Selasa, 04 Desember 2012

Adventure Quest World Online (AQWO) 21-27 End


PART 21
3 hari kemudian, Nishida memberitahu kami pagi-pagi bahwa dia akan memancing dewa setempat. Sekitar 30 orang akan ada disana untuk menonton, karena sepertinya dia telah memberitahu teman-teman pemancingnya soal ini.
“Ini sangat mengganggu. Ryuzaki...apa yang harus kita lakukan?”
"Hm~mmm..."
Sejujurnya, kami tak begitu senang dengan ini. Kami harus kesini untuk bersembunyi dari para penyebar isu dan penggemar Ryuzaki, jadi kami agak enggan kalau harus tampil di depan banyak orang.
“Bagaimana kalau begini?!”
Ryuzaki mencari topi dan kacamata hitam. Lalu dia menutupi rambutnya dengan topi dan menutup matanya dengan kacamata hitam. Tak berhenti disitu, dia memencet beberapa tombol di jendela menunya dan mengenakan jaket panjang nan tawar.
“Y-yah, Baguslah. Kau terlihat seperti petani sok keren."
“...Apa itu pujian?”
“Tentu saja. Kalau aku sih, mereka takkan mengenaliku selama aku tak memakai perlengkapan perang.”

Sebelum matahari terbit, aku berjalan keluar rumah dengan Ryuzaki dan Yui, yang membawa keranjang piknik kami. Aku bisa saja memanggilnya keluar saat kami tiba disana, tapi aku bersikeras ini bagian dari penyamaran.
Hari ini termasuk hangat, mengingat ini hari-hari awal musim dingin. Setelah berjalan melalui hutan pinus raksasa selama beberapa saat, kami akhirnya bisa melihat air yang berkilauan diantara batang-batang pohon. Banyak orang yang sudah berkumpul disana. Begitu aku menghampiri dengan segan-segan, seorang dengan figur badan yang dikenal melambai pada kami sambil terbahak-bahak.
“Wa-ha-ha, senang rasanya kita dapat cuaca baik hari ini!”
“Wah banyak orang. Kata Yui dengan suara senang”.
“Hai, Nishida oji-san.” 
Aku, Yui dan Ryuzaki menganggukkan kepala. Dia menceritakan pada kami bahwa kumpulan orang-orang disini dari berbagai umur dan kelompok adalah anggota dari guild memancing yang dijalankan Nishida. Kami menyalami semuanya dengan tegang, tapi sepertinya tiada yang mengenali Ryuzaki.
Menyisihkan hal itu, Nishida ojiisan jauh lebih aktif dari yang kubayangkan. Dia pasti seorang pemimpin kelompok yang baik dalam perusahaannya. Suasananya sudah panas, karena mereka sudah mengadakan lomba memancing sebelum kedatangan kami.
“Eh~jadi, Acara utama hari ini akhirnya dimulai!”
Nishida mengumumkannya keras-keras sambil berjalan menuju kami dengan pancingan panjang di tangan, dan para penonton bersorak kegirangan. Kulihat pancingan yang dibawanya. Mataku menelusuri pancingan dengan pikiran kosong sebelum benda di ujungnya mengejutkanku,
Yang ada di ujungnya adalah kadal, dan ukurannya sangat besar. Panjangnya selengan-atas orang dewasa. Kulit hitam-merahnya yang terlihat beracun berkilat seakan menegaskan kesegarannya.
“Hiii,---“
Ryuzaki bahkan menyadarinya lebih telat daripadaku, dan wajahnya membeku sambil mundur beberapa langkah darinya. Jika ini umpannya, apa yang akan kita berusaha tangkap pasti luar biasa.
Tapi sebelum aku sempat bertanya, Nisihida menghadap ke danau dan mengangkat pancingannya. Dengan teriakan pendek,dia mengayunkannya dengan gerakan yang bagus, dan kadal besar membentuk sebuah lengkungan di udara sebelum jatuh ke air dengan jebyur yang keras.
Memancing tak perlu waktu tunggu dalam AQWO. Begitu kau melempar umpan ke air, entah ikan mengambil umpan dalam beberapa detik, atau kau kehilangan umpan. Kami menelan ludah tanpa sadar saat menonton benang tenggalam perlahan-lahan.
Setelah beberapa saat, pancingan bergerak-gerak. Tapi Nishida tak bergerak seinci pun.
“I-ia kena, Nishida-san!”
“Sebentar lagi!”
Di belakang kacamata Nishida, sepasang mata yang biasanya mencerminkan kakek berhati hangat bercahaya. Nishida terus melihat ujung pancingan yang bergerak-gerak tanpa bergerak sedikitpun. Lalu pancingannya bergerak makin keras.
“Sekarang!”
Nishida menarik tubuh kecilnya mundur dan menarik pancingan dengan seluruh badan. Aku Bisa mengatakan talinya benar-benar tegang hanya dengan melihatnya, yang juga memberikan efek suara tang-tang.
“Ia mengambil baitnya! Aku percayakan sisanya padamu!”
Aku dengan hati-hati mengambil pancingan yang diserahkan Nishida, tapi ia tak bergeser sedikitpun. Rasanya bagai kail termakan sesuatu yang ditanam ke tanah. . Aku melihat balik pada Nishida, khawatir apa benar ikannya sudah menggigit, lalu dalam sekejap mata—
Talinya mulai tertarik kedalam air dengan kuat secara tiba-tiba.
“Ahhh!”
Aku cepat-cepat menancapkan kaki ke tanah dan menariknya ke atas lagi. Pengukur kekuatan-yang-dipakai dengan cepat menembus mode normal.
“A-apa baik-baik saja untuk menegangkannya?”
Tanyaku pada Nishida karena khawatir pada ketahanan pancingan.
“Ini kualitas tertinggi! Kau bisa menariknya sekuat yang kau mau!”
Nishida mengangguk, wajahnya sudah merah saking bergairahnya. Aku membenarkan pegangan pada pancingan lalu menariknya sekuat tenaga. Pancingannya bengkok di tengah dan membentuk U besar. Begitu tingkat pemain naik, mereka bisa memilih untuk meningkatkan kekuatan atau deksteritas.Pengguna kapak seperti Near akan memilih kekuatan, sementara pengguna Pedang seperti Ryuzaki akan fokus pada deksteritas.
Meski aku seorang pengguna pedang biasa dan meningkatkan keduanya, pilihan pribadiku cenderung memilih deksteritas sedikit di atas kekuatan.
Tapi sepertinya aku memenangkan tarik tambang ini karena levelku sendiri sudah sangat tinggi. Aku perlahan melangkah mundur, terus memaksa si besar itu keluar air.
“Ah, Aku bisa melihatnya!!”
“Wah, Sepertinya ikannya besar berjuanglah Mama”.
Ryuzaki mencondongkan badan ke air dan menunjuknya kepada Yui. Aku tengah melangkah mundur dan menjauh dari danau jadi aku tak bisa memeriksanya. Para penonton makin ribut dan berebut untuk melihat ke air, yang dengan cepat semakin dalam selepas pinggirnya. Aku tak bisa menahan kepenasaranku dan memusatkan seluruh kekuatanku untuk menarik pancingan.
“...?”
Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan seluruh penonton yang dari tadi mengerubungi air. Setiap orang mengambil beberapa langkah mundur.
“Ada yang salah...?”
Bahkan sebelum aku selesai berbicara, mereka berbalik dan kabur. Bahkan Ryuzaki, Yui dan Nishida berlari ke belakangku dari kedua sisi dengan wajah pucat. Aku baru saja hendak berbalik kebelakang untuk melihat mereka ketika – beban tanganku terangkat dan aku terjatuh dengan punggung di bawah.
Ah, apa talinya putus!?
Tepat ketika aku berpikir begitu, aku membuang pancingan dan berlari menuju danau, Saat itu, permukaan air yang berkilauan tiba-tiba menggelembung naik,
“Eh-!?”
Aku terpaku di tempat dengan mata terbelabak, dan saat itulah kudengar suara Ryuzaki dari kejauhan :
“Rizuka—cepat lari itu berbahaya---!!!”
Saat aku berbalik, kulihat Ryuzaki, Yui, Nishida, dll sudah naik ke tembok yang berdiri di ujung danau, yang cukup jauh dariku. Aku dapat mendengar air bergebyur-gebyur liar dibelakangku dan aku akhirnya mulai memahami keadaan. Lalu, dengan rasa tak enak, aku berbalik.
Ikannya berdiri.
Makhluk itu lebih tepat mirip seekor ikan raja <coelacanth>, persilangan ikan dengan kadal, tapi yang ini lebih cenderung ke sisi kadal. Ia berdiri di sana di rerumputan dengan enam kaki kuatnya dan memandnag ke bawah padaku, sedangkan air di tubuhnya jatuh bagai air terjun.
Aku berkata “memandang ke bawah” karena ini setidaknya setinggi 2 meter. Mulutnya yang tampak bisa menelan sapi bulat-bulat, berada sedikit di atas kepalaku dengan kaki kadal yang biasa kukenal terjulur keluar.
Dari kedua sisi makhluk berkepala ikan purba, dua mata seukuran bola basket bertemu dengan milikku. Sehbuah kursor kuning muncul secara otomatis untuk menandainyas sebagai monster.
Nishida sudah bilang pada kami bahwa dewa setempat dari danau ini adalah seekor monster dengan rasa beda dari yang berada di padang-padang.
Bagaimana ini berbeda? Si ini adalah seekor monster dalam tiap huruf kata-kata.
Aku memaksakan tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Lalu aku berbalik dan segera terbirit-birit. Ikan raksasa dibelakangku meraung menggelegar dan mulai mengikutiku dengan langkah yang menggetarkan bumi.
Aku memaksa stat deksteritasku hingga batas dan berlari seakan aku terbang. Aku mencapai Ryuzaki dalam beberapa detik dan mengeluh keras-keras :
“I-itu curang! Kabur sendirian!!”
“Uwa.inibukansaatnyamengatakanitu       Rizuka!!”
Aku berbalik dan melihat ikan raksasa berlari menuju kami dengan kecepatan yang mengagumkan meski ukurannya besar.
“Ooh, ia berlari di darat...jadi dia ikan yang bernapa dengan paru-paru...? 
“Rizuka-chan, ini bukan saatnya mengatakan hal tak guna semacam itu!! kita harus kabur cepat-cepat!!”
Kali ini Nishida yang berteriak ketakutan. Lusinan penonton kaget dengan keadaan, dan beberapa dari mereka terduduk di tanah dengan wajah kosong.
“Rizuka, apa kau membawa senjatamu?”
Kata Ryuzaki sambil mendekatkan kepalanya ke sebelahku. Yah, bakal sulit untuk membuat semuanya kabur dalam situasi seperti ini---
“maaf, aku tak...”
“Oh, baiklah, Berarti Aku tak punya pilihan lain...”
Ryuzaki menggelengkan kepala sambil berbalik menghadapi ikan raksasa yang mendekati kami. Dia dengan cepat membolak-balik menu dengan tangan nan ahli.
Dengan Nishida dan penonton lainnya menonton sambil terkejut, Ryuzaki melepas topu dan kacamata hitamnya dengan punggung menghadap kami. Rambut hitamnya yang berkilauan oleh matahari
Meski dia hanya mengenakan celana panjang hitam dan kaos putih panjang favoritnya, sebuah pedang bersinar di sisi kiri pinggangnya bagaikan sebuah cermin. Dia menghunusnya dengan tangan kanan, dan pedang itu mengeluarkan bunyi ring-ring bersamaan dengan menunggunya Ryuzaki untuk kedatangan ikan besar itu.
Nishida yang berdiri di sampingku, akhirnya tersadar dan menggoyangkan lenganku sambil berteriak:
“Rizuka-chan, S-suamimu nekat menerjang bahaya!!”
“Tidak, kita biarkan saja dia menangani ini.”
“Apa kau bilang!? ji-jika kau itu katamu maka aku...”
Dia menjambret sebuah pancingan dari temen yang terdekat dan bersiap berlari ke Asuna dengan wajah ngeri. Aku harus cepat-cepat menghentikan pemancing tua ini.
Ikan raksasa itu tak melambat sedikitpun. Ia membuka mulut besarnya, dimana di sana berbaris gigi tajam yang tak terhitung, dan melemparkan seluruh badannya pada Ryuzaki seakan hendak menelannya bulat-bulat.
Ryuzaki memutar sisi kiri badannya menjauh dari ikan itu dengan tangan kanan bergerak cepat keluar bersama sekilat cahaya putih di belakangnya.
Sebuah kilatan bercahaya yang membutakan menyemburat dari mulut ikan dengan efek suara ledakan. Ikan itu terlempar tinggi ke udara, tapi Ryuzaki bahkan belum bergerak dari tempatnya.
Meski ukuran besar monster itu menimbulkan rasa takut, aku telah mengira levelnya tak mungkin begitu tinggi. Tak mungkin seekor monster dari lantai bawah, terutama yang dari acara yang berhubungan dengan memancing, bisa begitu kuat. Lagipula, AQWO adalah permainan yang menjaga pola normal permainan online.
Ikan itu jatuh ke tanah dengan keras, HP-nya berkurang drastis oleh serangan Ryuzaki. Lalu, Ryuzaki dengan tanpa ampun melancarkan rangkaian serangan beruntun yang menunjuukan gelarnya «Flash».
Nishida dan penonton lainnya menonton tanpa berkata sepatah kata pun pada Ryuzaki yang mengaktifkan keahlian satu per satu sambil melangkah ringan seakan tengah menari. Apa ke elegan Ryuzaki atau kekuatannya yang memesona mereka? Aku pikir mungkin keduanya.

Begitu Ryuzaki mengayunkan pedangnya dengan aura yang menelan segala yang berada di sekitarnya, dia melihat HP lawannya telah berada pada daerah merah dan melompat kebelakang untuk memperlebar jarak di antara mereka. Setelah mendarat, dia langsung maju menyerang. Dia berlari menuju ikan itu sambil meninggalkan berkas cayaha di belakangnya bagai komet. ini adalah salah satu keahlian tertinggi rapier «Flashing Penetrator».
Dengan efek suara yang mirip ledakan sonik, komet itu menembus ikan dari mulut hingga ekor. Begitu Ryuzaki mengerem untuk berhenti, monster raksasa di belakangnya terpecah menjadi jutaan serpihan cahaya yang tersebar. Ada suara benturan keras yang menciptakan riakan besar di permukaan danau.
Ryuzaki menyarungkan rapiernya dengan sebuah “cling” dan berjalan pada kami seakan tak terjadi apa-apa. Nishida dan nelayan lainnya hanya bisa membuka mulut menganga lebar, membeku di tempat.
“Hei, kerja bagus.”
“Ini tak adil, membuatku bertarung sendirian. Kau nanti akan membeli makan siang.”
“Uang kita sekarang berupa data bersama.”
“Oh, benar...”
Selama Ryuzaki dan aku meneruskan percakapan santai kami, Nishida akhirnya bisa mengejapkan mata dan membuka mulutnya.
“...ah, itu sangat mengejutkan... Nyonya, kau, kau benar-benar kuat. Ini mungkin tak sopan, tapi seberapa tinggi levelmu...?"
Ryuzaki dan aku saling memandang. Berada di topik ini terlalu lama bakal berbahaya untuk kami.
“Se-sebelum itu, lihat, ikan itu menjatuhkan suatu item.”
Ryuzaki memencet beberapa tombol di layar dan sebuah pancingan perak muncuk di tangannya, Karena seekor monster acara yang menjatuhkannya, sepertinya bisa dipastikan ini benda langka yang tak dijual.
“Oh, ooh, ini...!?
Nishida menerima pancingan itu dengan mata berbinar. Seluruh penonton juga tertarik. Tepat saat kupikir aku sudah berhasil melalui bahaya ini dengan aman...
“Apa...apa kau Ryuzaki dari Blood of the Knights...?”
Seorang wanita muda mengambil beberapa langkah mendekat dan menatapnya penuh histeris. Lalu wajahnya mencerah.
“Yap, itu memang kau! Aku bahkan punya gambarnya!!”
“Ah..”
Ryuzaki memaksakan dirinya tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Para penonton menggandakan kegairahan mereka.
“Ini, ini sebuah kehormatan! Untuk melihat Ryuzaki-san bertarung dari dekat...Oh ya! Bisa-bisakah kau memberikanku sebuah tanda ta...”
wanita itu tiba-tiba berhenti berbicara lalu membolak-balik pandangannya antara aku dan Ryuzaki beberapa kali. Akhirnya dia menggumamkan sesuatu dengan wajah terkejut:
“Apa...apa kalian berdua telah menikah...?”
Kini giliranku memaksakan diri untuk tersenyum. Bersamaan dengan tersenyumnya kami yang dibuat-buat sambil berdiri di tempat, teriakan kemarahan meraung di sekitar kami, Hanya Nishida yang terus mengejap-ngejapkan mata tanpa mengerti apa yang tengah berlangsung.
Bulan madu rahasia kami berakhir seperti ini hanya dalam dua minggu. Tapi mungkin kami harus berpikir bahwa kami beruntung untuk mengambil bagian dalam acara yang menyenangkan di akhir.
Malam itu, kami menerima sebuah pesan dari Artix yang meminta kami mengambil bagian dalam pertarungan melawan raja lantai 75.

Paginya.
Aku duduk di ujung kasur dan memandangi lantai sedangkan Asuna dan Yui sudah selesai bersiap-siap, berjalan mendekat dengan sol besi bootnya berclang dengan tanah.
“Hei, kau tak bisa terus begini.”
“Tapi ini baru dua minggu.”
Aku menjawab dengan sikap kekanak-kanakan dan menengadahkan kepalaku. Tapi aku tak bisa membantah bahwa memandangi Ryuzaki dalam seragam baru Blood of the Knights untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ini sangat menarik.
Karena kami meninggalkan guild untuk sementara, kami bisa saja menolak permintaan ini. Tapi baris terakhir pesan, dimana “beberapa orang sudah tewas,” mengganggu pikiran kami.
“Yah, kita sebaiknya pergi untuk setidaknya mendengar apa yang terjadi. Ayo, sudah waktunya!”
Begitu dia menepukku di punggung, akhirnya aku bangkit dengan enggan dan membuka layar peralatan. Karena saat ini kami bukan bagian dari guild, aku mengenakan seragam Blood of the knights dan seset baju pelindung minimalis, lalu menyimpan dua pedang di punggung dengan dua bilahnya saling bersilangan. Beban berat di punggungku seperti mengeluhkan bahwa mereka ditinggalkan di inventori selama beberapa lama. Dengan gerakan cepat, aku menghunus mereka perlahan lalu menyarungkan mereka kembali; sebuah suara logam tinggi dan jernih bergema di kamar.
“Yah, ini penampilan yang paling cocok bagimu.”
Ryuzaki tersenyum dan memegang lengan kananku. Aku melihat ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada rumah baru kami, yang akan ditinggal jauh untuk beberapa lama.
“...Ayo kita cepat selesaikan ini lalu segera kembali.”
“Ya!”
“Ayo Yui-chan kita pergi”
“Ya Mama”
Kami saling memandang dan menganggu. Kami membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara menusuk musim dingin.
Di plaza gerbang lantai 24, kami menemukan Nishida menunggui kami dengan sebatang pancingan di tangannya. Kami bilang kapan kami akan pergi hanya kepadanya.
"Bisakah kita ngobrol sedikit?”
Aku mengguk pada permintaan Nishida, dan kami bertiga duduk saling bersebelahan di sebuah bangku di plaza. Nishida mulai berbicara perlahan sambil memandang ke atas pada lantai-lantai atas.
“Sebenarnya...hingga hari ini, cerita soal orang-orang yang bertarung untuk menyelesaikan permaninan di lantai-lantai atas terdengar seperti mereka dari dunia lain...Mungkin aku sudah menyerah untuk berpikir meninggalkan tempat ini.”
Aku dan Ryuzaki mendengarnya tanpa suara.
“Kupikir kau sudah tahu ini, tapi Industri TI berkembang hampir tiap hari. Aku memulai karir ini sejak aku masih muda, jadi dulu aku masih bisa mengikuti mereka. Tapi kini aku sudah keluar dari lapangan itu selama dua tahun, dan aku tahu mungkin mustahil bagiku untuk mengejarnya kembali saat ini. Karena aku tak tahu entah aku bisa kembali ke pekerjaan lamaku atau tidak, atau apakah aku bakal diperlakukan sebagai halangan dan dibuang, kupikir lebih baik bagiku untuk memancing disini---" Dia berhenti berbicara dan membentuk senyuman pada wajah tuanya yang berkerut. Aku tak tahu apa yang harus kukatakakn. Sepertinya aku bahkan tak bisa membayangkan apa saja yang hilang darinya saat dia terpenjara dalam AQWO.
“Aku juga---“
Ryuzaki tiba-tiba mulai berbicara.
“Hingga setengah tahun lalu, aku juga memikirkan hal-hal seperti itu dan menangis sendirian tiap malam. Hari demi hari berlalu disini, dan semua: keluargaku, pergi ke kampus, dan semua yang berhubungan dengan dunia nyata terasa runtuh. Aku selalu bermimpi tentang dunia lain saat ku terlelap... Kupikir yang harus kulakukan hanyalah cepat-cepat menjadi kuat, dan menyelesaikan permainan ini lebih cepat, dan satu-satunya cara untuk itu adalah melatih keras keahlian senjataku.
Aku memandangi Ryuzaki, terkejut. Meski aku tak pernah memerhatikan orang lain sebelumnya...tapi aku tak pernah merasakan yang seperti ini sama sekali selama kami berhubungan. Yah, ini bukanlah pertama kalinya aku salah menebak kepribadian seseorang...
Ryuzaki menyadari pandanganku dan mengedipkan mata sebelah kanan sebelum melanjutkan.
“Tapi, suatu hari pada sekitar setengah tahun lalu, tepat setelah aku berteleport ke kota di garis depan, aku melihat seseorang tidur di rumput plaza. Dia terlihat seakan dia berlevel cukup tinggi, jadi aku marah dan berkata, ‘Jika kau punya waktu untuk dihabiskan disini, pergilah ke dalam dungeon dan clear lebih banyak...!”
Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa.
“Lalu orang itu secara tak terduga menjawab, ‘Ini musim terbaik di Devicraft dan latar cuacanya juga sangat bagus. Sayang sekali bila pergi kedalam dungeon pada hari seperti ini.’ Lau dia menunjuk ruang disebelahnya dan berkata, ‘Mengapa kau tak tidur juga?’ Dia sangat tak sopan.”
Ryuzaki berhenti tersenyum; matanya menerawang, lalu dia melanjutkannya:
Tapi apa yang dikatakannya mengejutkanku, Aku menyadari bahwa ‘orang ini ternyata hidup dalam arti sebenarnya di dunia ini.’ Dia tak memikirkan kehilangan hari di dunia nyata dan malah memusatkan diri pada menjalani hari-hari dalam dunia ini. Aku menemukan bahwa ternyata ada orang-orang seperti uni, jadi aku mengirimkan anggota guild lainnya untuk pergi dan mencoba berbaring di sebelahnya... Karena anginnya terasa sangat enak....kehangatannya tepat untuk tubuh, aku terlelap. Aku tak bermimpi buruk saat itu. Kemungkinan karena ini pertama kalinya aku mendapatkan tidur yang nyenyak sejak masuk dunia ini. Saat kuterbangun, hari sudah siang, dan orang itu tengah memandangiku tak sabar. Orang itu adalah dia...”
Begitu dia selesai, Aku menggenggam tanganku erat. Aku merasa sangat malu. Aku agak-agak ingat hal semacam itu, tapi....
“Maaf Ryuzaki...Aku tak bermaksud yang macam-macam; Aku hanya ingin tidur siang saja....”
“Aku tahu itu bahkan jika kau tak mengatakannya!”
Ryuzaki mencibir, lalu dia kembali menghadap Nishida dengan senyum di wajah sebelum melanjutkan :
“Sejak hari itu...Aku terlelap sambil memikirkannya, dan hasilnya, segala mimpi buruk menghilang. Aku menemukan dimana kota tempat tinggalnya dan akan meluangkan waktu untuk sesekali mengunjunginya...lalu aku mulai menunggu-nunggu datangnya esok...lalu aku menyadari aku tengah jatuh cinta, aku sangat bahagia dan bersumpah untuk menjaga rasa ini. Ini pertama kalinya aku berpikir datang ke dunia ini adalah hal yang luar biasa...”
Ryuzaki menundukkan kepala, menggosok mata dengan tangan bersarungnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.
“Rizuka adalah arti dibalik dua tahun hidupku disini. Dia juga bukti aku hidup dan alasan untuk terus mencari hari esok. Aku telah mengenakan Never Gear dan datang ke dunia ini untuk menemuinya. Nishida oji-san...mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi kupikir anda telah meraih sesuatu dalam dunia ini. Tak diragukan lagi ini adalah dunia virtual, dimana yang kita lihat dan sentuh adalah tiruan yang tercipta dari data. Tapi bagi kita, hati kita ada dalam realita ini. Jika itu nyata, maka segala sesuatu yang kita alami disini juga adalah nyata.”
Nishida terus memejamkan mata dan mengangguk beberapa kali. Matanya sembab dibelakang kacamatanya. Aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menahan airmataku.
Aku yang begitu, kupikir. Akulah yang terselamatkan saat aku tak dapat menemukan untuk hidup, entah saat aku di dunia nyata maupun setelah aku datang ke yang ini.
“...ya. Ya. kau benar...”
Nishida menerawangi langit lagi dan berkata.
“Apa yang kudengar disni juga adalah pengalaman tak ternilai. Pernah menangkap ikan lima meter juga salah-satunya...sepertinya hidupku disini tidak tak berarti, tidak tak berarti sama sekali.”
Nishida mengangguk sekali lalu bangkit.
“Ah, sepertinya aku telah menghabiskan waktu kalian terlalu banyak. Aku sangat yakin orang-orang seperti kalian bertarung untuk membebaskan kami, sehingga kita semua bisa kembali ke dunia nyata dalam waktu dekat...Meski tiada yang bisa kulakukan untuk membantu, Aku setidaknya bisa menyemangati dan mendukung kalian terus.”
Nishida memegang tangan kami dan bersalaman.
“Kami akan kembali. Mohon temani kami saat itu tiba.”
Aku berjanji dengan kelingkingku, dan Nishida mengangguk dengan senyum besar dengan air mata mengaliri wajahnya.
Kami bersalaman erat dengan Nishida lalu berjalan menuju gerbang teleport. Begitu kamui memasuki bagian yang bersinar-sinar bagai ilusi, Aku dan Asuna saling menatap lalu membuka mulut kami secara bersamaan.
“Teleport—Grandum!”
Cahaya biru mulai menyelimuti pandangan kami, menghapus gambar Nishida, yang terus melambai pada kami.

PART 22
“Kelompok perintis dibantai---!?”
Kami disambut berita mengejutkan ini saat kami kembali ke mabes KoB di Grandum untuk kali pertama dalam dua minggu.
Kami tengah berada di salah satu lantai atas dari menara besi yang berfungsi sebagai HQ, didalamnya ada ruang pertemuan dengan jendela besar dimana kami terakhir kali berbicara dengan Artix . Artix duduk di tengah meja besar berbentuk setengah lingkaran, dalam jubah panjangnya yang biasa. Pemimpin guild lainnya duduk di sampingnya, kecuali Godfree yang kali ini tak hadir. Heathcliff menyatukan jemari tangan kurusnya di depan wajahnya dan mengangguk pelan dengan muka masam nan dalam.
“Kejadiannya kemarin. Memetakan labirin lantai tujuh puluh enam memakan waktu agak lama, tapi kami bisa menyelesaikannya tanpa korban. Meski aku sudah mengira kami bakal mengalami masa sulit saat mengalahkan Boss...”
Aku memang merasa bahwa hal seperti ini akan terjadi. Sebebnya adalah, bahwa dari seluruh raja labirin, hanya lantai 25 dan 50 yang luar biasa besar dan kuat, sehingga menyebabkan kerusakan besar bagi kedua belah pihak yang bertarung.
Pertarungan dengan raksasa berkepala dua di lantai 25 secara kasat mata menyapu habis prajurit elit dari «The Army», yang merupakan sebab utama runtuhnya mereka sebagai organisasi. Saat monster berlengan enam, yang terlihat seperti patung logam Buddha, melancarkan serangan ganas selama pertarungan di lantai 50, banyak pemain yang ketakutan sehingga berteleport menjauh tanpa izin dan hampir-hampir menyebabkan garis depan runtuh, Jika bala bantuan datang sedikit lebih lambat saja, kami akan menghadapi sapu habis lainnya. Faktanya, orang yang mempertahankan garis sendirian selama pertarungan hingga bantuan datang berada tepat di depanku. Jika sebuah raja yang sangat-sangat kuat menanti dia di level 76, maka hampir bisa dipastikan raja ini sama.
“...jadi, aku mengirimkan kelompok perintis beranggotakan 20 orang, yang berasal dari 5 guild yang berbeda.”
Artix melanjutkan dengan nada keras. Karena matanya sedang setengah terbuka, mustahil untuk menebak emosi di belakang mata berwarna tembaganya.
“Mereka merintis dengan penuh perhatian. 10 dari mereka telah tinggal di luar ruangan boss sebagai cadangan...Tapi saat 10 yang pertama masuk dan mencapai pusat ruangan, gerbangnya menutup tepat ketika sang raja muncul. Berdasarkan laporan 10 orang yang menunggu di luar, pintu-pintu tetap menutup selama 5 menit, dan apapun yang mereka lakukan, termasuk merusak kunci dan menghantam pintu, tak berefek. Sampai dengan pintu akhirnya terbuka---“
Ujung mulut Artix menegang, Dia memejamkan matanya sesaat lalu melanjutkan.
“Tiada orang di dalam ruangan. Si Raja dan kesepuluh orang telah menghilang. Tiada tanda-tanda teleportasi. Mereka tak kembali...dan aku mengirimkan seseorang untuk memeriksa daftar kematian di monumen logam di dalam Benteng Besi Hitam untuk mengonfirmasi...”
Dia tak mengatakan bagian selanjutnya keras-keras dan hanya menggelengkan kepalanya. Di sebelahku, Ryuzaki menahan napas dan akhirnya berhasil memaksa suara kecilnya keluar:
“10...orang...bagaimana ini terjadi...”
“Sebuah area anti-kristal...?”
Artix mengangguk pelan pada pertanyaanku.
“Hanya itu penjelasannya. Berdasarkan laporan Ryuzaki-kun, lantai 75 juga sama, jadi mungkin sekali bahwa mulai sekarang, tiap ruangan boss akan memiliki area anti kristal.”
“Sial.”
Kutukku. Jika jalan kabur darurat tertutup, kemungkinan tewas karena hal-hal tak terduga bakal meningkat tajam. Janganlah kita menghasilkan korban---itu adalah tuntunan paling penting yang harus diikuti selama menyelesaikan permainan ini. Tapi mustahil untuk menyelesaikannya bila tak mengalahkan para raja...
“Ini semakin menjadi permainan kematian yang sesungguhnya...”
“Namun, kita tak bisa menyerah untuk menyelesaikan permainan karena hal ini...”
Artix memejam matanya lalu berbicara dengan nada pelan tapi penuh hasrat:
“Sebagai tambahan dari area anti-kristal, ruangan itu juga menutup jalan keluar begitu raja muncul. Karena hal ini, kami hanya bisa menyerangnya dengan tim terbesar berupa pemain-pemain yang bisa kami perintah dan koordinasi. Sebenarnya aku tak hendak memanggil kalian berdua kembali, mengingat kalian baru saja menikah, tapi aku berharap kalian dapat mengerti dilema kami.”
Aku menjawabnya dengan mengangkat lengan.
“Kami akan membantu. Tapi aku akan menempatkan keselamatan Asuna sebagai prioritas tertinggiku. Jika keadaan berbahaya mucul, aku akan memprioritaskannya sebelum yang lain.”
Artix tersenyum dengan sikap yang paling tak disadari.
“Yang berharap melindungi yang lain berarti mampu mengeluarkan kekuatan terhebat. Aku berharap pada pencapaianmu di medan tempur. Serangan akan dimulai 3 jam lagi. 23 orang, termasuk kalian berdua, diharapkan ikut. Kita akan bertemu di depan gerbang teleport di Collinia pada lantai 75 pada jam 1. Semuanya, Bubar.”
Begitu dia selesai, paladin merah dan orang-orangnya bangkit serta meninggalkan ruangan.
“3 jam---Apa yang harus kita lakukan?”
Ryuzaki menanyaiku sambil duduk –tak-tahu-bagaimana di bangku logam. Aku hanya memandanginya dalam diam. Tubuhnya terselimuti seragam tempur merah dengan hiasan putih, rambut hitamnya, mata hitamnya yang berkilauan—dia begitu keren dan kuat bagaikan Chuck norris.
Saat dia menyadari aku terus menatapnya tanpa membelokkan pandanganku, pipiku memerah dan bertanya dengan senyum malu-malu:
“A....apa?”
Aku dengan enggan buka mulut:
“...Rizuka...”
“Apa?”
“Mohon jangan marah dan dengarkan aku. Raja yang kita hadapi hari ini...bisakah kau tak ikut dan menunggu aku kembali disini ?”
Pertama-tama, Ryuzaki menatapku, lalu menundukkan kepalanya dengan wajah muram dan berkata:
“...mengapa kau mengatakan ini...?”
“Meski Artix berkata begitu, kita tak bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi di tempat dimana kristal tak bisa digunakan. Aku benar-benar takut...saat aku memikirkannya...bahwa sesuatu akan terjadi padamu...”
“Kau ingin aku menunggu di tempat aman sementara kau pergi ke tempat yang seberbahaya itu sendirian?”
Ryuzaki bangkit dan berjalan menuju padaku dengan langkah tegap. Matanya berkobar dengan penuh hasrat.
“Jika aku melakukan itu dan kau tak kembali, maka aku akan bunuh diri. Aku tak hanya akan kehilangan alasanku untuk terus hidup, aku juga takkan pernah memaafkan diriku yang hanya menunggu disini. Jika kau ingin kabur, maka kita akan kabur bersama. Jika itu yang mau kau lakukan, maka aku setuju dengan itu.”
Dia selesai berbicara dan menyentuh bagian tengah dadaku dengan jemari tangan kanannya. Matanya melembut dan sebuah senyum lembut muncul di wajahnya.
“Tapi, kau tahu...semua yang ikut dalam pertempuran hari ini ketakutan, dan mereka semua ingin kabur. Namun, meski takut, mereka tetap setuju bergabung. Itu karena sang pemimpin dan Kirito...karena dua orang terkuat di dunia ini memimpin mereka...itu pemikiranku...Aku tahu kau tak suka memikul tanggung jawab. Tapi aku berharap kau mencobanya, hanya kali ini saja, bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita...supaya kita bisa kembali ke dunia nyata, jadi ktia bisa bertemu lagi; Aku berharap kita bisa melakukan yang terbaik bersama-sama.”
Dia mengangkat tangan kananku dan menggenggam tanganku dengan lembut. Perasaan bahwa dia tak ingin kehilangan aku mengalir keluar dari dasar hatinya.
“...Maaf...aku, jadi lemah untuk sesaat. Sebenarnya, aku ingin sekali kita kabur saja. Aku tak ingin kau mati, dan aku juga tak mau. Kita tak perlu...”
Aku menerawangi kedalam mata Ryuzaki dan terus berbicara.
“Tak apa-apa bila kita tak bisa kembali ke dunia nyata...Aku ingin terus hidup bersamamu di penginapan hutan itu. Kita berdua...selamanya...”
Aku mencengkram dadanya dengan tanganku yang lain. Dia memejamkan mata dan bermuka masam, seakan hendak menahan sesuatu, lalu sebuah desahan kecewa keluar dari bibirnya.
“Yah...ini benar-benar seperti mimpi...Akan bagus sekali jika kita bisa melakukan itu...menghabiskan setiap hari bersama-sama...selamanya...”
Dia berhenti disitu dan menggigit bibir seakan dia tengah melepaskan mimpi yang takkan tercapai. Lalu dia membuka mata dan memandang menengadah padaku dengan wajah serius.
“Rizuka, apa kau pernah memikirkan tentang ini...? Tentang apa yang terjadi pada tubuh nyata kita saat ini?”
Aku tersentak dan terdiam oleh pertanyaan tak terduga ini. Ini mungkin seseuatu yang ditanya-tanyakan tiap pemain. Tapi karena tiada cara berhubungan dengan dunia luar, tiada guna memikirkannya. Meski semuanya ketakutan, mereka juga menghindari menghadapi pertanyaan ini.
“Apa kau ingat? Orang itu...Pengenalan Sanada Akihiko di awal permainan. Dia berkata bahwa Never Gear memperbolehkan pemutusan berjangka dua jam. Tapi alasannya adalah...”
“...Untuk memindahkan tubuh kita ke fasilitas kesehatan yang memadai...”
Ryuzaki mengangguk ketika aku mengucapkan ini.
“Lalu beberapa hari kemudian, semuanya terputus selama kira-kira sejam, kan?”
Sesuatu seperti itu pasti terjadi. Aku telah melihat pada peringatan pemutusan dan khawatir apakah Never Gear akan membunuhku atau tidak dalam dua jam.
“Kupikir semuanya telah dipindahkan ke RS. Tak mungkin untuk merawat seseorang yang koma dalam rumah biasa selama bertahun-tahun. Lebih mungkin mereka memindahkan kita ke RS lalu menyambungkan kita kembali...”
“...Ya, rasanya kau benar...”
“Jika tubuh kita hanya terbaring di kasur, bertahan hidup hanya karena begitu banyak sambungan yang terpasang padanya...Aku pikir tubuh kita takkan selamanya aman dalam keadaan tersebut.”
Aku tiba-tiba dilingkupi ketakutan bahwa tubuhku mulai menghilang. Aku memeluk Ryuzaki untuk mengonfirmasi keberadaan kami.
“...Dengan kata lain...entah kita menyelesaikan permainan ini atau tidak...akan selalu ada batas waktu...”
“...Dan batas waktu ini berbeda untuk tiap orang,,,Karena berbicara dengan «Sisi lain» adalah tabu, aku belum membicarakan ini dengan orang lain...tapi kau berbeda. Aku...Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku di sisimu. Aku ingin berdua denganmu yang sebenarnya, menikah yang sebenarnya denganmu, dan tumbuh tua bersama-sama. Jadi...jadi...”
aku tak bisa melanjutkan. aku mengubur wajahku di dadanya dan meneteskan air mata. Dia pelan-pelan mengelus punggungku untuk membantunya menyelesaikan kata-kata.
“jadi..kita tak punya pilihan selain bertarung saat ini...”
Ketakutanku tak benar-benar menghilang. Tapi bagaimana mungkin aku menyerah sekarang saat Ryuzaki melakukan yang terbaik untuk membuka masa depan kami sambil berusaha begitu keras untuk menjaga dirinya agar tak runtuh.
Tak apa-apa—Pasti semanya baik-baik saja. Selama kita bersama, pasti akan---
Aku mengeraskan lenganku dan memeluk Ryuzaki kuat-kuat untuk menghilangkan perasaan muram yang mengancam untuk menguasaiku.

PART 23
Ada sebuah grup yang jelas-jelas terdiri dari pemain berlevel tinggi, menunggu di alun-alun gerbang teleport level 76 di Collinia. Aku menduga mereka pasti kelompok raja. Begitu aku dan Asuna melangkah keluar gerbang dan menuju mereka, mereka semua tutup mulut dan mengirimkan tatapan menusuk ke arah kami. Beberapa bahkan memberikan salam guild.
Aku berhenti melangkah karena keterkejutan menguasaiku. Tapi Ryuzaki membalas salam mereka lalu menjitak kepalaku.
“Hei, Rizuka, kamu kini seorang pemimpin, jadi kau harus menyalami mereka dengan baik!”
“Apa...?”
Aku menyalami mereka dengan canggung. Aku telah ambil bagian dalam banyak kelompok raja hingga saat ini, tapi ini kali pertama aku mengundang begitu banyak perhatian.
“Hei!”
Seseorang menekanku di pundak, aku memutar badan dan melihat Kuro, si pemakai katana, tersenyum di bawah bandananya. Yang mengherankan, tubuh besar Near juga berdiri di sampingnya, dilengkapi penuh dengan dual kapak  di genggamannya.
‘Apa?!Kalian juga ikut?”
‘Mengapa kau terkejut!? Apa kau merendahkan kami!?”
Near berteriak tak senang.
“Aku bahkan meninggalkan tokoku karena kudengar kalian dalam masa-masa sulit. Tapi ternyata kini kau tak menghargai pengorbananku, ini membuatku...”
Aku memukul lengan Near begitu dia ngomong dengan sikap berlebihannya.
“Aku sangat memahami sentimenmu. Jadi kami bisa mengeluarkanmu saat kita berbagi barang, kan?”
Saat aku mengatakan itu, sang raksasa menggelengkan kepala botaknya dan menyatukan alisnya membentuk angka delapan.
“Kalau itu sih...”
Begitu suara bergetarnya memudar, Ryuzaki dan Kuro meledak dalam tawa secara bersamaan. Ini cepat menyebar ke pemain lainnya dan sepertinya memeras habis ketegangan semua orang.
Tepat pukul satu, beberapa pemain baru tiba di gerbang, Ada Artix, dalam jubah merah dengan tameng berbentuk salib di tangan, Juga para petinggi BoK. Udara tegang menyeruak sekali lagi diantara para pemain begitu melihat para pendatang baru.
Jika kita hanya membandingkan level dan status, orang yang lebih tinggi dari aku dan Ryuzaki mungkin hanya Artix sendiri. tapi koordinasi memusatkan kekuatan mereka pada kerja sama. Selain warna guild yang merah-putih, zirah dan senjata mereka sangat berbeda, namun kekuatan ikatan diantara mereka jauh lebih tinggi dari unit «The Army» yang pernah kami lihat.
Sang Paladin dan keempat bawahannya melangkah lurus menuju kami, yang memisahkan kelompok yang berkumpul menjadi dua. Klein dan Agil terpaksa mundur beberapa langkah, sementara Asuna dnegan tenang berbalas salam dengan mereka.
Setelah berhenti, Artix mengangguk pada kami sebelum berbicara kepada seluruh grup:
“Tampaknya semua orang sudah datang. Terima kasih. Kupikir semua sudah mengerti keadaan kita sekarang. Ini akan jadi pertarungan yang berat, tapi kupercaya bahwa kita akan menang karena kekuatan kalian. Kita akan bertarung demi kebebasan kita dari permainan ini---!”
Begitu Artix berteriak dengan suara bertenaga, Pemain lainnya membalas dengan teriakan membahana mereka sendiri. Aku terkejut dengan karismanya yang menarik orang lain bagai magnet. Adalah mengejutkan melihat seseorang dengan kualitas kepemimpinan setinggi ini diantara para pemain keras yang biasanya kurang koordinasi sosial, atau mungkinkah dunia ini yang mengembangkan bakatnya? Aku membayangkan apa yang dilakukannya di dunia nyata...
Artix memutar dan menghadapku seakan dia merasakan tatapanku, lalu berkata sambil tersenyum:
“Rizuka-chann, aku berharap pada usahamu. Kuharap kau menggunakan «Dual Blades» sepenuh tenaga.”
Tiada beban maupun rasa takut terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah. Seseorang tak bisa tidak kagum pada fakta bahwa Artix bisa menjaga sikap kalemnya meski menghadapi pertempuran sulit di depan.
Setelah aku mengangguk dalam hening, Artix berbalik pada para pemain dan mengangkat tangannya ke udara.
“Dengan ini, ktia mulai. Aku akan membuka sebuah koridor yang langsung mengarah pada daerah di depan ruangan si raja.”
Dia mengeluarkan sebutir kristal biru laut dari kantongnya saat berbicara, diiringi gumaman dan keterkejutan pemain lainnya.
Kristal-kristal teleport biasa hanya bisa memindahkan pengguna pada gerbang teleport kota tertentu, tapi barang yang dikeluarkan Artix adalah sebutir «Kristal Koridor», yang bisa membuka sebuah gerbang teleport ke manapun yang ditandai pemain. Tak perlu disebutkan disini, bahwa itu adalah barang yang sangat berguna.
Tapi karena itu, ia juga sangat jarang dan tak dijual di toko-toko NPC Ia hanya bisa didapat dari peti harta karun labirin atau sebagai peninggalan monster-monster, jadi beberapa pemain tak mau menggunakannya meski mereka punya. Alasan para pemain menyuarakan keterkejutan mereka bukanlah karena melihat sebutir barang langka, tapi karena Artix hendak menggunakannya.
Artix mengangkat kristal tersebut, tak memedulikan tatapan pemain lalu berteriak:
“Koridor, buka.”
Kristal yang luar biasa mahal tersebut pecah dan sebuah topan cahaya biru muncul.
“Kini, semuanya, ikuti aku.”
Setelah dia menyapu pandangannya ke semuanya, Heathcliff melompat ke dalam cahaya biru, diikuti kibaran pakaian merahnya di belakang. Tubuhnya langsung ditelan cahaya itu dan menghilang dalam sekejap. Keempat bawahan BoK-nya mengikutinya tanpa henti.
Saat ini, banyak orang mulai berkumpul di sekitar plaza. Mereka pasti telah mendengar soal pertempuran raja dan keluar untuk perpisahan dengan kami. Para ksatria berjalan ke dalam cahaya satu demi satu di tengah-tengah teriakan penyemangat.
Aku, Yui dan Ryuzaki dengan cepat menjadi satu-satunya yang tinggal. Kami saling memandang dan bertukar anggukan kecil sebelum berpegangan tangan dan melompat kedalam topan cahaya bersama-sama.
Setelah rasa pusing dari teleportasi berlalu, aku membuka mataku dan melihat kami sudah berada di labirin. Ia merupakan koridor yang cukup luas, dengan dua baris pilar nan tebal dan sebuah gerbang raksasa di ujungnya.
Labirin lantai 76 dibangun dari sejenis obsidian yang agak transparan. Tak seperti labirn kasar dan mentah dari lantai-lantai bawah, batu-batu disini dipoles halus dan disusun berderet tanpa celah di antara mereka. Udaranya dingin dan lembab, dengan selapis tipis embun menyelubungi lantai.
Asuna merapatkan kedua lengannya ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap:
“...Entah mengapa...aku benar-benar merasa tak enak...”
“Ya...”
Aku mengiyakan.
Dalam dua tahun hingga sekarang, kami sudah menyelesaikan 75 labirin dan mengalahkan monster raja dengan jumlah sama. Setelah mengumpulkan begitu banyak pengalaman, kami bisa secara kasar menebak kekuatan seorang raja hanya dengan melihat sarangnya.
Seluruh 30 pemain di sekitar kami membuka jendela mereka dan memeriksa perlengkapan mereka; Wajah mereka semua sangat serius.
Ryuzaki membimbingku ke belakang sebatang tiang dan melingkarkan lengannya ke tubuh kecilku. Ketegangan yang kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuhku bahkan gemetaran.
“Jangan khawatir.”
Ryuzaki berbisik ke telingaku.
“Aku akan melindungimu.”
“Tidak...ini bukan karena aku takut bertarung.”
"Haha.”
Ryuzaki tertawa kecil dan melanjutkan:
“Jadi...kau harus melindungiku juga, Rizuka.”
“Ya...pasti.”
Aku memeluknya dengan lenganku sekali lagi sebelum melepasnya. Artix, yang telah mengeluarkan perisai berbentuk salibnya, berbicara diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.
“Apa semuanya siap? Kita tak punya info tentang pola kebiasaan raja. BoK akan bertanggung jawab menahan serangan musuh; Semua harus mengambil kesempatan ini untuk menganalisa pola serangan musuh dan membalasnya dengan tepat.”
Semua mengangguk dalam hening.
“Sekarang, saatnya beraksi.”
Kata Artix lembut. Lalu dia berjalan penuh percaya diri ke pintu obsidian dan menempatkan tangannya di bagian tengah. Ini menyebabkan semua jadi sangattegang.
Aku menepuk bahu Near dan Kuro, yang keduanya berada di sampingku, dan berkata pada mereka saat mereka berbalik:
“Jangan mati.”
“Heh, khawatirkan saja dirimu sendiri.”
“Aku tak hendak mati sebelum aku dapat untung dengan barang-barang langka yang kudapat dari pertarungan hari ini.”
Saat mereka mengucapkan guyonan sombong mereka, pintu mulai terbuka dengan suara derikan berat. Seluruh pemain telah menyiapkan senjata mereka, jadi aku juga menghunus kedua pedang dari penggungku. Aku menatap sekilas Ryuzaki, yang memegang pedang  di tangan, lalu mengangguk padanya.
Artix yang terakhir mengeluarkan pedang dari perisainya. Dia lalu mengangkat tangannya tingi-tinggi ke udara dan berteriak.
“—Mulai bertarung!”
Lalu dia berjalan melalui gerbang yang terbuka lebar ke dalam ruangan, dengan semuanya mengikuti tepat di belakangnya.
Ruangan didalam berbentuk seperti kubah besar. Sepertinya sebesar arena duel aku dan Heathcliff. Tembok-tembok menjulang tinggi ke angkasa, melengkung tinggi di atas kepala kami. Tepat setelah kedua puluh tiga pemain masuk ruangan dan membentuk formasi---pintu di belakang kami berdebam menutup. Kini pintu itu tak mungkin terbuka kecuali entah rajanya mati atau kami disapu habis.
Seluruh kelompok kini hening beberapa lama. Meski kami terus mengamati lantai sekeliling, raja tetap tak muncul. Waktu mencekik tegang syaraf kami sementara detik demi detik perlahan berlalu.
“Hey---“
Tepat ketika seseorang tak dapat lagi menahan ketegangan dalam keheningan itu...
“Di atas!!”
Ryuzaki bereriak dari sampingku. Aku melihat ke atas dengan terkejut.
Di langit-langit kubah—ia di sana.
Begitu besar dan panjang.
Seekor kelabang-!?
Pikiran itu muncul dalam pikiranku begitu aku melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol dari tiap sambungan. Begitu aku menggeser pandanganku ke bagian bawah tubuhnya, bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan tengkorak manusia. di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. Saat aku memusatkan pandanganku padanya, nama monster itu muncul dnegan kursor kuning: «Sang Pencabik tengkorak» ---si pembunuh pemburu berkerangka.
Pemain-pemain yang terkejut menonton kelabang rangka tersebut melata sepanjang langit-langit pada kaki-kakinya, tiba-tiba ia melebarkan kakinya---dan meloncat tepat kepada kami.
“Jangan hanya berdiri disana! Menyebar!!”
Suara tajam Artix memotong udara nan beku. Para pemain akhirnya tersadar dan mulai bergerak. Kami buru-buru keluar dari daerah perkiraan jatuhnya.
Tapi ada 3 orang yang berada tepat dibawah daerah perkiraan yang sedikit telat. Mereka hanya berdiri di sama dan menengadah melihat ke atas seakan tak yakin kemana mereka harus bergerak.
“Kesini!”
Aku buru-buru berteriak. Ketiga pemain tersebut lalu sadar dari keterpakuannya dan mulai berlari menuju padaku---
Tapi tepat saat itu. si Kelabang telah mendarat di belakang mereka dan seluruh lantai berguncang keas. Ketiganya kehilangan keseimbangan karena itu, dan saat itulah si kelabang mengayunkan lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan mengarah langsung pada mereka.
Ketiga pemain ditebas sekali pada punggung mereka dan langsung diterbangkan. HP mereka berkurang dengan sangat cepat selama mereka berada di udara---langsung melewati daerah kuning ke daerah bahaya merah---
“---!?”
Mereka semua mencapai 0, dan ketiga tubuh yang masih berada di udara opecah menjadi serpihan-serpihan yang tak terhitungd an tersebar. Efek suara kematian mereka saling bertabrakan.
“----!!”
Kudengar Asuna menahan napas disampingku. Aku dapat merasakan tubuhku kaku dan terkejut.
Mereka mati---dalam satu pukulan---?!
Dalam sistem AQWO, yang digunakan baik dalam keahlian dan tingkatan, HP maksimum seseorang naik seiring tingkatannya, jadi tingkat yang lebih tinggi berarti lebih sulit dibunuh tak peduli keahlian bertarung seseorang. Kelompok disini hari ini hanya terdri dari pemain-pemain tingkat tinggi, jadi meskipun seorang raja, semestinya semua masih bisa menahan setidaknya satu serangan gabungan pendek---itu yang dipikirkan semuanya. . Namun hanya dalam satu pukulan---
“Ini...mustahil...”
Ryuzaki bergumam dengan suara yang dipaksakan keluar.
Kelabang bertulang yang telah mengambil nyawa tiga orang dalam sekejap mengangkat tubuh bagian atasnya dan menyerbu kelompok pemain lain dnegan raungan nan keras.
“Ahhhh---!!”
Para pemain di arah itu berteriak panik. Sekali lagi, Sabit tulang terangkat tinggi ke udara.
Di saat kritis ini, seseorang meloncat tepat ke bawah sabit. Itu Artix. Dia mengangkat tameng raksasanya dan menahan serangan itu, mengirimkan suara benturan yang memecah gendang telinga dan hujan percikan/
Tapi ada dua sabit. Dengan lengan kiri yang terus menyerang Artix, ia mengangkat sabit kanannya dan mengayunkannya ke bawah pada para pemain yang terpaku.
“Sialan....!”
Aku berlari hampir tanpa sadar, dnegan cepat menolkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan diriku tepat di depan sabit itu. Lalu aku menilangkan pedangku dan menahan serangannya, Kekuatan besar dari benturan mengenai badanku. Tapi---sabitnya tak berhenti. Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong mundur pedangku dan datang padaku.
Ini terlalu kuat---!
Saat itulah, sebuah pedang baru terbang dengan meninggalkan bekas cahaya putih dan mengenai sabit. Sebuah suara benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, aku langsung mendorong dengan seluruh kekuatanku dan berhasil memaksa sabit tulang itu mundur.
Di sebelahku, Ryuzaki melirik padaku dan berkata,
“Jika kita memukulnya secara bersamaan---kita bisa menahan serangannya! Jika itu kita, maka hal ini mungkin!!”
“Ok—ayo selesaikan ini!”
Aku mengangguk. Hanya dengan tahu Ryuzaki disampingku memberikanku kekuatan tak terbatas.
Begitu sabit sekali lagi diayunkan secara horizontal pada kami, Baik aku maupun Ryuzaki mengayunkan pada kanan bawah untuk menangkisnya. Pedang kami mengenai kepala sabit dengan selaras sempurna, dan kali ini sabit itu dipukul mundur.
Aku menguatkan suaraku dan berteriak:
“Kami akan menghentikan sabitnya! Yang lain serang sampingnya!”
Ini seakan suaraku akhirnya membebaskan semuanya dari semacam mantra. Para pemain berteriak, mengangkat senjata mereka, dan menyerbu tubuh kelabang bertulang itu. sejumlah pukulan menusuk tubuh musuh dengan dalam dan HP raja akhirnya sedikit berkurang.
Tapi langsung setelahnya, aku dapat mendengar jeritan beberapa pemain. Aku berjudi dengan melirik setelah membalas sabit, dan kulihat beberapa orang dipukul jatuh oleh tulang panjang mirip tombak di ujung ekor kelabang.
“Argh…!”
Aku mengeraskan gigitanku. Kami harus membantu, tapi aku dan Ryuzaki, dan juga Artix yang tengah menahan sabit kiri sendirian di sebelah sana sudah sibuk.
“Rizuka...!”
Begitu Ryuzaki bersuara, aku menatapnya.
---Tidak! Jika fokus kita buyar, kita akan kena!
---Ya, kau benar...ia datang lagi!!
--Tahan dengan gerakan memotong vertikal kiri keatas!
Kami saling berbicara hanya dengan bertukar lirikan dan menahan sabit dengan gerakan-gerakan yang tersinkronisasi sempurna.
Kami memaksakan diri untuk mengabaikan jeritan-jeritan yang dapat didengar dari waktu ke waktu dan berkonsentrasi menahan hantaman-hantaman musuh yang bertenaga. Yang luar biasa adalah, kami tak butuh berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Sekaan kami tersambung langsung.Musuh menyerang dengan begitu cepat sehingga tak meninggalkan ruang untuk bernapas, tapi kami masih bisa selalu membalasnya dengan mengaktifkan keahlian yang sama persis di saat yang bersamaan
Tepat setelahnya-sambil bertarung hingga setengah mati, aku mengalami perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat surealis—Seakan aku dan Asuna menyatu dalam satu tubuh dan mengayunkan satu pedang. HP kami kami terus berkurang sedikit demi sedikit karena getaran terusan setelah hantaman musuh yang kami tahan, tapi kami sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu.

PART 24
Pertarungan berlanjut selama sejam
Rasanya bagai selamanya telah berlalu sebelum pertarungan akhirnya selesai. Saat tubuh raksasa monster raja pecah menjadi serpihan yang tak terhitung, tiada satupun yang memiliki energi untuk bergembira. Semuanya entah terduduk lemas di lantai obsidian atau terbaring sempurna dengan napas terengah-engah.
Apa ini---selesai...?
Ya---ini selesai---
Setelah kami bertukar pikiran itu, rasanya «sambungan» antara aku dan Asuna juga putus. Kelelahan tiba-tiba menggelayuti tubuhku dan aku berlutut ke lantai. Aku dan Asuna lalu duduk dengan denganpunggung saling bersender, dan merasa seakan kami takkan mampu melakukan apa-apa untuk beberapa saat. Kami berdua masih hidup---tapi bahkan ketika aku memikirkan ini, aku tak bisa begitu senang dengan keadaan. Terlalu banyak yang tewas. Setelah 3 kematian pertama di awal pertempuran, efek suara suram dari pecahnya orang terus bergema dengan kecepatan tetap dan aku memaksa diriku berhenti menghitung setelah yang keenam.
“Berapa banyak ---yang tewas...?
Kuro, yang duduk di kiriku, bertanya dengan suara berdenging. Near yang terlentang di lantai di sebelahnya dengan lengan dan kaki tersebar keluar, juga menghadap kesini.
Aku mengayunkan tangan kananku untuk membuka peta dan lalu menghitung titik-titik hijau di sana. Aku menguranginya dengan jumlah orang yang hadir saat kami pertamakali berangkat.
“---14 tewas.”
Aku tak dapat mempercayai angka ini meski aku telah menghitungnya sendiri.
Mereka semua berlevel tinggi, ksatria ahli yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung. Bahkan jika kami tak bisa kabur atau sembuh seketika, kami seharusnya masih bisa menghindari tewasnya begitu banyak orang jika kami bertarung dengan menempatkan keselamatan terlebih dahulu—itulah yang kami semua pikir, tapi---
“...Mustahil...”
Suara Near tak menandakan keceriaannya yang biasa. Sebuah kesuraman yang menjatuhkan jiwa menekan tengkuk orang-orang yang selamat.
Kami hanya tiga perempat jalan kesana---masih ada 24 lantai yang masih harus dibereskan. Tapi meski ada ribuan pemain disini, hanya beberapa ratus yang masih serius untuk menyelesaikan permainan. Jika tiap lantai menghasilkan korban sebanyak yang ini, maka sangat mungkin---hanya satu orang yang akan menghadapi raja terakhir.
Jika itu yang terjadi, yang terakhir berdiri mungkin adalah orang itu...
Aku menggeser pandanganku lebih jauh kedalam ruangan. Diantara semua orang yang duduk di lantai, sebuah sosok berbaju merah terus berdiri tegak. Orang itu adalah Heathcliff.
Tentu saja dia tidak tak tersayat. Saat aku memusatkan diri padanya, kursor muncul untuk menunjukkan HP-nya, dan aku dapat mengatakan dia telah kena beberapa hantaman. Dia telah menahan sabit tulang itu, yang aku dan Ryuzaki harus bersusah payah menahannya, sendirian hingga saat terakhir. Takkan aneh bila dia runtuh karena kelelahan, terlepas dari HP-nya.
Tapi aku tak bisa merasakan tanda-tanda kelelahan sedikitpun dari sosok tenangnya. Ini ketahanan yang sulit dipercaya. Ini bagaikan---dia bagaikan sebuah mesin bertarung...
karena pikiranku masih melayang-layang karena kelelahan, aku terus menatap sisi dari wajah Heathcliff. ekspresi sang legenda tetap tenang. Dia dengan hening memandangi pada anggota-anggota KoB dan pemain-pemain lainnya. Matanya hangat dan penuh kasih sayang---seakan—
Seakan dia tengah memandangi segerombolan mencit putih yang bermain namun tak akan bisa keluar dari kandangnya.
Tepat saat itu, kurasakan sebuah getaran merambat ke sekujur tubuhku.
Pikiranku jernih seketika. tubuhku menjadi dingin, mulai dari ujung jemari, menyebar ke segala arah hingga pusat otakku. Ini firasat nan aneh. Fikiran mustahil mulai mengakar di pikiranku bagai sebuah benih dan kecurigaan tumbuh darinya.
Ekspresi di mata Artix, ketenangan yang ditunjukkannya, bukan mata yang menenangkan sahabat-sahabatnya yang terluka. dia tak berdiri di tingkat yang sama dengan kami. Wajahnya tengah memberikan pengampunan dari sebuah tempat nan jauh di atas kami---ini wajah seorang dewa...
Kufikirkan mengenai kecepatan reaksi tak manusiawi yang Artix tunjukkan saat duel kami. Ia jauh melebihi kecepatan manusia. Tidak, aku salah soal itu; ia jauh melebihi batas yang diset AQWO untuk para pemainnya.
Tambahkan kelakuannya yang biasa di atas itu: Ia seorang pemimpin dari guild terkuat, namun dia tak pernah memberikan perintah apapun dan hanya menonton pemain lainnya mengurus segala hal. Mungkin itu bukan karena dia mempercayai bawahannya—mungkin dia menahan-nahan dirinya karena dia tahu hal-hal yang tak diketahui pemain-pemain biasa.
Dia adalah semacam makhluk yang tak terikat aturan-aturan permainan kematian ini. Tapi dia bukanlah seorang NPC. Tak mungkin sebuah program dapat membuat wajah yang begitu penuh ampunan.
Jika dia bukan NPC maupun pemain biasa, maka hanya ada satu kemungkinan tersisa. Tapi bagaimana caranya aku membuktikan ini? Tak ada caranya untuk itu... tidak satupun.
Tidak, ada satu cara. Cara yang hanya bisa kucoba disini sekarang juga.
Aku melihat batang HP Artix. Ia telah banyak berkurang dari pertarungan keras ini. Tapi HPnya tak berkurang hingga ke setengahnya. Ia hanya sedikit, sedikit diambang daerah biru.
Tak ada yang pernah melihat HP orang ini jatuh ke daerah kuning. Ia memiliki pertahanan luar biasa yang tak dapat dibandingkan dengan seorangpun. Saat dia bertarung denganku, wajahnya berubah saat HPnya mendekati titik tengah. Itu bukan rasa takut akan berubahnya HP-nya menjadi kuning.
Itu adalah—kemungkinan besar---
Aku perlahan mengeraskan genggaman pada pedang di tangan kananku. Aku menarik kaki kananku ke belakang dengan gerakan sekecil mungkin. Kubengkokkan pinggang kebelakang sedikit dan mengambil kuda-kuda rendah. Artix tak menyadari apapun gerakanku. Pandangan hangatnya tengah diarahkan hanya pada anggota guildnya yang kelelahan.
Jika tebakanku salah, aku akan dilabeli kriminal dan akan dihukum tanpa ampun. Jika itu yang terjadi...maafkan aku...
Aku melirik Ryuzaki yang duduk di sebelahku. Dia menengadahkan kepalanya di saat yang bersamaan dan mata kami bertemu.
“Rizuka-chan...?”
Sebuah wajah terkejut menggelayuti Ryuzaki, dan mulutnya menganga tak bersuara. Tapi saat itu, kaki kananku sudah menendang tanah kebelakang.
ada sekitar 10 meter antara aku dan Artix. Aku melesat menuju dia dengan kecepatan penuh dengan tubuhku hampir menyentuh tanah dan mencapainya seketika. Lalu aku memutar pedangku dan menusuk ke atas. Ini adalah jurus dasar pedang bertangan satu <<Tusukan Amarah>>. karena ini jurus lemah, ini seharusnya tak membunuh Artix meski membuat hantaman kritis. Tapi jika tebakanku benar—
Pedang menusuk masuk dari kiri, meninggalkan seberkas cahaya biru nan terang. Artix bereaksi dengan kecepatan yang mengejutkan dan ekspresi terkejut nampak di wajahnya. Dia langsung mengangkat tamengnya untuk menahan.
Tapi aku sudah melihatnya melakukan gerakan itu berulang kali selama pertarungan kami dan aku mengingatnya dengan jelas. Pedangku larut menjadi seberkas cahaya, mengubah arah di tengah jalan, dan menggesek ujung tamengnya sebelum terus menusuk menuju dadanya.
Tapi tepat sebelum pedang menghantamnya, ia dihentikan tembok tak terlihat. Sebuah dentuman kuat menjalar melalui lenganku. Seberkas percikan cahaya ungu berkilat dan sebuah pesan dengan warna sama muncul---sebuah pesan sistem muncul diantara kami.
[Objek Abadi]. Ini bukan sebaris status yang dapat dimiliki makhluk lemah seperti kami, para pemain. Apa yang ditakutkan Artix selama pertarungan itu pasti adalah tersingkapnya pengaman dewa ini pada semuanya.
“Rizuka, apa yang kau---“
Ryuzaki yang berteriak karena terkejut pada serangan tiba-tibaku dan berlari setelahku, tiba-tiba berhenti dan terpaku di tempat setelah melihat pesan itu. Aku, Artix, Yui, Kuro dan seluruh pemain lainnya di sekitar kami juga terpaku sempurna. Pesan sistem perlahan memudar dalam kebekuan ini.
Kurendahkan pedangku dan melompat ke belakang sedikit, memperlebar jarak antara aku dan Artix. Ryuzaki mengambil beberapa langkah ke depan dan berdiri di sebelahku.
“Keabadian yang dianugrahkan sistem---bagaimana ini mungkin---Pemimpin guild...?”
Artix tak merespon bahkan setelah mendengar suara bingung Ryuzaki. Dia hanya menatapku dengan wajah penuh amarah. Dengan kedua pedang di tanganku, aku membuka mulutku dan berkata:
“Inilah kebenaran dibalik legenda. HP-nya dilindungi sistem dan takkan jatuh ke dalam daerah kuning tak peduli apa yang terjadi padanya. Status keabadian---selain NPC, hanya admin sistem yang bisa memilikinya. Tapi permainan ini tak memiliki admin satupun, kecuali mungkin satu orang...”
Aku berhenti berbicara di titik ini dan menatap ke atas ke langit.
“...Aku selalu berfikir setelah kedatanganku di dunia ini...dimana sih dia melihat kami saat dia memanipulasi dunia ini. Tapi aku lupa satu kebenaran sederhana, yang bahkan seorang anak kecilpun seharusnya tahu.”
Aku menatap lurus pada si paladin merah dan melanjutkan:
“<<Tak ada yang lebih membosankan selain menonton orang lain memainkan permainan>>. Bukankah begitu?.....Sanada Akihiko?”
Ada keheningan yang menyentak, seakan semuanya baru saja membeku.
Artix tengah menatapku dengan wajah tanpa emosi. Pemain-pemain di sekitar kami tak bergerak bahkan satu ototpun. Tidak, lebih pas kalau dibilang mereka tak dapat bergerak.
Ryuzaki mengambil satu langkah maju dari sisiku. matanya tak mengandung sedikitpun emosi, seakan mereka kehampaan tak berdasar. Dia membuka mulutnya sedikit dan berbicara dengan suara kering dan lirih hampir tak terdengar.
“Pemimpin....apa ini....benar?”
Artix mengabaikan pertanyaannya. dia malah membengkokkan kepalanya sedikit dan menanyaiku:
“..Untuk sekedar referensi, bisakah kau menceritakan padaku bagaimana kau bisa tahu?”
“...Pertama kali aku merasa sesuatu tak beres adalah saat pertarungan kita, karena kecepatanmu pada saat terakhir itu terlalu cepat, itu saja.”
“Seperti yang sudah kuduga. Itu adalah kesalahan paling besar dariku. Aku begitu kewalahan oleh kecepatanmu sehingga akhirnya menggunakan bantuan sistem melebihi batas normalnya.”
Begitu Artix mengangguk, wajahnya akhirnya menyingkap ekspresi lainnya; bibirnya bergerak perlahan membentuk senyum pahit.
“Awalnya aku berharap mencapai lantai 95 sebelum ini diuangkap.”
Senyumnya berubah menjadi penuh kuasa sambil perlahan menyapu pandangannya ke para pemain. lalu, sang paladin merah berkata dengan percaya diri:
“---Ya. Aku adalah Sanada Akihiko. Aku juga raja terakhir permainan ini yang menunggu kalian di lantai teratas.
“...Kau memeiliki selera yang aneh. tak terpikirkan bahwa pemain terkuat tiba-tiba jadi raja terakhir yang paling kuat.”
“Apa kau tak berfikir ini skenario yang menarik? Awalnya aku berfikir bahwa tersingkapnya ini akan memantik gelombang kejut ke seantero Devilcraft, tapi tak pernah kupikir aku akan diketahui pada ¾ jalan permainan ini. Aku tahu kau adalah faktor yang paling tak bisa diprediksi dari permainan ini, tapi tak pernah membayangkan bahwa kau memiliki potensi semacam ini.”
Sebagai pencipta permainan ini yang telah memenjarakan pikiran 10 ribu pemain, Sanada Akihiko tersenyum begitu berbeda dengan yang dimiliki Artix sang Paladin. Tapi sosok tak tertandingi dan kokoh itu entah mengapa mirip dengan avatar tak beremosi yang turun pada kami dua tahun lalu.
Sanada melanjutkan dengan senyum pahit:
“...Aku sudah mengira kaulah pemain yang akan menghadapiku di akhir. Dari 10 jurus unik, <<Bilah Ganda>> diberikan pada pemain dengan kecepatan reaksi tertinggi, yang akan kemudian berperan sebagai pahlawan melawan raja terakhir, tak peduli dia menang atau kalah. Tapi kau telah menujukkan padaku kekuatan melebihi perkiraan, baik itu kecepatan maupun pandanganmu. Yah...Kupikir bahwa perkembangan yang tak diperkirakan sebelumnya adalah bagian dari esensi RPG online...”
Pada saat ini, salah satu pemain yang membeku bangkit perlahan. Dia salah seorang pemimpin BoK. Matanya yang tampak menyala berisi pederitaan tersiksa.
“Kau...kau...berani-beraninya kau mengambil kesetiaan---harapan kami...dan...dan...mengotori mereka shancur-hancurnya---!”
Dia mengangkat Halberd raksasanya ke udara dan meluncurkan dirinya dengan sebuah teriakan. Bahkan tak ada waktu untuk menghentikannya. Kami hanya bisa menonton begitu dia mengayunkan senjatanya ke bawah pada Sanada. Tapi Sanada selangkah lebih cepat. Dia mengayunkan tangan kirinya dan dengan cepat memanipulasi jendela yang muncul; Orang itu langsung berhenti di tengah udara dan jatuh ke tanah dengan suara keras. Sebuah garis batas hijau menyala di sekitar batang HP-nya, mengindikasikan paralisis. Tapi, Sanada tak berhenti disitu dan terus menggerakkan tangannya.
“Ah...Rizuka...!”
“Mama!”

Aku berbalik dan melihat Ryuzaki dan Yui bertekuk di tanah. Bukan hanya dia, tapi seluruh pemain selain aku dan Sanada juga tertunduk ke tanah, melenguh dari posisi yang tak biasa.
Setelah menyarungkan pedangku, aku berlutut untuk memegangi tubuh bagian atas Yui dengan lenganku, dan menggenggam tangannya, Lalu aku balik menghadap Sanada.
“...Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membunuh kami semua untuk menyembunyikan kebenaran...?
“Tentu saja tidak. Aku takkan pernah melakukan hal-hal yang sangat tak beralasan semacam itu.”
Orang dalam merah tersebut tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tapi karena keadaan telah mencapai titik ini, Aku tak punya pilihan lain. Akan memajukan jadwalku dan menunggu kedatanganmu di «Benteng Hijau Merah» di lantai atas, Adalah memalukan bahwa aku mesti keluar BoK, sebagaimana juga pemain lini depan lainnya, yang telah aku kembangkan dengan hati-hati untuk bertarung melawan mob-mob di lantai 90 keatas. Tapiaku percaya kalian semua seharusnya memiliki kekuatan yang cukup untuk mencapai lantai atas. Tapi...sebelum itu...”
Sanda tiba-tiba berhenti berbicara dan menghadapkan matanya, yang penuh dengan kehendak yang meluap-luap, untuk terpusat padaku. Dia lalu menarik pedangnya dnegan lembu ke lantai obsidian, dan sebuah suara logam yang tajam nan jelas bergema di udara.
“Rizuka, karena kau telah menyingkap identitasku yang sebenarnya, aku akan menghadaihimu sebuah kesempatan: Kau bisa bertarung satu lawan satu dengan ku, disini sekarang juga. Tentu saja aku akan menghilangkan status abadiku. Jika kau menang, permainan akan langsung selesai, dan seluruh pemain bisa keluar. Apa jawabmu...?
Begitu dia mendengarnya, Ryuzaki mulai mencoba melarang, mencoba sekerasnya untuk menggerakkan badannya yang lumpuh sambil menggelengkan kepalanya.
“jangan, Rizuka...! Dia mencoba langsung menghabisimu...sekarang juga...Untuk sekarang kau harus mundur...!”
Instingku berkata itu jalan terbaik. Orang ini adalah admin yang bisa memanipulasi sistem. Meski dia bilang ini akan menjadi pertarungan yang adil, tak ada cara untuk mengetahui apakah dia entah bagaimana memanipulasi sistem atau tidak. Pilihan terbaik adalah mundur untuk sekarang dan mendatangkan sebuah rencana balasan bersama yang lainnya.
tapi...
Apa yang dikatakan orang itu? Bahwa dia membesarkan BoK? Bahwa kami pasti mencapai...?
“Benda yang penuh sampah...”
Tanpa sadar aku bergumam dengan suara kering.
Orang ini mengunci pikiran 10 ribu orang dalam dunia yang diciptakannya, dimana dia sudah membunuh 4 ribu dengan gelombang elektromagnetik. Dia menonton para pemain berusaha dengan bodoh dan kasihannya berdasarkan cerita yang disusun. Ini pasti pengalaman paling menyenangkan yang ada bagi seorang master permainan.
Aku memikirkan masa lalu Ryuzaki, yang terbagi denganku di lantai 24. Aku mengingat airmata yang ditumpahkannya saat dia memelukku. Orang di depan mataku telah menciptakan dunia ini untuk kesenangannya sendiri dan menyakiti hati Ryuzaki dalam jumlah tak terhitung, membuatnya berdarah hebat, tak mungkin bagiku mundur dari ini.
“baiklah. Ayo kita bereskan ini.”
Aku mengangguk pelan.
“Rizuka...!”
Pada jeritan Ryuzaki yang tertahan, aku menjatuhkan pandanganku pada sosok di lenganku. Nyeri menusuk hatiku sekana dadaku ditusuk sampai belakang, tapi entah bagaimana aku bisa memaksakan sebuah senyuman.
“Maaf. Tapi aku tak bisa...kabur sekarang...”
Ryuzaki membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi lalu menyerah di tengah-tengah dan mencoba sebisanya untuk tersenyum.
Setetes airmata mengalir ke di pipinya.
“Kau tak berencana...mengorbankan dirimu, kan...?”
“Tentu saja...Aku pasti menang. Aku akan menang dan mengakhiri dunia ini.”
“OK. Aku akan percaya padamu.”
Bahkan jika aku kalah dan tewas, kau harus terus hidup---meski aku ingin mengatakan itu, tetap saja aku tak bisa mengeluarkannya. Aku hanya bisa memegangi tangan kanan Ryuzaki dengan erat sebagai gantinya.
Setelah aku melepaskan tangannya, aku membaringkan tubuh Ryuzaki ke bawah di lantai obsidian lalu bangkit berdiri. Aku perlahan menghampiri Sanada yang tengah memandangi kami tanpa suara dan mengeluarkan kedua pedangku dengan suara tajam.
“Rizuka! Hentikan---!”
“Rizuka---!”
saat aku membalikkan kepala terhadap sumber suara, kulihat Kuro dan Near berteriak dan berusaha sekerasnya untuk bangkit. Aku pertama-tama memusatkan pandanganku pada Near dan mengangguk perlahan padanya.
“Near, terima kasih atas dukungannya pada pemain-pemain kelas petarung hingga saat ini. Aku tahu kau menghabiskan sebagian besar uang yang kau dapat untuk membantu pemain-pemain di lantai-lantai tengah.”
Aku tersenyum pada si raksasa yang matanya terbuka lebar sebelum menggeser pandanganku.
Si Petarung berkatana, dengan bandana sederhana dan pipi penuh janggut, gemetaran di lantai seakan dia masih berusaha mencari kata-kata untuk diutarakan.
Aku menatap lurus pada mata nan dalamnya dan mengambil napas dalam-dalam. Kali ini, tak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tak bisa mengendalikan suaraku yang bergetar.
“Kuro, waktu itu...Aku benar-benar menyesal....meninggalkanmu. Aku selalu menyesalinya.”
Begitu aku menyelesaikan baris pendek ini dengan suara parauku, sesuatu berkilar di sudut mata teman lamaku, dan airmata langsung mengaliri satu demi satu.
Dengan airmata yang masih memancar dari matanya, Kuro menggeliat untuk bangkit sambil berteriak keras dengan suara parau yang hendak pecah:
“Sialan kau....! Rizuka! Jangan meminta maaf! Jangan meminta maaf sekarang! Aku takkan memaafkanmu! Hingga kau mentraktirku Pizza di dunia nyata, aku pasti takkan memaafkanmu!!”
Aku mengangguk pada Kuro, yang terus berteriak.
“Ya, aku janji. nanti aku akan mengunjungimu di dunia lain.”
Aku mengangkat tangan kananku dan memberinya jempol.
Akhirnya aku membalikkan pandanganku pada gadis yang membuatku mengatakan kata-kata yang telah terkubur dalam-dalam di hatiku selama dua tahun.
Aku memandangi wajah Ryuzaki yang tersenyum.
Aku menggumamkan permintaan maaf kepadanya dalam pikiranku dan membalikkan badan. Aku menghadapi Sanada, yang masih memiliki wajah penuh kuasa mutlak, dan membuka mulutku:
“...Maaf soal ini, tapi aku punya satu hal untuk ditanyakan.”
“Apa itu?”
“Aku tak punya keinginan kalah, tapi jika aku mati---bisakah kau mencegah player lain bunuh diri, bahkan bila hanya untuk masa yang pendek?”
Sanada mengangkat alis karena terkejut, tapi dengan tenang mengangguk pada permintaanku.
“Baiklah. Aku akan menyetnya sehingga dia takkan bisa meninggalkan salemburg.”
“Mama, jangan!! Mama tak, tak bisa melakukan ini---!!”
Yui menjerit penuh airmata di belakangku. Tapi aku tak berbalik ke belakang. Aku menggeser kaki kananku mundur, kubawa pedang kiriku maju sambil merendahkan pedang kanan, dan selesai menyiapkan kuda-kudaku.
Sanada memanipulasi jendela dengan tangan kirinya dan menyamakan batang HP kami pada tingkat yang sama. tingkat yang tepat sebelum zona merah, dimana satu pukulan yang kuat bisa menentukan pertarungan.
Setelah itu, pesan sistem [berubah jadi objek mortal] muncul di atas kepanya. Kayaba lalu menutup jendela-jendela, menarik keluar pedangnya yang dia tanam ke tanah, dan mengangkatnya di belakang tameng berbentuk salibnya.
Pikiranku sepenuhnya tenang dan jernih. Pikiran-pikiran semacam ‘maaf Ryuzaki, Maaf Yui’ menguap tak berbekas begitu aku menajamkan insting bertarung dalam diriku menjadi ujung pisau.
Jujur saja, aku tak tahu tentang kesempatan menangku. Jika kita hanya berbicara soal jurus-jurus pedang, maka dia tak lebih baik dariku berdasarkan pertarungan terakhir. Tapi itu hanya jika dia tak menggunakan ‘Bantuan lebih’. dimana hanya dia bisa bergerak sementara aku sepenuhnya beku di tempat.
Ini semua tergantung pada harga diri Sanada. Berdasarkan kata-katanya, dia berencana mengalahkanku hanya dengan kekuatan «Pedang Suci». Jika itu benar, maka kesempatanku bertahan melalui ini adalah mengalahkannya sebelum dia menggunakan kemampuan khusus manapun.
Jarak antara aku dan Artix menegang. Rasanya seakan udara itu sendiri yang bergetar di bawah tekanan kehendak membunuh yang kami pancarkan. Ini bukan lagi sebuah pertarungan, melainkan menyabung nyawa. Ya benar---Aku akan---
“Membunuhmu...!!”
Aku meluncur ke depan dengan teriakan tajam.
Kuayunkan pedang kanan mendatar begitu jarak mendekat. Sanada dengan mudah menahannya dengan tamengnya. Ada sejumlah percikan dan wajah kami diterangi untuk sedetik.
Sepertinya suara benturan logam menandai dimulainya pertarungan kami; Senjata kami langsung mempercepat diri kedalam kecepatan yang mematahkan rem dan mengisi ruang diantara kami.
Pertarungan ini adalah yang teraneh, namun pertarungan paling manusiawi dari semua pertarungan yang kulalui hingga saat ini. Kami berdua sudah saling menunjukkan jurus-jurus kami. Terlebih lagi, inilah orang yang merancang «Bilah Ganda», sehingga dia dengan mudah membaca kombinasi jurus biasa. Itulah mengapa dia bisa menahan semua seranganku selama pertarungan terakhir kami.
Aku tak bisa mengandalkan kombinasi yang diberikan sistem; Aku harus mengandalkan kemampuan dan instingku sendiri untuk mengayunkan pedangku. Tentu saja aku tak dapat menerima bantuan sistem dengan cara ini, tapi aku masih bisa menggerakkan lengaku dengan kecepatan tinggi dengan bantuan indraku yang makin peka. Aku bahkan bisa melihat bayangannya, dan tampak bagai ada lusinan pedang di tanganku. Tapi---Sanada menahan mereka semua dengan ketepatan yang mencengangkan. Dia juga langsung membalas begitu aku menunjukkan kelengahan sekecil apapun. Keadaan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berubah.. Aku berkonsentrasi pada mata Heathcliff sebagai usaha membaca bahkan sekeping pikiran dan reaksi musuh. Akhirnya kami saling bertukar pandang sebagai hasilnya.
Tapi Mata perunggu Sanada---Artix dingin dan sunyi. Tiada sesepora perasaan manusia yang ditunjukkannya kali terakhir.
Tiba-tiba sebuah rasa dingin mengaliri punggungku.
Lawanku adalah seseorang yang tanpa ampun membunuh sekitar 4.000 orang. Bisakah seorang manusia biasa melakukan hal semacam itu? Kematian 4.000, ktukan dari yang 4.000, dia bisa menanggung tekanan itu dan tetap tenang sempurna---Dia bukan seorang manusia, dia seekor monster.
“Aaaaaaah!”
Aku menjerit untuk menghapus kepingan kecil ketakutan yang muncul dari dasar pikiranku. AKu terus mempercepat gerakanku dan menghujaninya hantaman yang tak terhitung per detik. Tapi wajah Kayaba tak menunjukkan perubahan. Dia menahan seluruh seranganku dengan tameng salib dan pedang panjangnya dengan kecepatan yang tak dapat dilihat mata telanjang.
Apa dia hanya mempermainkanku---!?
Ketakutanku menjelma jadi ketegangan. Apa mungkin Sanada hanya bertahan karena dia sebenarnya bisa menyerang balik kapanpun dia mau dan percaya diri bahwa dia bisa bertahan dari bahkan sebuah hantaman langsung dariku?
Kecurigaan mengambil alih pikiranku. Dia bahkan tak pernah memerlukan bantuan lebih dari awal.
“Sialan...!”
Tapi---bagaimana dengan ini---?!
Aku merubah pola serangku dan mengaktifkan «Sang Gerhana», jurus tingkat tertinggi Bilah Ganda.
Bagaikan ujung gerhana yang menelan, pedangku mengirimkan 27 serangan beruntun pada Sanada—
Tapi---Sanada telah menungguku menggunakan jurus kombo yang dirancang sistem. Wajahnya memunculkan ekspresi untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai. ekspresi yang sangat berlawanan dengan yang ditunjukkannya terakhir kali--- itu adalah senyum seseorang yang yakin atas kemenangan.
Aku menyadari kesalahanku begitu aku melancarkan serangan pembuka kombo ini. di saat-saat terakhir ini aku malah bergantung pada sistem, bukan pada diriku sendiri. Tapi sudah mustahil bagiku untuk menghentikan jurus, dan begitu serangan berhenti, aku akan berada pada keadaan diam sesaat. Terlebih lagi, Sanada membaca seluruh pukulanku, dari awal kombo hingga serangan terakhir. Begitu aku melihat Sanada mengayunkan tamengnya dengan kecepatan yang membutakan, menangkis pedang-pedangku dengan pengetahuan dimana tiap pukulan akan mendarat, aku bergumam dalam pikiranku:
Maaf—Ryuzaki...setidaknya kau harus—terus hidup---
Serangan ke-27 mengenai bagain tengah tameng, memancarkan hujan percikan. Lalu, dengan diiringi jeritan berdentang logam, pedang di tangan kiriku pecah.
“Yah, ini adalah selamat tinggal---Rizuka-chann.”
Sanada mengangkat pedangnya tinggi-tinggi diatasku yang terbengong-bengong. Sebuah sinar merah gelap terpancar dari pedang. Pedang merah darah itu diayunkan ke bawah padaku---
Di saat itu, sebuah suara kuat dan bergetar bergema dalam kepalaku.
Aku—akan melindungi---Mama!!
Bayangan seseorang masuk diantara pedang merah Sanada dan aku dengan kecepatan yang mengejutkan. Rambut panjang hitam menari di angin di depan mataku.
Yui---bagaimana bisa---!?
Dia berdiri di depanku meski seharusnya dia tak bisa bergerak karena lumpuh. Dia dengan berani membusungkan dadanya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.
Sebuah ekspresi terkejut terlihat di wajah Sanada. Tapi tak ada yang bisa menghentikan serangannya sekarang. Semuanya bergerak seakan dalam gerak diperlambat begitu pedang panjang itu membelah jalannya ke bawah, melalui bahu Yui dan terus hingga ke dada sebelum akhirnya berhenti.
Aku mengulurkan kedua tanganku pada Yui begitu dia jatuh kebelakang padaku. dia terlentang dalam lenganku tanpa suara.
Begitu pandangannya bertemu denganku, Yui tersenyum lemah. Batang HP-nya---habis.
Waktu berhenti.
Matahari yang terbenam. Padangnya. Angin sepoi-sepoinya. Cuaca yang agak dingin.
Kami berdua tengah duduk di sepuncak bukit dan melihat ke bawah ke danau yang berkilauan dengan warna merah keemasan dari matahari yang terbenam.
Suara daun-daun bergesekan. Suara burung-burung yang kembali ke sarangnya,
Dengan lembut, Dia memegangi tanganku, lalu menyenderkan kepalanya pada bahuku.
Awan-awan berlalu. Lalu bintang-bintang mulai bermunculan satu demi satu, berkemilau di langit petang.
Kami saling bertatapan dengan dunia yang terus merubah warnanya sedikit demi sedikit.
“Yui agak lelah. Bisakah Yui beristirahat di pangkuan mama sebentar?”
Aku menjawab dengan sebentuk senyuman.
“Ya, tentu saja. Beristirahatlah dengan tenang---“
Yui di tanganku sekarang tersenyum tepat seperti waktu itu, matanya berisi cinta tak terbatas. Tapi berat dan kehangatan waktu itu sudah habis menghilang.
Sedikit demi sedikit, tubuh Yui dengan perlahan ditelan seberkas cahaya emas. Sinar-sinar kecil cahaya mulai runtuh dan menjauh.
“Ini bohongkan, ini lelucon kan… Yui… ini”
Aku bergumam dengan suara penuh getaran. Tapi cahaya yang tak berperasaan semakin terang dan semakin terang lalu---Setetes airmata mengalir dari mataku, yang bersinar sesaat sebelum menghilang. Bibirnya bergerak sedikit, perlahan, seakan dia memaksakan suara terakhirnya keluar darinya.
Maaf kan Yui Mama.
Mama telah melakukan yang terbaik
Tubuhnya mulai melayang---
Cahaya yang membutakan meledak dalam tanganku, berubah wujud menjadi berjuta-juta bulu-bulu yang melayang di udara.
Dan tubuhnya tak berbekas sedikitpun.
Aku menjerit dalam sunyi dan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan cahaya-cahaya yang terpencar kembali ke tanganku. Tapi bulu-bulu emas terbang ke udara seakan ditiup angin, dimana mereka berpencar dan menghilang. Dengan begitu saja, dia telah berpulang.
Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi. Ini tak mungkin terjadi. Ini seharusnya tidak. Seharusnya---. Aku berlutut di tanah seakan aku hendak runtuh, begitu bulu terakhir melayang turun ke telapak kananku lalu menghilang.

PART 25
Artix mengerutkan bibirnya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.
“Hal ini sangat mengejutkan. Bukankah ini bagaikan skenario dari RPG konsol? Seharusnya membebaskan diri dari kelumpuhan adalah hal yang mustahil...Jadi hal seperti ini benar-benar bisa terjadi...”
Tapi suaranya tak terekam dalam pikiranku. Rasanya seakan semua perasaanku terbakar habis, seakan aku terjatuh kedalam jurang tak berdasar, ditelan keputusasaan.
Aku tidak lagi mempunyai alasan untuk melakukan apapun.
Entah itu bertarung dalam dunia ini, kembali ke dunia nyata, atau bahkan terus menjalani hidup, semuanya telah kehilangan makna. Seharusnya dulu aku bunuh diri saat ketidakmampuanku dan kelemahanku mengakibatkan kematian teman-teman seguild. Jika aku melakukannya, maka aku takkan pernah bertemu Yui, maupun melakukan kesalahan yang sama lagi.
Mencegah Yui melidungiku Betapa bodoh dan cerobohnya perkataan itu. Aku tak mengerti apapun sama-sekali. Dengan begitu saja---dengan hatiku yang penuh kehampaan, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup...
Aku menatap pedangku dengan hampa, sinarnya masih terpancar meski terbaring di tanah. Aku mencapainya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya.
Aku berusaha mencari sebekas keberadaan Yui di senjata tipis dan gesit itu, tapi tidak ada apa-apa. Tak ada yang tertinggal di permukaan menyilaukan tak berwajah yang bisa jadi tanda keberadaan pemiliknya. Dengan pedangku di tangan kanan dan pedang Yui di tangan kiri, aku perlahan bangkit. Tiada yang aku pedulikan lagi. Aku hanya ingin pergi mencarinya berbekal kenangan waktu singkat yang kami bagi bersama.
Kupikir aku mendengar seseorang memanggil dari belakang.
Tapi aku tak berhenti dan terus berjalan menuju Sanada dengan pedang kananku terangkat. Aku mengambil beberapa langkah gontai mendekatinya dan menusuk dengan pedangku.
Sanada menatap kasihan pada gerakanku, yang tak dapat dibilang sebuah jurus maupun serangan---dia dengan mudahnya menangkis pedangku dengan tamengnya dan menerbangkannya, dan pedang panjang di tangan kanannnya menusuk, menerobos dadaku.
Aku menatap tanpa rasa pada batang logam yang berkilau, yang terkubur dalam di tubuhku sendiri. Pikiranku tak lagi memikirkan apa-apa. Yang tersisa hanyalah kesadaran hampa bahwa segalanya telah berakhir.
Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat batang HP-ku berkurang perlahan. Aku tak tahu apakah ini kelanjutan dari rasaku yang semakin tajam karena pertarungan, tapi rasanya aku bisa melihat tiap titik menghilang. Aku memejamkan mata, berharap gambar senyum Asuna dapat mengemuka begitu pikiranku semakin kosong.
Tapi meski aku menutup mataku, batang HP tetap tak menghilang. Ia berkedip merah dan mengecil dengan laju tak berperikemanusiaan. aku merasa seakan tuhan bernama sistem ini, yang telah menoleransi keberadaanku hingga saat ini, tengah menantikan saat terakhir ini. Hanya 10 titik untuk dihabiskan, sekarang lima titik, sekarang---
lalu, tiba-tiba aku merasakan sebuah kemarahan yang tak pernah kualami sebelumnya.
Adalah si keparat ini yang telah membunuh Yui. Sanada sang pencipta hanyalah sebagian darinya. Yang merobek-robek tubuh Yui dan menghancurkan rohnya, adalah keberadaan yang mengelilingiku sekarang ini---keinginan sistem itu sendiri, Tuhan kematian digital yang mengejek kebodohan pemain-pemain dan mengayunkan sabitnya tanpa ampun---
Kita ini sebenarnya apa? Apa kami cuma sekumpulan boneka tolol yang dikendalikan benang-benang yang takkan terputus dari sistem AQWO?
Batang HP-ku menghilang sempurna seakan mengejek kemarahanku. Sebuah pesan ungu muncul dalam sudut pandangku: [Kau wafat]. Itu perintah dari Tuhan untuk mati.
Sbeuah rasa dingin beres merasuki tubuhku. Indraku mati rasa. Aku merasakan blok kode yang tak terhitung di buka, memutus, dan menghancurkan sekujur tubuhku. Rasa dingin ini naik ke leherku dan kedalam kepalaku. Sentuhan, suara, pandangan, semuanya jadi kabur. Sekujur tubuhku mulai melarut---menjadi kepingan-kepingan poligon---sebelum memencar ke segala arah---
Kau pikir aku akan biarkan itu terjadi?
Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku bisa melihat. Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa melihat wajah Snada, yang pedangnya menerobos dalam ke dadaku, dan wajah terkejut pdanya.
Mungkin indraku yang menajam kembali, dan kematian avatarku, yang biasanya terjadi dalam sesaat, terasa bagaikan melambat. Garis luar tubuhku masih kabur, dan partikel-partikel cahaya masih berkilauan dan menghilang disini dan disana. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup.
“Hiiiiyaaaa!”
Aku menjerit sekuat tenaga. Aku menjerit dan melawan. Melawan sistem, sang tuhan nan mutlak. Hanya untuk menyelamatkanku, Yui yang imut dan manja telah melepaskan kelumpuhan tak tersembuhkan dengan kekuatan keinginannya dan melemparkan dirinya pada serangan yang mustahil ditahan. Bagaimana aku bisa jatuh sekarang tanpa melakukan apa-apa. Aku tak bisa jatuh sekarang, tidak boleh. bahkan bila aku tak bisa menghindari kematian---Aku harus---setidaknya---
Aku mengeraskan genggaman tangan kiriku. Aku mengambil kembali indraku seakan menarik mereka kembali dengan seutas benang. Rasa memegang sesuatu di tangan kiriku kembali. Pedang Yui---aku bisa merasakan semangat yang dimilikinya. Aku bisa mendengar dia bilang padaku agar aku tabah.
Perlahan, Lengan kiriku mulai bergerak. Bentuknya tengah mengabur dan beberapa kepingannya terlepas dengan gerakan sekecil apapun. Tapi ia tak berhenti. Sedikit demi sedikit, ia memakan jiwaku untuk terangkat. Mungkin inilah harga dari perlawananku yang keras kepala. karena nyeri tak terperi menjalari tubuhku. Tapi aku mengeraskan gigitan dan terus bergerak. jarak yang hanya 10 cm terasa begitu jauh. Tubuhku terasa seakan dibekukan. Hanya lengan kiriku yang masih memiliki rasa, namun rasa dingin dengan cepat menyelimutinya juga. Sekujur tubuhku sudah bagai patung es dengan kepingan-kepingannya yang terus lepas.
Tapi pada akhirnya, Pedang perak itu mencapai pusat dada Snada. Sanada tak bergerak. wajah terkejutnya sudah menghilang---sebuah senyum lembut dan damai menggantikan tempatnya. Lenganku menghilangkan jarak yang tersisa, setengah oleh semangat, dan setengah digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan. Snada menutup matanya dan menerima hantaman itu bersamaan dengan menerobosnya rapier ke tubuhnya tanpa suara. Batang HP-nya juga mengilang.
Untuk sesaat, kami hanya berdiri disana, dengan pedang yang menusuk tubuh satu sama lain. Aku menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memaksa kepalaku menengadah dan melihat ke langit.
Apa ini---cukup....?
Meski aku tak bisa mendengar jawabannya. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan menyelimuti tangan kiriku. Akhirnya aku melepas tubuhku, yang hendak pecah-terpencar sepenuhnya.
Begitu pikiranku tenggelam lebih dalam kedalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhku dan tubuh Kayaba pecah menjadi ribuan kepingan di saat bersamaan. Suara biasa dari dua benda yang dihancurkan bergema dan saling bergaung. Begitu semuanya semakin dan semakin tertarik dalam laju yang luar biasa, Aku bisa mendengar suara-suara lemah yang memanggil namaku. Aku pikir itu pasti suara Kuro dan Near. Lalu, pada saat ini, suara tak berperasaan dari sistem mengumumkan---
Permainan telah diselesaikan--- Permainan telah diselesaikan--- Permainan.....

Part 26
Lalu saat aku sadar kembali, aku menemukan diriku di dunia yang sama sekali berbeda.
Disini, terbenamnya matahari membuat seluruh langit tampak terbakar.
Aku berdiri di lantai kristal yang tebal. Awan-awan jingga berlalu perlahan di bawah keramik yang transparan. Saat aku menengadahkan kepala, dapat kulihat sebentang langit yang dicelup matahari terbenam membentang sampai horizon. Seakan dibentangkan keluar, langit tak berujung memudar dari jingga terang, menjadi merah darah, lalu bayangan ungu . Aku juga bisa sayup-sayup mendengar angin yang bertiup.
Itu adalah cakram kristal kecil yang melayang diantara awan-awan di langit yang hampa; Disini aku berdiri di tepinya.
...Apa tempat ini? Tubuhku seharusnya menghilang setelah pecah berkeping-keping. Apakah aku masih di AQWO...ataukah aku sudah tiba di kehidupan setelahnya?
Aku memeriksa tubuhku. Armor merah, sarung tangan panjang, dan seluruh perlengkapanku yang lainnya sama seperti sebelum aku tewas, kecuali semuanya menjadi agak-agak transparan. Dan bukan hanya perlengkapanku saja, bahkan bagian tubuhku yang terbuka pun disinari warna matahari terbenam seakan ia dibuat dari gelas semi tranparan.
Aku mengangkat tangan kananku dan mengayunkan satu jariku. Sebuah jendela muncul dengan efek suara yang biasanya. Oh, tempat ini masih dalam AQWO.
Tapi jendela itu tak mengandung avatar maupun daftar menu. Sebuah layar kosong hanya menunjukkan pesan [Menyelesaikan Fase Akhir, 54% Selesai]. Saat aku tengah memandanginya, angka itu naik menjadi 55%. Awalnya kupikir pikiranku akan mati bersama dengan hancurnya tubuhku, tapi apa yang tengah terjadi disini?
Saat aku mengangkat bahu dan menutup jendela, tiba-tiba aku mendengar seberkas suara dibelakangku.
“Rizuka...”
Ia bagaikan suara dari surga. Kejut menjalari tubuhku,
Kumohon, jangan jadikan ini hanya bayanganku saja—Aku memohon sambil berbalik perlahan.
Dia berdiri disana dengan langit terbakar di belakangnya.
Aku melihat Ryuzaki sedang mengendong Yui yang sedang tertidur
Rambut panjangnya melambai lembut dalam angin. Tapi meski sedang tertidur wajah senyum nan lembutnya dalam jangkauan lenganku, aku tak bisa bergerak sedikitpun.
Rasanya seakan dia akan menghilang bila pandanganku meninggalkannya bahkan untuk sedetik---Jadi aku terus menatapnya dalam sunyi. Dia juga semi-transparan, dan merupakan hal terindah di dunia. Dia berdiri di sana, berkilau dalam cahaya dari matahari yang terbenam.
Aku memaksakan diri menahan airmata dan berhasil membentuk segaris senyum. Dengan suara hampir berbisik, aku berkata: “Maaf, aku tewas...”
“...Dasar tolol.”
Airmataku mengaliri wajahku saat dia tersenyum. Aku membentangkan lengaku lebar-lebar dan dengan lembut memanggil namanya:
“Ryuzaki...”
Aku memegangnya erat begitu dia melompat kedalam lenganku dan menangis. Aku bersumpah aku takkan melepaskannya lagi. Tak peduli apapun yang terjadi, aku takkan pernah melepaskannya lagi.
Setelah ciuman yang panjang, akhirnya kami bisa memisahkan wajah kami untuk saling memandang. Ada begitu banyak hal tentang pertarungan akhir yang ingin kuceritakan padanya, bahwa aku ingin meminta maaf padanya. Tapi aku merasa kata-kata tak diperlukan lagi. Malah, aku menggeser pandanganku pada langit tak berbatas dan membuka mulutku:
“Ini...Apa-apaan tempat ini?”
Ryuzaki mengarahkan pandangannya kebawah dalam sunyi dan menunjuk dengan jarinya. Aku melihat ke arah itu.
Jauh di bawah tempat kami berada---Sesuatu melayang di langit. Ia berbentuk seperti kerucut dengan ujung terpotong. Ia terbuat dari berbagai lantai yang saling melewat. Begitu aku memusatkan mataku, aku bahkan bisa melihat gunung-gunung kecil, hutan-hutan, danau-danau, dan kota-kota.
“Devilcraft...”
Ryuzaki mengangguk begitu aku menggumamkan ini. Tak salah lagi. Itu Devilcraft. Kota tua raksasa terbang yang melayari langit tak berbatas. Kami habiskan 2 tahun, bertarung dalam dunia pedang dan pertempuran itu, namun kini ia berada di bawah kami.
Aku telah melihat pemandangan di luar Devilcraft sebelum aku datang ke dunia ini dalam info tentang AQWO. Tapi ini kali ini pertama aku melihatnya di luar dengan mataku sendiri. Kutahan napasku begitu sebuah perasaan tak tergambarkan menyergapku.
Kota tua itu---tengah diruntuhkan,
bahkan ketika kami menonton dalam sunyi, satu bagian dari lantai terbawah tersebar menjadi kepingan yang tak terhitung. Begitu aku memusatkan telingaku untuk mendengarkan, aku masih bisa mendengar suara gemuruh yang menyebar diantara angin.
“Ah....”
Aku menjerit pelan. Sebagian besar dari lantai bawah terpotong, dan banyak bangunan, pohon dan sungai yang tak terhitung jumlahnya jatuh ke bawah dan menghilang kedalam lautan awan. Rumah kami ada di sekitar daerah itu. Aku merasakan kepingan kesedihan manis-asam mengiris dadaku tiap kali ada lantai benteng yang berisi ingatan seharga dua tahun menghilang.
Aku bertekuk, duduk di ujung lantai dengan Ryuzaki dalam pelukannya.
Aku merasakan tenang yang aneh. Meski aku tak tahu apa yang terjadi pada kami atau apa yang akan terjadi sekarang, aku tak merasakan sedikitpun ketegangan. Aku telah menyelesaikan apa yang harus kulakukan, dan untuk itu aku telah kehilangan hidup virtualku dan kini tengah menyaksikan akhir dunia ini dengan gadis yang kucintai. Ini sudah cukup---Hatiku sudah puas.
Ryuzaki pasti merasakan hal yang sama. dalam pelukannya, dia menyaksikan Devilcraft runtuh dengan mata setengah terbuka. Dengan lembut, aku mengelus rambutnya.
“Pemandangan yang luar biasa.”
Tiba-tiba aku bisa mendengar seberkas suara dibelakang kami. Saat kami berputar ke kanan, kami melihat seorang lelaki berdiri disana.
Dia Sanada Akihiko.
Dia muncul bukan sebagai Artix, si paladin merah, tapi dalam wujud dia sebenarnya sebagai pengembang AQWO. Dia mengenakan kemeja putih dengan dasi dan tutupan putih di bagian atas. Hanya dua mata logam di wajah tajamnya terasa persis sama. Tapi kedua mata itu berisi cahaya lembut saat memandangi benteng yang menghilang. Tubuhnya juga semi-transparan seperti kami.
Meski kami telah bertarung hingga tewas dengan orang ini hanya beberapa menit sebelumnya, ketenanganku terus bertahan setelah menitnya, Mungkin kami telah meninggalkan seluruh rasa marah dan benci kami di Devilcraft sebelum kami datang kesini. Aku memandangi Sanada dan Kota tua bergantian.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Mungkin kau bisa menyebutnya...perenderan metaforis.”
Suara Sanada juga agak damai.
“Kini kerangka utama AQWO yang berada di lantai basemen kelima dari Markas Elemental tengah menghapus seluruh data dari bank ingatannya. Dalam 10 menit berikutnya, dunia ini akan sepenuhnya terhapus.”
“Bagaimana dengan orang-orang yang hidup disana...Apa yang terjadi pada mereka?”
Ryuzaki tiba-tiba bertanya.
Tak perlu khawatir. beberapa saat sebelumnya---“
Sanada menggerakkan tangan kanannya dan melirik jendela yang muncul,
“seluruh 6.147 pemain yang tersisa telah berhasil keluar.”
Ini berarti Kuro, Near, dan seluruh orang lainnya yang aku kenal selama dua tahun ini telah berhasil kembali dengan selamat ke sisi lain.
Dengan erat, kupejamkan mataku dan membiarkan air mataku mengalir sebelum bertanya:
“...Bagaimana dengan mereka yang mati? Kita berdua sudah tewas, namun kami terus ada disini. Bukankah itu berarti kau bisa mengembalikan 4.000 yang tewas ke dunia asal mereka juga?”
Wajah Sanada tak berubah. Dia menutup jendela, memasukkan tangannya ke saku, lalu berkata:
“Nyawa tak bisa disembuhkan dengan begitu mudah. Kesadaran mereka takkan pernah kembali. Yang mati akan menghilang---Fakta ini terus benar di dunia manapun. Aku menciptakan tempat ini hanya karena aku ingin berbincang dengan kalian berdua—untuk satu kali terakhir.”
Apa itu sesuatu yang bisa dikatakan seseorang yang telah membunuh 4.000 orang?
Meski aku berpikir begitu, aku tak merasakan amarah apapun untuk beberapa alasan yang aneh. Malah, satu pertanyaan lainnnya menyembul di pikiranku. Ini pertanyaan dasar yang seluruh pemain, tidak, seluruh orang yang mengetahui perkara ini akan tanyakan.
“mengapa---kau lakukan ini...?”
Aku bisa merasakan Sanada tersenyum pahit. Setelah keheningan panjang, akhirnya di berbicara:
“Mengapa---Aku sudah lama lupa akan itu . Mengapa aku melakukannya? Sejak aku menemukan bahwa sebuah sistem dive sempurna tengah diciptakan---tidak, bahkan sebelumnya, aku telah ingin membangun benteng itu, sebuah tempat yang melewati batas-batas yang dipasang di dunia nyata. Lalu, dalam saat-saat terakhir itu...Aku melihat bahkan aturan-aturan duniaku juga telah dilewati...”
Sanada pertama-tama memutar mata damainya padaku, lalu langsung menggeser mereka ke tempat yang jauh.
Tutupan Snada dan rambutku berkibar oleh angin yang semakin kuat. Setengah benteng sudah hancur. Algade, sebidang kota yang dipenuh kenanganku, tengah disebarkan kedalam angin dan diserap oleh awan-awan.
Sanada melanjutkan bicaranya:
“Bukankah kita semua punya banyak mimpi sejak masa kanak-kanak? Aku sudah lupa berapa usiaku saat bayangan sebuah benteng logam yang melayang di langit mulai memesonaku....itu adalah pemandangan yang takkan pudar dari pikiranku tak peduli seberapa lama waktu berlalu. Begitu aku makin dewasa, gambar itu menjadi semakin dan semakin nyata, lebih dan lebih menyeruak. Meninggalkan dunia nyata dan terbang langsung ke Kota tua ini...itu adalah mimpiku satu-satunya dalam waktu lama. Rizuka-chann, Kau tahu, aku masih percaya,---bahwa entah di dunia mana, kota tua ini benar-benar ada---.”
Tiba-tiba, aku merasa seakan aku telah dilahirkan di dunia itu, dimana aku bermimpi menjadi seorang ksatria berpedang. Pada suatu hari, Sang lelaki akan bertemu seorang gadis dengan mata coklat black berry. Keduanya akan jatuh cinta, akhirnya menikah, dan akan hidup bahagia selamanya dalam sebuah rumah kecil di tengah-tengah seladang hutan---
“Ya...itu pasti indah sekali.”
Gumamku. Ryuzaki juga mengangguk dalam pelukannya.
Kesunyian kembala menyapa kami. Aku membuang pandanganku pada kejauhan dan melihat bahwa bagian lain dari benteng mulai runtuh. Aku dapat melihat lautan awan tak berbatas dan langit merah yang tengah dimakan sebuah cahaya putih di kejauhan. erosi sudah dimulai di semua arah dan perlahan-lahan menuju kesini.
“Ah, aku lupa mengatakan ini, Rizuka-chan, Ryuzaki-kun...Selamat karena telah menyelesaikan permainannya.”
Kami menengadah pada Snada saat dia mengatakan ini. Dia menunduk, melihat kami dengan ekspresi tenang di wajahnya.
“Baiklah---Aku harus pergi sekarang.”
Angin berhembus dan tampak menyapu jauh sosoknya---begitu kami sadar, dia tak lagi berada dalam pandangan kami. Hanya tampak matahari merah yang terbenam yang terus menyinari menembus pelat kristal. Sekali lagi, Kami sendirian.
Aku menduga-duga kemana dia pergi? Apakah dia kembali ke dunia nyata?
Tidak---dia takkan begitu. Dia akan menghapus pikirannya sendiri dan pergi untuk mencari Devilcraft yang sebenarnya entah di dunia mana.
Sekarang, hanya bagian atas dari benteng yang tersisa. lantai 76 yang tak pernah sempat kami lihat mulai runtuh. Tirai cahaya yang menghapus dunia ini perlahan mencapai kami. Begitu aura yang bergelombang menyentuh awan-awan dan langit, mereka menghilang dan kembali pada ketiadaan.
Aku dapat melihat istana merah dan puncak-puncaknya di lantai tertinggi Devilcraft. Jika permainan berlanjut sebagaimana yang direncanakan, kami akan bertarung disana melawan raja terakhir, Artix. Bahkan meski dasar-dasar lantai teratas menghilang, istana tak bertuan terus melayang di udara seakan hendak melawan takdirnya. Istana merah yang tersisa di tengah-tengah langit jingga sepertinya merupakan hati dari benteng melayang tersebut.
Pada akhirnya, kehancuran juga menelan istana merah. Ia dibelah-belah, dimulai dari bawah dan naik ke atas, lalu pecah kedalam kepingan-kepingan tak terhitung sebelum menghilang diantara awan-awan. Menara tertinggi menghilang hampir di waktu yang bersamaan dengan saat tirai cahaya menelan sekelilingnya. Kota tua raksasa Devilcraft telah sepenuhnya dihancurkan, dan yang tersisa di dunia ini hanyalah beberapa awan dan landasan kecil dimana aku dan Ryuzaki berdiri.
Kemungkinan kami tak punya banyak waktu tersisa. Kami menggunakan rentang waktu pendek yang diberikan Sanada pada kami. Dengan hancurnya dunia ini, Never Gear akan melaksanakan fungsi terakhirnya dan menghapus apa yang tersisa dari kami.
Aku menempatkan tanganku pada pipi Ryuzaki dan perlahan menekankan bibirku pada miliknya. Ini adalah ciuman terakhir kami. Aku hendak menggunakan tiap detik-detik terakhir dan mengukir sosoknya pada jiwaku,
“Sepertinya ini adalah selamat tinggal...”
Ryuzaki menggelengkan kepalanya.
“Tidak, ini bukan. Kita akan menghilang bersama-sama. jadi, kita akan bersama selamanya.”
Dia berbisik dengan suara yang jelas sebelum berputar dalam pelukanku untuk menatap lurus padaku. lalu dia membengkokkan kepalanya sedikit dan tersenyum
“Hei, bisakah kau mengatakan namamu padaku, Rizuka? Nama aslimu?”
Pertama-tama aku tak mengerti. tapi aku lalu sadar maksud dia adalah namaku di dunia lain yang kutinggalkan 2 tahun lalu.
Rasanya seakan hari-hari dimana aku hidup dengan nama dan hidup lain adalah dongeng dari dunia yang teramat jauh. Aku mengatakan namaku yang mengambang dari dasar ingatanku, entah mengapa terasa sangat emosional.
“Rizuka...Rizuka Yamamoto. Seharusnya aku berumur 17 bulan lalu.”
Pada saat itu, aku merasa waktu mulai bergerak untuk diriku yang lain. Pikiran Rizuka, yang telah terkubur dalam-dalam pada diri Rizuka sang ksatria berpedang, mulai muncul perlahan. Aku merasakan pelindung keras yang melingkupi diriku dalam dunia ini berjatuhan satu demi satu.
“Rizuka…Yamamoto….”
Ryuzaki menyuarakan namaku, memusatkan diri pada tiap suku kata, lalu tertawa dengan wajah yang sedikit kaget.
“Jadi kamu lebih muda dariku. Aku...Ryuzaki....Kazumi. Berumur 18 tahun ini.”
Ryuzaki… Kazumi. Ryuzaki Kazumi. Aku terus mengulang-ulang kelima suku kata ini dalam pikiranku. Tiba-tiba, aku menyadari air mataku telah mengaliri pipiku.
Perasaanku akhirnya mulai bergeser di tengah terbenamnya matahari yang terus berjalan. Sebuah rasa nyeri menjalari sekujur diriku, air mata mengalir bebas menuruni pipi. Aku merasakan segumpal sumbatan di tenggorokanku, Mengepalkan kedua tangan, lalu mulai menangis keras bagaikan seorang anak kecil.
“Maafkan aku...maaf...Aku berjanji...untuk mengirimkanmu....kembali...ke sisi lainnya...tapi aku...”
Aku tak dapat melanjutkannya. Pada akhirnya, aku tak bisa menyelamatkan orang yang paling berharga bagiku. Karena kelemahanku sendiri, Jalan yang pernah begitu cerah dan berkilauan kini tertutup. Penyesalanku terbentuk menjadi air mataku yang mengalir tanpa akhir dari mataku.
“Tak apa-apa... Tak apa-apa...”
Ryuzaki juga menangis. Air matanya yang berkilau mengalir tanpa akhir bagaikan permata-permata kecil sebelum menguap.
“Aku benar-benar bahagia. Waktu aku pertama kali bertemu, dan hidup bersama, adalah waktu yang paling menyenangkan dari seluruh hidupku. Terima kasih...dan aku mencintaimu...”
Akhir dunia tepat berada di hadapan kami. Seluruh Kota tua besi dan lautan awan tak berbatas dihapus oleh cahaya nan terang itu, meninggalkan hanya kami berdua di belakang.
Aku dan Ryuzaki saling berpelukan dengan erat, menunggu-nunggu saat-saat terakhir.
Rasanya seakan perasaan kami dimurnikan oleh cahaya itu. Yang tersisa dalam diriku hanyalah cintaku untuk Ryuzaki. Aku terus memanggil namanya seakan semuanya tengah diurai dan dipencarkan.
Cahaya memenuhi pandanganku. Semuanya dilingkupi oleh tirai putih murni dan menghilang setelah menjadi partikel-partikel cahaya nan mungil. Senyum Ryuzaki bercampur dalam cahaya yang sangat kuat penelan dunia ini.
---Aku mencintaimu...Aku mencintaimu---
Suaranya bergema bagaikan dentang manis sebutir lonceng saat kesadaran terakhirku musnah. Garis terakhir yang memisahkan kami menghilang dan kami menjadi satu.
Jiwa kami saling menyerap, bergabung, lalu berpencar.
Akhirnya, kami berpisah.

PART 27
Udara disini adalah campuan berbagai macam bau.
Fakta bahwa aku masih hidup mengagetkanku.
Udara yang mengalir kedalam hidungku membawa banyak informasi. Yang pertama datang adalah bau menyengat disinfektan. Lalu datang bau dari pakaian yang dijemur di matahari, aroma manis buah-buahan, dan bau tubuhku sendiri.
Perlahan-lahan aku membuka mataku. Untuk sekejap, rasanya sinar putih nan kuat menusuk dalam-dalam ke pikiranku, jadi dengan cepat aku memejamkan lagi mataku.
Beberapa saat kemudian, dengan enggan, aku mencoba membuka mataku. Segelombang cahaya menari-nari di pupilku. Baru beberapa saat kemudian aku sadar ada banjir cairan yang menutupi mataku. Aku mengejapkan mata untuk menghilangkannya. Tapi cairan itu terus keluar. Ternyata mereka adalah airmata.
Aku tengah menangis. Mengapa? Ada perasaan nyeri yang dalam serta ganas, ditambah rasa kehilangan dalam hatiku. Suara-suara terus bergema dalam telingaku, seakan seseorang tengah memanggil-manggil namaku.
Aku menyipitkan mataku melawan cahaya nan kuat itu dan akhirnya berhasil menghilangkan airmataku.
Rasanya aku tengah berbaring di benda yang lembut.Aku dapat melihat sesuatu yang sama dengan papan-papan langit-langit di atasku. Ada beberapa panel halus yang diwarnai coklat muda, beberapa diantaranya berkilau lembut seakan ada cahaya di belakang mereka. Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat sekotak ventilasi logam dimana udara dihembuskan keluar dengan suara rendah.
Sekotak Teh gelas...dengan kata lain, sebuah minuman. Bagaimana sesuatu seperti itu bisa ada disini? Tak ada tukang besi yang dapat membuat sebuah mesin tak peduli setinggi apapun status jurus mereka. Jika apa yang kulihat benar-benar adalah sebuah mesin---maka tempat ini bukan---
Ini bukan Devilcraft
Aku membuka mataku lebar-lebar. Pikiranku sepenuhnya terbangun hanya dari selintas pikiran itu. Aku buru-buru membangkitkan tubuhku---
tapi tubuhku tak mau mendengarkanku sama sekali. Aku tak bisa menggunakan kekuatan apapun. Meski bahu kananku terangkat beberapa sentimeter, ia langsung kembali jatuh.
Hanya tangan kananku yang bisa digerakkan. Aku mengangkatnya ke atas tubuhku lalu membawanya ke hadapan mataku. Untuk sesaat Aku tak bisa percaya lengan kurus kering ini adalah punyaku. Tak mungkin aku bisa memegang sebilah pedang dengan lengan ini. saat aku memeriksa kulit putih nan sakit lebih dekat, aku dapat melihat ribuan helai bulu yang menyelimutinya. Aku bisa melihat vena biru di bawah kulit dan kerutan-kerutan di sendi-sendi. Semuanya terasa begitu menakutkan; Ini begitu nyata, begitu biologis sehingga terasa tak biasa.
Di dalam pergelanganku, ada sehelai selotip yang memegang jarum tetap di tempatnya, dimana jarum tersebut terhubung dengan selang panjang bagaikan digunakan untuk mengyuntikkan sesuatu. Mataku mengikuti selang tersebut dan tertumbuk pada kemasan bening yang digantungkan oleh sebatang tiang perak. Isi kemasan tersebut masih 2/3-nya dengan cairan jingga, yang menetes dengan kecepatan tetap.
Aku menggerakkan tangan kiriku dan mencoba merasakan lagi indra sentuhku. Sepertinya aku telanjang bulat dan berbaring di atas kasur yang terbuat dari material gel yang sangat padat. karena suhunya sedikit lebih rendah dari tubuhku, aku bisa merasakan dinginnya perlahan mengalir padaku. Tiba-tiba, sebuah ingatan menyembul dalam pikiranku; Aku pernah sekali melihat siaran berita dimana jenis kasur ini dikembangkan untuk pasien-pasien yang tak bisa bergerak. Ia memiliki kemampuan mencegah infeksi pada kulit dan mengurai bungan tubuh yang keluar.
Aku menerawangi sekelilingku. Ini kamar yang kecil. Temboknya sama putih tawarnya dengan langit-langit. Ada Jendela yang teramat sangat besar di kananku dengan sprei putih dibentang menghalanginya.
Aku tak bisa melihat pemandangan di luar, tapi aku dapat melihat sinar kuning matahari menyinari lurus menembus serat-seratnya, Sebuah troli beroda logam empat diparkir di kiri jauh kasur jel ini, dan sebuah keranjang rotan diletakkan diatasnya.
Sebuah buket bunga-bunga yang terlihat tawar berada di dalamnya, yang sepertinya merupakan sumber dari aroma manis ini. Lebih jauh lagi dari troli adalah sebuah pintu persegi panjang yang tertutup,
Berdasarkan semua info ini, Tempat ini seharusnya adalah ruang perawatan RS, dan aku satu-satunya yang berada disini.
Aku mengembalikan pandanganku pada tangan kananku yang terangkat dan tiba-tiba memikirkan sesuatu. Aku mengayunkan tangan kanan dengan telunjuk dan jempol saling menekan.
Tak terjadi apa-apa. Tiada efek suara maupun selayar menu. Aku mengayunkan lagi dengan sedikit lebih keras, lalu lagi dan lagi. Hasilnya selalu sama.
Jadi, ini benar-benar bukan AQWO. Lalu apakah ini kenyataan virtual lainnya?
Tapi info yang membanjiri dari kelima indraku sudah berteriak padaku bahwa ada kemungkinan lain. Ini---adalah dunia nyata. Ini adalah dunia nyata yang kutinggalkan dua tahun lalu dan tak pernah kuharapkan untuk kulihat lagi.
Dunia nyata---Cukup lama aku merenungkan arti dibalik kata-kata sederhana ini. Untukku, dunia pedang dan pertempuran telah menjadi satu-satunya dunia nyataku untuk waktu yang lama. Aku masih tak bisa mempercayai bahwa dunia lain sudah tak lagi disana, bahwa aku sudah tak berada di dunia itu lagi.
Lalu, Apakah aku telah kembali? ---Bahkan meski aku memikirkan itu, aku tak benar-benar senang atau apapun. Yang kurasakan hanyalah sedikit kebingungan dan rasa kehilangan.
apakah ini hadiah yang Sanada bilang untuk menyelesaikan permainan? Aku telah jelas-jelas tewas dalam dunia itu dan tubuhku telah sepenuhnya dihapus. Aku telah menerima itu, Aku bahkan merasa puas dengan itu.
Ya—tak apa-apa bila aku menghilang saja seperti itu. Di cahaya nan terang tersebut, larut, terpencar, lalu meleleh bersama dengan bagian dunia lainnya, bersama dengannya---
“Ah...”
Secara tak sadar aku bersuara. Sebuah nyeri kuat menembus tenggorakan yang tak digunakan selama dua tahun. Tapi aku tak memedulikan itu sedikitpun. Aku membuka mataku lebar-lebar dan mengatakan satu kata saja, sebaris nama yang muncul di pikiranku.
“R…yu…za…ki, Yu..i”
Ryuzaki, Yui. Nyeri yang dirasakan hatiku bergejolak lagi. Ryuzaki, Yui suamiku dan Anakku yang tercinta, yang menonton akhir dunia bersama denganku...
Apakah itu semua hanya mimpi...? Sebuah khayalan indah yang kulihat di dunia virtual...? Pikiran-pikiran yang memusingkan tiba-tiba muncul di kepalaku.
Tidak, dia benar-benar ada. Tak mungkin seluruh hari yang kita habiskan untuk tertawa, menangis dan tidur bersama hanya sebuah mimpi.
Sanada telah mengatakan---“Selamat karena telah menyelsaikan permainan, Rizuka-chan, Ryuzaki-kun.” Dia jelas-jelas mengatakan itu. Jika dia telah memasukkanku kedalam daftar yang selamat, maka Asuna seharusnya juga kembali ke dunia ini.
Begitu aku terpikirkan soal ini, Cinta dan rinduku padanya tumpah deras dan menjalari diriku. Aku ingin menemuinya. Aku ingin menyentuh rambutnya. Aku ingin menciumnya. Aku ingin mendengar suaranya yang memanggil namaku.
Aku menegangkan seluruh otot di tubuhku dan mencoba bangkit. Hanya setelah aku menyadari bahwa kepalaku terikat. Aku mencari-cari dengan jemariku sebelum menemukan kunci sabuk di bawah daguku dan membukanya. Ada sesuatu yang berat di kepalaku. Aku menggunakan kedua tangan dan hampir saja tak bisa melepasnya.
Aku duduk lalu memandangi benda di tanganku. ia sebuah helm biru tua nan halus. Seutas kabel dengan warna sama menyembul keluar dari pelat panjang di bagian belakangnya dan terus memanjang hingga ke lantai. Itu adalah---
Never Gear. Aku telah terjebak dalam dunia itu selama dua tahun karenanya. Kekuatannya telah dimatikan. Ingatan terakhirku tentangnya adalah bahwa ia adalah helm bersinar, tapi kini warnanya telah pudar. Beberapa telah terkelupas sehingga kau bisa melihat aloi logam yang menjadi bahannya.
Seluruh ingatan dari dunia lain dipegang didalamnya---Aku tiba-tiba dicengkram oleh pikiran ini dan mengelus-elus permukaannya.
Aku berfikir bahwa aku takkan pernah memakainya lagi. Tapi ia menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya...
Aku menggumamkan ini dalam kepalaku sebelum menaruh helm diatas kasur. Hari-hari dimana aku bertarung bersamanya sudah merupakan masa lalu. Ada sesuatu yang lain yang perlu aku lakukan sekarang.
Aku tiba-tiba menyadari suara-suara di luar. Saat aku memfokuskan telingaku, aku dapat mendengar berbagai suara, seakan mereka bilang padaku bahwa pendengaranku sudah kembali seperti semula.
Aku jelas-jelas mendengar suara-suara orang yang berbicara dan berteriak. Aju mendengar suara-suara langkah kaki yang terburu-buru dan roda-roda kasur yang dipindahkan.
Tak ada cara untuk mengetahui apakah Ryuzaki ada dalam RS ini. pemain-pemain SAO datang dari seluruh penjuru Jepang, jadi kecil kemungkinan dia disini. Tapi aku akan memulai pencarianku dari sini. Tak peduli seberapa lama waktunya, aku pasti akan menemukannya.
Aku menyingkap selimutku. Ada sejumlah kabel yang tersebar di tubuhku yang lemah. Mungkin mereka adalah elektroda yang ditaruh untuk melambatkan degenerasi otot-ototku. Aku berhasil menarik keluar semuanya. Seberkas LED jingga berkedip di panel yang terletak di ujung kasurku dan segema alarm nyaring menyala, tapi aku mengabaikan semua ini.
Aku menarik jarum tetes IV keluar dan akhirnya membebaskan tubuhku. Lalu aku menempatkan kakiku di lantai dan perlahan menguatkan diri sebagai usaha untuk bangkit berdiri. Tubuhku terangkat sedikit demi sedikit, tapi rasanya lututku bakal habis di menit berapapun dan ini membuatku tersenyum pahit; Status kekuatan manusia superku tak ada dimanapun untuk ditemukan.
Aku mencengkram tiang IV tetes sebagai penahan dan akhirnya berhasil berdiri. Saat memandangi sekeliling ruangan, aku menemukan gaun RS yang terlipat di baki yang sama dengan keranjang bunga-bunga lalu aku mengenakannya.
Setelah menyelesaikan gerakan-gerakan sederhana ini, nafasku sudah terengah-engah. Otot-otot yang tak kugunakan selama dua tahun sudah memprotes dengan nyerinya. Tapi aku tak bisa dengan begitu mudah mengeluh.
Cepatlah, cepatlah. Aku dapat mendengar senada suara yang membujukku untuk terus maju. Sekujur jiwaku merindukannya. Pertarunganku belum usai hingga aku mendapat Ryuzaki dalam pelukanku.
Dengan cengkraman erat di tiang, bukan di pedang, aku menyenderkan tubuhku padanya dan mengambil langkah pertamaku menuju pintu.
Setelah beberapa lama mencari kamar, akhirnya aku menemukan kamar yang bernama Ryuzaki Kazumi dengan cepat aku membuka pintu itu dan terkejut.
Ryuzaki menunggu di depan jendela dengan wajah tersenyum, dengan sigap aku mencoba berlari dan memeluk tubuh Ryuzaki.
Suatu kehormatan aku bisa bertemu Ryuzaki di dunia nyata dan di rumah sakit yang sama, aku menciumnya seperti dia menciumku sebelum berpisah di Devilcraft.
Dan Tepat sesudahnya.

Kehidupan kami berubah.



-THE END-                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar