameyes seperti kilatan cahaya.
“Ryuzaki!!”
Aku berteriak. Tanpa ada pilihan lain, aku menarik pedangku dan mengikutinya.
“Eh, apa boleh buat!!”
Kuro dan party nya kemudian berteriak dan mengikuti kami.
Serangan ceroboh Ryuzaki mengenai punggung demon itu ketika perhatiannya mengarah ke anggota The Army. Tapi HPnya hampir tidak berkurang sama sekali.
The Gleameyes itu mengaum, kemudian berbalik kebelakang dan mengayunkan zanbato miliknya kebawah. Ryuzaki segera melangkah kesamping untuk menghindar, tapi dia tidak bisa menghindar sepenuhnya dan terjatuh karena guncangannya. Serangan kedua mengarah kepadanya tanpa menunggunya bersiap-siap.
“Ryuzaki-!!”
Aku merasa tubuhku mendingin karena takut ketika aku berdiri mencegah diantara Ryuzaki dan pedang itu. Pedangku tepat waktu menahan serangannya. Lalu, aku merasakan efek benturan itu diseluruh tubuhku saat guncangannya mengenaiku.
Saat percikan keluar dari kedua pedang, pedang demon itu mengenai lantai hanya beberapa cm dari Ryuzaki. Pedangnya membuat sebuah lubang besar dilantai dengan sound effect yang seperti ledakan.
“Mundur!”
“Aku akan melindungi kalian semua”
Aku berteriak dan bersiap untuk serangan selanjutnya. Pedangnya datang kearahku berkali kali dengan tenaga yang kuat seperti kalau itu akan mencabut nyawaku dengan satu serangan. Tidak ada satupun celah bagiku untuk melakukan counterattack.
Teknik The Gleameyes berdasar kepada two-handed sword skill. Tapi mereka agak sedikit diubah, yang membuat mereka sulit untuk dibaca. Aku berkonsentrasi penuh untuk bertahan dengan menghindar dan menangkis. Tapi serangan-serangannya sangat kuat dan mengurangi HP ku setiap ayunannya.
“Argh!!”
Akhirnya, satu dari serangannya mengenai tubuhku dengan tepat. Aku merasakan efek benturan yang mengejutkanku, dan HP ku berkurang banyak.
Equipment dan skill ku jauh dari tank player. Jika ini terus berlanjut, itu hanya akan membawaku kearah kematian. Ketakutan akan kematian membuat tubuhku menggigil. Aku bahkan tidak bisa lagi mencoba untuk kabur.
Hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Aku harus melawannya dengan semua yang kupunya sebagai seorang damage dealer.
“Ryuzaki! Kuro! Tahan bosnya dan berikan aku sepuluh detik!”
Aku berteriak dan mengayunkan pedangku dengan keras untuk menangkis serangan musuh dan membuat sebuah break point. Lalu aku melompat kesamping dan berguling. Kuro segera menggantikan posisiku dan menahan demon itu dengan katananya.
Tapi katana Kuro dan rapier Ryuzaki adalah senjata yang mengandalkan kecepatan jadi mereka kekurangan berat. Aku sadar kalau itu tidak mudah bagi mereka untuk menahan zanbato demon itu. Sambil berbaring di lantai, aku membuka menu dengan tangan kiriku.
Aku tidak boleh membuat kesalahan sedikitpun sekarang. Dengan jantungku yang berdetak dengan kencang, aku mulai menggerakkan jari tangan kananku. Aku membuka item list ku, mengambil sesuatu didalamnya, dan mengequip nya di tempat kosong di profil equipment ku. Lalu aku membuka skill window dan mengganti weapon skill ku.
Setelah menyelesaikan semua itu, aku menyentuh tombol OK dan menutup windownya. Aku memastikan berat tambahan dipunggungku, kemudian mengangkat kepalaku dan berteriak:
“Aku selesai!!”
Aku melihat Kuro terkena serangan sekali, dan HP nya berkurang saat dia melangkah mundur. Biasanya, dia bisa menggunakan crystal untuk menyembuhkan dirinya, tapi itu tidak bisa dilakukan di ruangan ini. Sekarang, Ryuzaki sedang bertarung dengan demon itu, dan dalam beberapa detik saja HP nya telah berkurang lebih dari setengah dan berubah kuning.
Setelah dia mendengarku, Ryuzaki mengangguk tanpa melihat kearahku dan mengeluarkan teriakan pendek sebelum melakukan skill menusuk.
“Yaaaa!”
Sebuah melayang diudara dan mengenai senjata The Gleameyes, membuat percikan keluar dari pedangnya. Saat terdengar sebuah suara keras, jarak diantara Ryuzaki dan demon itu melebar.
“Switch!!”
Aku tidak melewatkan kesempatan itu dan menerjang lurus kearah musuhku. Demon itu dengan cepat sadar dari effect stun dan mengangkat pedangnya tinggi di udara. Dengan pedang ditangan kananku, aku menangkis pedang demon itu yang turun bersamaan dengan jejak pedang yang seperti api. Lalu aku menggapai punggungku dengan tangan kiriku dan menggenggam pegangan pedang baru. Aku menarik pedangku dan menusuknya dengan satu gerakan lancar. HP demon itu terlihat berkurang saat serangan telak pertama mengenai tubuhnya
“Grouaaaaa!”
Demon itu mengaum dengan amarah dan mencoba melakukan serangan menebas kebawah lagi. Kali ini, aku menyilangkan kedua pedangku dan menangkisnya sepenuhnya. Saat posturnya tidak seimbang, aku mencoba untuk menghentikan gaya bertahanku dan melakukan sebuah combo attack.
Tangan kananku menebas dengan horizontal kearah perut demon itu. Pedang ditangan kiriku segera mengikuti untuk menebas secara vertikal ke tubuhnya. Kanan, kiri, lalu kanan lagi. Aku mengayunkan pedangku seakan saraf di kepalaku memasuki keadaan sangat cepat. Suara dari logam yang beradu terdengar keras satu demi satu ketika api-api putih berkelap-kelip di udara.
Ini adalah extra skill yang telah kusembunyikan, <Dual Blades>, dan teknik yang kugunakan adalah sword skill tingkat tingginya yang disebut <Ultimate Starburst Stream>, sebuah combo serangan 25-hit.
“Ahhhhh!!”
Tanpa memperhatikan beberapa serangan yang berhasil ditahan oleh pedang demon itu, aku terus berteriak saat aku terus menyerang tanpa henti dengan pedangku. Mataku memanas, dan penglihatanku hanya melihat demon itu. Meskipun pedang demon itu masih mengenai tubuhku beberapa kali, benturannya terasa seperti itu terjadi di dunia lain yang jauh. Sementara itu, adrenaline terus mengalir diseluruh tubuhku, dan gelombang otakku meningkat setiap kali pedangku mengenai sasaran.
Lebih, lebih cepat. Ritme seranganku sudah melampaui dua kali kecepatan normalnya, tapi itu masih terasa sangat lambat dihadapan indra ku yang dipercepat. Aku meneruskan seranganku dengan kecepatan yang sepertinya telah melebihi bantuan sistemnya.
“…ahhhhhhhhh!!”
Dengan teriakan itu aku mengeluarkan serangan terakhir dari combo 25-hit ku, yang menusuk dada The Gleameyes.
“Kkaaaaaaahh!!”
Ketika indra ku kembali normal, aku sadar kalau bukan hanya aku yang berteriak. Demon raksasa itu mengaum kearah atap dengan napasnya yang berhembus keluar dari mulut dan hidungnya.
Lalu tubunya berhenti bergerak, dan saat itu aku menyadari kalau-
The Gleameyes pecah menjadi pecahan biru yang tak terhitung jumlahnya. Sisa-sisa dari cahaya biru menghujani seluruh ruangan.
Ini sudah…berakhir…?
Merasa pusing dari efek samping setelah pertarungan, aku mengayunkan kedua pedangku sekali lagi sebelum menyarungkan mereka ke sarungnya yang berada di pundakku. Aku segera memeriksa HP ku. Ada satu garis merah dengan beberapa titik yang tersisa. Ketika aku melihat kearah HP ku tanpa mempedulikannya, tiba-tiba aku merasa kalau kekuatan menghilang dari tubuhku dan terjatuh kelantai tanpa mengeluarkan suara.
Penglihatanku menjadi kabur dan gelap.


PART 12
"…to! Kirito!
Ryuzaki dan Kuro memanggil, dengan suara yang hampir seperti jeritan, memaksaku untuk bangun. Saat aku duduk, rasa sakit menusuk kepalaku dan membuat wajahku mengernyit.
"Owww…"
Aku melihat sekeliling dan menyadari kalau kami masih di ruang bos. Pecahan berwarna biru muda masih berterbangan di sekitarku. Sepertinya aku kehilangan kesadaran selama beberapa detik.
Ryuzaki berlutut di lantai, dengan wajahnya berada tepat di depan mataku. Alisnya mengerut, dan dia menjitak kepalaku. Itu terlihat seperti kalau dia sangat khawatir.
"Kau idiot…! Kenapa…!? "
Dia berteriak, dan kemudian dia memelukku. Ini mengejutkanku hingga membuatku melupakan rasa sakitku sejenak. Aku hanya bisa berkedip karena terkejut.
"…Jangan memeluk aku terlalu keras. Kau akan membuat HPku menghilang. "
Aku berkata dengan nada bercanda, tapi Ryuzaki menanggapinya dengan ekspresi yang benar-benar marah. Dia meminumkan sebuah botol kecil ke dalam mulutku. Cairan yang mengalir merupakan potion berkualitas tinggi yang rasanya seperti campuran dari jus lemon dan teh hijau. Itu akan menyembuhkan HPku sepenuhnya dalam waktu tiga menit, tapi kelelahanku akan bertahan agak lama.
Ryuzaki memeriksa untuk memastikan kalau aku telah meminum semuanya. Kemudian, ketika wajahnya mulai agak sedikit ceria, dia mulai berdiri dan memeriksa item heal yang tersisa.
Aku mengangkat kepalaku ke arah suara langkah kaki yang terdengar dan melihat Kuro mendekat. Dia terlihat agak merasa bersalah karena tidak sempat membantu di saat terakhir pertarungan, tetapi dia tetap mulai berbicara .
"Kami sudah selesai menyembuhkan semua sisa anggota The Army, tapi Cobert dan dua anak buahnya telah meninggal…"
"…Ya. Ini pertama kalinya seseorang meninggal dalam pertarungan melawan boss sejak lantai 67…"
"Itu bahkan tidak bisa disebut sebagai pertarungan. Cobert idiot itu… Kau tidak bisa melakukan apapun jika kau mati ... "
Kuro meludah. Lalu ia menarik napas panjang, menggelengkan kepalanya, dan bertanya padaku untuk mengubah mood.
"Tapi kembali ke topik, apa-apaan skill barusan itu!?"
"...Apakah aku harus menjelaskan hal itu kepadamu?"
"Tentu saja! Aku belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya! "
Tiba-tiba aku menyadari bahwa selain Ryuzaki, semua orang yang berada di dalam ruangan menatapku, menunggu jawaban dariku.
"... Ini adalah sebuah skill ekstra: <Dual Blades>"
Ekspresi takjub terlihat dari anggota grup Kuro dan sisa dari The Army yang selamat.
Semua weapon skill harus dipelajari dengan urutan tertentu tergantung jenisnya. Contohnya misalnya pedang, kau harus melatih skill one-handed straight sword sedikit sebelum <Rapier> dan <Two-Handed Sword> muncul di daftar skill.
Tentu saja, Kuro tertarik, dan ia mendesakku untuk memberitahu sisanya.
"Jadi apa syarat yang harus dipenuhi adalah?"
"Aku pasti sudah menyebarkannya jika aku tahu itu."
Saat Aku menggeleng, Kuro menghela napas dan bergumam.
"Kau benar…"
Weapon skill yang tidak memiliki syarat yang jelas untuk muncul disebut skill ekstra. Mereka bahkan kadang-kadang disebut syarat acak. Contohnya <Katana> Kuro. Tapi <Katana> tidak terlalu jarang dan sering muncul selama kau terus melatih skill Curved Sword (Pedang Lengkung).
Sebagian besar sepuluh lebih skill ekstra yang telah ditemukan sampai sekarang, termasuk <Katana>, paling sedikit ada sepuluh orang yang menggunakan mereka. Kecuali <Dual Blades>ku dan satu skill ekstra yang lain.
Sepertinya kedua skill itu dibatasi hanya untuk satu orang, jadi mereka bisa disebut sebagai <Unique Skill>. Aku telah menyembunyikan keberadaan Unique Skill ku sampai sekarang. Tapi mulai hari ini, berita bahwa aku adalah pengguna Unique Skill yang kedua akan menyebar ke seluruh dunia. Tidak mungkin aku bisa menyembunyikannya setelah menggunakannya di depan begitu banyak orang.
"Aku kecewa Rizuka. Kau bahkan tidak bisa mengatakan padaku bahwa kau mempunyai skill yang mengagumkan. "
"Aku sudah akan memberitahumu jika aku tahu kondisi untuk membuat itu muncul. Tapi aku benar-benar tidak tahu pikir bagaimana hal itu terjadi. "
Aku menjawab keluhan Kuro dengan mengangkat bahu.Tidak ada sedikit pun kebohongan pada apa yang aku katakan. Sekitar setahun yang lalu, aku membuka jendela kemampuanku suatu hari dan menemukan nama <Dual Blades> muncul di sana. Aku benar-benar tidak punya petunjuk tentang kondisi apa untuk membuatnya muncul.
Sejak itu, aku hanya melatihnya saat tidak ada orang di sekitar. Bahkan setelah aku hampir menguasainya, aku jarang menggunakannya terhadap monster kecuali keadaan darurat. Selain menggunakannya untuk melindungi diri dalam bahaya, aku hanya tidak suka jenis skill ini karena terlalu menarik perhatian.
Aku bahkan berpikir bahwa akan lebih baik jika pengguna lain Twin Blades muncul ---
Aku menggaruk daerah sekitar telingaku dan bergumam.
"... Jika itu menjadi diketahui bahwa aku punya seperti skill langka, tidak hanya orang akan menggangguku untuk informasi ... mungkin menarik jenis masalah lain juga ..."
Kuro mengangguk.
"Semua player mudah cemburu. Aku tidak akan karena aku seorang wanita pengertian, tapi pasti ada banyak orang iri. Belum lagi ... "
Kuro tiba-tiba berhenti bicara dan memandang Ryuzaki, yang masih diam dan sedang menatap wajahku, dan tersenyum penuh arti.
"... Yah, anggaplah penderitaan sebagai cara lain untuk melatih dirimu, Rizuka muda."
"Jadi, untukmu itu hanya masalah orang lain ...?"
Kuro membungkuk dan menepukku di bahu, lalu berbalik dan berjalan ke arah sisa dari <The Army> yang selamat.
"Hei, kalian, bisakah kalian kembali ke markas kalian sendirian?"
Salah satu dari mereka mengangguk pada pertanyaan Kuro. Dia adalah seorang anak yang terlihat seperti ia masih berada di usia remaja.
"OK. Beritahu atasan kalian apa yang terjadi di sini hari ini dan bahwa mereka tidak seharusnya melakukan sesuatu hal bodoh lagi. "
"Ya. ... ... Dan, err ... ... terima kasih."
"Terima kasih pada dia yang di sana."
Kuro menunjukku dengan jempolnya. Para pemain dari The Army berdiri dengan gemetar, berbalik arah Ryuzaki dan aku, yang masih di lantai, dan membungkuk dalam-dalam sebelum berjalan keluar ruangan. Begitu mereka sampai lorong, mereka menggunakan kristal mereka untuk teleport keluar satu demi satu.Setelah lampu biru pudar, Kuro meletakkan tangannya di pinggul dan mulai berbicara.
"Yah, mari kita lihat ... Kami akan melanjutkan ke lantai 76 dan membuka pintu gerbang sana. Bagaimana denganmu? Kau bebas hari ini, apa kau ingin melakukannya? "
"Tidak, aku akan menyerahkannya kepadamu. Aku benar-benar capek. "
"Jika itu alasannya... berhati-hatilah dalam perjalananmu pulang. "
Kuro mengangguk dan kemudian memberi isyarat kepada teman satu timnya. Keenamnya berjalan ke pintu besar di sudut ruangan. Dibalik itu seharusnya ada tangga ke lantai berikutnya. Pengguna Katana berhenti di depan pintu dan berbalik.
"Hei ... Ryuzaki. Kau tahu ketika kau melompat masuk untuk menyelamatkan para anggota The Army ... "
"... Kenapa dengan itu?"
"Aku ... yah, benar-benar senang. Itu saja yang aku ingin katakan. Sampai ketemu lain waktu. "
Aku tidak mengerti apa yang ia katakan. Ketika aku memiringkan kepalaku, Kuro memberiku acungan jempol, lalu membuka pintu dan menghilang melalui itu dengan grupnya.
Hanya Ryuzaki dan aku yang tersisa di ruang besar bos . Api biru yang telah bergejolak dari lantai telah menghilang beberapa waktu lalu, dan suasana seram yang pernah memenuhi ruangan itu menghilang tanpa jejak. Cahaya lembut yang memenuhi jalan sekarang membanjiri ruangan ini juga. Tidak satu tanda pertempuran yang tersisa.
Aku mengatakan sesuatu kepada Ryuzaki, yang masih diam membisu.
"Hei ... Ryuzaki ...."
"... ... Aku sangat takut .... Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan ... ... jika kau mati. "
Suaranya gemetar lebih lemah dari yang pernah kudengar sebelumnya.
"... Apa yang kau bicarakan? Kau kan yang pertama kali menyerang masuk. "
Aku mengatakan hal ini saat aku mulai berdiri dan menatap wajah Ryuzaki dengan senyuman, tapi ini benar-benar bukanlah situasi dimana aku perlu khawatir tentang itu.Saat aku dengan lembut memeluknya, telingaku hampir saja ketinggalan suaranya yang kecil.
"Aku akan mengambil istirahat sejenak dari guild."
"Is, istirahat ... kenapa?"
"... Aku berkata bahwa aku akan menjadi satu tim denganmu untuk sementara waktu ... Apakah kau sudah lupa?"
Sesaat setelah aku mendengar hal itu...
Disuatu tempat di dalam hatiku, muncul suatu perasaan yang hanya bisa digambarkan sebagai kerinduan yang kuat. Bahkan itu mengagetkan ku.
Aku—solo player Rizuka—adalah orang yang mengabaikan semua player demi menjaga diriku agar tetap hidup di dunia ini. Aku adalah pecundang yang telah berpaling dari teman satu-satunya dan melarikan diri 2 tahun lalu, pada hari saat semua ini dimulai.
Orang seperti diriku, yang bahkan tak punya hak untuk mengharapkan seorang rekan—apalagi sesuatu yang lebih dari itu.
Aku sudah menyadari hal ini dengan cara yang menyakitkan dan tak terlupakan. Aku telah bersumpah untuk tidak berharap lagi, tidak pernah merindukan perhatian orang lain.
Tapi-
Pelukanku, yang sudah terlanjur erat, tidak ingin pergi dari tubuh Ryuzaki. Aku hanya tak bisa lepas dari kehangatan tubuh virtualnya
Aku mengubur konflik yang bertentangan ini dengan emosi yang tak bisa dijelaskan, dan kemudian menjawab dengan jawaban singkat.
“…baiklah.”
Setelah mendengar jawabanku, kepala Ryuzaki mengangguk sedikit.

Keesokan harinya.
Aku sudah bersembunyi di lantai dua di toko milik Near sejak pagi ini. Aku duduk di bangku yang terbuat dari batu sambil dengan kaki menyilang dan meminum teh yang rasanya aneh, yang tidak bisa kupikir mungkin itu adalah produk gagal. Aku juga sedang dalam mood yang tidak baik.
Seluruh Algade — tidak, mungkin seluruh orang di Devilcraft sedang sibuk membicarakan kejadian kemarin.
Penyelesaian sebuah lantai, yang berarti pembukaan sebuah kota baru, sudah cukup untuk memulai banyak sekali gosip. Tapi kali ini, berbagai rumor lain juga tercampur kedalamnya, seperti «Iblis yang membantai sepasukan anggota The Army» dan «Pengguna Pedang Ganda yang membunuh sang iblis sendirian dengan 50 serangan»… Seharusnya ada batas dimana orang bisa melebih-lebihkan sesuatu.
Entah bagaimana mereka telah menemukan dimana aku tinggal. Hasilnya, para pemain pedang dan penjual informasi berkumpul di rumahku sejak pagi. Akhirnya aku harus menggunakan kristal teleport untuk kabur.
“Aku akan pindah… Ke lantai yang sangat sepi, ke sebuah desa dimana mereka tidak akan pernah bisa menemukanku….”
Ketika aku menggumamkan keluhanku tanpa henti, Near berjalan mendekatiku dengan sebuah senyuman.
“Hey, jangan seperti itu. Bukankah bagus menjadi terkenal untuk sekali dalam hidupmu. Kenapa kau tidak menyelenggarakan seminar saja? Aku akan mengurus tiket dan tempatnya…”
“Nggak mungkin ah!”
Aku berteriak dan melempar gelas yang ada di tangan kananku, mengincar area yang berada 50cm di sebelah kanan kepala Near. Tapi tanpa sadar aku melakukan gerakan yang mengaktifkan skill Melempar Senjata dan melemparkan gelas itu ke dinding dengan kecepatan tinggi. Gelasnya meninggalkan jejak cahaya sebelum mengenai dinding dengan suara yang kencang. Untungnya, ruangannya adalah benda yang tidak bisa dihancurkan, jadi tidak ada apapun yang terjadi selain munculnya tulisan «Immortal Object». Jika aku mengenai sebuah hiasan, benda itu pasti akan hancur.
“Ah, apa kau mau membunuhku!?”
Aku mengankat tangan kananku sebagai tanda minta maaf dan kembali bersandar di kursi setelah mendengar teriakan berlebihan yang dikeluarkan sang pemilik toko.
Near sedang memeriksa harta yang kudapat dari pertarungan kemarin. Setiap beberapa lama dia mengeluarkan suara yang aneh, yang kemungkinan besar ada barang yang cukup berharga didalamnya.
Aku berencana untuk membagi rata uang yang kudapat dari menjual barang-barang itu pada Ryuzaki, tapi ini sudah lewat batas waktu janji pertemuan dan dia masih belum datang. Aku sudah mengirimkannya sebuah pesan, jadi dia pasti tahu dimana aku sekarang…
Kami berpisah di jalan utama dari gerbang teleport lantai 75 kemarin. Dia berkata kalau dia akan mengajukan cuti dan pergi ke markas BoK di Grandum di lantai 55. Aku bertanya padanya jika aku harus ikut dengannya, mengingat masalah dengan Cradil dan yang lainnya. Tapi dia mengatakan kalau dia baik-baik saja dengan sebuah senyuman diwajahnya, jadi aku melupakan niatku.
Sudah 2 jam sejak waktu perjanjian. Jika dia telat seperti ini, apa itu berarti sesuatu telah terjadi? Tidakkah seharusnya aku pergi dengannya? Aku meminum teh yang ada di gelas dengan sekali teguk untuk menenangkan rasa khawatir ku.
Sesaat setelah aku meminum habis teh di poci teh yang ada di hadapanku, dan Near menyelesaikan pemeriksaan item-item ku, aku mendengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Kemudian, pintunya dengan cepat terbuka.
“Hey, Ryuzaki…”
Aku hampir saja mengatakan "Kau terlambat" tapi aku menghentikannya. Ryuzaki mengenakan seragamnya seperti biasa, tapi wajahnya menunjutkan wajah tanpa ekpresi dan matanya menunjukkan rasa khawatir. Dia menaruh kedua tangannya di depan, dan kemudian berkata:
“Apa yang harus kita lakukan Rizuka”
Dia memaksakan untuk mengeluarkan suara yang hampir terdengar seperti bisikan.
“Sesuatu…yang buruk telah terjadi…”

Setelah meminum sedikit teh yang baru dimasak, wajah Ryuzaki sedikit kembali cerah dan dia mulai menjelaskan dengan sedikit kaku. Near turun kembali ke lantai pertama setelah menyadari suasananya.
“Kemarin…setelah aku kembali ke markas di Grandum, aku melaporkan semua yang terjadi pada ketua guild. Kemudian aku mengatakan kalau aku ingin mengambil cuti dari guild dan kembali kerumah… Kupikir, aku akan mendapat izin selama pertemuan pagi rutinitas guild…”
Ryuzaki, yang duduk di depanku, menatap mataku dan menggenggam dengan erat gelas teh nya sebelum melanjutkan pembicaraan.
“Ketua…berkata kalau aku bisa mengambil istirahat sejenak dari guild. Tapi ada satu syarat… Dia bilang kalau…dia ingin bertarung…dengan Kirito…”
“Apa…?”
Aku tidak dapat mengerti apa yang dia maksudkan selama beberapa saat. Bertarung…apa itu maksudnya sebuah duel? Apa hubungannya duel dengan Ryuzaki mengambil cuti?
Ketika aku menanyakannya…
“Aku juga tidak tahu….”
Ryuzaki menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah jendela.
“Aku sudah mencoba mengatakan padanya kalau tidak ada artinya melakukan hal itu…tapi dia tidak mau mendengarkan perkataanku…”
“Tapi…ini menyulitkan. Kalau orang itu tiba-tiba menyampaikan persyaratan seperti ini…”
Aku bergumam saat wajah dari ketua guild itu terbayang di pikiranku.
“Aku tahu. Ketua biasanya membiarkan kami saat kami merencanakan strategi untuk menyelesaikan sebuah lantai, apalagi kegiatan guild sehari-hari. Tapi aku tidak tahu kenapa kali ini dia…”
Meski ketua BoK punya kharisma yang luar biasa, yang menarik kekaguman bukan hanya dari seluruh anggota guildnya tapi juga hampir semua orang-orang yang berada di garis depan, dia tidak pernah memberikan instruksi ataupun perintah. Aku bertarung disampingnya beberapa kali dalam pertarungan melawan boss dan aku juga mengagumi kemampuannnya untuk mempertahankan barisan tanpa berkata apapun.
Pria seperti itu mengajukan keberatan dengan memberikan syarat untuk melakukan duel denganku, sebenarnya apa maksudnya ini?
Meski aku benar-benar kebingungan, aku berbicara kepada Ryuzaki
“…yah, ayo ke Grandum dulu. Aku akan mencoba berbicara langsung dengannya.”
“Ya… Maaf. Aku selalu membuatmu repot…”
“Aku senang melakukan apapun, karena kau adalah…”
Ryuzaki melihat kearahku dengan berharap ketika aku berhenti ditengah kalimatku.
“…partnerku yang penting.”
Ryuzaki mencibir dengan rasa tidak puas, tapi kemudian dia menunjukkan senyuman yang hangat.
Pria Terkuat, Legenda Hidup, Sang Paladin, dan lain-lain, ketua dari Blodd of the Knights punya begitu banyak gelar hingga tidak bisa dihitung dengan tangan lagi.
Namanya adalah Artix. Sebelum «Dual Blades» milikku diketahui secara luas, dia dikenal sebagai satu-satunya pengguna unique skill diantara enam ribu player di Devilcraft.
Kemampuan ekstra miliknya menggunakan kombinasi dari sebuah pedang dan perisai, yang keduanya berbentuk salib, dan membiarkannya mengubah antara menyerang dan bertahan dengan bebas. Itu dinamakan «Holy Sword». Aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri selama beberapa kali, dan menyadari kalau aspek yang paling menonjol dari skill itu adalah kekuatan bertahannya yang sangat hebat. Rumor mengatakan kalau tidak ada seorangpun yang pernah melihat HP nya masuk ke zona kuning. Selama pertarungan melawan boss di lantai 50 yang menyebabkan kematian banyak player, dia mampu menahan barisan sendirian selama lebih dari sepuluh menit. Hal itu masih menjadi topik pembicaraan yang populer hingga sekarang.
Tidak ada senjata yang bisa menembus perisai berbentuk salib milik Artix.
Ini adalah salah satu pendapat yang diakui oleh sebagian besar orang di Devilcraft.
Ketika aku sampai di lantai 55 dengan Ryuzaki, aku merasakan rasa tegang yang tidak bisa dijelaskan. Tentu saja, Aku tidak ada keinginan untuk beradu pedang dengan Artix. hanya ingin memintanya untuk mengabulkan permintaan Ryuzaki untuk cuti sementara dari guild; hanya itu tujuanku.
Grandum, merupakan tempat tinggal di lantai 55, yang dijuluki «Kota Besi». Ini karena Grandum, tidak seperti kota-kota lainnya yang terbuat dari batu, hampir seluruhnya terdiri dari menara raksasa yang terbuat dari besi hitam yang mengkilap. karena kotanya memiliki banyak sekali blacksmith, populasi playernya lumayan tinggi. Tetapi, karena tidak ada pohon atau penghijauan di sekeliling jalan, itu memunculkan perasaan kalau kota ini dingin sekali saat angin musim dingin berhembus.
Kami datang melalui gerbang plaza dan melangkah sepanjang jalan yang terbuat dari lempengan besi yang ditempelkan dengan paku. Langkah kakiku terlihat berat; mungkin itu karena aku takut dengan apa yang akan terjadi nanti.
Kami berjalan diantara menara-menara besi selama sekitar sepuluh menit hingga sebuah menara yang lebih besar berdiri dihadapan kami. Tombak besi menonjol keluar diatas gerbang yang sangat besar, dimana bendera putih dengan salib merah berkibar diantara angin yang dingin. Itu adalah markas dari guild Blood of the Knight.
Ryuzaki berhenti disampingku. Dia melihat keatas menara selama beberapa saat dan berkata:
“Sebelumnya, markas kami adalah sebuah rumah kecil di desa yang berada dipinggir lantai 39 . Semua orang selalu protes kalau itu terlalu kecil dan ramai. Aku tidak menentang perluasan guild…tapi kota ini terlalu dingin, dan aku tidak menyukainya…”
“Ayo cepat selesaikan hal ini; lalu kita bisa mencari sesuatu yang hangat untuk dimakan.”
“Kau selalu berbicara tentang makanan.”
Ryuzaki tersenyum dan menggerakkan tangan kirinya untuk menggenggam jari-jari tangan kananku. Dia sama sekali tidak melihat kearahku, yang kebingungan karena kelakuannya, dan berdiri seperti itu selama beberapa detik.
“Baiklah, pengisian selesai!”
Lalu dia melepaskan tanganku dan mulai berjalan menuju menara itu dengan langkah yang panjang. Aku buru-buru mengikutinya dari belakang.
Setelah menaiki tangga, kami mencapai dua buah gerbang yang terbuka lebar, meski ada seorang penjaga dengan armor berat dan sebuah tombak yang lumayan panjang di kedua sisi. Asuna berjalan mendekati mereka, hak dari sepatunya berbunyi setiap kali menyentuh lantai. Saat dia mendekati mereka, kedua penjaga itu memberi hormat dengan mengangkat tombak mereka dari atas tanah.
“Terima kasih atas kerja keras kalian.”
Dengan jawabannya yang tegas dan langkahnya yang percaya diri, sulit untuk mempercayai kalau dia adalah orang yang sama dengan gadis yang depresi yang berada di rumah Near satu jam yang lalu. mengikuti Ryuzaki dari belakang, aku melewati kedua penjaga itu dan masuk kedalam menara dengannya.
Seperti bangunan lainnya di Grandum, menara ini juga dibuat dari besi hitam. Lantai pertamanya terdiri dari lobby yang luas, tapi tidak ada seorangpun didalamnya sekarang.
Berpikir kalau bangunannya lebih dingin dibandingkan dengan jalan diluar, kami melangkah melewati lantai mosaik, yang dibuat dengan cermat dari berbagai jenis logam, dan mencapai sebuah tangga spiral.
Kami menaiki tangga itu; langkah kaki kami bergema sepanjang lorong. Tangganya menjulang tinggi sekali, orang dengan status vitality yang rendah pasti akan menyerah ditengah jalan. Setelah melewati begitu banyak pintu, aku mulai khawatir tentang berapa jauh lagi kami harus pergi. Lalu Ryuzaki tiba-tiba berhenti didepan sebuah pintu besi yang dingin.
“Ini…?”
“Ya…”
Ryuzaki mengangguk dengan ekspresi ragu diwajahnya. Tapi sepertinya dia segera mencapai keputusan. Dia mengangkat tangan kanannya, mengetuk pintunya dengan keras, dan membukanya tanpa menunggu jawaban. Aku mengedipkan mataku saat cahaya terang keluar dari ruangan tersebut.
Didalam adalah ruangan besar yang meliputi luas satu lantai dari menara ini. Dinding di keempat sisinya terbuat dari kaca transparan. Cahaya yang tersaring olehnya mewarnai ruangan dengan warna abu-abu monoton.
Sebuah meja setengah lingkaran berdiri ditengah ruangan; lima pria duduk di kursi dibelakangnya. Aku tidak pernah melihat keempat orang di samping, tapi aku mengenal dengan baik orang yang berada ditengah. Dia adalah sang Paladin Artix.
Dia tidak terlihat begitu mengesankan. Umurnya kira-kira sekitar 25 tahun. Wajahnya tajam seperti seorang sarjana, dan sehelai rambutnya yang berwarna abu-abu mencuat keluar di keningnya. Jubah yang berwarna merah cerah menghiasi tubuhnya yang tinggi dan langsing itu membuatnya lebih terlihat seperti seorang penyihir yang tidak ada di dunia ini dibandingkan dengan seorang pemain pedang.
Tapi yang paling mencolok dari wajahnya adalah matanya. Matanya yang berwarna kuning misterius itu memancarkan aura kuat yang mampu menekan orang-orang. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya; tapi sejujurnya, aku masih merasa terintimidasi.
Ryuzaki berjalan mendekati meja, suara langkah dari sepatunya bergema, dan dia memberikan hormat ringan.
“Aku datang untuk mengatakan salam perpisahan untuk sementara.”
Artix menunjukkan sebuah senyuman pahit dan berkata:
“Tidak perlu terburu-buru. Pertama-tama biarkan aku berbicara dengannya dulu.”
Dia melihat kearahku saat mengatakan hal itu. Aku menarik tudung kepalaku dan berdiri disamping Ryuzaki.
“Apa ini pertama kalinya aku bertemu denganmu diluar pertarungan melawan boss, Rizuka?”
“Tidak…kita pernah berbicara selama beberapa waktu saat pertemuan menyusun strategi di lantai 67.”
Aku menjawabnya dengan nada formal tanpa menyadarinya.
Artix mengangguk sedikit dan menepukkan kedua tangannya diatas meja bersamaan.
“Itu adalah pertarungan yang sulit. Kami hampir mendapat beberapa kerugian di dalam guild. Bahkan meski mereka menyebut kami sebagai guild terhebat, Kami selalu kekurangan orang. Meski begitu sekarang kau mencoba untuk mengambil salah satu player terhebat kami yang berharga.”
“Jika dia begitu berharga, bagaimana kalau lebih memikirkan lagi dalam menyeleksi bodyguardnya?”
Pria yang duduk di paling kanan berdiri mendengar jawahbanku yang tajam, ekspresinya berubah. Tapi Artix menghentikannya hanya dengan mengayunkan tangan saja.
“Aku sudah menyuruh Cradil untuk kembali kerumahnya dan merenungkan kesalahannya. Aku harus meminta maaf karena masalah karena telah merepotkanmu. Tapi, Kami tidak bisa diam dan membiarkanmu mengambil wakil ketua kami begitu saja. Rizuka-”
Dia tiba-tiba menatapku; matanya yang tajam menunjukkan kehendak yang tak tergoyahkan dibaliknya.
“Jika kau ingin membawanya—menangkan dia dengan pedangmu, dengan «Dual Blades». Jika kau bertarung denganku dan menang, maka Asuna boleh pergi denganmu. Tapi jika kau kalah, maka kau harus bergabung dengan Blood of the Knights.”
“…”
Aku akhirnya merasa kalau aku bisa mengerti sedikit tentang pria misterius ini.
Dia adalah orang yang terobsesi dengan duel pedang. Terlebih lagi, Dia punya kepercayaan diri yang tak tergoyahkan dengan kemampuannya sendiri. Dia adalah orang yang tidak bisa membuang harga dirinya sebagai seorang gamer meski terjebak dalam game kematian ini. Dengan kata lain, dia sama sepertiku.
Setelah mendengar kata-kata Artix, Ryuzaki, yang diam sejak tadi, membuka mulutnya dan berbicara seperti dia tidak bisa menahannya lagi.
“Ketua, aku tidak bilang kalau aku ingin berhenti dari guild. Aku hanya ingin keluar sementara, untuk istirahat dan memikirkan tentang beberapa hal…”
Aku menaruh tanganku di belakang, yang kata-katanya telah menjadi semakin kesal, dan mengambil satu langkah kedepan. Aku menghadapi tatapan Heathcliff secara langsung, dan mulutku bergerak dengan sendirinya.
“Baiklah, jika kau ingin berbicara melalui pedang, maka aku tidak keberatan. Kita akan menentukan hal ini dengan sebuah duel.”

“Auu--!!! Kamu itu sangat bodohbodohbodoh!!!”
Kami kembali ke Algade, dilantai kedua toko Near. Setelah mengusir si pemilik toko yang penasaran kembali ke lantai satu, aku mencoba menenangkan Ryuzaki.
“Aku sudah berusaha keras untuk meyakinkannya, meski begitu kau mengatakan hal seperti itu!!!”
Ryuzaki duduk diatas tempat untuk mengistirahatkan tangan dari kursi batu yang kududuki, dan menggunakan tangannya yang dikepalkan untuk menggiling kepalaku.
“Maaf! Maafkan aku! Aku mengikuti arus begitu saja dan…”
Dia akhirnya tenang setelah dia menjitak kepalaku dengan keras; tapi sekarang dia tertawa. Aku harus menahan rasa sakit akibat jitakkan Ryuzaki dan melihat perbedaan besar antara kelakuannya di markas dan kelakuannya sekarang.
“Tenang saja. Kami telah memutuskan untuk menggunakan aturan serangan pertama, jadi tidak ada bahaya yang diikutkan. Selain itu, bukan berarti aku pasti akan kalah kan…”
“Uuh~~~~…”
Ryuzaki membuat sebuah suara marah dan menyilangkan kakinya yang panjang dan langsing diatas tempat mengistirahatkan tangan.
“…Ketika aku melihat «Dual Blades» milikmu, kupikir kalau skill mu berada di level yang sangat berbeda. Tapi itu sama seperti «Holy Sword» milik ketua… Bisa dibilang kalau kekuatannya cukup untuk menghancurkan keseimbangan game. Sejujurnya, aku tidak tahu siapa yang akan menang… Tapi apa yang akan kau lakukan? Jika kau kalah, tidak masalah jika aku tidak bisa mengambil cuti, tapi kau harus bergabung dengan BoK, Ryuzaki.”
“Yah kau bisa bilang kalau aku masih bisa mencapai tujuanku, tergantung bagaimana kau memikirkannya.”
“Eh? Kenapa?”
Aku harus memaksa membuka mulutku untuk menjawabnya.
“Err, yah, selama…selama Ryuzaki berada denganku, aku tidak masalah bergabung dengan guild.”
Dengan nada yang sok bisa bahasa inggris aku mengatakan:
In the past, I would never have said something like this, even if it was to save my own life. Ryuzaki sangat terkejut saat aku mengatakan itu, dan dia sangat senang. Untuk beberapa saat, aku berdiri, berjalan menuju jendela, dan melihat matahari terbenam.
Dari balik semua itu, aku bisa mendengar suara alunan musik yang indah yang berada lantai 1 tempat Near berada.
Apa yang baru saja kukatakan adalah kenyataan, tapi aku masih merasa ragu untuk bergabung dengan sebuah guild. Ketika aku mengingat satu-satunya nama dari guild yang pernah kuikuti, yang sekarang sudah tidak ada lagi, sebuah rasa sakit yang menusuk terasa di hatiku.
‘Yah, aku tidak ada keinginan untuk kalah…’
Aku berpikir seperti itu, lalu mensudahi melihat matahari terbenam dan berjalan mendekati Ryuzaki.
Segera sesudah itu, aku mengistirahatkan kepalaku dengan lembut di pundak Ryuzaki.

PART 13
Area tempat tinggal yang baru dibuka di lantai tujuh puluh tiga adalah sebuah kota yang mengingatkan kita terhadap kota kuno Roma. Menurut peta, namanya adalah «Collinia». Seluruh kota sudah dipenuhi dengan aktivitas, berkat sejumlah besar petarung dan pedagang yang telah menetap, serta orang-orang lainnya yang tidak ikut dalam menyelesaikan permainan tetapi datang untuk melihat-lihat. Puncak dari semua itu, acara spesial yang langka akan diselenggarakan disini hari ini, sehingga tamu-tamu telah mengalir keluar dari gerbang teleport sejak pagi ini.
Kota tersebut sebagian besar dibangun dari batu bata dari kapur putih. Satu bangunan mencolok diantara bangunan-bangunan seperti candi dan saluran-saluran air yang lebar kota itu; bangunan itu merupakan coloseum besar yang menjulang didepan gerbang alun-alun. Tempat tersebut sempurna untuk tempat menyelenggarakan duel antara Artix dan aku. Tapi ...
"Popcorn napas-api hanya dengan sepuluh Coll per-bungkus! Sepuluh Coll! "
"Bir hitam dingin dijual disini~!"
Banyak pedagang menjual barang-barang mereka di depan pintu masuk coliseum, mereka memanggil-manggil kepada penonton yang antri dan menjual minuman-minuman yang tampak aneh.
"... Ini, apa-apaan ini ...?"
Terkejut dengan pemandangan yang ada didepanku, aku hanya bisa bertanya pada Ryuzaki, yang berdiri di sampingku.
"A-aku nggak tahu ..."
"Hei, bukannya itu anggota BoK yang menjual tiket!? Bagaimana bisa hal ini berubah menjadi acara besar seperti ini!? "
"Aku nggak tahu ..."
"Apa ini tujuan Artix sebenarnya ...?"
"Nggak, aku pikir kepala keuangan, Daigen-san, orang yang ada dibalik hal ini. Dia nggak akan melewatkan kesempatan seperti ini. "
Saat Ryuzaki tertawa, aku hanya melonggarkan bahuku dan merasa benar-benar tak berdaya.
"... Kita kabur saja yuk Rizuka. Kita bisa pergi tinggal di sebuah desa kecil dan beberapa ladang di lantai dua puluh."
"Aku setuju saja dengan hal itu, tapi ..."
Aku lalu menambahkan dengan menggoda:
"Kamu akan membuat nama yang benar-benar buruk untuk dirimu kalau kamu kabur sekarang."
"Sial ..."
"Yah, itu salahmu sendiri, bukan? Ah ... Daigen-san. "
Ketika aku mengangkat kepalaku, aku melihat seorang pria gemuk yang berjalan terhuyung-huyung ke arah kami, dia begitu lebar sehingga tidak mungkin menemukan orang yang kurang cocok untuk mengenakan seragam hitam-putih BoK selain dirinya.
Dengan senyuman lebar menutupi wajah bulatnya, ia mulai berbicara kepada kami:
"Terimakasih ke Rizuka-chan kita membuat banyak uang! Kalau kamu cuma melakukannya setiap bulan sekali aku akan benar-benar bersyukur! "
"Nggak akan!!"
"Ayo, ayo, ruangan tunggunya disebelah sini. Ayo, silahkan ke sebelah ini. "
Aku pasrah pada nasibku dan mengikutinya. Aku bahkan tidak peduli lagi tentang apa yang akan terjadi.
Ruang tunggu tersebut adalah ruang kecil yang menghadap ke arena. Setelah Daigen mengantarku ke pintu masuk, dia mengatakan sesuatu tentang menyesuaikan harga taruhan dan pergi menghilang. Aku bahkan tidak punya energi lagi untuk mengumpatnya. Dari ruang tunggu, aku bisa mendengar sorak-sorai tidak jelas yang tidak terhitung jumlahnya diluar. Tampaknya tempat duduk penonton sudah penuh.
Ketika hanya tinggal kami berdua, aku memegang telapak tangan Ryuzaki dengan kedua tangannya dan dia berbicara dengan ekspresi serius.
"... Meskipun ini pertandingan First Strike, akan berbahaya kalau kamu kena serangan langsung oleh critical-strike yang kuat. Terutama karena banyak jurus pemimpin bahkan nggak diketahui, kamu harus meninggalkan pertandingan kalau kamu merasa ada yang salah, mengerti? Aku nggak akan pernah memaafkan kamu kalau kamu melakukan sesuatu yang berbahaya lagi seperti hal yang lalu!"
"Kamu harusnya lebih mengkhawatirkan Artix."
Aku tersenyum dan mencubit kedua pipi Ryuzaki.
Saat pengumuman menyatakan dimulainya duel, kerumunan para penonton mengeluarkan sorak yang menggelegar. Aku menarik kedua pedang yang ada di punggungku sedikit, dan kemudian memasukannya kembali ke dalam sarung pedang yang menghasilkan sebuah dentangan. Setelah itu, aku mulai berjalan menuju lingkaran cahaya persegi di arena.
Bagian tempat duduk yang mengelilingi amfiteater itu penuh sesak dengan orang-orang. Dugaanku setidaknya ada sekitar seribu penonton. Aku bisa melihat Kuro dan Near di baris depan, meneriakkan hal-hal berbahaya seperti "potong-potong dia" dan "bunuh dia."
Aku berjalan ke tengah arena lalu berhenti. Kemudian, si merah tua muncul dari ruang tunggu sebaliknya, dan sorakan-sorakan menjadi lebih intens.
Berbeda dengan seragam biasa Blood of Knights, yang hitam diatas putih, Heathcliff mengenakan surcoat merah yang sebaliknya. Meskipun dia seperti aku dan hampir tidak memakai baju besi, ia memegang perisai putih-murni, besar, berbentuk salib ditangan kirinya, yang segera menarik perhatianku. Pedangnya kelihatannya disarungkan dalam perisai, karena aku bisa melihat pegangan berbentuk salib menonjol dari sebelah atasnya.
Artix berjalan pelan sampai ia berdiri tepat di hadapanku. Dia melirik ke arah kerumunan dan kemudian berbicara dengan senyum pahit.
"Saya harus minta maaf, Rizuka-chan. Saya benar-benar tidak tahu bahwa hal ini akan terjadi."
"Aku akan meminta bagian uangku."
"Tidak ... Setelah pertarungan ini kamu akan menjadi bagian dari guild kami. Saya akan menunjuk duel ini sebagai salah satu misi dari guild."
Artix kemudian menghapus senyumanya, dan matanya yang berwarna logam mulai memancarkan energi yang meluap. Terintimidasi, aku tanpa sadar mengambil setengah langkah mundur. Pada kenyataannya, kami mungkin berbaring ditempat yang jauh dari satu sama lain, dengan hanya data digital ditukarkan diantara kami. Tapi, aku masih merasa sesuatu yang hanya bisa disebut niat membunuh.
Pikiranku pindah ke keadaan bertarung, dan mataku menerima tatapan Artix secara langsung. Sorakan-sorakan yang ada seolah-olah bergerak menjauh. Sebelum aku menyadari, inderaku sudah mulai bertambah cepat, dan bahkan rasanya warna-warna disekitar telah berubah.
Artix memalingkan tatapannya dan berjalan ke tempat sekitar sepuluh meter jauhnya dariku. Dia kemudian mengangkat tangan kanannya dan memanipulasi layar menu yang muncul tanpa meliriknya. Sebuah pesan duel muncul didepanku. Aku setuju dan mengatur mode ke first strike.
Hitung mundur dimulai. Aku nyaris tidak bisa mendengar teriakan-teriakan disekitarku sekarang.
Darahku mulai memompa lebih cepat. Aku menaklukkan sedikit ragu yang tersisa dan melepaskan keinginanku untuk bertarung. Lalu aku mengeluarkan kedua pedangku pada saat yang sama dari belakang punggungku. Lawanku bukanlah orang yang bisa aku kalahkan kecuali kalau aku serius dari awal.
Artix menarik pedang panjang, tipis dari perisainya, dan kemudian memegangnya dengan mantap saat dia memasuki posisi bertarungnya.
Dia berdiri dengan perisainya mengarah padaku dan sisi kanan tubuhnya menjauh dariku. Aku tidak bisa merasakan kekuatan yang terpaksa dari posisinya. Aku menyadari bahwa mencoba untuk memprediksi gerakannya hanya akan membingungkanku lebih jauh, dan memutuskan untuk langsung maju dan menyerang dengan kekuatan penuh.
Meskipun tidak ada diantara kami yang melirik layar duel, kami berdua langsung menerjang segera setelah pesan «Duel» muncul.
Aku menurunkan posisiku saat aku berlari; tubuhku hampir menggores lantai saat meluncur.
Aku memutar tubuhku tepat sebelum mencapai Artix dan mengayunkan pedang yang ada ditangan kananku ke kiri atas. Serangan itu ditahan oleh perisainya yang berbentuk salib dan menghasilkan beberapa percikan api. Tetapi seranganku adalah bagian dari dua serangan beruntun. Nol koma satu detik setelah serangan pertama, pedang kiri-ku meluncur ke belakang perisai. Itu adalah tipe-menerjang jurus Dual Blades «Double Circular».
Serangan dari kiri dibelokkan oleh pedang panjang-nya; efek lingkaran cahaya-nya berhenti di tengah jalan. Meskipun mengecewakan, langkah ini hanya sinyal untuk memulai pertempuran. Menggunakan kekuatan dari jurus pedang, aku melebar jarak antara kita dan kemudian menerjang pada lawanku lagi.
Kali ini, Artix membalas dengan menerjang menggunakan perisainya. Lengan kanannya tersembunyi dibalik perisainya yang besar berbentuk salib, sehingga sulit untuk dilihat.
"Cheh!"
Aku berlari ke kanan untuk menghindari serangannya. Kupikir kalau aku berdiri di sisi perisai Artix, aku akan memiliki cukup waktu untuk bereaksi terhadap serangan meskipun aku tidak bisa melihat lintasannya.
Tapi kemudian Artix mengangkat perisainya secara horizontal.
"Haa!!"
Dengan teriakan yang rendah, ia melancarkan serangan menusuk dengan perisainya. Serangannya datang padaku, meninggalkan jejak cahaya putih.
"Ahh!!"
Aku hanya bisa bertahan dengan menyilangkan kedua pedangku. Tubrukan yang kuat itu mengguncang seluruh tubuhku dan mengirimku terbang ke belakang beberapa meter. Aku menusukkan pedang kanan-ku ke dalam tanah untuk menghentikan diriku dari jatuh dan kemudian berbalik di udara sebelum mendarat.
Itu hal yang tidak terduga, tapi tampaknya bahwa perisai itu sendiri juga bisa digunakan sebagai senjata. Mirip dengan Dual Blades dalam beberapa hal. Aku awalnya berpikir bahwa kecepatan seranganku yang sangat cepat akan memungkinkanku untuk menang dalam duel first strike; tapi tampaknya aku salah.
Artix berlari ke arahku, memperdekat jarak diantara kami dan menolak memberiku waktu untuk pulih. Pedang dengan gagang berbentuk salib di tangan kanannya ditusukkan ke arahku dengan kecepatan yang bisa menyaingi Ryuzaki the «Flash».
Saat lawan mulai serangan beruntun-nya, aku hanya bisa menggunakan kedua pedangku untuk bertahan. Sebelum duel, Ryuzaki menjelaskan sebanyak mungkin tentang «Holy Sword»; tetapi tampaknya kursus kilat hanya tidak cukup. Oleh karena itu, aku hanya bisa mengandalkan keputusan sepersekian detik untuk menahan serangan yang masuk.
Setelah menggunakan pedang kiri-ku untuk menangkis serangan keatas terakhir dari serangan beruntun delapan-nya, aku segera mencoba jurus pedang satu-serangan, «Vorpal Strike», dengan tangan kananku.
"Hya ... aaa!!"
Dengan suara metalik seperti mesin jet, jurus pedang itu meninggalkan jejak cahaya merah sebelum menabrak tengah perisai-nya. Rasanya seolah-olah aku telah memukul dinding batu; tapi tanganku tetap bergerak untuk menyelesaikan serangan.
Claang!! Suara tabrakannya berdentang, dan kali ini Heathcliff terdorong kebelakang. Aku tidak bisa benar-benar menembus perisainya, tetapi aku merasakan perasaan berhasil «menembus» pertahanannya. HP Artix telah terkurangi sedikit, tapi tidak cukup untuk memutuskan pertarungan.
Heathcliff mendarat dengan lugas dan memperlebar jarak di antara kami.
"... Kecepatan reaksi yang mengesankan."
"Sepertinya pertahananmu terlalu sempurna ...!!"
Aku menerjang saat mengatakan hal ini. Artix juga mengangkat pedangnya dan mendekat kearahku.
Kami mulai saling bertukar serangan pada kecepatan yang membutakan. Pedangku diblokir oleh perisainya; pedangnya dibelokkan oleh pedangku. Berbagai jejak cahaya yang berbeda warna muncul dan memudar terus menerus disekitar kami, sedangkan suara senjata kami yang beradu mengguncang lantai arena. Sebuah serangan kecil berhasil masuk beberapa kali, dan HP kami berkurang sedikit demi sedikit. Meskipun kedua pemain gagal membuat serangan telak, salah satu akan menang saat HP lawan-nya turun sampai dibawah lima puluh persen.
Tapi aku tidak peduli lagi tentang hal itu. Aku merasakan diriku mempercepat dalam kegembiraan, karena ini adalah pertama kalinya aku menghadapi lawan yang begitu kuat sejak terjebak dalam AQWO. Setiap kali inderaku menajam, kecepatan seranganku naik lagi satu tingkat.
Aku masih belum mencapai batasku. Aku masih bisa bertambah cepat. Ikuti aku kalau kau bisa, Artix!!!
Saat aku mengeluarkan setiap kekuatan yang ada padaku, aku tenggelamkan diriku dalam sukacita yang ganas dalam mengayunkan pedangku. Aku pasti sedang tertawa. Sementara pertukaran serangan pedang bertambah intensif, HP dari kedua belah pihak terus menurun sampai hampir mencapai area lima puluh persen.
Saat itu, wajah tenang Artix akhirnya menunjukkan kilatan emosi.
Apa itu? Kegugupan? Aku merasakan kecepatan serangannya menurun sedikit.
"Haaaa!"
Pada saat itu, aku meninggalkan semua pertahanan dan meluncurkan sebuah serangan dengan kedua pedangku: «Ultimate Starburst Stream». Sisi tajam pedangku bergerak dengan cepat ke arah Artix bagaikan kobaran api dari sebuah surya yang terkemuka.
"Argh ...!"
Artix mengangkat perisai berbentuk salib nya untuk menahan.Tapi aku hanya mengabaikannya dan terus menyerangnya dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Sementara itu, responnya menjadi lebih lambat.
-Aku bisa menerobos!!
Aku yakin bahwa serangan terakhir akan menerobos pertahanannya. Dengan perisainya lebih ke arah kanan, seranganku dari kiri melesat ke dalam, menggambar lintasan cahaya. Jika serangan ini masuk, HP-nya pasti akan berkurang drastis sampai dibawah tanda setengah, dan aku akan memenangkan-
Lalu, pada saat itu, seluruh duniaku bergetar.
"-!?"
Bagaimana aku menjelaskannya? Seolah-olah beberapa waktuku telah diambil dariku.
Untuk beberapa persepuluh detik, segala sesuatu di sekitarku terlihat membeku; segalanya kecuali Artix. Perisai yang seharusnya ada di kanan tiba-tiba muncul disebelah kiri, seolah-olah aku sedang menonton video yang berhenti, dan menahan pedangku.
"Ap-!"
Aku tertegun disaat yang fatal setelah serangan kuat tersebut ditahan. Tidak akan mungkin Artix akan kehilangan kesempatan itu.
Pedang panjang ditangan kanannya meluncurkan jurus satu-serangan, yang datang padaku dengan akurasi yang menjijikan yang pasti akan memutuskan pertandingan. Aku jatuh ke tumpukan yang tidak sedap dipandang. Aku bisa melihat pesan sistem ungu, yang mengumumkan bahwa duel berakhir, dengan sudut mataku.
Posisi bertarungku sudah menghilang. Aku hanya berbaring disana, pikiranku kosong, bahkan saat sorak-sorai masuk kedalam kepalaku sekali lagi.
"Rizuka!!"
Ryuzaki berlari menghampiri dan mengguncangku kembali ke kesadaranku.
"Ah ... ya ... aku baik-baik saja."
Ryuzaki melihat ekspresi kosong-ku dengan khawatir.
Aku kalah-?
Aku masih tidak bisa percaya hal ini. Kecepatan tidak wajar Artix selama saat-saat akhir telah melewati batas dari pemain- melewati batas dari setiap manusia. Aku bahkan melihat poligon-poligon yang membentuk avatar-nya terdistrosi sesaat karena kecepatan yang mustahil.
Saat aku duduk ditanah, aku mengangkat kepalaku dan menatap wajah Artix.
Tetapi ekspresi pemenang tersebut tampak marah untuk suatu alasan. Paladin merah tersebut menatap kami dengan mata logam-nya, lalu berbalik tanpa kata dan berjalan ke ruang tunggu-nya ditengah-tengah gemuruh sorak-sorai.

PART 14
"Wha... apa itu!?”
"Apa yang kamu maksud? Kamu tahu apa ini. Sekarang, ayo bangun!"
Benda yang telah Ryuzaki paksakan kepadaku adalah pakaian baruku. Walaupun pakaian itu memiliki desain yang sama dengan armor yang biasa aku pakai,tetapi warnanya lebih merah dan menyilaukan. Terdapat sebuah salib kecil di setiap mansetku dan satu salib besar di bagian punggungku; ketiganya di warnai merah cerah. Pakaian ini, tanpa keraguan sedikitpun, adalah sebuah seragam terbaru BoK.
"...aku bilang aku ingin sesuatu yang polos...”
"Seragam ini sudah cukup polos. Yeah, kamu cocok memakai pakaian ini!!”
Aku terperosot kembali ke kursi goyang ketika semua kekuatan hilang dari tubuhku. Aku masih tinggal di lantai kedua dari toko milik Near. Tempat ini telah menjadi tempat perlindungan dari bencanaku, jadi pemilik toko yang patut dikasihani itu hanya dapat tidur di tempat tidur sederhana pada lantai pertama. Satu-satunya alasan dia belum mengusirku adalah karena Ryuzaki datang setiap hari untuk membantu di toko. Hal itu adalah kesempatan periklanan terbaik yang dapat dia dapatkan.
Sementara aku mengeluh di kursiku, Ryuzaki datang dan duduk di sandaran tangan, yang telah menjadi tempat pilihannya. Dia menggoyangkan kursinya sembari tersenyum, seakan-akan keadaan sulitku sekarang terasa menyenangkan baginya, dan kemudian menepukkan kedua tangannya seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.
"Ah, kita lebih baik mengucapkan salam perkenalan kita dengan baik. Sebagai anggota dari guild, aku harap kita dapat akur.”
Karena dia tiba-tiba membungkuk, aku menegakkan punggungku untuk menjawab.
"A-aku juga berharap kita dapat akur.... lalu kemudian juga, aku hanyalah seorang anggota biasa sedangkan kamu adalah wakil-ketua, jadi...”
Kekalahanku dalam duel melawan Artix telah terjadi dua hari yang lalu. Karena aku bukanlah orang yang akan mengingkari janjinya, aku bergabung dengan Blood of the Knights seperti yang telah aku setujui dengan Artix, guild memberiku waktu dua hari untuk bersiap-siap, jadi mulai besok aku akan mengikuti perintah mereka untuk menjelajahi labirin dari lantai tujuh-puluh-enam.
Bergabung dengan sebuah guild, huh-.
Ryuzaki menatapku karena dia mendengar helaan napas pelanku.
"... kamu terlibat dalam semua ini karena aku.”
"Nah, tidak apa-apa. Hal ini adalah kesempatan baik untukku. Aku juga mulai merasakan batasan-batasan dalam bermain solo...”
"Aku sangat lega mendengarmu mengatakan hal itu... Hey, Rizuka-chan...”
Kedua mata Ryuzaki yang seperti blackberry menatap langsung kepadaku.
"Dapatkah kamu memberitahukanku mengapa kamu menghindari guild-guild... menghindari orang-orang...? Aku rasa ini bukanlah karena kamu adalah seorang beta tester ataupun unique skill user, karena kamu adalah orang yang sangat baik.”
Aku memindahkan pandanganku ke bawah dan secara perlahan menggoyangkan kursiku.
"...dahulu... lebih dari satu tahun yang lalu sebenarnya, aku pernah bergabung dengan sebuah guild...”
Kata-kataku keluar dengan begitu mudahnya sehingga hal itu mengejutkanku. Mungkin ini karena aku merasa pandangan mata Ryuzaki akan dapat mencairkan kepedihan yang menusukku setiap kali aku memikirkan mengenai hal ini.
"Aku pernah ditawarkan sebuah posisi dalam guild setelah aku bertemu dan membantu mereka secara kebetulan di dalam sebuah area labirin... Guild ini berukuran kecil dengan hanya enam anggota, termasuk aku, dan guild ini memiliki nama yang menarik: «Black Cats of the Full Moon»."
Ryuzaki tersenyum ringan.
"Pemimpin guildnya adalah orang yang baik. Dia adalah seorang pengguna two-handed staff bernama Keita. Dia selalu mengutamakan anggota guild dahulu di dalam situasi apapun, sehingga semua sangat mempercayainya. Dia memberitahukanku bahwa dia sedang mencari seseorang untuk menjadi forward, karena kebanyakan anggota guildnya menggunakan senjata dua tangan dengan jarak jangkau yang lebih jauh ...”
Sejujurnya, level mereka semuanya jauh berada di bawah levelku. Tidak, aku seharusnya mengatakan bahwa akulah yang menaikkan level terlalu banyak.
Bila aku telah memberitahukan dia levelku, Keita pasti akan berpikir sebaliknya untuk mengundangku. Tetapi aku telah lelah pergi ke labirin sendirian hari demi hari, dan suasana seperti keluarga dari para «Black Cats» telah membuatku iri. Hal ini terasa seperti mereka adalah teman dalam dunia nyata, karena percakapan mereka antar satu dengan yang lain tidak memiliki kecanggungan ataupun jarak yang biasanya tampak dalam percakapan online antara para pemain; hal itu jugalah yang telah membuatku terpikat dalam.
Secara terus terang, aku tidak mempunyai hak apapun mengenai keinginan untuk mendapatkan kepedulian dari orang lain. Aku telah kehilangan hak itu ketika aku memutuskan untuk menjadi solo player dan secara egois menaikkan level hanya untuk kepentinganku sendiri. Tetapi aku telah meredam suara hatiku dan bergabung dengan guildnya, menyembunyikan baik levelku dan masa laluku sebagai beta-tester.
Keita bertanya kepadaku bila aku dapat melatih salah satu dari pengguna tombak mereka menjadi pengguna pedang-dan-perisai. Karena kemudian akan ada tiga forward , termasuk diriku sendiri, dan guild ini akan menjadi sebuah kelompok yang timbang.
Pengguna tombak yang telah dipercayakan kepadaku adalah seorang gadis pendiam dengan rambut hitam sepanjang bahu bernama Sachi. Saat kami pertama kali dikenalkan, dia berkata, dengan tersenyum malu, bahwa walaupun dia telah lama menjadi gamer, dia belum dapat berteman dengan banyak orang karena kepribadiannya. Setiap kali tidak ada kegiatan guild, aku bepergian dengannya dan mengajarinya bagaimana menggunakan single-handed-sword.
Sachi dan aku memiliki kemiripan dalam banyak hal. Kami berdua sama-sama canggung dalam bersosialisasi, memilih untuk memagari diri sendiri, akan tetapi takut akan kesendirian.
Lalu suatu hari, dia tiba-tiba memberitahukanku bahwa dia takut akan kematian, bahwa dia merasa sangat takut akan permainan kematian ini sehingga dia tidak mau pergi keluar dan berlatih.
Sebagai jawaban atas pembukaan rahasianya, aku hanya dapat mengatakan “Aku tidak akan membiarkanmu mati.” Aku tidak dapat mengatakan apapun kepadanya karena aku masih mencoba untuk menyembunyikan levelku. Setelah dia mendengar jawabanku, dia menangis sedikit sebelum memaksakan diri untuk tersenyum.
Pada hari yang lain, beberapa waktu kemudian, kami berlima, semua anggota guild kecuali Keita, pergi kedalam sebuah labirin. Keita tidak ikut karena dia sedang pergi untuk menawar sebuah rumah untuk digunakan sebagai markas utama kami dengan uang yang telah berhasil kami tabung.
Walaupun labirin yang kami datangi sudah diselesaikan, masih terdapat beberapa area yang belum dijelajahi di dalamnya. Salah satu dari kami menemukan sebuah peti harta ketika kami bersiap-siap untuk pergi. Aku menyarankan yang lain untuk tidak menghiraukan peti itu, karena kami berada di dekat garis depan sehingga monster yang ada memiliki level yang tinggi. Selain itu, aku tidak mempercayai trap dismantling skill dari anggota guild. Tetapi karena hanya Sachi dan aku yang menolak untuk membuka peti harta itu, kami kalah dalam voting 3 banding 2.
Jebakan yang ada adalah tipe alarm, salah satu dari tipe-ripe terburuk dari jebakan yang ada. Segera sesudah kami membuka peti itu, sebuah alarm yang memekakkan telinga berbunyi, dan monster mulai mengalir masuk dari semua pintu masuk kedalam ruangan itu. Kami segera berusaha untuk kabur dengan ber-teleport.
Tetapi ternyata jebakannya berlapis dua. Ruangan itu juga adalah Anti-Crystal Area- sehingga kristal-kristal milik kami tidak berfungsi.
Di sana sungguh-sungguh terdapat terlalu banyak monster untuk ditahan. Anggota-anggota yang lain jatuh dalam kebingungan total dan berlarian tanpa tujuan. Aku mencoba untuk membuka jalan dengan menggunakan teknik pedang tingkat tinggi yang telah aku sembunyikan hingga sekarang, tetapi para anggota yang panik tidak dapat melarikan diri pada waktunya. Satu per satu, HP mereka jatuh ke angka nol, dan mereka berteriak sebelum meledak menjadi kepingan-kepingan. Aku berpikir setidaknya aku dapat menyelamatkan Sachi dan mengayunkan pedangku tiada henti.
Tetapi hal itu sudah terlambat. Aku melihat Sachi berusaha menggapaiku dengan tangannya sementara sebuah monster memotongnya dengan tanpa ampun. Kedua matanya tetap mempercayaiku bahkan ketika dia terpecah seperti sebuah patung kaca dan menghilang. Dia telah mempercayaiku dan bergantung padaku hingga akhir; tetapi karena kata-kataku sangat lemah dan dangkal, mereka telah menjadi tidak lebih dari sebuah janji kosong, sebuah kebohongan.
Keita telah menunggu kami di dalam penginapan yang telah digunakan sebagai markas sementara kami dengan kunci dari markas utama baru di tangannya. Setelah kembali kedalam penginapan seorang diri, aku menjelaskan kepada Keita tentang apa yang terjadi. Dia terus mendengarkan tanpa suara hingga aku selesai, lalu bertanya kepadaku:
"Bagaimana kamu selamat?”
Lalu aku mengungkapkan levelku yang sesungguhnya dan bahwa aku telah menjadi beta tester.
Keita melotot kepadaku seakan-akan aku adalah sesuatu yang menjijikkan, lalu berkata satu hal.
-Seorang beater sepertimu tidak mempunyai hak apapun untuk bergabung dengan kami.
Kata-kata itu telah menusuk menembusku seakan-akan mereka adalah sebuah pedang baja.
"...apa yang terjadi... dengan orang itu...?”
"Dia bunuh diri.”
Tubuh Ryuzaki bergetar di atas kursinya.
"Dia melompat dari pinggir lantai. Kemungkinan besar mengutukku...hingga saat-saat terakhirnya...”
Aku merasakan tenggorokanku menyempit. Sementara aku menghitung-hitung kembali ingatan-ingatan itu yang telah aku kunci jauh di dalam lubuk hatiku, emosi-emosi yang menyakitkan dari waktu itu kembali dengan kemurnian yang sempurna. Aku menggertakan gigiku. Walaupun aku ingin menggapai Ryuzaki untuk penghiburan, sebuah suara di dalam pikiranku berbisik, “kamu tidak mempunyai hak untuk melakukan hal itu,” yang meninggalkanku dengan satu-satunya pilihan untuk mengepalkan kepalan tanganku dengan erat.
"Aku telah membunuh mereka. Bila aku tidak menyembunyikan fakta bahwa aku adalah seorang beta tester, aku pasti akan dapat membujuk mereka untuk tidak menghiraukan peti itu. Yang melakukannya adalah aku... Akulah yang telah membunuh Keita... dan Sachi...”
Dengan kedua mataku terbuka lebar, aku memaksakan kata-kata ini keluar dari gigiku yang bergemeretak.
Ryuzaki tiba-tiba berdiri, mengambil dua langkah ke arahku, dan mengusap wajahku dengan kedua tangannya. Dia menarik wajahnya yang tampan lebih dekat ke arahku dengan sebuah senyum hangat.
"Aku tidak akan mati.”
Dia mengatakan hal itu dengan berbisik, akan tetapi suara itu terdengar sangat jelas. Aku merasa kekuatan meninggalkan tubuhku yang tegang.
"Karena, aku... aku adalah seseorang yang akan menjagamu.”
Setelah mengatakan hal ini, Ryuzaki mencium pipiku dan memelukku. Aku merasakan sebuah kegelapan yang lembut dan hangat menutupiku.
Sementara aku menutup kedua mataku, pikiranku menembus selubung gelap dari ingatanku dan melihat wajah-wajah dari anggota Black Cat; mereka semua duduk di sebuah meja penginapan, bermandikan dengan sebuah cahaya oranye.
Aku tidak dapat dimaafkan. Aku tidak akan pernah dapat membayar harga dari kesalahan-kesalahanku.
Akan tetapi walaupun begitu, wajah-wajah yang menetap di ingatanku kelihatannya tersenyum.

Pada hari berikutnya, aku memakai mantel yang sangat merah menyilaukan itu dan pergi dengan Ryuzaki menuju Grandum pada lantai 55.
Mulai hari ini, aku akan memulai tugasku sebagai anggota guild Blood of the Knight. Akan tetapi, berlawanan dengan kelompok biasanya yang beranggotakan lima-orang, Asuna memanfaatkan wewenangya dan memperbolehkan kami untuk membuat kelompok dua-orang; jadi dalam kenyataannya, hal ini tidak berbeda dengan kemarin.
Tetapi perintah yang menunggu kami di dalam markas utama benar-benar tidak terduga.
"Latihan...?
"Ya. Kita akan membuat kelompok berisika empat orang dan pergi melalui area labirin dari lantai lima-puluh-lima hingga kita mencapai area tempat tinggal di lantai lima-puluh-enam.”
Pria yang mengatakan hal ini adalah salah satu dari empat pria lain yang berada di rapat ketika aku berbicara dengan Artix, Dia adalah seorang pria besar dengan ikal rambut pirang tebal dan kelihatan seperti seorang pembawa kapak.
"Tunggu, Godfree! Rizuka-chan akan...”
Sementara Asuna mulai berdebat, Godfree mengangkat sebelah alisnya dan menjawab dengan sebuah suara, yang percaya diri, bila bukan angkuh.
"Bahkan sang wakil-ketua harus mengikuti aturan. Aku tidak keberatan mengenai kelompok yang dia ikuti untuk penjelajahan. Tetapi sebagai pemimpin dari pasukan pelopor , aku harus menguji kemampuannya. Bahkan bila dia adalah seorang pengguna unique skill, kita tidak benar-benar tahu apakah dia akan berguna bagi kita.”
"Dengan kekuatan Rizuka-chan, tidak mungkin dia akan menjadi sebuah gangguan...”
Aku menenangkan Ryuzaki yang gelisah sebelum berkata:
"Bila kamu ingin melihat, maka aku akan menunjukkanmu. Tetapi aku tidak ingin membuang-buang waktu pada labirin level rendah seperti itu. Apakah bergegas melaluinya dalam satu kali perjalanan akan kamu setujui?”
Godfree menutup mulutnya dengan ekspresi tidak senang. Lalu dia pergi setelah berkata:
"Berkumpul di gerbang kota sebelah barat dalam tiga puluh menit.”
"Sikap macam apa itu!?”
Ryuzaki menendang sebuah pilar baja dengan sepatunya karena jengkel.
"Maafkan aku, Rizuka-chan. Mungkin akan lebih baik bila kita melarikan diri saja...”
"Bila kita melakukan hal itu, semua anggota dari guild akan secara bersama-sama mengutukku hingga mati.”
Dia tersenyum dan dengan bercanda memukul kepala ku
"Uuuu, Aku berpikir bahwa kita akan bersama hari ini haruskah aku pergi bersamamu...?”
"Aku akan segera kembali. Tunggulah di sini.”
"Yeah... hati-hati...”
Ryuzaki mengangguk dengan enggan. Setelah melambaikan tanganku ke arahnya, aku berjalan keluar dari markas besar.

Tetapi ketika aku tiba di tempat yang telah di tentukan yaitu gerbang sebelah barat aku melihat sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Di sebelah Godfree berdiri orang yang paling tidak ingin aku temui di dunia ini Kura.


PART 15
“...Apa yang kau maksud dengan hal ini?”
Aku bertanya kepada Godfree secara perlahan.
“Hmm, aku sudah tahu apa yang telah terjadi diantara kalian berdua. Tetapi karena sekarang mulai saat ini kalian adalah teman seperjuangan dari guild yang sama, aku berpikir saat ini adalah kesempatan yang baik untuk memperbaiki perseteruan diantara kalian berdua.”
Sementara aku menatap Godfree yang tertawa terbahak-bahak, Kura berjalan secara perlahan kearahku.
“…”
Aku menjadi curiga dan bersiap untuk bereaksi terhadap situasi apapun. Walaupun kami berada dalam safe area, tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan.
Tetapi berlawanan dengan semua perkiraanku, Kura tiba-tiba menundukkan kepalanya. Dia kemudian menggumamkan sesuatu secara lirih dibalik rambut panjangnya.
“Maaf... atas apa yang telah kuperbuat kepadamu...”
Kali ini aku benar-benar terkejut. Mulutku menganga karena heran dan aku tidak dapat berkata apa-apa.
“Aku tidak akan berlaku kasar lagi... Aku berharap kau dapat memaafkanku...”
Aku tidak dapat melihat raut wajahnya dibalik rambut panjang & berminyaknya.
“Ah... tidak apa-apa...”
Saat aku memaksakan diriku untuk mengangguk, aku bertanya-tanya mengenai apa yang telah terjadi. Apakah dia telah melakukan operasi penggantian kepribadian atau sesuatu yang lain?
“Ya, ya. Sekarang masalah sudah terselesaikan!!”
Godfree kembali tertawa terbahak-bahak. Aku merasa sangat curiga; Kura pasti telah merencanakan sesuatu, tetapi aku tidak dapat menebaknya dengan melihat kepalanya yang tertunduk. Berkebalikan dengan emosi yang dilebih-lebihkan, AQWO masih kesulitan untuk menampilkan ekspresi wajah yang semu. Aku hanya dapat menerima permintaan maafnya sekarang, tetapi aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lengah.
Anggota terakhir akhirnya tiba setelah beberapa waktu, dan kami mulai berangkat menuju labirin. Saat aku hendak melangkah, Godfree menghentikanku dengan nada kasar:
“Tunggu... latihan hari ini akan dilakukan dalam keadaan yang paling realistis. Aku ingin melihat sebagaimana bagus kalian menghadapi keadaan genting, jadi aku akan mengambil semua kristal kalian...”
“...bahkan teleport crystal kami?”
Godfree hanya mengangguk. Aku ragu-ragu mengenai hal ini. Kristal, terutama teleport crystal, adalah jaring pengaman terakhir pada death game ini. Aku tidak pernah bertualang tanpa kristal-kristal ini. Aku hendak menolak, tetapi masalah ini mungkin saja membuat Ryuzaki berada dalam situasi yang bermasalah, jadi aku memutuskan untuk menahan ucapanku.
Melihat Kura dan yang lainnya menyerahkan kristal mereka dengan patuh, aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti. Godfree bahkan memeriksa inventory-ku secara seksama setelah itu.
“Hmm, baguslah. Sekarang mari kita berangkat”
Dibawah perintah Godfree, kami berjalan keluar dari Grandum dan berjalan menuju area labirin yang dapat kami lihat di arah barat dari kejauhan.

Area latihan pada lantai lima puluh lima adalah daerah tandus nyaris tanpa tumbuhan. Aku hendak menyelesaikan latihan secepat mungkin, sehingga aku menyarankan untuk berlari sepanjang jalan ke arah labirin, tetapi saranku ditolak mentah-mentah dengan sebuah lambaian tangan dari Godfree.Hal ini mungkin karena dia memfokuskan untuk menaikkan strength stat-nya dan mengabaikan dexterity.Aku hanya dapat menyerah dan meneruskan perjalanan melalui gurun tanpa akhir ini.
Kami beberapa kali bertemu dengan monster-monster. Tetapi mengenai hal ini, aku tidak mempunyai cukup kesabaran untuk menunggu perintah Godfree, jadi aku dengan mudahnya menebas mereka saat itu juga.
Pada akhirnya, setelah melewati beberapa gunung yang tinggi dan berbatu, batu-batu kapur berwarna abu-abu dari labirin akhirnya terlihat...
“Baiklah, kita sekarang beristirahat disini!”
Setelah Godfree mengumumkan hal ini dengan nada kasar, kelompok ini berhenti.
“...”
Aku ingin langsung menerobos masuk kedalam labirin; tetapi karena aku mengetahui bahwa hal ini akan ditolak walaupun aku mengusulkannya, aku hanya menghela napas dan duduk pada sebuah batu. Saat ini sudah mendekati tengah hari.
“Aku akan membagikan makanannya..”
Godfree kemudian mengambil empat kantung kulit dan melemparkannya kepada masing masing anggota. Aku menangkap milikku dengan satu tangan dan membukanya tanpa mengharapkan apa-apa. Didalam kantong itu terdapat sebotol air dan roti keras yang dijual di toko milik NPC.
Aku membuka botolnya dan meminum seteguk penuh sementara mengutuk keberuntunganku; aku bisa saja memakan sandwich buatanku sendiri bila semuanya telah berjalan lancar.
Lalu, aku tiba-tiba menyadari bahwa Kural duduk di batu yang jauh. Dia bahkan tidak membuka kantungnya, dan kedua mata dibalik rambut panjangnya menatap dengan niat buruk kearah kami.
Apakah yang mungkin sedang dia tatap...?
Hawa dingin tiba-tiba menyerang sekujur tubuhku. Da sedang menunggu sesuatu terjadi. Sesuatu itu... kemungkinan besar-
Aku langsung membuang botol yang kubawa dan mencoba untuk memuntahkan cairan itu dari mulutku.
Tetapi sudah terlambat. Tenagaku tiba-tiba menghilang dan aku terjatuh. Terlihat HP bar di ujung penglihatanku; HP bar ini dikelilingi gambar petir berwarna hijau yang biasanya tidak ada disana.
Tidak mungkin aku salah; apa yang baru aku minum adalah racun untuk melumpuhkan.
Saat aku melihat sekeliling, aku mengetahui bahwa Godfree dan yang lainnya juga telah menggeliat ditanah. Aku langsung mencari kedalam kantung menggunakan tangan kiriku, tetapi hal ini hanya memperkuat rasa panik-ku. Aku telah menyerahkan semua antidote crystal-ku kepada Godfree. Aku masih memiliki sebuah potion,tetapi potion ini tidak berpengaruh terhadap kelumpuhan.
“Ku...kukuku...”
Tawa yang melengking mencapai telingaku. Sementara dia duduk di batu, Kuradeel memegang perutnya dengan kedua tangan dan tertawa terbahak-bahak. Kelopak matanya yang tebal menunjukkan ekstasi kegilaan yang aku ingat dengan sangat baik.
“Waha! Haha! Hyahahahaha!!”
Dia tertawa terbahak-bahak sambil menengadah ke langit, kelihatannya tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Godfree menatapnya dengan ekspresi wajah kebingungan.
“Apa... apa yang terjadi...? Bukankah airnya... disiapkan... olehmu, Kura...”
“Godfree! Cepat, gunakan antidote crystal!!”
Setelah mendengarkan teriakanku, Godfree akhirnya mulai mencari didalam kantung di sisi tubuhnya.
“Hya-!!”
Dengan teriakan yang aneh, Kuradeel melompat dari batu tempat duduknya dan menendang tangan kiri Godfree dengan sepatunya. Sebuah kristal hijau bergulir dari tangan Godfree. Kuradeel mengambilnya, dan memasukkan tangannya kedalam kantung Godfree, mengambil kristal yang tersisa dalam kantong, dan memasukkannya kedalam kantungnya sendiri.
Semuanya telah berakhir.
“Kura… apa, apa yang kau lakukan? Apakah ini adalah semacam... latihan?”
“Bodoh!!”
Kura mengatakan hal ini sembari dia menendang Godfree, yang masih belum dapat mengerti apa yang sedang terjadi dan menggumamkan hal bodoh ini, pada mulutnya.
“Argh!”
HP Godfree menurun sedikit, dan pada saat yang bersamaan cursor Kuradeel berubah dari kuning menjadi warna oranye yang menunjukkan status kriminal. Tetapi hal ini tidak mengubah apapun. Tidak mungkin seseorang akan melewati lantai yang telah diselesaikan.
“Godfree-san, aku selalu menganggap kamu sebagai seorang idiot, tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa kamu akan separah ini. Apakah otakmu juga terbuat dari otot?
Tawa tajam Kuradeel membahana keseluruh gurun.
“Masih banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu... tetapi aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan makanan pembuka...”
Kuradeel menghunuskan two-handed sword miliknya sembari berkata. Dia mengangkatnya tinggi ke udara dan meregangkan tubuh kurusnya. Cahaya mentari terpantul dari bilah pedangnya yang tebal saat dia mengayun-ayunkan pedang itu.
“T-tunggu, Kura! Kau... apa... apa yang kau katakan ... bukankah... bukankah ini adalah latihan?”
“Tutup mulutmu dan matilah.”
Kura meludah dan mengayunkan pedangnya tanpa ampun. Terdengar suara yang keras dan menjengkelkan , dan HP Godfree menurun secara drastis.
Godfree akhirnya menyadari seberapa serius keadaannya dan mulai berteriak. Tetapi sekarang sudah terlambat.
Dua, tiga kali pedangnya terayun kebawah tanpa ampun dengan berkilatan cahaya, dan HP Godfree berkurang banyak dalam setiap ayunan pedang itu. Kemudian, saat HP Godfree mencapai area merah, Kura berhenti.
Saat aku baru saja berpikir bahwa dia tidak akan membunuh tidak peduli seberapa gilanya dia, Kura membalik pegangan pedangnya dan secara perlahan menusukkannya ke tubuh Godfree. Saat HP Godfree berkurang sedikit demi sedikit, Kuradeel mulai mendorong pedang itu dengan seluruh tubuhnya.
“Aaaaaaaahhh!!”
“Hyahahahaha!!”
Sementrara teriakan Godfree menjadi semakin keras, Kura mulai berteriak juga. Pedang itu mulai tertanam dalam tubuh Godfree secara perlahan-lahan dan HP-nya berkurang secara stabil-
Sementara anggota lain dan diriku melihat dalam diam, pedang Kuradeel menembus tubuh Godfree sepenuhnya, dan HP bar-nya menjadi nol pada saat yang bersamaan. Godfree kemungkinan besar tetap tidak mengerti apa yang terjadi walaupun pada saat itu tubuhnya terpecah menjadi pecahan yang tak terhitung.
Kura secara perlahan menarik pedangnya dari tanah, lalu memalingkan mukanya seperti boneka mekanis dan melihat anggota lainnya.
“Ah!! Ahhh!!”
Dengan teriakan-teriakan pendek ini, anggota tersebut mengayun-ayunkan lengannya dalam usahanya untuk melarikan diri. Kura mulai berjalan kearahnya dengan langkah yang aneh.
“…Aku tidak ada dendam terhadapmu... tetapi menurut rencanaku, hanya aku saja yang kembali dengan selamat…”
Dia kemudian mengangkat pedangnya sembari bergumam kepada dirinya sendiri.
“Aaaahh!”
“Kau ingin dengar~? Sebenarnya, kelompok kami--”
Dia mengayunkan pedangnya; telinganya tidak mendengar teriakan-teriakan anggota lainnya itu.
“Telah disergap di gurun oleh sekelompok besar dari PKers-.”
Dia mengayunkan pedangnya lagi.
“Kami bertarung dengan sengit, tetapi tiga anggota yang lain telah meninggal-.”
Dan pedangnya terayun lagi.
“Aku hanyalah satu-satunya yang tersisa, tetapi aku berhasil mengusir para kriminal itu dan berhasil bertahan hidup sebelum kembali ke HQ-.”
Setelah serangan ke-empat, HP dari anggota itu habis. Sebuah suara yang membuat tubuhku menggigil berbunyi. Tetapi Kuradeel bersikap seakan dia telah mendengarkan suara dari seorang dewi. Dia berdiri disana, di tengah ledakan serpihan-serpihan, dan mendengarkannya dengan ekspresi bahagia tergambar di wajahnya.
Kali ini bukan hari pertamanya...
Aku sangat yakin akan hal ini. Cursor miliknya mungkin telah berubah menjadi warna oranye dari kriminal baru beberapa waktu yang lalu, tetapi masih ada banyak cara tercela untuk membunuh orang tanpa merubah warna cursor-nya. Akan tetapi, mengerti mengenai hal ini sekarang tidak akan memecahkan masalah apapun.
Akhirnya, Kura berbalik untuk melihatku, dengan kegembiraan yang tak tertahankan tergambar jelas di wajahnya. Dia berjalan perlahan kearahku, pedangnya membuat suara yang memuakkan saat dia menggoreskannya di tanah sepanjang perjalanannya.
“Hey.”
Dia merundukkan badan di sebelahku, yang masih tergeletak di tanah, dan berbisik kepadaku.
“Karena idiot sepertimu, aku harus membunuh dua orang yang benar-benar tidak bersalah.”
“Walaupun begitu kau terlihat sangat senang akan hal itu.”
Aku merespon sementara aku dengan putus asa berusaha mencari jalan keluar dari situasi ini. Dari tubuhku, yang dapat bergerak hanyalah bibir dan tangan kiriku. Karena kelumpuhan mencegah seseorang untuk membuka menu window, berarti hal ini juga melarang player untuk mengirim pesan jenis apapun. Walaupun aku tahu bahwa hal ini tidak akan banyak membantu, aku berusaha untuk menggerakkan tangan kiriku, yang berada pada blind-spot dari Kura, sementara aku terus berbicara.
“Mengapa seseorang sepertimu bergabung dengan BoK? Sebuah criminal guild akan lebih cocok untukmu.”
“Keh, mengapa kamu bertanya mengenai sesuatu yang sudah pasti? Aku bergabung karena gadis itu.”
Dia mengatakannya dengan suaranya yang parau dan menjilat bibirnya. Saat aku menyadari bahwa dia sedang berbicara tentang Ryuzaki darahku mulai mendidih.
“Kau bajingan tengik ...!”
“Woah, mengapa kamu menatapku seperti itu? Bukankah semuanya ini hanyalah sebuah permainan...? Jangan khawatir, aku akan menjaga wakil ketua-mu yang berharga itu. Lagipula,aku mempunyai banyak item yang berguna.”
Kura mengambil botol air minum yang telah diracuninya dan mengguncangkannya untuk membuat suara percikan. Kemudian dia memberikan kedipan mata yang aneh dan meneruskan pembicaraanya.
“Dan kamu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menarik, bahwa aku lebih cocok menjadi anggota criminal guild.”
“…yah, itu adalah sebuah kebenaran.”
“Aku sedang memujimu. Kamu sangat jeli.”
Kekekeke.
Kura sepertinya sedang memikirkan sesuatu saat dia tertawa. Kemudian dia tiba-tiba melepaskan sarung tangan kirinya.Dia menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan lengan bawahnya sehingga aku dapat melihat apa yang ada dibaliknya.
“...!!”
Saat aku melihat apa yang ada disana—nafasku tiba-tiba terhenti. Apa yang ada disana adalah sebuah tato. Tato itu berwujud karikatur seperti manga tentang sebuah peti mati hitam kelam. Sebuah mulut dan sepasang mata membentuk seringai lebar pada permukaan tutup peti; tulang-belulang dari sebuah tangan tengkorak menggapai keluar dari dalam peti.
“Itu... adalah lambang dari... «Laughing Coffin»?”
Aku menanyakan hal itu dengan suara serak. Kuradeel tersenyum dan mengangguk setuju.
«Laughing Coffin» sebelumnya adalah grup PK terbesar dan terburuk di Devilcraft. Mereka dipimpin oleh seseorang yang kejam dan licik, dan terus bereksperimen tanpa akhir dengan metode-metode baru untuk membunuh orang; pada akhirnya, jumlah pemain yang telah dibunuhnya berjumlah hingga tiga digit satuan.
Para pemain pertama mencoba memecahkan masalah ini dengan negosiasi, tetapi setiap pembawa pesan yang dikirim segera dibunuh. Kami bahkan tidak dapat mengerti kenapa mereka melakukan PK, karena hal ini hanya menurunkan kemungkinan unuk menyelesaikan permainan ini, dan karena hal ini kami tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan mereka. Beberapa waktu yang lalu, para pemain yang bertujuan untuk menyelesaikan permainan ini telah membentuk grup penaklukan yang menyaingi grup-grup pembunuh boss, dan pada akhirnya menghancurkan guild mereka setelah beberapa pertarungan yang panjang dan berdarah.
Ryuzaki dan aku juga pernah menjadi bagian dari grup tersebut. Tetapi informasi mengenai grup ini telah bocor entah dimana, dan para Pker telah bersiap-siap dan menantikan kami. Dalam usaha kerasku untuk melindungi teman seperjuanganku, pada akhirnya aku mengambil nyawa dari dua anggota Laughing Coffin secara tidak sengaja.
“Apakah ini...untuk balas dendam? Kamu adalah orang yang selamat dari Laughing Coffin?”
Aku menanyakan hal ini dengan suara parau. Kuradeel secara virtual meludahkan jawabannya:
“Heh, tidak mungkin. Mengapa aku akan melakukan hal sebodoh itu? Aku baru-baru saja bergabung dengan Laughing Coffin, dan hanya dalam semangat. Aku belajar teknik melumpuhkan ini dari mereka... ah, cerita yang membosankan.”
Dia berdiri dengan gerakan yang hampir mirip dengan mesin dan mengangkat pedangnya lagi.
“Baikah, kita sudah cukup lama berbicara. Efek racunnya akan segera habis sebentar lagi, jadi aku perlu menyelesaikannya sekarang. Aku telah memimpikan saat ini... semenjak duel saat itu...”
Api berkobar di kedua matanya, yang terbuka lebar sekali hingga bernentuk lingkaran. Dia tersenyum sambil menjulurkan lidahnya, dan dia bahkan berjinjit saat dia bersiap untuk mengayunkan pedangnya.
Sesaat sebelum dia bergerak,aku melemparkan mata pisau di tangan kiriku hanya menggunakan pergelangan tanganku. Walaupun sebenarnya aku mengarahkannya ke arah wajah dimana cederanya akan lebih parah, accuracy penalty dari kelumpuhan meyebabkan mata pisau baja itu meleset dan menusuk lengan kiri Kural. HP Kura hanya berkurang sedikit, sementara aku jatuh kedalam situasi yang tanpa harapan.
“...sakit juga ...”
Kura mengerutkan alisnya dan melebarkan senyumnya, kemudian menusuk lengan kananku dengan ujung pedangnya. Dia kemudian memelintirkannya dua kali, lalu tiga kali.
“Argh...!”
Walaupun aku tidak merasakan sakit sedikitpun, perasaan yang tidak mengenakkan dari stimulasi di syaraf menyebar keseluruh tubuhku bersamaan dengan efek kuat dari kelumpuhan. Setiap kali pedang itu menusuk lenganku, HP-ku berkurang secara lambat tapi pasti.
Apakah masih disana...? Apakah efek dari racunnya masih belum hilang...?
Aku menggertakan gigiku dan menunggu saat dimana tubuhku akan terbebas. Jangka waktu dari kelumpuhan berbeda-beda berdasarkan dari kekuatan racun lainnya. Tetapi kebanyakan racun penyebab kelumpuhan kehilangan efektivitasnya dalam waktu kurang lebih lima menit atau sekitar itu.
Kura menarik pedangnya lalu menusuk kaki kiriku. Perasaan tidak mengenakkan kembali menyebar ke seluruh tubuhku, dan sistem dari permainan ini mengkalkulasikan tingkat cederanya tanpa ampun.
“Jadi...? Bagaimana rasanya...? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa kau akan mati sebentar lagi...? Maukah kau... beritahu aku...?”
Kura mengatakan hal ini dengan hampir berbisik saat dia menatap wajahku dengan penuh perhatian.
“Katakan sesuatu cumi-cumi... Menangis dan berteriaklah kalau kamu tidak ingin mati...”
HP-ku menurun hingga dibawah garis tengah dan berubah menjadi warna kuning. Kelumpuhannya masih belum hilang juga. Sekujur tubuhku menjadi semakin dingin, seakan-akan kematian sedang menyelubungiku dengan udara beku, rasa dinginnya secara perlahan merangkak dari kedua kakiku.
Aku telah melihat banyak pemain yang meninggal di dalam AQWO. Mereka semua memiliki ekspresi wajah yang sama saat mereka terpecah menjadi pecahan yang tak terhitung jumlahnya dan menghilang; ekspresi itu selalu merupakan ekspresi sederhana dari sebuah perenungan, sebuah ekspresi yang menanyakan, ”apakah aku benar-benar akan mati seperti ini?”
Ekspresi itu kemungkinan besar disebabkan karena, jauh didalam hati kita, tidak seorangpun dari kita ingin menerima peraturan mutlak dari permainan ini. Kita sebenarnya tidak ingin mempercayai bahwa kematian didalam permainan ini berarti kematian yang sesungguhnya.
Kita semua menaruh harap pada sebuah spekulasi, bahwa “mungkin kita hanya akan kembali ke dunia nyata saat HP kita menjadi nol dan kita menghilang.” Tentu saja, kau perlu mati sendiri untuk mengetahui apakah yang sebenarnya akan terjadi. Bila kau berpikir mengenai hal ini seperti itu, lalu kematian akan menjadi salah satu cara untuk melarikan diri dari permainan ini-.
“Hey, hey, katakan sesuatu. Aku benar-benar berusaha membunuhmu sekarang.”
Kura menarik pedangnya dari kakiku dan kali ini menusuk dadaku. HP-ku menurun secara drastis dan menuju ke area berbahaya warna merah.Tetapi aku merasa hal ini bukanlah hal yang menjadi perhatianku, seakan-akan ini semua terjadi di dunia lain yang jauh. Walaupun aku sedang disiksa dengan pedang ini, pikiranku sedang berjalan kearah jalan yang kelam, seakan-akan kain yang berat dan tebal perlahan-lahan menutupinya.
Lalu kemudian—rasa takut yang kuat tiba-tiba mencengkeram hatiku.
Ryuzaki. Bila aku meghilang dan meninggalkannya sendiri di dunia ini, Ryuzaki akan jatuh ke tangan Kura dan harus merasakan rasa sakit yang sama denganku. Kemungkinan itu membuat rasa sakit yang tak tertahankan yang mengejutkanku dan membuatku kembali sadar.
“Kaaaah!!”
Aku membuka mataku, mencengkeram pedang yang tertanam kedalam dadaku, dan mulai menariknya keluar dengan kekuatan yang masih ada padaku. Aku hanya memiliki sekitar sepuluh persen HP tersisa. Kura lalu berteriak kaget:
“Huh... huh? Apa ini, kamu takut mati?”
“Ya... Aku... tidak boleh mati dulu…”
“Heh!! Hyahaha!! Begini lebih baik!!”
Kura tertawa seperti burung yang aneh dan menekan pedangnya dengan seluruh berat tubuhnya. Aku menahannya dengan satu tangan. Sistemnya melakukan perhitungan-perhitungan yang rumit berdasarkan atas kekuatanku dan Kura dan menetapkan hasilnya.
Hasil akhirnya—pedangnya kembali menusukku lagi, perlahan tetapi pasti. Aku dipenuhi dengan rasa takut dan putus asa.
Apakah ini akhirnya?
Apakah aku akan mati? Meninggalkan Ryuzaki dan teman-temanku didalam dunia yang gila ini?
Aku berusaha melawan pedang yang perlahan-lahan mendekat dan rasa putus asa yang menggapai dari dalam diriku.
“Mati!! Mati Matilah!!”
Kura berteriak dengan suara yang melengking.
Niat membunuh yang berbentuk pedang yang bersinar kusam mendekat sentimeter demi sentimeter. Lalu akhirnya, ujung dari pedang itu mencapai tubuhku—dan perlahan menusuk masuk...
Pada saat yang sama, sehembus angin bertiup.
Ini adalah hembusan angin merah tua dan putih murni.
“Huh...!?”
Dengan seruan terkejut ini, pembunuh itu beserta pedangnya terlempar tinggi ke udara. Aku terdiam menatap bayang-bayang dari orang yang telah datang.
“...Aku belum terlambat... Aku belum terlambat... terima kasih, Tuhan... Aku belum terlambat...”
Suaranya yang bergetar terdengar lebih indah daripada kepakan sayap seorang malaikat penolong. Bibirnya bergetar hebat sembari dia jatuh berlutut dan melihatku.
“Masih hidup kamu masih hidup kan, Rizuka-chan…?”
“...yah Aku masih hidup...”
Suaraku terdengar begitu lemah sehingga hal itu mengejutkanku. Ryuzaki mengangguk sekali dan mengeluarkan kristal berwarna merah muda dari kantungnya, lalu meletakkan tangan kirinya pada dadaku dan berteriak.
“Heal!”
Kristal itu pecah dan HP bar-ku terisi saat itu juga. Setelah memastikan kesembuhanku, Ryuzaki berbisik kepadaku
“...Tunggu disini. Aku akan segera membereskan ini sayang...”
Ryuzaki lalu berdiri, menghunuskan pedangnya dengan keren, dan mulai berjalan.
Sasarannya, Kura masih berusaha untuk mengangkat tubuhnya dari tanah. Saat dia melihat orang yang berjalan kearahnya, kedua matanya terbelalak.
“R-Ruzaki-sama... b-bagaimana anda sampai disini...? I-ini, cuma latihan, ya, tadi ada kecelakaan ditengah latihan...”
Kura melompat keatas seakan-akan dia memiliki pegas ditubuhnya dan berusaha untuk mengutarakan alasan dengan suaranya yang gugup. Tetapi sebelum dia selesai, tangan kanan Ryuzaki bercahaya dan ujung pedangnya merobek mulut Kuradeel. Dia tidak menjadi kriminal karena musuhnya telah memiliki cursor oranye.
“Ahh!!”
Kura menutupi mulutnya dengan tangannya, menyondorkan badan kebelakang, dan terhenti sesaat.Kemudian, sembari dia kembali berdiri tegak, kedua matanya penuh dengan amarah yang kukenal.
“Kau laki-laki busuk... kau berbuat terlalu jauh... Heh, tidak apa-apa. Aku hanya perlu mengurusmu juga...”
Tetapi dia berhenti ditengah kata-katanya; Ryuzaki telah mulai menyerang dengan ganas segera setelah dia mempererat genggaman pada pedangnya. Pedang miliknya menggambar lintasan-lintasan cahaya yang tak terhitung banyaknya saat pedangnya miliknya menyayat dan menusuk Kura dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan aku tidak dapat melihat jalur pedangnya, dan aku berada beberapa level diatasnya. Aku hanya menyaksikan pangeran ini mengayunkan pedangnya hampir seakan-akan dia sedang melawan musuh yang sangat kuat.
Gayanya itu sangat keren. Ryuzaki memukul mundur musuhnya dengan tanpa ekspresi, rambut hitam kehitam-hitamnya mengalir sementara percikan-percikan kemarahan menyelimuti sekujur tubuhnya; kekerenannya tak terlukiskan.
“Ah!! Kaaaa!!”
Kura sudah mulai panik, pedangnya terayun liar tanpa sekalipun menggores Ryuzaki. Sementara HP-nya menurun dari daerah kuning ke daerah merah, Kura akhirnya membuang pedangnya kesamping dan berteriak dengan kedua tangannya terangkat diudara.
“B-baiklah!! Baiklah!! Aku minta maaf!!”
Dia lalu berlutut dan memohon.
“A-aku akan meninggalkan guild! Aku tidak akan muncul dihadapan kalian berdua lagi!! Jadi-“
Ryuzaki mendengarkan permohonannya dalam diam.
Dia lalu mengangkat pedangya perlahan dan membalik pegangan pedangnya. Tangannya yang kekar menegang karena gugup, dan kemudian terangkat beberapa sentimeter saat dia bersiap untuk menusuk Kura. Pada saat itu pembunuh itu berteriak lebih keras.
“Heeeek hentikan! A-aku tidak mau mati-!!”
Pedangnya terhenti tiba-tiba seperti menghantam dinding yang tidak terlihat. Tubuh mungilnya mulai gemetar dengan hebat.
Aku dapat sepenuhnya memahami konflik didalam diri Ryuzaki, mengenai rasa takut dan amarahnya.
Dari apa yang aku tahu, dia belum pernah membunuh siapapun didalam permainan ini. Karena bila seorang pemain terbunuh didunia ini maka dia juga akan mati didunia nyata, PK didalam network game ini sama dengan pembunuhan yang sebenarnya.
—Ya. Berhenti, Ryuzaki. Jangan melakukannya.
Ketika aku meneriakkan hal ini kepada diriku sendiri, aku juga memikirkan hal yng sebaliknya pada saat yang sama.
—Tidak, jangan ragu-ragu. Ini adalah kesempatan yang dia tunggu.
Perkiraanku menjadi kenyataan 0.1 detik kemudian.
“Ahahahaha!”
Aku tidak yakin kapan Kura mengambil pedangnya lagi, tetapi dia tiba-tiba mengayunkannya keatas dengan sebuah teriakan.
Pedang milik Asuna berdentang dan terlempar dari genggaman tangan kanannya.
“Ah...!?”
Saat Ryuzaki berseru dan kehilangan keseimbangannya,sebuah sinar metalik berkilat diatas kepalanya.
“Wakil-ketua, kamu masih terlalu naif.”
Dengan sebuah jeritan yang dipenuhi kegilaan, Kura mengayunkan pedangnya tanpa ragu-ragu, menggambarkan sebuah garis cahaya merah kelam.
“Ahhhhhhh!!”
Kali ini,akulah yang berteriak. Aku melompat dari tanah dengan kaki kananku, yang telah pulih dari kelumpuhan, dan terbang sejauh beberapa meter sebelum mendorong Ryuzaki kesamping dengan tangan kananku sementara aku menangkis pedang Kura dengan tangan kiriku.
Buk.
Dengan suara yang tidak mengenakkan ini, tangan kiriku terpotong mulai dari siku kebawah. Icon kehilangan anggota tubuh menyala dibawah HP bar-ku. Sementara garis-garis merah darah mengalir keluar dari luka potong ditangan kiriku, tangan kananku meluruskan jari-jarinya dan-.
Aku menusukkan tanganku kedalam celah diantara baju zirah Kura yang tebal. Tanganku berpendar kuning saat tanganku tertanam dalam kedalam perut Kuradeel.
Aku telah dengan sukses membalas dengan teknik jarak sangat dekat «Embracer», yang segera menghabiskan sisa dua puluh persen HP Kura. Tubuhnya yang kurus kering dan cekung bergetar dengan hebat disampingku, lalu kehilangan semua kekuatannya dan jatuh terkulai.
Saat great sword miliknya jatuh ke tanah dan berdentang, dia berbisik kedalam telingaku:
“Kau... pembunuh...”
Dia mengejek dengan suara "kuku"
Seluruh tubuh Kuradeel terpecah menjadi banyak pecahan kaca. Aku terdorong oleh tekanan dingin dari poligon-poligon yang menghilang dan terjatuh kebelakang.
Untuk sementara waktu, pikiranku yang kelelahan ,dan terbekukan hanya mengetahui suara dari angin yang berhembus.
Lalu aku mendengar langkah tak beraturan yang berjalan di jalan setapak. Saat aku mengalihkan pandanganku, aku dapat melihat tubuh yang terlihat rapuh berjalan kearahku dengan ekspresi hampa.
Ryuzaki berjalan kearahku dengan kepala tertunduk, dan jatuh berlutut didepanku seperti boneka yang telah terputus benangnya. Walaupun dia menjangkauku dengan tangan kananya, dia tiba-tiba menarik tangannya kembali sebelum tangannya dapat menyentuhku.
“...Maafkan aku, semuanya ini karena aku...”
Ryuzaki mengucapkan hal ini dengan ekspresi duka yang mendalam. Air mata mengalir sedikit dari kedua mata yang besar. Aku hampir tidak bisa mengucapkan suatu kata pendek dari kerongkonganku yang kering:
“Ryuzaki...”
“Maafkan aku... aku... tidak akan... bertemu si cantik Rizuka-chan... l... lagi.”
Aku memaksakan diriku untuk menegakkan tubuhku kembali, yang akhirnya merasa telah pulih. Tubuhku masih dipenuhi dengan rasa tidak nyaman karena cidera parah yang aku dapatkan, tetapi dengan cepat dia memelukku dengan erat. Lalu, diamenutupi bibir indahnya, dengan bibirku.
“...!”
Badanku menjadi kaku, dan mencoba pergi, tetapi dia menahan tubuhku yang mungil dengan rapat dengan semua kekuatan yang dipunya. Hal ini tanpa diragukan adalah sesuatu yang berlawanan dengan kode pencegahan pelanggaran sikap.. Pada saat ini, pesan sistem seharusnya sudah tampil didepan Ryuzaki, dan bila dia menyentuh OK, aku akan segara di-teleportasi ke area penjara dari Black Iron Castle.
Tetapi dia tetap tidak melonggarkan pelukannya. Saat bibirnya meninggalkan bibirku, bibirnya menyentuh pipiku sebelum aku memendamkan wajahku pada lekukan lehernya. Lalu dia berbisik:
“Hidupku hanya untukmu, Rizuka. Jadi aku akan menggunakannya untukmu. Aku akan selalu bersamamu hingga akhir.”
Dia menarik ku lebih dekat dengan lengan kiriku yang masih memiliki ikon kehilangan anggota tubuh yang dikenakan selama tiga menit. Aku menarik nafas dengan gemetar dan kemudian berbisik membalas:
“...A-aku akan melindungimu juga. Aku akan melindungimu selamanya. Jadi...”
Aku tidak dapat meneruskan kata-katanya. Jadi dia mendengar isakan tangisku dengan tangan kami saling berangkulan satu sama lain.
Kehangatan dari tubuh kami mulai melelehkan hatiku yang beku sedikit demi sedikit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar