Selasa, 04 Desember 2012

Adventure Quest World Online (AQWO) 16-20

PART 16
Ryuzaki memberitahuku bahwa dia sedang memonitor peta saat menungguku di Grandum.
Pada saat sinyal Godfree menghilang, dia lari keluar dari kota dan melewati jarak lima kilometer yang membutuhkan kami waktu satu jam perjalanan hanya dalam lima menit. Saat aku menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang melebihi batas dari dexterity stat, dia menjawab dengan senyuman kecil:
“Ini adalah kekuatan cinta.”
Setelah kami kembali ke guild HQ, kami memberitahu Artix mengenai apa yang terjadi dan bertanya apakah kami dapat meninggalkan guild untuk sementara waktu. Saat Ryuzaki menjelaskan alasannya adalah “ketidakpercayaan kepada guild”, Artix berpikir dalam diam untuk beberapa waktu, tetapi tetap memberikan kita ijin. Lalu, dia mengatakan satu hal terakhir dengan senyum misterius di wajahnya:
“Tetapi kalian akan kembali ke medan perang tidak lama lagi kan.”
Pada saat kami meninggalkan HQ, hari sudah sore. Kami bergandengan tangan dan berjalan bersama menuju teleport gate plaza.
Tiada seorangpun dari kami yang berkata.
Saat kami berjalan di antara bayang-bayang hitam menara-menara besi dan cahaya oranye yang datang dari luar kastil yang melayang ini, aku bertanya-tanya darimanakah asal kebencian Kuradeel.
Ada banyak orang yang senang melakukan kejahatan di dunia ini. Mulai dari pencurian dan perampokkan hingga pembunuhan berdarah-dingin dari guild «Laughing Coffin» seperti Kuradeel; rumor menyebutkan bahwa jumlah dari pemain kriminal telah melebihi seribu orang. Banyak orang menganggap mereka sebagai sesuatu yang wajar seperti para monster sekarang.
Tetapi ketika aku memikirkan mengenai hal ini, aku masih merasa bahwa mereka adalah kelompok yang sangat aneh. Seharusnya semua orang sudah tahu bahwa melukai pemain lain adalah sebuah perbuatan yang pastinya akan mengurangi kemungkinan meninggalkan permainan ini.
Tetapi setelah bertemu dengan Kura, aku merasa bahwa hal ini tidak berlaku untuknya. Dia tidak membantu ataupun menghalangi penyelesaian permainan ini ; dia hanya sekedar berhenti berpikir .Tidak mengenang masa lalu ataupun menantikan masa depan, dia hanya sekedar berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginannya yang tanpa akhir, yang mengakibatkan pertumbuhan dari keinginan-keinginan jahatnya—
Lalu bagaimana denganku? Aku tidak dapat dengan yakin mengatakan bahwa aku telah dengan serius berfokus untuk menyelesaikan permainan ini. Akan menjadi lebih akurat untuk menyatakan bahwa aku biasanya menjelajahi labirin-labirin hanya untuk experience points. Bila aku bertarung hanya untuk memperkuat diriku sendiri, untuk merasa lebih superior, lalu disuatu tempat jauh di dalam diriku, apakah aku juga tidak ingin dunia ini berakhir—?
Tiba-tiba, terasa seakan-akan plat besi di bawah kakiku mulai tenggelam. Aku berhenti berjalan dan mempererat genggaman tanganku pada tangan kanan Ryuzaki, yang telah aku pegang selama ini.
"…?"
Aku memiringkan kepalaku dan menatap wajah Ryuzaki. Dia menundukkan kepalanya dan berbicara seperti aku berbicara pada diriku sendiri:
“…tidak peduli apapun yang terjadi...aku akan memastikan bahwa kau...kembali ke dunia itu...”
“…”
Kali ini aku memperkuat genggaman tanganku.
“Saat waktunya tiba,kita akan kembali bersama.”
Dia menampakkan senyumnya saat dia selesai mengatakan hal itu.

Kita telah tiba di teleport gate plaza tanpa menyadarinya. Hanya sedikit pemain yang berjalan disekitar area ini, berkerumun bersama melawan angin dingin yang mengisyaratkan datangnya musim dingin.
Aku berbalik dan menatap langsung Ryuzaki.
Aku berpikir bahwa kehangatan yang memancar keluar dari keinginan kuatnya adalah satu-satunya cahaya yang menuntunku ke arah yang benar.
"Rizuka...malam ini...aku ingin bersamamu...”
Dia mengatakan hal ini tanpa ku sadari.
Aku tidak ingin berpisah dengannya. Pertempuran sebelumnya telah menimbulkan rasa takut mati yang mengerikan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, sesuatu yang tidak dapat dilupakan hingga saat ini.
Aku pasti akan mengalami mimpi buruk bila aku tidur sendirian malam ini. Aku akan memimpikan kegilaan orang itu, pedangnya yang menusuk masuk kedalam tubuhku, dan perasaan saat menusukkan tangan kananku ke dalam tubuhnya; aku yakin mengenai hal ini.
Aku menatap wajahnya dengan mata yang terbuka lebar, seakan-akan aku mengerti alasan dibalik permintaannya—
Lalu,dengan kedua pipiku merona merah, aku mengangguk pelan.

Rumah Ryuzaki di Salemburg, yang sekarang aku kunjungi untuk kedua kalinya, masih tetap dihiasi dengan megah; tetapi kali ini rumah ini menyambutku dengan kehangatan yang menyenangkan. Barang-barang yang diatur didalam rumahnya menunjukkan cita rasa tinggi dari pemiliknya. Tetapi walaupun begitu, Ryuzaki berkata:
“U-Uwa— Berantakan sekali disini. Kau jarang mengunjunginya akhir-akhir ini dan...”
Dengan tertawa “hehe”. Aku tersenyum malu-malu dan segera membantunya merapikan barang-barang yang berserakan.
“Aku saja yang akan memasakkan makan malam. Bacalah majalah atau Koran yang barusan aku beli sementara menunggu.”
“Ryuzaki menjawab Ah, oke.”
Aku menyandarkan diri pada sofa setelah melihat Ryuzaki melepaskan perlengkapan tempurnya, dengan cepat aku mengenakan celemek, dan menghilang ke dapur. Selagi menunggu aku memasak makan malam dia mengambil sebuah koran besar yang ada di meja. Walaupun kami menyebutnya koran, benda ini hanyalah kumpulan dari rumor-rumor dari para pemain yang bertukar informasi. Tetapi semenjak dunia ini kekurangan bentuk hiburan, koran ini menjadi sumber media penting dengan banyak pelanggan. Koran ini hanya memiliki empat halaman,dan dia hanya melihat sekilas sambil lalu pada halaman pertama sebelum melemparnya kesamping karena kesal. Hal ini karena tajuk berita halaman utamanya adalah mengenai duel antara Artix dan aku.
[Pengguna teknik baru Dual Blades dihancurkan oleh Holy Sword]
Dibawah tajuk berita adalah gambar dariku terbaring lemah di tanah didepan Artix, yang diambil oleh Record Crystals. Seseorang dapat berkata bahwa aku hanya menambah halaman lain dari legenda tak-terkalahkan dari Artix
Yah,mungkin mereka akan berhenti banyak mengangguku seperti sebelumnya bila harapan mereka terhadap kemampuanku menurun... Aku membantu diriku sendiri menemukan alasan yang mudah diterima. Lalu, saat beberapa lama kemudian, sajian makan malam yang menggoda merebak aku keluarkan dari dapur.
Menu makan malam ini adalah sebuah steak yang dibuat dari daging monster yang seperti sapi dan disajikan dengan saus kecap spesial buatan ku. Walaupun peringkat bahan-bahannya tidak terlalu tinggi, pembumbuannya sangat sempurna. Ryuzaki memandangku dengan senyum lebar saat aku memasukkan daging kemulutku.
Saat kami duduk berseberangan dari yang lain pada sofa dan meminum teh setelah menyelesaikan makan malam, Ryuzaki menjadi sering berbicara untuk suatu alasan tertentu. Dia berbicara tanpa akhir mengenai berbagai topik seperti jenis senjata yang dia sukai dan lantai mana yang memiliki lokasi tamasya yang terkenal.
Pada awalnya aku mendengarkan dia dengan terkejut, lalu kemudian Ryuzaki tiba-tiba terdiam, yang membuatku khawatir. Dia terduduk kaku dan memandangi cangkir tehnya seakan-akan dia berusaha untuk menemukan sesuatu. Ekspresi wajahnya sangat serius, hampir seperti dia bersiap-siap untuk bertarung.
“…hey, ada apa...”
Tetapi sebelum dia mulai berbicara, aku meletakkan cangkir tehnya dengan keras di meja, lalu berdiri tegak dari tempat duduknya dan mengumumkan:
“...okay!”
“kalau kamu tidak mau bicara biarkan aku yang mulai duluan”
Aku berjalan kearah ambang jendela, menyentuh dinding untuk membuka Room Control Menu, dan mematikan semua lampu. Kegelapan segera menyelimuti ruangan; kemampuan penunjang dari scan skill-ku secara otomatis berfungsi dan menggantikan penglihatan normalku dengan mode penglihatan malam.
Ruangan ini diwarnai oleh cahaya biru redup, dan Ryuzaki bercahayakan warna putih yang berasal dari cahaya lampu lentera yang datang dari jendela. Walaupun dia sendiri bingung dengan apa yang aku lakukan, kecantikan ku tetap membuatnya menahan nafas.
Rambut panjangku yang nampak berwarna hitam, tangan dan kaki semampainya, semuanya memantulkan cahaya redup dan terlihat seakan-akan bercahaya.
Aku berdiri terdiam di samping jendela untuk beberapa waktu. Ryuzaki tidak dapat melihat ekspresi wajahku secara jelas karena aku telah menundukkan kepalaku. Aku juga telah meletakkan tangan kanan ku pada dada ku dan ragu-ragu akan “itu”.
Saat dia baru saja akan bertanya tentang apa yang sedang terjadi, aku mulai menggerakkan tangan kiri ku. Ibu jari dan jari telunjuk ku bergerak di udara, dan sebuah menu window tampak dengan sound effect yang menemaninya.
Dalam kegelapan berwarna biru ini, jemari ku bergerak disepanjang menu window yang berpendar ungu. Ryuzaki berpikir kelihatannya aku sedang memanipulasi menu sebelah kiri, yang mengendalikan perlengkapan pemain.
Segera setelah dia memikirkan hal itu, stocking sepanjang lutut yang kugunakan menghilang, dan terlihat jelas lekukan-lekukan yang elegan dari kakiku didepan matanya. Jari jemariku bergerak lagi, dan kali ini, baju pendek satu jahitannya kutanggalkan. Mulutnya pun terbuka lebar dan kedua matanya terbuka lebar entah apa yang dia pikirkan sepenuhnya.
aku sekarang hanya memakai pakaian dalam. Kain putih kecil yang hanya bisa menutupi dada dan pinggangku.
“J-jangan...melihat kesini...”
Kataku, suara kecilnya gemetar. Tetapi walaupun aku berkata demikian, dia masih tidak dapat mengalihkan pandangan matanya.
Aku mencoba untuk menutupi dadaku dengan kedua tanganku saat aku bimbang; tetapi setelah dia mengangkat kepalanya dan melihat langsung kepadaku, aku menurunkan kedua lengan ku dengan anggun.
Dia merasa sangat terkejut yang rasanya seperti jiwanya telah meninggalkan tubuhku dan hanya dapat melihatnya dengan pandangan kosong.
“Cantik” tidak dapat menjelaskan keindahan. Kulitku yang diwarnai dengan partikel-partikel berwarna biru langit terlihat sangat lembut dan mulus. Rambutku terlihat seperti terbuat dari benang sutera terbaik. Dadanya berlekuk dengan sangat sempurna sehingga terlihat, dengan ironis, seakan-akan tidak ada graphic engine yang dapat menggambarkannya. Lekukan kakiku yang bermula dari pinggang langsingnya membuat seseorang berpikir tentang keanggunan dari seorang putri.
Mustahil mempercayai bahwa penampilannya hanyalah sebuah gambar buatan 3D. Bila aku yang menggambarkannya, penampilannya seperti sebuah pahatan yang dibuat oleh Tuhan dengan kehidupan ditiupkan kedalamnya.
Data yang dikumpulkan oleh Nerve Gear yang berasal dari proses kalibrasi dari pemain menentukan bentuk tubuh dari avatar pemain. Dengan pemikiran itu, seseorang akan menyebut keberadaan dari tubuh yang sempurna itu sebagai sebuah keajaiban.
Dia tetap menatap tubuhku yang nyaris tidak tertutupi seakan-akan jiwanya telah meninggalkan tubuhnya. Bila aku tidak menutupi diriku dengan kedua lenganku dan membuka mulutku untuk berbicara, dia akan tetap duduk seperti itu bahkan hingga satu jam kemudian.
Wajahku terlihat sangat merah sehingga dia dapat melihatnya bahkan dalam kegelapan berwarna biru dari ruangan ini. Aku merendahkan kepalanya dan berbicara:
“R-Ryuzaki-kun, lepaskan pakaianmu juga... Sangat me, memalukan untukku untuk melakukannya sendiri.”
Setelah mendengar hal itu, dia akhirnya menyadari arti dibalik tindakan-tindakan ku.
Dengan kata lain, dia mengartikan apa yang aku katakan — bahwa dia ingin bersamaku malam ini, dengan arti yang lebih mendalam dari apa yang dia maksudkan.
Segera setelah dia menyadari hal itu, dia terjatuh kedalam rasa panik yang tiada akhir. Sebagai hasilnya, dia melakukan kesalahan terburuk dalam seluruh hidupku hingga saat ini.
“Err…bukan, kamu tahu , aku berpikir... bahwa akan lebih baik, bila kita berada be-bersama di dalam sebuah ruangan malam ini...”
“Eh…?”
Setelah dia menjawab secara bodoh dengan jujur, akulah yang berdiri terkaku dengan mulutnya terbuka lebar kali ini. Lalu,dengan sebuah ekspresi dari kemarahan dan rasa malu yang hebat tersebar di seluruh wajahku.
“Kau...kau...”
Kepalan tangan kananku yang tergenggam erat mengungkapkan hawa membunuh yang nyaris terlihat.
“Bodoh--!!”
Kepalan tangan ku, yang telah melesat menuju ke kecepatan yang memanfaatkan seluruh dexterity stat-nya, terhenti sesaat sebelum menghantam wajahnya oleh Crime Prevention Code dan mengeluarkan sebuah suara keras dan semburan dari percikan-percikan ungu sebagai gantinya.
“A-Ahh—! Tunggu!! Maafkan aku, maafkan aku! Lupakan apa yang aku katakan!”
Dia mencoba untuk menjelaskan sementara dengan panik melambai-lambaikan tangan kananmya kepada ku, yang baru saja akan melemparkan tinjuan keduanya tanpa menghiraukannya sama sekali.
“Maafkan aku, aku salah!! Ta...tapi, lagipula, dapatkah kamu...seperti... dapat me-melakukannya...? Didalam AQWO...?”
Aku menurunkan sikap bertarungku dan sedikit terkejut, walaupun tetap marah. Lalu aku bertanya:
“Kau,maksudmu kau tidak tahu...?”
“Tidak,aku tidak tahu...”
Lalu, ekspresi wajah ku berubah dari kemarahan menjadi rasa malu, sebelum aku kemudian menjelaskan dengan suara kecil:
“…jadi...dibagian option menu, jauh di bawah...disana ada pilihan yang disebut «Ethic Code Off».”
Itu adalah kali pertama aku pernah mendengar sesuatu seperti ini. Dia yakin hal ini tidak ada pada saat beta test, hal ini juga tidak pernah disebutkan didalam buku panduan. Untuk mengetahui bahwa hal ini adalah harga lain yang harus Dia bayar untuk bermain solo dan tidak mempunyai minat lain selain bertarung.
Tetapi informasi ini menghasilkan pertanyaan baru yang tidak dapat dia tolak untuk dia pikirkan. Karena kemampuannya untuk berpikir jernih dia belum sepenuhnya pulih, secara tidak sadar dia mengucapkannya keras-keras:
“…apakah... apakah kamu pernah melakukannya sebelumnya...?”
Sekali lagi kepalan tangan besi ku meledak dalam percikan-percikan tepat di depan wajahnya.
"T-tentu saja tidak, bodoh kamu—!! Aku hanya mendengarnya dari para gadis lain di dalam guild!!”
Dia segera berlutut di lantai didepannya dan meminta maaf tiada akhir. Dibutuhkan waktu beberapa menit sebelum dia berhasil tenang.

Sebatang lilin diatas meja terus menyala; segaris cahaya tipis yang menyala darinya membuat kulit Aku bependar sedikit sementara Ryuzaki menatap indahnya kota di balik jendela. Dia menarikan salah satu jarinya secara lembut dibagian punggungku yang putih; kehangatan dan kelembutan yang kurasakan dari ujung jarinya terasa sangat memabukkan.

Aku perlahan bangun dan menatap kedua matanya . Dia berkedip dua kali dan kemudian tersenyum.
“Maaf. Apakah aku menganggumu?”

“Yeah. Aku melihat sebuah mimpi yang aneh. Sebuah mimpi mengenai dunia nyata...”
Dia tetap tersenyum sementara dia mengusapkan tangannya ke pipiku.
“Di dalam mimpi itu, aku sempat berpikir bahwa memasuki Devilcraft dan bertemu denganmu hanyalah sebuah mimpi, dan aku merasa sangat takut. Aku lega....bahwa semuanya bukan mimpi.
“Kamu adalah seseorang yang aneh. Apakah kamu tidak mau kembali?”
“Tentu saja aku ingin. Aku ingin kembali, tetapi aku tidak ingin semua yang terjadi di sini untuk menghilang begitu saja. Walaupun... hal ini membutuhkan waktu lama untuk kita... tetapi dua tahun terakhir ini sangat berharga bagiku. Aku yakin akan hal itu sekarang.”
Ryuzaki tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan menggenggam tangan kananku, yang kuletakkan diatas bahunya, lalu membawa tanganku ke dadanya dan memeluknya dengan erat.
“... Aku minta maaf, Rizuka-chan. Aku seharusnya... Aku seharusnya menyelesaikannya sendiri...”
Aku menarik nafas lalu menghebuskannya dalam-dalam.
“Tidak...Kuralah yang salah, seseorang yang membuatnya seperti itu, adalah aku. Itu adalah pertarunganku.”
Dia mengangguk perlahan sementara aku menatap kedua matanya.
Air mata terbentuk di mataku yang seperti kemiri sementara Ryuzaki diam-diam menekan bibirnya kepada tangan yang dipegangnya. Aku dapat merasakan gerakan lembutnya.
“Aku juga akan... menanggungnya bersamamu. Setiap beban yang kau pikul, aku akan membawanya bersamamu. Aku berjanji, aku pasti akan melindungimu mulai saat ini...”
Ini adalah—
Kata-kata yang tidak dapat dia ucapkan bahkan satu kalipun hingga sekarang. Tetapi pada saat ini, bibirku gemetar, dan aku dapat mendengar suara yang tersingkap keluar dari jiwanya.
“Aku juga.”
Suara yang sangat lemah bergema ke udara.
“Aku akan melindungimu juga.”
Walaupun ini adalah kata-kata yang sangat sederhana, dia telah mengatakannya dengan sikap yang secara menyedihkan tenang dan tidak dapat diandalkan. Dia tersenyum kecut saat aku memegang tanganku dan berkata:
“Rizuka... kau sangat kuat. Kamu jauh lebih kuat daripadaku...”
Setelah mendengar hal itu, aku berkedip beberapa kali dan kemudian tersenyum.
"Tidak, aku tidaklah kuat. Aku biasanya bersembunyi dibelakang orang lain di dunia nyata. Bahkan permainan ini bukanlah sesuatu yang aku beli.”
Dia tertawa seakan-akan dia baru saja memikirkan tentang sesuatu.
“Permainan ini adalah sesuatu yang kakak laki-lakiku beli, tetapi dia tiba-tiba harus pergi untuk urusan bisnis; jadi aku dapat bermain dengan permainan ini pada hari pembukaannya. Dia sangat kecewa karena itu. Dia pasti sangat marah sekarang karena aku telah memakainya selama dua tahun.”
Aku berpikir bahwa Ryuzaki lebih tidak beruntung telah datang kemari menggantikan kakaknya, tetapi aku hanya mengangguk.
“...Kau lebih baik segera kembali dan meminta maaf.”
“Yeah... Aku perlu berusaha lebih keras...”
Tetapi suaraku melemah saat aku mengatakan hal ini, menundukkan pandanganku ke bawah seakan-akan aku takut akan sesuatu dan kemudian mendekatkan tubuhnya kepadaku.
“Umm...Ryuzaki-kun, aku tahu bahwa hal ini berlawanan dengan apa yang baru saja aku katakan... tetapi bisakah kita meninggalkan garis depan untuk sementara waktu?”
“Hmm...?”
“Entah kenapa aku merasa takut... Kita akhirnya berhasil saling mengutarakan perasaan kita, jadi aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi lagi bila kita pergi ke garis depan segera sesudahnya... Mungkin aku hanya agak kelelahan.”
Ryuzaki mengusap rambutku diam-diam dan mengangguk dengan sangat menurut yang mengejutkan diriku sendiri.
“Yeah, kamu benar... Aku juga agak lelah...”
Walaupun bila angka-angkanya tidak berubah, berbagai pertarungan yang kami jalani hari demi hari menimbulkan kelelahan yang tidak dapat dilihat. Contoh terutama mengenai hal ini adalah situasi seekstrim hari ini. Bahkan busur yang kuat akan patah bila ditarik terlalu kuat. Kami pasti memerlukan istirahat.
Aku merasakan dorongan yang mendorongku untuk bertarung tanpa henti melayang menjauh. Kali ini, aku hanya ingin memperdalam hubungan yang terbentuk diantara kita berdua.
Ryuzaki memeluk ku dengan erat, lalu membenamkan wajahnya pada rambutku yang seperti sutra dan berkata:
"Pada bagian tenggara dari lantai dua puluh dua, di antara hutan-hutan dan danau-danau... terdapat sebuah desa kecil. Tempat itu adalah tempat yang baik dan tanpa monster. Mereka menjual beberapa pondok di sana. Kita berdua dapat berpindah kesana bersama... dan kemudian...”
Aku menatapnya saat dia berhenti berbicara.
“Kemudian...?”
Dia berhasil menggerakkan lidahnya yang membeku dan meneruskan kata-kataku.
"...mari, mari kita menikah.”
Senyuman sempurna yang aku tunjukkan padanya saat itu, tidak akan dia lupakan seumur hidup.
“Okay...”
Aku mengangguk kecil sementara setetes besar air mata mengalir turun melewati pipiku yang kemerahan.

PART 17
Terdapat empat macam hubungan antara dua pemain di dalam sistem dari AQWO.
Yang pertama adalah dua orang yang tidak saling mengenal sama sekali. Yang kedua adalah teman. Para pemain yang telah saling mendaftarkan satu sama lain sebagai teman dapat saling mengirim pesan singkat antar teman tidak peduli dimana mereka berada. Mereka juga dapatsaling mencari lokasi teman mereka melalui peta.
Yang ketiga adalah anggota satu guild. Selain keuntungan yang telah disebutkan diatas, mereka juga mendapatkan sedikit peningkatan status mereka ketika mereka berkelompok dengan teman dari guild yang sama. Akan tetapi, mereka harus menyerahkan sebagian kecil dari Coll yang mereka peroleh sebagai pajak dari guild.
Hingga sekarang, Ryuzaki dan aku adalah teman dan anggota satu guild, walaupun pada kenyataannya saat ini kami sedang beristirahat dari kegiatan guild. Tetapi kami telah memutuskan untuk memasuki tahap terakhir dari hubungan antar pemain.
Pernikahan— walaupun sebenarnya langkah untuk menikah sebenarnya sederhana sekali. Ketika seseorang mengirimkan pesan lamaran dan orang yang lain menerimanya, mereka kemudian telah dinyatakan menikah. Tetapi perbedaan dari pernikahan dengan teman atau anggota satu guild sangat jauh.
Pernikahan di AQWO berarti membagi semua informasi dan item. Yang satu dapat melihat stat window yang lain setiap saat, dan bahkan inventory window mereka bergabung menjadi satu. Dengan kata lain, hal ini berarti mempercayakan jaring pengaman paling penting seseorang kepada partner mereka. Di dalam Devilcraft, dimana pengkhianatan dan penipuan umum terjadi, sangat sedikit yang bertindak hingga sejauh tahap pernikahan bahkan diantara pasangan-pasangan yang paling dekat. Tentu saja, alasan penting lainnya adalah perbandingan pria-wanita yang sangat tidak seimbang.

Lantai dua puluh dua adalah salah satu dari area yang paling jarang ditinggali di Devilcraft. Karena lantai ini adalah salah satu dari lantai-lantai tingkat bawah, lantai ini terhitung besar; tetapi sebagian besar dipenuhi oleh hutan-hutan dan banyak danau yang tersebar disekitar area ini; karena itu, daerah untuk tempat tinggalnya sangat kecil sehingga dapat disebut sebagai hamlet. Monster jarang muncul di padang, dan karena tingkat kesulitan dari labirinnya sangat rendah, level ini telah terselesaikan dalam tiga hari dan sebagian besar pemain tidak begitu banyak mengingat mengenai level ini.
Ryuzaki dan aku memutuskan untuk membeli sebuah pondok yang kecil, dan bundar didalam hutan pada lantai dua puluh dua ini untuk tinggal disana. Walaupun ukurannya kecil, tetap dibutuhkan uang yang cukup banyak untuk membeli sebuah rumah didalam AQWO. Ryuzaki menawarkan untuk menjual rumahnya di Salemburg, tetapi aku dengan bersikukuh menolak hal itu, karena akan menjadi sangat disayangkan untuk menjual sebuah rumah yang telah diperlengkapi dengan perabotan secara sempurna. Jadi pada akhirnya, kami mengumpulkan semua barang langka kami dan menjualnya dengan bantuan dari Near, yang akhirnya berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membeli rumah itu.
Walaupun Near berkata dengan ekspresi sedih bahwa kami dapat menggunakan lantai dua dari tokonya bila kami mau, aku berpikir bahwa menghabiskan masa bulan madu di dalam toko pedagang terlalu mengenaskan. Selanjutnya, aku bahkan tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi setelah fakta bahwa Ryuzaki yang sangat terkenal telah menikah diketahui berbulan madu di dalam toko. Aku berpikir bahwa kami seharusnya dapat menghabiskan hari-hari kami dengan tenang di lantai dua puluh dua yang jarang ditinggali.
“Uwa— betapa indahnya pemandangan ini!”
Aku menyandarkan diri ke depan, keluar dari jendela kamar tidur kami; walaupun disebut kamar tidur, sebenarnya hanya ada dua ruangan di dalam rumah ini.
Pemandangan di luar memang sangat mempesona. Tempat ini terletak dekat dari tepi Devilcraft, jadi seseorang dapat melihat danau-danau yang bergemelapan, hutan yang hijau, dan langit yang terbuka bebas secara bersamaan. Karena kami biasanya tinggal dengan langit-langit batu sekitar seratus meter di atas kami, langit bebas memberikan kami rasa kebebasan yang tidak dapat dijelaskan.
“Hanya saja jangan jatuh dari jendela sementara kamu melihat pemandangan.”
Ryuzaki berhenti mengatur perabotan rumah tangga dan melingkarkan tangannya di sekitar tangan kiriku. Aku ini sekarang adalah istri seorang yang di kenal sebagai Flash ketika dia memikirkan tentang hal itu, kehangatan dari cahaya mentari yang terang di musim dingin, rasa takjub yang mengagumkan, begitu juga dengan rasa terkejut mengenai seberapa jauh kami telah melangkah semua menyerangku secara bersamaan.
Sebelum aku terperangkap di dalam permainan ini, aku hanyalah seorang anak yang pergi ke sekolah dan kemudian kembali ke rumah tanpa cita-cita apapun dalam hidupku. Tetapi sekarang, dunia nyata telah menjadi masa lalu yang jauh.
Bila permainan ini sudah diselesaikan, kami dapat kembali ke dunia nyata... hal itu adalah yang semua pemain, termasuk Ryuzaki dan aku, harapkan untuk menjadi nyata. Tetapi aku tidak dapat menahan rasa cemasku yang muncul setiap kali aku memikirkan mengenai hal ini.Tanpa sadar Ryuzaki menguatkan pelukannya.
“Ryuzaki-kun, sakit... Apakah ada sesuatu yang salah...?”
“M-maaf... Hey, Rizuka...”
Untuk sesaat dia berhenti berbicara, tetapi dia harus menyelesaikan pertanyaannya.
“...hubungan kita, apakah hanya dalam permainan...? Apakah hubungan ini akan menghilang setelah kita kembali ke dunia yang lain...?”
“Aku akan marah, Ryuzaki-kun.”
Aku berbalik dan menatapnya dengan kedua mataku yang penuh dengan emosi.
“Walaupun ini hanyalah sebuah permainan normal dibandingkan dengan situasi aneh ini, aku tetap tidak akan menyukai orang lain dengan begitu saja.”
Aku menekan kedua pipinya dengan kedua tanganku dan kemudian berkata:
"Aku mempelajari sesuatu disini, dan hal itu adalah terus berusaha dan jangan pernah menyerah. Bila kita berhasil kembali ke dunia nyata, aku pasti akan datang mencari Ryuzaki-kun lagi, dan aku akan tetap menyukaimu.”
Berapa kali aku telah mengagumi kejujuran dan ketegaran hati Ryuzaki? Atau mungkin saja hatinya saja yang terlalu lemah.
Tetapi walaupun aku adalah yang lebih lemah, hal itu tidak menjadi masalah. Aku telah lupa sejak lama betapa menyenangkannya untuk menggantungkan diri kepada orang lain dan merasakan orang lain bergantung kepadaku. Aku tidak tahu berapa lama kami dapat tinggal di sini, tetapi setidaknya kami terletak jauh dari pertempuran selama masa waktu ini—
Aku membiarkan pikiranku mengembara dan mengonsentrasikan perasaanku kepada kelembutan dan bau harum yang memenuhi kedua tanganku.

PART 18
Pelampung yang terikat pada benang pancing belum bergerak satu kalipun. Rasa mengantuk menyerang kesadaranku sementara aku melihat tarian cahaya mentari yang terpantulkan dari riak air danau yang berkilauan.
Aku menguap lebar dan menarik benang pancingku. Hanya sebuah kail perak pada ujung benang yang bersinar di bawah cahaya mentari; umpan yang telah aku pasang di atasnya telah hilang.
Lebih dari sepuluh hari telah berlalu semenjak kami pindah ke lantai dua puluh dua. Untuk mengumpulkan makanan setiap hari, aku telah menghapus teknik pedang dua tanganku , yang baru aku latih dengan singkatdahulu, dan menggantinya dengan teknik memancing. Aku mulai meniru Taikoubou dalam memancing. Tetapi untuk suatu alasan tertentu, aku tidak menangkap apapun. Nilai latihannya baru saja melewati angka 600, jadi aku tidak mengharapkan tangkapa besar apapun, tetapi aku berpikir bahwa aku seharusnya telah menangkap sesuatu sekarang. Malahan, aku hanya menghabiskan hari demi hari membuang kotak-kotak umpan yang aku beli di desa.
"Ah, hal ini sangat menjengkelkan...”
Aku menggumamkan keluhan-keluhanku, melempar joran pancing kesamping, dan merebahkan diriku ke tanah. Angin yang bertiup diatas air sedingin es, tetapi mantel yang dibuat Ryuzaki dengan teknik menjahitnya membuatku tetap hangat. Ryuzaki masih dalam tahap melatih teknik itu, jadi mantel yang dibuatnya masih belum sebaik pakaian yang dijual di toko-toko NPC. Tetapi karena mantelnya dapat digunakan dan membuatku tetap hangat, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Sekarang adalah «Bulan dari Cypress» di dalam Devilcraft, yang berarti sekarang adalah bulan November di Jepang. Walaupun sekarang sudah hampir memasuki musim dingin, memancing di AQWO tidak memiliki hubungan apapun dengan musim. Mungkin hal ini sebenarnya karena aku telah menghabiskan semua keberuntunganku bersama Ryuzaki yang ku cintai.
Sementara aku memikirkan hal ini, keseluruhan diriku dipenuhi dengan kebahagiaan, dan sebuah senyum lebar tergambar di wajahku. Lalu tiba-tiba, sebuah suara mencapai telingaku.
"Bagaimana kabarmu?”
Aku melompat kaget dan melihat seorang pria berdiri disana saat aku berbalik.
Tubuhnya terbungkus dengan pakaian tebal, termasuk dengan sebuah topi dengan penutup telinga, dan memegang joran pancing di kedua tangannya sepertiku. Tetapi hal yang mengejutkan adalah usianya. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, dia sepertinya paling tidak berusia lima puluh tahun. Kedua mata dibalik kacamata berbingkai logam menunjukkan usia seorang yang sudah senior. Diantara para pecandu game berat di dalam AQWO, sangat jarang melihat seseorang yang sangat tua. Sebenarnya, aku belum pernah melihat seorangpun sebenarnya. Mungkinkah-?
“Aku bukan seorang NPC.”
Dia tersenyum kecut seakan-akan dia telah membaca pikiranku, dan kemudian secara perlahan melangkah menuruni lereng danau.
“M-Maaf. Aku hanya heran...”
“Tidak, tidak apa-apa. Hal itu dapat dimengerti. Aku kemungkinan besar adalah pemain paling tua di sini.”
Tubuh sehatnya terayun sementara dia tertawa “wa-ha-ha” sepenuh hati.
“Permisi.”
Dia engatakan hal itu sementara dia duduk di sampingku. Dia mengambil sebuah kotak umpan dari pinggulnya, lalu dengan canggung membuka sebuah pop-up menu, mengambil joran pancingnya, dan menaruh umpannya di sana.
“Namaku adalah Nishida. Aku adalah seprang pemancing disni. Di Jepang, aku bekerja sebagai kepala bagian perawatan dari sebuah perusahaan bernama Tohto Broadband Connection. Maaf aku tidak membawa kartu nama bisnisku.
Dia tertawa lagi.
“Ah…”
Aku hampir dapat menebak alasan mengapa dia berada di dalam permainan ini. Tohto adalah sebuah perusahaan operator network yang bekerja sama dengan Elemental. Merekalah yang bertanggung jawab untuk mengurus network yang menghubungkan server-server AQWO.
“Namaku Rizuka. Aku pindah kesini dari lantai atas beberapa saat yang lalu untuk berbulan madu. Nishida oji-san... pasti sedang... merawat koneksi network SAO...?”
“Aku adalah yang bertanggung jawab atas hal itu.”
Nishida mengatakan hal itu sembari mengangguk. Aku melihatnya dengan perasaan yang rumit. Hal ini berarti dia telah terlibat dalam semua ini disini karena pekerjaannya.
"Haha, para atasanku berkata bahwa tidak perlu masuk ke dalam permainan, tetapi aku tidak dapat merasa tenang sepenuhnya sebelum aku melihat hasil pekerjaanku dengan mataku sendiri, dan karena kekhawatiran orang tua sepertiku, aku menjadi seperti ini.”
Dia mengayunkan joran pancingnya dengan gerakan yang luar biasa halus saat dia mengatakan hal ii, dan seseorang dapat mengetahui bahwa dia sudah memiliki professional mastery dari seorang pemancing yang ahli. Dia juga sepertinya senang bercakap-cakap, karena dia meneruskan percakapannya tanpa menunggu balasan dariku:
"Selain aku, ada sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang tua lain yang berada di sini karena berbagai alasan. Kebanyakan dari mereka hidup dengan aman di Starting City, tetapi aku jauh lebih menikmati hal ini dibandingkan dengan hanya makan tiga kali sehari.”
Dia mengangkat joran pancingnya sedikit.
"Aku telah tanpa henti mencari untuk mencari sungai-sungai dan danau-danau yang bagus, dan pada akhirnya naik hingga ke tempat ini.”
“Oh, benarkah... Yah, hampir tidak ada monster di lantai ini.”
Nishida hanya tersenyum akan apa yang aku katakan tanpa menjawab. Lalu dia bertanya kepadaku:
“Lalu, apakah ada tempat yang bagus di lantai atas?”
Dia bertanya.
“Hmmm… Yah, lantai enam puluh satu seluruhnya adalah danau, sebenarnya, lebih mirip laut, dan mereka berkata bahwa seseorang dapat menagkap ikan yang besar di sana.”
“Ohh! Aku lebih baik pergi ke sana suatu saat.”
Pada saat ini, pelampung dari joran pancingnya mulai tenggelam dengan cepat. Nishida tidak membuang waktu untuk menariknya. Sepertinya level teknik memancingnya cukup tinggi, begitu pula dengan kemampuan sebenarnya untuk memancing.
“Woah, besar sekali!”
Sementara aku memaksakan tubuhku untuk bersandar ke depan, Nishida dengan tenang menggulung benang pancingnya dan dengan cepat menarik ikan biru yang berkilauan itu. Ikan itu menggelepar di tangannya beberapa kali lalu menghilang ke dalam inventory-nya.
“Luar biasa...!”
Nishida tersenyum malu sementara dia mengangkat kepalanya untuk menjawab:
“Bukan apa-apa. Yang perlu kamu lakukan di sini hanyalah menaikkan teknik memancingmu.”
Lalu dia menambahkan hal ini sementara dia menggaruk kepalanya:
“Tetapi, walaupun aku dapat menangkapnya, aku masih tidak tahu bagaimana cara memasaknya dengan baik... Aku ingin memakan sashimi atau ikan panggang, tetapi aku tidak dapat melakukan apapun tanpa kecap.”
“Ah… benar juga…”
Aku ragu-ragu untuk beberapa saat. Kami pindah ke sini untuk menghindari orang lain, tetapi aku berpikir bahwa orang ini tidak akan tertarik dengan rumor dan gosip.
“…Aku tahu mengenai sesuatu yang terasa mirip sekali dengan kecap...”
“Apa!?”
Nishida menyandar lebih dekat dengan kedua matanya bersinar dibalik kacamatanya.

Saat Ryuzaki menyambut kepulanganku dan melihat Nishida, kedua matanya terbelalak kaget, namun kemudian dia tersenyum dan berkata:
“Selamat datang. Seorang tamu?”
“Yeah, dia adalah Nishida oji-san, seorang pemancing. Dan-“
Suaraku melemah sementara aku berbalik melihat Nishida dan tidak yakin bagaimana memperkenalkan Ryuzaki. Lalu, Ryuzaki sepertinya tau apa yang aku pikirkandan dia memperkenalkan dirinya sendiri:
“Aku adalah Suaminya Rizuka. Selamat datang ke rumah kami.”
Dia mengangguk dengan penuh percaya diri.
Nishida menatap Rizuka dengan serius. Ryuzaki sedang memakai sebuah celana panjang polos bewarna hitam dan kaos pajang polos bewarna putih. Dia terlihat sangat berbeda dengan citranya sebagai seorang ksatria yang mengesankan sebagai seorang anggota BoK, tetapi kekerenannya tidak berubah.
Setelah menatap Ryuzaki beberapa lama, Nishida akhirnya tersadar kembali dan mengatakan:
“Ah, ahh, aku minta maaf. Aku telah terheran untuk sesaat aku tak menyangka Rizuka-chan mempunyai suami se keren kamu. Namaku Nishida. Maaf mengganggumu seperti ini..”
Dia menggaruk kepalanya dan tertawa.
Aku menerapkan semua keahlian memasak ku yang mengesankan kepada ikan besar yang telah ditangkap Nishida, dan menaruhnya di meja setelah mengubahnya menjadi sashimi dan ikan panggang dengan kecap sebagai bumbunya. Sementara aroma dari kecap buatan tangan tercium di dalam rumah, Nishida melebarkan lubang hidungnya dengan rasa senang tampak di wajahnya.
Ikan itu lebih terasa seperti ikan yellowtail dengan tambahan sejumlah minyak dibandingkan dengan rasa seperti kan air tawar. Menurut Nishida, kamu memerlukan setidaknya 950 poin dalam memancing sebelum kamu dapat menangkapnya. Setelah sebuah percakapan pendek, kami bertiga terfokus untuk memakan ikan itu dengan sumpit kami.
Piring-piringnya telah kosong dalam sekejap mata, dan Nishida menghela napas dengan ekspresi kebahagiaan saat dia memegang secangkir teh panas dengan kedua tangannya.
“…ah, makanan tadi sangat memuaskan. Terima kasih. Untuk berpikir bahwa kecap ada di dunia ini.”
“Oh, kecap ini buatan tangan. Kamu dapat membawa beberapa denganmu bila kamu suka.”
Aku mengambil sebuah botol kecil dari dapur dan memberikannya kepada Nishida. Aku berpikir bahwa ini adalah ide yang bagus untuk tidak memberitahukannya resep dari kecap itu. Aku lalu tersenyum dan berkata kepada Nishida yang berterima kasih:
"Jangan khawatir akan hal ini; anda juga membawakan kami ikan yang baik.”
Dia lalu melanjutkan perkataanya:
“Rizuka-chan belum pernah menangkap apapun kata Ryuzaki sambil tertawa.”
Pada serangan mendadak ini, aku hanya menyesap tehku dalam keheningan sebelum menjawab:
“Danau-danau di area ini semua terlalu susah.”
“Tidak, tidak juga. Hanya danau tempat Rizuka-chan memancing saja.”
“Eh…”
Apa yang Nishida katakan membuatku tidak dapat berkata-kata. Ryuzaki memegang perutnya dan mulai tertawa lagi tanpa henti.
“Kenapa mereka mengaturnya seperti itu...?”
“Sebenarnya, di danau itu...”
Nishida menurunkan nada suaranya sebelum melanjutkan, jadi Ryuzaki dan aku menyandar ke depan.
“Aku rasa dewa setempat tinggal disana.”
“Dewa setempat?”
Sementara suara Ryuzaki dan aku bergema bersama, Nishida tersenyum, membetulkan kacamatanya, dan kemudian melanjutkan perkataannya:
“Pada item shop di desa, disana ada sebuah umpan yang jauh lebih mahal dari umpan yang lain. Aku penasaran mengenai kemampuannya, jadi aku memutuskan untuk memebelinya sekali dan mencobanya.”
Aku menelan ludah karena naluri.
“Tetapi aku tidak dapat menangkap apapun dengan umpan itu. Setelah mencobanya di berbagai tempat, aku akhirnya berpikir untuk mencoba pada danau yang sulit itu.”
“Apakah, apakah kamu menangkap sesuatu...?”
“Sebenarnya, sesuatu menangkap umpannya.”
Nishida mengangguk dalam, dan raut wajahnya menjadi raut wajah yang menunjukkan penyesalan:
“Tetapi aku tidak dapat menariknya dengan kekuatanku dan pada akhirnya kehilangan joran pancingku karena itu. Aku hanya berhasil melihat bayangannya dalam saat-saat terakhir. Hal itu tidak hanya besar, kamu dapat memanggilnya sebuah monster, tetapi dalam arti lain dengan monster yang muncul di padang.”
Dia membuka lebar kedua tangannya. Hal ini mungkin adalah alasan di balik senyumnya yang penuh arti ketika aku berkata, “Hampir tidak ada monster di lantai ini.”
“Uwa, aku ingin memancingnya!”
Aku berseru dengan kedua matanya berkilauan. Lalu, Nishida bertemu pandang denganku dan berkata:
“jadi aku memiliki sebuah usulan— apakah kamu memiliki kepercayaan diri dengan strength stat-mu Rizuka-chan...?”
“Yah, kelihatannya tidak apa-apa...”
“Lalu bagaimana bila kita memancingnya bersama? Aku akan menahannya hingga dia menggigit umpannya dan kemudian menyerahkan sisanya kepadamu.”
“Hmm, jadi kita akan melakukan «Switch» sementara memancing... apakah hal itu mungkin...?”
Aku memiringkan kepalaku ke samping.
“Mari kita coba, sayang! Hal ini kelihatannya menarik dan seru!”
Ryuzaki mengatakan hal ini dengan kata “bersemangat” tertulis jelas di wajahnya. Tetapi, tidak salah jika aku juga agak tertarik dengan hal ini.
“Lalu mari kita segera mencobanya.”
Ketika aku menjawab, sebuah senyum tersebar di wajah Nishida.
"Itu baru semangat, , wa-ha-ha."

Malam itu.
Setelah berseru, “Dingindingin,” aku merangkak masuk ke tempat tidur, lalu merapatkan tubuhku ke tubuh Ryuzaki untuk mendapatkan kehangatan dan membuat suara tanda kepuasan hati. Dia berkedip tanda setuju dan kemudian tersenyum seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.
“ saying ada banyak sekali orang-orang yang berbeda di sini.”
“Dia adalah orang yang menarik,bukan?”
“Yeah.”
Aku kemudian tersenyum dan menggumam:
“Hingga saat ini, aku hanya bertarung di lantai atas. Aku telah lupa sama sekali bahwa di sini juga banyak orang yang menjalani kehidupan normal…”
“Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kita adalah seseorang yang istimewa; tetapi sejak kita berada pada level yang cukup tinggi untuk bertarung di garis depan, aku rasa hal ini juga berarti kita memiliki sebuah kewajiban kepada mereka.”
“…Aku tidak pernah memikirkan mengenai hal ini seperti itu… Aku selalu merasa bahwa menjadi lebih kuat adalah hanya sebuah jalan untuk bertahan hidup.”
“Aku merasa bahwa banyak orang akan mulai bergantung kepadamu mulai sekarang. Tentu saja aku juga termasuk.”
“…Tetapi dengan kepribadianku, mendengar ekspektasi semacam ini hanya membuatku ingin melarikan diri.”
“Oh kamu ini.”
Sementara aku mencibir tidak puas, dia membelai rambutku dan berharap bahwa kehidupan seperti ini akan berlanjut sedikit lebih lama. Demi Nishida dan pemain lainnya, kami harus kembali ke garis depan pada titik tertentu. Tetapi setidaknya untuk sekarang-
Berdasarkan pesan-pesan yang dikirimkan oleh Near dan Kuro kepadaku, aku tahu bahwa mereka sedang kesulitan untuk menyelesaikan lantai tujuh puluh lima. Akan tetapi, aku percaya dari lubuk hatiku yang terdalam, bahwa hal yang paling penting untukku sekarang adalah kehidupan ini bersama Ryuzaki.



PART 19
Aku selalu menyetel alarm paginya ke pukul tujuh lewat lima puluh.
Jika kamu bertanya mengapa pada pukul tersebut, ini karena alarm pagi Kirito yang berbunyi tepat pada pukul delapan.
Pagi ini, aku sekali lagi terbangun dengan suara lembut dari instrumen tiup kayu dan terus berbaring, menatap wajah tidur Ryuzaki sambil merebahkan kepalanya di atas tangannya.
Aku jatuh cinta setengah tahun yang lalu. Menjadi partner clearing dua minggu yang lalu. Dan baru enam hari berlalu semenjak aku menikah dan pindah ke tempat ini, di dalam hutan lantai ke dua puluh dua. Meskipun sebagai pasangan tercintanya, masih banyak hal tentang Ryuzaki yang tidak aku ketahui. Sempat, sambil mengintip wajah tidurnya, aku pelan-pelan menjadi ragu akan usianya.
Baru beberapa waktu lalu, karena sifatnya yang peduli tapi suka menyendiri, aku menduga bahwa dia seharusnya lebih sedikit tua dari ku. Namun, melihat Ryuzaki, lelap dalam tidur, dengan kepolosan yang begitu naif, membuat dia hanya dapat terlihat seperti anak yang masih kecil, tidak lebih tua dari dia.
Menanyakan hal seperti usia mungkin— bukanlah masalah. Namun, melanggar batas ke permasalahan di dunia nyata kuranglah kusukai, dan lagipula, aku telah menjadi suami istri. Daripada usia, bertemu lagi setelah kembali ke dunia nyata, bertukar informasi dari nama dan alamat asli sampai ke rincian kontak, akan lebih meyakinkan.
Namun tetapi, aku kurang cukup berani untuk mengatakannya dengan suara keras.
Aku takut kalau membicarakan permasalahan dunia nyata, «kehidupan pernikahan» ini akan terasa hanyalah seperti khayalannya yang bukan-bukan. Untuk aku yang sekarang, satu kenyataan yang paling penting baginya, adalah hari-hari lembut di rumah hutan ini; bahkan jika tidak bisa lari dari dunia ini, dengan tubuh mereka yang di dunia nyata menyambut kematian, ia masih akan tetap puas, dapat terus hidup seperti ini sampai akhir, meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.
Itulah sebabnya aku enggan untuk bangun dari “mimpi” ini dulu— Berpikir demikian, aku perlahan mengulurkan tanganku dan membelai wajah tidur Ryuzaki.
Biarpun begitu, wajah tidur itu memanglah kekanak-kanakan.
Pada saat ini, sudah memang sewajarnya kemampuan Ryuzaki tidak perlu diragukan. Dengan jumlah pengalaman yang sangat besar dari saat bermain pada masa beta test bersama, serta status numerik yang didapat lewat pertempuran yang tidak ada hentinya, dan menggunakan semua itu secara efektif, penilaian dan tekad. Dia Statusnya masih Flash di Blood of Knights, tapi Ryuzaki adalah pemain terkuat yang pernah ku kenal di AQWO. Meski bagaimanapun memburuknya kondisi di medan perang, aku tidak akan pernah merasa takut karena dia selalu berada di sisiku.
Namun, saat aku menatap Ryuzaki yang baring tergelung, entah bagaimana ada satu perasaan yang dengan begitu kuat berusaha untuk keluar dari dadaku bahwa dia hanya seperti adik kecil yang naif dan rapuh. Perasaan bahwa aku harus melindunginya.
Sambil bernafas dengan lembut, aku membungkuk, menyelubungi tubuh Ryuzaki dengan tangan ku. Dengan pelan aku kemudian berbisik.
“Ryuzaki… Aku mencintamu. Tinggallah bersamaku selamanya, oke?”
Pada saat itu, Ryuzaki bergerak dengan pelan, dan perlahan membuka kelopak matanya. Aku saling bertukar pandang, dengan wajahku pas didepan wajahnya.
“Waa!!”
Aku segera mundur dengan panik. Mengalihkan dirinya ke sikap berlutut pada tempat tidur, aku kemudian berbicara dengan wajah yang tersipu malu.
“Se-Selamat Pagi, Ryuzaki, …Apakah kamu… dengan yang baru aku bilang…?”
“Selamat pagi. Tadi… eh, apa maksudmu yang barusan?”
Menghadapku  yang bangkit dan menjawab sambil menahan menguap, aku dengan kuat menggoyangkan-goyangkan tangannya.
“T-Tidak, tidak ada apa- apa! Lupakan saja”
Menyelesaikan sarapan pagi telor mata sapi dengan roti gandum, salad dan kopi dan merapikan meja dalam beberapa detik, aku pun bertanya kepada Ryuzaki.
“Baiklah! Kemana kita akan bermain hari ini?”
"Oh, kamu."
Dan Ryuzaki tersenyum kecut.
"Jangan membicarakan hal itu dengan begini,"
"Tapi setiap hari telah sangatlah menyenangkan!"
Ini adalah pemikiranku yang nyata dan murni.
Berpikir kebelakang hanyalah membawa duka, tetapi dalam satu setengah tahun, dari saat ia menjadi tawanan AQWO sampai aku jatuh cinta dengan Ryuzaki, aku telah menempa dan mengeraskan hatinya.
Mengorbankan tidur untuk meningkatan skillnya, dipilih menjadi sub-leader dari clearing guild, Blood of the Knights, dia telah terjun ke banyak labirin dengan begitu cepatnya bahkan cukup untuk membuat anggotanya menyerah pada sesekali.
Semua yang ada dihatinya itu hanyalah semata mata untuk menyelesaikan game ini bersamaku dan melarikan diri; sehingga ia berkesimpulan bahwa semua aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan itu adalah sia sia.
Dengan pemikiran yang seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa apa kecuali menyesal tidak bertemu Ryuzaki lebih awal. Hari- hari setelah bertemu dengan Ryuzaki sangatlah berwarna, penuh dengan begitu banyak kejutan yang bahkan melewati kehidupannya yang lalu di dunia nyata. Jika bersama Ryuzaki, semua waktu yang telah dihabiskan disini dapat dianggap sebagai pengalaman yang langka.
Itulah sebabnya bagiku, akhirnya bisa mendapakatkan hari dimana aku dan Ryuzaki berdua dapat menghabiskan waktu bersama, tiap tiap detik dapat dianggap perhiasan berharga dengan sendirinya. Dia ingin pergi, sebagai pasangan, ke banyak dan lebih banyak tempat lagi bersama dan membicarakan banyak hal yang berbeda.
Aku meletakkan tanganku di pinggang dan berbicara sambil cemberut.
“Apakah Ryuzaki-kun tidak ingin pergi ke suatu tempat dan bermain?”
Dalam menanggapi itu, dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan kirinya, memanggil peta. Mengubahnya menjadi modus visible, dia menunjukkannya kepadaku
"Tepat disekitar ini."
Apa yang ditunjuk adalah sudut hutan, tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
Menjadi salah satu dari lantai bawah, Lantai ke-dua puluh dua cukuplah luas. Diameter dari seluruh wilayah ini mungkin lebih dari delapan kilometer. Sebuah danau raksasa berada di tengah dan sampai ke pantai selatan, disana terdapat kota utama, «Coral» Village. Di pantai utara terdapat labyrinth. Sisa dari wilayah tersebut ditutupi oleh hutan konifera yang indah. Rumah kecil milikku dan Ryuzaki berada di dalam sebuah area di tepi selatan lantai ini, dan apa yang sekarang ditunjuk Ryuzaki sekitara dua kilometer jauhhnya, di arah timur laut.
"Ini adalah tentang rumor yang aku dengar di desa kemarin.. Dibagian ini, dimana hutan menebal...”itu” tampaknya akan keluar."
"Hah?"
Kepada Ryuzaki yang sedang tersenyum halus, aku dengan ragu menjawab.
"Apanya?"
"...H-Hantu."
Aku diam sejenak, dengan takut aku bertanya
"...Itu berarti, seekor monter dari tipe Astral?Sesuatu seperti roh atau banshee?"
"Bukan, ini hantu asli. Seorang player... jadi, roh manusia. Sepertinya seorang wanita."
"Aah..."
Aku tanpa sadar menjengit. Mengarah ke topik seperti ini, aku hanya yakin bahwa dia akan terpengaruh jauh lebih buruk dari rata-rata orang. Dia cukup tidak baik dengan itu bahkan sampai memikirkan alasan yang sembarangan untuk tidak mengikuti clearing labirin kastil tua, membentangi lanti enam puluh lima dan enam puluh enam yang terkenal karena tema horornya.
“T-Tapi lihat, ini adalah dunia maya permainan. Sesuatu seperti— hantu keluar, sesuatu seperti ini tidak akan pernah terjadi.”
Memaksa dirinya untuk tetap tersenyum, dia mulai memprotes dengan suara keras.
“Paling cuma sedikit dari itu yang benar, ya…”
Namun untuk Ryuzaki, yang tahu bahwa aku lemah terhadap hantu, ia dengan antusias lanjut menyerang.
“Misalnya… Seorang pemain yang mati dengan penyesalan, merasuki Never Gear yang masih dipakai dan aktif… mengeluyuri wilayah, malam demi malam…”i
“Hentik--!”
“Wahahaha, maaf, ini hanya lelucon buruk. Yah, aku ragu kalau roh akan benar-benar muncul, tapi kalau kita mau pergi ke suatu tempat, lebih baik menuju ke tempat yang lebih tinggi memiliki kemungkinan untuk terjadi sesuatu, kan?”
“Aaah…”
Mengerutkan bibirku dan memberi muka masam, Aku mengganti fokus ke luar jendela.
Meskipun musim dingin yang mendekati, cuacanya sangat baik. Sinar matahari terasa hangat dan lembut, membasuh halaman kebun. Waktu yang paling tidak cocok untuk acara seperti penampakan hantu. Karena bagaimana Devilcraft terancang, meskipun tidak mungkin untuk melihat matahari secara langsung kecuali pada awal pagi dan sore, berkat pencahayaan sekitar yang memadai, wilayahnya jelas ternyala.
Aku berbalik ke arah Ryuzaki dan menjawab, dengan kepalanya yang terangkat tinggi.
“Baiklah, Mari kita pergi. Untuk membuktikan kalau sesuatu seperti hantu tidaklah nyata.
“Jadi begitu, --Kalau kita tidak menemukannya hari ini, lain kali kita akan pergi di tengah malam, oke?”
“Tidak mungkin!! ….Aku tidak akan membuatkan makanan untuk orang yang jahat seperti itu.”
“Gah, lupakan itu. Kau tidak mendengar apa-apa.”
Bercemberut kepada Ryuzaki untuk terakhir kalinya, aku kemudian tersenyum lebar dan tertawa.
“Nah, mari kita selesaikan persiapan. Aku akan memanggang ikan, jadi Ryuzaki-kun potong rotinya, oke?
Dengan cepat memasukkan kotak makan siang dengan burger ikan,sekitar jam sembilan pagi ketika mereka meninggalkan rumah.
Melangkah ke rumput di kebun, aku berbalik kembali ke Ryuzaki dan berbicara.
"Hei, gendong lah aku."
"Menggendongmu!?"
Kirito menjawab liar, kembali bertanya.
"Kau lihat, selalu melihat dari ketinggian yang sama serasa membosankan seharusnya menjadi lebih mudah dengan status kekuatan fisik Ryuzaki-kun, kan?."
"Baiklah, mungkin itu benar ... Ya ampun, berapa umurmu ..."
"Usia tidak ada hubungannya dengan itu Bukankah itu benar? Lagipula tidak ada yang melihat."
"Ba-baiklah, kurasa .."
Terkejut, Ryuzaki berjongkok dan berbalik ke arahku sambil geleng-geleng kepala. Aku mengangkat rokku, dan mengangkat kakiku ke bahunya.
"Di sana kita pergi. Tapi aku akan pastikan untuk memukulmu jika kamu melihat ke belakang, Ok.."
"Bukankah jadi tidak masuk akal ...?"
Menggerutu tentang situasi, Ryuzaki dengan gesit berdiri, sehingga tampak kenaikan dalam sudut pandang.
"Waa! Lihat, kamu bahkan dapat melihat danau dari sini!"
"Aku tidak bisa melihatnya!"
"Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu nanti juga."
"..."
Menempatkan tanganku di atas kepala Ryuzaki, yang telah merosot lebih karena kelelahan atas kejadian tersebut, Ryuzaki berbicara.
"Sekarang, saatnya untuk berangkat!"
Tertawa riang sambil memukul kepala Ryuzaki, yang terus berjalan ke depan, aku mampu memahami betapa berharganya hari ini, mampu hidup bersama. Dia sepenuh hati bisa percaya bahwa ini adalah saat ia merasa paling «hidup» di semua tujuh belas tahun dari hidupnya.

Berjalan di sepanjang jalan Ryuzaki adalah satu-satunya yang benar-benar berupaya, tapi Setelah sekitar sepuluh menit, salah satu danau yang menghiasi lantai dua puluh dua akhirnya datang di hadapan. Mungkin tergoda akan cuaca lembut, sudah ada beberapa player yang berada di sana sejak pagi, casting ke danau, umpan menggantung di air. Jalan meringkuk di sekitar danau, menuju tanjakan, cukup jauh dari tepi danau. Tapi saat mereka mendekat, melihat player yang berpaling ke arah mereka dan melambaikan tangan. Tampaknya setiap orang yang mereka lihat tersenyum pada mereka dan beberapa bahkan tertawa keras.
"... Ini tidak seperti yang banyak orang lihat!"
"Ahaha, sehingga ada orang-orang di sekitar ... Hei, Ryuzaki-kun, lambaikan tangan pada mereka juga."
"Tidak ada cara aku akan melakukannya."
Meski mengeluhkan, Ryuzaki tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membiarkan aku turun. aku mengerti bahwa dia benar-benar geli oleh pergantian peristiwa.
Jalan ke bawah yang miring, ke arah kanan, menuju ke dalam hutan. Tentu melalui celah antar pohon konifer besar yang menyerupai cedar, menjulang di atas segalanya, mereka berjalan beriringan. Gemerisik daun, dan kicau burung kecil terdengar di sungai kecil. Semua suara ini menjabat sebagai pelengkap untuk pemandangan hutan, yang menjadi satu dalam warna-warna musim gugur.
Aku berpaling matanya ke arah puncak pohon, yang lebih dekat daripada biasanya.
"Pohon itu pasti besar ... Hei, apakah kamu pikir kamu bisa mendaki itu ...?"
"Hm ... Mm ..."
Dalam menanggapi permintaanku tersebut, Ryuzaki memikirkannya untuk sementara waktu.
"Ini mungkin dalam batas-batas dari sistem ... Ingin mencobanya?"
"Nah, mari kita tinggalkan itu untuk waktu berikutnya-Sekarang. Aku berpikir tentang mendaki."
Aku membentangkan tubuhku yang berada pada bahu Ryuzaki dan memandang ke arah tepi luar Devilcraft, melalui celah-celah di antara pepohonan.
"Hal-hal di sekitar tepi, orang-orang yang terlihat seperti mendukung, mereka terhubung sepanjang jalan ke lantai berikutnya, benar? aku bertanya-tanya ...? Apa yang akan terjadi jika kita naik dari situ?"
"Ah, aku pernah mencoba itu sebelumnya."
"Eeh!?"
Mengendalikan tubuhnya, aku berbalik dan menatap Ryuzaki.
"Kenapa kau tidak mengundangku juga."
"Yah, itu ketika kita tidak mengenal satu sama lain dengan baik."
"Apa, itu hanya karena Ryuzaki-kun terus melarikan diri."
"... A-Apakah aku benar-benar melakukan hal tersebut?"
"Itu benar aku selalu mencoba mengundangmu,. Tapi kau bahkan tidak mau menemaniku untuk minum teh."
"I-Itu ... Ba-baiklah, jika seperti itu."
Kemudian percakapan yang mulai aneh kembali ke topik semula, Ryuzaki melanjutkan.
"Jika kau menilai berdasarkan hasil murni, itu adalah kegagalan. Memanjat dari bagian batu-batu yang kasar sangat mudah,. Tapi setelah naik sekitar delapan puluh meter, pesan kesalahan muncul, 'Anda tidak bisa melampaui daerah ini' dan membuatku jengkel. "
"Ah ha ha, jadi seperti yang diharapkan, kecurangan tidak bekerja, ya."
"Ini bukan bahan tertawaan, tanganku tergelincir. terkejut dan aku jatuh dari ketinggian ...."
"E-Eh!? Bukankah kamu bisa mati karena sesuatu seperti itu?"
"Ya. Aku pikir aku akan ditakdirkan mati dan tertulis dalam daftar pemain yang tewas dalam aksi, akan tetapi aku dengan segera menggunakan kristal teleport.."
"Ya ampun, itu berbahaya. Pastikan dirimu tidak mengulanginya, Ok?."
"Itulah yang ingin kukatakan!"
Berjalan-jalan sambil bertukar percakapan tanpa tujuan, hutan berangsur-angsur menjadi lebih padat. Bahkan teriakan burung yang mulai samar-samar, serta sinar matahari melalui pepohonan mulai memudar.
Aku memandang berkeliling sekali lagi, aku mempertanyakan Ryuzaki.
"Hei, itu ... tempat dalam rumor, apakah jalan itu?"
"Yah, itu ..."
Ryuzaki melambaikan tangannya, memeriksa posisi mereka di peta.
"Ah, kita cukup dekat dengan tujuan kita dan akan mencapainya dalam beberapa menit.."
"Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang hal tersebut?"
Aku tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak tahu apa yanng membuatnya seperti gelisah, dan mendorong Aku untuk bertanya.
"Nah, sekitar seminggu yang lalu, seorang player pengrajin kayu (woodcraft) telah datang ke sini untuk mengumpulkan beberapa kayu. Kayu yang dapat dipanen dari hutan ini adalah kualitas yang cukup bagus,. Dan sementara pemain sibuk dalam tugasnya , hari mulai gelap ... Pemain bergegas untuk kembali, tetapi tertutup oleh naungan pohon-pohon ... dan ada pemandangan sekilas putih. "
"..."
Ini sudah batas untuk ku, namun Ryuzaki tanpa ampun melanjutkan.
"Pemain tersebut bingung, berpikir bahwa itu adalah rakasa, tapi rupanya bukan, itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, dengan ciri-ciri yang di sebutkan”.
"Pemain mendapat bingung berpikir bahwa itu adalah sebuah rakasa, tapi rupanya, bukan itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, sebagai pemain telah disebutkan.. Panjang, rambut hitam pada pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Kalau bukan rakasa, itu hanya bisa menjadi pemain, pemain berpikir, menatap padanya. "
Sebuah teriakan lembut sengaja bocor keluar dari tenggorokan pemain itu.
"Tidak ada cara yang mungkin Meskipun berpikir bahwa, pemain semakin dekat.. Dan bahkan memanggilnya. Melakukan hal itu, gadis itu berhenti semua gerakan ... dia secara bertahap berbalik ke arahnya ..."
"Th-Th-Itu e-eno ..."
"Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat langsung melalui dirinya."
"-!!"
Menyesakkan jeritan, aku mencengkeram rambut Ryuzaki erat-erat.
"Ini adalah akhir dari saya jika dia berbalik, dia berpikir dan lari. Akhirnya mendapatkan pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti setelah itu ia berbalik untuk melihat ke belakang .. . "
"- H!?"
"Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia selamanya.."
"... R-Ryu-Ryuzaki-kun, idiot-!!"
Melompat turun dari bahunya, aku mengangkat tinjuku, serius bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya-saat itu.
Jauh di dalam kedalaman hutan, suram, meskipun itu masih tengah hari, pada jarak dari pasangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.
Diserang oleh aura tidak menyenangkan, aku menjadi membeku ketakutan. Bahkan jika itu tidak sebanyak itu Ryuzaki, keterampilan persepsiku itu juga, agak disempurnakan melalui pengalaman. Pasif Toggling penggunaan keterampilan, dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.
Sesuatu putih tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Mengintip keluar dari hem dua ramping, panjang kaki.
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama yang Ryuzaki jelaskan, dia adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak, diam-diam menatap pasangan.
Merasa pingsan karena kesadaranku luntur, aku agak berhasil membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.
"R ... Ryuzaki-kun, di sana."
Ryuzaki segera diikuti tatapanku itu. Segera, dia juga, membeku.
"Th-Ini pasti suatu  kebohongan ..."
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari pasangan, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, aku menguatkan diriku sendiri, berpikir bahwa aku pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan energi, ia jatuh ke tanah, dengan gerakan seperti itu dari makhluk hidup. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.
"Ada ..."
Saat itu, Ryuzaki menyipitkan matanya.
"Tidak ada cara seperti itu hantu!"
Dan berlari sambil berteriak.
"Wa-Tunggu, Ryuzaki-kun!"
Meskipun permohonan untuk berhenti dariku  yang tertinggal, Ryuzaki bergegas menuju gadis jatuh, bahkan tanpa melihat ke belakang.
"Ya ampun!"
Aku enggan berdiri dan mengejar. Meski hatiku masih gemetar, aku belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak bisa apa-apa kecuali pemain.
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifera, aku menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Ryuzaki itu. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang, masih ditutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, bagian satu aku menegaskan kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.Rambut hitam panjang dengan pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Jika bukan rakasa, itu hanya salah seorang player, player berpikir, dan melihat padanya. "
“A-apa dia baik-baik saja?”
“Hmm…”
Ryuzaki menghela napas sambil menatap wajah gadis itu”
“Jadi, sejujurnya… di dunia ini tidak perlu bernapas untuk bertahan hidup jadi aku yakin dia baik-baik saja”
“Di dalam AQWO, fungsi fisiologis yang paling manusia dapat direproduksi, tetapi dihilangkan. Hal ini di mungkinkan supaya tubuh kita di dunia nyata masih tetap bernapas dengan baik, tetapi ‘tubuh’ di dalam sini tidak dapat merasakannya. Demikian juga seperti jantung, detak jantung kita berdetak di dunia nyata akan tetapi tidak bisa di rasakan di dunia ini.”
“Tetapi dia masih belum menghilang seperti pemain yang mati, jadi aku yakin dia masih hidup, akan tetapi ini aneh”
Setelah menselesaikan jawabannya, dia menggaruk-garuk kepalanya.
“Apanya yang aneh? Tanyaku”.
“Dia bukan lah hantu maupun NPC… jadi aku masih bisa menyentuhnya, tapi cursornya tidak terlihat..”
“Ah”.
Aku sekali lagi terheran melihat gadis itu yang terlihat tanpa cursor, Namun cursor pasti akan muncul setiap bertemu pemain lain, musuh, ataupun NPC tapi dalam situasi ini fenomena tidak terlihatnya cursor adalah fenomena langka dan jarang terjadi.
“Mungkin terjadi bug, lag atau terjadi hal yang lain begitu?”
“Mungkin seperti itu. Dalam situasi seperti ini biasanya seseorang mengontak GM dengan menekan tombol “help” di dalam menu, akan tetapi tidak ada GM yang berkeliaran di sini. Untuk pemain yang bermain AQWO dia masih sangat muda.”
Jika itu benar. Tubuh yang Ryuzaki sentuh sangatlah kecil. Dia tidak terlihat seperti anak berumur 7 tahun. Umurnya tidaklah cukup untuk memakai Never Gear, sebelum log in, untuk anak kecil, di butuhkan umur di atas 10 tahun untuk log in.
Aku menyentuh kepala gadis itu, dan mengusapnya dengan lembut. Terasa agak dingin saat aku mengusap kepalanya.
“Kenapa ada gadis sekecil dia di AQWO? Tanyaku”.
Dengan menggigit bibirnya, Ryuzaki menjawab.
“Untuk beberapa saat jangan biarkan dia sendirian. Kita harus bertanya sesuatu ketika dia bangun. Kita harus membawanya pulang.”
“Iya, kau benar.”
Ryuzaki bangkit dan mengendong gadis itu. Aku hanya melihat sekitar, tapi tidak menemukan apa-apa selain dari pohon besar, aku tidak bisa menemukan di mana gadis itu berasal dari hutan tersebut.
Hari mulai gelap kami berlari kencang, akan tetapi gadis itu belum bangun juga, bahkan setelah kami keluar dari hutan dan tiba di rumah Ryuzaki meletakkan gadis itu di tempat tidurku dan mengatur selimut, di tempat tidur yang berdekatan, milik Ryuzaki.
Setelah hening beberapa saat, Ryuzaki mulai berbicara.
“Jadi satu hal yang kita bisa yakin, dia bukanlan NPC karena kita sudah berhasil membawanya dari hutan ke rumah”.
“Ya, kau benar. Jawabku.”
Saat kita menyentuh NPC akan ada laporan pelecehan di atas kepalanya, jadi aku yakin gadis ini 100% bukanlah NPC.
“Ya, aku juga berpikir begitu. Aku masih tidak percaya bahwa anak sekecil dia log in sendirian, pasti dia log in bersama saudaranya atau keluarganya, aku yakin mereka pasti khawatir sekarang.”
“Ah, jika besok dia tidak menghilan aku yakin helm Never Gear masih terhubung sekarang, itu sebabnya cepat atau lambat dia akan bangun, aku percaya.”
Ryuzaki mengangguk setuju.
“Kita tunggu saja besok mungkin dia akan bangun, sekarang sudah larut malam cepat lah tidur.”
Aku mengangguk setuju dan tidur di samping gadis itu.

Part 20
Dengan di terangi cahaya matahari indah yang membuatku bangun, aku mematikan alarm yang menunjukkan pukul 7 pagi. Dengan lemasnya aku membuka tirai jendela yang memperlihatkan betapa indahnya danau dan hutan-hutan yang ada, saat aku menoleh ke belakang gadis yang kemarin pingsan pun bangun.
Bangun??.
Aku langsung mencoba membangunkan Ryuzaki.
“Ryu-Ryuzaki-kun bangun, duh, Ryuzaki bangun”.
“Selamat pagi, ada masalah apa?”.
“Cepat ke sini. Teriakku keras”.
Dengan paksa aku menarik baju tidurnya dan menyiram wajahnya dengan air. Akhirnya mata Ryuzakipun terbuka lebar.
“Di-dia bangun? Katanya”
“Iya, dia sudah bangun”.
Ryuzaki segera menyenderkan tubuh gadis itu ke dinding dan aku mulai berbicara kepadanya.
“Akhirnya kamu bangun juga, jadi apa yang terjadi padamu, apa kamu ingat sesuatu?”.
Saat aku menanyakannya dia masih terdiam dan tidak mau bicara.
“Oh ia siapa namamu?
“Na…nama…namaku..”.
Dia menunduk, seuntai rambut mengkilap, hitam jatuh ke pipinya.
“Yu…I Yui. Itulah namaku.”
“Jadi Yui-chan?. Nama yang indah, aku Rizuka dan dia adalah Ryuzaki.
Setelah aku memperkenalkan Ryuzaki kepada gadis yang menyebut dirinya Yui dia mengikuti arah tanganku dan menatap wajah Ryuzaki.
“Ri..u..ka. R..u..a..i.”
Dengan bibirnya yang kecil, dia berbicara terputus-putus. Aku merasakan ketakutan dari malam sebelum saat gadis itu hadir. Penampilan luar gadis itu terlihat bahwa dia berumur 7 tahun, jika di pertimbangkan saat dia log in, usia sebenarnya haruslah sepuluh tahun sekarang. Tapi kata gemetar gadis itu, seolah-olah dia seperti bayi yang baru bangun dari tidurnya.
“Hei, Yui-chan. Kenapa kamu ada di lantai dua puluh satu? Apa ada ayah atau ibumu?, di mana mereka sekarang?”
Yui menunduk kepala dan dia beberapa saat, setelah itu dia mulai berbicara.
“Aku tidak tau..aku tidak tau apa apa…”
Setelah dia duduk di meja makan dan meminum susu hangat dan beberapa potong kue, gadis itu memegang cangkir susu sampai ke dadanya dengan kedua tangannya dan mulai meminumnya lagi. Aku mengawasi dia dari luar dan memutuskan untuk membahas situasi ini dengan Ryuzaki.
“Hei, Ryuzaki-kun. Apa yang kamu pikirkan sekarang?”
Ryuzaki mengigit bibirnya dengan serius, tapi segera berbicara dengan wajah menunduk.
“Dia… sepertinya kehilangan ingatannya, dan sifatnya seperti bayi”
“Ya, kau benar”
“Sial!!”
Wajah Ryuzaki menunduk, terlihat sangat jelas sedikit air mata keluar dari matanya.
“Di dunia ini…. Aku sudah melihat banyak sekali hal buruk… tapi.. ini adalah yang paling buruk..”
Ryuzaki menangis, aku pun ikut menangis, aku merasakan sesuatu yang Ryuzaki rasakan juga. Aku memegang tangan Ryuzaki dan berkata.
“Ini akan baik-baik saja Ryuzaki-kun pasti ada sesuatu.. yang bisa kita lakukan
“Yeah.. kau benar”
Ryuzaki menghapus air mataku dan tersenyum, dan memeluk ku sambil menenangkanku dari semua ini.
Setelah itu aku dan Ryuzaki masuk ke meja makan dan dia mulai bertanya.
“Ah Yui-chan.. bisa kah aku memanggilmu Yui?”
“I…iya. Yui menjawab dengan nada terputus-putus.”
“Yui, kau bisa memanggilku, Ryuzaki”
“Ra..i”
“yang benar Ryuzaki. Ryu, za, ki”
“…”
Sekali lagi Yui mengulangi kata-kata yang Ryuzaki ucapkan.
“Ryuaki”
Ryuzaki tersenyum lebar dan mengelus rambut Yui.
“Nama itu mungkin susah bagimu. Kamu bisa memanggilku dengan nama apa saja”
Yui sekali lagi merenung sejenak. Dia tidak meminum susunya, bahkan ketika aku mengisi susunya yang baru di minum setengah.
Setelah beberapa lama, Yui perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan menatap Ryuzaki, dia mulai membuka mulutnya.
“…Papa”
Dan setelah itu, dia berpaling ke arahku dan berbicara
“Riuka adalah Mama”
“Aku berusaha menahan air mataku yang akan jatuh. Aku tidak tau apakah gadis itu salah mengucapkan atau memang orang tuanya sudah tidak ada di dunia ini lagi sehingga dia ingin aku dan Ryuzaki menggantikan mereka, dan aku mengangguk sambil tersenyum
“Itu benar… Aku adalah Mamamu, Yui-chan”
Setelah mendengar itu, Yui pun tersenyum untuk pertama kalinya, wajahnya sangat lucu saat dia tersenyum dan dalam sekejap dia terlihat sebagai boneka yang lucu.
“…Mama”
Melihat Yui mulai memelukku, aku pun langsung mengendongnya dan mencium pipinya berkali-kali.
Dan Tepat sesudahnya.

Kehidupan kami berubah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar