Selasa, 04 Desember 2012

Altelier Iris Online BAB 1 - 4


PROLOG
Ada 3 titik cahaya berwarna hijau tua, yang tersusun seperti gugusan bintang.
Ryuzaki Kazumi menjulurkan jari tangan kanannya, menyentuh lampu tersebut.
Indikator LED tersebut menunjukkan status operasi dari mesin VR bertipe FullDive, «Never Gear». Yang ada pada bagian depan headgear, indikatornya menunjukkan-dimulai dari kanan ke kiri-sumber tenaga listrik, koneksi jaringan, dan koneksi otak. Disaat lampu yang berada di ujung kiri berubah menjadi merah, itu menandakan otak si pengguna gear akan hancur.
Pemilik dari gear tersebut berada di atas kasur gel besar yang terletak di tengah-tengah kamar berwarna putih di rumah sakit, berada dalam keadaan koma. Bukan, itu bukan ungkapan yang tepat. Sebenarnya, jiwanya sekarang sedang bertarung siang dan malam di dalam suatu dunia paralel——memperjuangkan kebebasannya bersamaan dengan ribuan pemain lain yang terjebak di dalamnya.
"Kakak..."
Rin memanggil kakaknya yang sedang tidur dengan tenang, Ryuzaki.
"Tiga tahun sudah berlalu, huh.... Aku——sebentar lagi aku akan menjadi murid SMA, kau tahu.... Jika kau tidak segera kembali, suatu saat aku akan melampauimu..."
Rin menurunkan jarinya dari LED, mengikuti garis pada pipi kakaknya. Selama koma panjang ini, otot dari Rizuka mulai mengecil, dan garis tubuhnya yang tipis itu memberi kesan feminim, meskipun sejak awal dia memang terlihat mirip dengan wanita. Bahkan ibunya bergurau, memanggilnya, si «Putri Tidur».
Bukan hanya bagian mukanya saja yang menjadi kurus. Seluruh tubuhnya menjadi kurus dan lemah-dia berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan dibandingkan dengan Rin, yang terus berlatih kendo sejak masih kecil-tubuhnya jelas-jelas tidak memiliki berat badan yang mencukupi. Rin berpikir, kalau ini berlanjut terus, apakah dia akan terus menyusut hingga tidak ada yang tersisa...? Akhir-akhir ini ketakutan seperti itu muncul di benaknya.
Tapi Rin telah berjuang untuk tidak menangis selama berada di dalam kamar rumah sakit sejak setahun yang lalu. Pada saat itu, seorang anggota «AQWO Incident Countermeasure Team» dari kementrian urusan internal dan komunikasi sudah mengabari mereka. Seorang pegawai pemerintah-dengan poni panjang yang menutupi kacamatanya yang ber-frame hitam, dan memakai pakaian yang dapat disebut terhormat-mengabari mereka dengan suara yang samar: Bahwa «level» kakaknya termasuk dalam persentase kecil yang berada di atas seluruh kelompok dalam permainan-bahwa dia terus bertarung di garis depan yang berbahaya dan satu dari sedikit pemain yang bertujuan menyelesaikan permainan.
Hal itu pun ditegaskan hari ini juga, kakaknya bertarung berdampingan dengan kematian. Oleh karena itu Rin tidak akan menangis di sini. Disamping itu, dia berpikir memegang tangannya untuk mendukungnya.
"Berjuanglah.... Berjuanglah, Kakak".
Seperti biasa, tangan kanan Ryuzaki yang kurus digenggam oleh kedua tangannya-sambil berdoa dengan sungguh-sungguh dalam keheningan, tiba-tiba muncul suara di belakangnya.
"Ah, kamu datang, Rin".
Dia menoleh dengan gugup.
"Oh, ibu..."
yang berdiri di sana adalah Ibunya, Minori. Pintu geser rumah sakit ini menggunakan penggerak motor, oleh karena itu suara membuka dan menutupnya sangatlah senyap; hal ini menyebabkan Rin tidak menyadari kedatangan Ibunya.
Kemudian Minori dengan cekatan mengatur seikat bunga kosmos yang berada di tangan kanannya ke dalam vas disamping ranjang, duduk di kursi yang terletak di samping Rin. Sepertinya dia baru kembali dari tempat kerjanya, dia memakai kemeja katun dengan celana jean ketat dan blus kulit di atasnya, memberinya penampilan kasar. Dengan makeup-nya yang tipis dan rambut yang hanya diikat dibelakang punggungnya, orang tidak dapat membayangkan dari penampilannya dia adalah wanita yang sudah berumur 40 tahun lebih. Walaupun pekerjaannya sebagai kepala penyunting dari sebuah majalah informasi komputer mungkin salah satu penyebabnya, orangnya sendiri tidak ada keinginan untuk bersikap sesuai dengan umurnya-jadi untuk Rin, dapat dianggap bahwa ibunya lebih seperti kakak laki-lakinya.
"Ibu datang pada waktunya. Bukankah koreksi bacaan belum selesai?"
Kata Rin, dan Minori pun tertawa.
"Aku kabur secara paksa dan datang. Aku tidak selalu datang cukup sering, tapi paling tidak untuk hari ini."
"Benar.... Hari ini Kakak... Ulang tahun, bukan?"
keduanya diam untuk beberapa saat, mengamati Ryuzaki yang sedang tidur di ranjang dengan seksama. Gorden di ruangan tersebut berkibar pada saat angin berwarna matahari tenggelam memasuki kamar, menghembus sedikit aroma dari bunga kosmos ke udara.
"Ryuzaki... Sudah berumur 18 tahun, ya..."
Minori menghela napas dan bergumam.
"...Sampai sekarang, kejadian kemarin membuatku teringat akan sesuatu. Waktu itu pada saat Minetaka-san dan Aku sedang menonton film di ruang keluarga, dan Ryuzaki mendadak berkata dari belakang, 'Tolong beritahu aku tentang orang tuaku yang asli' ".
Rin dengan diam menatap bibir menawan dengan lisptik tipis, yang mengingatkannya pada tawa ringan yang sarkastik dan merupakan sesuatu yang dia rindukan.
"Pada waktu itu, aku sangat terkejut. Ryuzaki baru saja berumur 10 tahun. Jauh sebelum Suguha memasuki SMP... Itu adalah sebuah rahasia yang sudah disimpan selama 7 tahun dan itu merupakan tujuan kami dengan membiarkan Ryuzaki menyadarinya sendiri catatan yang dihapus dari Juki Net."
Sewaktu Rin mengetahui tentang hal tersebut pertama kali, awalnya dia terkejut, dan kemudian memberikan tawa pahit seperti ibunya.
"Itu benar-benar seperti Kakak, ya?"
"Kami tidak terlalu terkejut, dikarenakan kita berpura-pura tidak peduli dan terluka. Itu sepertinya merupakan strategi Ryuzaki, dan kemudian Minetaka-san entah bagaimana membendinya kemudian karena merasa tertipu.
"Ah, haha," keduanya tertawa, dan untuk beberapa saat mereka menatapi Rizuka yang sedang tertidur tanpa berkata apa-apa.
Sang kakak, Ryuzaki Kazumi, yang selalu hidup bersama dengan Rin sejak dia memiliki kesadaran akan sekelilingnya, ternyata, adalahsepupunya.
Kazumi Minetaka dan Minori, anak dari suami dan istri itu adalah Rin, sedangkan Ryuzaki adalah anak dari saudara perempuan Minori, ini berarti dia adalah anak dari bibinya Rin. Bibinya dengan suaminya, tanpa pilihan, meninggalkan anak mereka satu-satunya, yang bahkan belum berumur 1 tahun, dan meninggal dalam kecelakaan. Keseriusan dari luka yang mereka dapatkan akhirnya mengakhiri hidup mereka, dan Minori berinisiatif untuk mengurus Rizuka.
Rin diberitahu kenyataan tersebut oleh orang tuanya pada saat musim dingin 2 tahun yang lalu, pada waktu itu, Ryuzaki terjebak dalam virtual reality game, bernama Adventure Quest World Online. Rin yang sudah menerima kejutan besar dari kejadian tersebut, dalam kondisi sangat kebingungan; dia pergi kepada Minori, bertanya kenapa dia tidak diberitahu lebih awal dan kenapa dia baru diberitahu sekarang, dan melampiaskan kebingungannya kepada Minori.
Tiga tahun sudah berlalu, dan hingga sekarang di dalam lubuk hatinya, perasaan diasingkan masih tersisa, karena hanya dia seorang diri yang tidak tahu apa-apa. Tetapi, selama masa itu akhirnya dia menyadari perasaan orang tuanya pada saat itu.
Rencana awal mereka, tentang memberitahu Rin tentang kenyataan setelah dia memasuki SMA, telah dipercepat, dengan kata lain, dia diberitahu kebenaran tentang keluarganya sementara Rizuka masih hidup, yang merupakan keputusan pahit yang telah diambil oleh kedua orang tuanya. Dalam waktu sebulan dari kejadian AQWO, terdapat jumlah kematian yang tidak masuk akal yang mencapai angka 2000. Dalam situasi tersebut, tidak dapat melakukan apa-apa kecuali membuat keputusan yang seharusnya terhadap kematian Rizuka yang pasti. Paling tidak setelah semuanya berakhir, mereka tidak akan menyesal kalau Rin tidak mengetahuinya, yang pasti telah dipikirkan oleh kedua orang tuanya.
Rin, yang masih memiliki emosi yang saling bertentangan, cukup sering mengunjungi kamar rumah sakit ini, di mana Ryuzaki dirawat, dan terus berpikir dengan sungguh-sungguh. Masalah bahwa kakaknya bukanlah saudara kandungnya, dan apa saja yang hilang.
Tidak lama kemudian, dia mencapai jawaban bahwa ini bukanlah apa-apa.
Bahwa tidak akan ada yang berubah. Tidak ada satu hal pun yang menyakitkan. Seperti sebelum dia mengetahui kebenarannya dan setelahnya, dia, seperti biasa, hanya perlu berdoa untuk keselamatan dan kembalinya Rizuka.
Yang akhirnya selama tiga tahun tersebut, hanya setengah dari doa Rin yang telah dikabulkan.
"...Hei, Ibu."
Sambil menatap raut muka kakaknya, Rin mengeluarkan suara pelan.
"Ya?"
"...Kakak, sejak dia masih di SMP pada waktu itu, dia hanya selalu bermain permainan online, benar... Apakah ada hubungannya?"
Pertanyaan tersebut, yang menghilangkan beberapa kata, yang dengan dia bukan merupakan anak dari keluarga Kazumi, menyebabkan Minori menggelengkan kepalanya dengan segera.
"Tidak, tidak ada hubungannya. Hal tersebut dikarenakan sewaktu anak ini berumur enam, dia merakit sendiri sebuah mesin dari barang rongsokan di ruanganku. Sepertinya, kemaniakan PC-ku terwariskan. Secara mental."
Tersenyum dengan lembut, Rin menyikut tangan ibunya.
"Berbicara soal itu, sewaktu aku kecil, aku juga menyukai permainan, kau dapat mengetahuinya dari nenekmu."
"Itu benar; Aku sudah bermain permainan online sejak masih SD. Ryuzaki bagaimanapun tidak perlu dikhawatirkan."
Sekali lagi, keduanya tertawa sepenuh hati, Minori memfokuskan pandangan penuh kasih menuju ranjang.
"...tetapi, tidak peduli di permainan manapun, aku tidak pernah menjadi pemain top. Aku tidak mempunyai kesabaran dan keteguhan hati yang cukup. Semangat tersebut tidak sama denganku tetapi denganmu. Terus melanjutkan Kendo selama 8 tahun, kau memiliki semangat yang sama, yang dengan bagaimana Ryuzki dapat bertahan selama ini. Pada akhirnya, dia mungkin mendadak kembali."
'Plop', Minori meletakkan tangannya pada kepala Rin dan berdiri.
"Jadi, aku akan pergi dulu. Kau juga jangan pulang terlalu malam."
"Oke, aku mengerti."
Rin mengangguk, dan Minori menatap Ryuzaki sekali lagi, dan berkata "Happy Birthday" dengan pelan. Setelah itu, dia melakukan beberapa kedipan singkat, berbalik badan dan dengan segera meninggalkan kamar rumah sakit tersebut.
Suguha menggenggam ujung dari rok seragamnnya dengan kedua tangan, mengambil nafas dalam-dalam, dan melihat kembali kepada indikator LED di penutup kepala yang menutupi kepala kakaknya.
Lampu-lampu hijau tersebut, yang menampilkan status koneksi online dan koneksi otak, secara berulang berkedip dengan cepat.
Sekarang ini, pada sisi lain di jaringan, terdapat server AQWO dan kesadaran Ryuzaki, dan melalui Never Gear, sinyal yang tidak terhitung sedang saling bertukar.
Mengenai di mana kakaknya sekarang. Dia bisa saja sedang mengembara dengan peta di satu tangan dalam dungeon yang suram. Dia bisa saja sedang dalam penilaian dalam toko barang bekas. Atau mungkin, Menghadapi monster mengerikan, dia bisa saja dengan berani bertukar pedang dengan monster tersebut.
Dia dengan pelan menjulurkan tangannya, dan membungkusnya lagi di sekitar tangan kanannya yang putih.
Indera sentuhan Ryuzaki ditiadakan oleh Never Gear pada medulla oblongata, sebelum mencapai otak. Tetapi, melihat pada kulit yang disentuh oleh Suguha, dia percaya bahwa dukungannya pasti dapat mencapainya.
Hal ini dikarenakan Rin dapat merasakannya sekali lagi. Pemuda ini, kakaknya, yang, untuk lebih tepatnya, adalah sepupunya, jiwannya memancarkan suhu yang kuat. Dia memiliki tujuan yang pasti dan pada akhirnya bertahan dan kembali ke dunia nyata.
Dibalik sisi gorden putih, cahaya emas yang berkedip dengan segera berganti menjadi merah terang dan kemudian berubah lagi menjadi ungu; walaupun ini adalah waktu di mana ruangan di rumah sakit terbungkus oleh cahaya redup, Rin terus bertahan di sana. Tanpa bergerak, dia mendengarakan dengan penuh perhatian pada nafas kakaknya yang rendah.
Berita penting, tentang bangunnya Ryuzaki, dikabarkan dari rumah sakit. Itu adalah sebulan kemudian, tanggal 7 November 2025.

BAB 1
Katon, katon.
Kursi kayu sederhana yang bergoyang membuat suara lembut sambil mengayun ke depan dan belakang di beranda.
Cahaya matahari lembut di akhir musim gugur bersinar melalui puncak pohon cemara. Hembusan angin ringan dengan lembut bertiup sepanjang permukaan danau yang jauh.
Pipinya berbaring di atas dadaku sembari ia bernafas dengan lembut dan tertidur pulas.
Waktu itu, yang terisi oleh ketenangan emas, terus mengalir dengan mantap.
Katon, katon.
Aku menggoyangkan kursi dan dengan lembut membelai rambut warna hitam gadis ini. Meski dia sudah tertidur, senyum tipis muncul di bibirnya.
Sekelompok Sprite tengah bermain di halaman depan. Kukusan daging di dapur tengah mendidih dengan suara rebusan yang terdengar jelas. Aku berharap dunia lembut ini, di rumah kecil yang jauh di dalam hutan, akan berlanjut untuk selama lamanya. Namun aku sadar kalau ini adalah harapan mustahil.
Katon, katon.
Seiring kaki kursi terus membuat suara, jam pasir terus berjatuhan satu butir pada satu waktu.
Aku mencoba menarik si gadis lebih dekat ke dadaku seolah aku melawan takdir.
Namun, lenganku hanya bisa memeluk udara tipis.
Aku dengan cepat membelalakkan mata kebingunganku. Tubuhnya, yang bersandar padaku beberapa saat lalu, mendadak lenyap sama sekali. Aku berdiri dari kursi dan melihat ke sekeliling area.
Seperti jatuhnya tirai dari sebuah pentas, warna matahari senja perlahan menjadi gelap. Kegelapan menakutkan mulai mewarnai seluruh hutan menjadi gelap gulita.
Aku berdiri tegak di angin musim dingin dan memanggil namanya.
Namun tak ada balasan. Tak ada di taman depan dimana para Sprite tengah bermain, atau di dapur – sosoknya tak bisa ditemukan dimana mana.
Sebelum aku menyadarinya, seluruh rumah mulai dikelilingi oleh kegelapan. Perabot rumah dan dinding mulai runtuh dan lenyap seolah mereka semua terbuat dari kertas. Hanya kursi yang bergoyang dan aku sendiri yang masih tersisa dibalik kegelapan ini. Biarpun tak ada siapapun yang duduk di atas kursi, ia terus mengayun ke depan dan belakang tanpa berubah.
Katon, katon.
Katon, katon.
Aku menutup mataku, menajamkan telingaku, dan mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk memanggil namanya.


Mataku dengan cepat terbuka oleh suara yang cerah dan keras. Aku tak lagu tahu apakah aku berteriak hanya di dalam mimpi atau aku benar benar melakukan itu di dunia nyata.
Berbaring diatas ranjang, aku menutup mataku dan mencoba kembali ke permulaan mimpiku. Namun aku segera menyerah, dan setelah beberapa saat aku perlahan membuka mataku sekali lagi.
Papan kayu tipis memasuki bidang pandanganku bukannya panel putih di dinding rumah sakit. Aku tengah terbaring di atas kasur lembut di atas seprai katun bukannya material dari gel.
Ini adalah – kamar Ryuzaki Kazumi di dunia nyata.

Aku mengangkat tubuh bagian atasku dan melihat ke sekelilingku. Kamar 6 lantai memiliki lantai tak biasa yang terbuat dari kayu alami. Hanya tiga potong perabot bisa ditemukan di dalam ruangan; sebuah hard drive komputer, sebuah router, dan ranjang tempatku duduk.
Sebuah headgear yang nampak usang terletak di tengah tengah Router yang diangkat secara vertikal.
Namanya adalah «Never Gear», sebuah model interface model full dive yang telah memenjaraku dalam virtual reality selama dua tahun. Setelah pertarungan panjang dan sulit, aku akhirnya lepas dari mesin itu, dan akhirnya bisa melihat, merasakan, dan menyentuh dunia nyata.
Ya, aku telah kembali.
Namun, si gadis yang mengayunkan pedangnya dan menyatukan hatinya denganku..........
Rasa sakit mendadak menyerang dadaku, dan aku mengalihkan pandanganku dari Never Gear dan perlahan berdiri. Aku menatap cermin yang menggantung di dinding. Panel EL yang terpasang di dinding dengan jelas menampilkan tanggal dan waktu saat ini.
BAB 2
Senin, 19 Januari, 2026, 7:15 am.
Satu bulan telah berlalu sejak aku kembali ke dunia nyata, namun aku masih tak bisa terbiasa dengan penampilanku. Meski si Flash Ryuzaki dan Ryuzaki Kazami saat ini seharusnya memiliki penampilan sama, kehilangan bobot tubuhku masih belum pulih, jadi tubuh yang hanya tinggal tulang di bawah T-Shirt ku sangatlah rapuh.
Aku mendadak menyadari dua garis air mata bersinar di wajahku di cermin dan menyekanya dengan tangan kananku.
“Aku sudah kembali jadi orang cengeng...........Rizuka.”
Aku bergumam dan berjalan ke jendela besar di sisi selatan kamarku. Aku membuka korden dengan kedua tanganku, dan cahaya matahari menyilaukan di pagi musim dingin mewarnai seluruh kamarku dalam kuning pucat.
Ryuzaki Kazumi nampak sangat senang sembari ia berjalan sepanjang es di halaman depan dan kemudian mempercepat langkahnya.
Salju yang jatuh dua hari lalu belum meleleh sama sekali, dan pagi hari di tengah Januari terasa sangat dingin.
Dia berhenti di sudut sebuah kolam, yang tertutupi oleh lapisan es tipis, dan mengayunkan pedang kayu di tangan kanannya ke bawah ke arah batang pinus di dekatnya. Untuk mengusir rasa kantuk menyebalkan dari tubuhnya, dia mengambil beberapa napas dalam, menempatkan kedua tangan di lututnya, dan memulai latihan peregangannya.
Ototnya, yang belum bangkit secara penuh, perlahan mulai mengendur. Usai meregangkan lutut, ia mulai merasakan sensasi seolah darah mulai mengalir di lutut dan sikutnya.
Rin merentang untuk mencapai ke bawah dengan kedua tangannya, perlahan membengkokkan punggungnya – sampai dia perlahan berhenti. Es lembut yang membentuk permukaa danau mencerminkan penampilannya kembali padanya.
Rambut pendeknya, dipotong di atas alisnya dan segaris dengan bahunya, berwarna hitam dengan semburat biru. Alisnya membagi warna hitam yang sama dan kelihatan tebal, dimana dua mata yang terisi oleh semangat tinggi terletak di bawahnya. Bersama, penampilannya nampak seperti anak laki laki. Baju hitam panjang yang dia kenakan justru semakin menonjolkan kesan itu.

“--------Sudah kuduga......aku sama sekali tidak mirip......Onii-chan ku......”
Itu adalah pemikiran yang sering mengisi pikirannya pada hari hari ini. Dia memikirkan hal itu kapanpun dia melihat wajahnya sendiri di pintu masuk kamar mandi. Bukannya dia tak suka pada penampilannya; toh sejak awal dia tak terlalu mempedulikan hal itu. Namun sejak kakaknya Ryuzaki kembali ke rumah ini, pikirannya terus tanpa sadar membuat perbandingan.
“---------Percuma saja, nggak peduli berapa kalipun aku memikirkannya.”
Suguha menggeleng kepala bandelnya dan melanjutkan peregangan.
Setelah ia selesai melakukan peregangan, ia mengambil shinai yang diletakkan bersandar di pinus hitam. Dia menggenggamnya, merasakan familiaritas dari telapak tangannya oleh pemakaiannya yang sudah lama; kemudian dia meluruskan punggungnya dan memasang kuda kuda siaga.
Ia mengambil nafas dalam dalam sambil mempertahankan kuda kudanya – Kemudian dalam sekejap, dengan semangat tajam, dia menikam lurus ke depan dengan shinainya. Pergerakan tegasnya nampak seolah memotong udara pagi, yang mengagetkan sejumlah burung gereja hingga mereka semua terbang ke arah cabang jauh di depan sana.
Rumah keluarga Kazumi adalah rumah Jepang kuno yang berdiri sepanjang jalanan lama di Saitama selatan. Seluruh anggota keluarga telah tinggal disini, karena kakek Rin, yang sudah meninggal empat tahun lalu, adalah orang yang sangat tegas dan bergaya jadul.
Dia bekerja di kepolisian selama beberapa tahun dan merupakan praktisi kendo terkenal sepanjang masa mudanya. Dia berharap kalau putra satu satunya, yang merupakan ayah Rin, akan melanjutkan jejaknya pada jalan kendo. Ayahnya sudah menguasai shinai sejak di bangku SMA, namun kemudian berhenti melakukannya untuk belajar ke Amerika dan akhirnya mendapat pekerjaan di perusahaan keamanan keuangan luar negeri. Setelah dipindahkan ke cabang Jepang, dia bertemu dan menikahi ibu Suguha Minori, namun melanjutkan kehidupan rutin dengan bepergian sepanjang samudra pasifik. Pada saat itu, kakek Rin telah mengarahkan keinginannya pada Rin dan Ryuzaki yang setahun lebih tua darinya.
Rin dan kakaknya dibuat mengikuti kendo dojo di sebelah rumahnya sepanjang di bangku SD. Namun karena pengaruh Ibunya sebagai editor di majalah sistem komputer, kakaknya menyukai keyboard melebihi shinai dan meninggalka dojo selama dua tahun. Namun, Rin tak seperti kakaknya. Ia telah menemukan ketertarikan pada kendo dan terus melatih teknik shinainya bahkan setelah kakeknya meninggal.
Rin saat ini berusia enam belas tahun. Tahun lalu, dia berhasil terus maju dalam kompetisi SMP dan mendapat peringkat sebagai salah satu pemain terbaik negara. Saat musim semi, ia telah direkrut oleh salah satu SMA paling terkenal di prefektur.
Namun----
Di masa lalu, dia belum pernah kehilangan jalannya untuk terus maju. Dia sangat menyukai kendo; bukan hanya karena bisa menjawab harapan orang orang di sekelilingnya, namun juga membuatnya senang.
Namun tiga tahun lalu, saat kakaknya terlibat dalam insiden yang mengguncang seluruh Jepang, kegundahan menyerbu hatinya. Siapapun bisa berkata kalau dia sangat menyesal. Bahkan sejak kakaknya menyerah dalam kendo saat Rin berusia tujuh tahun, celah yang lebar mulai terbentuk diantara mereka berdua, dan Rin sangat menyesal karena dia tak pernah membuat usaha untuk menutup celah itu.
Kakaknya yang telah membuang shinai meluangkan harinya tenggelam dalam komputer, seolah untuk memuaskan rasa dahaganya yang tersisa. Ia membangun sebuah mesin dari bagian bagian kecil dan membantu ibunya memprogramnya saat dia masih siswa sekolah dasar. Bagi Rin, hal hal yang Ryuzaki ucapkan seolah menjadi bahasa komputer.
Tentu saja, sekolah juga mengajarkan Rin untuk menggunakan komputer, dan ia memiliki komputer mungil di kamarnya. Namun, pengetahuannya tentang komputer hanya terbatas pada menukar email dan browsing web; mustahil baginya untuk memahami dunia yang ditinggali kakaknya. Ini khususnya adalah kasus bagi Game RPG network yang membuat kakaknya kecanduan, dimana Rin menganggap hal itu sebagai kesia siaan. Sejak saat itu dia selalu memasang sikap palsu, namun dia merasa mustahil untuk menjadi dekat dengan orang orang yang juga berinteraksi dengan topeng palsu.
Semenjak masa kecilnya, Rin dan kakaknya memiliki hubungan yang seperti teman terbaik. Namun saat kakaknya meninggalkannya untuk dunia yang sama sekali berbeda, Rin mengubur rasa kesepiannya dengan mencurahkan dirinya sepenuh hati pada kendo. Jarak diantara mereka berdua terus melebar, dan percakapan sehari hari mereka terus jatuh; sebelum Rin menyadarinya, hubungan mereka telah jatuh menjadi seperti tak saling kenal.
Namun jujur saja, Rin terus menerus merasa kesepian. Dia ingin berbicara lebih banyak pada kakaknya. Dia ingin memahami dunia kakaknya, ingin kakaknya datang dan menonton pertandingannya.
Namun, tepat saat dia ingin mengungkapkan semua perasaan ini, insiden itu terjadi.
Insiden mimpi buruk bernama “ADVENTURE QUEST WORLD ONLINE”. Sepuluh ribu pemuda dari seluruh Jepang dikonfirmasi telah terkurung oleh sangkar elektronik dan jatuh ke dalam tidur panjang.
Kakaknya telah dipindahkan ke rumah sakit besar di Saitama. Kemudian, saat pertama kalinya Rin datang untuk menjenguknya........
Saat ia melihat kakaknya yang koma, terbaring di atas ranjang dengan sejumlah kabel dan tertutupi oleh head gear mengerikan, Rin tak kuasa menahan tangisnya. Itu adalah pertama kalinya dia menangis semenjak lahir. Dia memeluk kakaknya erat erat dan menangis dengan keras.
Mungkin tak akan ada kesempatan untuk berbincang bincang lagi dengannya. Kenapa dia tak pernah mencoba menutup jarak diantara mereka lebih cepat? Seharusnya itu tidaklah sulit; seharusnya hal itu bisa dia lakukan.
Pada saat itulah dia mulai mempertimbangkan ulang dengan serius apakah dia harus terus berlatih kendo dan apa perasaan sejatinya. Namun dia begitu putus asa sampai tak mendapati jawaban. Sepanjang tahun keempat belas dan kelima belas saat dia tak bisa melihat kakaknya, Suguha telah memasuki SMA atas rekomendasi orang orang disekitarnya, namun apakah dia harus terus menapaki jalan ini adalah keraguan dalam hatinya yang takkan pernah lenyap.
Kalau kakaknya kembali, maka dia pasti akan banyak banyak mengobrol dengannya. Dia akan membuang semua keraguan dan kecemasannya, dan dengan jujur mengungkapkan semua isi pikirannya. Kemudian, dua bulan lalu, setelah Rin meneguhkan keputusannya, sebuah keajaiban terjadi. Kakaknya telah mematahkan kutukan melalui kekuatannya dan kembali.
----------Namun pada poin itu, hubungannya dengan kakaknya sudah berubah secara drastis. Rin mendengar dari ibunya Minori secara pribadi kalau Ryuzaki bukanlah kakak kandungnya, namun sebenarnya saudara sepupu.
Ayahnya Minetaka adalah putra satu satunya, namun ibunya Minori memiliki kakak perempuan yang meninggal lebih awal; namun, Rin tak mengetahui semua ini. Sehingga, saat Rin menyadari kalau Ryuzaki adalah putra kakak ibunya, dia menjadi semakin bingung dan tak yakin hubungan jenis apa yang harus mereka pertahankan. Haruskah mereka lebih jauh? Haruskah mereka tetap sama? Dia tak tahu bagaimana dia harus mengungkapkan dirinya tentang hubungan ini.
“.....Ya. Ada satu hal, yang nggak akan berubah........”
Saat Rin merenungkan semua ini, dia mengayunkan pedang kayunya ke bawah dengan tajam seolah untuk memotong semua rantai pemikirannya. Terlalu menyeramkan untuk menjalani jalan pemikiran itu, jadi dia mulai berlatih dengan shinainya untuk mengarahkan perhatiannya pergi ke tempat lain.
Saat dia menyelesaikan jumlah set yang diperlukan, sudut matahari pagi sudah berubah secara signifikan. Dia menyeka keringat di dahinya, meletakkan pedang kayunya, dan berjalan kembali ke rumahnya.......
“Ah......”
Momen dia melihat ke arah pintu, langkah kaki Rin tiba tiba membeku.
Dia tak sadar kalau Ryuzaki, yang mengenakan baju sweater putih dan duduk di beranda, tengah melihat ke arahnya. Saat mata mereka bertemu, Ryuzaki tersenyum dan berujar.
“Selamat pagi.”
Sambil mengatakan itu, ia melempar botol air mineral di tangan kirinya pada Rin. Rin menangkapnya dengan tangan kanannya sebelum merespon.
“S-Selamat pagi........astaga, kalau kakak terus menontonku, seharusnya kakak mengatakan sesuatu.”
“Tapi, kelihatannya kamu lagi berkonsentrasi dengan serius.”
“Nggak juga, aku memang selalu begini.”
Rin diam diam merasa senang karena mereka bisa berbicara dengan begitu alami terhadap satu sama lain selama dua bulan ini. Dia memilih tempat di sisi kanan Ryuzaki yang menjaga sedikit jarak darinya dan kemudian duduk. Meletakkan pedang kayu di sisinya, ia membuka botol dan menempatkannya di mulutnya; air dingin meresap ke tubuh panasnya dan terasa sangat menyegarkan.
“Kulihat kamu terus melakukan itu sepanjang waktu ini.......”
Ryuzaki mengambil pedang kayu Rin dan mengayunkannya dengan ringan dengan tangan kanannya dari posisi duduknya. Ia segera memiringkan kepalanya ke sisi dan berkata:
“Ringan sekali......”
“Hah?”
Rin mencabut botol dari mulutnya dan menatap Ryuzaki.
“Ini terbuat dari kayu asli, jadi sebenarnya cukup berat. Sekitar lima gram lebih berat dari yang buatan karbon.”
“Ah, uh uh. Itu......hanya perasaanku.......tapi kalau dibandingkan dengan.......”
Ryuzaki mendadak meraih botol dari tangan Suguha dan kemudian dengan cepat meminum semua isinya yang tersisa
“Ah...........”
Wajah Suguha mulai memerah bahkan tanpa memikirkannya. Dia membulatkan pipinya dan berujar dengan tak senang.
“A-Apa yang kamu coba bandingkan?”
Kazuto meletakkan botol kosong di beranda dan kemudian berdiri tanpa menjawab.
“Hei, mau latih tanding denganku?”
Keheranan, Rin menatap lurus ke wajah Ryuzaki.
“Maksudnya......pertandingan?”
“Ya.”
Ryuzaki mengangguk seolah itu hal biasa, biarpun dia sama sekali tak tertarik pada kendo.
“Bagaimana dengan alat pengaman.....?”
“Hmm, mungkin nggak masalah meski kita nggak mengenakannya........namun akan gawat kalau Rin sampai terluka. Kupikir alat pengaman Kakek masih ada, jadi mari kita ke dojo.”
“Oooh.”
Rin sama sekali melupakan keragu raguannya sejak tadi dan bertanya tanya kenapa dia malah mengatakan hal semacam itu; dia tersenyum dan berkata:
“Bukankah kamu terlalu percaya diri? Mencoba bertanding dengan finalis perempat nasional? Selain itu.......”
Ekspresi wajahnya kemudian berubah.
“Apa tubuhmu baik baik saja....? Kamu jangan ceroboh......”
“Hehe, akan kutunjukkan hasil dari latihan rehabilitasiku di gym.”
Ryuzaki tertawa kecil dan mulai berjalan dengan santai ke arah belakang rumah. Rin buru buru mengikuti.
Rumah Keluarga Kazumi cukup luas, dan sebuah dojo berdiri di sisi timur kamar ibunya. Mereka mengikuti wasiat kakek dan tak merubuhkannya, sehingga Rin menggunakannya untuk latihan rutinnya, mempertahankannya dengan teliti, dan menyimpan semua perlengkapan disana.
Mereka berdua memasuki dojo dengan telanjang kaki, membungkuk satu sama lain, dan mulai mempersiapkan diri mereka masing masing. Beruntungnya, fisik kakeknya hampir sama dengan Ryuzaki; alat pelindung yang mereka keluarkan nampak tua namun pas dipakai. Setelah mereka selesai mengikat simpul headgear di saat yang sama, keduanya berjalan ke arah tengah dojo dan membungkuk satu sama lain sekali lagi.
Rin perlahan berdiri dari posisi menundukkan badannya, menggenggam shinai favoritnya erat erat, dan mengambil posisi tegas. Sementara itu, Ryuzaki—
“K-kuda kuda apa itu, Onii-chan?”
Usai melihat kuda kuda Ryuzaki, Rin tanpa sadar tergelak. Aneh adalah satu satunya cara untuk mendeskripsikannya. Kaki kirinya dimajukan setengah tubuh ke depan, pinggangnya direndahkan, dan shinai di tangan kanannya dipegang kebawah dengan ujungnya nyaris menyentuh lantai. Tangan kirinya seolah olah memegang gagang shinai sekedar untuk penampilan.
“Kalau ada wasit disini, dia pasti akan marah melihat posisimu.”
“Nggak masalah, ini gaya pedangku.”
Rin mengambil nafas dalam dan membenahi ulang posisinya. Rin semakin memperlebar jarak diantara kakinya dan menurunkan pusat gravitasinya.
Rin berpikir untuk menyerbu maju dengan kekuatan penuh untuk mendaratkan serangan kuat ke arah lawannya. Namun kuda kuda aneh Ryuzaki membuatnya tak yakin harus berbuat apa. Meski ada celah, tak mudah memanfaatkan celah itu. kuda kuda itu nampak seperti hasil dari pengalaman bertahun tahun—
Namun, itu tidak mungkin. Ryuzaki hanya memegang shinai selama dua tahun saat dia berumur tujuh dan delapan tahun. Dia hanya bisa mempelajari dasar dasar teknik selama waktu itu.
Seolah menyadari kebingungan Rin, Ryuzaki mendadak mulai bergerak. Dia menyerbu dalam sudut rendah seolah dia meluncur dan shinainya melompat ke atas dari bagian kanan bawahnya. Itu bukan kecepatan yang perlu dikejutkan, namun karena itu adalah serangan tiba tiba, Rin harus bergerak secara refleks. Dan dengan kaki kanannya terbuka lebar—
“Kote!!” 
Rin mengayun kebawah ke lengan kiri bawah Kazuto. Seharusnya itu waktu yang sempurna, namun serangannya hanya menebas udara kosong.
Itu adalah elakan yang sulit dipercaya. Ryuzaki telah melepaskan tangan kirinya dari gagang shinai, dan melemparnya ke arah tubuhnya. Apa itu mungkin dilakukan? Ditargetkan pada Rin, yang dibuat terkejut, shinai yang dipegang oleh tangan kanan Kazuto sendiri menyerbu ke depan. Kebingungan, Rin dengan panik mengelak.
Di saat keduanya bertukar posisi, telah menolehkan kepala untuk menghadap satu sama lain sambil mereka mengambil jarak lagi, kesadaran Rin telah berubah drastis. Ketegangan menyenangkan mengisi seluruh tubuhnya, seolah darahnya mendidih. Kali ini, giliran Suguha untuk menyerang. Teknik andalannya, serangan lengan bawah—
Namun kali ini juga, Ryuzaki berhasil mengelak dengan lincah. Dia menarik lengannya ke belakang, memutar tubuhnya, dan membiarkan shinai Rin untuk lewat dengan jarak setipis kertas. Rin lagi lagi kebingungan. Serangan berkecepatan tingginya sangat diakui di dalam klub, dan dia tak ingat adegan dimana seseorang berhasil mengelak dari semua serangan berturut turutnya.
Menjadi serius, Rin memulai serangan gencar. Dia menikamkan ujung shinai secara terus menerus. Menyerang lebih cepat dari nafas seseorang. Namun Ryuzaki terus mengelak dan mengelak. Pergerakan cepat di mata Ryuzaki membuatnya seolah dia sudah memahami semua pergerakan shinai Suguha.
Jengkel, Rin dengan paksa menutup jarak dan mengunci shinainya ke arah Ryuzaki. Menghadapi kaki dan tubuh Rin yang sudah terlatih, Ryuzaki mulai terhuyung huyung di bawah tekanan luar biasa. Tanpa membiarkannya kabur, Rin merebut momen untuk melancarkan serangan penghabisan yang diarahkan secara langsung ke kepala Ryuzaki.
“Head!!” 
‘Ah’, Rin terlambat menyadari satu momen. Dia sama sekali tak menahan diri dalam menyerang, dan shinainya menghantam dengan keras ke topeng logam di head gear pelindung Ryuzaki. Bashiin! Suara tumbukan bernada kuat menggema sepanjang dojo.
Ryuzaki terus terhuyung huyung ke belakang selama beberapa langkah sampai dia akhirnya berhenti.
“K-Kamu baik baik saja, Onii-chan?”
Rin bertanya dengan panik. Ryuzaki dengan ringan mengibaskan tangannya untuk menunjukkan kalau dia tak apa apa.
“.....Ah, aku kalah. Rin memang kuat; Artix sama sekali bukan bandinganmu.”
“.....Apa kakak betul betul nggak apa apa....?”
“Ya. Pertandingan selesai.”
Setelah mengatakan itu, Ryuzaki mengambil beberapa langkah mundur dan kemudian membuat beberapa gerakan yang lebih aneh lagi. Dia mengayunkan shinai di tangan kanannya ke kiri dan ke kanan, kemudian memegangnya di punggungnya dan membuat suara “hyuhyun”. Setelah itu, dia meluruskan punggungnya dan menggaruk kepala di balik topengnya dengan tangan kirinya, yang membuat suara bergeretak. Semua ini membuat Rin sangat cemas.
“Ah, kepalamu terpukul, jadi......”
“B-Bukan! Ini hanya kebiasaan lama....”
Setelah mereka membungkuk satu sama lain, Ryuzaki duduk dalam postur formal dan mulai melepas simpul di pelindungnya.
Mereka berdua meninggalkan dojo bersama, menuju ke ruang cuci, dan membersihkan keringat di wajah mereka. Rin awalnya hanya ingin main main; dia tak pernah menduga akan berubah jadi serius dan membuat seluruh tubuhnya kelebihan panas.
“Yang jelas, aku benar benar kaget. Onii-chan, dimana kamu berlatih?”
“Eh, pola seranganku itu.......sepertinya teknik pedangku nggak bisa diatur tanpa panduan sistem.”
Sekali lagi, Ryuzaki menggumamkan sesuatu yang sama sekali tak masuk akal.
“Namun itu sangat menyenangkan, mungkin aku harus mencoba kendo lagi.....”
“Sungguh!? Sungguh!?”
Rin tiba tiba menjadi enerjik karena senyum lebar merentang di wajahnya dan dia mulai mengharapkan respon.
“Rin, maukah kamu mengajariku?”
“Te, tentu saja! Kita pasti akan berlatih bersama!”
“Tapi nampaknya kita harus menunggu sampai otot ototku benar benar pulih.”
Ryuzaki mengangguk, dan Rin tersenyum sepenuh hati. Berpikir untuk berlatih kendo sekali lagi membuatnya begitu bahagia sampai air mata menetes dari matanya.
“Hei......Onii-chan....aku.....”
Meski Rin tak paham kenapa Ryuzaki kembali tertarik pada kendo, dia masih merasa senang, dan juga ingin memberitahunya tentang hobi barunya. Namun, dia dengan cepat mengubah pikirannya dan menelan kata kata yang hendak dia ucapkan.
“Hm?”
“Emm, kurasa harus tetap kurahasiakan untuk sekarang.”
“Ada apa denganmu?”
Mereka berdua mengeringkan kepala mereka dan kemudian kembali ke rumah utama melalui pintu belakang. Ibunya Minori selalu bekerja di pagi hari, jadi Ryuzaki dan Rin bergiliran dalam menyiapkan sarapan.
“Aku mau mandi dulu, Onii-chan apa kamu ada rencana untuk hari ini?”
“Ah.....hari ini, aku.......aku mau ke rumah sakit.......”
“.....”
Semangat tinggi Rin mendadak tenggelam usai mendengar respon tenangnya.
“Begitu, kamu akan mengunjungi orang itu.”
“Ah.....hanya itu hal yang bisa kulakukan pada poin ini.”

Orang itu adalah orang yang paling penting baginya di dunia lain, dan Rin mendengar ini secara langsung darinya satu bulan yang lalu. Pada saat itu, Rin berada di kamar Ryuzaki keduanya duduk bersebelahan, dan Ryuzaki tengah meneguk secangkir kopi sambil ia menjelaskan semua rinciannya. Rin yang sebelumnya tak akan pernah percaya kalau orang orang bisa jatuh cinta di dunia virtual. Namun sekarang, dia akhirnya bisa memahami. Selain itu – kapanpun Ryuzaki berbicara tentang orang itu, air mata selalu berlinang di pipinya.
Ryuzaki berkata kalau mereka masih bersama sampai saat terakhir. Mereka berdua pasti akan kembali ke dunia nyata bersama. Namun ketika kesadaran Ryuzaki pulih, orang itu masih tetap tertidur. Tak ada apapun terjadi – atau mungkin sesuatu terjadi namun tak ada yang menyadarinya. Semenjak saat itu, selama Ryuzaki punya waktu, dia akan mengunjungi rumah sakit setiap tiga hari untuk menjenguk orang itu.
Rin bisa melihatnya dengan jelas. Kazuto, duduk di depan orang yang tertidur itu, memegang tangannya seolah mereka pernah saling berpengangan tangan, saling memanggil dengan tanpa lelah. Segera setelah ia memvisualkan gambaran itu, perasaan yang tak bisa dijelaskan terasa mengapung di atas hatinya. Dadanya terasa sakit dan sesak, dan setiap nafas terasa berat. Dia memeluk dirinya dengan erat dengan kedua tangannya dan secara langsung duduk di tempatnya berada.
Dia ingin Ryuzaki tetap tersenyum. Sejak dia kembali dari dunia itu, Ryuzaki menjadi lebih terbuka dari sebelumnya. Dia mulai banyak mengobrol dengan Rin. Sifatnya bahkan menjadi lebih lembut dan tak lagi membuat tuntutan yang aneh aneh. Rasanya mereka kembali ke masa anak anak mereka. Sehingga Suguha menyadari betapa pentingnya orang itu saat dia melihat air mata kakaknya. Pada poin itu ia mulai membujuk dirinya.
“--------Tapi aku, aku, aku sudah menyadari......”
Saat Ryuzaki menutup matanya untuk mengenang tentang orang itu, Rin merasa seolah hatinya tak bisa berhenti kesakitan, seolah dia mati matian berusaha menyembunyikan perasaan yang lain.
Saat dia melihat Ryuzaki menuangkan susu ke gelas di meja dan kemudian meneguknya, Rin berbisik pada dirinya sendiri di dalam hatinya.
“--------Hei, Onii-chan, aku, aku sudah tahu.”
Sebelumnya saudara kandung sekarang sudah jadi sepupu; namun Rin tak paham kenapa berakhir seperti ini.
Namun sesuatu memang berubah. Meski dia tak terlalu memikirkan hal itu sampai saat ini, rahasia kecil terus berkedip kedip dalam hatinya.
Mungkin saja dia menyukai Onii-chan; namun kalau harus seperti ini, itu juga tak apa apa.
BAB 3
Setelah mandi, aku mengganti pakaianku dan pergi naik sepeda yang baru aku beli sekitar satu bulan lalu. Dengan sepeda, 15 kilometer menuju tujuanku terasa cukup jauh, namun beban itu cukup baik untuk tubuhku yang masih dalam pemulihan.
Perjalananku akhir akhir ini membawaku ke rumah sakit yang baru dibangun di pinggiran kota Tokorozawa, prefektur Saitama.
Bangsal teratas dari rumah sakit, lokasi dimana dia berbaring dengan tenang.
Dua bulan lalu, di puncak lantai ke-76 dari «Devilcraft», dia telah mengalahkan boss akhir «Holy Sword» Artix, dan dengan melakukan itu berhasil menyelesaikan Game. Setelah itu, aku dan dia terbangun di  rumah sakit yang sama. Beserta itu, aku mendapati diriku kembali ke dunia nyata.
Namun dia, partnerku, orang terpenting bagiku, Rizuka sang «Dual Sword», ternyata tidak bangun.
Tak ada banyak kesulitan untuk bertanya tentang dia. Tak lama setelah aku tersadar di rumah sakit Tokyo, aku menunggu dia di kamar rumah sakit, melihat pemandangan kota melalui jendela, dan segera dia datang dan segera memelukku. Beberapa menit kemudian, seorang pria berjas datang terburu buru mendatangiku sambil terengah engah. Dia menyatakan dirinya sebagai perwakilan dari «Kementrian Dalam Negeri – Divisi Tindakan Balasan AQWO».
Organisasi dengan nama besar itu nampaknya dibentuk akhir akhir ini segera setelah insiden SAO berlangsung, namun dalam tiga tahun itu, tak ada yang mereka bisa lakukan. Namun, itu juga tak terhindarkan. Kalau mereka dengan ceroboh mengutak atik server, tanpa membatalkan program perlindungan yang dibuat oleh programmer Sanada Akihiko, dalang dari insiden ini, maka otak dari sepuluh ribu orang akan hancur. Tak ada yang bisa memikul tanggung jawab itu.
Mengumpulkan anggota, mereka membuat persiapan untuk mengobservasi baik baik status para korban yang berbaring di rumah sakit. Satu harapan mereka – secercah cahaya kecil, namun tugas yang berat – adalah mensurvei informasi pemain melalui data server.
Sehingga mereka mengikuti perkembanganku yang berada di garis depan, memperhitungkan level, posisi, dan peranku sebagai pemain vital dalam «Capture Group» yang mencoba menyelesaikan Adventure Quest World Online. Sehingga, saat para pemain AQWO mulai bangkit di seluruh negara, para agen Kementrian mulai menyerbu ke kamarku, berharap bisa memahami apa yang baru terjadi.
Aku mengungkapkan kondisiku pada pihak pemerintah dengan orang orang berkacamata hitam yang berada pada pandanganku. Aku akan beritahu mereka semua yang aku tahu. Sebagai gantinya, mereka akan memberitahuku semua yang aku ingin tahu.
Hal yang ingin kuketahui tentu saja tentang keberadaan Yui anak kecil yang bermain di AQWO. Setelah beberapa menit menelepon, pria berkacamata menoleh padaku dan berbicara, kebingungan nampak jelas di wajahnya.
“Yui  telah dipindahkan ke institusi medis lain di Tokorozawa. Namun, dia belum bangun.......dan bukan dia saja, 300 pemain lain sepanjang negara juga belum terbangun.”

Awalnya mereka berpikir kalau ini hanyalah hasil dari spike lag yang terjadi pada server. Namun, jam telah berubah menjadi hari dengan Yui dan yang lainnya tak juga terbangun.
Benar atau tidaknya rencana Sanada Akihiko yang menghilang masih berlanjut menimbulkan kekacauan sepanjang dunia, namun pandanganku justru sebaliknya. Aku masih mengingat kehancuran Devilcraft, yang diselimuti oleh matahari tenggelam berwarna merah.
Dia benar benar telah mengatakannya. Dia akan melepaskan semua pemain yang tersisa. Lebih jauh lagi, dia tak memiliki alasan untuk berbohong. Dia benar benar sudah membiarkan dirinya lenyap bersama dunia itu, aku sangat mempercayai hal itu.
Namun, entah itu insiden tak terduga atau adanya campur tangan dari seseorang, sever AQWO, yang seharusnya sudah direset/diformat ulang, terus beroperasi. Never Gear Yui juga bukan perkecualian, mengikat jiwanya kedalam dunia itu. Apa yang terjadi di dalam sana, aku tak tahu, tapi kalau......kalau.....kalau saja aku bisa kembali ke dunia itu sekali lagi—
Kalau Rin tahu apa yang kulakukan saat itu, dia pasti akan marah. Usai meninggalkan pesan, aku memasuki kamarku dan memasang Nevee Gear dan memulai client AQWO. Namun, sebuah pesan error dengan dingin muncul di hadapan mataku, «Error: Tak bisa tersambung pada server».
Sekali rehabilitasku selesai, kebebasanku dalam bergerak sudah pulih kembali, dan dari saat itu sampai sekarang, aku terus menerus menengok Yui.
Itu adalah waktu yang sulit bagiku. Perasaan dari seseorang yang lebih penting dari siapapun direbut secara tak beralasan dariku terasa sangat menyakitkan dari luka fisik atau mental apapun. Bahkan lebih menyakitkan bagi aku yang sekarang, yang tak ubahnya anak kecil tak berdaya.

Melanjutkan perjalanan 40 menit, mengayuh dengan lamban, aku keluar ke jalan utama dan berbelok ke jalan berbukit yang berangin. Tak lama kemudian, bangunan besar muncul di depanku. Itu adalah insitusi medis yang diatur secara pribadi, dan tampak bagai karya seni.
Penjaga keamanan di pintu masuk, sekarang sudah menjadi wajah familiar, tak lagi menanyakan alasan kedatanganku. Aku memparkir sepedaku di sudut parkiran besar. Di meja resepsi lantai pertama, yang memiliki penampilan seperti lobi kelas tinggi, aku diberi tanda masuk pengunjung. Aku menempelkannya di dadaku dan masuk ke dalam elevator.
Dalam beberapa detik, aku mencapai lantai teratas, lantai 18, dan pintu perlahan terbuka. Aku berjalan ke arah selatan sepanjang koridor kosong. Lantai ini memiliki banyak pasien jangka panjang, namun melihat orang lain disini adalah kejadian langka. Akhirnya, di sudut koridor, pintu berwarna hijau pucat tampak olehku. Ada sebuah lempeng nama tertempel di dinding di sebelah pintu.
«Yui», dibawah nama itu terdapat celah penggesek tipis, tempatku menggesekkan tanda pengenal. Aku melepas tanda masuk dari dadaku dan meluncurkannya sepanjang celah itu. Pintu bergeser membuka dengan suara elektronik kecil.
Melangkah ke dalam ruangan, aku terselimuti oleh aroma bunga menyegarkan. Bunga bunga segar yang tak cocok dengan musim dingin nampak menghiasi ruangan. Interior di dalam kamar rumah sakit yang luas ini ditutupi oleh korden, yang dengan perlahan kumasuki.
“Mohon izinkan dia bangun—“
Aku menyentuh kain, berdoa untuk keajaiban dan dengan lembut membuka korden ruangan.
Unit perawatan intensif tanpa akhir yang terpasang pada tubuhnya sama denganku – bahkan kasurnya juga sama. Cahaya matahari sedikit menyinari selimut putih, dan jatuh dengan lembut di wajah Yui. Kalau aku tak tahu apa apa, aku pasti menganggap kalau dia hanya tertidur.
Saat aku pertama berkunjung, aku memiliki pemikiran ini: akankah dia tak setuju kalau aku melihatnya seperti ini? Kekhawatiran itu sudah berlalu sejak dulu. Wajahnya nampak sangat imut.
Rambut hitam tua indahnya, tergerai seperti air di kasur putih disekitarnya; kulit putih pucatnya, dengan semburat warna mawar di bibirnya.
Dari leher sampai tulang selangkanya, fiturnya nampak sama persis dengan yang terlihat di dunia itu. Bibir berwarna cherry muda. Alis panjangnya, bergetar seolah mereka akan membuka kapan saja. Kalau saja bukan karena helm itu, itu saja
Never Gear. Tiga cahaya LCDnya yang berkilau dengan pucat berkelap kelip seperti bintang, bukti kalau ia masih beroperasi. Bahkan sekarang, jiwanya masih terjebak dalam suatu dunia. Aku menggenggam tangan kanan mungilnya dengan kedua tanganku, merasakan kehangatannya. Perasaan dari genggaman lembutnya terasa sama seperti sebelumnya. Aku menahan nafasku, mati matian menahan air mata yang hendak tumpah.......
“Yui........”

Suara dering jam alarmnya membawaku kembali pada realita. Tanpa kusadari, waktu sudah tengah hari.
“Aku harus pergi, Yui. Aku akan segera datang kembali.”
Aku kemudian mendengar suara pintu masuk yang bergeser membuka, dan aku mengalihkan perhatianku pada dua pria yang memasuki bangsal.
“Oh, Kazumi-kun. Maaf sudah mengganggu.”
Seorang pria yang lebih tua berdiri di depannya dengan ekspresi wajah kalem, sambil memasukkan kartu di tangannya ke sakunya. Dari fisik dan penampilannya, dia nampak seperti pria yang bersemangat dan percaya diri, namun rambut abu abunya adalah hasil dari tiga tahun mencemaskan keponakannya. Ini adalah Paman Yui, Naoto Shirogane. Aku sudah mengetahui dari Yui sebelumnya kalau pamannya adalah pengusaha, namun itu tak membuatku terkejut sampai aku mengetahui bahwa dia adalah CIO dari perusahaan elektronik «PECTO».
Aku sedikit membungkukkan kepalaku dan berbicara.
“Hallo. Maaf sudah mengganggu, Yui-chan.”
“Tak apa, tak apa. Melihatmu selalu datang seperti ini, seharusnya aku yang minta maaf. Aku yakin kalau anak itu pasti sangat senang.”
Dia berjalan ke bantal Yui, dengan lembut membelai rambutnya sambil menatap sedih pada wajah Yui. Tak lama kemudian, dia memperkenalkan pria yang berdiri di belakangnya.
“Ini adalah orang baru. Ia adalah direktur dari institut penelitian kami, Goku-kun.”
Kesan pertamaku tentangnya adalah positif. Ia bertubuh tinggi, mengenakan jas abu abu gelap, dengan sepasang kacamata berbingkai kuning yang diseimbangkan diatas jembatan hidungnya. Matanya tersembunyi dibalik lensa tipisnya, dan senyum lembutnya menyempurnakan semua imej itu. Aku membayangkan kalau dia mungkin berumur 28-an.
Dia mengulurkan tangannya sambil berkata.
“Senang bertemu denganmu. Aku Goku Yuki. Kamu pasti suami si Pahlawan Rizuka-chan itu.”
“Ryuzaki Kazumi. Senang bertemu anda.”
Aku menjabat tangan Goku dan menolehkan kepalaku untuk melirik arah Naoto Shirogane, tangannya menopang kepalanya yang agak sedikit jatuh.
“Tentang itu, maaf. Server AQWO sudah ditutup. Insiden ini hampir seperti yang sering kamu lihat di TV. Dia adalah putra paling terpercayaku. Untuk sementara waktu ini, dia masih belum membuat kontak dengan keluarga.”
“Presiden, masalah ini adalah—“
Goku melepaskan tangannya, dan menoleh pada Shirogane untuk berbicara.
“Bulan depan, saya ingin memberitahu semua orang.”
“Begitukah? Tapi apa tak apa apa? Kau masih muda, hidupmu baru saja dimulai......”
“Saya sudah berubah pikiran. Saya ingin mengambil keuntungan di saat ini ketika Yui masih cantik.”
“Sepertinya kau sudah memikirkan hal itu masak masak.”
“Kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai jumpa Kazumi-kun.”
Dia menganggukkan kepalanya, berbalik dan berjalan keluar dari pintu, menutup pintu di belakangnya. Satu satunya lelaki yang tersisa di ruangan ini hanya Goku dan aku.
Goku Yuki perlahan bergerak ke sisi ranjang, berdiri berlawanan dariku. Dia membelai rambut hitam Yui, membuat suara kecil saat tangan kanannya bergerak sepanjang rambutnya. Hal itu membuatkua merasa agak jijik.
“Saat kau berada dalam Game, kau hidup bersama Rizuka-chan dan Yui, kan?” Ujar Yuki-san.
“.....uhm......”
“Kalau begitu, maka hubungan diantara kita mungkin agak rumit.”
Goku melihat ke atas, dan kami membuat kontak mata. Pada saat itu, aku menyadari kalau kesanku terhadap pria ini tak mungkin terlalu jauh dari kebenaran.
Melalui kacamata tipisnya, pupil kecilnya memberiku kesan seorang Penjahat, bibir meruncing dalam senyuman. Itu semua memberikan perasaan dingin tak berperasaan. Keringat dingin menetes di punggungku.
“Tentang yang baru kukatakan.......”
Goku memasang senyum bosan.
“Yakni, Pengadobsian Yui.”
Aku tak bisa memahami kata katanya. Apa yang dia baru katakan? Ucapan Goku membuat seluruh tubuhku diserbu perasaan dingin. Setelah beberapa saat kesunyian, aku akhirnya berkata,”Apa kau pikir aku akan membiarkanmu lolos dengan itu?”
“Oh, sudah tentu. Untuk menerima persetujuannya dalam kondisi semacam ini akan cukup mustahil. Di atas kertas, aku adalah orang yang di beri kepercayaan lebih dari keluarga Yuuki. Namun kenyataannya, dia sudah cukup lama membenciku.”
Jemari Sugou mendekati pipi Yui.
“Hentikan!”
Aku tanpa sadar menggenggam tangan Goku, menjauhkannya dari wajah Yui.
Merasa marah, aku berteriak “Brengsek kau.....kau berani memanfaatkan kondisi Yui!?”
“Memanfaatkan? Bukan bukan, ini masih di dalam batas. Jujur saja, Kazami-kun. Apa kau tahu yang terjadi pada perusahaan AQWO, «Elemental»?”
“Kudengar mereka bangkrut.”
“Benar. Biaya pengembangan, serta biaya semua kerugian yang membuat mereka berhutang banyak, dan perusahaan itu akhirnya bangkrut. Sehingga, perawatan server AQWO sekarang dibawah tanggung jawab departemen teknologi Full Dive PECTO. Lebih tepatnya, departemenku.”
Dari sisi lain ranjang, Goku menoleh untuk menatapku. Memasang senyum iblis, dia bergerak mendekat ke pipi Yui.
“Anggap saja begini, dia masih hidup karena aku mengizinkannya. Sehingga, tidakkah menurutmu aku pantas mendapat balasan untuk semua kerja kerasku? Apa aku salah?”
Mendengar hal itu hanya memperkuat penolakanku.
Pria ini ingin memanfaatkan situasi Yui, memakai hidupnya demi ambisi pribadinya sendiri.
Berbalik dan berdiri, melihat dengan tegas ke arahku, senyum lenyap dari wajahnya. Dengan nada dingin, dia berbicara padaku.
“Aku tak tahu apa yang terjadi padamu dan Yui dalam Game, tapi aku ingin kau enyah dari hidupnya dari sekarang. Kuharap kau tak membuat kontak masa depan dengan Shirogane dan keluarganya.”
Aku meremas tinjuku, marah pada ketidakmampuanku untuk berbuat sesuatu. Aku merasa begitu payah.
Beberapa momen kesunyian berlalu. Kemudian, Goku berbicara dengan nada menghina.
“Acara Pengadopsiannya di mulai minggu depan di sini. Kuharap kau akan datang. Hargailah pertemuan terakhirmu ini, Kazami-kun.”
Aku ingin pedang. Aku akan menembus jantungnya dan merobek dadanya. Aku tak tahu apa dia bisa melihat kemarahan dalam diriku, tapi dia menepuk nepuk bahuku, berbalik dan dengan santai meninggalkan ruangan.

Saat aku pulang, memori pertemuan kami masih terasa segar dalam pikiranku. Aku berbaring di ranjangku dan menatap dinding dalam kegelisahan.
“Yakni, pertemuan Yui denganku di hutan.”
“Dia masih hidup karena aku mengizinkannya.”
Pertemuanku dengan Goku terus terulang dan terulang dalam kepalaku, seperti film yang tiada habisnya. Hatiku terasa seperti gumpalan logam yang memerah membara.
Namun----------Ini semua mungkin karena rasa kesadaran diriku yang terlalu kuat.
Goku adalah orang yang selalu paling dekat pada keluarga Shirogane. Ini juga alasan dia bisa menjadi ayah baru bagi Yui. Dipercaya sepenuh hati oleh Naoto Shirogane, dia juga membawa tanggung jawab besar pada Pecto. Ryuzaki mungkin diatur untuk di adopsi dengan pria ini jauh sebelum kami bertemu di Devilcraft. Dibandingkan dia, waktu kami bersama mungkin tak lebih dari ilusi. Penghinaan karena harus menyerahkan Yui demi hasrat pria itu, yang menurutku, tak ubahnya lelucon anak anak.
Bagi kami, kota terapung Devilcraft adalah dunia nyata. Sumpah yang telah kami buat disana, kata kata, semuanya berbinar dengan kecemerlangan seperti berlian.
“Yui ingin tetap di sisi Papa selamanya-------“
Kata kata dan senyum Yui dengan perlahan melintasi pikiranku.
“Maafkan aku.......maafkan aku, Yui......aku tak bisa berbuat apa apa.”
Air mata kesedihan mengalir di pipiku.
BAB 4
“Onii-chan, kamar mandinya sudah kosong!”
Rin berteriak ke kamar Ryuzaki, yang terletak di lantai kedua, namun tak ada respon.
Sore itu, setelah kembali dari rumah sakit, Ryuzaki terus mengunci dirinya di dalam kamar, tak mau turun bahkan untuk makan malam.
Rin menempatkan tangannya di kenop pintu, namun ragu ragu. Kalau dia belum tertidur maka mungkin dia terkena demam, pikir Rin, memperkuat keyakinannya sambil memutar gagang pintu.
Kacha--. Pintu terbuka dan menampakkan ruangan gelap.
Dia pasti sedang tertidur, pikir Rin, dan saat dia hendak berbalik meninggalkan ruangan, embusan udara angin terasa sedikit bertiup, membuatnya menggigil. Jendela nampaknya terbuka. Sepertinya tak ada cara lain, pikirnya, sambil menggeleng kepalanya.
Dia berjalan berjingkat jingkat sepanjang ruangan, menuju ke arah jendela......hanya untuk mendapati kakaknya tengah meringkuk di atas ranjang, dengan kondisi masih bangun.
“Ah, Onii-chan, maaf. Kukira kamu sudah tidur.” Adalah respon gugup Rin.
Setelah beberapa momen kesunyian, Ryuzaki membalas dalam suara tanpa emosi, “Maaf, tapi bisa tolong biarkan aku sendiri?”
“Tapi, tapi, ruangan ini terasa dingin.....”
Rin mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Ryuzaki. Tangannya terasa dingin bagai es.
“Ini nggak bagus. Tanganmu membeku kakak akan demam kalau begini. Lekaslah mandi.”
Sejumlah cahaya menembus masuk melalui korden dari lampu jalanan, menyinari wajah Ryuzaki. Pada momen ini, Suguha menyadari sesuatu yang telah terjadi pada kakaknya.
“Apa yang terjadi?”
“Bukan apa apa.”
Balasannya seperti bisikan yang tercekik.
“Tapi.....”
Tanpa menunggu Rin selesai bicara, Ryuzaki mengubur wajahnya di kedua tangannya. Menyembunyikan dirinya dari Rin, dan dengan tanda penistaan diri, dia berkata, “Aku sungguh tak berguna. Belum begitu lama saat aku bersumpah untuk tak lagi mengatakan kata kata kekalahan semacam itu.......”
Di tengah kata katanya, Rin sudah menyadari apa yang telah terjadi. Berbicara dengan suara pelan dan bergetar, dia bertanya “Orang itu.......Yui-chan.....apa yang terjadi padanya?”
Tubuh Ryuzaki mengejang. Dalam suara pelan, terisi rasa sakit, dia menjawab, “Yui.....telah pergi entah kemana......tempat yang jauh. Tempat.....dimana tanganku tak bisa menjangkaunya......”
Kali ini Rin merasa jelas. Melihat Ryuzaki, yang menangis seperti anak anak di depannya, hati Rin tersentuh.
Ia menutup jendela, menutup korden, dan menyalakan pemanas ruangan, kemudian duduk di sisinya. Ia ragu ragu untuk sesaat, sebelum menggenggam tangan dingin Ryuzaki lagi. Tubuh meringkuk Ryuzaki nampak rileks dalam sekejap.
Rin berbisik di telinganya.
“Jangan sedih. Kalau dia anak memang sangat kakak cintai, kakak tak boleh menyerah semudah itu.”
Kata kata itu tak datang dengan mudah, dan mengucapkannya, hatinya seolah telah teriris oleh pedang. Perasaan dari jauh di dalam hatinya melahirkan rasa sakit ini. Aku menyukai Ryuzaki Onii-chan, adalah perasaan yang datang menerpa Rin kali ini.
“---------Aku juga. Aku tak bisa membohongi diriku lagi.”
Rin menopang kakaknya, dengan lembut menurunkannya ke ranjangnya. Mengambil selimut ranjangnya, ia dengan lembut menaruhnya di atas tubuh Ryuzaki.
Berapa lama dia memeganginya, dia sendiri tak tahu, namun tangisan kesedihan Ryuzaki mulai menjadi suara tidur penuh damai. Ryuzaki menutup matanya, hatinya perlahan berbisik pada dirinya.
“—Satu satunya pilihanku adalah menyerah. Yang bisa kulakukan hanyalah mengubur perasaan ini jauh, jauh di dalam hatiku.”
Karena di dalam hati Ryuzaki, dia sudah ada disana.
Air mata perlahan mengalir di pipi Ryuzaki, kemudian jatuh ke seprai ranjang, sebelum akhirnya lenyap dengan cepat.


Tidurku yang manis dan nyaman terganggu oleh rasa hangat yang tiba tiba.
Aku masih belum benar benar bangun, namun ada kehangatan aneh mengalir padaku, seperti cahaya matahari yang menembus cabang pohon, membelai pipiku.
Mataku tertutup, dan aku memeluk sosok tidurnya. Kami berada sangat dekat sampai aku bisa merasakan nafasnya, jadi aku membuka sedikit mata—
“Uwwahh!?”
Aku segera berteriak, dan melompat sekitar lima puluh senti. Tubuhku terlempar dalam posisi duduk, dan dengan cepat melihat ke sekeliling.
Inilah yang selalu kulihat dalam mimpiku. Devilcraft lantai kedua puluh dua dari hutan rumahku – mustahil.
Bagian dari realita ada disini, kamarku dan ranjangku. Namun, selain aku, ada orang lain disini.
Aku dibuat membisu. Usai bangun secara penuh, aku dengan cepat bangun dan meletakkan selimut kembali di tempatnya. Dengan rambut hitam pendeknya, alis tebalnya, Suguha berbaring dalam piyamanya, tertidur di atas bantalku.
“Kenapa.....kenapa ini......”
Setelah berpikir baik baik, aku akhirnya ingat apa yang terjadi tadi malam. Benar sekali, tadi malam setelah kembali dari rumah sakit, nampaknya aku sempat berbicara sedikit dengan Rin. Diantara keputusasaan dan rasa sakit yang membuatku menangis, dia menghiburku, dan akhirnya, aku tertidur.
“Astaga, seperti anak kecil saja.”
Setelah merasa sedikit malu, aku menatap Rin yang masih tertidur pulas. Dia tak seharusnya melakukan ini.
Aku tiba tiba ingat kalau hal yang sama dengan ini pernah terjadi di dunia “itu”. Rin sangat mirip dengan gadis penjinak hewan yang kutemui di sekitar lantai ke empatpuluh. Dia, juga, menyelinap ke ranjangku, yang membuatku sama kelimpungannya.
Aku tersenyum sambil mengingat itu. pertemuanku dengan Yui dan Goku Yuki terus membuatku kepikiran, namun rasa sakit menusuk nusuk di hatiku perlahan lenyap sejak tadi malam.
Memoriku di dunia itu – kota terapung Devilcraft – adalah harta karun penting bagiku. Memori bahagia, memori sedih – terlalu banyak untuk dihitung – namun semua memori itu nyata, dan tak akan kuanggap selain itu, termasuk kesepakatan diantara Yui dan aku untuk bertemu bersama di dunia ini sekali lagi. pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan.
Saat aku tengah memikirkan itu, dari depanku, gumaman ngelindur Rin mencapai telingaku.
“Menyerah.......itu nggak boleh.....”
“Yang kamu katakan itu sangat betul.” Aku berbisik balik.
Kemudian, sambil duduk, aku menyentil wajah Rin dengan jariku.
“Hei, bangun, ini sudah pagi.”
“Hmmph.”
Dia mengeluarkan erangan tidak senang. Aku menyibak selimutnya dan mencubit pipinya.
“Ayo bangun, ini sudah siang.”
Rin akhirnya membuka matanya.
“Ah. Selamat pagi, Onii-chan,” Dia bergumam, sambil dengan malas memanjat naik dari selimut.
Kemudian, dia menatapku dengan terkejut dan dengan cepat melirik sekitar ruangan. Matanya yang nampak ngantuk dan setengah terbuka, mendadak terbuka lebar dan pipinya tersipu merah.
“Ah! Um, aku.....”
Telinganya memerah, tubuhnya menjadi kaku, dan ia mendadak melompat dan lari dari ruangan secepat mungkin.
“Ya ampun.”
Aku menggeleng kepalaku dan berdiri untuk membuka jendela, menghirup dalam dalam udara dingin untuk membuang semua rasa lelahku.
«Berita» sampai saat aku mengambil baju ganti untuk mandi.
Terdapat nada bersuara elektronik dan aku bisa melihat peringatan e-mail berkilat, jadi aku duduk dan bermain dengan EL Terminal.
Sejak tiga tahun aku tertidur, struktur komputer telah mengalami banyak perubahan. HDD (Hard Disk Drive) tua yang kusukai, lenyap tanpa jejak dan digantikan dengan SSD (Solid Storage Drive) modern, yang sudah menjadi standar baru dan tak menghasilkan MRAM ultra tinggi. Tak ada time lag sepanjang transfer; hal itu terjadi secara spontan. E-mail yang terkirim telah di-update, dan nama si ‘pengirim’ adalah «Near».
Di lantai ke-50 dari blok utama Devilcraft tinggalah Near, pemilik dari toko kelontong di ‘Algade’. Kami bertemu untuk pertamakalinya tanggal 20 di Tokyo dan bertukar alamat e-mail, namun ini akan jadi pertama kalinya kami saling menjalin kontak. Judul pesannya tertulis, “LIHAT INI”. Saat aku membukanya, tak ada teks sama sekali, namun hanya satu gambar.
Aku menggulir ke bawah dan membuka gambar pada monitor, kemudian menatap lekat lekat pada gambar yang ditampilkan.
Komposisinya luar biasa. Kalian bisa melihat dari karakteristik warna dan cahaya yang jelas jelas bukan di dunia nyata namun dunia ilusi, rekayasa komputer. Dalam latar belakang gambar berdiri sangkar emas dengan meja putih dan kursi putih. Seorang gadis kecil, berdandan dalam gaun putih duduk di dalamnya. Melihat lebih dekat pada wajahnya melalui sangkar—
“Yui!?”
Gambarnya nampak kasar, namun gadis itu, dengan rambut panjang kastanye tanpa ragu adalah Yui, wajahnya muram dan tangannya terlipat di atas meja. Melihat lebih dekat ada sayap transparan yang merentang di belakangnya.
Aku menggenggam telepon di meja, dan segera menghubungi nomor yang kutemukan dalam buku telepon. Nada deringnya mungkin hanya beberapa detik, namun terasa bagai berjam jam. Akhirnya, sambungan terhubung dan sebuah suara berat menjawab panggilanku.
“Hallo-“
“Hei! Apa yang terjadi dalam gambar itu!?”
“Lihat, Ryuzaki, setidaknya kenalkan dirimu dulu.”
“Aku tak ada waktu! Lekas dan beritahu aku!”
“Ceritanya panjang. Bisakah kau datang kemari?”
“Baiklah. Aku akan disana secepatnya.”
Tanpa mau menunggu balasan, aku menutup telepon dan mengambil pakaian ganti. Aku belum pernah mandi, mengeringkan rambut, dan mengenakan sepatuku begitu cepat dalam hidupku, dan dalam sekejap aku sudah meninggalkan rumah di atas sepedaku. Entah kenapa jalan ini terasa sangat panjang, meski aku sudah melintasinya berkali kali.

Kafe Near dan bar bisnis terletak di Taito Okachimachi. Aku segera melihat dashboard hitam dan tanda logam yang dihiasi oleh dua dadu, sehingga memiliki nama, «Kafe Berdadu».
Aku membuka pintu dan bertemu dengan suara gemerincing lonceng di pintu masuk. Pria botak di counter menatapku dan tertawa. Tak ada pelanggan kelihatan disini.
“Oh, kau cepat juga.”
“Bisnismu payah seperti biasanya. Bagaimana bisa bertahan selama tiga tahun ini?”
“Saat ini memang lamban, tapi cukup ramai sepanjang malam hari.”
Percakapan santai ini membuat hatiku terasa tenang, seolah aku kembali di dunia itu.
Pertemuan kami adalah sesuatu yang terjadi di akhir bulan lalu. Pada saat itu, aku menerima nama asli dan alamat dari para pemain tertentu dari anggota Kementrian Dalam Negeri, Cline, Nishida, Margaret, dan Elizabet, diantara nama nama lain. Biarpun ada banyak pemain yang ingin kutemui lagi, namun mereka semua sudah kembali ke dunia nyata, dan tetap menjalin kontak adalah perkara sulit. Tempat pertama yang akan kukunjungi pastilah toko ini.
“Jadi, apa yang kau ingin aku beritahukan padamu?”
Si pemilik toko kelihatan sedikit tak senang.
Nama aslinya adalah Andrew Gilbert Mills. Aku merasa kagum karena dia ternyata juga membuka toko di dunia nyata.
Meski secara etnis dia adalah Afrika-Amerika, orang tuanya sudah lama menyukai Jepang, dan dia membuka bar-toko kopinya disini, di Okachimachi di usia 25 tahun. Lebih jauh lagi, dari antara para pelanggannya, dia telah menemukan istri yang cantik dan baik hati. Setelah itu, dia juga, telah terjebak dalam dunia AQWO selama tiga tahun. Usai kembali, toko yang dia duga telah tutup sejak lama ternyata berhasil bertahan berkat usaha keras istrinya. Sungguh cerita yang menyentuh.
Jujur saja, terasa aneh karena tak ada satupun pelanggan disini. Toko ini memiliki tata letak sempit, namun dengan empat kursi dan counter, tempat yang cerah dan berwarna warni ini terasa menarik dan merilekskan.
Aku duduk di bangku kulit, memesan secangkir kopi dan mulai mempertanyakan Near tentang gambar itu.
“Jadi, ada apa dengan gambar itu?”
Si manajer toko tak segera menjawabnya. Justru, aku melihat dia mengeluarkan sebuah bungkusan persegi panjang dari bawah counter, dan mengulurkannya padaku.
Bungkusan itu jelas adalah software Game. Aku segera menyadari itu setelah melihat cetakan jelas «Amuspere» di sudut kanan atasnya.
“Aku belum pernah dengar tentang tipe hardware ini sebelumnya.”
“«Admosper», Ia diluncurkan saat kita masih berada di dunia itu. itu adalah teknologi FullDive generasi berikutnya, penerus dari Never Gear.”
Sambil aku melihat logo dengan perasaan keheranan, Near memberikan penjelasan simpel.
Setelah insiden itu, Never Gear dianggap sebagai “mesin setan”, sehingga tak ada pabrik bernyali melibatkan diri mereka dalam genre teknologi Game FullDive lagi. Namun, 6 bulan setelah insiden AQWO, sebuah perusahaan baru didirikan, dengan slogan “keamanan absolut”. Ia meluncurkan model penerus Never Gear, dan karena kami terjebak di Devilcraft pada saat itu, kami tak tahu apa apa soal ini.
Itu sedikit membantuku memahami situasi, namun karena aku tak terlalu memperhatikan Game Game setelah insiden itu, aku masih tak terlalu memahami benda ini.
“Jadi, apa ini juga VRMMO?”
Aku memegangnya di tanganku dan melihatnya dengan seksama. Gambarnya menunjukkan hutan lebat dengan bulan purnama menggantung tinggi, di depannya terdapat gadis dalam busana fantasi. Pedang di tangannya, dia terbang ke langit dengan sepasang sayap transparan. Dibawah ilustrasinya, terdapat judul -- «Altelier Iris Online».
“Altelier Iris.....Online? Apa maksudnya ini?”
“Sesuai dengan namanya, itu adalah rumah para Alchemi
“Alchemi? Aku masih tak paham. Game ini tak terlalu serius, kan?”
“Itu, yah, mungkin saja. Kudengar itu cukup sulit dimainkan, sih.”
Near meletakkan secangkir kopi yang mengepulkan uap di depanku, sambil tertawa. Aku mengangkat cangkir, menikmati aromanya, sambil terus bertanya padanya.
“Seperti apa kesulitannya?”
“SKILL sistem di dalamnya sangat EXTREME, dan Game berfokus pada skill pemain. PK juga dianjurkan.”
“Extreme....?”
“«Level» Tak lagi berlaku dalam Game ini. Semua skill hanya akan meningkatkan level melalui pengulangan. Sistem Battle bergantung pada kemampuan atletik si pemain, bukan teknik pedang seperti dalam AQWO. Namun tak peduli pada perbedaan minor ini, teknologinya tak jauh beda dari AQWO.”
“Ah. Itu terdengar cukup mengesankan.”
Aku mengeluarkan siulan kekaguman. Penciptaan Kota terapung Devilcraft telah melibatkan usaha keras dari si jenius bodoh plus sinting Akihiko Sanada. Kalau ada orang lain yang bisa menciptakan dunia VR dengan derajat sama adalah hal yang agak sulit dipercaya.
“PK juga dianjurkan?”
“Saat membuat, pemain bisa memilih dari beragam ras alchemi, dan hanya diantara ras yang berlawanan yang membuat hal ini bisa dilakukan.”
“Itu sangat menyulitkan. Tak peduli seberapa tinggi teknologinya, rasanya itu lebih dibuat untuk para Gamer fanatik. Aku ragu benda ini bisa populer.” Ujarku sambil mengernyitkan alis.
Usai Near mendengar keluhanku, dia membuang wajah seriusnya dan tersenyum.
“Aku juga pernah berpikir seperti itu, namun kurasa itu akan jadi populer dengan para Gamer saat ini, alasan utamanya adalah di dalam Game ini, kau punya kemampuan untuk «Terbang».”
“Terbang....?”
“Dengan sayap. Tak seperti game Game sebelumnya, controller dilengkapi dengan mesin penerbangan, memungkinkan pemain untuk terbang dengan bebas.”
Aku belum pernah memikirkan kemungkinan tentang terbang sebelumnya. Setelah Never Gear dikembangkan, banyak VR Game terbang dikembangkan, namun itu semua dikendalikan dengan kendali seperti kendaraan. Terbang dengan cara manusia tak diperkenalkan karena pemain tak punya pengalaman terbang dan sehingga takkan mampu mengendalikan kekuatan saat terbang.
Dalam dunia imajinasi ini, hal hal yang pemain bisa lakukan sama seperti yang kalian bisa lakukan di dunia nyata. Kebalikannya, hal hal yang manusia dunia nyata tak bisa lakukan disini, mereka tak bisa melakukannya disana juga. membentangkan sayap bukanlah tugas sulit, namun pergerakan otot yang berkaitan dengan menggerakkan sayap tidaklah sederhana.
Dalam AQWO, Rizuka dan aku memiliki kemampuan lompatan yang luar biasa, sampai kami hampir seperti terbang, namun ini dan terbang bebas adalah dua hal yang sangat berbeda.
“Semua konsep tentang terbang dan semacamnya ini memang hebat, tapi bagaimana dia tepatnya bisa bekerja?”
“Mana tahu, namun itu kurasa akan merepotkan. Untuk pemula, kau harus mengoperasikannya dengan controller joystick playstastion 2.”
“....”
Tiba tiba, aku mendapat hasrat untuk menantang Game ini, tapi hal itu segera kubuang jauh jauh, dan aku kembali meneguk kopiku.
“Oke. Aku sudah agak paham Game macam apa ini. Kembali ke topik utama, apa hubungannya ini dengan gambar itu?”
Near membawa sepotong kertas dari bawah counter, dan meletakkannya di depanku. Itu adalah kertas foto.
“Apa yang kau lihat?”
Setelah mendengar pertanyaannya, aku menatap gambar itu untuk sejenak, sebelum akhirnya menjawab.
“Sangat mirip.......dengan Yui......”
“Figur yang akan kau anggap sama. Itu adalah screenshot, meski resolusinya agak jelek.”
“Lekas dan jelaskan padaku!”
“Itu Screenshot dari Game ini, Altelier Iris Online.”
Near menyerahkan Gamenya dan gambar padaku. Terdapat screenshot dari Game, dengan tampilan dari peta dunia serta semua wilayahnya, dan di area pusatnya terdapat sebuah Kota di puncak menara.
“Ini adalah Menara Dunia.”
Near menunjuk ke arah menara.
“Tujuan para pemain adalah siapa yang paling cepat mencapai puncak dari menara ini.”
“Lantas apa kau tidak diperbolehkan untuk terbang ke atas begitu saja?”
“Tak peduli berapa besar stamina dan daya tahan yang mereka punya untuk terbang, tetap saja ada batasnya. Untuk mencapai cabang terendah dari pohon itu dengan terbang saja sudah mustahil. Namun, masih ada orang orang yang memunculkan ide ide edan, seperti membentuk kelompok lima orang dan terbang seperti roket multi-stage yang melontarkan mereka ke atas.”
“Hahaha, apa memang begitu? Biarpun kau menyebutnya ide edan, tetap saja itu sangat kreatif.”
“Ah, sebenarnya mereka berhasil. Namun, cabang menara itu sangat lemah, sehingga pencapaian mereka hanya sampai disitu saja. Untuk membuktikan kalau mereka berhasil melakukan ini, mereka mengambil banyak foto sebagai bukti. Salah satu dari foto itu adalah sangkar yang menggantung di sebuah cabang pohon besar.”
“Sangkar burung........”
Kata kataku mengalir dengan perasaan yang sulit dideskripsikan, yang membuat alisku terangkat. Terjebak.......pemikiran ini segera masuk dalam pikiranku.
“Foto ini diambil saat mereka berhasil mencapai cabang itu.”
“Tapi kenapa Yui ada disana?”
Aku mengambil Game lagi, dan menatap bungkusnya.
Aku berfokus pada tulisan yang tercetak di bagian bawah kotak. «PECTO Progress».
“Ada apa, Ryuzaki? Wajahmu kelihatan pucat.”
“Bukan apa apa......tak ada gambar lain? Misalnya, «orang lain dari AQWO», selain Yui, yang belum kembali?”
Oleh pertanyaanku, si manajer hanya mengernyitkan alisnya dan menggeleng kepalanya.
“Tidak, meski aku sudah dengar tentang hal itu. namun gambar gambar dari «Altelier Iris Online» tak bisa digunakan untuk menjelaskan apa apa. Jangan lekas membuat kesimpulan hanya karena ini.”
“Ya, aku tahu.”
Aku menundukkan kepalaku, memikirkan apa yang pria itu – Goku Yuki – telah katakan padaku.
Manajer dari server AQWO sekarang adalah dia, ia mengatakan itu sendiri. Ngomong ngomong, dia juga berkata kalau server itu seperti black box, dan tak bisa dimanipulasi selamanya. Pada saat ini, semuanya menjadi masuk akal buatku.
Namun, kalau Yui terus tertidur, ini akan menguntungkan baginya. Lebih jauh lagi, seorang gadis kecil yang nampak seperti Yui terjebak dalam VRMMO didesain oleh tiada lain selain antek antek PECTO, tak mungkin itu semua hanya kebetulan.
Aku berpikir untuk menghubungi Kementrian Dalam Negeri, namun aku segera mengubah pikiranku. Kesimpulanku masih terlalu dangkal, dan aku tak punya bukti nyata.
Aku melihat ke atas, menatap pada Near.
“Near, boleh aku memiliki ini?”
“Tak masalah.....kau mau mencobanya?”
“Ya, aku ingin mengkonfirmasi ini sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Near menunjukkan ekspresi keraguan. Kami berdua memahami betapa bahayanya VR.
Aku mengangkat bahuku, dan tertawa.
“Kurasa kalau aku ingin mencoba ini maka aku harus membeli konsol baru.”
“Never Gear juga bisa menjalankannya. Amuspere hanyalah versi dengan performa lebih maju.”
“Baguslah kalau begitu.”
Aku mengangkat bahu. Near memasang senyum tipis.
“Yah, ini bukan pertamakalinya kau menyelamatkan seseorang yang terjebak dalam kesadarannya sendiri.”
“Tak masalah berapa kalipun dia terjebak atau terpenjara atau berapa kali aku harus melakukan ini.”
Dan seperti itulah. Rizuka dan aku belum menjalin kontak apapun selain melalui internet via Nerve Gear. Tiada suara atau surat yang sudah kuterima.
Namun hari hari penantian itu berakhir sudah. Menyelesaikan kopiku dalam satu tegukan, aku berdiri. Counter Near nampak jadul, mirip dengan tokonya di AQWO, sama sekali tak dilengkapi mesin kasir elektronik dan semacamnya. Aku mengeluarkan beberapa uang receh dan meletakkannya di counter.
“Kalau begitu aku kembali dulu. Terima kasih sudah mengundangku, dan untuk informasinya.”
“Kau bisa membayar informasiku dengan cara lain. Pokoknya kau harus selamatkan Yui, maka kita akhirnya bisa mengakhiri semua ini.”
“Itu benar. Suatu hari, ini semua akan berakhir.”
Aku memukul telapak tanganku dengan tinjuku. Kemudian aku membuka pintu, dan pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar