PART 16
Ryuzaki memberitahuku bahwa dia
sedang memonitor peta saat menungguku di Grandum.
Pada saat sinyal Godfree
menghilang, dia lari keluar dari kota dan melewati jarak lima kilometer yang
membutuhkan kami waktu satu jam perjalanan hanya dalam lima menit. Saat aku
menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang melebihi batas dari dexterity
stat, dia menjawab dengan senyuman kecil:
“Ini adalah kekuatan cinta.”
Setelah kami kembali ke guild HQ,
kami memberitahu Artix mengenai apa yang terjadi dan bertanya apakah kami dapat
meninggalkan guild untuk sementara waktu. Saat Ryuzaki menjelaskan alasannya
adalah “ketidakpercayaan kepada guild”, Artix berpikir dalam diam untuk
beberapa waktu, tetapi tetap memberikan kita ijin. Lalu, dia mengatakan satu
hal terakhir dengan senyum misterius di wajahnya:
“Tetapi kalian akan kembali ke
medan perang tidak lama lagi kan.”
Pada saat kami meninggalkan HQ,
hari sudah sore. Kami bergandengan tangan dan berjalan bersama menuju teleport
gate plaza.
Tiada seorangpun dari kami yang
berkata.
Saat kami berjalan di antara
bayang-bayang hitam menara-menara besi dan cahaya oranye yang datang dari luar
kastil yang melayang ini, aku bertanya-tanya darimanakah asal kebencian
Kuradeel.
Ada banyak orang yang senang
melakukan kejahatan di dunia ini. Mulai dari pencurian dan perampokkan hingga
pembunuhan berdarah-dingin dari guild «Laughing Coffin» seperti Kuradeel; rumor
menyebutkan bahwa jumlah dari pemain kriminal telah melebihi seribu orang.
Banyak orang menganggap mereka sebagai sesuatu yang wajar seperti para monster
sekarang.
Tetapi ketika aku memikirkan
mengenai hal ini, aku masih merasa bahwa mereka adalah kelompok yang sangat
aneh. Seharusnya semua orang sudah tahu bahwa melukai pemain lain adalah sebuah
perbuatan yang pastinya akan mengurangi kemungkinan meninggalkan permainan ini.
Tetapi setelah bertemu dengan
Kura, aku merasa bahwa hal ini tidak berlaku untuknya. Dia tidak membantu
ataupun menghalangi penyelesaian permainan ini ; dia hanya sekedar
berhenti berpikir .Tidak mengenang masa lalu ataupun menantikan masa depan, dia
hanya sekedar berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginannya yang tanpa akhir,
yang mengakibatkan pertumbuhan dari keinginan-keinginan jahatnya—
Lalu bagaimana denganku? Aku
tidak dapat dengan yakin mengatakan bahwa aku telah dengan serius berfokus
untuk menyelesaikan permainan ini. Akan menjadi lebih akurat untuk menyatakan
bahwa aku biasanya menjelajahi labirin-labirin hanya untuk experience points.
Bila aku bertarung hanya untuk memperkuat diriku sendiri, untuk merasa lebih
superior, lalu disuatu tempat jauh di dalam diriku, apakah aku juga tidak ingin
dunia ini berakhir—?
Tiba-tiba, terasa seakan-akan
plat besi di bawah kakiku mulai tenggelam. Aku berhenti berjalan dan mempererat
genggaman tanganku pada tangan kanan Ryuzaki, yang telah aku pegang selama ini.
"…?"
Aku memiringkan kepalaku dan
menatap wajah Ryuzaki. Dia menundukkan kepalanya dan berbicara seperti aku
berbicara pada diriku sendiri:
“…tidak peduli apapun yang
terjadi...aku akan memastikan bahwa kau...kembali ke dunia itu...”
“…”
Kali ini aku memperkuat genggaman
tanganku.
“Saat waktunya tiba,kita akan
kembali bersama.”
Dia menampakkan senyumnya saat
dia selesai mengatakan hal itu.
Kita telah tiba di teleport gate plaza tanpa menyadarinya. Hanya sedikit pemain yang berjalan disekitar area ini, berkerumun bersama melawan angin dingin yang mengisyaratkan datangnya musim dingin.
Aku berbalik dan menatap langsung
Ryuzaki.
Aku berpikir bahwa kehangatan
yang memancar keluar dari keinginan kuatnya adalah satu-satunya cahaya yang
menuntunku ke arah yang benar.
"Rizuka...malam ini...aku
ingin bersamamu...”
Dia mengatakan hal ini tanpa ku
sadari.
Aku tidak ingin berpisah
dengannya. Pertempuran sebelumnya telah menimbulkan rasa takut mati yang
mengerikan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, sesuatu yang tidak dapat dilupakan
hingga saat ini.
Aku pasti akan mengalami mimpi
buruk bila aku tidur sendirian malam ini. Aku akan memimpikan kegilaan orang
itu, pedangnya yang menusuk masuk kedalam tubuhku, dan perasaan saat menusukkan
tangan kananku ke dalam tubuhnya; aku yakin mengenai hal ini.
Aku menatap wajahnya dengan mata
yang terbuka lebar, seakan-akan aku mengerti alasan dibalik permintaannya—
Lalu,dengan kedua pipiku merona
merah, aku mengangguk pelan.
Rumah Ryuzaki di Salemburg, yang
sekarang aku kunjungi untuk kedua kalinya, masih tetap dihiasi dengan megah;
tetapi kali ini rumah ini menyambutku dengan kehangatan yang menyenangkan.
Barang-barang yang diatur didalam rumahnya menunjukkan cita rasa tinggi dari
pemiliknya. Tetapi walaupun begitu, Ryuzaki berkata:
“U-Uwa— Berantakan sekali disini.
Kau jarang mengunjunginya akhir-akhir ini dan...”
Dengan tertawa “hehe”. Aku
tersenyum malu-malu dan segera membantunya merapikan barang-barang yang
berserakan.
“Aku saja yang akan memasakkan
makan malam. Bacalah majalah atau Koran yang barusan aku beli sementara
menunggu.”
“Ryuzaki menjawab Ah, oke.”
Aku menyandarkan diri pada sofa
setelah melihat Ryuzaki melepaskan perlengkapan tempurnya, dengan cepat aku mengenakan
celemek, dan menghilang ke dapur. Selagi menunggu aku memasak makan malam dia
mengambil sebuah koran besar yang ada di meja. Walaupun kami menyebutnya koran,
benda ini hanyalah kumpulan dari rumor-rumor dari para pemain yang bertukar
informasi. Tetapi semenjak dunia ini kekurangan bentuk hiburan, koran ini
menjadi sumber media penting dengan banyak pelanggan. Koran ini hanya memiliki
empat halaman,dan dia hanya melihat sekilas sambil lalu pada halaman pertama
sebelum melemparnya kesamping karena kesal. Hal ini karena tajuk berita halaman
utamanya adalah mengenai duel antara Artix dan aku.
[Pengguna teknik baru Dual Blades
dihancurkan oleh Holy Sword]
Dibawah tajuk berita adalah
gambar dariku terbaring lemah di tanah didepan Artix, yang diambil oleh Record
Crystals. Seseorang dapat berkata bahwa aku hanya menambah halaman lain dari
legenda tak-terkalahkan dari Artix
Yah,mungkin mereka akan berhenti
banyak mengangguku seperti sebelumnya bila harapan mereka terhadap kemampuanku
menurun... Aku membantu diriku sendiri menemukan alasan yang mudah diterima.
Lalu, saat beberapa lama kemudian, sajian makan malam yang menggoda merebak aku
keluarkan dari dapur.
Menu makan malam ini adalah
sebuah steak yang dibuat dari daging monster yang seperti sapi dan disajikan
dengan saus kecap spesial buatan ku. Walaupun peringkat bahan-bahannya tidak
terlalu tinggi, pembumbuannya sangat sempurna. Ryuzaki memandangku dengan
senyum lebar saat aku memasukkan daging kemulutku.
Saat kami duduk berseberangan
dari yang lain pada sofa dan meminum teh setelah menyelesaikan makan malam,
Ryuzaki menjadi sering berbicara untuk suatu alasan tertentu. Dia berbicara
tanpa akhir mengenai berbagai topik seperti jenis senjata yang dia sukai dan
lantai mana yang memiliki lokasi tamasya yang terkenal.
Pada awalnya aku mendengarkan dia
dengan terkejut, lalu kemudian Ryuzaki tiba-tiba terdiam, yang membuatku
khawatir. Dia terduduk kaku dan memandangi cangkir tehnya seakan-akan dia
berusaha untuk menemukan sesuatu. Ekspresi wajahnya sangat serius, hampir
seperti dia bersiap-siap untuk bertarung.
“…hey, ada apa...”
Tetapi sebelum dia mulai
berbicara, aku meletakkan cangkir tehnya dengan keras di meja, lalu berdiri
tegak dari tempat duduknya dan mengumumkan:
“...okay!”
“kalau kamu tidak mau bicara
biarkan aku yang mulai duluan”
Aku berjalan kearah ambang
jendela, menyentuh dinding untuk membuka Room Control Menu, dan mematikan semua
lampu. Kegelapan segera menyelimuti ruangan; kemampuan penunjang dari scan
skill-ku secara otomatis berfungsi dan menggantikan penglihatan normalku dengan
mode penglihatan malam.
Ruangan ini diwarnai oleh cahaya
biru redup, dan Ryuzaki bercahayakan warna putih yang berasal dari cahaya lampu
lentera yang datang dari jendela. Walaupun dia sendiri bingung dengan apa yang
aku lakukan, kecantikan ku tetap membuatnya menahan nafas.
Rambut panjangku yang nampak
berwarna hitam, tangan dan kaki semampainya, semuanya memantulkan cahaya redup
dan terlihat seakan-akan bercahaya.
Aku berdiri terdiam di samping jendela
untuk beberapa waktu. Ryuzaki tidak dapat melihat ekspresi wajahku secara jelas
karena aku telah menundukkan kepalaku. Aku juga telah meletakkan tangan kanan
ku pada dada ku dan ragu-ragu akan “itu”.
Saat dia baru saja akan bertanya
tentang apa yang sedang terjadi, aku mulai menggerakkan tangan kiri ku. Ibu
jari dan jari telunjuk ku bergerak di udara, dan sebuah menu window tampak
dengan sound effect yang menemaninya.
Dalam kegelapan berwarna biru
ini, jemari ku bergerak disepanjang menu window yang berpendar ungu. Ryuzaki
berpikir kelihatannya aku sedang memanipulasi menu sebelah kiri, yang
mengendalikan perlengkapan pemain.
Segera setelah dia memikirkan hal
itu, stocking sepanjang lutut yang kugunakan menghilang, dan terlihat jelas
lekukan-lekukan yang elegan dari kakiku didepan matanya. Jari jemariku bergerak
lagi, dan kali ini, baju pendek satu jahitannya kutanggalkan. Mulutnya pun
terbuka lebar dan kedua matanya terbuka lebar entah apa yang dia pikirkan
sepenuhnya.
aku sekarang hanya memakai
pakaian dalam. Kain putih kecil yang hanya bisa menutupi dada dan pinggangku.
“J-jangan...melihat kesini...”
Kataku, suara kecilnya gemetar.
Tetapi walaupun aku berkata demikian, dia masih tidak dapat mengalihkan
pandangan matanya.
Aku mencoba untuk menutupi dadaku
dengan kedua tanganku saat aku bimbang; tetapi setelah dia mengangkat kepalanya
dan melihat langsung kepadaku, aku menurunkan kedua lengan ku dengan anggun.
Dia merasa sangat terkejut yang
rasanya seperti jiwanya telah meninggalkan tubuhku dan hanya dapat melihatnya
dengan pandangan kosong.
“Cantik” tidak dapat menjelaskan
keindahan. Kulitku yang diwarnai dengan partikel-partikel berwarna biru langit
terlihat sangat lembut dan mulus. Rambutku terlihat seperti terbuat dari benang
sutera terbaik. Dadanya berlekuk dengan sangat sempurna sehingga terlihat,
dengan ironis, seakan-akan tidak ada graphic engine yang dapat
menggambarkannya. Lekukan kakiku yang bermula dari pinggang langsingnya membuat
seseorang berpikir tentang keanggunan dari seorang putri.
Mustahil mempercayai bahwa
penampilannya hanyalah sebuah gambar buatan 3D. Bila aku yang menggambarkannya,
penampilannya seperti sebuah pahatan yang dibuat oleh Tuhan dengan kehidupan
ditiupkan kedalamnya.
Data yang dikumpulkan oleh Nerve
Gear yang berasal dari proses kalibrasi dari pemain menentukan bentuk tubuh
dari avatar pemain. Dengan pemikiran itu, seseorang akan menyebut keberadaan
dari tubuh yang sempurna itu sebagai sebuah keajaiban.
Dia tetap menatap tubuhku yang
nyaris tidak tertutupi seakan-akan jiwanya telah meninggalkan tubuhnya. Bila
aku tidak menutupi diriku dengan kedua lenganku dan membuka mulutku untuk
berbicara, dia akan tetap duduk seperti itu bahkan hingga satu jam kemudian.
Wajahku terlihat sangat merah
sehingga dia dapat melihatnya bahkan dalam kegelapan berwarna biru dari ruangan
ini. Aku merendahkan kepalanya dan berbicara:
“R-Ryuzaki-kun, lepaskan
pakaianmu juga... Sangat me, memalukan untukku untuk melakukannya sendiri.”
Setelah mendengar hal itu, dia
akhirnya menyadari arti dibalik tindakan-tindakan ku.
Dengan kata lain, dia mengartikan
apa yang aku katakan — bahwa dia ingin bersamaku malam ini, dengan arti yang
lebih mendalam dari apa yang dia maksudkan.
Segera setelah dia menyadari hal
itu, dia terjatuh kedalam rasa panik yang tiada akhir. Sebagai hasilnya, dia
melakukan kesalahan terburuk dalam seluruh hidupku hingga saat ini.
“Err…bukan, kamu tahu , aku
berpikir... bahwa akan lebih baik, bila kita berada be-bersama di dalam sebuah
ruangan malam ini...”
“Eh…?”
Setelah dia menjawab secara bodoh
dengan jujur, akulah yang berdiri terkaku dengan mulutnya terbuka lebar kali
ini. Lalu,dengan sebuah ekspresi dari kemarahan dan rasa malu yang hebat
tersebar di seluruh wajahku.
“Kau...kau...”
Kepalan tangan kananku yang
tergenggam erat mengungkapkan hawa membunuh yang nyaris terlihat.
“Bodoh--!!”
Kepalan tangan ku, yang telah
melesat menuju ke kecepatan yang memanfaatkan seluruh dexterity stat-nya,
terhenti sesaat sebelum menghantam wajahnya oleh Crime Prevention Code dan
mengeluarkan sebuah suara keras dan semburan dari percikan-percikan ungu
sebagai gantinya.
“A-Ahh—! Tunggu!! Maafkan aku,
maafkan aku! Lupakan apa yang aku katakan!”
Dia mencoba untuk menjelaskan
sementara dengan panik melambai-lambaikan tangan kananmya kepada ku, yang baru
saja akan melemparkan tinjuan keduanya tanpa menghiraukannya sama sekali.
“Maafkan aku, aku salah!!
Ta...tapi, lagipula, dapatkah kamu...seperti... dapat me-melakukannya...?
Didalam AQWO...?”
Aku menurunkan sikap bertarungku
dan sedikit terkejut, walaupun tetap marah. Lalu aku bertanya:
“Kau,maksudmu kau tidak tahu...?”
“Tidak,aku tidak tahu...”
Lalu, ekspresi wajah ku berubah
dari kemarahan menjadi rasa malu, sebelum aku kemudian menjelaskan dengan suara
kecil:
“…jadi...dibagian option menu,
jauh di bawah...disana ada pilihan yang disebut «Ethic Code Off».”
Itu adalah kali pertama aku pernah
mendengar sesuatu seperti ini. Dia yakin hal ini tidak ada pada saat beta test,
hal ini juga tidak pernah disebutkan didalam buku panduan. Untuk mengetahui
bahwa hal ini adalah harga lain yang harus Dia bayar untuk bermain solo dan
tidak mempunyai minat lain selain bertarung.
Tetapi informasi ini menghasilkan
pertanyaan baru yang tidak dapat dia tolak untuk dia pikirkan. Karena
kemampuannya untuk berpikir jernih dia belum sepenuhnya pulih, secara tidak
sadar dia mengucapkannya keras-keras:
“…apakah... apakah kamu pernah
melakukannya sebelumnya...?”
Sekali lagi kepalan tangan besi
ku meledak dalam percikan-percikan tepat di depan wajahnya.
"T-tentu saja tidak, bodoh
kamu—!! Aku hanya mendengarnya dari para gadis lain di dalam guild!!”
Dia segera berlutut di lantai
didepannya dan meminta maaf tiada akhir. Dibutuhkan waktu beberapa menit
sebelum dia berhasil tenang.
Sebatang lilin diatas meja terus menyala; segaris cahaya tipis yang menyala darinya membuat kulit Aku bependar sedikit sementara Ryuzaki menatap indahnya kota di balik jendela. Dia menarikan salah satu jarinya secara lembut dibagian punggungku yang putih; kehangatan dan kelembutan yang kurasakan dari ujung jarinya terasa sangat memabukkan.
Aku perlahan bangun dan menatap
kedua matanya . Dia berkedip dua kali dan kemudian tersenyum.
“Maaf. Apakah aku menganggumu?”
“Yeah. Aku melihat sebuah mimpi yang aneh. Sebuah mimpi mengenai dunia nyata...”
Dia tetap tersenyum sementara dia
mengusapkan tangannya ke pipiku.
“Di dalam mimpi itu, aku sempat
berpikir bahwa memasuki Devilcraft dan bertemu denganmu hanyalah sebuah mimpi,
dan aku merasa sangat takut. Aku lega....bahwa semuanya bukan mimpi.
“Kamu adalah seseorang yang aneh.
Apakah kamu tidak mau kembali?”
“Tentu saja aku ingin. Aku ingin
kembali, tetapi aku tidak ingin semua yang terjadi di sini untuk menghilang
begitu saja. Walaupun... hal ini membutuhkan waktu lama untuk kita... tetapi
dua tahun terakhir ini sangat berharga bagiku. Aku yakin akan hal itu
sekarang.”
Ryuzaki tiba-tiba merubah ekspresi
wajahnya menjadi serius dan menggenggam tangan kananku, yang kuletakkan diatas
bahunya, lalu membawa tanganku ke dadanya dan memeluknya dengan erat.
“... Aku minta maaf, Rizuka-chan.
Aku seharusnya... Aku seharusnya menyelesaikannya sendiri...”
Aku menarik nafas lalu
menghebuskannya dalam-dalam.
“Tidak...Kuralah yang salah,
seseorang yang membuatnya seperti itu, adalah aku. Itu adalah pertarunganku.”
Dia mengangguk perlahan sementara
aku menatap kedua matanya.
Air mata terbentuk di mataku yang
seperti kemiri sementara Ryuzaki diam-diam menekan bibirnya kepada tangan yang
dipegangnya. Aku dapat merasakan gerakan lembutnya.
“Aku juga akan... menanggungnya
bersamamu. Setiap beban yang kau pikul, aku akan membawanya bersamamu. Aku
berjanji, aku pasti akan melindungimu mulai saat ini...”
Ini adalah—
Kata-kata yang tidak dapat dia ucapkan
bahkan satu kalipun hingga sekarang. Tetapi pada saat ini, bibirku gemetar, dan
aku dapat mendengar suara yang tersingkap keluar dari jiwanya.
“Aku juga.”
Suara yang sangat lemah bergema
ke udara.
“Aku akan melindungimu juga.”
Walaupun ini adalah kata-kata
yang sangat sederhana, dia telah mengatakannya dengan sikap yang secara
menyedihkan tenang dan tidak dapat diandalkan. Dia tersenyum kecut saat aku
memegang tanganku dan berkata:
“Rizuka... kau sangat kuat. Kamu
jauh lebih kuat daripadaku...”
Setelah mendengar hal itu, aku
berkedip beberapa kali dan kemudian tersenyum.
"Tidak, aku tidaklah kuat.
Aku biasanya bersembunyi dibelakang orang lain di dunia nyata. Bahkan permainan
ini bukanlah sesuatu yang aku beli.”
Dia tertawa seakan-akan dia baru
saja memikirkan tentang sesuatu.
“Permainan ini adalah sesuatu
yang kakak laki-lakiku beli, tetapi dia tiba-tiba harus pergi untuk urusan
bisnis; jadi aku dapat bermain dengan permainan ini pada hari pembukaannya. Dia
sangat kecewa karena itu. Dia pasti sangat marah sekarang karena aku telah
memakainya selama dua tahun.”
Aku berpikir bahwa Ryuzaki lebih
tidak beruntung telah datang kemari menggantikan kakaknya, tetapi aku hanya
mengangguk.
“...Kau lebih baik segera kembali
dan meminta maaf.”
“Yeah... Aku perlu berusaha lebih
keras...”
Tetapi suaraku melemah saat aku
mengatakan hal ini, menundukkan pandanganku ke bawah seakan-akan aku takut akan
sesuatu dan kemudian mendekatkan tubuhnya kepadaku.
“Umm...Ryuzaki-kun, aku tahu
bahwa hal ini berlawanan dengan apa yang baru saja aku katakan... tetapi
bisakah kita meninggalkan garis depan untuk sementara waktu?”
“Hmm...?”
“Entah kenapa aku merasa takut...
Kita akhirnya berhasil saling mengutarakan perasaan kita, jadi aku merasa
sesuatu yang buruk akan terjadi lagi bila kita pergi ke garis depan segera
sesudahnya... Mungkin aku hanya agak kelelahan.”
Ryuzaki mengusap rambutku
diam-diam dan mengangguk dengan sangat menurut yang mengejutkan diriku sendiri.
“Yeah, kamu benar... Aku juga
agak lelah...”
Walaupun bila angka-angkanya
tidak berubah, berbagai pertarungan yang kami jalani hari demi hari menimbulkan
kelelahan yang tidak dapat dilihat. Contoh terutama mengenai hal ini adalah
situasi seekstrim hari ini. Bahkan busur yang kuat akan patah bila ditarik
terlalu kuat. Kami pasti memerlukan istirahat.
Aku merasakan dorongan yang
mendorongku untuk bertarung tanpa henti melayang menjauh. Kali ini, aku hanya
ingin memperdalam hubungan yang terbentuk diantara kita berdua.
Ryuzaki memeluk ku dengan erat,
lalu membenamkan wajahnya pada rambutku yang seperti sutra dan berkata:
"Pada bagian tenggara dari
lantai dua puluh dua, di antara hutan-hutan dan danau-danau... terdapat sebuah
desa kecil. Tempat itu adalah tempat yang baik dan tanpa monster. Mereka
menjual beberapa pondok di sana. Kita berdua dapat berpindah kesana bersama...
dan kemudian...”
Aku menatapnya saat dia berhenti
berbicara.
“Kemudian...?”
Dia berhasil menggerakkan
lidahnya yang membeku dan meneruskan kata-kataku.
"...mari, mari kita
menikah.”
Senyuman sempurna yang aku
tunjukkan padanya saat itu, tidak akan dia lupakan seumur hidup.
“Okay...”
Aku mengangguk kecil sementara
setetes besar air mata mengalir turun melewati pipiku yang kemerahan.
PART 17
Terdapat empat macam hubungan
antara dua pemain di dalam sistem dari AQWO.
Yang pertama adalah dua orang
yang tidak saling mengenal sama sekali. Yang kedua adalah teman. Para pemain
yang telah saling mendaftarkan satu sama lain sebagai teman dapat saling
mengirim pesan singkat antar teman tidak peduli dimana mereka berada. Mereka
juga dapatsaling mencari lokasi teman mereka melalui peta.
Yang ketiga adalah anggota satu
guild. Selain keuntungan yang telah disebutkan diatas, mereka juga mendapatkan
sedikit peningkatan status mereka ketika mereka berkelompok dengan teman dari
guild yang sama. Akan tetapi, mereka harus menyerahkan sebagian kecil dari Coll
yang mereka peroleh sebagai pajak dari guild.
Hingga sekarang, Ryuzaki dan aku
adalah teman dan anggota satu guild, walaupun pada kenyataannya saat ini kami
sedang beristirahat dari kegiatan guild. Tetapi kami telah memutuskan untuk
memasuki tahap terakhir dari hubungan antar pemain.
Pernikahan— walaupun sebenarnya
langkah untuk menikah sebenarnya sederhana sekali. Ketika seseorang mengirimkan
pesan lamaran dan orang yang lain menerimanya, mereka kemudian telah dinyatakan
menikah. Tetapi perbedaan dari pernikahan dengan teman atau anggota satu guild
sangat jauh.
Pernikahan di AQWO berarti
membagi semua informasi dan item. Yang satu dapat melihat stat window yang lain
setiap saat, dan bahkan inventory window mereka bergabung menjadi satu. Dengan
kata lain, hal ini berarti mempercayakan jaring pengaman paling penting
seseorang kepada partner mereka. Di dalam Devilcraft, dimana pengkhianatan dan
penipuan umum terjadi, sangat sedikit yang bertindak hingga sejauh tahap
pernikahan bahkan diantara pasangan-pasangan yang paling dekat. Tentu saja,
alasan penting lainnya adalah perbandingan pria-wanita yang sangat tidak
seimbang.
Lantai dua puluh dua adalah salah
satu dari area yang paling jarang ditinggali di Devilcraft. Karena lantai ini
adalah salah satu dari lantai-lantai tingkat bawah, lantai ini terhitung besar;
tetapi sebagian besar dipenuhi oleh hutan-hutan dan banyak danau yang tersebar
disekitar area ini; karena itu, daerah untuk tempat tinggalnya sangat kecil
sehingga dapat disebut sebagai hamlet. Monster jarang muncul di padang, dan
karena tingkat kesulitan dari labirinnya sangat rendah, level ini telah
terselesaikan dalam tiga hari dan sebagian besar pemain tidak begitu banyak
mengingat mengenai level ini.
Ryuzaki dan aku memutuskan untuk
membeli sebuah pondok yang kecil, dan bundar didalam hutan pada lantai dua
puluh dua ini untuk tinggal disana. Walaupun ukurannya kecil, tetap dibutuhkan
uang yang cukup banyak untuk membeli sebuah rumah didalam AQWO. Ryuzaki
menawarkan untuk menjual rumahnya di Salemburg, tetapi aku dengan bersikukuh
menolak hal itu, karena akan menjadi sangat disayangkan untuk menjual sebuah
rumah yang telah diperlengkapi dengan perabotan secara sempurna. Jadi pada
akhirnya, kami mengumpulkan semua barang langka kami dan menjualnya dengan
bantuan dari Near, yang akhirnya berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membeli
rumah itu.
Walaupun Near berkata dengan
ekspresi sedih bahwa kami dapat menggunakan lantai dua dari tokonya bila kami
mau, aku berpikir bahwa menghabiskan masa bulan madu di dalam toko pedagang
terlalu mengenaskan. Selanjutnya, aku bahkan tidak mau membayangkan apa yang
akan terjadi setelah fakta bahwa Ryuzaki yang sangat terkenal telah menikah
diketahui berbulan madu di dalam toko. Aku berpikir bahwa kami seharusnya dapat
menghabiskan hari-hari kami dengan tenang di lantai dua puluh dua yang jarang
ditinggali.
“Uwa— betapa indahnya pemandangan
ini!”
Aku menyandarkan diri ke depan,
keluar dari jendela kamar tidur kami; walaupun disebut kamar tidur, sebenarnya
hanya ada dua ruangan di dalam rumah ini.
Pemandangan di luar memang sangat
mempesona. Tempat ini terletak dekat dari tepi Devilcraft, jadi seseorang dapat
melihat danau-danau yang bergemelapan, hutan yang hijau, dan langit yang
terbuka bebas secara bersamaan. Karena kami biasanya tinggal dengan
langit-langit batu sekitar seratus meter di atas kami, langit bebas memberikan
kami rasa kebebasan yang tidak dapat dijelaskan.
“Hanya saja jangan jatuh dari
jendela sementara kamu melihat pemandangan.”
Ryuzaki berhenti mengatur
perabotan rumah tangga dan melingkarkan tangannya di sekitar tangan kiriku. Aku
ini sekarang adalah istri seorang yang di kenal sebagai Flash ketika dia
memikirkan tentang hal itu, kehangatan dari cahaya mentari yang terang di musim
dingin, rasa takjub yang mengagumkan, begitu juga dengan rasa terkejut mengenai
seberapa jauh kami telah melangkah semua menyerangku secara bersamaan.
Sebelum aku terperangkap di dalam
permainan ini, aku hanyalah seorang anak yang pergi ke sekolah dan kemudian
kembali ke rumah tanpa cita-cita apapun dalam hidupku. Tetapi sekarang, dunia
nyata telah menjadi masa lalu yang jauh.
Bila permainan ini sudah
diselesaikan, kami dapat kembali ke dunia nyata... hal itu adalah yang semua
pemain, termasuk Ryuzaki dan aku, harapkan untuk menjadi nyata. Tetapi aku
tidak dapat menahan rasa cemasku yang muncul setiap kali aku memikirkan
mengenai hal ini.Tanpa sadar Ryuzaki menguatkan pelukannya.
“Ryuzaki-kun, sakit... Apakah ada
sesuatu yang salah...?”
“M-maaf... Hey, Rizuka...”
Untuk sesaat dia berhenti
berbicara, tetapi dia harus menyelesaikan pertanyaannya.
“...hubungan kita, apakah hanya
dalam permainan...? Apakah hubungan ini akan menghilang setelah kita kembali ke
dunia yang lain...?”
“Aku akan marah, Ryuzaki-kun.”
Aku berbalik dan menatapnya
dengan kedua mataku yang penuh dengan emosi.
“Walaupun ini hanyalah sebuah
permainan normal dibandingkan dengan situasi aneh ini, aku tetap tidak akan
menyukai orang lain dengan begitu saja.”
Aku menekan kedua pipinya dengan
kedua tanganku dan kemudian berkata:
"Aku mempelajari sesuatu
disini, dan hal itu adalah terus berusaha dan jangan pernah menyerah. Bila kita
berhasil kembali ke dunia nyata, aku pasti akan datang mencari Ryuzaki-kun
lagi, dan aku akan tetap menyukaimu.”
Berapa kali aku telah mengagumi
kejujuran dan ketegaran hati Ryuzaki? Atau mungkin saja hatinya saja yang
terlalu lemah.
Tetapi walaupun aku adalah yang
lebih lemah, hal itu tidak menjadi masalah. Aku telah lupa sejak lama betapa
menyenangkannya untuk menggantungkan diri kepada orang lain dan merasakan orang
lain bergantung kepadaku. Aku tidak tahu berapa lama kami dapat tinggal di
sini, tetapi setidaknya kami terletak jauh dari pertempuran selama masa waktu
ini—
Aku membiarkan pikiranku
mengembara dan mengonsentrasikan perasaanku kepada kelembutan dan bau harum
yang memenuhi kedua tanganku.
PART 18
Pelampung yang terikat pada benang pancing belum bergerak satu
kalipun. Rasa mengantuk menyerang kesadaranku sementara aku melihat tarian
cahaya mentari yang terpantulkan dari riak air danau yang berkilauan.
Aku menguap lebar dan menarik benang pancingku. Hanya sebuah kail
perak pada ujung benang yang bersinar di bawah cahaya mentari; umpan yang telah
aku pasang di atasnya telah hilang.
Lebih dari sepuluh hari telah berlalu semenjak kami pindah ke
lantai dua puluh dua. Untuk mengumpulkan makanan setiap hari, aku telah menghapus
teknik pedang dua tanganku , yang baru aku latih dengan singkatdahulu, dan
menggantinya dengan teknik memancing. Aku mulai meniru Taikoubou dalam memancing. Tetapi untuk suatu
alasan tertentu, aku tidak menangkap apapun. Nilai latihannya baru saja melewati
angka 600, jadi aku tidak mengharapkan tangkapa besar apapun, tetapi aku
berpikir bahwa aku seharusnya telah menangkap sesuatu sekarang. Malahan, aku
hanya menghabiskan hari demi hari membuang kotak-kotak umpan yang aku beli di
desa.
"Ah, hal ini sangat menjengkelkan...”
Aku menggumamkan keluhan-keluhanku, melempar joran pancing
kesamping, dan merebahkan diriku ke tanah. Angin yang bertiup diatas air
sedingin es, tetapi mantel yang dibuat Ryuzaki dengan teknik menjahitnya
membuatku tetap hangat. Ryuzaki masih dalam tahap melatih teknik itu, jadi
mantel yang dibuatnya masih belum sebaik pakaian yang dijual di toko-toko NPC.
Tetapi karena mantelnya dapat digunakan dan membuatku tetap hangat, tidak ada
yang perlu dipermasalahkan.
Sekarang adalah «Bulan dari Cypress» di dalam Devilcraft, yang
berarti sekarang adalah bulan November di Jepang. Walaupun sekarang sudah
hampir memasuki musim dingin, memancing di AQWO tidak memiliki hubungan apapun
dengan musim. Mungkin hal ini sebenarnya karena aku telah menghabiskan semua
keberuntunganku bersama Ryuzaki yang ku cintai.
Sementara aku memikirkan hal ini, keseluruhan diriku dipenuhi
dengan kebahagiaan, dan sebuah senyum lebar tergambar di wajahku. Lalu
tiba-tiba, sebuah suara mencapai telingaku.
"Bagaimana kabarmu?”
Aku melompat kaget dan melihat seorang pria berdiri disana saat
aku berbalik.
Tubuhnya terbungkus dengan pakaian tebal, termasuk dengan sebuah
topi dengan penutup telinga, dan memegang joran pancing di kedua tangannya
sepertiku. Tetapi hal yang mengejutkan adalah usianya. Tidak peduli bagaimana
aku melihatnya, dia sepertinya paling tidak berusia lima puluh tahun. Kedua
mata dibalik kacamata berbingkai logam menunjukkan usia seorang yang sudah
senior. Diantara para pecandu game berat di dalam AQWO, sangat jarang melihat
seseorang yang sangat tua. Sebenarnya, aku belum pernah melihat seorangpun
sebenarnya. Mungkinkah-?
“Aku bukan seorang NPC.”
Dia tersenyum kecut seakan-akan dia telah membaca pikiranku, dan
kemudian secara perlahan melangkah menuruni lereng danau.
“M-Maaf. Aku hanya heran...”
“Tidak, tidak apa-apa. Hal itu dapat dimengerti. Aku kemungkinan
besar adalah pemain paling tua di sini.”
Tubuh sehatnya terayun sementara dia tertawa “wa-ha-ha” sepenuh
hati.
“Permisi.”
Dia engatakan hal itu sementara dia duduk di sampingku. Dia
mengambil sebuah kotak umpan dari pinggulnya, lalu dengan canggung membuka
sebuah pop-up menu, mengambil joran pancingnya, dan menaruh umpannya di sana.
“Namaku adalah Nishida. Aku adalah seprang pemancing disni. Di
Jepang, aku bekerja sebagai kepala bagian perawatan dari sebuah perusahaan
bernama Tohto Broadband Connection. Maaf aku tidak membawa kartu nama bisnisku.
Dia tertawa lagi.
“Ah…”
Aku hampir dapat menebak alasan mengapa dia berada di dalam
permainan ini. Tohto adalah sebuah perusahaan operator network yang bekerja
sama dengan Elemental. Merekalah yang bertanggung jawab untuk mengurus network
yang menghubungkan server-server AQWO.
“Namaku Rizuka. Aku pindah kesini dari lantai atas beberapa saat
yang lalu untuk berbulan madu. Nishida oji-san... pasti sedang... merawat
koneksi network SAO...?”
“Aku adalah yang bertanggung jawab atas hal itu.”
Nishida mengatakan hal itu sembari mengangguk. Aku melihatnya
dengan perasaan yang rumit. Hal ini berarti dia telah terlibat dalam semua ini
disini karena pekerjaannya.
"Haha, para atasanku berkata bahwa tidak perlu masuk ke dalam
permainan, tetapi aku tidak dapat merasa tenang sepenuhnya sebelum aku melihat
hasil pekerjaanku dengan mataku sendiri, dan karena kekhawatiran orang tua
sepertiku, aku menjadi seperti ini.”
Dia mengayunkan joran pancingnya dengan gerakan yang luar biasa
halus saat dia mengatakan hal ii, dan seseorang dapat mengetahui bahwa dia
sudah memiliki professional mastery dari seorang pemancing yang ahli. Dia juga
sepertinya senang bercakap-cakap, karena dia meneruskan percakapannya tanpa
menunggu balasan dariku:
"Selain aku, ada sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang
tua lain yang berada di sini karena berbagai alasan. Kebanyakan dari mereka
hidup dengan aman di Starting City, tetapi aku jauh lebih menikmati hal ini
dibandingkan dengan hanya makan tiga kali sehari.”
Dia mengangkat joran pancingnya sedikit.
"Aku telah tanpa henti mencari untuk mencari sungai-sungai
dan danau-danau yang bagus, dan pada akhirnya naik hingga ke tempat ini.”
“Oh, benarkah... Yah, hampir tidak ada monster di lantai ini.”
Nishida hanya tersenyum akan apa yang aku katakan tanpa menjawab.
Lalu dia bertanya kepadaku:
“Lalu, apakah ada tempat yang bagus di lantai atas?”
Dia bertanya.
“Hmmm… Yah, lantai enam puluh satu seluruhnya adalah danau,
sebenarnya, lebih mirip laut, dan mereka berkata bahwa seseorang dapat menagkap
ikan yang besar di sana.”
“Ohh! Aku lebih baik pergi ke sana suatu saat.”
Pada saat ini, pelampung dari joran pancingnya mulai tenggelam
dengan cepat. Nishida tidak membuang waktu untuk menariknya. Sepertinya level
teknik memancingnya cukup tinggi, begitu pula dengan kemampuan sebenarnya untuk
memancing.
“Woah, besar sekali!”
Sementara aku memaksakan tubuhku untuk bersandar ke depan, Nishida
dengan tenang menggulung benang pancingnya dan dengan cepat menarik ikan biru
yang berkilauan itu. Ikan itu menggelepar di tangannya beberapa kali lalu
menghilang ke dalam inventory-nya.
“Luar biasa...!”
Nishida tersenyum malu sementara dia mengangkat kepalanya untuk
menjawab:
“Bukan apa-apa. Yang perlu kamu lakukan di sini hanyalah menaikkan
teknik memancingmu.”
Lalu dia menambahkan hal ini sementara dia menggaruk kepalanya:
“Tetapi, walaupun aku dapat menangkapnya, aku masih tidak tahu bagaimana
cara memasaknya dengan baik... Aku ingin memakan sashimi atau ikan panggang,
tetapi aku tidak dapat melakukan apapun tanpa kecap.”
“Ah… benar juga…”
Aku ragu-ragu untuk beberapa saat. Kami pindah ke sini untuk
menghindari orang lain, tetapi aku berpikir bahwa orang ini tidak akan tertarik
dengan rumor dan gosip.
“…Aku tahu mengenai sesuatu yang terasa mirip sekali dengan
kecap...”
“Apa!?”
Nishida menyandar lebih dekat dengan kedua matanya bersinar
dibalik kacamatanya.
Saat Ryuzaki menyambut kepulanganku dan melihat Nishida, kedua matanya terbelalak kaget, namun kemudian dia tersenyum dan berkata:
“Selamat datang. Seorang tamu?”
“Yeah, dia adalah Nishida oji-san, seorang pemancing. Dan-“
Suaraku melemah sementara aku berbalik melihat Nishida dan tidak
yakin bagaimana memperkenalkan Ryuzaki. Lalu, Ryuzaki sepertinya tau apa yang
aku pikirkandan dia memperkenalkan dirinya sendiri:
“Aku adalah Suaminya Rizuka. Selamat datang ke rumah kami.”
Dia mengangguk dengan penuh percaya diri.
Nishida menatap Rizuka dengan serius. Ryuzaki sedang memakai
sebuah celana panjang polos bewarna hitam dan kaos pajang polos bewarna putih.
Dia terlihat sangat berbeda dengan citranya sebagai seorang ksatria yang
mengesankan sebagai seorang anggota BoK, tetapi kekerenannya tidak berubah.
Setelah menatap Ryuzaki beberapa lama, Nishida akhirnya tersadar
kembali dan mengatakan:
“Ah, ahh, aku minta maaf. Aku telah terheran untuk sesaat aku tak
menyangka Rizuka-chan mempunyai suami se keren kamu. Namaku Nishida. Maaf
mengganggumu seperti ini..”
Dia menggaruk kepalanya dan tertawa.
Aku menerapkan semua keahlian memasak ku yang mengesankan kepada
ikan besar yang telah ditangkap Nishida, dan menaruhnya di meja setelah
mengubahnya menjadi sashimi dan ikan panggang dengan kecap sebagai bumbunya.
Sementara aroma dari kecap buatan tangan tercium di dalam rumah, Nishida
melebarkan lubang hidungnya dengan rasa senang tampak di wajahnya.
Ikan itu lebih terasa seperti ikan yellowtail dengan tambahan
sejumlah minyak dibandingkan dengan rasa seperti kan air tawar. Menurut
Nishida, kamu memerlukan setidaknya 950 poin dalam memancing sebelum kamu dapat
menangkapnya. Setelah sebuah percakapan pendek, kami bertiga terfokus untuk
memakan ikan itu dengan sumpit kami.
Piring-piringnya telah kosong dalam sekejap mata, dan Nishida
menghela napas dengan ekspresi kebahagiaan saat dia memegang secangkir teh
panas dengan kedua tangannya.
“…ah, makanan tadi sangat memuaskan. Terima kasih. Untuk berpikir
bahwa kecap ada di dunia ini.”
“Oh, kecap ini buatan tangan. Kamu dapat membawa beberapa denganmu
bila kamu suka.”
Aku mengambil sebuah botol kecil dari dapur dan memberikannya
kepada Nishida. Aku berpikir bahwa ini adalah ide yang bagus untuk tidak
memberitahukannya resep dari kecap itu. Aku lalu tersenyum dan berkata kepada
Nishida yang berterima kasih:
"Jangan khawatir akan hal ini; anda juga membawakan kami ikan
yang baik.”
Dia lalu melanjutkan perkataanya:
“Rizuka-chan belum pernah menangkap apapun kata Ryuzaki sambil
tertawa.”
Pada serangan mendadak ini, aku hanya menyesap tehku dalam
keheningan sebelum menjawab:
“Danau-danau di area ini semua terlalu susah.”
“Tidak, tidak juga. Hanya danau tempat Rizuka-chan memancing
saja.”
“Eh…”
Apa yang Nishida katakan membuatku tidak dapat berkata-kata.
Ryuzaki memegang perutnya dan mulai tertawa lagi tanpa henti.
“Kenapa mereka mengaturnya seperti itu...?”
“Sebenarnya, di danau itu...”
Nishida menurunkan nada suaranya sebelum melanjutkan, jadi Ryuzaki
dan aku menyandar ke depan.
“Aku rasa dewa setempat tinggal disana.”
“Dewa setempat?”
Sementara suara Ryuzaki dan aku bergema bersama, Nishida
tersenyum, membetulkan kacamatanya, dan kemudian melanjutkan perkataannya:
“Pada item shop di desa, disana ada sebuah umpan yang jauh lebih
mahal dari umpan yang lain. Aku penasaran mengenai kemampuannya, jadi aku
memutuskan untuk memebelinya sekali dan mencobanya.”
Aku menelan ludah karena naluri.
“Tetapi aku tidak dapat menangkap apapun dengan umpan itu. Setelah
mencobanya di berbagai tempat, aku akhirnya berpikir untuk mencoba pada danau
yang sulit itu.”
“Apakah, apakah kamu menangkap sesuatu...?”
“Sebenarnya, sesuatu menangkap umpannya.”
Nishida mengangguk dalam, dan raut wajahnya menjadi raut wajah
yang menunjukkan penyesalan:
“Tetapi aku tidak dapat menariknya dengan kekuatanku dan pada
akhirnya kehilangan joran pancingku karena itu. Aku hanya berhasil melihat
bayangannya dalam saat-saat terakhir. Hal itu tidak hanya besar, kamu dapat
memanggilnya sebuah monster, tetapi dalam arti lain dengan monster yang muncul
di padang.”
Dia membuka lebar kedua tangannya. Hal ini mungkin adalah alasan
di balik senyumnya yang penuh arti ketika aku berkata, “Hampir tidak ada
monster di lantai ini.”
“Uwa, aku ingin memancingnya!”
Aku berseru dengan kedua matanya berkilauan. Lalu, Nishida bertemu
pandang denganku dan berkata:
“jadi aku memiliki sebuah usulan— apakah kamu memiliki kepercayaan
diri dengan strength stat-mu Rizuka-chan...?”
“Yah, kelihatannya tidak apa-apa...”
“Lalu bagaimana bila kita memancingnya bersama? Aku akan
menahannya hingga dia menggigit umpannya dan kemudian menyerahkan sisanya
kepadamu.”
“Hmm, jadi kita akan melakukan «Switch» sementara memancing...
apakah hal itu mungkin...?”
Aku memiringkan kepalaku ke samping.
“Mari kita coba, sayang! Hal ini kelihatannya menarik dan seru!”
Ryuzaki mengatakan hal ini dengan kata “bersemangat” tertulis
jelas di wajahnya. Tetapi, tidak salah jika aku juga agak tertarik dengan hal
ini.
“Lalu mari kita segera mencobanya.”
Ketika aku menjawab, sebuah senyum tersebar di wajah Nishida.
"Itu baru semangat, , wa-ha-ha."
Malam itu.
Setelah berseru, “Dingindingin,” aku merangkak masuk ke tempat
tidur, lalu merapatkan tubuhku ke tubuh Ryuzaki untuk mendapatkan kehangatan
dan membuat suara tanda kepuasan hati. Dia berkedip tanda setuju dan kemudian
tersenyum seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.
“ saying ada banyak sekali orang-orang yang berbeda di sini.”
“Dia adalah orang yang menarik,bukan?”
“Yeah.”
Aku kemudian tersenyum dan menggumam:
“Hingga saat ini, aku hanya bertarung di lantai atas. Aku telah
lupa sama sekali bahwa di sini juga banyak orang yang menjalani kehidupan
normal…”
“Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kita adalah seseorang yang
istimewa; tetapi sejak kita berada pada level yang cukup tinggi untuk bertarung
di garis depan, aku rasa hal ini juga berarti kita memiliki sebuah kewajiban
kepada mereka.”
“…Aku tidak pernah memikirkan mengenai hal ini seperti itu… Aku
selalu merasa bahwa menjadi lebih kuat adalah hanya sebuah jalan untuk bertahan
hidup.”
“Aku merasa bahwa banyak orang akan mulai bergantung kepadamu
mulai sekarang. Tentu saja aku juga termasuk.”
“…Tetapi dengan kepribadianku, mendengar ekspektasi semacam ini
hanya membuatku ingin melarikan diri.”
“Oh kamu ini.”
Sementara aku mencibir tidak puas, dia membelai rambutku dan berharap
bahwa kehidupan seperti ini akan berlanjut sedikit lebih lama. Demi Nishida dan
pemain lainnya, kami harus kembali ke garis depan pada titik tertentu. Tetapi
setidaknya untuk sekarang-
Berdasarkan pesan-pesan yang dikirimkan oleh Near dan Kuro kepadaku,
aku tahu bahwa mereka sedang kesulitan untuk menyelesaikan lantai tujuh puluh
lima. Akan tetapi, aku percaya dari lubuk hatiku yang terdalam, bahwa hal yang
paling penting untukku sekarang adalah kehidupan ini bersama Ryuzaki.
PART 19
Aku selalu menyetel alarm paginya ke pukul tujuh lewat lima puluh.
Jika kamu bertanya mengapa pada pukul tersebut, ini karena alarm
pagi Kirito yang berbunyi tepat pada pukul delapan.
Pagi ini, aku sekali lagi terbangun dengan suara lembut dari
instrumen tiup kayu dan terus berbaring, menatap wajah tidur Ryuzaki sambil
merebahkan kepalanya di atas tangannya.
Aku jatuh cinta setengah tahun yang lalu. Menjadi partner clearing
dua minggu yang lalu. Dan baru enam hari berlalu semenjak aku menikah dan
pindah ke tempat ini, di dalam hutan lantai ke dua puluh dua. Meskipun sebagai
pasangan tercintanya, masih banyak hal tentang Ryuzaki yang tidak aku ketahui.
Sempat, sambil mengintip wajah tidurnya, aku pelan-pelan menjadi ragu akan
usianya.
Baru beberapa waktu lalu, karena sifatnya yang peduli tapi suka
menyendiri, aku menduga bahwa dia seharusnya lebih sedikit tua dari ku. Namun,
melihat Ryuzaki, lelap dalam tidur, dengan kepolosan yang begitu naif, membuat
dia hanya dapat terlihat seperti anak yang masih kecil, tidak lebih tua dari
dia.
Menanyakan hal seperti usia mungkin— bukanlah masalah. Namun,
melanggar batas ke permasalahan di dunia nyata kuranglah kusukai, dan lagipula,
aku telah menjadi suami istri. Daripada usia, bertemu lagi setelah kembali ke
dunia nyata, bertukar informasi dari nama dan alamat asli sampai ke rincian
kontak, akan lebih meyakinkan.
Namun tetapi, aku kurang cukup berani untuk mengatakannya dengan
suara keras.
Aku takut kalau membicarakan permasalahan dunia nyata, «kehidupan
pernikahan» ini akan terasa hanyalah seperti khayalannya yang bukan-bukan.
Untuk aku yang sekarang, satu kenyataan yang paling penting baginya, adalah
hari-hari lembut di rumah hutan ini; bahkan jika tidak bisa lari dari dunia
ini, dengan tubuh mereka yang di dunia nyata menyambut kematian, ia masih akan
tetap puas, dapat terus hidup seperti ini sampai akhir, meninggalkan dunia ini
tanpa penyesalan.
Itulah sebabnya aku enggan untuk bangun dari “mimpi” ini dulu—
Berpikir demikian, aku perlahan mengulurkan tanganku dan membelai wajah tidur
Ryuzaki.
Biarpun begitu, wajah tidur itu memanglah kekanak-kanakan.
Pada saat ini, sudah memang sewajarnya kemampuan Ryuzaki tidak
perlu diragukan. Dengan jumlah pengalaman yang sangat besar dari saat bermain
pada masa beta test bersama, serta status numerik yang didapat lewat
pertempuran yang tidak ada hentinya, dan menggunakan semua itu secara efektif, penilaian
dan tekad. Dia Statusnya masih Flash di Blood of Knights, tapi Ryuzaki adalah
pemain terkuat yang pernah ku kenal di AQWO. Meski bagaimanapun memburuknya
kondisi di medan perang, aku tidak akan pernah merasa takut karena dia selalu
berada di sisiku.
Namun, saat aku menatap Ryuzaki yang baring tergelung, entah
bagaimana ada satu perasaan yang dengan begitu kuat berusaha untuk keluar dari
dadaku bahwa dia hanya seperti adik kecil yang naif dan rapuh. Perasaan bahwa
aku harus melindunginya.
Sambil bernafas dengan lembut, aku membungkuk, menyelubungi tubuh
Ryuzaki dengan tangan ku. Dengan pelan aku kemudian berbisik.
“Ryuzaki… Aku mencintamu. Tinggallah bersamaku selamanya, oke?”
Pada saat itu, Ryuzaki bergerak dengan pelan, dan perlahan membuka
kelopak matanya. Aku saling bertukar pandang, dengan wajahku pas didepan
wajahnya.
“Waa!!”
Aku segera mundur dengan panik. Mengalihkan dirinya ke sikap
berlutut pada tempat tidur, aku kemudian berbicara dengan wajah yang tersipu
malu.
“Se-Selamat Pagi, Ryuzaki, …Apakah kamu… dengan yang baru aku
bilang…?”
“Selamat pagi. Tadi… eh, apa maksudmu yang barusan?”
Menghadapku yang bangkit
dan menjawab sambil menahan menguap, aku dengan kuat menggoyangkan-goyangkan
tangannya.
“T-Tidak, tidak ada apa- apa! Lupakan saja”
Menyelesaikan sarapan pagi telor mata sapi dengan roti gandum,
salad dan kopi dan merapikan meja dalam beberapa detik, aku pun bertanya kepada
Ryuzaki.
“Baiklah! Kemana kita akan bermain hari ini?”
"Oh, kamu."
Dan Ryuzaki tersenyum kecut.
"Jangan membicarakan hal itu dengan begini,"
"Tapi setiap hari telah sangatlah menyenangkan!"
Ini adalah pemikiranku yang nyata dan murni.
Berpikir kebelakang hanyalah membawa duka, tetapi dalam satu
setengah tahun, dari saat ia menjadi tawanan AQWO sampai aku jatuh cinta dengan
Ryuzaki, aku telah menempa dan mengeraskan hatinya.
Mengorbankan tidur untuk meningkatan skillnya, dipilih menjadi
sub-leader dari clearing guild, Blood of the Knights, dia telah terjun ke
banyak labirin dengan begitu cepatnya bahkan cukup untuk membuat anggotanya
menyerah pada sesekali.
Semua yang ada dihatinya itu hanyalah semata mata untuk
menyelesaikan game ini bersamaku dan melarikan diri; sehingga ia berkesimpulan
bahwa semua aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan itu adalah sia sia.
Dengan pemikiran yang seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa apa
kecuali menyesal tidak bertemu Ryuzaki lebih awal. Hari- hari setelah bertemu
dengan Ryuzaki sangatlah berwarna, penuh dengan begitu banyak kejutan yang
bahkan melewati kehidupannya yang lalu di dunia nyata. Jika bersama Ryuzaki,
semua waktu yang telah dihabiskan disini dapat dianggap sebagai pengalaman yang
langka.
Itulah sebabnya bagiku, akhirnya bisa mendapakatkan hari dimana
aku dan Ryuzaki berdua dapat menghabiskan waktu bersama, tiap tiap detik dapat
dianggap perhiasan berharga dengan sendirinya. Dia ingin pergi, sebagai
pasangan, ke banyak dan lebih banyak tempat lagi bersama dan membicarakan
banyak hal yang berbeda.
Aku meletakkan tanganku di pinggang dan berbicara sambil cemberut.
“Apakah Ryuzaki-kun tidak ingin pergi ke suatu tempat dan
bermain?”
Dalam menanggapi itu, dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan
kirinya, memanggil peta. Mengubahnya menjadi modus visible, dia menunjukkannya
kepadaku
"Tepat disekitar ini."
Apa yang ditunjuk adalah sudut hutan, tidak terlalu jauh dari
rumah mereka.
Menjadi salah satu dari lantai bawah, Lantai ke-dua puluh dua
cukuplah luas. Diameter dari seluruh wilayah ini mungkin lebih dari delapan
kilometer. Sebuah danau raksasa berada di tengah dan sampai ke pantai selatan,
disana terdapat kota utama, «Coral» Village. Di pantai utara terdapat
labyrinth. Sisa dari wilayah tersebut ditutupi oleh hutan konifera yang indah.
Rumah kecil milikku dan Ryuzaki berada di dalam sebuah area di tepi selatan
lantai ini, dan apa yang sekarang ditunjuk Ryuzaki sekitara dua kilometer
jauhhnya, di arah timur laut.
"Ini adalah tentang rumor yang aku dengar di desa kemarin..
Dibagian ini, dimana hutan menebal...”itu” tampaknya akan keluar."
"Hah?"
Kepada Ryuzaki yang sedang tersenyum halus, aku dengan ragu
menjawab.
"Apanya?"
"...H-Hantu."
Aku diam sejenak, dengan takut aku bertanya
"...Itu berarti, seekor monter dari tipe Astral?Sesuatu
seperti roh atau banshee?"
"Bukan, ini hantu asli. Seorang player... jadi, roh manusia.
Sepertinya seorang wanita."
"Aah..."
Aku tanpa sadar menjengit. Mengarah ke topik seperti ini, aku
hanya yakin bahwa dia akan terpengaruh jauh lebih buruk dari rata-rata orang.
Dia cukup tidak baik dengan itu bahkan sampai memikirkan alasan yang
sembarangan untuk tidak mengikuti clearing labirin kastil tua, membentangi
lanti enam puluh lima dan enam puluh enam yang terkenal karena tema horornya.
“T-Tapi lihat, ini adalah dunia maya permainan. Sesuatu seperti—
hantu keluar, sesuatu seperti ini tidak akan pernah terjadi.”
Memaksa dirinya untuk tetap tersenyum, dia mulai memprotes dengan
suara keras.
“Paling cuma sedikit dari itu yang benar, ya…”
Namun untuk Ryuzaki, yang tahu bahwa aku lemah terhadap hantu, ia
dengan antusias lanjut menyerang.
“Misalnya… Seorang pemain yang mati dengan penyesalan, merasuki Never
Gear yang masih dipakai dan aktif… mengeluyuri wilayah, malam demi malam…”i
“Hentik--!”
“Wahahaha, maaf, ini hanya lelucon buruk. Yah, aku ragu kalau roh
akan benar-benar muncul, tapi kalau kita mau pergi ke suatu tempat, lebih baik
menuju ke tempat yang lebih tinggi memiliki kemungkinan untuk terjadi sesuatu,
kan?”
“Aaah…”
Mengerutkan bibirku dan memberi muka masam, Aku mengganti fokus ke
luar jendela.
Meskipun musim dingin yang mendekati, cuacanya sangat baik. Sinar
matahari terasa hangat dan lembut, membasuh halaman kebun. Waktu yang paling
tidak cocok untuk acara seperti penampakan hantu. Karena bagaimana Devilcraft
terancang, meskipun tidak mungkin untuk melihat matahari secara langsung
kecuali pada awal pagi dan sore, berkat pencahayaan sekitar yang memadai,
wilayahnya jelas ternyala.
Aku berbalik ke arah Ryuzaki dan menjawab, dengan kepalanya yang
terangkat tinggi.
“Baiklah, Mari kita pergi. Untuk membuktikan kalau sesuatu seperti
hantu tidaklah nyata.
“Jadi begitu, --Kalau kita tidak menemukannya hari ini, lain kali
kita akan pergi di tengah malam, oke?”
“Tidak mungkin!! ….Aku tidak akan membuatkan makanan untuk orang
yang jahat seperti itu.”
“Gah, lupakan itu. Kau tidak mendengar apa-apa.”
Bercemberut kepada Ryuzaki untuk terakhir kalinya, aku kemudian
tersenyum lebar dan tertawa.
“Nah, mari kita selesaikan persiapan. Aku akan memanggang ikan,
jadi Ryuzaki-kun potong rotinya, oke?
Dengan cepat memasukkan kotak makan siang dengan burger
ikan,sekitar jam sembilan pagi ketika mereka meninggalkan rumah.
Melangkah ke rumput di kebun, aku berbalik kembali ke Ryuzaki dan
berbicara.
"Hei, gendong lah aku."
"Menggendongmu!?"
Kirito menjawab liar, kembali bertanya.
"Kau lihat, selalu melihat dari ketinggian yang sama serasa
membosankan seharusnya menjadi lebih mudah dengan status kekuatan fisik Ryuzaki-kun,
kan?."
"Baiklah, mungkin itu benar ... Ya ampun, berapa umurmu
..."
"Usia tidak ada hubungannya dengan itu Bukankah itu benar?
Lagipula tidak ada yang melihat."
"Ba-baiklah, kurasa .."
Terkejut, Ryuzaki berjongkok dan berbalik ke arahku sambil
geleng-geleng kepala. Aku mengangkat rokku, dan mengangkat kakiku ke bahunya.
"Di sana kita pergi. Tapi aku akan pastikan untuk memukulmu
jika kamu melihat ke belakang, Ok.."
"Bukankah jadi tidak masuk akal ...?"
Menggerutu tentang situasi, Ryuzaki dengan gesit berdiri, sehingga
tampak kenaikan dalam sudut pandang.
"Waa! Lihat, kamu bahkan dapat melihat danau dari sini!"
"Aku tidak bisa melihatnya!"
"Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu nanti juga."
"..."
Menempatkan tanganku di atas kepala Ryuzaki, yang telah merosot
lebih karena kelelahan atas kejadian tersebut, Ryuzaki berbicara.
"Sekarang, saatnya untuk berangkat!"
Tertawa riang sambil memukul kepala Ryuzaki, yang terus berjalan
ke depan, aku mampu memahami betapa berharganya hari ini, mampu hidup bersama.
Dia sepenuh hati bisa percaya bahwa ini adalah saat ia merasa paling «hidup» di
semua tujuh belas tahun dari hidupnya.
Berjalan di sepanjang jalan Ryuzaki adalah satu-satunya yang benar-benar berupaya, tapi Setelah sekitar sepuluh menit, salah satu danau yang menghiasi lantai dua puluh dua akhirnya datang di hadapan. Mungkin tergoda akan cuaca lembut, sudah ada beberapa player yang berada di sana sejak pagi, casting ke danau, umpan menggantung di air. Jalan meringkuk di sekitar danau, menuju tanjakan, cukup jauh dari tepi danau. Tapi saat mereka mendekat, melihat player yang berpaling ke arah mereka dan melambaikan tangan. Tampaknya setiap orang yang mereka lihat tersenyum pada mereka dan beberapa bahkan tertawa keras.
"... Ini tidak seperti yang banyak orang lihat!"
"Ahaha, sehingga ada orang-orang di sekitar ... Hei, Ryuzaki-kun,
lambaikan tangan pada mereka juga."
"Tidak ada cara aku akan melakukannya."
Meski mengeluhkan, Ryuzaki tidak menunjukkan tanda-tanda ingin
membiarkan aku turun. aku mengerti bahwa dia benar-benar geli oleh pergantian
peristiwa.
Jalan ke bawah yang miring, ke arah kanan, menuju ke dalam hutan.
Tentu melalui celah antar pohon konifer besar yang menyerupai cedar, menjulang
di atas segalanya, mereka berjalan beriringan. Gemerisik daun, dan kicau burung
kecil terdengar di sungai kecil. Semua suara ini menjabat sebagai pelengkap
untuk pemandangan hutan, yang menjadi satu dalam warna-warna musim gugur.
Aku berpaling matanya ke arah puncak pohon, yang lebih dekat
daripada biasanya.
"Pohon itu pasti besar ... Hei, apakah kamu pikir kamu bisa
mendaki itu ...?"
"Hm ... Mm ..."
Dalam menanggapi permintaanku tersebut, Ryuzaki memikirkannya
untuk sementara waktu.
"Ini mungkin dalam batas-batas dari sistem ... Ingin
mencobanya?"
"Nah, mari kita tinggalkan itu untuk waktu berikutnya-Sekarang.
Aku berpikir tentang mendaki."
Aku membentangkan tubuhku yang berada pada bahu Ryuzaki dan memandang
ke arah tepi luar Devilcraft, melalui celah-celah di antara pepohonan.
"Hal-hal di sekitar tepi, orang-orang yang terlihat seperti
mendukung, mereka terhubung sepanjang jalan ke lantai berikutnya, benar? aku
bertanya-tanya ...? Apa yang akan terjadi jika kita naik dari situ?"
"Ah, aku pernah mencoba itu sebelumnya."
"Eeh!?"
Mengendalikan tubuhnya, aku berbalik dan menatap Ryuzaki.
"Kenapa kau tidak mengundangku juga."
"Yah, itu ketika kita tidak mengenal satu sama lain dengan
baik."
"Apa, itu hanya karena Ryuzaki-kun terus melarikan
diri."
"... A-Apakah aku benar-benar melakukan hal tersebut?"
"Itu benar aku selalu mencoba mengundangmu,. Tapi kau bahkan
tidak mau menemaniku untuk minum teh."
"I-Itu ... Ba-baiklah, jika seperti itu."
Kemudian percakapan yang mulai aneh kembali ke topik semula,
Ryuzaki melanjutkan.
"Jika kau menilai berdasarkan hasil murni, itu adalah
kegagalan. Memanjat dari bagian batu-batu yang kasar sangat mudah,. Tapi
setelah naik sekitar delapan puluh meter, pesan kesalahan muncul, 'Anda tidak
bisa melampaui daerah ini' dan membuatku jengkel. "
"Ah ha ha, jadi seperti yang diharapkan, kecurangan tidak
bekerja, ya."
"Ini bukan bahan tertawaan, tanganku tergelincir. terkejut
dan aku jatuh dari ketinggian ...."
"E-Eh!? Bukankah kamu bisa mati karena sesuatu seperti
itu?"
"Ya. Aku pikir aku akan ditakdirkan mati dan tertulis dalam
daftar pemain yang tewas dalam aksi, akan tetapi aku dengan segera menggunakan
kristal teleport.."
"Ya ampun, itu berbahaya. Pastikan dirimu tidak
mengulanginya, Ok?."
"Itulah yang ingin kukatakan!"
Berjalan-jalan sambil bertukar percakapan tanpa tujuan, hutan
berangsur-angsur menjadi lebih padat. Bahkan teriakan burung yang mulai
samar-samar, serta sinar matahari melalui pepohonan mulai memudar.
Aku memandang berkeliling sekali lagi, aku mempertanyakan Ryuzaki.
"Hei, itu ... tempat dalam rumor, apakah jalan itu?"
"Yah, itu ..."
Ryuzaki melambaikan tangannya, memeriksa posisi mereka di peta.
"Ah, kita cukup dekat dengan tujuan kita dan akan mencapainya
dalam beberapa menit.."
"Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang
hal tersebut?"
Aku tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak
tahu apa yanng membuatnya seperti gelisah, dan mendorong Aku untuk bertanya.
"Nah, sekitar seminggu yang lalu, seorang player pengrajin
kayu (woodcraft) telah datang ke sini untuk mengumpulkan beberapa kayu. Kayu
yang dapat dipanen dari hutan ini adalah kualitas yang cukup bagus,. Dan
sementara pemain sibuk dalam tugasnya , hari mulai gelap ... Pemain bergegas
untuk kembali, tetapi tertutup oleh naungan pohon-pohon ... dan ada pemandangan
sekilas putih. "
"..."
Ini sudah batas untuk ku, namun Ryuzaki tanpa ampun melanjutkan.
"Pemain tersebut bingung, berpikir bahwa itu adalah rakasa,
tapi rupanya bukan, itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis
kecil, dengan ciri-ciri yang di sebutkan”.
"Pemain mendapat bingung berpikir bahwa itu adalah sebuah
rakasa, tapi rupanya, bukan itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya,
seorang gadis kecil, sebagai pemain telah disebutkan.. Panjang, rambut hitam
pada pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Kalau bukan rakasa,
itu hanya bisa menjadi pemain, pemain berpikir, menatap padanya. "
Sebuah teriakan lembut sengaja bocor keluar dari tenggorokan
pemain itu.
"Tidak ada cara yang mungkin Meskipun berpikir bahwa, pemain
semakin dekat.. Dan bahkan memanggilnya. Melakukan hal itu, gadis itu berhenti
semua gerakan ... dia secara bertahap berbalik ke arahnya ..."
"Th-Th-Itu e-eno ..."
"Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya
bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat
langsung melalui dirinya."
"-!!"
Menyesakkan jeritan, aku mencengkeram rambut Ryuzaki erat-erat.
"Ini adalah akhir dari saya jika dia berbalik, dia berpikir
dan lari. Akhirnya mendapatkan pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa,
ia menduga bahwa ia aman dan berhenti setelah itu ia berbalik untuk melihat ke
belakang .. . "
"- H!?"
"Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia
selamanya.."
"... R-Ryu-Ryuzaki-kun, idiot-!!"
Melompat turun dari bahunya, aku mengangkat tinjuku, serius
bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya-saat itu.
Jauh di dalam kedalaman hutan, suram, meskipun itu masih tengah
hari, pada jarak dari pasangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi
batang pohon konifer.
Diserang oleh aura tidak menyenangkan, aku menjadi membeku ketakutan.
Bahkan jika itu tidak sebanyak itu Ryuzaki, keterampilan persepsiku itu juga,
agak disempurnakan melalui pengalaman. Pasif Toggling penggunaan keterampilan,
dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.
Sesuatu putih tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman.
Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu
bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Mengintip keluar dari hem dua
ramping, panjang kaki.
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama yang Ryuzaki jelaskan, dia
adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak,
diam-diam menatap pasangan.
Merasa pingsan karena kesadaranku luntur, aku agak berhasil
membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.
"R ... Ryuzaki-kun, di sana."
Ryuzaki segera diikuti tatapanku itu. Segera, dia juga, membeku.
"Th-Ini pasti suatu kebohongan ..."
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari
pasangan, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, aku menguatkan diriku
sendiri, berpikir bahwa aku pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih
dekat.
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah
kehabisan energi, ia jatuh ke tanah, dengan gerakan seperti itu dari makhluk
hidup. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.
"Ada ..."
Saat itu, Ryuzaki menyipitkan matanya.
"Tidak ada cara seperti itu hantu!"
Dan berlari sambil berteriak.
"Wa-Tunggu, Ryuzaki-kun!"
Meskipun permohonan untuk berhenti dariku yang tertinggal, Ryuzaki bergegas menuju
gadis jatuh, bahkan tanpa melihat ke belakang.
"Ya ampun!"
Aku enggan berdiri dan mengejar. Meski hatiku masih gemetar, aku
belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak
bisa apa-apa kecuali pemain.
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah
pohon konifera, aku menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Ryuzaki itu.
Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang,
masih ditutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan
sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, bagian satu aku menegaskan
kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.Rambut hitam panjang dengan
pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Jika bukan rakasa, itu
hanya salah seorang player, player berpikir, dan melihat padanya. "
“A-apa dia baik-baik saja?”
“Hmm…”
“Ryuzaki
menghela napas sambil menatap wajah gadis itu”
“Jadi, sejujurnya… di dunia ini tidak perlu bernapas
untuk bertahan hidup jadi aku yakin dia baik-baik saja”
“Di dalam AQWO, fungsi fisiologis yang paling manusia
dapat direproduksi, tetapi dihilangkan. Hal ini di mungkinkan supaya tubuh kita
di dunia nyata masih tetap bernapas dengan baik, tetapi ‘tubuh’ di dalam sini
tidak dapat merasakannya. Demikian juga seperti jantung, detak jantung kita
berdetak di dunia nyata akan tetapi tidak bisa di rasakan di dunia ini.”
“Tetapi dia masih belum menghilang seperti pemain yang
mati, jadi aku yakin dia masih hidup, akan tetapi ini aneh”
Setelah menselesaikan jawabannya, dia menggaruk-garuk
kepalanya.
“Apanya yang aneh? Tanyaku”.
“Dia bukan lah hantu maupun NPC… jadi aku masih bisa
menyentuhnya, tapi cursornya tidak terlihat..”
“Ah”.
Aku sekali lagi terheran melihat gadis itu yang terlihat
tanpa cursor, Namun cursor pasti akan muncul setiap bertemu pemain lain, musuh,
ataupun NPC tapi dalam situasi ini fenomena tidak terlihatnya cursor adalah
fenomena langka dan jarang terjadi.
“Mungkin terjadi bug, lag atau terjadi hal yang lain
begitu?”
“Mungkin seperti itu. Dalam situasi seperti ini biasanya
seseorang mengontak GM dengan menekan tombol “help” di dalam menu, akan tetapi
tidak ada GM yang berkeliaran di sini. Untuk pemain yang bermain AQWO dia masih
sangat muda.”
Jika itu benar. Tubuh yang Ryuzaki sentuh sangatlah
kecil. Dia tidak terlihat seperti anak berumur 7 tahun. Umurnya tidaklah cukup
untuk memakai Never Gear, sebelum log in, untuk anak kecil, di butuhkan umur di
atas 10 tahun untuk log in.
Aku menyentuh kepala gadis itu, dan mengusapnya dengan
lembut. Terasa agak dingin saat aku mengusap kepalanya.
“Kenapa ada gadis sekecil dia di AQWO? Tanyaku”.
Dengan menggigit bibirnya, Ryuzaki menjawab.
“Untuk beberapa saat jangan biarkan dia sendirian. Kita
harus bertanya sesuatu ketika dia bangun. Kita harus membawanya pulang.”
“Iya, kau benar.”
Ryuzaki bangkit dan mengendong gadis itu. Aku hanya
melihat sekitar, tapi tidak menemukan apa-apa selain dari pohon besar, aku
tidak bisa menemukan di mana gadis itu berasal dari hutan tersebut.
Hari mulai gelap kami berlari kencang, akan tetapi gadis
itu belum bangun juga, bahkan setelah kami keluar dari hutan dan tiba di rumah
Ryuzaki meletakkan gadis itu di tempat tidurku dan mengatur selimut, di tempat
tidur yang berdekatan, milik Ryuzaki.
Setelah hening beberapa saat, Ryuzaki mulai berbicara.
“Jadi satu hal yang kita bisa yakin, dia bukanlan NPC
karena kita sudah berhasil membawanya dari hutan ke rumah”.
“Ya, kau benar. Jawabku.”
Saat kita menyentuh NPC akan ada laporan pelecehan di
atas kepalanya, jadi aku yakin gadis ini 100% bukanlah NPC.
“Ya, aku juga berpikir begitu. Aku masih tidak percaya
bahwa anak sekecil dia log in sendirian, pasti dia log in bersama saudaranya
atau keluarganya, aku yakin mereka pasti khawatir sekarang.”
“Ah, jika besok dia tidak menghilan aku yakin helm Never
Gear masih terhubung sekarang, itu sebabnya cepat atau lambat dia akan bangun,
aku percaya.”
Ryuzaki mengangguk setuju.
“Kita tunggu saja besok mungkin dia akan bangun, sekarang
sudah larut malam cepat lah tidur.”
Aku mengangguk setuju dan tidur di samping gadis itu.
Part
20
Dengan di terangi cahaya matahari indah yang membuatku
bangun, aku mematikan alarm yang menunjukkan pukul 7 pagi. Dengan lemasnya aku
membuka tirai jendela yang memperlihatkan betapa indahnya danau dan hutan-hutan
yang ada, saat aku menoleh ke belakang gadis yang kemarin pingsan pun bangun.
Bangun??.
Aku langsung mencoba membangunkan Ryuzaki.
“Ryu-Ryuzaki-kun bangun, duh, Ryuzaki bangun”.
“Selamat pagi, ada masalah apa?”.
“Cepat ke sini. Teriakku keras”.
Dengan paksa aku menarik baju tidurnya dan menyiram
wajahnya dengan air. Akhirnya mata Ryuzakipun terbuka lebar.
“Di-dia bangun? Katanya”
“Iya, dia sudah bangun”.
Ryuzaki segera menyenderkan tubuh gadis itu ke dinding
dan aku mulai berbicara kepadanya.
“Akhirnya kamu bangun juga, jadi apa yang terjadi padamu,
apa kamu ingat sesuatu?”.
Saat aku menanyakannya dia masih terdiam dan tidak mau
bicara.
“Oh ia siapa namamu?
“Na…nama…namaku..”.
Dia menunduk, seuntai rambut mengkilap, hitam jatuh ke
pipinya.
“Yu…I Yui. Itulah namaku.”
“Jadi Yui-chan?. Nama yang indah, aku Rizuka dan dia
adalah Ryuzaki.
Setelah aku memperkenalkan Ryuzaki kepada gadis yang
menyebut dirinya Yui dia mengikuti arah tanganku dan menatap wajah Ryuzaki.
“Ri..u..ka. R..u..a..i.”
Dengan bibirnya yang kecil, dia berbicara terputus-putus.
Aku merasakan ketakutan dari malam sebelum saat gadis itu hadir. Penampilan
luar gadis itu terlihat bahwa dia berumur 7 tahun, jika di pertimbangkan saat
dia log in, usia sebenarnya haruslah sepuluh tahun sekarang. Tapi kata gemetar
gadis itu, seolah-olah dia seperti bayi yang baru bangun dari tidurnya.
“Hei, Yui-chan. Kenapa kamu ada di lantai dua puluh satu?
Apa ada ayah atau ibumu?, di mana mereka sekarang?”
Yui menunduk kepala dan dia beberapa saat, setelah itu
dia mulai berbicara.
“Aku tidak tau..aku tidak tau apa apa…”
Setelah dia duduk di meja makan dan meminum susu hangat
dan beberapa potong kue, gadis itu memegang cangkir susu sampai ke dadanya
dengan kedua tangannya dan mulai meminumnya lagi. Aku mengawasi dia dari luar
dan memutuskan untuk membahas situasi ini dengan Ryuzaki.
“Hei, Ryuzaki-kun. Apa yang kamu pikirkan sekarang?”
Ryuzaki mengigit bibirnya dengan serius, tapi segera
berbicara dengan wajah menunduk.
“Dia… sepertinya kehilangan ingatannya, dan sifatnya
seperti bayi”
“Ya, kau benar”
“Sial!!”
Wajah Ryuzaki menunduk, terlihat sangat jelas sedikit air
mata keluar dari matanya.
“Di dunia ini…. Aku sudah melihat banyak sekali hal
buruk… tapi.. ini adalah yang paling buruk..”
Ryuzaki menangis, aku pun ikut menangis, aku merasakan
sesuatu yang Ryuzaki rasakan juga. Aku memegang tangan Ryuzaki dan berkata.
“Ini akan baik-baik saja Ryuzaki-kun pasti ada sesuatu..
yang bisa kita lakukan
“Yeah.. kau benar”
Ryuzaki menghapus air mataku dan tersenyum, dan memeluk
ku sambil menenangkanku dari semua ini.
Setelah itu aku dan Ryuzaki masuk ke meja makan dan dia
mulai bertanya.
“Ah Yui-chan.. bisa kah aku memanggilmu Yui?”
“I…iya. Yui menjawab dengan nada terputus-putus.”
“Yui, kau bisa memanggilku, Ryuzaki”
“Ra..i”
“yang benar Ryuzaki. Ryu, za, ki”
“…”
Sekali lagi Yui mengulangi kata-kata yang Ryuzaki
ucapkan.
“Ryuaki”
Ryuzaki tersenyum lebar dan mengelus rambut Yui.
“Nama itu mungkin susah bagimu. Kamu bisa memanggilku
dengan nama apa saja”
Yui sekali lagi merenung sejenak. Dia tidak meminum
susunya, bahkan ketika aku mengisi susunya yang baru di minum setengah.
Setelah beberapa lama, Yui perlahan-lahan mengangkat
wajahnya dan menatap Ryuzaki, dia mulai membuka mulutnya.
“…Papa”
Dan setelah itu, dia berpaling ke arahku dan berbicara
“Riuka adalah Mama”
“Aku berusaha menahan air mataku yang akan jatuh. Aku
tidak tau apakah gadis itu salah mengucapkan atau memang orang tuanya sudah
tidak ada di dunia ini lagi sehingga dia ingin aku dan Ryuzaki menggantikan
mereka, dan aku mengangguk sambil tersenyum
“Itu benar… Aku adalah Mamamu, Yui-chan”
Setelah mendengar itu, Yui pun tersenyum untuk pertama
kalinya, wajahnya sangat lucu saat dia tersenyum dan dalam sekejap dia terlihat
sebagai boneka yang lucu.
“…Mama”
Melihat Yui mulai memelukku, aku pun langsung mengendongnya
dan mencium pipinya berkali-kali.
Dan Tepat
sesudahnya.
Kehidupan kami berubah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar