PART
21
3 hari kemudian, Nishida
memberitahu kami pagi-pagi bahwa dia akan memancing dewa setempat. Sekitar 30
orang akan ada disana untuk menonton, karena sepertinya dia telah memberitahu
teman-teman pemancingnya soal ini.
“Ini sangat mengganggu.
Ryuzaki...apa yang harus kita lakukan?”
"Hm~mmm..."
Sejujurnya, kami tak begitu
senang dengan ini. Kami harus kesini untuk bersembunyi dari para penyebar isu
dan penggemar Ryuzaki, jadi kami agak enggan kalau harus tampil di depan banyak
orang.
“Bagaimana kalau begini?!”
Ryuzaki mencari topi dan kacamata
hitam. Lalu dia menutupi rambutnya dengan topi dan menutup matanya dengan
kacamata hitam. Tak berhenti disitu, dia memencet beberapa tombol di jendela
menunya dan mengenakan jaket panjang nan tawar.
“Y-yah, Baguslah. Kau terlihat
seperti petani sok keren."
“...Apa itu pujian?”
“Tentu saja. Kalau aku sih,
mereka takkan mengenaliku selama aku tak memakai perlengkapan perang.”
Sebelum matahari terbit, aku berjalan keluar rumah dengan Ryuzaki dan Yui, yang membawa keranjang piknik kami. Aku bisa saja memanggilnya keluar saat kami tiba disana, tapi aku bersikeras ini bagian dari penyamaran.
Hari ini termasuk hangat,
mengingat ini hari-hari awal musim dingin. Setelah berjalan melalui hutan pinus
raksasa selama beberapa saat, kami akhirnya bisa melihat air yang berkilauan
diantara batang-batang pohon. Banyak orang yang sudah berkumpul disana. Begitu
aku menghampiri dengan segan-segan, seorang dengan figur badan yang dikenal
melambai pada kami sambil terbahak-bahak.
“Wa-ha-ha, senang rasanya kita
dapat cuaca baik hari ini!”
“Wah banyak orang. Kata Yui
dengan suara senang”.
“Hai, Nishida oji-san.”
Aku, Yui dan Ryuzaki
menganggukkan kepala. Dia menceritakan pada kami bahwa kumpulan orang-orang
disini dari berbagai umur dan kelompok adalah anggota dari guild memancing yang
dijalankan Nishida. Kami menyalami semuanya dengan tegang, tapi sepertinya
tiada yang mengenali Ryuzaki.
Menyisihkan hal itu, Nishida
ojiisan jauh lebih aktif dari yang kubayangkan. Dia pasti seorang pemimpin
kelompok yang baik dalam perusahaannya. Suasananya sudah panas, karena mereka
sudah mengadakan lomba memancing sebelum kedatangan kami.
“Eh~jadi, Acara utama hari ini
akhirnya dimulai!”
Nishida mengumumkannya
keras-keras sambil berjalan menuju kami dengan pancingan panjang di tangan, dan
para penonton bersorak kegirangan. Kulihat pancingan yang dibawanya. Mataku
menelusuri pancingan dengan pikiran kosong sebelum benda di ujungnya
mengejutkanku,
Yang ada di ujungnya adalah
kadal, dan ukurannya sangat besar. Panjangnya selengan-atas orang dewasa. Kulit
hitam-merahnya yang terlihat beracun berkilat seakan menegaskan kesegarannya.
“Hiii,---“
Ryuzaki bahkan menyadarinya lebih
telat daripadaku, dan wajahnya membeku sambil mundur beberapa langkah darinya.
Jika ini umpannya, apa yang akan kita berusaha tangkap pasti luar biasa.
Tapi sebelum aku sempat bertanya,
Nisihida menghadap ke danau dan mengangkat pancingannya. Dengan teriakan
pendek,dia mengayunkannya dengan gerakan yang bagus, dan kadal besar membentuk
sebuah lengkungan di udara sebelum jatuh ke air dengan jebyur yang keras.
Memancing tak perlu waktu tunggu
dalam AQWO. Begitu kau melempar umpan ke air, entah ikan mengambil umpan dalam
beberapa detik, atau kau kehilangan umpan. Kami menelan ludah tanpa sadar saat
menonton benang tenggalam perlahan-lahan.
Setelah beberapa saat, pancingan
bergerak-gerak. Tapi Nishida tak bergerak seinci pun.
“I-ia kena, Nishida-san!”
“Sebentar lagi!”
Di belakang kacamata Nishida,
sepasang mata yang biasanya mencerminkan kakek berhati hangat bercahaya.
Nishida terus melihat ujung pancingan yang bergerak-gerak tanpa bergerak
sedikitpun. Lalu pancingannya bergerak makin keras.
“Sekarang!”
Nishida menarik tubuh kecilnya
mundur dan menarik pancingan dengan seluruh badan. Aku Bisa mengatakan talinya
benar-benar tegang hanya dengan melihatnya, yang juga memberikan efek suara
tang-tang.
“Ia mengambil baitnya! Aku
percayakan sisanya padamu!”
Aku dengan hati-hati mengambil
pancingan yang diserahkan Nishida, tapi ia tak bergeser sedikitpun. Rasanya
bagai kail termakan sesuatu yang ditanam ke tanah. . Aku melihat balik pada
Nishida, khawatir apa benar ikannya sudah menggigit, lalu dalam sekejap mata—
Talinya mulai tertarik kedalam
air dengan kuat secara tiba-tiba.
“Ahhh!”
Aku cepat-cepat menancapkan kaki
ke tanah dan menariknya ke atas lagi. Pengukur kekuatan-yang-dipakai dengan
cepat menembus mode normal.
“A-apa baik-baik saja untuk menegangkannya?”
Tanyaku pada Nishida karena
khawatir pada ketahanan pancingan.
“Ini kualitas tertinggi! Kau bisa
menariknya sekuat yang kau mau!”
Nishida mengangguk, wajahnya
sudah merah saking bergairahnya. Aku membenarkan pegangan pada pancingan lalu
menariknya sekuat tenaga. Pancingannya bengkok di tengah dan membentuk U besar.
Begitu tingkat pemain naik, mereka bisa memilih untuk meningkatkan kekuatan
atau deksteritas.Pengguna kapak seperti Near akan memilih kekuatan, sementara
pengguna Pedang seperti Ryuzaki akan fokus pada deksteritas.
Meski aku seorang pengguna pedang
biasa dan meningkatkan keduanya, pilihan pribadiku cenderung memilih
deksteritas sedikit di atas kekuatan.
Tapi sepertinya aku memenangkan
tarik tambang ini karena levelku sendiri sudah sangat tinggi. Aku perlahan
melangkah mundur, terus memaksa si besar itu keluar air.
“Ah, Aku bisa melihatnya!!”
“Wah, Sepertinya ikannya besar
berjuanglah Mama”.
Ryuzaki mencondongkan badan ke
air dan menunjuknya kepada Yui. Aku tengah melangkah mundur dan menjauh dari
danau jadi aku tak bisa memeriksanya. Para penonton makin ribut dan berebut
untuk melihat ke air, yang dengan cepat semakin dalam selepas pinggirnya. Aku
tak bisa menahan kepenasaranku dan memusatkan seluruh kekuatanku untuk menarik
pancingan.
“...?”
Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan
seluruh penonton yang dari tadi mengerubungi air. Setiap orang mengambil
beberapa langkah mundur.
“Ada yang salah...?”
Bahkan sebelum aku selesai
berbicara, mereka berbalik dan kabur. Bahkan Ryuzaki, Yui dan Nishida berlari
ke belakangku dari kedua sisi dengan wajah pucat. Aku baru saja hendak berbalik
kebelakang untuk melihat mereka ketika – beban tanganku terangkat dan aku
terjatuh dengan punggung di bawah.
Ah, apa talinya putus!?
Tepat ketika aku berpikir begitu,
aku membuang pancingan dan berlari menuju danau, Saat itu, permukaan air yang
berkilauan tiba-tiba menggelembung naik,
“Eh-!?”
Aku terpaku di tempat dengan mata
terbelabak, dan saat itulah kudengar suara Ryuzaki dari kejauhan :
“Rizuka—cepat lari itu berbahaya---!!!”
Saat aku berbalik, kulihat
Ryuzaki, Yui, Nishida, dll sudah naik ke tembok yang berdiri di ujung danau,
yang cukup jauh dariku. Aku dapat mendengar air bergebyur-gebyur liar
dibelakangku dan aku akhirnya mulai memahami keadaan. Lalu, dengan rasa tak
enak, aku berbalik.
Ikannya berdiri.
Makhluk itu lebih tepat mirip
seekor ikan raja <coelacanth>, persilangan ikan dengan kadal, tapi yang
ini lebih cenderung ke sisi kadal. Ia berdiri di sana di rerumputan dengan enam
kaki kuatnya dan memandnag ke bawah padaku, sedangkan air di tubuhnya jatuh
bagai air terjun.
Aku berkata “memandang ke bawah”
karena ini setidaknya setinggi 2 meter. Mulutnya yang tampak bisa menelan sapi
bulat-bulat, berada sedikit di atas kepalaku dengan kaki kadal yang biasa
kukenal terjulur keluar.
Dari kedua sisi makhluk berkepala
ikan purba, dua mata seukuran bola basket bertemu dengan milikku. Sehbuah
kursor kuning muncul secara otomatis untuk menandainyas sebagai monster.
Nishida sudah bilang pada kami
bahwa dewa setempat dari danau ini adalah seekor monster dengan rasa beda dari
yang berada di padang-padang.
Bagaimana ini berbeda? Si ini
adalah seekor monster dalam tiap huruf kata-kata.
Aku memaksakan tersenyum dan
mengambil beberapa langkah mundur. Lalu aku berbalik dan segera terbirit-birit.
Ikan raksasa dibelakangku meraung menggelegar dan mulai mengikutiku dengan
langkah yang menggetarkan bumi.
Aku memaksa stat deksteritasku
hingga batas dan berlari seakan aku terbang. Aku mencapai Ryuzaki dalam
beberapa detik dan mengeluh keras-keras :
“I-itu curang! Kabur sendirian!!”
“Uwa.inibukansaatnyamengatakanitu Rizuka!!”
Aku berbalik dan melihat ikan
raksasa berlari menuju kami dengan kecepatan yang mengagumkan meski ukurannya
besar.
“Ooh, ia berlari di darat...jadi
dia ikan yang bernapa dengan paru-paru...?
“Rizuka-chan, ini bukan saatnya
mengatakan hal tak guna semacam itu!! kita harus kabur cepat-cepat!!”
Kali ini Nishida yang berteriak
ketakutan. Lusinan penonton kaget dengan keadaan, dan beberapa dari mereka
terduduk di tanah dengan wajah kosong.
“Rizuka, apa kau membawa
senjatamu?”
Kata Ryuzaki sambil mendekatkan
kepalanya ke sebelahku. Yah, bakal sulit untuk membuat semuanya kabur dalam
situasi seperti ini---
“maaf, aku tak...”
“Oh, baiklah, Berarti Aku tak
punya pilihan lain...”
Ryuzaki menggelengkan kepala
sambil berbalik menghadapi ikan raksasa yang mendekati kami. Dia dengan cepat
membolak-balik menu dengan tangan nan ahli.
Dengan Nishida dan penonton
lainnya menonton sambil terkejut, Ryuzaki melepas topu dan kacamata hitamnya dengan
punggung menghadap kami. Rambut hitamnya yang berkilauan oleh matahari
Meski dia hanya mengenakan celana
panjang hitam dan kaos putih panjang favoritnya, sebuah pedang bersinar di sisi
kiri pinggangnya bagaikan sebuah cermin. Dia menghunusnya dengan tangan kanan,
dan pedang itu mengeluarkan bunyi ring-ring bersamaan dengan menunggunya
Ryuzaki untuk kedatangan ikan besar itu.
Nishida yang berdiri di
sampingku, akhirnya tersadar dan menggoyangkan lenganku sambil berteriak:
“Rizuka-chan, S-suamimu nekat
menerjang bahaya!!”
“Tidak, kita biarkan saja dia
menangani ini.”
“Apa kau bilang!? ji-jika kau itu
katamu maka aku...”
Dia menjambret sebuah pancingan
dari temen yang terdekat dan bersiap berlari ke Asuna dengan wajah ngeri. Aku
harus cepat-cepat menghentikan pemancing tua ini.
Ikan raksasa itu tak melambat
sedikitpun. Ia membuka mulut besarnya, dimana di sana berbaris gigi tajam yang
tak terhitung, dan melemparkan seluruh badannya pada Ryuzaki seakan hendak
menelannya bulat-bulat.
Ryuzaki memutar sisi kiri
badannya menjauh dari ikan itu dengan tangan kanan bergerak cepat keluar
bersama sekilat cahaya putih di belakangnya.
Sebuah kilatan bercahaya yang
membutakan menyemburat dari mulut ikan dengan efek suara ledakan. Ikan itu
terlempar tinggi ke udara, tapi Ryuzaki bahkan belum bergerak dari tempatnya.
Meski ukuran besar monster itu
menimbulkan rasa takut, aku telah mengira levelnya tak mungkin begitu tinggi.
Tak mungkin seekor monster dari lantai bawah, terutama yang dari acara yang
berhubungan dengan memancing, bisa begitu kuat. Lagipula, AQWO adalah permainan
yang menjaga pola normal permainan online.
Ikan itu jatuh ke tanah dengan
keras, HP-nya berkurang drastis oleh serangan Ryuzaki. Lalu, Ryuzaki dengan
tanpa ampun melancarkan rangkaian serangan beruntun yang menunjuukan gelarnya
«Flash».
Nishida dan penonton lainnya
menonton tanpa berkata sepatah kata pun pada Ryuzaki yang mengaktifkan keahlian
satu per satu sambil melangkah ringan seakan tengah menari. Apa ke elegan
Ryuzaki atau kekuatannya yang memesona mereka? Aku pikir mungkin keduanya.
Begitu Ryuzaki mengayunkan pedangnya dengan aura yang menelan segala yang berada di sekitarnya, dia melihat HP lawannya telah berada pada daerah merah dan melompat kebelakang untuk memperlebar jarak di antara mereka. Setelah mendarat, dia langsung maju menyerang. Dia berlari menuju ikan itu sambil meninggalkan berkas cayaha di belakangnya bagai komet. ini adalah salah satu keahlian tertinggi rapier «Flashing Penetrator».
Dengan efek suara yang mirip
ledakan sonik, komet itu menembus ikan dari mulut hingga ekor. Begitu Ryuzaki
mengerem untuk berhenti, monster raksasa di belakangnya terpecah menjadi jutaan
serpihan cahaya yang tersebar. Ada suara benturan keras yang menciptakan riakan
besar di permukaan danau.
Ryuzaki menyarungkan rapiernya
dengan sebuah “cling” dan berjalan pada kami seakan tak terjadi apa-apa.
Nishida dan nelayan lainnya hanya bisa membuka mulut menganga lebar, membeku di
tempat.
“Hei, kerja bagus.”
“Ini tak adil, membuatku
bertarung sendirian. Kau nanti akan membeli makan siang.”
“Uang kita sekarang berupa data
bersama.”
“Oh, benar...”
Selama Ryuzaki dan aku meneruskan
percakapan santai kami, Nishida akhirnya bisa mengejapkan mata dan membuka mulutnya.
“...ah, itu sangat mengejutkan...
Nyonya, kau, kau benar-benar kuat. Ini mungkin tak sopan, tapi seberapa tinggi
levelmu...?"
Ryuzaki dan aku saling memandang.
Berada di topik ini terlalu lama bakal berbahaya untuk kami.
“Se-sebelum itu, lihat, ikan itu
menjatuhkan suatu item.”
Ryuzaki memencet beberapa tombol
di layar dan sebuah pancingan perak muncuk di tangannya, Karena seekor monster
acara yang menjatuhkannya, sepertinya bisa dipastikan ini benda langka yang tak
dijual.
“Oh, ooh, ini...!?
Nishida menerima pancingan itu
dengan mata berbinar. Seluruh penonton juga tertarik. Tepat saat kupikir aku
sudah berhasil melalui bahaya ini dengan aman...
“Apa...apa kau Ryuzaki dari Blood
of the Knights...?”
Seorang wanita muda mengambil
beberapa langkah mendekat dan menatapnya penuh histeris. Lalu wajahnya
mencerah.
“Yap, itu memang kau! Aku bahkan
punya gambarnya!!”
“Ah..”
Ryuzaki memaksakan dirinya
tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Para penonton menggandakan
kegairahan mereka.
“Ini, ini sebuah kehormatan!
Untuk melihat Ryuzaki-san bertarung dari dekat...Oh ya! Bisa-bisakah kau
memberikanku sebuah tanda ta...”
wanita itu tiba-tiba berhenti
berbicara lalu membolak-balik pandangannya antara aku dan Ryuzaki beberapa
kali. Akhirnya dia menggumamkan sesuatu dengan wajah terkejut:
“Apa...apa kalian berdua telah
menikah...?”
Kini giliranku memaksakan diri
untuk tersenyum. Bersamaan dengan tersenyumnya kami yang dibuat-buat sambil
berdiri di tempat, teriakan kemarahan meraung di sekitar kami, Hanya Nishida
yang terus mengejap-ngejapkan mata tanpa mengerti apa yang tengah berlangsung.
Bulan madu rahasia kami berakhir
seperti ini hanya dalam dua minggu. Tapi mungkin kami harus berpikir bahwa kami
beruntung untuk mengambil bagian dalam acara yang menyenangkan di akhir.
Malam itu, kami menerima sebuah
pesan dari Artix yang meminta kami mengambil bagian dalam pertarungan melawan
raja lantai 75.
Paginya.
Aku duduk di ujung kasur dan
memandangi lantai sedangkan Asuna dan Yui sudah selesai bersiap-siap, berjalan mendekat
dengan sol besi bootnya berclang dengan tanah.
“Hei, kau tak bisa terus begini.”
“Tapi ini baru dua minggu.”
Aku menjawab dengan sikap
kekanak-kanakan dan menengadahkan kepalaku. Tapi aku tak bisa membantah bahwa
memandangi Ryuzaki dalam seragam baru Blood of the Knights untuk pertama
kalinya dalam beberapa waktu ini sangat menarik.
Karena kami meninggalkan guild
untuk sementara, kami bisa saja menolak permintaan ini. Tapi baris terakhir
pesan, dimana “beberapa orang sudah tewas,” mengganggu pikiran kami.
“Yah, kita sebaiknya pergi untuk
setidaknya mendengar apa yang terjadi. Ayo, sudah waktunya!”
Begitu dia menepukku di punggung,
akhirnya aku bangkit dengan enggan dan membuka layar peralatan. Karena saat ini
kami bukan bagian dari guild, aku mengenakan seragam Blood of the knights dan
seset baju pelindung minimalis, lalu menyimpan dua pedang di punggung dengan
dua bilahnya saling bersilangan. Beban berat di punggungku seperti mengeluhkan
bahwa mereka ditinggalkan di inventori selama beberapa lama. Dengan gerakan
cepat, aku menghunus mereka perlahan lalu menyarungkan mereka kembali; sebuah
suara logam tinggi dan jernih bergema di kamar.
“Yah, ini penampilan yang paling
cocok bagimu.”
Ryuzaki tersenyum dan memegang
lengan kananku. Aku melihat ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada
rumah baru kami, yang akan ditinggal jauh untuk beberapa lama.
“...Ayo kita cepat selesaikan ini
lalu segera kembali.”
“Ya!”
“Ayo Yui-chan kita pergi”
“Ya Mama”
Kami saling memandang dan
menganggu. Kami membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara menusuk musim
dingin.
Di plaza gerbang lantai 24, kami
menemukan Nishida menunggui kami dengan sebatang pancingan di tangannya. Kami
bilang kapan kami akan pergi hanya kepadanya.
"Bisakah kita ngobrol
sedikit?”
Aku mengguk pada permintaan
Nishida, dan kami bertiga duduk saling bersebelahan di sebuah bangku di plaza.
Nishida mulai berbicara perlahan sambil memandang ke atas pada lantai-lantai
atas.
“Sebenarnya...hingga hari ini,
cerita soal orang-orang yang bertarung untuk menyelesaikan permaninan di
lantai-lantai atas terdengar seperti mereka dari dunia lain...Mungkin aku sudah
menyerah untuk berpikir meninggalkan tempat ini.”
Aku dan Ryuzaki mendengarnya
tanpa suara.
“Kupikir kau sudah tahu ini, tapi
Industri TI berkembang hampir tiap hari. Aku memulai karir ini sejak aku masih
muda, jadi dulu aku masih bisa mengikuti mereka. Tapi kini aku sudah keluar
dari lapangan itu selama dua tahun, dan aku tahu mungkin mustahil bagiku untuk
mengejarnya kembali saat ini. Karena aku tak tahu entah aku bisa kembali ke
pekerjaan lamaku atau tidak, atau apakah aku bakal diperlakukan sebagai
halangan dan dibuang, kupikir lebih baik bagiku untuk memancing disini---"
Dia berhenti berbicara dan membentuk senyuman pada wajah tuanya yang berkerut.
Aku tak tahu apa yang harus kukatakakn. Sepertinya aku bahkan tak bisa
membayangkan apa saja yang hilang darinya saat dia terpenjara dalam AQWO.
“Aku juga---“
Ryuzaki tiba-tiba mulai
berbicara.
“Hingga setengah tahun lalu, aku
juga memikirkan hal-hal seperti itu dan menangis sendirian tiap malam. Hari
demi hari berlalu disini, dan semua: keluargaku, pergi ke kampus, dan semua
yang berhubungan dengan dunia nyata terasa runtuh. Aku selalu bermimpi tentang
dunia lain saat ku terlelap... Kupikir yang harus kulakukan hanyalah
cepat-cepat menjadi kuat, dan menyelesaikan permainan ini lebih cepat, dan
satu-satunya cara untuk itu adalah melatih keras keahlian senjataku.
Aku memandangi Ryuzaki, terkejut.
Meski aku tak pernah memerhatikan orang lain sebelumnya...tapi aku tak pernah
merasakan yang seperti ini sama sekali selama kami berhubungan. Yah, ini
bukanlah pertama kalinya aku salah menebak kepribadian seseorang...
Ryuzaki menyadari pandanganku dan
mengedipkan mata sebelah kanan sebelum melanjutkan.
“Tapi, suatu hari pada sekitar
setengah tahun lalu, tepat setelah aku berteleport ke kota di garis depan, aku
melihat seseorang tidur di rumput plaza. Dia terlihat seakan dia berlevel cukup
tinggi, jadi aku marah dan berkata, ‘Jika kau punya waktu untuk dihabiskan disini,
pergilah ke dalam dungeon dan clear lebih banyak...!”
Lalu dia menutup mulutnya dengan
tangan dan tertawa.
“Lalu orang itu secara tak
terduga menjawab, ‘Ini musim terbaik di Devicraft dan latar cuacanya juga
sangat bagus. Sayang sekali bila pergi kedalam dungeon pada hari seperti ini.’
Lau dia menunjuk ruang disebelahnya dan berkata, ‘Mengapa kau tak tidur juga?’
Dia sangat tak sopan.”
Ryuzaki berhenti tersenyum;
matanya menerawang, lalu dia melanjutkannya:
Tapi apa yang dikatakannya
mengejutkanku, Aku menyadari bahwa ‘orang ini ternyata hidup dalam arti
sebenarnya di dunia ini.’ Dia tak memikirkan kehilangan hari di dunia nyata dan
malah memusatkan diri pada menjalani hari-hari dalam dunia ini. Aku menemukan
bahwa ternyata ada orang-orang seperti uni, jadi aku mengirimkan anggota guild
lainnya untuk pergi dan mencoba berbaring di sebelahnya... Karena anginnya
terasa sangat enak....kehangatannya tepat untuk tubuh, aku terlelap. Aku tak
bermimpi buruk saat itu. Kemungkinan karena ini pertama kalinya aku mendapatkan
tidur yang nyenyak sejak masuk dunia ini. Saat kuterbangun, hari sudah siang,
dan orang itu tengah memandangiku tak sabar. Orang itu adalah dia...”
Begitu dia selesai, Aku
menggenggam tanganku erat. Aku merasa sangat malu. Aku agak-agak ingat hal
semacam itu, tapi....
“Maaf Ryuzaki...Aku tak bermaksud
yang macam-macam; Aku hanya ingin tidur siang saja....”
“Aku tahu itu bahkan jika kau tak
mengatakannya!”
Ryuzaki mencibir, lalu dia
kembali menghadap Nishida dengan senyum di wajah sebelum melanjutkan :
“Sejak hari itu...Aku terlelap
sambil memikirkannya, dan hasilnya, segala mimpi buruk menghilang. Aku
menemukan dimana kota tempat tinggalnya dan akan meluangkan waktu untuk sesekali
mengunjunginya...lalu aku mulai menunggu-nunggu datangnya esok...lalu aku
menyadari aku tengah jatuh cinta, aku sangat bahagia dan bersumpah untuk
menjaga rasa ini. Ini pertama kalinya aku berpikir datang ke dunia ini adalah
hal yang luar biasa...”
Ryuzaki menundukkan kepala,
menggosok mata dengan tangan bersarungnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.
“Rizuka adalah arti dibalik dua
tahun hidupku disini. Dia juga bukti aku hidup dan alasan untuk terus mencari
hari esok. Aku telah mengenakan Never Gear dan datang ke dunia ini untuk
menemuinya. Nishida oji-san...mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi
kupikir anda telah meraih sesuatu dalam dunia ini. Tak diragukan lagi ini
adalah dunia virtual, dimana yang kita lihat dan sentuh adalah tiruan yang
tercipta dari data. Tapi bagi kita, hati kita ada dalam realita ini. Jika itu
nyata, maka segala sesuatu yang kita alami disini juga adalah nyata.”
Nishida terus memejamkan mata dan
mengangguk beberapa kali. Matanya sembab dibelakang kacamatanya. Aku juga
berusaha sebaik mungkin untuk menahan airmataku.
Aku yang begitu, kupikir. Akulah
yang terselamatkan saat aku tak dapat menemukan untuk hidup, entah saat aku di
dunia nyata maupun setelah aku datang ke yang ini.
“...ya. Ya. kau benar...”
Nishida menerawangi langit lagi
dan berkata.
“Apa yang kudengar disni juga
adalah pengalaman tak ternilai. Pernah menangkap ikan lima meter juga
salah-satunya...sepertinya hidupku disini tidak tak berarti, tidak tak berarti
sama sekali.”
Nishida mengangguk sekali lalu
bangkit.
“Ah, sepertinya aku telah
menghabiskan waktu kalian terlalu banyak. Aku sangat yakin orang-orang seperti
kalian bertarung untuk membebaskan kami, sehingga kita semua bisa kembali ke
dunia nyata dalam waktu dekat...Meski tiada yang bisa kulakukan untuk membantu,
Aku setidaknya bisa menyemangati dan mendukung kalian terus.”
Nishida memegang tangan kami dan
bersalaman.
“Kami akan kembali. Mohon temani
kami saat itu tiba.”
Aku berjanji dengan kelingkingku,
dan Nishida mengangguk dengan senyum besar dengan air mata mengaliri wajahnya.
Kami bersalaman erat dengan
Nishida lalu berjalan menuju gerbang teleport. Begitu kamui memasuki bagian
yang bersinar-sinar bagai ilusi, Aku dan Asuna saling menatap lalu membuka
mulut kami secara bersamaan.
“Teleport—Grandum!”
Cahaya biru mulai menyelimuti
pandangan kami, menghapus gambar Nishida, yang terus melambai pada kami.
PART
22
“Kelompok perintis dibantai---!?”
Kami disambut berita mengejutkan
ini saat kami kembali ke mabes KoB di Grandum untuk kali pertama dalam dua
minggu.
Kami tengah berada di salah satu
lantai atas dari menara besi yang berfungsi sebagai HQ, didalamnya ada ruang
pertemuan dengan jendela besar dimana kami terakhir kali berbicara dengan Artix
. Artix duduk di tengah meja besar berbentuk setengah lingkaran, dalam jubah
panjangnya yang biasa. Pemimpin guild lainnya duduk di sampingnya, kecuali
Godfree yang kali ini tak hadir. Heathcliff menyatukan jemari tangan kurusnya
di depan wajahnya dan mengangguk pelan dengan muka masam nan dalam.
“Kejadiannya kemarin. Memetakan
labirin lantai tujuh puluh enam memakan waktu agak lama, tapi kami bisa
menyelesaikannya tanpa korban. Meski aku sudah mengira kami bakal mengalami
masa sulit saat mengalahkan Boss...”
Aku memang merasa bahwa hal
seperti ini akan terjadi. Sebebnya adalah, bahwa dari seluruh raja labirin,
hanya lantai 25 dan 50 yang luar biasa besar dan kuat, sehingga menyebabkan
kerusakan besar bagi kedua belah pihak yang bertarung.
Pertarungan dengan raksasa
berkepala dua di lantai 25 secara kasat mata menyapu habis prajurit elit dari
«The Army», yang merupakan sebab utama runtuhnya mereka sebagai organisasi.
Saat monster berlengan enam, yang terlihat seperti patung logam Buddha,
melancarkan serangan ganas selama pertarungan di lantai 50, banyak pemain yang
ketakutan sehingga berteleport menjauh tanpa izin dan hampir-hampir menyebabkan
garis depan runtuh, Jika bala bantuan datang sedikit lebih lambat saja, kami
akan menghadapi sapu habis lainnya. Faktanya, orang yang mempertahankan garis
sendirian selama pertarungan hingga bantuan datang berada tepat di depanku.
Jika sebuah raja yang sangat-sangat kuat menanti dia di level 76, maka hampir
bisa dipastikan raja ini sama.
“...jadi, aku mengirimkan
kelompok perintis beranggotakan 20 orang, yang berasal dari 5 guild yang
berbeda.”
Artix melanjutkan dengan nada
keras. Karena matanya sedang setengah terbuka, mustahil untuk menebak emosi di
belakang mata berwarna tembaganya.
“Mereka merintis dengan penuh
perhatian. 10 dari mereka telah tinggal di luar ruangan boss sebagai
cadangan...Tapi saat 10 yang pertama masuk dan mencapai pusat ruangan,
gerbangnya menutup tepat ketika sang raja muncul. Berdasarkan laporan 10 orang
yang menunggu di luar, pintu-pintu tetap menutup selama 5 menit, dan apapun
yang mereka lakukan, termasuk merusak kunci dan menghantam pintu, tak berefek.
Sampai dengan pintu akhirnya terbuka---“
Ujung mulut Artix menegang, Dia
memejamkan matanya sesaat lalu melanjutkan.
“Tiada orang di dalam ruangan. Si
Raja dan kesepuluh orang telah menghilang. Tiada tanda-tanda teleportasi.
Mereka tak kembali...dan aku mengirimkan seseorang untuk memeriksa daftar
kematian di monumen logam di dalam Benteng Besi Hitam untuk mengonfirmasi...”
Dia tak mengatakan bagian
selanjutnya keras-keras dan hanya menggelengkan kepalanya. Di sebelahku,
Ryuzaki menahan napas dan akhirnya berhasil memaksa suara kecilnya keluar:
“10...orang...bagaimana ini
terjadi...”
“Sebuah area anti-kristal...?”
Artix mengangguk pelan pada
pertanyaanku.
“Hanya itu penjelasannya.
Berdasarkan laporan Ryuzaki-kun, lantai 75 juga sama, jadi mungkin sekali bahwa
mulai sekarang, tiap ruangan boss akan memiliki area anti kristal.”
“Sial.”
Kutukku. Jika jalan kabur darurat
tertutup, kemungkinan tewas karena hal-hal tak terduga bakal meningkat tajam.
Janganlah kita menghasilkan korban---itu adalah tuntunan paling penting yang
harus diikuti selama menyelesaikan permainan ini. Tapi mustahil untuk
menyelesaikannya bila tak mengalahkan para raja...
“Ini semakin menjadi permainan
kematian yang sesungguhnya...”
“Namun, kita tak bisa menyerah
untuk menyelesaikan permainan karena hal ini...”
Artix memejam matanya lalu
berbicara dengan nada pelan tapi penuh hasrat:
“Sebagai tambahan dari area
anti-kristal, ruangan itu juga menutup jalan keluar begitu raja muncul. Karena
hal ini, kami hanya bisa menyerangnya dengan tim terbesar berupa pemain-pemain
yang bisa kami perintah dan koordinasi. Sebenarnya aku tak hendak memanggil
kalian berdua kembali, mengingat kalian baru saja menikah, tapi aku berharap
kalian dapat mengerti dilema kami.”
Aku menjawabnya dengan mengangkat
lengan.
“Kami akan membantu. Tapi aku
akan menempatkan keselamatan Asuna sebagai prioritas tertinggiku. Jika keadaan
berbahaya mucul, aku akan memprioritaskannya sebelum yang lain.”
Artix tersenyum dengan sikap yang
paling tak disadari.
“Yang berharap melindungi yang
lain berarti mampu mengeluarkan kekuatan terhebat. Aku berharap pada
pencapaianmu di medan tempur. Serangan akan dimulai 3 jam lagi. 23 orang,
termasuk kalian berdua, diharapkan ikut. Kita akan bertemu di depan gerbang
teleport di Collinia pada lantai 75 pada jam 1. Semuanya, Bubar.”
Begitu dia selesai, paladin merah
dan orang-orangnya bangkit serta meninggalkan ruangan.
“3 jam---Apa yang harus kita
lakukan?”
Ryuzaki menanyaiku sambil duduk
–tak-tahu-bagaimana di bangku logam. Aku hanya memandanginya dalam diam.
Tubuhnya terselimuti seragam tempur merah dengan hiasan putih, rambut hitamnya,
mata hitamnya yang berkilauan—dia begitu keren dan kuat bagaikan Chuck norris.
Saat dia menyadari aku terus
menatapnya tanpa membelokkan pandanganku, pipiku memerah dan bertanya dengan
senyum malu-malu:
“A....apa?”
Aku dengan enggan buka mulut:
“...Rizuka...”
“Apa?”
“Mohon jangan marah dan dengarkan
aku. Raja yang kita hadapi hari ini...bisakah kau tak ikut dan menunggu aku
kembali disini ?”
Pertama-tama, Ryuzaki menatapku,
lalu menundukkan kepalanya dengan wajah muram dan berkata:
“...mengapa kau mengatakan
ini...?”
“Meski Artix berkata begitu, kita
tak bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi di tempat dimana kristal tak bisa
digunakan. Aku benar-benar takut...saat aku memikirkannya...bahwa sesuatu akan
terjadi padamu...”
“Kau ingin aku menunggu di tempat
aman sementara kau pergi ke tempat yang seberbahaya itu sendirian?”
Ryuzaki bangkit dan berjalan
menuju padaku dengan langkah tegap. Matanya berkobar dengan penuh hasrat.
“Jika aku melakukan itu dan kau
tak kembali, maka aku akan bunuh diri. Aku tak hanya akan kehilangan alasanku
untuk terus hidup, aku juga takkan pernah memaafkan diriku yang hanya menunggu
disini. Jika kau ingin kabur, maka kita akan kabur bersama. Jika itu yang mau
kau lakukan, maka aku setuju dengan itu.”
Dia selesai berbicara dan
menyentuh bagian tengah dadaku dengan jemari tangan kanannya. Matanya melembut
dan sebuah senyum lembut muncul di wajahnya.
“Tapi, kau tahu...semua yang ikut
dalam pertempuran hari ini ketakutan, dan mereka semua ingin kabur. Namun,
meski takut, mereka tetap setuju bergabung. Itu karena sang pemimpin dan
Kirito...karena dua orang terkuat di dunia ini memimpin mereka...itu
pemikiranku...Aku tahu kau tak suka memikul tanggung jawab. Tapi aku berharap
kau mencobanya, hanya kali ini saja, bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk
kita...supaya kita bisa kembali ke dunia nyata, jadi ktia bisa bertemu lagi;
Aku berharap kita bisa melakukan yang terbaik bersama-sama.”
Dia mengangkat tangan kananku dan
menggenggam tanganku dengan lembut. Perasaan bahwa dia tak ingin kehilangan aku
mengalir keluar dari dasar hatinya.
“...Maaf...aku, jadi lemah untuk
sesaat. Sebenarnya, aku ingin sekali kita kabur saja. Aku tak ingin kau mati,
dan aku juga tak mau. Kita tak perlu...”
Aku menerawangi kedalam mata
Ryuzaki dan terus berbicara.
“Tak apa-apa bila kita tak bisa
kembali ke dunia nyata...Aku ingin terus hidup bersamamu di penginapan hutan
itu. Kita berdua...selamanya...”
Aku mencengkram dadanya dengan
tanganku yang lain. Dia memejamkan mata dan bermuka masam, seakan hendak
menahan sesuatu, lalu sebuah desahan kecewa keluar dari bibirnya.
“Yah...ini benar-benar seperti
mimpi...Akan bagus sekali jika kita bisa melakukan itu...menghabiskan setiap
hari bersama-sama...selamanya...”
Dia berhenti disitu dan menggigit
bibir seakan dia tengah melepaskan mimpi yang takkan tercapai. Lalu dia membuka
mata dan memandang menengadah padaku dengan wajah serius.
“Rizuka, apa kau pernah
memikirkan tentang ini...? Tentang apa yang terjadi pada tubuh nyata kita saat
ini?”
Aku tersentak dan terdiam oleh
pertanyaan tak terduga ini. Ini mungkin seseuatu yang ditanya-tanyakan tiap
pemain. Tapi karena tiada cara berhubungan dengan dunia luar, tiada guna
memikirkannya. Meski semuanya ketakutan, mereka juga menghindari menghadapi
pertanyaan ini.
“Apa kau ingat? Orang
itu...Pengenalan Sanada Akihiko di awal permainan. Dia berkata bahwa Never Gear
memperbolehkan pemutusan berjangka dua jam. Tapi alasannya adalah...”
“...Untuk memindahkan tubuh kita
ke fasilitas kesehatan yang memadai...”
Ryuzaki mengangguk ketika aku
mengucapkan ini.
“Lalu beberapa hari kemudian,
semuanya terputus selama kira-kira sejam, kan?”
Sesuatu seperti itu pasti
terjadi. Aku telah melihat pada peringatan pemutusan dan khawatir apakah Never
Gear akan membunuhku atau tidak dalam dua jam.
“Kupikir semuanya telah
dipindahkan ke RS. Tak mungkin untuk merawat seseorang yang koma dalam rumah
biasa selama bertahun-tahun. Lebih mungkin mereka memindahkan kita ke RS lalu
menyambungkan kita kembali...”
“...Ya, rasanya kau benar...”
“Jika tubuh kita hanya terbaring
di kasur, bertahan hidup hanya karena begitu banyak sambungan yang terpasang
padanya...Aku pikir tubuh kita takkan selamanya aman dalam keadaan tersebut.”
Aku tiba-tiba dilingkupi
ketakutan bahwa tubuhku mulai menghilang. Aku memeluk Ryuzaki untuk
mengonfirmasi keberadaan kami.
“...Dengan kata lain...entah kita
menyelesaikan permainan ini atau tidak...akan selalu ada batas waktu...”
“...Dan batas waktu ini berbeda
untuk tiap orang,,,Karena berbicara dengan «Sisi lain» adalah tabu, aku belum
membicarakan ini dengan orang lain...tapi kau berbeda. Aku...Aku ingin
menghabiskan seluruh hidupku di sisimu. Aku ingin berdua denganmu yang
sebenarnya, menikah yang sebenarnya denganmu, dan tumbuh tua bersama-sama.
Jadi...jadi...”
aku tak bisa melanjutkan. aku
mengubur wajahku di dadanya dan meneteskan air mata. Dia pelan-pelan mengelus
punggungku untuk membantunya menyelesaikan kata-kata.
“jadi..kita tak punya pilihan
selain bertarung saat ini...”
Ketakutanku tak benar-benar
menghilang. Tapi bagaimana mungkin aku menyerah sekarang saat Ryuzaki melakukan
yang terbaik untuk membuka masa depan kami sambil berusaha begitu keras untuk
menjaga dirinya agar tak runtuh.
Tak apa-apa—Pasti semanya
baik-baik saja. Selama kita bersama, pasti akan---
Aku mengeraskan lenganku dan
memeluk Ryuzaki kuat-kuat untuk menghilangkan perasaan muram yang mengancam
untuk menguasaiku.
PART
23
Ada sebuah grup yang jelas-jelas
terdiri dari pemain berlevel tinggi, menunggu di alun-alun gerbang teleport
level 76 di Collinia. Aku menduga mereka pasti kelompok raja. Begitu aku dan
Asuna melangkah keluar gerbang dan menuju mereka, mereka semua tutup mulut dan
mengirimkan tatapan menusuk ke arah kami. Beberapa bahkan memberikan salam
guild.
Aku berhenti melangkah karena
keterkejutan menguasaiku. Tapi Ryuzaki membalas salam mereka lalu menjitak
kepalaku.
“Hei, Rizuka, kamu kini seorang
pemimpin, jadi kau harus menyalami mereka dengan baik!”
“Apa...?”
Aku menyalami mereka dengan
canggung. Aku telah ambil bagian dalam banyak kelompok raja hingga saat ini,
tapi ini kali pertama aku mengundang begitu banyak perhatian.
“Hei!”
Seseorang menekanku di pundak,
aku memutar badan dan melihat Kuro, si pemakai katana, tersenyum di bawah
bandananya. Yang mengherankan, tubuh besar Near juga berdiri di sampingnya,
dilengkapi penuh dengan dual kapak di
genggamannya.
‘Apa?!Kalian juga ikut?”
‘Mengapa kau terkejut!? Apa kau
merendahkan kami!?”
Near berteriak tak senang.
“Aku bahkan meninggalkan tokoku
karena kudengar kalian dalam masa-masa sulit. Tapi ternyata kini kau tak
menghargai pengorbananku, ini membuatku...”
Aku memukul lengan Near begitu
dia ngomong dengan sikap berlebihannya.
“Aku sangat memahami sentimenmu.
Jadi kami bisa mengeluarkanmu saat kita berbagi barang, kan?”
Saat aku mengatakan itu, sang
raksasa menggelengkan kepala botaknya dan menyatukan alisnya membentuk angka
delapan.
“Kalau itu sih...”
Begitu suara bergetarnya memudar,
Ryuzaki dan Kuro meledak dalam tawa secara bersamaan. Ini cepat menyebar ke
pemain lainnya dan sepertinya memeras habis ketegangan semua orang.
Tepat pukul satu, beberapa pemain
baru tiba di gerbang, Ada Artix, dalam jubah merah dengan tameng berbentuk
salib di tangan, Juga para petinggi BoK. Udara tegang menyeruak sekali lagi
diantara para pemain begitu melihat para pendatang baru.
Jika kita hanya membandingkan
level dan status, orang yang lebih tinggi dari aku dan Ryuzaki mungkin hanya
Artix sendiri. tapi koordinasi memusatkan kekuatan mereka pada kerja sama.
Selain warna guild yang merah-putih, zirah dan senjata mereka sangat berbeda,
namun kekuatan ikatan diantara mereka jauh lebih tinggi dari unit «The Army»
yang pernah kami lihat.
Sang Paladin dan keempat
bawahannya melangkah lurus menuju kami, yang memisahkan kelompok yang berkumpul
menjadi dua. Klein dan Agil terpaksa mundur beberapa langkah, sementara Asuna
dnegan tenang berbalas salam dengan mereka.
Setelah berhenti, Artix
mengangguk pada kami sebelum berbicara kepada seluruh grup:
“Tampaknya semua orang sudah
datang. Terima kasih. Kupikir semua sudah mengerti keadaan kita sekarang. Ini
akan jadi pertarungan yang berat, tapi kupercaya bahwa kita akan menang karena
kekuatan kalian. Kita akan bertarung demi kebebasan kita dari permainan
ini---!”
Begitu Artix berteriak dengan
suara bertenaga, Pemain lainnya membalas dengan teriakan membahana mereka
sendiri. Aku terkejut dengan karismanya yang menarik orang lain bagai magnet.
Adalah mengejutkan melihat seseorang dengan kualitas kepemimpinan setinggi ini
diantara para pemain keras yang biasanya kurang koordinasi sosial, atau
mungkinkah dunia ini yang mengembangkan bakatnya? Aku membayangkan apa yang dilakukannya
di dunia nyata...
Artix memutar dan menghadapku
seakan dia merasakan tatapanku, lalu berkata sambil tersenyum:
“Rizuka-chann, aku berharap pada
usahamu. Kuharap kau menggunakan «Dual Blades» sepenuh tenaga.”
Tiada beban maupun rasa takut
terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah. Seseorang tak bisa tidak kagum
pada fakta bahwa Artix bisa menjaga sikap kalemnya meski menghadapi pertempuran
sulit di depan.
Setelah aku mengangguk dalam
hening, Artix berbalik pada para pemain dan mengangkat tangannya ke udara.
“Dengan ini, ktia mulai. Aku akan
membuka sebuah koridor yang langsung mengarah pada daerah di depan ruangan si
raja.”
Dia mengeluarkan sebutir kristal
biru laut dari kantongnya saat berbicara, diiringi gumaman dan keterkejutan
pemain lainnya.
Kristal-kristal teleport biasa
hanya bisa memindahkan pengguna pada gerbang teleport kota tertentu, tapi
barang yang dikeluarkan Artix adalah sebutir «Kristal Koridor», yang bisa
membuka sebuah gerbang teleport ke manapun yang ditandai pemain. Tak perlu
disebutkan disini, bahwa itu adalah barang yang sangat berguna.
Tapi karena itu, ia juga sangat
jarang dan tak dijual di toko-toko NPC Ia hanya bisa didapat dari peti harta
karun labirin atau sebagai peninggalan monster-monster, jadi beberapa pemain
tak mau menggunakannya meski mereka punya. Alasan para pemain menyuarakan
keterkejutan mereka bukanlah karena melihat sebutir barang langka, tapi karena
Artix hendak menggunakannya.
Artix mengangkat kristal
tersebut, tak memedulikan tatapan pemain lalu berteriak:
“Koridor, buka.”
Kristal yang luar biasa mahal
tersebut pecah dan sebuah topan cahaya biru muncul.
“Kini, semuanya, ikuti aku.”
Setelah dia menyapu pandangannya
ke semuanya, Heathcliff melompat ke dalam cahaya biru, diikuti kibaran pakaian
merahnya di belakang. Tubuhnya langsung ditelan cahaya itu dan menghilang dalam
sekejap. Keempat bawahan BoK-nya mengikutinya tanpa henti.
Saat ini, banyak orang mulai
berkumpul di sekitar plaza. Mereka pasti telah mendengar soal pertempuran raja
dan keluar untuk perpisahan dengan kami. Para ksatria berjalan ke dalam cahaya
satu demi satu di tengah-tengah teriakan penyemangat.
Aku, Yui dan Ryuzaki dengan cepat
menjadi satu-satunya yang tinggal. Kami saling memandang dan bertukar anggukan
kecil sebelum berpegangan tangan dan melompat kedalam topan cahaya
bersama-sama.
Setelah rasa pusing dari
teleportasi berlalu, aku membuka mataku dan melihat kami sudah berada di
labirin. Ia merupakan koridor yang cukup luas, dengan dua baris pilar nan tebal
dan sebuah gerbang raksasa di ujungnya.
Labirin lantai 76 dibangun dari
sejenis obsidian yang agak transparan. Tak seperti labirn kasar dan mentah dari
lantai-lantai bawah, batu-batu disini dipoles halus dan disusun berderet tanpa
celah di antara mereka. Udaranya dingin dan lembab, dengan selapis tipis embun
menyelubungi lantai.
Asuna merapatkan kedua lengannya
ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap:
“...Entah mengapa...aku
benar-benar merasa tak enak...”
“Ya...”
Aku mengiyakan.
Dalam dua tahun hingga sekarang,
kami sudah menyelesaikan 75 labirin dan mengalahkan monster raja dengan jumlah
sama. Setelah mengumpulkan begitu banyak pengalaman, kami bisa secara kasar
menebak kekuatan seorang raja hanya dengan melihat sarangnya.
Seluruh 30 pemain di sekitar kami
membuka jendela mereka dan memeriksa perlengkapan mereka; Wajah mereka semua
sangat serius.
Ryuzaki membimbingku ke belakang
sebatang tiang dan melingkarkan lengannya ke tubuh kecilku. Ketegangan yang
kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuhku bahkan
gemetaran.
“Jangan khawatir.”
Ryuzaki berbisik ke telingaku.
“Aku akan melindungimu.”
“Tidak...ini bukan karena aku
takut bertarung.”
"Haha.”
Ryuzaki tertawa kecil dan
melanjutkan:
“Jadi...kau harus melindungiku
juga, Rizuka.”
“Ya...pasti.”
Aku memeluknya dengan lenganku
sekali lagi sebelum melepasnya. Artix, yang telah mengeluarkan perisai
berbentuk salibnya, berbicara diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.
“Apa semuanya siap? Kita tak
punya info tentang pola kebiasaan raja. BoK akan bertanggung jawab menahan
serangan musuh; Semua harus mengambil kesempatan ini untuk menganalisa pola
serangan musuh dan membalasnya dengan tepat.”
Semua mengangguk dalam hening.
“Sekarang, saatnya beraksi.”
Kata Artix lembut. Lalu dia
berjalan penuh percaya diri ke pintu obsidian dan menempatkan tangannya di
bagian tengah. Ini menyebabkan semua jadi sangattegang.
Aku menepuk bahu Near dan Kuro,
yang keduanya berada di sampingku, dan berkata pada mereka saat mereka
berbalik:
“Jangan mati.”
“Heh, khawatirkan saja dirimu
sendiri.”
“Aku tak hendak mati sebelum aku
dapat untung dengan barang-barang langka yang kudapat dari pertarungan hari
ini.”
Saat mereka mengucapkan guyonan
sombong mereka, pintu mulai terbuka dengan suara derikan berat. Seluruh pemain
telah menyiapkan senjata mereka, jadi aku juga menghunus kedua pedang dari
penggungku. Aku menatap sekilas Ryuzaki, yang memegang pedang di tangan, lalu mengangguk padanya.
Artix yang terakhir mengeluarkan
pedang dari perisainya. Dia lalu mengangkat tangannya tingi-tinggi ke udara dan
berteriak.
“—Mulai bertarung!”
Lalu dia berjalan melalui gerbang
yang terbuka lebar ke dalam ruangan, dengan semuanya mengikuti tepat di
belakangnya.
Ruangan didalam berbentuk seperti
kubah besar. Sepertinya sebesar arena duel aku dan Heathcliff. Tembok-tembok
menjulang tinggi ke angkasa, melengkung tinggi di atas kepala kami. Tepat
setelah kedua puluh tiga pemain masuk ruangan dan membentuk formasi---pintu di
belakang kami berdebam menutup. Kini pintu itu tak mungkin terbuka kecuali
entah rajanya mati atau kami disapu habis.
Seluruh kelompok kini hening
beberapa lama. Meski kami terus mengamati lantai sekeliling, raja tetap tak
muncul. Waktu mencekik tegang syaraf kami sementara detik demi detik perlahan
berlalu.
“Hey---“
Tepat ketika seseorang tak dapat
lagi menahan ketegangan dalam keheningan itu...
“Di atas!!”
Ryuzaki bereriak dari sampingku.
Aku melihat ke atas dengan terkejut.
Di langit-langit kubah—ia di
sana.
Begitu besar dan panjang.
Seekor kelabang-!?
Pikiran itu muncul dalam pikiranku
begitu aku melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi
kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia
dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol
dari tiap sambungan. Begitu aku menggeser pandanganku ke bagian bawah tubuhnya,
bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan
tengkorak manusia. di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata
yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol
keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk
sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. Saat aku memusatkan pandanganku
padanya, nama monster itu muncul dnegan kursor kuning: «Sang Pencabik
tengkorak» ---si pembunuh pemburu berkerangka.
Pemain-pemain yang terkejut
menonton kelabang rangka tersebut melata sepanjang langit-langit pada
kaki-kakinya, tiba-tiba ia melebarkan kakinya---dan meloncat tepat kepada kami.
“Jangan hanya berdiri disana!
Menyebar!!”
Suara tajam Artix memotong udara
nan beku. Para pemain akhirnya tersadar dan mulai bergerak. Kami buru-buru
keluar dari daerah perkiraan jatuhnya.
Tapi ada 3 orang yang berada
tepat dibawah daerah perkiraan yang sedikit telat. Mereka hanya berdiri di sama
dan menengadah melihat ke atas seakan tak yakin kemana mereka harus bergerak.
“Kesini!”
Aku buru-buru berteriak. Ketiga
pemain tersebut lalu sadar dari keterpakuannya dan mulai berlari menuju
padaku---
Tapi tepat saat itu. si Kelabang
telah mendarat di belakang mereka dan seluruh lantai berguncang keas. Ketiganya
kehilangan keseimbangan karena itu, dan saat itulah si kelabang mengayunkan
lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan
mengarah langsung pada mereka.
Ketiga pemain ditebas sekali pada
punggung mereka dan langsung diterbangkan. HP mereka berkurang dengan sangat
cepat selama mereka berada di udara---langsung melewati daerah kuning ke daerah
bahaya merah---
“---!?”
Mereka semua mencapai 0, dan
ketiga tubuh yang masih berada di udara opecah menjadi serpihan-serpihan yang
tak terhitungd an tersebar. Efek suara kematian mereka saling bertabrakan.
“----!!”
Kudengar Asuna menahan napas
disampingku. Aku dapat merasakan tubuhku kaku dan terkejut.
Mereka mati---dalam satu
pukulan---?!
Dalam sistem AQWO, yang digunakan
baik dalam keahlian dan tingkatan, HP maksimum seseorang naik seiring
tingkatannya, jadi tingkat yang lebih tinggi berarti lebih sulit dibunuh tak
peduli keahlian bertarung seseorang. Kelompok disini hari ini hanya terdri dari
pemain-pemain tingkat tinggi, jadi meskipun seorang raja, semestinya semua
masih bisa menahan setidaknya satu serangan gabungan pendek---itu yang
dipikirkan semuanya. . Namun hanya dalam satu pukulan---
“Ini...mustahil...”
Ryuzaki bergumam dengan suara
yang dipaksakan keluar.
Kelabang bertulang yang telah
mengambil nyawa tiga orang dalam sekejap mengangkat tubuh bagian atasnya dan
menyerbu kelompok pemain lain dnegan raungan nan keras.
“Ahhhh---!!”
Para pemain di arah itu berteriak
panik. Sekali lagi, Sabit tulang terangkat tinggi ke udara.
Di saat kritis ini, seseorang
meloncat tepat ke bawah sabit. Itu Artix. Dia mengangkat tameng raksasanya dan
menahan serangan itu, mengirimkan suara benturan yang memecah gendang telinga
dan hujan percikan/
Tapi ada dua sabit. Dengan lengan
kiri yang terus menyerang Artix, ia mengangkat sabit kanannya dan
mengayunkannya ke bawah pada para pemain yang terpaku.
“Sialan....!”
Aku berlari hampir tanpa sadar,
dnegan cepat menolkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan diriku tepat
di depan sabit itu. Lalu aku menilangkan pedangku dan menahan serangannya,
Kekuatan besar dari benturan mengenai badanku. Tapi---sabitnya tak berhenti.
Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong mundur pedangku dan
datang padaku.
Ini terlalu kuat---!
Saat itulah, sebuah pedang baru
terbang dengan meninggalkan bekas cahaya putih dan mengenai sabit. Sebuah suara
benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, aku langsung mendorong dengan
seluruh kekuatanku dan berhasil memaksa sabit tulang itu mundur.
Di sebelahku, Ryuzaki melirik
padaku dan berkata,
“Jika kita memukulnya secara
bersamaan---kita bisa menahan serangannya! Jika itu kita, maka hal ini
mungkin!!”
“Ok—ayo selesaikan ini!”
Aku mengangguk. Hanya dengan tahu
Ryuzaki disampingku memberikanku kekuatan tak terbatas.
Begitu sabit sekali lagi
diayunkan secara horizontal pada kami, Baik aku maupun Ryuzaki mengayunkan pada
kanan bawah untuk menangkisnya. Pedang kami mengenai kepala sabit dengan
selaras sempurna, dan kali ini sabit itu dipukul mundur.
Aku menguatkan suaraku dan
berteriak:
“Kami akan menghentikan sabitnya!
Yang lain serang sampingnya!”
Ini seakan suaraku akhirnya
membebaskan semuanya dari semacam mantra. Para pemain berteriak, mengangkat
senjata mereka, dan menyerbu tubuh kelabang bertulang itu. sejumlah pukulan
menusuk tubuh musuh dengan dalam dan HP raja akhirnya sedikit berkurang.
Tapi langsung setelahnya, aku
dapat mendengar jeritan beberapa pemain. Aku berjudi dengan melirik setelah
membalas sabit, dan kulihat beberapa orang dipukul jatuh oleh tulang panjang
mirip tombak di ujung ekor kelabang.
“Argh…!”
Aku mengeraskan gigitanku. Kami
harus membantu, tapi aku dan Ryuzaki, dan juga Artix yang tengah menahan sabit
kiri sendirian di sebelah sana sudah sibuk.
“Rizuka...!”
Begitu Ryuzaki bersuara, aku
menatapnya.
---Tidak! Jika fokus kita buyar,
kita akan kena!
---Ya, kau benar...ia datang
lagi!!
--Tahan dengan gerakan memotong
vertikal kiri keatas!
Kami saling berbicara hanya
dengan bertukar lirikan dan menahan sabit dengan gerakan-gerakan yang
tersinkronisasi sempurna.
Kami memaksakan diri untuk
mengabaikan jeritan-jeritan yang dapat didengar dari waktu ke waktu dan
berkonsentrasi menahan hantaman-hantaman musuh yang bertenaga. Yang luar biasa
adalah, kami tak butuh berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Sekaan
kami tersambung langsung.Musuh menyerang dengan begitu cepat sehingga tak
meninggalkan ruang untuk bernapas, tapi kami masih bisa selalu membalasnya
dengan mengaktifkan keahlian yang sama persis di saat yang bersamaan
Tepat setelahnya-sambil bertarung
hingga setengah mati, aku mengalami perasaan yang tak pernah kurasakan
sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat surealis—Seakan aku dan Asuna menyatu
dalam satu tubuh dan mengayunkan satu pedang. HP kami kami terus berkurang
sedikit demi sedikit karena getaran terusan setelah hantaman musuh yang kami
tahan, tapi kami sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu.
PART
24
Pertarungan
berlanjut selama sejam
Rasanya bagai selamanya telah
berlalu sebelum pertarungan akhirnya selesai. Saat tubuh raksasa monster raja
pecah menjadi serpihan yang tak terhitung, tiada satupun yang memiliki energi
untuk bergembira. Semuanya entah terduduk lemas di lantai obsidian atau
terbaring sempurna dengan napas terengah-engah.
Apa ini---selesai...?
Ya---ini selesai---
Setelah kami bertukar pikiran
itu, rasanya «sambungan» antara aku dan Asuna juga putus. Kelelahan tiba-tiba
menggelayuti tubuhku dan aku berlutut ke lantai. Aku dan Asuna lalu duduk
dengan denganpunggung saling bersender, dan merasa seakan kami takkan mampu
melakukan apa-apa untuk beberapa saat. Kami berdua masih hidup---tapi bahkan
ketika aku memikirkan ini, aku tak bisa begitu senang dengan keadaan. Terlalu
banyak yang tewas. Setelah 3 kematian pertama di awal pertempuran, efek suara
suram dari pecahnya orang terus bergema dengan kecepatan tetap dan aku memaksa
diriku berhenti menghitung setelah yang keenam.
“Berapa banyak ---yang tewas...?
Kuro, yang duduk di kiriku,
bertanya dengan suara berdenging. Near yang terlentang di lantai di sebelahnya
dengan lengan dan kaki tersebar keluar, juga menghadap kesini.
Aku mengayunkan tangan kananku
untuk membuka peta dan lalu menghitung titik-titik hijau di sana. Aku
menguranginya dengan jumlah orang yang hadir saat kami pertamakali berangkat.
“---14 tewas.”
Aku tak dapat mempercayai angka
ini meski aku telah menghitungnya sendiri.
Mereka semua berlevel tinggi,
ksatria ahli yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung. Bahkan jika
kami tak bisa kabur atau sembuh seketika, kami seharusnya masih bisa
menghindari tewasnya begitu banyak orang jika kami bertarung dengan menempatkan
keselamatan terlebih dahulu—itulah yang kami semua pikir, tapi---
“...Mustahil...”
Suara Near tak menandakan
keceriaannya yang biasa. Sebuah kesuraman yang menjatuhkan jiwa menekan tengkuk
orang-orang yang selamat.
Kami hanya tiga perempat jalan
kesana---masih ada 24 lantai yang masih harus dibereskan. Tapi meski ada ribuan
pemain disini, hanya beberapa ratus yang masih serius untuk menyelesaikan
permainan. Jika tiap lantai menghasilkan korban sebanyak yang ini, maka sangat
mungkin---hanya satu orang yang akan menghadapi raja terakhir.
Jika itu yang terjadi, yang
terakhir berdiri mungkin adalah orang itu...
Aku menggeser pandanganku lebih jauh
kedalam ruangan. Diantara semua orang yang duduk di lantai, sebuah sosok
berbaju merah terus berdiri tegak. Orang itu adalah Heathcliff.
Tentu saja dia tidak tak
tersayat. Saat aku memusatkan diri padanya, kursor muncul untuk menunjukkan
HP-nya, dan aku dapat mengatakan dia telah kena beberapa hantaman. Dia telah
menahan sabit tulang itu, yang aku dan Ryuzaki harus bersusah payah menahannya,
sendirian hingga saat terakhir. Takkan aneh bila dia runtuh karena kelelahan,
terlepas dari HP-nya.
Tapi aku tak bisa merasakan
tanda-tanda kelelahan sedikitpun dari sosok tenangnya. Ini ketahanan yang sulit
dipercaya. Ini bagaikan---dia bagaikan sebuah mesin bertarung...
karena pikiranku masih
melayang-layang karena kelelahan, aku terus menatap sisi dari wajah Heathcliff.
ekspresi sang legenda tetap tenang. Dia dengan hening memandangi pada
anggota-anggota KoB dan pemain-pemain lainnya. Matanya hangat dan penuh kasih
sayang---seakan—
Seakan dia tengah memandangi
segerombolan mencit putih yang bermain namun tak akan bisa keluar dari
kandangnya.
Tepat saat itu, kurasakan sebuah
getaran merambat ke sekujur tubuhku.
Pikiranku jernih seketika.
tubuhku menjadi dingin, mulai dari ujung jemari, menyebar ke segala arah hingga
pusat otakku. Ini firasat nan aneh. Fikiran mustahil mulai mengakar di
pikiranku bagai sebuah benih dan kecurigaan tumbuh darinya.
Ekspresi di mata Artix,
ketenangan yang ditunjukkannya, bukan mata yang menenangkan sahabat-sahabatnya
yang terluka. dia tak berdiri di tingkat yang sama dengan kami. Wajahnya tengah
memberikan pengampunan dari sebuah tempat nan jauh di atas kami---ini wajah
seorang dewa...
Kufikirkan mengenai kecepatan
reaksi tak manusiawi yang Artix tunjukkan saat duel kami. Ia jauh melebihi
kecepatan manusia. Tidak, aku salah soal itu; ia jauh melebihi batas yang diset
AQWO untuk para pemainnya.
Tambahkan kelakuannya yang biasa
di atas itu: Ia seorang pemimpin dari guild terkuat, namun dia tak pernah
memberikan perintah apapun dan hanya menonton pemain lainnya mengurus segala
hal. Mungkin itu bukan karena dia mempercayai bawahannya—mungkin dia
menahan-nahan dirinya karena dia tahu hal-hal yang tak diketahui pemain-pemain
biasa.
Dia adalah semacam makhluk yang
tak terikat aturan-aturan permainan kematian ini. Tapi dia bukanlah seorang
NPC. Tak mungkin sebuah program dapat membuat wajah yang begitu penuh ampunan.
Jika dia bukan NPC maupun pemain
biasa, maka hanya ada satu kemungkinan tersisa. Tapi bagaimana caranya aku
membuktikan ini? Tak ada caranya untuk itu... tidak satupun.
Tidak, ada satu cara. Cara yang
hanya bisa kucoba disini sekarang juga.
Aku melihat batang HP Artix. Ia
telah banyak berkurang dari pertarungan keras ini. Tapi HPnya tak berkurang
hingga ke setengahnya. Ia hanya sedikit, sedikit diambang daerah biru.
Tak ada yang pernah melihat HP
orang ini jatuh ke daerah kuning. Ia memiliki pertahanan luar biasa yang tak
dapat dibandingkan dengan seorangpun. Saat dia bertarung denganku, wajahnya
berubah saat HPnya mendekati titik tengah. Itu bukan rasa takut akan berubahnya
HP-nya menjadi kuning.
Itu adalah—kemungkinan besar---
Aku perlahan mengeraskan
genggaman pada pedang di tangan kananku. Aku menarik kaki kananku ke belakang
dengan gerakan sekecil mungkin. Kubengkokkan pinggang kebelakang sedikit dan
mengambil kuda-kuda rendah. Artix tak menyadari apapun gerakanku. Pandangan
hangatnya tengah diarahkan hanya pada anggota guildnya yang kelelahan.
Jika tebakanku salah, aku akan
dilabeli kriminal dan akan dihukum tanpa ampun. Jika itu yang terjadi...maafkan
aku...
Aku melirik Ryuzaki yang duduk di
sebelahku. Dia menengadahkan kepalanya di saat yang bersamaan dan mata kami
bertemu.
“Rizuka-chan...?”
Sebuah wajah terkejut
menggelayuti Ryuzaki, dan mulutnya menganga tak bersuara. Tapi saat itu, kaki
kananku sudah menendang tanah kebelakang.
ada sekitar 10 meter antara aku
dan Artix. Aku melesat menuju dia dengan kecepatan penuh dengan tubuhku hampir
menyentuh tanah dan mencapainya seketika. Lalu aku memutar pedangku dan menusuk
ke atas. Ini adalah jurus dasar pedang bertangan satu <<Tusukan Amarah>>.
karena ini jurus lemah, ini seharusnya tak membunuh Artix meski membuat
hantaman kritis. Tapi jika tebakanku benar—
Pedang menusuk masuk dari kiri,
meninggalkan seberkas cahaya biru nan terang. Artix bereaksi dengan kecepatan
yang mengejutkan dan ekspresi terkejut nampak di wajahnya. Dia langsung
mengangkat tamengnya untuk menahan.
Tapi aku sudah melihatnya
melakukan gerakan itu berulang kali selama pertarungan kami dan aku
mengingatnya dengan jelas. Pedangku larut menjadi seberkas cahaya, mengubah arah
di tengah jalan, dan menggesek ujung tamengnya sebelum terus menusuk menuju
dadanya.
Tapi tepat sebelum pedang
menghantamnya, ia dihentikan tembok tak terlihat. Sebuah dentuman kuat menjalar
melalui lenganku. Seberkas percikan cahaya ungu berkilat dan sebuah pesan
dengan warna sama muncul---sebuah pesan sistem muncul diantara kami.
[Objek Abadi]. Ini bukan sebaris
status yang dapat dimiliki makhluk lemah seperti kami, para pemain. Apa yang
ditakutkan Artix selama pertarungan itu pasti adalah tersingkapnya pengaman
dewa ini pada semuanya.
“Rizuka, apa yang kau---“
Ryuzaki yang berteriak karena
terkejut pada serangan tiba-tibaku dan berlari setelahku, tiba-tiba berhenti
dan terpaku di tempat setelah melihat pesan itu. Aku, Artix, Yui, Kuro dan
seluruh pemain lainnya di sekitar kami juga terpaku sempurna. Pesan sistem
perlahan memudar dalam kebekuan ini.
Kurendahkan pedangku dan melompat
ke belakang sedikit, memperlebar jarak antara aku dan Artix. Ryuzaki mengambil
beberapa langkah ke depan dan berdiri di sebelahku.
“Keabadian yang dianugrahkan
sistem---bagaimana ini mungkin---Pemimpin guild...?”
Artix tak merespon bahkan setelah
mendengar suara bingung Ryuzaki. Dia hanya menatapku dengan wajah penuh amarah.
Dengan kedua pedang di tanganku, aku membuka mulutku dan berkata:
“Inilah kebenaran dibalik
legenda. HP-nya dilindungi sistem dan takkan jatuh ke dalam daerah kuning tak
peduli apa yang terjadi padanya. Status keabadian---selain NPC, hanya admin
sistem yang bisa memilikinya. Tapi permainan ini tak memiliki admin satupun,
kecuali mungkin satu orang...”
Aku berhenti berbicara di titik
ini dan menatap ke atas ke langit.
“...Aku selalu berfikir setelah
kedatanganku di dunia ini...dimana sih dia melihat kami saat dia memanipulasi
dunia ini. Tapi aku lupa satu kebenaran sederhana, yang bahkan seorang anak
kecilpun seharusnya tahu.”
Aku menatap lurus pada si paladin
merah dan melanjutkan:
“<<Tak ada yang lebih
membosankan selain menonton orang lain memainkan permainan>>. Bukankah
begitu?.....Sanada Akihiko?”
Ada keheningan yang menyentak,
seakan semuanya baru saja membeku.
Artix tengah menatapku dengan
wajah tanpa emosi. Pemain-pemain di sekitar kami tak bergerak bahkan satu
ototpun. Tidak, lebih pas kalau dibilang mereka tak dapat bergerak.
Ryuzaki mengambil satu langkah
maju dari sisiku. matanya tak mengandung sedikitpun emosi, seakan mereka
kehampaan tak berdasar. Dia membuka mulutnya sedikit dan berbicara dengan suara
kering dan lirih hampir tak terdengar.
“Pemimpin....apa ini....benar?”
Artix mengabaikan pertanyaannya.
dia malah membengkokkan kepalanya sedikit dan menanyaiku:
“..Untuk sekedar referensi,
bisakah kau menceritakan padaku bagaimana kau bisa tahu?”
“...Pertama kali aku merasa
sesuatu tak beres adalah saat pertarungan kita, karena kecepatanmu pada saat
terakhir itu terlalu cepat, itu saja.”
“Seperti yang sudah kuduga. Itu
adalah kesalahan paling besar dariku. Aku begitu kewalahan oleh kecepatanmu
sehingga akhirnya menggunakan bantuan sistem melebihi batas normalnya.”
Begitu Artix mengangguk, wajahnya
akhirnya menyingkap ekspresi lainnya; bibirnya bergerak perlahan membentuk
senyum pahit.
“Awalnya aku berharap mencapai
lantai 95 sebelum ini diuangkap.”
Senyumnya berubah menjadi penuh
kuasa sambil perlahan menyapu pandangannya ke para pemain. lalu, sang paladin
merah berkata dengan percaya diri:
“---Ya. Aku adalah Sanada
Akihiko. Aku juga raja terakhir permainan ini yang menunggu kalian di lantai
teratas.
“...Kau memeiliki selera yang
aneh. tak terpikirkan bahwa pemain terkuat tiba-tiba jadi raja terakhir yang
paling kuat.”
“Apa kau tak berfikir ini
skenario yang menarik? Awalnya aku berfikir bahwa tersingkapnya ini akan
memantik gelombang kejut ke seantero Devilcraft, tapi tak pernah kupikir aku
akan diketahui pada ¾ jalan permainan ini. Aku tahu kau adalah faktor yang
paling tak bisa diprediksi dari permainan ini, tapi tak pernah membayangkan
bahwa kau memiliki potensi semacam ini.”
Sebagai pencipta permainan ini
yang telah memenjarakan pikiran 10 ribu pemain, Sanada Akihiko tersenyum begitu
berbeda dengan yang dimiliki Artix sang Paladin. Tapi sosok tak tertandingi dan
kokoh itu entah mengapa mirip dengan avatar tak beremosi yang turun pada kami
dua tahun lalu.
Sanada melanjutkan dengan senyum
pahit:
“...Aku sudah mengira kaulah
pemain yang akan menghadapiku di akhir. Dari 10 jurus unik, <<Bilah
Ganda>> diberikan pada pemain dengan kecepatan reaksi tertinggi, yang
akan kemudian berperan sebagai pahlawan melawan raja terakhir, tak peduli dia
menang atau kalah. Tapi kau telah menujukkan padaku kekuatan melebihi
perkiraan, baik itu kecepatan maupun pandanganmu. Yah...Kupikir bahwa
perkembangan yang tak diperkirakan sebelumnya adalah bagian dari esensi RPG
online...”
Pada saat ini, salah satu pemain
yang membeku bangkit perlahan. Dia salah seorang pemimpin BoK. Matanya yang
tampak menyala berisi pederitaan tersiksa.
“Kau...kau...berani-beraninya kau
mengambil kesetiaan---harapan kami...dan...dan...mengotori mereka
shancur-hancurnya---!”
Dia mengangkat Halberd raksasanya
ke udara dan meluncurkan dirinya dengan sebuah teriakan. Bahkan tak ada waktu
untuk menghentikannya. Kami hanya bisa menonton begitu dia mengayunkan
senjatanya ke bawah pada Sanada. Tapi Sanada selangkah lebih cepat. Dia
mengayunkan tangan kirinya dan dengan cepat memanipulasi jendela yang muncul;
Orang itu langsung berhenti di tengah udara dan jatuh ke tanah dengan suara
keras. Sebuah garis batas hijau menyala di sekitar batang HP-nya, mengindikasikan
paralisis. Tapi, Sanada tak berhenti disitu dan terus menggerakkan tangannya.
“Ah...Rizuka...!”
“Mama!”
Aku berbalik dan melihat Ryuzaki dan Yui bertekuk di tanah. Bukan hanya dia, tapi seluruh pemain selain aku dan Sanada juga tertunduk ke tanah, melenguh dari posisi yang tak biasa.
Setelah menyarungkan pedangku,
aku berlutut untuk memegangi tubuh bagian atas Yui dengan lenganku, dan
menggenggam tangannya, Lalu aku balik menghadap Sanada.
“...Apa yang akan kau lakukan?
Apa kau akan membunuh kami semua untuk menyembunyikan kebenaran...?
“Tentu saja tidak. Aku takkan
pernah melakukan hal-hal yang sangat tak beralasan semacam itu.”
Orang dalam merah tersebut
tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tapi karena keadaan telah
mencapai titik ini, Aku tak punya pilihan lain. Akan memajukan jadwalku dan
menunggu kedatanganmu di «Benteng Hijau Merah» di lantai atas, Adalah memalukan
bahwa aku mesti keluar BoK, sebagaimana juga pemain lini depan lainnya, yang
telah aku kembangkan dengan hati-hati untuk bertarung melawan mob-mob di lantai
90 keatas. Tapiaku percaya kalian semua seharusnya memiliki kekuatan yang cukup
untuk mencapai lantai atas. Tapi...sebelum itu...”
Sanda tiba-tiba berhenti
berbicara dan menghadapkan matanya, yang penuh dengan kehendak yang
meluap-luap, untuk terpusat padaku. Dia lalu menarik pedangnya dnegan lembu ke
lantai obsidian, dan sebuah suara logam yang tajam nan jelas bergema di udara.
“Rizuka, karena kau telah
menyingkap identitasku yang sebenarnya, aku akan menghadaihimu sebuah
kesempatan: Kau bisa bertarung satu lawan satu dengan ku, disini sekarang juga.
Tentu saja aku akan menghilangkan status abadiku. Jika kau menang, permainan
akan langsung selesai, dan seluruh pemain bisa keluar. Apa jawabmu...?
Begitu dia mendengarnya, Ryuzaki
mulai mencoba melarang, mencoba sekerasnya untuk menggerakkan badannya yang
lumpuh sambil menggelengkan kepalanya.
“jangan, Rizuka...! Dia mencoba
langsung menghabisimu...sekarang juga...Untuk sekarang kau harus mundur...!”
Instingku berkata itu jalan
terbaik. Orang ini adalah admin yang bisa memanipulasi sistem. Meski dia bilang
ini akan menjadi pertarungan yang adil, tak ada cara untuk mengetahui apakah
dia entah bagaimana memanipulasi sistem atau tidak. Pilihan terbaik adalah
mundur untuk sekarang dan mendatangkan sebuah rencana balasan bersama yang
lainnya.
tapi...
Apa yang dikatakan orang itu?
Bahwa dia membesarkan BoK? Bahwa kami pasti mencapai...?
“Benda yang penuh sampah...”
Tanpa sadar aku bergumam dengan
suara kering.
Orang ini mengunci pikiran 10
ribu orang dalam dunia yang diciptakannya, dimana dia sudah membunuh 4 ribu
dengan gelombang elektromagnetik. Dia menonton para pemain berusaha dengan
bodoh dan kasihannya berdasarkan cerita yang disusun. Ini pasti pengalaman
paling menyenangkan yang ada bagi seorang master permainan.
Aku memikirkan masa lalu Ryuzaki,
yang terbagi denganku di lantai 24. Aku mengingat airmata yang ditumpahkannya
saat dia memelukku. Orang di depan mataku telah menciptakan dunia ini untuk
kesenangannya sendiri dan menyakiti hati Ryuzaki dalam jumlah tak terhitung,
membuatnya berdarah hebat, tak mungkin bagiku mundur dari ini.
“baiklah. Ayo kita bereskan ini.”
Aku mengangguk pelan.
“Rizuka...!”
Pada jeritan Ryuzaki yang
tertahan, aku menjatuhkan pandanganku pada sosok di lenganku. Nyeri menusuk
hatiku sekana dadaku ditusuk sampai belakang, tapi entah bagaimana aku bisa
memaksakan sebuah senyuman.
“Maaf. Tapi aku tak bisa...kabur
sekarang...”
Ryuzaki membuka mulutnya untuk
mengatakan sesuatu, tapi lalu menyerah di tengah-tengah dan mencoba sebisanya
untuk tersenyum.
Setetes airmata mengalir ke di
pipinya.
“Kau tak berencana...mengorbankan
dirimu, kan...?”
“Tentu saja...Aku pasti menang.
Aku akan menang dan mengakhiri dunia ini.”
“OK. Aku akan percaya padamu.”
Bahkan jika aku kalah dan tewas,
kau harus terus hidup---meski aku ingin mengatakan itu, tetap saja aku tak bisa
mengeluarkannya. Aku hanya bisa memegangi tangan kanan Ryuzaki dengan erat
sebagai gantinya.
Setelah aku melepaskan tangannya,
aku membaringkan tubuh Ryuzaki ke bawah di lantai obsidian lalu bangkit
berdiri. Aku perlahan menghampiri Sanada yang tengah memandangi kami tanpa
suara dan mengeluarkan kedua pedangku dengan suara tajam.
“Rizuka! Hentikan---!”
“Rizuka---!”
saat aku membalikkan kepala terhadap
sumber suara, kulihat Kuro dan Near berteriak dan berusaha sekerasnya untuk
bangkit. Aku pertama-tama memusatkan pandanganku pada Near dan mengangguk
perlahan padanya.
“Near, terima kasih atas
dukungannya pada pemain-pemain kelas petarung hingga saat ini. Aku tahu kau
menghabiskan sebagian besar uang yang kau dapat untuk membantu pemain-pemain di
lantai-lantai tengah.”
Aku tersenyum pada si raksasa
yang matanya terbuka lebar sebelum menggeser pandanganku.
Si Petarung berkatana, dengan
bandana sederhana dan pipi penuh janggut, gemetaran di lantai seakan dia masih
berusaha mencari kata-kata untuk diutarakan.
Aku menatap lurus pada mata nan
dalamnya dan mengambil napas dalam-dalam. Kali ini, tak peduli seberapa keras
aku mencoba, aku tak bisa mengendalikan suaraku yang bergetar.
“Kuro, waktu itu...Aku
benar-benar menyesal....meninggalkanmu. Aku selalu menyesalinya.”
Begitu aku menyelesaikan baris
pendek ini dengan suara parauku, sesuatu berkilar di sudut mata teman lamaku,
dan airmata langsung mengaliri satu demi satu.
Dengan airmata yang masih
memancar dari matanya, Kuro menggeliat untuk bangkit sambil berteriak keras
dengan suara parau yang hendak pecah:
“Sialan kau....! Rizuka! Jangan
meminta maaf! Jangan meminta maaf sekarang! Aku takkan memaafkanmu! Hingga kau
mentraktirku Pizza di dunia nyata, aku pasti takkan memaafkanmu!!”
Aku mengangguk pada Kuro, yang
terus berteriak.
“Ya, aku janji. nanti aku akan
mengunjungimu di dunia lain.”
Aku mengangkat tangan kananku dan
memberinya jempol.
Akhirnya aku membalikkan
pandanganku pada gadis yang membuatku mengatakan kata-kata yang telah terkubur
dalam-dalam di hatiku selama dua tahun.
Aku memandangi wajah Ryuzaki yang
tersenyum.
Aku menggumamkan permintaan maaf
kepadanya dalam pikiranku dan membalikkan badan. Aku menghadapi Sanada, yang
masih memiliki wajah penuh kuasa mutlak, dan membuka mulutku:
“...Maaf soal ini, tapi aku punya
satu hal untuk ditanyakan.”
“Apa itu?”
“Aku tak punya keinginan kalah,
tapi jika aku mati---bisakah kau mencegah player lain bunuh diri, bahkan bila
hanya untuk masa yang pendek?”
Sanada mengangkat alis karena
terkejut, tapi dengan tenang mengangguk pada permintaanku.
“Baiklah. Aku akan menyetnya
sehingga dia takkan bisa meninggalkan salemburg.”
“Mama, jangan!! Mama tak, tak
bisa melakukan ini---!!”
Yui menjerit penuh airmata di
belakangku. Tapi aku tak berbalik ke belakang. Aku menggeser kaki kananku
mundur, kubawa pedang kiriku maju sambil merendahkan pedang kanan, dan selesai
menyiapkan kuda-kudaku.
Sanada memanipulasi jendela
dengan tangan kirinya dan menyamakan batang HP kami pada tingkat yang sama.
tingkat yang tepat sebelum zona merah, dimana satu pukulan yang kuat bisa
menentukan pertarungan.
Setelah itu, pesan sistem
[berubah jadi objek mortal] muncul di atas kepanya. Kayaba lalu menutup
jendela-jendela, menarik keluar pedangnya yang dia tanam ke tanah, dan
mengangkatnya di belakang tameng berbentuk salibnya.
Pikiranku sepenuhnya tenang dan
jernih. Pikiran-pikiran semacam ‘maaf Ryuzaki, Maaf Yui’ menguap tak berbekas
begitu aku menajamkan insting bertarung dalam diriku menjadi ujung pisau.
Jujur saja, aku tak tahu tentang
kesempatan menangku. Jika kita hanya berbicara soal jurus-jurus pedang, maka
dia tak lebih baik dariku berdasarkan pertarungan terakhir. Tapi itu hanya jika
dia tak menggunakan ‘Bantuan lebih’. dimana hanya dia bisa bergerak sementara
aku sepenuhnya beku di tempat.
Ini semua tergantung pada harga
diri Sanada. Berdasarkan kata-katanya, dia berencana mengalahkanku hanya dengan
kekuatan «Pedang Suci». Jika itu benar, maka kesempatanku bertahan melalui ini
adalah mengalahkannya sebelum dia menggunakan kemampuan khusus manapun.
Jarak antara aku dan Artix
menegang. Rasanya seakan udara itu sendiri yang bergetar di bawah tekanan
kehendak membunuh yang kami pancarkan. Ini bukan lagi sebuah pertarungan,
melainkan menyabung nyawa. Ya benar---Aku akan---
“Membunuhmu...!!”
Aku meluncur ke depan dengan
teriakan tajam.
Kuayunkan pedang kanan mendatar
begitu jarak mendekat. Sanada dengan mudah menahannya dengan tamengnya. Ada
sejumlah percikan dan wajah kami diterangi untuk sedetik.
Sepertinya suara benturan logam
menandai dimulainya pertarungan kami; Senjata kami langsung mempercepat diri
kedalam kecepatan yang mematahkan rem dan mengisi ruang diantara kami.
Pertarungan ini adalah yang
teraneh, namun pertarungan paling manusiawi dari semua pertarungan yang kulalui
hingga saat ini. Kami berdua sudah saling menunjukkan jurus-jurus kami.
Terlebih lagi, inilah orang yang merancang «Bilah Ganda», sehingga dia dengan
mudah membaca kombinasi jurus biasa. Itulah mengapa dia bisa menahan semua
seranganku selama pertarungan terakhir kami.
Aku tak bisa mengandalkan
kombinasi yang diberikan sistem; Aku harus mengandalkan kemampuan dan instingku
sendiri untuk mengayunkan pedangku. Tentu saja aku tak dapat menerima bantuan
sistem dengan cara ini, tapi aku masih bisa menggerakkan lengaku dengan
kecepatan tinggi dengan bantuan indraku yang makin peka. Aku bahkan bisa
melihat bayangannya, dan tampak bagai ada lusinan pedang di tanganku.
Tapi---Sanada menahan mereka semua dengan ketepatan yang mencengangkan. Dia
juga langsung membalas begitu aku menunjukkan kelengahan sekecil apapun.
Keadaan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berubah.. Aku berkonsentrasi
pada mata Heathcliff sebagai usaha membaca bahkan sekeping pikiran dan reaksi
musuh. Akhirnya kami saling bertukar pandang sebagai hasilnya.
Tapi Mata perunggu Sanada---Artix
dingin dan sunyi. Tiada sesepora perasaan manusia yang ditunjukkannya kali
terakhir.
Tiba-tiba sebuah rasa dingin
mengaliri punggungku.
Lawanku adalah seseorang yang
tanpa ampun membunuh sekitar 4.000 orang. Bisakah seorang manusia biasa
melakukan hal semacam itu? Kematian 4.000, ktukan dari yang 4.000, dia bisa
menanggung tekanan itu dan tetap tenang sempurna---Dia bukan seorang manusia,
dia seekor monster.
“Aaaaaaah!”
Aku menjerit untuk menghapus
kepingan kecil ketakutan yang muncul dari dasar pikiranku. AKu terus
mempercepat gerakanku dan menghujaninya hantaman yang tak terhitung per detik.
Tapi wajah Kayaba tak menunjukkan perubahan. Dia menahan seluruh seranganku
dengan tameng salib dan pedang panjangnya dengan kecepatan yang tak dapat
dilihat mata telanjang.
Apa dia hanya
mempermainkanku---!?
Ketakutanku menjelma jadi ketegangan. Apa
mungkin Sanada hanya bertahan karena dia sebenarnya bisa menyerang balik
kapanpun dia mau dan percaya diri bahwa dia bisa bertahan dari bahkan sebuah
hantaman langsung dariku?
Kecurigaan mengambil alih
pikiranku. Dia bahkan tak pernah memerlukan bantuan lebih dari awal.
“Sialan...!”
Tapi---bagaimana dengan ini---?!
Aku merubah pola serangku dan
mengaktifkan «Sang Gerhana», jurus tingkat tertinggi Bilah Ganda.
Bagaikan ujung gerhana yang
menelan, pedangku mengirimkan 27 serangan beruntun pada Sanada—
Tapi---Sanada telah menungguku
menggunakan jurus kombo yang dirancang sistem. Wajahnya memunculkan ekspresi
untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai. ekspresi yang sangat
berlawanan dengan yang ditunjukkannya terakhir kali--- itu adalah senyum
seseorang yang yakin atas kemenangan.
Aku menyadari kesalahanku begitu
aku melancarkan serangan pembuka kombo ini. di saat-saat terakhir ini aku malah
bergantung pada sistem, bukan pada diriku sendiri. Tapi sudah mustahil bagiku
untuk menghentikan jurus, dan begitu serangan berhenti, aku akan berada pada
keadaan diam sesaat. Terlebih lagi, Sanada membaca seluruh pukulanku, dari awal
kombo hingga serangan terakhir. Begitu aku melihat Sanada mengayunkan tamengnya
dengan kecepatan yang membutakan, menangkis pedang-pedangku dengan pengetahuan
dimana tiap pukulan akan mendarat, aku bergumam dalam pikiranku:
Maaf—Ryuzaki...setidaknya kau
harus—terus hidup---
Serangan ke-27 mengenai bagain
tengah tameng, memancarkan hujan percikan. Lalu, dengan diiringi jeritan
berdentang logam, pedang di tangan kiriku pecah.
“Yah, ini adalah selamat
tinggal---Rizuka-chann.”
Sanada mengangkat pedangnya
tinggi-tinggi diatasku yang terbengong-bengong. Sebuah sinar merah gelap
terpancar dari pedang. Pedang merah darah itu diayunkan ke bawah padaku---
Di saat itu, sebuah suara kuat
dan bergetar bergema dalam kepalaku.
Aku—akan melindungi---Mama!!
Bayangan seseorang masuk diantara
pedang merah Sanada dan aku dengan kecepatan yang mengejutkan. Rambut panjang
hitam menari di angin di depan mataku.
Yui---bagaimana bisa---!?
Dia berdiri di depanku meski
seharusnya dia tak bisa bergerak karena lumpuh. Dia dengan berani membusungkan dadanya
dan membentangkan lengannya lebar-lebar.
Sebuah ekspresi terkejut terlihat
di wajah Sanada. Tapi tak ada yang bisa menghentikan serangannya sekarang.
Semuanya bergerak seakan dalam gerak diperlambat begitu pedang panjang itu
membelah jalannya ke bawah, melalui bahu Yui dan terus hingga ke dada sebelum
akhirnya berhenti.
Aku mengulurkan kedua tanganku
pada Yui begitu dia jatuh kebelakang padaku. dia terlentang dalam lenganku
tanpa suara.
Begitu pandangannya bertemu
denganku, Yui tersenyum lemah. Batang HP-nya---habis.
Waktu berhenti.
Matahari yang terbenam.
Padangnya. Angin sepoi-sepoinya. Cuaca yang agak dingin.
Kami berdua tengah duduk di
sepuncak bukit dan melihat ke bawah ke danau yang berkilauan dengan warna merah
keemasan dari matahari yang terbenam.
Suara daun-daun bergesekan. Suara
burung-burung yang kembali ke sarangnya,
Dengan lembut, Dia memegangi
tanganku, lalu menyenderkan kepalanya pada bahuku.
Awan-awan berlalu. Lalu
bintang-bintang mulai bermunculan satu demi satu, berkemilau di langit petang.
Kami saling bertatapan dengan
dunia yang terus merubah warnanya sedikit demi sedikit.
“Yui agak lelah. Bisakah Yui
beristirahat di pangkuan mama sebentar?”
Aku menjawab dengan sebentuk
senyuman.
“Ya, tentu saja. Beristirahatlah
dengan tenang---“
Yui di tanganku sekarang
tersenyum tepat seperti waktu itu, matanya berisi cinta tak terbatas. Tapi
berat dan kehangatan waktu itu sudah habis menghilang.
Sedikit demi sedikit, tubuh Yui
dengan perlahan ditelan seberkas cahaya emas. Sinar-sinar kecil cahaya mulai
runtuh dan menjauh.
“Ini bohongkan, ini lelucon kan… Yui… ini”
Aku bergumam dengan suara penuh
getaran. Tapi cahaya yang tak berperasaan semakin terang dan semakin terang
lalu---Setetes airmata mengalir dari mataku, yang bersinar sesaat sebelum
menghilang. Bibirnya bergerak sedikit, perlahan, seakan dia memaksakan suara
terakhirnya keluar darinya.
Maaf kan Yui Mama.
Mama telah melakukan yang terbaik
Tubuhnya mulai melayang---
Cahaya yang membutakan meledak
dalam tanganku, berubah wujud menjadi berjuta-juta bulu-bulu yang melayang di
udara.
Dan tubuhnya tak berbekas
sedikitpun.
Aku menjerit dalam sunyi dan
berusaha sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan cahaya-cahaya yang terpencar
kembali ke tanganku. Tapi bulu-bulu emas terbang ke udara seakan ditiup angin,
dimana mereka berpencar dan menghilang. Dengan begitu saja, dia telah
berpulang.
Ini bukanlah sesuatu yang
seharusnya terjadi. Ini tak mungkin terjadi. Ini seharusnya tidak.
Seharusnya---. Aku berlutut di tanah seakan aku hendak runtuh, begitu bulu
terakhir melayang turun ke telapak kananku lalu menghilang.
PART
25
Artix mengerutkan bibirnya dan
membentangkan lengannya lebar-lebar.
“Hal ini sangat mengejutkan.
Bukankah ini bagaikan skenario dari RPG konsol? Seharusnya membebaskan diri
dari kelumpuhan adalah hal yang mustahil...Jadi hal seperti ini benar-benar
bisa terjadi...”
Tapi suaranya tak terekam dalam
pikiranku. Rasanya seakan semua perasaanku terbakar habis, seakan aku terjatuh
kedalam jurang tak berdasar, ditelan keputusasaan.
Aku tidak lagi mempunyai alasan
untuk melakukan apapun.
Entah itu bertarung dalam dunia
ini, kembali ke dunia nyata, atau bahkan terus menjalani hidup, semuanya telah
kehilangan makna. Seharusnya dulu aku bunuh diri saat ketidakmampuanku dan
kelemahanku mengakibatkan kematian teman-teman seguild. Jika aku melakukannya,
maka aku takkan pernah bertemu Yui, maupun melakukan kesalahan yang sama lagi.
Mencegah Yui melidungiku Betapa
bodoh dan cerobohnya perkataan itu. Aku tak mengerti apapun sama-sekali. Dengan
begitu saja---dengan hatiku yang penuh kehampaan, bagaimana mungkin aku bisa
terus hidup...
Aku menatap pedangku dengan
hampa, sinarnya masih terpancar meski terbaring di tanah. Aku mencapainya
dengan tangan kiriku dan menggenggamnya.
Aku berusaha mencari sebekas
keberadaan Yui di senjata tipis dan gesit itu, tapi tidak ada apa-apa. Tak ada
yang tertinggal di permukaan menyilaukan tak berwajah yang bisa jadi tanda
keberadaan pemiliknya. Dengan pedangku di tangan kanan dan pedang Yui di tangan
kiri, aku perlahan bangkit. Tiada yang aku pedulikan lagi. Aku hanya ingin
pergi mencarinya berbekal kenangan waktu singkat yang kami bagi bersama.
Kupikir aku mendengar seseorang
memanggil dari belakang.
Tapi aku tak berhenti dan terus
berjalan menuju Sanada dengan pedang kananku terangkat. Aku mengambil beberapa
langkah gontai mendekatinya dan menusuk dengan pedangku.
Sanada menatap kasihan pada
gerakanku, yang tak dapat dibilang sebuah jurus maupun serangan---dia dengan
mudahnya menangkis pedangku dengan tamengnya dan menerbangkannya, dan pedang
panjang di tangan kanannnya menusuk, menerobos dadaku.
Aku menatap tanpa rasa pada
batang logam yang berkilau, yang terkubur dalam di tubuhku sendiri. Pikiranku
tak lagi memikirkan apa-apa. Yang tersisa hanyalah kesadaran hampa bahwa
segalanya telah berakhir.
Dari ujung pandanganku, aku bisa
melihat batang HP-ku berkurang perlahan. Aku tak tahu apakah ini kelanjutan
dari rasaku yang semakin tajam karena pertarungan, tapi rasanya aku bisa
melihat tiap titik menghilang. Aku memejamkan mata, berharap gambar senyum
Asuna dapat mengemuka begitu pikiranku semakin kosong.
Tapi meski aku menutup mataku,
batang HP tetap tak menghilang. Ia berkedip merah dan mengecil dengan laju tak
berperikemanusiaan. aku merasa seakan tuhan bernama sistem ini, yang telah
menoleransi keberadaanku hingga saat ini, tengah menantikan saat terakhir ini.
Hanya 10 titik untuk dihabiskan, sekarang lima titik, sekarang---
lalu, tiba-tiba aku merasakan
sebuah kemarahan yang tak pernah kualami sebelumnya.
Adalah si keparat ini yang telah
membunuh Yui. Sanada sang pencipta hanyalah sebagian darinya. Yang
merobek-robek tubuh Yui dan menghancurkan rohnya, adalah keberadaan yang
mengelilingiku sekarang ini---keinginan sistem itu sendiri, Tuhan kematian
digital yang mengejek kebodohan pemain-pemain dan mengayunkan sabitnya tanpa
ampun---
Kita ini sebenarnya apa? Apa kami
cuma sekumpulan boneka tolol yang dikendalikan benang-benang yang takkan
terputus dari sistem AQWO?
Batang HP-ku menghilang sempurna
seakan mengejek kemarahanku. Sebuah pesan ungu muncul dalam sudut pandangku:
[Kau wafat]. Itu perintah dari Tuhan untuk mati.
Sbeuah rasa dingin beres merasuki
tubuhku. Indraku mati rasa. Aku merasakan blok kode yang tak terhitung di buka,
memutus, dan menghancurkan sekujur tubuhku. Rasa dingin ini naik ke leherku dan
kedalam kepalaku. Sentuhan, suara, pandangan, semuanya jadi kabur. Sekujur
tubuhku mulai melarut---menjadi kepingan-kepingan poligon---sebelum memencar ke
segala arah---
Kau pikir aku akan biarkan itu
terjadi?
Aku membuka mataku lebar-lebar.
Aku bisa melihat. Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa melihat wajah Snada,
yang pedangnya menerobos dalam ke dadaku, dan wajah terkejut pdanya.
Mungkin indraku yang menajam
kembali, dan kematian avatarku, yang biasanya terjadi dalam sesaat, terasa
bagaikan melambat. Garis luar tubuhku masih kabur, dan partikel-partikel cahaya
masih berkilauan dan menghilang disini dan disana. Tapi aku masih ada. Aku
masih hidup.
“Hiiiiyaaaa!”
Aku menjerit sekuat tenaga. Aku
menjerit dan melawan. Melawan sistem, sang tuhan nan mutlak. Hanya untuk
menyelamatkanku, Yui yang imut dan manja telah melepaskan kelumpuhan tak
tersembuhkan dengan kekuatan keinginannya dan melemparkan dirinya pada serangan
yang mustahil ditahan. Bagaimana aku bisa jatuh sekarang tanpa melakukan
apa-apa. Aku tak bisa jatuh sekarang, tidak boleh. bahkan bila aku tak bisa
menghindari kematian---Aku harus---setidaknya---
Aku mengeraskan genggaman tangan
kiriku. Aku mengambil kembali indraku seakan menarik mereka kembali dengan
seutas benang. Rasa memegang sesuatu di tangan kiriku kembali. Pedang Yui---aku
bisa merasakan semangat yang dimilikinya. Aku bisa mendengar dia bilang padaku
agar aku tabah.
Perlahan, Lengan kiriku mulai
bergerak. Bentuknya tengah mengabur dan beberapa kepingannya terlepas dengan
gerakan sekecil apapun. Tapi ia tak berhenti. Sedikit demi sedikit, ia memakan
jiwaku untuk terangkat. Mungkin inilah harga dari perlawananku yang keras
kepala. karena nyeri tak terperi menjalari tubuhku. Tapi aku mengeraskan
gigitan dan terus bergerak. jarak yang hanya 10 cm terasa begitu jauh. Tubuhku
terasa seakan dibekukan. Hanya lengan kiriku yang masih memiliki rasa, namun
rasa dingin dengan cepat menyelimutinya juga. Sekujur tubuhku sudah bagai
patung es dengan kepingan-kepingannya yang terus lepas.
Tapi pada akhirnya, Pedang perak
itu mencapai pusat dada Snada. Sanada tak bergerak. wajah terkejutnya sudah
menghilang---sebuah senyum lembut dan damai menggantikan tempatnya. Lenganku
menghilangkan jarak yang tersisa, setengah oleh semangat, dan setengah
digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan. Snada menutup matanya dan menerima
hantaman itu bersamaan dengan menerobosnya rapier ke tubuhnya tanpa suara.
Batang HP-nya juga mengilang.
Untuk sesaat, kami hanya berdiri
disana, dengan pedang yang menusuk tubuh satu sama lain. Aku menggunakan
kekuatan yang tersisa untuk memaksa kepalaku menengadah dan melihat ke langit.
Apa ini---cukup....?
Meski aku tak bisa mendengar
jawabannya. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan menyelimuti tangan kiriku.
Akhirnya aku melepas tubuhku, yang hendak pecah-terpencar sepenuhnya.
Begitu pikiranku tenggelam lebih
dalam kedalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhku dan tubuh Kayaba pecah
menjadi ribuan kepingan di saat bersamaan. Suara biasa dari dua benda yang
dihancurkan bergema dan saling bergaung. Begitu semuanya semakin dan semakin
tertarik dalam laju yang luar biasa, Aku bisa mendengar suara-suara lemah yang
memanggil namaku. Aku pikir itu pasti suara Kuro dan Near. Lalu, pada saat ini,
suara tak berperasaan dari sistem mengumumkan---
Permainan telah diselesaikan---
Permainan telah diselesaikan--- Permainan.....
Part
26
Lalu saat aku sadar kembali, aku
menemukan diriku di dunia yang sama sekali berbeda.
Disini, terbenamnya matahari
membuat seluruh langit tampak terbakar.
Aku berdiri di lantai kristal
yang tebal. Awan-awan jingga berlalu perlahan di bawah keramik yang transparan.
Saat aku menengadahkan kepala, dapat kulihat sebentang langit yang dicelup
matahari terbenam membentang sampai horizon. Seakan dibentangkan keluar, langit
tak berujung memudar dari jingga terang, menjadi merah darah, lalu bayangan
ungu . Aku juga bisa sayup-sayup mendengar angin yang bertiup.
Itu adalah cakram kristal kecil
yang melayang diantara awan-awan di langit yang hampa; Disini aku berdiri di
tepinya.
...Apa tempat ini? Tubuhku
seharusnya menghilang setelah pecah berkeping-keping. Apakah aku masih di
AQWO...ataukah aku sudah tiba di kehidupan setelahnya?
Aku memeriksa tubuhku. Armor
merah, sarung tangan panjang, dan seluruh perlengkapanku yang lainnya sama
seperti sebelum aku tewas, kecuali semuanya menjadi agak-agak transparan. Dan
bukan hanya perlengkapanku saja, bahkan bagian tubuhku yang terbuka pun
disinari warna matahari terbenam seakan ia dibuat dari gelas semi tranparan.
Aku mengangkat tangan kananku dan
mengayunkan satu jariku. Sebuah jendela muncul dengan efek suara yang biasanya.
Oh, tempat ini masih dalam AQWO.
Tapi jendela itu tak mengandung
avatar maupun daftar menu. Sebuah layar kosong hanya menunjukkan pesan
[Menyelesaikan Fase Akhir, 54% Selesai]. Saat aku tengah memandanginya, angka
itu naik menjadi 55%. Awalnya kupikir pikiranku akan mati bersama dengan
hancurnya tubuhku, tapi apa yang tengah terjadi disini?
Saat aku mengangkat bahu dan
menutup jendela, tiba-tiba aku mendengar seberkas suara dibelakangku.
“Rizuka...”
Ia bagaikan suara dari surga.
Kejut menjalari tubuhku,
Kumohon, jangan jadikan ini hanya
bayanganku saja—Aku memohon sambil berbalik perlahan.
Dia berdiri disana dengan langit
terbakar di belakangnya.
Aku melihat Ryuzaki sedang
mengendong Yui yang sedang tertidur
Rambut panjangnya melambai lembut
dalam angin. Tapi meski sedang tertidur wajah senyum nan lembutnya dalam
jangkauan lenganku, aku tak bisa bergerak sedikitpun.
Rasanya seakan dia akan
menghilang bila pandanganku meninggalkannya bahkan untuk sedetik---Jadi aku
terus menatapnya dalam sunyi. Dia juga semi-transparan, dan merupakan hal
terindah di dunia. Dia berdiri di sana, berkilau dalam cahaya dari matahari
yang terbenam.
Aku memaksakan diri menahan
airmata dan berhasil membentuk segaris senyum. Dengan suara hampir berbisik,
aku berkata: “Maaf, aku tewas...”
“...Dasar tolol.”
Airmataku mengaliri wajahku saat
dia tersenyum. Aku membentangkan lengaku lebar-lebar dan dengan lembut memanggil
namanya:
“Ryuzaki...”
Aku memegangnya erat begitu dia
melompat kedalam lenganku dan menangis. Aku bersumpah aku takkan melepaskannya
lagi. Tak peduli apapun yang terjadi, aku takkan pernah melepaskannya lagi.
Setelah ciuman yang panjang,
akhirnya kami bisa memisahkan wajah kami untuk saling memandang. Ada begitu
banyak hal tentang pertarungan akhir yang ingin kuceritakan padanya, bahwa aku
ingin meminta maaf padanya. Tapi aku merasa kata-kata tak diperlukan lagi.
Malah, aku menggeser pandanganku pada langit tak berbatas dan membuka mulutku:
“Ini...Apa-apaan tempat ini?”
Ryuzaki mengarahkan pandangannya
kebawah dalam sunyi dan menunjuk dengan jarinya. Aku melihat ke arah itu.
Jauh di bawah tempat kami
berada---Sesuatu melayang di langit. Ia berbentuk seperti kerucut dengan ujung
terpotong. Ia terbuat dari berbagai lantai yang saling melewat. Begitu aku
memusatkan mataku, aku bahkan bisa melihat gunung-gunung kecil, hutan-hutan,
danau-danau, dan kota-kota.
“Devilcraft...”
Ryuzaki mengangguk begitu aku menggumamkan
ini. Tak salah lagi. Itu Devilcraft. Kota tua raksasa terbang yang melayari
langit tak berbatas. Kami habiskan 2 tahun, bertarung dalam dunia pedang dan
pertempuran itu, namun kini ia berada di bawah kami.
Aku telah melihat pemandangan di
luar Devilcraft sebelum aku datang ke dunia ini dalam info tentang AQWO. Tapi
ini kali ini pertama aku melihatnya di luar dengan mataku sendiri. Kutahan
napasku begitu sebuah perasaan tak tergambarkan menyergapku.
Kota tua itu---tengah
diruntuhkan,
bahkan ketika kami menonton dalam
sunyi, satu bagian dari lantai terbawah tersebar menjadi kepingan yang tak
terhitung. Begitu aku memusatkan telingaku untuk mendengarkan, aku masih bisa
mendengar suara gemuruh yang menyebar diantara angin.
“Ah....”
Aku menjerit pelan. Sebagian
besar dari lantai bawah terpotong, dan banyak bangunan, pohon dan sungai yang
tak terhitung jumlahnya jatuh ke bawah dan menghilang kedalam lautan awan.
Rumah kami ada di sekitar daerah itu. Aku merasakan kepingan kesedihan
manis-asam mengiris dadaku tiap kali ada lantai benteng yang berisi ingatan
seharga dua tahun menghilang.
Aku bertekuk, duduk di ujung
lantai dengan Ryuzaki dalam pelukannya.
Aku merasakan tenang yang aneh.
Meski aku tak tahu apa yang terjadi pada kami atau apa yang akan terjadi
sekarang, aku tak merasakan sedikitpun ketegangan. Aku telah menyelesaikan apa
yang harus kulakukan, dan untuk itu aku telah kehilangan hidup virtualku dan
kini tengah menyaksikan akhir dunia ini dengan gadis yang kucintai. Ini sudah
cukup---Hatiku sudah puas.
Ryuzaki pasti merasakan hal yang
sama. dalam pelukannya, dia menyaksikan Devilcraft runtuh dengan mata setengah
terbuka. Dengan lembut, aku mengelus rambutnya.
“Pemandangan yang luar biasa.”
Tiba-tiba aku bisa mendengar
seberkas suara dibelakang kami. Saat kami berputar ke kanan, kami melihat
seorang lelaki berdiri disana.
Dia Sanada Akihiko.
Dia muncul bukan sebagai Artix,
si paladin merah, tapi dalam wujud dia sebenarnya sebagai pengembang AQWO. Dia
mengenakan kemeja putih dengan dasi dan tutupan putih di bagian atas. Hanya dua
mata logam di wajah tajamnya terasa persis sama. Tapi kedua mata itu berisi
cahaya lembut saat memandangi benteng yang menghilang. Tubuhnya juga
semi-transparan seperti kami.
Meski kami telah bertarung hingga
tewas dengan orang ini hanya beberapa menit sebelumnya, ketenanganku terus
bertahan setelah menitnya, Mungkin kami telah meninggalkan seluruh rasa marah
dan benci kami di Devilcraft sebelum kami datang kesini. Aku memandangi Sanada
dan Kota tua bergantian.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Mungkin kau bisa
menyebutnya...perenderan metaforis.”
Suara Sanada juga agak damai.
“Kini kerangka utama AQWO yang
berada di lantai basemen kelima dari Markas Elemental tengah menghapus seluruh
data dari bank ingatannya. Dalam 10 menit berikutnya, dunia ini akan sepenuhnya
terhapus.”
“Bagaimana dengan orang-orang
yang hidup disana...Apa yang terjadi pada mereka?”
Ryuzaki tiba-tiba bertanya.
Tak perlu khawatir. beberapa saat
sebelumnya---“
Sanada menggerakkan tangan
kanannya dan melirik jendela yang muncul,
“seluruh 6.147 pemain yang
tersisa telah berhasil keluar.”
Ini berarti Kuro, Near, dan
seluruh orang lainnya yang aku kenal selama dua tahun ini telah berhasil
kembali dengan selamat ke sisi lain.
Dengan erat, kupejamkan mataku
dan membiarkan air mataku mengalir sebelum bertanya:
“...Bagaimana dengan mereka yang
mati? Kita berdua sudah tewas, namun kami terus ada disini. Bukankah itu
berarti kau bisa mengembalikan 4.000 yang tewas ke dunia asal mereka juga?”
Wajah Sanada tak berubah. Dia
menutup jendela, memasukkan tangannya ke saku, lalu berkata:
“Nyawa tak bisa disembuhkan
dengan begitu mudah. Kesadaran mereka takkan pernah kembali. Yang mati akan
menghilang---Fakta ini terus benar di dunia manapun. Aku menciptakan tempat ini
hanya karena aku ingin berbincang dengan kalian berdua—untuk satu kali
terakhir.”
Apa itu sesuatu yang bisa
dikatakan seseorang yang telah membunuh 4.000 orang?
Meski aku berpikir begitu, aku
tak merasakan amarah apapun untuk beberapa alasan yang aneh. Malah, satu pertanyaan
lainnnya menyembul di pikiranku. Ini pertanyaan dasar yang seluruh pemain,
tidak, seluruh orang yang mengetahui perkara ini akan tanyakan.
“mengapa---kau lakukan ini...?”
Aku bisa merasakan Sanada
tersenyum pahit. Setelah keheningan panjang, akhirnya di berbicara:
“Mengapa---Aku sudah lama lupa
akan itu . Mengapa aku melakukannya? Sejak aku menemukan bahwa sebuah sistem
dive sempurna tengah diciptakan---tidak, bahkan sebelumnya, aku telah ingin
membangun benteng itu, sebuah tempat yang melewati batas-batas yang dipasang di
dunia nyata. Lalu, dalam saat-saat terakhir itu...Aku melihat bahkan
aturan-aturan duniaku juga telah dilewati...”
Sanada pertama-tama memutar mata
damainya padaku, lalu langsung menggeser mereka ke tempat yang jauh.
Tutupan Snada dan rambutku
berkibar oleh angin yang semakin kuat. Setengah benteng sudah hancur. Algade,
sebidang kota yang dipenuh kenanganku, tengah disebarkan kedalam angin dan
diserap oleh awan-awan.
Sanada melanjutkan bicaranya:
“Bukankah kita semua punya banyak
mimpi sejak masa kanak-kanak? Aku sudah lupa berapa usiaku saat bayangan sebuah
benteng logam yang melayang di langit mulai memesonaku....itu adalah
pemandangan yang takkan pudar dari pikiranku tak peduli seberapa lama waktu
berlalu. Begitu aku makin dewasa, gambar itu menjadi semakin dan semakin nyata,
lebih dan lebih menyeruak. Meninggalkan dunia nyata dan terbang langsung ke
Kota tua ini...itu adalah mimpiku satu-satunya dalam waktu lama. Rizuka-chann,
Kau tahu, aku masih percaya,---bahwa entah di dunia mana, kota tua ini
benar-benar ada---.”
Tiba-tiba, aku merasa seakan aku
telah dilahirkan di dunia itu, dimana aku bermimpi menjadi seorang ksatria
berpedang. Pada suatu hari, Sang lelaki akan bertemu seorang gadis dengan mata
coklat black berry. Keduanya akan jatuh cinta, akhirnya menikah, dan akan hidup
bahagia selamanya dalam sebuah rumah kecil di tengah-tengah seladang hutan---
“Ya...itu pasti indah sekali.”
Gumamku. Ryuzaki juga mengangguk
dalam pelukannya.
Kesunyian kembala menyapa kami.
Aku membuang pandanganku pada kejauhan dan melihat bahwa bagian lain dari
benteng mulai runtuh. Aku dapat melihat lautan awan tak berbatas dan langit
merah yang tengah dimakan sebuah cahaya putih di kejauhan. erosi sudah dimulai
di semua arah dan perlahan-lahan menuju kesini.
“Ah, aku lupa mengatakan ini,
Rizuka-chan, Ryuzaki-kun...Selamat karena telah menyelesaikan permainannya.”
Kami menengadah pada Snada saat
dia mengatakan ini. Dia menunduk, melihat kami dengan ekspresi tenang di
wajahnya.
“Baiklah---Aku harus pergi
sekarang.”
Angin berhembus dan tampak
menyapu jauh sosoknya---begitu kami sadar, dia tak lagi berada dalam pandangan
kami. Hanya tampak matahari merah yang terbenam yang terus menyinari menembus
pelat kristal. Sekali lagi, Kami sendirian.
Aku menduga-duga kemana dia
pergi? Apakah dia kembali ke dunia nyata?
Tidak---dia takkan begitu. Dia
akan menghapus pikirannya sendiri dan pergi untuk mencari Devilcraft yang
sebenarnya entah di dunia mana.
Sekarang, hanya bagian atas dari
benteng yang tersisa. lantai 76 yang tak pernah sempat kami lihat mulai runtuh.
Tirai cahaya yang menghapus dunia ini perlahan mencapai kami. Begitu aura yang
bergelombang menyentuh awan-awan dan langit, mereka menghilang dan kembali pada
ketiadaan.
Aku dapat melihat istana merah
dan puncak-puncaknya di lantai tertinggi Devilcraft. Jika permainan berlanjut
sebagaimana yang direncanakan, kami akan bertarung disana melawan raja
terakhir, Artix. Bahkan meski dasar-dasar lantai teratas menghilang, istana tak
bertuan terus melayang di udara seakan hendak melawan takdirnya. Istana merah
yang tersisa di tengah-tengah langit jingga sepertinya merupakan hati dari
benteng melayang tersebut.
Pada akhirnya, kehancuran juga
menelan istana merah. Ia dibelah-belah, dimulai dari bawah dan naik ke atas,
lalu pecah kedalam kepingan-kepingan tak terhitung sebelum menghilang diantara
awan-awan. Menara tertinggi menghilang hampir di waktu yang bersamaan dengan
saat tirai cahaya menelan sekelilingnya. Kota tua raksasa Devilcraft telah
sepenuhnya dihancurkan, dan yang tersisa di dunia ini hanyalah beberapa awan
dan landasan kecil dimana aku dan Ryuzaki berdiri.
Kemungkinan kami tak punya banyak
waktu tersisa. Kami menggunakan rentang waktu pendek yang diberikan Sanada pada
kami. Dengan hancurnya dunia ini, Never Gear akan melaksanakan fungsi
terakhirnya dan menghapus apa yang tersisa dari kami.
Aku menempatkan tanganku pada
pipi Ryuzaki dan perlahan menekankan bibirku pada miliknya. Ini adalah ciuman
terakhir kami. Aku hendak menggunakan tiap detik-detik terakhir dan mengukir
sosoknya pada jiwaku,
“Sepertinya ini adalah selamat
tinggal...”
Ryuzaki menggelengkan kepalanya.
“Tidak, ini bukan. Kita akan
menghilang bersama-sama. jadi, kita akan bersama selamanya.”
Dia berbisik dengan suara yang
jelas sebelum berputar dalam pelukanku untuk menatap lurus padaku. lalu dia
membengkokkan kepalanya sedikit dan tersenyum
“Hei, bisakah kau mengatakan
namamu padaku, Rizuka? Nama aslimu?”
Pertama-tama aku tak mengerti.
tapi aku lalu sadar maksud dia adalah namaku di dunia lain yang kutinggalkan 2
tahun lalu.
Rasanya seakan hari-hari dimana
aku hidup dengan nama dan hidup lain adalah dongeng dari dunia yang teramat
jauh. Aku mengatakan namaku yang mengambang dari dasar ingatanku, entah mengapa
terasa sangat emosional.
“Rizuka...Rizuka Yamamoto.
Seharusnya aku berumur 17 bulan lalu.”
Pada saat itu, aku merasa waktu
mulai bergerak untuk diriku yang lain. Pikiran Rizuka, yang telah terkubur
dalam-dalam pada diri Rizuka sang ksatria berpedang, mulai muncul perlahan. Aku
merasakan pelindung keras yang melingkupi diriku dalam dunia ini berjatuhan
satu demi satu.
“Rizuka…Yamamoto….”
Ryuzaki menyuarakan namaku,
memusatkan diri pada tiap suku kata, lalu tertawa dengan wajah yang sedikit
kaget.
“Jadi kamu lebih muda dariku. Aku...Ryuzaki....Kazumi.
Berumur 18 tahun ini.”
Ryuzaki… Kazumi. Ryuzaki Kazumi.
Aku terus mengulang-ulang kelima suku kata ini dalam pikiranku. Tiba-tiba, aku
menyadari air mataku telah mengaliri pipiku.
Perasaanku akhirnya mulai
bergeser di tengah terbenamnya matahari yang terus berjalan. Sebuah rasa nyeri
menjalari sekujur diriku, air mata mengalir bebas menuruni pipi. Aku merasakan
segumpal sumbatan di tenggorokanku, Mengepalkan kedua tangan, lalu mulai
menangis keras bagaikan seorang anak kecil.
“Maafkan aku...maaf...Aku
berjanji...untuk mengirimkanmu....kembali...ke sisi lainnya...tapi aku...”
Aku tak dapat melanjutkannya.
Pada akhirnya, aku tak bisa menyelamatkan orang yang paling berharga bagiku.
Karena kelemahanku sendiri, Jalan yang pernah begitu cerah dan berkilauan kini
tertutup. Penyesalanku terbentuk menjadi air mataku yang mengalir tanpa akhir
dari mataku.
“Tak apa-apa... Tak apa-apa...”
Ryuzaki juga menangis. Air matanya
yang berkilau mengalir tanpa akhir bagaikan permata-permata kecil sebelum
menguap.
“Aku benar-benar bahagia. Waktu
aku pertama kali bertemu, dan hidup bersama, adalah waktu yang paling
menyenangkan dari seluruh hidupku. Terima kasih...dan aku mencintaimu...”
Akhir dunia tepat berada di
hadapan kami. Seluruh Kota tua besi dan lautan awan tak berbatas dihapus oleh
cahaya nan terang itu, meninggalkan hanya kami berdua di belakang.
Aku dan Ryuzaki saling berpelukan
dengan erat, menunggu-nunggu saat-saat terakhir.
Rasanya seakan perasaan kami
dimurnikan oleh cahaya itu. Yang tersisa dalam diriku hanyalah cintaku untuk
Ryuzaki. Aku terus memanggil namanya seakan semuanya tengah diurai dan
dipencarkan.
Cahaya memenuhi pandanganku.
Semuanya dilingkupi oleh tirai putih murni dan menghilang setelah menjadi
partikel-partikel cahaya nan mungil. Senyum Ryuzaki bercampur dalam cahaya yang
sangat kuat penelan dunia ini.
---Aku mencintaimu...Aku
mencintaimu---
Suaranya bergema bagaikan dentang
manis sebutir lonceng saat kesadaran terakhirku musnah. Garis terakhir yang
memisahkan kami menghilang dan kami menjadi satu.
Jiwa kami saling menyerap,
bergabung, lalu berpencar.
Akhirnya, kami berpisah.
PART
27
Udara disini adalah campuan
berbagai macam bau.
Fakta bahwa aku masih hidup
mengagetkanku.
Udara yang mengalir kedalam
hidungku membawa banyak informasi. Yang pertama datang adalah bau menyengat
disinfektan. Lalu datang bau dari pakaian yang dijemur di matahari, aroma manis
buah-buahan, dan bau tubuhku sendiri.
Perlahan-lahan aku membuka
mataku. Untuk sekejap, rasanya sinar putih nan kuat menusuk dalam-dalam ke
pikiranku, jadi dengan cepat aku memejamkan lagi mataku.
Beberapa saat kemudian, dengan
enggan, aku mencoba membuka mataku. Segelombang cahaya menari-nari di pupilku.
Baru beberapa saat kemudian aku sadar ada banjir cairan yang menutupi mataku.
Aku mengejapkan mata untuk menghilangkannya. Tapi cairan itu terus keluar.
Ternyata mereka adalah airmata.
Aku tengah menangis. Mengapa? Ada
perasaan nyeri yang dalam serta ganas, ditambah rasa kehilangan dalam hatiku.
Suara-suara terus bergema dalam telingaku, seakan seseorang tengah
memanggil-manggil namaku.
Aku menyipitkan mataku melawan
cahaya nan kuat itu dan akhirnya berhasil menghilangkan airmataku.
Rasanya aku tengah berbaring di
benda yang lembut.Aku dapat melihat sesuatu yang sama dengan papan-papan
langit-langit di atasku. Ada beberapa panel halus yang diwarnai coklat muda,
beberapa diantaranya berkilau lembut seakan ada cahaya di belakang mereka. Dari
ujung pandanganku, aku bisa melihat sekotak ventilasi logam dimana udara
dihembuskan keluar dengan suara rendah.
Sekotak Teh gelas...dengan kata
lain, sebuah minuman. Bagaimana sesuatu seperti itu bisa ada disini? Tak ada
tukang besi yang dapat membuat sebuah mesin tak peduli setinggi apapun status
jurus mereka. Jika apa yang kulihat benar-benar adalah sebuah mesin---maka
tempat ini bukan---
Ini bukan Devilcraft
Aku membuka mataku lebar-lebar.
Pikiranku sepenuhnya terbangun hanya dari selintas pikiran itu. Aku buru-buru membangkitkan
tubuhku---
tapi tubuhku tak mau
mendengarkanku sama sekali. Aku tak bisa menggunakan kekuatan apapun. Meski
bahu kananku terangkat beberapa sentimeter, ia langsung kembali jatuh.
Hanya tangan kananku yang bisa
digerakkan. Aku mengangkatnya ke atas tubuhku lalu membawanya ke hadapan
mataku. Untuk sesaat Aku tak bisa percaya lengan kurus kering ini adalah
punyaku. Tak mungkin aku bisa memegang sebilah pedang dengan lengan ini. saat
aku memeriksa kulit putih nan sakit lebih dekat, aku dapat melihat ribuan helai
bulu yang menyelimutinya. Aku bisa melihat vena biru di bawah kulit dan
kerutan-kerutan di sendi-sendi. Semuanya terasa begitu menakutkan; Ini begitu
nyata, begitu biologis sehingga terasa tak biasa.
Di dalam pergelanganku, ada
sehelai selotip yang memegang jarum tetap di tempatnya, dimana jarum tersebut
terhubung dengan selang panjang bagaikan digunakan untuk mengyuntikkan sesuatu.
Mataku mengikuti selang tersebut dan tertumbuk pada kemasan bening yang
digantungkan oleh sebatang tiang perak. Isi kemasan tersebut masih 2/3-nya
dengan cairan jingga, yang menetes dengan kecepatan tetap.
Aku menggerakkan tangan kiriku
dan mencoba merasakan lagi indra sentuhku. Sepertinya aku telanjang bulat dan
berbaring di atas kasur yang terbuat dari material gel yang sangat padat.
karena suhunya sedikit lebih rendah dari tubuhku, aku bisa merasakan dinginnya
perlahan mengalir padaku. Tiba-tiba, sebuah ingatan menyembul dalam pikiranku;
Aku pernah sekali melihat siaran berita dimana jenis kasur ini dikembangkan
untuk pasien-pasien yang tak bisa bergerak. Ia memiliki kemampuan mencegah
infeksi pada kulit dan mengurai bungan tubuh yang keluar.
Aku menerawangi sekelilingku. Ini
kamar yang kecil. Temboknya sama putih tawarnya dengan langit-langit. Ada
Jendela yang teramat sangat besar di kananku dengan sprei putih dibentang
menghalanginya.
Aku tak bisa melihat pemandangan
di luar, tapi aku dapat melihat sinar kuning matahari menyinari lurus menembus
serat-seratnya, Sebuah troli beroda logam empat diparkir di kiri jauh kasur jel
ini, dan sebuah keranjang rotan diletakkan diatasnya.
Sebuah buket bunga-bunga yang
terlihat tawar berada di dalamnya, yang sepertinya merupakan sumber dari aroma
manis ini. Lebih jauh lagi dari troli adalah sebuah pintu persegi panjang yang
tertutup,
Berdasarkan semua info ini,
Tempat ini seharusnya adalah ruang perawatan RS, dan aku satu-satunya yang
berada disini.
Aku mengembalikan pandanganku
pada tangan kananku yang terangkat dan tiba-tiba memikirkan sesuatu. Aku
mengayunkan tangan kanan dengan telunjuk dan jempol saling menekan.
Tak terjadi apa-apa. Tiada efek
suara maupun selayar menu. Aku mengayunkan lagi dengan sedikit lebih keras,
lalu lagi dan lagi. Hasilnya selalu sama.
Jadi, ini benar-benar bukan AQWO.
Lalu apakah ini kenyataan virtual lainnya?
Tapi info yang membanjiri dari
kelima indraku sudah berteriak padaku bahwa ada kemungkinan lain. Ini---adalah
dunia nyata. Ini adalah dunia nyata yang kutinggalkan dua tahun lalu dan tak
pernah kuharapkan untuk kulihat lagi.
Dunia nyata---Cukup lama aku
merenungkan arti dibalik kata-kata sederhana ini. Untukku, dunia pedang dan
pertempuran telah menjadi satu-satunya dunia nyataku untuk waktu yang lama. Aku
masih tak bisa mempercayai bahwa dunia lain sudah tak lagi disana, bahwa aku
sudah tak berada di dunia itu lagi.
Lalu, Apakah aku telah kembali?
---Bahkan meski aku memikirkan itu, aku tak benar-benar senang atau apapun.
Yang kurasakan hanyalah sedikit kebingungan dan rasa kehilangan.
apakah ini hadiah yang Sanada
bilang untuk menyelesaikan permainan? Aku telah jelas-jelas tewas dalam dunia
itu dan tubuhku telah sepenuhnya dihapus. Aku telah menerima itu, Aku bahkan
merasa puas dengan itu.
Ya—tak apa-apa bila aku
menghilang saja seperti itu. Di cahaya nan terang tersebut, larut, terpencar,
lalu meleleh bersama dengan bagian dunia lainnya, bersama dengannya---
“Ah...”
Secara tak sadar aku bersuara.
Sebuah nyeri kuat menembus tenggorakan yang tak digunakan selama dua tahun.
Tapi aku tak memedulikan itu sedikitpun. Aku membuka mataku lebar-lebar dan
mengatakan satu kata saja, sebaris nama yang muncul di pikiranku.
“R…yu…za…ki, Yu..i”
Ryuzaki, Yui. Nyeri yang dirasakan
hatiku bergejolak lagi. Ryuzaki, Yui suamiku dan Anakku yang tercinta, yang
menonton akhir dunia bersama denganku...
Apakah itu semua hanya mimpi...?
Sebuah khayalan indah yang kulihat di dunia virtual...? Pikiran-pikiran yang
memusingkan tiba-tiba muncul di kepalaku.
Tidak, dia benar-benar ada. Tak
mungkin seluruh hari yang kita habiskan untuk tertawa, menangis dan tidur
bersama hanya sebuah mimpi.
Sanada telah
mengatakan---“Selamat karena telah menyelsaikan permainan, Rizuka-chan, Ryuzaki-kun.”
Dia jelas-jelas mengatakan itu. Jika dia telah memasukkanku kedalam daftar yang
selamat, maka Asuna seharusnya juga kembali ke dunia ini.
Begitu aku terpikirkan soal ini,
Cinta dan rinduku padanya tumpah deras dan menjalari diriku. Aku ingin
menemuinya. Aku ingin menyentuh rambutnya. Aku ingin menciumnya. Aku ingin
mendengar suaranya yang memanggil namaku.
Aku menegangkan seluruh otot di
tubuhku dan mencoba bangkit. Hanya setelah aku menyadari bahwa kepalaku
terikat. Aku mencari-cari dengan jemariku sebelum menemukan kunci sabuk di
bawah daguku dan membukanya. Ada sesuatu yang berat di kepalaku. Aku
menggunakan kedua tangan dan hampir saja tak bisa melepasnya.
Aku duduk lalu memandangi benda
di tanganku. ia sebuah helm biru tua nan halus. Seutas kabel dengan warna sama
menyembul keluar dari pelat panjang di bagian belakangnya dan terus memanjang
hingga ke lantai. Itu adalah---
Never Gear. Aku telah terjebak
dalam dunia itu selama dua tahun karenanya. Kekuatannya telah dimatikan.
Ingatan terakhirku tentangnya adalah bahwa ia adalah helm bersinar, tapi kini
warnanya telah pudar. Beberapa telah terkelupas sehingga kau bisa melihat aloi
logam yang menjadi bahannya.
Seluruh ingatan dari dunia lain
dipegang didalamnya---Aku tiba-tiba dicengkram oleh pikiran ini dan
mengelus-elus permukaannya.
Aku berfikir bahwa aku takkan
pernah memakainya lagi. Tapi ia menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya...
Aku menggumamkan ini dalam
kepalaku sebelum menaruh helm diatas kasur. Hari-hari dimana aku bertarung
bersamanya sudah merupakan masa lalu. Ada sesuatu yang lain yang perlu aku
lakukan sekarang.
Aku tiba-tiba menyadari
suara-suara di luar. Saat aku memfokuskan telingaku, aku dapat mendengar
berbagai suara, seakan mereka bilang padaku bahwa pendengaranku sudah kembali
seperti semula.
Aku jelas-jelas mendengar
suara-suara orang yang berbicara dan berteriak. Aju mendengar suara-suara
langkah kaki yang terburu-buru dan roda-roda kasur yang dipindahkan.
Tak ada cara untuk mengetahui
apakah Ryuzaki ada dalam RS ini. pemain-pemain SAO datang dari seluruh penjuru
Jepang, jadi kecil kemungkinan dia disini. Tapi aku akan memulai pencarianku
dari sini. Tak peduli seberapa lama waktunya, aku pasti akan menemukannya.
Aku menyingkap selimutku. Ada
sejumlah kabel yang tersebar di tubuhku yang lemah. Mungkin mereka adalah
elektroda yang ditaruh untuk melambatkan degenerasi otot-ototku. Aku berhasil
menarik keluar semuanya. Seberkas LED jingga berkedip di panel yang terletak di
ujung kasurku dan segema alarm nyaring menyala, tapi aku mengabaikan semua ini.
Aku menarik jarum tetes IV keluar
dan akhirnya membebaskan tubuhku. Lalu aku menempatkan kakiku di lantai dan
perlahan menguatkan diri sebagai usaha untuk bangkit berdiri. Tubuhku terangkat
sedikit demi sedikit, tapi rasanya lututku bakal habis di menit berapapun dan
ini membuatku tersenyum pahit; Status kekuatan manusia superku tak ada
dimanapun untuk ditemukan.
Aku mencengkram tiang IV tetes
sebagai penahan dan akhirnya berhasil berdiri. Saat memandangi sekeliling
ruangan, aku menemukan gaun RS yang terlipat di baki yang sama dengan keranjang
bunga-bunga lalu aku mengenakannya.
Setelah menyelesaikan
gerakan-gerakan sederhana ini, nafasku sudah terengah-engah. Otot-otot yang tak
kugunakan selama dua tahun sudah memprotes dengan nyerinya. Tapi aku tak bisa
dengan begitu mudah mengeluh.
Cepatlah, cepatlah. Aku dapat
mendengar senada suara yang membujukku untuk terus maju. Sekujur jiwaku
merindukannya. Pertarunganku belum usai hingga aku mendapat Ryuzaki dalam
pelukanku.
Dengan cengkraman erat di tiang,
bukan di pedang, aku menyenderkan tubuhku padanya dan mengambil langkah
pertamaku menuju pintu.
Setelah beberapa lama mencari
kamar, akhirnya aku menemukan kamar yang bernama Ryuzaki Kazumi dengan cepat
aku membuka pintu itu dan terkejut.
Ryuzaki menunggu di depan jendela
dengan wajah tersenyum, dengan sigap aku mencoba berlari dan memeluk tubuh
Ryuzaki.
Suatu kehormatan aku bisa bertemu
Ryuzaki di dunia nyata dan di rumah sakit yang sama, aku menciumnya seperti dia
menciumku sebelum berpisah di Devilcraft.
Dan Tepat
sesudahnya.
Kehidupan kami berubah.
-THE END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar