PROLOG
Sebuah kota tua besar yang
terbuat dari batu dan baja melayang di langit tak berujung.
Hanya itulah isi dari dunia ini.
Butuh waktu sebulan bagi berbagai
kelompok pengrajin untuk meninjau lantai dasar yang berdiameter sekitar 10
kilometer — cukup luas untuk memasukkan seluruh isi kota tua ke dalamnya. Di atasnya terdapat 100
lantai yang tersusun lurus ke atas; ukurannya sangat luar biasa. Sekedar
menebak berapa banyak data yang digunakan untuk membuatnya pun mustahil.
Di dalamnya terdapat beberapa kota
besar, dengan banyak kota dan desa kecil, hutan, padang rumput, dan bahkan
danau. Hanya satu tangga yang menghubungkan setiap lantai, dan tangga itu
berada di dungeon tempat
monster-monster berkeliaran. Karena itu, menemukan dan melewatinya bukan hal yang
mudah. Namun, ketika seseorang melewatinya dan tiba di sebuah kota di lantai
atas, «Gerbang Teleportasi» antara lantai itu dan semua kota di lantai bawah
akan terhubung, sehingga semua orang dapat bergerak dengan bebas dari lantai ke
lantai.
Di bawah kondisi ini, kota tua
raksasa itu terus menerus ditaklukkan sejak tiga tahun lalu. Garis depan
sekarang ada di Lantai ke-75.
Nama kota tua itu adalah
«Devilcraft», sebuah dunia pertarungan pedang yang terus melayang, melingkupi
kurang lebih tujuh ribu orang di dalamnya. Dikenal juga dengan nama...
«Adventure Quest World Online»
PART 1
Sebuah kapak merah menebas
pundakku.
Garis tipis di pojok kiri atas
penglihatanku berkurang sedikit. Pada saat yang bersamaan aku merasa sebuah
tangan yang dingin menembus jantungku.
Garis biru—yang bernama HP
baradalah sebuah penanda visual dari energi kehidupanku. Di sana masih tersisa
sekitar 75 persen. Tidak, kalimat itu kurang tepat. Sekarang, aku sudah 20
persen mendekati kematian.
Aku segera melompat ke belakang
sebelum kapak musuh mulai bergerak menyerang.
"Haaa...."
Aku memaksakan diri untuk menarik
napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. 'Tubuh' di dunia ini tidak
membutuhkan oksigen, tetapi tubuh yang di dunia nyata mungkin saja sedang
bernapas dengan cepat. Tanganku mungkin saja sedang berkeringat dan jantungku
berdetak dengan cepat.
Tentu saja.
Bahkan jika semua yang kulihat
ini adalah virtual reality 3
dimensi, dan garis HP-ku yang sedang berkurang hanyalah sekumpulan angka yang
menunjukan sisa HP-ku, kenyataan bahwa aku sedang bertarung mempertaruhkan
nyawa tidaklah berubah.
Saat kalian memikirkannya seperti
itu, pertarungan ini sangatlah tidak adil. Itu karena musuh di depanku adalah
monster berkepala laba-laba dan bertubuh manusia dengan kulit berwarna hijau
gelap. Mereka bukanlah manusia, bukan juga makhluk hidup. Mereka hanyalah
sekumpulan data digital yang akan terus muncul berapa kali pun dibunuh.
Tidak.
Al yang mengendalikan spiderman sedang mempelajari gerakanku dan
memperbaiki kemampuannya merespon seiring berjalannya waktu. Tetapi, saat dia
dihancurkan, data tentang pertarungannya pun hilang dan tidak diturunkan ke
unit yang akan muncul kembali di area ini.
Ini membuat spiderman tersebut
seperti makhluk hidup. Seperti makhluk yang memiliki pikiran masing-masing.
"...Benar 'kan?"
Tidak mungkin dia mengerti apa
yang kukatakan, tapi spiderman tersebut (seekor monster level 82 yang bernama
«Spiderman Lord») menatapku sambil menyeringai dan menunjukan jaring beracun
yang keluar dari tangannya
Ini adalah kenyataan. Semua yang
ada di dalam dunia ini nyata. Tidak ada virtual reality ataupun kepalsuan apa
pun di dalam dunia ini.
Aku mengubah posisi pedang
panjang satu tangan-ku dengan tangan kanan sejajar dengan bagian tengah tubuhku
sambil memperhatikan musuh.
Dengan cepat Spiderman itu mengeluarkan
jaring beracunnya ke depan dan menarik Kuro dan langsung membunuhnya
“Kuro!!” aku berteriak sangat
keras
Angin dingin bertiup ke dalam
dungeon yang gelap dan mengguncangkan api obor. Lantai yang basah dengan lembut
memantulkan sinar dari obor yang berkelap-kelip.
“Kraaah!!”
Bersamaan dengan teriakan yang
keras tersebut sang spiderman melompat maju. Jaringnya membentuk kilatan cahaya
yang tajam menuju ke arahku. Sebuah cahaya jingga yang menyilaukan menyala dari
lintasan scimitar tersebut. Sebuah teknik spesial kelas atas dari jaring yang
beracun, «Fell Stream». Teknik spesial kelas atas yang dapat menempuh jarak 5
meter dalam waktu 0,2 detik.
Tapi, aku telah menantikan serangan
itu.
Aku telah perlahan-lahan menambah
jarak untuk menciptakan situasi agar Al yang menggerakkan spiderman itu
menggunakan teknik tersebut. Aku mencium bau terbakar dari teknik spesialnya
yang hanya berjarak beberapa senti dari hidungku.
“Ha …!!”
Dengan teriakan singkat,
kuayunkan pedang secara horizontal. Pedang tersebut sekarang tertutupi oleh
efek cahaya biru langit, memotong melalui perutnya yang hanya memiliki
pelindung tipis, tetapi bukan darah yang keluar melainkan cahaya merah yang
berterbangan. Monster itu berteriak dengan suara pelan.
Tetapi pedangku tidak berhenti.
Sistemnya membimbingku mengikuti gerakan yang terprogram dan melanjutkan ke
tebasan yang selanjutnya dengan kecepatan yang biasanya mustahil.
Ini adalah elemen paling penting
dalam bertarung di dunia ini, «Starbust Stream».
Pedangku melesat cepat dan menebas
dari kiri ke dada spiderman. Dari posisi ini, aku berputar dan serangan ketiga
mengenai lebih dalam lagi dari pada
serangan sebelumnya.
“Raarrgh !”
Bersamaan dengan pulihnya spiderman
dari keadaan stun, setelah gagal menyerang dengan teknik tingkat tinggi, dia
berteriak dengan marah atau mungkin ketakutan serta mengangkat tinggi-tinggi jaringnya
ke udara.
Tetapi rangkaian seranganku belum
selesai. Pedang yang sedang mengayun ke kanan tiba-tiba berbalik arah dan
mengenai jantungnya—titik yang kritis.
Jejak sinar di udara berbentuk
kotak bekas serangan 4 kali berturut-turut dariku berpijar, kemudian terpencar.
Sebuah teknik 4 tebasan horizontal, «Horizontal Square».
Cahaya terang menyinari dungeon
dan kemudian menghilang. Pada saat yang sama, HP bar diatas kepala spiderman
menghilang tanpa menyisakan satu titik pun.
Tubuh yang besar itu jatuh,
meninggalkan jejak yang panjang, kemudian terhenti tiba-tiba.
Sama seperti kaca yang pecah,
spiderman itu pecah menjadi pecahan kecil yang tak terhitung jumlahnya dan
menghilang.
Ini adalah «Kematian» di dunia
ini, singkat dan cepat. Kehancuran sempurna tanpa meninggalkan jejak sedikit
pun.
Aku melihat experience point dan barang yang kudapat muncul dengan
tulisan berwarna biru di tengah penglihatanku, Aku pun mengayunkan pedangku ke
kanan dan yang kiri sebelum menyarungkan
pedangku di sarung pedang yang berada di punggungku. Aku mundur beberapa
langkah dan menyandarkan punggungku ke dinding dan perlahan terduduk.
Lalu aku menghela napasku yang
kutahan sejak tadi dan menutup mataku. Keningku mulai terasa pening, mungkin
karena letih akibat pertarungan yang panjang. Aku menggelengkan kepalaku
beberapa kali untuk menghilangkan rasa pusing dan membuka mataku.
Jam yang bersinar yang berada di
bagian kanan bawah penglihatanku menunjukan bahwa sekarang sudah melewati jam 4
sore. Aku harus segera keluar dari dungeon ini atau aku tidak akan mencapai
kota sebelum gelap.
“…Bagaimana kalau aku pulang
sekarang?”
Di sini tidak ada seorang pun
yang mendengar, tapi aku tetap mengatakannya dan perlahan-lahan bangun.
Aku sudah menyelesaikan kegiatan
hari ini. Entah bagaimana aku sekali lagi terhindar dari tangan kematian.
Tetapi setelah istirahat sejenak, hari esok akan ada pertarungan yang lebih
banyak lagi. Ketika berada dalam pertarungan yang tanpa 100 persen kemungkinan
menang, sebanyak apa pun heal item yangdisiapkan maka akan suatu hari dimana
heal item itu akan habis.
Masalahnya adalah apakah permainan
ini akan «terselesaikan» atau tidak sebelum kematian menjemputku.
Kalau kalian menghargai nyawa
kalian lebih dari apa pun, bertahan di kota dan menunggu seseorang
menyelesaikan game ini adalah pilihan yang paling bijaksana. Tetapi aku tetap
pergi mejadi solo player ke garis
depan seorang diri. Apakah aku hanya seorang pecandu VRMMO yang terus meningkatkan statusnya
melalui pertarungan yang tak terhitung, ataukah—
Apa aku hanyalah seorang idiot
yang dengan mudahnya berpikir bahwa dia bisa memenangkan kebebasan dari semua
orang di dunia ini dengan pedangnya?
Saat aku berjalan menuju pintu
keluar labirin dengan senyum tipis yang mencerca diriku sendiri, kuingat
kembali hari itu.
3 tahun yang lalu.
Saat semuanya berakhir dan
dimulai.
PART 2
“Ahh… ha… uwahh!”
Sebuah pedang mengayun bersamaan
dengan teriakan aneh itu, tanpa mengenai apa pun kecuali udara.
Tepat sesudahnya, babi rusa biru
itu bergerak dengan kecepatan yang cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan
badannya yang besar, menerjang ke arah pemburunya. Aku tertawa terbahak-bahak
melihatnya terlempar ke udara dan berguling menuruni bukit setelah tertabrak
oleh hidung pesek babi rusa itu.
"Hahaha, bukan seperti itu.
Gerakan awal itu sangat penting, Kuro."
"Argh… sialan."
Pemburu yang sedang menggerutu
itu, anggota party-ku yang bernama Kuro, berdiri dan melirik ke arahku sambil
menjawab dengan lesu.
"Tapi Rizuka, meskipun kau
bilang begitu, aku tak bisa mengenai musuh yang bergerak."
Aku bertemu dengan orang ini,
orang yang berambut merah dan mengenakan bandana dan sebuah armor kulit sederhana di tubuhnya yang kurus
itu, beberapa jam yang lalu. Jika dia memberitahukan nama aslinya, mungkin akan
sulit untuk tidak menggunakan honorifik, tapi nama Kuro miliknya dan nama
Rizuka milikku ini adalah nama yang dibuat untuk karakter kami. Menambahkan
"-san", “-chan” atau "-kun" akan membuat nama kami menjadi
lebih menggelikan dibandingkan apa pun.
Kaki orang yang sedang
dibicarakan itu mulai bergetar.
Sepertinya dia sedikit pusing.
Aku mengambil sebuah kerikil di
bawah kakiku dan mengangkatnya sedikit lebih tinggi dari bahuku. Sesaat setelah
sistemnya mendeteksi gerakan awal dari sebuah teknik pedang, kerikilnya mulai
memancarkan sedikit sinar berwarna hijau.
Setelah itu tangan kiriku
bergerak dengan sendirinya dan batunya terlempar, meninggalkan segaris cahaya
dan mengenai celeng itu diantara alisnya. Ggiik! celeng itu memekik kesal dan
berbalik ke arahku.
"Tentu saja mereka bergerak.
Mereka bukan boneka latihan. Tapi jika kau mulai dengan gerakan yang tepat,
sistemnya akan meneruskan teknik pedangmu dan mengenai targetnya untukmu."
"Gerakan... gerakan..."
Sambil berkomat-kamit seperti
mbah dukun yang sedang membaca mantra, Kuro mengangkat pedang pendek yang ada
di tangan kanannya.
Meskipun babi rusa biru, atau
nama aslinya «Frenzy Boar» adalah monster level 1, Kuro telah menghabiskan
hampir setengah dari HP-nya karena terkena serangan balasan akibat serangannya
yang asal-asalan tadi. Yah, meskipun dia mati, dia akan dihidupkan kembali di
«Kota Awal» dekat sini. Tapi, berjalan menuju daerah perburuan lagi itu agak
menjengkelkan.
Sepertinya tinggal satu serangan
lagi sebelum pertarungannya berakhir.
Aku sedikit memiringkan kepalaku
saat aku menangkis terjangan boar itu dengan pedang yang ada di tangan kananku.
"Hmm, bagaimana cara
menjelaskannya ya, ini tidak seperti satu, dua, tiga lalu terjang, tapi lebih
seperti mengumpulkan sedikit tenaga dan sesaat setelah kau merasakan kalau
skill-nya dimulai, lalu BAM! Dan kau merasa kalau itu mengenai monsternya."
"Bam, ya?"
Muka Kuro yang agak tampan itu
menyeringai hingga tidak enak dipandang mata dan dia mengangkat pedangnya
setinggi perutnya.
Menarik dan menghela napas,
setelah menarik napas yang dalam, dia menurunkan kuda-kudanya dan mengangkat
pedangnya. Kali ini sistemnya mendeteksi kalau posenya benar dan pedangnya
mulai memancarkan sinar berwarna jingga.
"Ha!"
Dengan teriakan kecil itu, dia
melompat dengan gerakan yang sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Swish-!
bersamaan dengan suara itu, pedangnya meninggalkan jejak merah menyala di
udara. «Reaver», teknik dasar pedang lengkung satu tangan, menancap di leher
bagian kanan babi rusa yang sedang menerjang dan melenyapkan seluruh HP-nya,
yang sekitar setengah penuh (seperti Kuro).
Guekk! Babi rusa itu menjerit dan
tubuh besarnya mulai terpecah seperti kaca, dan angka-angka berwarna ungu
muncul, menunjukan berapa banyak experience point yang kudapat.
“Yeeeeaaaahhh!”
Kuro menari gangnam style dengan
senyuman besar di wajahnya dan mengangkat tangan kirinya. Aku menepuknya dan
tersenyum padanya.
"Selamat atas kemenangan
pertamamu. Tapi, babi rusa itu hanya selemah slimeatau jamur di permainan lain."
"Eh, benarkah? Kupikir babi
rusa itu adalah semi-boss atau sejenisnya."
"Mustahil."
Senyumanku menjadi agak miris
saat aku menyarungkan pedangku di punggungku.
Meskipun aku menggodanya, aku
mengerti perasaannya sekarang. Karena aku punya pengalaman 2 bulan lebih
daripada dia. Hanya sekarang dia bisa merasakan kegembiraan menghancurkan
musuhnya dengan tangannya sendiri.
Kuro mulai menggunakan teknik
pedang yang sama berulang-ulang sambil berteriak. Mungkin itu adalah salah satu
caranya untuk berlatih. Aku meninggalkannya sendiri dan melihat sekeliling.
Padang rumput yang terbentang
sangat luas ini bersinar kemerahan saat matahari mulai terbenam. Di utara
terlihat bayang-bayang hutan, danau yang berkilauan, dan aku bisa melihat
tembok yang mengelilingi kota hingga ke timur. Di bagian barat ada langit yang
tak terbatas dengan awan berwarna keemasan yang melayang di atasnya.
Kami ada di padang rumput yang
terbentang di sebelah timur dari «Kota Awal» yang berada di ujung utara dari
lantai pertama kota tua terbang raksasa «Devilcraft ». Seharusnya ada banyak
sekali pemain lain yang sedang bertarung dengan monster di sekitar sini, tapi
karena terlalu luas, tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat.
Terlihat puas, Kuro menyarungkan
pedangnya dan berjalan kemari sambil melihat sekeliling juga.
"Omong-omong, berapa kali
pun aku melihat sekeliling seperti ini aku masih belum bisa percaya kalau kita
ini «berada di dalam game»."
"Yah, meski kau bilang 'di
dalam', bukan berarti kalau jiwa kita tersedot ke dalamnya atau sejenisnya.
Yang melihat dan mendengar bukanlah mata dan telinga, melainkan otak kita dengan
mengirimkan sinyal dari «Never Gear».
Aku berkata begitu sambil
mengangkat bahuku. Kuro mengerutkan bibirnya seperti anak kecil.
"Kau mungkin sudah terbiasa
sekarang, tapi bagiku ini adalah pertama kalinya aku melakukan «Full Dive».
Bukankah ini luar biasa? ...Aku benar-benar bersyukur dilahirkan di zaman
ini!"
"Kau berlebihan."
Tapi meskipun tertawa, aku setuju
dengannya.
«Never Gear»
Itulah nama perangkat keras yang
menjalankan VRMMORPG—«Adventure Quest World Online».
Bentuk dasar mesin ini sangat
berbeda dibandingkan dengan yang lama.
Tidak seperti perangkat keras
tipe lama yang seperti "monitor layar datar" atau "stick
game", Never Gear mempunyai bentuk seperti helm yang menutupi seluruh
kepala dan wajah.
Di dalamnya terdapat banyak
pemancar sinyal, dan dengan menggunakan pemancar sinyal itu, Gear-nya langsung
mengakses ke dalam otak si pemakai. Si pemakai tidak menggunakan mata dan
telinganya untuk melihat dan mendengar, melainkan menangkap sinyal yang
dikirimkan langsung ke otak mereka. Ditambah lagi, mesinnya tidak hanya bisa
mengakses indra pendengaran dan penglihatan, tapi juga bisa mengakses indra
peraba, perasa, dan penciuman. Singkatnya, kelima indra.
Setelah memakai Nerve Gear,
kalian kunci tali pengikatnya di dagu dan mengatakan perintah inisiasi («Link
Start»), semua suara menghilang dan kalian akan diselimuti kegelapan. Segera,
setelah melewati lingkaran berwana pelangi di tengah, kalian sudah berada di
dunia yang terbuat sepenuhnya dari data.
Jadi...
Setengah tahun lalu, mesin ini
(yang mulai dijual pada Mei 2023) berhasil membuat «Virtual Reality».
Perusahaan elektronik yang membuat Nerve Gear menyebut keadaan terhubung dengan
virtual reality...
«Full Dive».
Dunia yang sepenuhnya terpisah
dari kenyataan, cocok dengan kata "full".
Alasannya adalah karena Never Gear
tidak hanya mengirimkan sinyal palsu pada kelima indra, tetapi juga memblokir
dan mengembalikan sinyal yang dikirimkan oleh otak ke tubuh.
Ini bisa dibilang syarat paling
dasar untuk bergerak dengan bebas di dalam Virtual Reality. Jika tubuhnya
menerima sinyal dari otak ketika si pengguna dalam keadaan Full Dive, pada saat
si pengguna memutuskan untuk «Berlari», tubuh asli mereka akan menabrak tembok.
Karena Never Gear mampu
mengembalikan perintah yang dikirimkan oleh otak melalui tulang belakang, aku
dan Kuro bisa bebas menggerakan avatar kami dan mengayunkan pedang kami
sesukanya.
Kami benar-benar terjun ke dalam game.
Pengalaman ini benar-benar memikatku dan banyak pemain lainnya, hingga membuat kami tidak akan pernah bisa kembali ke pena-sentuh atau sensor gerakan.
Klein melihat ke arah angin yang
berhembus melalui padang rumput dan tembok kastil dengan air mata sungguhan di
matanya.
"Jadi, AQWO adalah game pertama
yang kaumainkan dengan Never Gear?" Aku bertanya.
Kuro yang terlihat seperti
seorang prajurit tampan yang berasal dari zaman perang abad 15 menengok ke
arahku dan mengangguk.
"Ya."
Jika dia menggunakan ekspresi
yang serius di wajahnya, dia akan terlihat seperti aktor yang sedang memerankan
drama zaman dulu. Tentu saja ini sangat berbeda dari tubuh aslinya di dunia
nyata. Ini hanyalah avatar yang dibuat berasal dari memilih diantara daftar
pilihan.
Tentu saja, aku juga terlihat
seperti seorang protagonis yang sangat cantik dan imut dari sebuah anime
fantasi.
Kuro meneruskan pembicaraan
dengan suaranya yang terdengar pelan tapi bersemangat, tentu saja ini juga
berbeda dengan yang di dunia nyata.
“Yah, tepatnya aku membeli
perangkat kerasnya segera setelah aku mendapatkan AQWO. Hanya ada sepuluh ribu
yang dikeluarkan sekarang, jadi kupikir aku memang sangat beruntung. Tapi,
kalau dipikir-pikir kau sepuluh kali lebih beruntung daripada aku karena kau
terpilih untuk beta testing. Mereka cuma mengambil seribu orang!”
“Ah, ya, benar juga.”
Kuro terus melihat ke arahku. Tanpa
sadar aku menggaruk kepalaku.
Aku masih ingat kesenangan dan
rasa antusias saat pembuatan «Adventure Quest World Online» diumumkan sudah
selesai lewat media seperti baru kemarin.
Never Gear telah membuat dunia
permainan menjadi lebih maju dengan Full Dive-nya. Tapi, karena mesinnya masih
baru selesai, hanya game-game yang tidak terkenal saja yang ada untuk
dimainkan. Contohnya puzzle, dan game-game yang berhubungan dengan pelajaran atau
lingkungan, itu membuat kecewa para penggemar game sepertiku.
Never Gear benar-benar bisa
menciptakan sebuah virtual reality.
Tapi kau hanya bisa berjalan 100
meter sebelum kau mencapai batas dinding di dunia itu; itu benar-benar
mengecewakan. Para pecinta game sepertiku, yang benar-benar menghargai
pengalaman berada di dalam game, tidak mungkin kalau kami tidak menantikan
suatu game dengan gaya tertentu.
Kami mulai menunggu untuk sebuah
game network yang bisa memuat jutaan orang mendaftar dan masuk, bertarung
bersama dan hidup sebagai karakter mereka sendiri, atau dengan kata lain—sebuah
MMORPG.
Ketika rasa antisipasi dan
kesabaran kami mencapai puncaknya, VRMMORPG pertama diumumkan tepat waktunya,
«Adventure Quest World Online». Panggung permainan ini adalah sebuah kota tua
raksasa yang terdiri dari 100 lantai.
Para pemain hidup di sebuah dunia
dengan hutan dan danau, hanya mengandalkan pedang dan kemampuan mereka untuk
menemukan rute untuk menuju ke lantai atas dan mengalahkan monster yang tak
terhitung jumlahnya untuk membuka jalan menuju lantai teratas.
«Magic» yang dianggap merupakan
bagian yang tidak bisa digantikan dari MMORPG fantasi telah dihilangkan dan
skill yang tidak terhitung jumlahnya yang bernama «Sword Skills» dibuat. Itu
mungkin adalah salah satu rencana untuk membuat para pemain bisa merasakan
pengalaman dari pertarungan dengan tubuh mereka sendiri melalui full dive
sebanyak mungkin.
Skill-nya bervariasi termasuk
skill produksi seperti pandai besi, penjahit, dan kemampuan sehari-hari seperti
memancing, memasak, dan bermain musik, mengizinkan pemain tidak hanya
berpetualang di dalam game besar ini tetapi juga benar-benar «hidup» di
dalamnya. Jika mereka mau, dan skill level mereka cukup tinggi, mereka bisa
membeli rumah dan hidup sebagai pengembala domba.
Saat informasi ini disampaikan,
rasa antusias para gamer menjadi semakin tinggi.
Beta test-nya hanya mengajak
seribu orang pencoba. Katanya, ada seratus ribu orang, setengah dari jumlah Never
Gears yang terjual saat itu, ingin menjadi pencobanya. Keberuntungan adalah
satu-satunya alasanku bisa terpilih. Selain itu, beta tester mendapat
keuntungan tambahan karena diberikan prioritas ketika game-nya sudah resmi
keluar.
Dua bulan beta testing terasa
seperti mimpi saja. Di sekolah, aku selalu memikirkan tentang susunan skill-ku,
equipment dan item, dan lari langsung ke rumah segera setelah sekolah berakhir
dan masuk ke game hingga subuh. Beta test-nya berakhir dalam sekejap mata, dan
di hari di mana karakterku direset, aku merasa kehilangan yang sangat besar
seperti setengah tubuh asliku menghilang.
Dan sekarang-11 November 2023,
Minggu.
«Adventure Quest World Online»
setelah semua persiapannya telah selesai, jam 1 siang servis server-nya resmi
dimulai.
Tentu saja, aku telah menunggu
selama 30 menit dan langsung masuk tanpa menunggu sedetik pun, tapi ketika aku
memeriksa keadaan server-nya, sembilan ribu lima ratus orang lebih sudah masuk
ke dalam game. Sepertinya semua orang yang beruntung mendapatkan gamenya
merasakan hal yang sama denganku. Semua situs penjualan online mengumumkan
kalau gamenya terjual habis tepat setelah penjualan dibuka dan penjualan
offline, yang dimulai sejak kemarin, telah terbentuk barisan orang yang
mengantri lebih dari empat hari, membuat keributan yang cukup hingga bisa masuk
dalam berita. Itu berarti semua orang yang beruntung bisa membeli kaset game
nya hampir semuanya adalah penggemar game serius.
Kelakuan Kuro menunjukan semua
ini dengan jelas.
Setelah aku masuk ke dalam AQWO,
aku mulai berlari melalui jalan batu yang sudah kukenal di «Kota Awal» untuk
menuju ke toko senjata. Menyadari kalau diriku adalah seorang beta tester
setelah melihatku memulai dan berlari tanpa ragu, Kuro berlari ke arahku.
“Hei, ajarkan aku beberapa hal!”
dia memohon.
Aku heran kenapa dia bisa begitu
tidak tahu malu dan memohon ke orang yang baru dia temui. Aku kehilangan
kata-kataku karena takjub.
“Ah, kalau begitu… Bagaimana
kalau kita ke toko senjata dulu?” Aku menjawabnya seperti seorang NPC; kami
akhirnya membuat sebuah party, dan aku mulai mengajarinya beberapa dasar
bertarung—dan itulah mengapa kami berakhir seperti ini.
Sebenarnya, aku tidak terlalu
akrab dengan orang di dunia nyata atau di dalam game, bahkan mungkin lebih
sedikit di dalam game dibanding dengan di dunia nyata. Selama beta testing aku
mengenal beberapa orang, tapi aku tidak terlalu dekat dengan mereka hingga
tidak bisa menyebut mereka sebagai teman.
Tapi Kuro punya sisi yang agak
bersahabat, dan aku juga tidak berpikir kalau itu tidak mengenakkan. Berpikir
kalau aku mungkin bisa akrab dengannya, aku membuka mulutku.
“Jadi… Apa yang sekarang mau
kaulakukan? Apa kau mau terus berburu hingga kau terbiasa?”
“Tentu! Itu yang mau kubilang,
tapi…”
Mata Kuro melihat ke arah bawah
kanan dari penglihatannya. Dia pasti sedang memastikan waktu.
“…Yah, aku harus keluar dari game
dan makan. Aku memesan pizza untuk jam 5:30.”
“Benar-benar sudah mempersiapkan
segalanya.”
Aku tidak bisa mengatakan hal
lain, Kuro membusungkan dadanya.
“Tentu saja!” dia berkata begitu
dengan bangga. “Aku sudah janji untuk bertemu beberapa teman di «Kota Awal»
sebentar lagi. Aku bisa memperkenalkan beberapa dari mereka dan kau bisa
mendaftarkan mereka sebagai teman. Dengan begitu kau bisa kapan pun mengirim
pesan. Bagaimana?”
“Errr… Hmmm…,” Tanpa sadar aku
bergumam.
Aku agak akrab dengan Klein, tapi
tidak ada jaminan kalau aku bisa akrab dengan teman-temannya. Aku merasa kalau
kemungkinannya lebih besar kalau aku tidak akan bisa akrab dengan mereka, dan
sebagai akibatnya, aku juga tidak bisa berteman dengan Kuro lagi.
“Haruskah aku…?”
Terlihat mengerti alasanku
menjawab dengan tidak begitu yakin, Kuro menggelengkan kepalanya.
“Ah, aku tidak bermaksud
memaksamu. Lagipula akan ada kesempatan lain untuk memperkenalkan mereka.”
“…Ya. Maaf, dan terima kasih.”
Segera setelah aku berterima
kasih padanya, Kuro menggelengkan kepalanya sekuat mungkin.
“Hei, hei! Seharusnya aku yang
berterima kasih padamu. Aku menerima banyak bantuan darimu. Aku akan membalas
jasamu lain kali. Kalau kita ketemu lagi.”
Kuro tersenyum dan melirik ke
arah jam sekali lagi.
“…Yah, aku akan keluar sebentar.
Terima kasih banyak, Rizuka. Sampai jumpa lagi.”
Dengan begitu, dia menaruh
tangannya ke depan. Saat itu, kupikir orang ini pasti adalah seorang pemimpin
yang hebat di dalam «game lain» dan bersalaman dengannya.
"Ya, sampai jumpa."
Kami melepaskan tangan
masing-masing.
Itu adalah saat di mana Devilcraft,
atau AQWO, berhenti menjadi sebuah game yang menyenangkan bagiku.
Kuro berjalan mundur sedikit dan
menempelkan jari tengah dan jempol tangan kanannya lalu menarik ke bawah.. Ini
adalah hal yang perlu dilakukan untuk memanggil «main menu window». Segera
setelahnya terdengar suara berdering dan muncul sinar kotak berwarna ungu.
Aku menyingkir sedikit dan duduk
di sebuah batu lalu membuka menu-ku juga. Aku mulai menggerakkan jariku untuk
menyusun item yang kudapat setelah bertarung dengan boar tadi.
Lalu.
"Eh?" Kuro berkata
dengan nada yang aneh.
"Apa ini? …tidak ada tombol
logout-nya."
Saat itu aku berhenti
menggerakkan jariku dan mengangkat kepalaku.
"Tidak ada tombolnya…?
Mustahil, coba lihat lebih jelas."
Aku berkata dengan sedikit
bingung. Dia membuka matanya lebar-lebar di bawah bandannanya dan mendekatkan
kepalanya ke menu. Kotaknya lebih panjang ke samping daripada ke atas, dan
mempunyai sekumpulan tombol di bagian kiri serta sebuah gambaran karakter yang
menunjukkan equipment yang kaupakai di bagian kanan. Di bagian bawah menu ada
tombol «LOG OUT» yang digunakan untuk keluar dari dunia ini.
Ketika aku kembali melihat ke
arah list yang menunjukkan items yang kudapat setelah beberapa jam bertarung,
Klein mulai berbicara dengan nada yang tinggi tidak seperti biasanya.
“Benar-benar tidak ada. Coba
lihat Rizuka.”
“Sudah kubilang tidak mungkin
tidak ada di sana…” aku bergumam sambil menghela napas lalu mengklik ke tombol
di bagian kiri atas untuk kembali ke menu screen.
Inventory window dibagian kanan
menutup dan kembali ke menu utama. Di sebelah kiri dari gambar karakter, yang
masih memiliki banyak tempat kosong, tersusun tombol-tombol.
Aku menggerakkan tanganku ke
bawah seperti biasa dan—
Tubuhku membatu.
Tidak ada.
Seperti yang dikatakan Kuro,
tombol yang ada di sana ketika beta test—tidak, bahkan tombol yang masih ada
ketika aku masuk ke dalam game—telah menghilang.
Aku memandangi tempat kosong itu
selama beberapa detik, lalu melihat ke seluruh bagian menu, memastikan kalau
itu bukan dipindahkan saja posisinya. Kuro melihatku dengan kata “Benar, 'kan?”
tertulis diwajahnya.
“…tidak ada, 'kan?”
“Ya, tidak ada.”
Aku mengangguk, meski itu agak
menjengkelkan untuk langsung setuju dengannya. Kuro tersenyum dan mulai
mengusap-usap dagunya yang tebal.
“Yah, ini kan hari pertama, jadi bug seperti itu mungkin terjadi.
Seharusnya sekarang para GM sedang kewalahan dengan jumlah pesan yang membanjiri
pesan masuk-nya,” Kuro berkata dengan tenang.
“Apakah tidak apa-apa kalau kau
hanya berdiri saja seperti itu? Kau bilang kalau kau memesan pizza, ya 'kan?”
Aku sedikit menggodanya.
“Ah, benar juga!”
Aku tersenyum saat melihatnya
kepanikan, dan membuka matanya lebar-lebar.
Aku melempar beberapa item yang
tidak kuperlukan dari inventory, yang telah menjadi merah karena terlalu banyak
item di dalamnya, lalu aku berjalan kearah Kuro.
“Argh! pizza ikan teri dan sosis
metega ku-!”
“Kenapa kau tidak coba
menghubungi GM? Mereka mungkin bisa memutuskan hubungan servermu dari sana.”
“Sudah kucoba, tapi tidak ada
respon sama sekali. Ini sudah pukul 5:25! Hei, Rizuka! Apa tidak ada cara lain
untuk keluar?” Setelah mendengarkan apa yang Kuro katakan sambil melambaikan
tangannya—
Wajahku menjadi kaku. entah
kenapa aku merasa takut dan merinding di punggungku.
“Coba kupikir… Untuk keluar…” Aku
berbicara sambil berpikir.
Untuk keluar dari virtual reality
ini dan kembali ke kamarku, aku harus membuka menu, menekan tombol 'Keluar dari
game' dan menekan 'Ya' di jendela yang muncul di sebelah kanan. Itu sangat
simpel. Tapi-pada saat yang sama, selain prosedur itu, aku tidak tahu cara lain
untuk keluar dari game.
Aku melihat ke wajah Kuro, yang
berada sedikit lebih tinggi dari wajahku dan menggelengkan kepalaku.
“Tidak… Tidak ada. Jika kau mau
keluar dari game, kau harus menggunakan tombol di menu, selain itu tidak ada
cara lain.”
“Itu mustahil… Pasti ada suatu
cara!”
Kuro tiba-tiba mulai berteriak
seperti kalau dia tidak mempercayai kata-kataku.
“Kembali! keluar dari game!
Kabur! Terbang!”
Tapi tentu saja, tidak ada yang
terjadi. Di AQWO tidak ada perintah suara seperti itu.
Setelah dia berteriak ini dan itu
dan bahkan melompat, Aku berbicara padanya.
“Kuro, itu sia-sia. Bahkan di
manual tidak tertulis apa pun tentang pemutusan akses darurat.”
“Tapi… Ini gila! Bahkan jika ini
adalah bug, aku bahkan
tidak bisa kembali ke kamarku semauku!” Kuro berteriak dengan ekspresi bingung
diwajahnya.
Aku sangat setuju dengannya.
Ini mustahil. Benar-benar tidak
masuk akal. Tapi ini kebenaran yang tidak bisa dibantah.
“Hei… Apa-apaan ini? Ini
benar-benar aneh. Sekarang, kita tidak bisa keluar dari game ini!"
Kuro tertawa menyedihkan dan
mulai berbicara lagi.
“Tunggu, kita cukup mematikannya
saja. Atau lepas saja «Gear»-nya.”
Ketika aku melihat Klein
menggerakkan tangannya, yang bergerak seperti sedang melepas sebuah helm yang
tidak terlihat, aku merasa kalau kegelisahanku kembali.
“Itu mustahil, dua-duanya.
Sekarang ini kita tidak bisa menggerakkan tubuh asli kita. «Never Gear»-nya
menerima semua sinyal yand dikirim dari otak kita dan mengirimkannya kemari…”
Aku memegang bagian belakang kepalaku. “… dan menyampaikannya ke tubuh kita di
sini.”
Kuro perlahan-lahan menutup
mulutnya dan menurunkan tangannya.
Kami berdua berdiri tanpa
berbicara selama beberapa saat, saling berpikir.
Untuk mendapat keadaan Full Dive,
Never Gear memblokir semua sinyal yang dikirim oleh otak kita dan
mengirimkannya kemari supaya kita bisa mengontrol tubuh kita di dunia ini.
Jadi, berapa liarpun aku menggerakkan tubuhku di sini, tubuhku di dunia nyata,
yang sedang terbaring di kasur sekarang tidak akan bergerak sedikit pun;
memastikan kalau aku tidak akan membenturkan kepalaku ke sisi meja atau apa
pun.
Tapi karena fungsi ini, kita
tidak bisa bebas keluar dari kondisi Full Dive.
“…jadi, selain bug-nya diperbaiki atau
seseorang dari dunia nyata melepaskan Gear-nya, kita hanya bisa menunggu?” Kuro
bergumam, terlihat sedikit pusing.
Aku diam-diam setuju dengannya.
“Tapi aku tinggal sendiri. Kau?”
Aku sedikit ragu-ragu tapi aku
mengatakan yang sebenarnya padanya.
“…Aku tinggal dengan ibuku dan
adik perempuanku, bertiga. Kupikir aku pasti akan dipaksa keluar dari kondisi
Dive jika aku tidak keluar saat makan malam…”
“Apa? Be-Berapa umur adik
perempuanmu?”
Kuro tiba-tiba melihat ke arahku,
matanya bercahaya. Aku mendorong kepalanya menjauh.
“Kau agak tenang sekarang, ya
'kan? Dia anggota klub olahraga dan membenci game, jadi dia tidak mungkin bisa
akrab dengan orang seperti kita… Tapi daripada itu,” aku membentangkan tangan
kananku untuk mengganti jalan pembicaraannya. “Apa kau tidak berpikir kalau ini
aneh?"
“Tentu saja. Ini kan bug.”
“Bukan, maksudku bukan hanya bug saja, ini adalah bug «mustahil keluar dari game», ini
masalah yang cukup besar yang bisa membuat pengoperasian game itu sendiri
terganggu. Seperti pizza-mu di dunia nyata yang semakin mendingin setiap detik,
ini benar-benar merugikan keuangan, ya 'kan?"
“…sebuah pizza dingin… Itu sama
saja dengan natto keras!”
Aku mengabaikan komentar yang
tidak berarti itu dan melanjutkan pembicaraan.
“Jika sudah seperti ini,
seharusnya operator akan segera mematikan server nya dan membuat semua pemain
keluar dari game apa pun yang terjadi. Tapi… Ini sudah lebih dari 15 menit
sejak kita menyadari hal ini dan belum ada satu pun pesan dari sistem yang
muncul, meski kita abaikan penghentian server-nya, ini sudah terlalu
aneh."
“Hmm, sekarang kupikir-pikir kau
benar juga."
Sekarang Kuro mulai mengusap
dagunya dengan ekspresi serius diwajahnya. Di bagian bawah bandanna yang
menutupi dahinya, pengetahuan terpancar di dalam matanya.
Aku mulai mendengarkan Kuro,
merasa sedikit aneh berbicara dengan orang yang belum pernah kutemui jika aku
menghapus akun milikku.
“…perusahaan yang membuat AQWO,
«Elemental» adalah perusahaan yang terkenal karena sangat memperhatikan penggunanya,
ya 'kan? Itulah kenapa orang-orang berebutan membeli kasetnya meskipun ini
adalah game online pertamanya. Semua itu akan sia-sia jika mereka membuat
kesalahan seperti ini di hari pertamanya."
“Aku setuju, dan AQWO adalah
VRMMORPG pertama. Jika ada sesuatu yang salah sekarang, mereka pasti akan
segera memperbaikinya."
Kuro dan aku melihat wajah
virtual masing-masing dan menghela napas.
Musim di Devilcraft dibuat
berdasarkan kenyataan, jadi sekarang di sini juga sedang memasuki musim gugur.
Aku melihat ke atas, menghirup
udara virtual, menarik napas dingin yang dalam.
Sekitar 100 meter di atas aku
bisa melihat atap berwarna ungu muda yang merupakan bagian bawah dari lantai 2.
Sambil mengikuti permukaannya yang tidak rata, aku melihat menara
besar—«labirin» yang merupakan jalan menuju ke lantai atas, dan melihatnya
terhubung dengan jalan keluarnya.
Saat itu jam 5:30 lewat dan garis
kecil di langit yang terlihat berwarna merah seperti matahari terbenam. Meski
berada di situasi seperti ini, melihat padang rumput luas yang berwarna
keemasan karena memantulkan sinar matahari sore, aku menemukan diriku tidak
bisa berbicara di depan keindahan dunia virtual ini
Tepat sesudahnya.
Dunia berubah selamanya.
PART 3
Ding, ding, Sebuah suara seperti
bel , atau mungkin sebuah bel peringatan, terdengar dengan keras, membuatku dan
Kuro melompat karena kaget.
“Ah…”
“Apa ini!?”
Kamu berteriak bersamaan dan
melihat satu sama lain, kedua mata kami terbuka lebar.
Kuro dan aku diselimuti oleh
pilar cahaya berwarna biru terang. Di balik cahaya biru itu, padang rumput di
penglihatanku perlahan-lahan menjadi kabur.
Aku pernah mengalami ini beberapa
kali selama beta testing. Ini adalah «Teleport» yang dapat dilakukan dengan
menggunakan sebuah item. Aku tidak punya item yang dibutuhkan dan aku juga
tidak meneriakkan perintah yang seharusnya diucapkan. Apakah operator nya
melakukan teleport paksa? Jika begitu, kenapa mereka tidak memberitahu kami?
Ketika aku sedang berpikir, cahaya
di sekelilingku bergetar semakin keras dan kegelapan menyelimutiku.
Saat cahaya birunya memudar,
sekelilingku menjadi jelas lagi. Tapi, ini bukan padang rumput yang memantulkan
cahaya matahari terbenam lagi.
Sebuah jalan besar yang terbuat
dari batu. Jalan abad pertengahan yang dikelilingi oleh lampu jalan dan istana
besar yang memancarkan sinar gelap terlihat di kejauhan.
Ini adalah starting point,
central plaza dari «Kota Awal».
Aku melihat kearah Kuro yang
membuka mulutnya lebar-lebar disampingku. Lalu kearah kerumunan orang yang
berada di sekeliling kami.
Melihat ke sekumpulan orang yang
sangat cantik dan tampan dengan equipment dan warna rambut yang bervariasi,
tidak salah lagi mereka adalah player lain sepertiku. Ada sekitar berapa ribu
hingga sepuluh ribu orang disini. Sepertinya semua orang yang sedang log on
saat ini dipaksa teleport ke central plaza.
Selama beberapa detik, semua
orang hanya melihat sekeliling tanpa mengatakan apapun.
Lalu ada beberapa bisikan dan
kata-kata yang terdengar disana-sini; perlahan-lahan semakin berisik.
“Apa yang terjadi?"
“Bisakah kita log out sekarang?”
“Bisakah mereka memperbaikinya
lebih cepat?”
Komentar-komentar seperti itu
bisa terdengar dari waktu ke waktu.
Ketika para player mulai
kehilangan kesabaran, teriakan-teriakan seperti “Apa ini bercanda?” dan “Keluar
kalian, GM!” dapat terdengar.
Lalu tiba-tiba.
Seseorang berteriak dengan suara
yang lebih keras dari suara-suara itu.
“Ah…lihat keatas!”
Kuro dan aku hampir secara
otomatis mengarahkan mata kami keatas dan melihat. Ada pemandangan aneh yang
menyambut kami.
Di permukaan bagian bawah lantai
dua, seratus meter diatas udara, terdapat tanda silang berwarna merah.
Ketika aku melihat dengan lebih
jelas, aku bisa melihat kalau itu adalah dua kata yang saling bersilangan.
Kata-kata yang satunya adalah [Warning] dan yang satu lagi adalah [System
Announcement].
Aku terkejut selama sesaat tapi
kemudian berpikir 'Oh, operatornya mulai menginformasikan kita sekarang', dan
mengendurkan bahuku sedikit. Pembicaraan di plaza menjadi sunyi dan kau bisa
merasakan kalau semua orang menunggu kata selanjutnya yang akan keluar.
Tapi, apa yang terjadi
selanjutnya tidak seperti apa yang kubayangkan.
Dari tengah pola itu, sebuah
cairan yang seperti darah mulai mengalir turun perlahan-lahan. Cairan itu turun
dengan kecepatan pelan seperti menggambarkan sebarapa kentalannya cairan itu;
Tapi cairan itu tidak jatuh kebawah, malah mulai berubah ke bentuk yang lain.
Apa yang muncul adalah pria
setinggi 20 meter yang mengenakan jubah berkerudung yang menutupi tubuhnya.
Tidak, itu tidak terlalu tepat.
Dari tempat kami melihat, kami bisa dengan mudah melihat kedalam
tudungnya-tidak ada wajah disana. Benar-benar kosong. Kami bisa melihat dengan
jelas bagian dalam bajunya dan sulaman hijau didalam tudungnya. Didalam
jubahnya pun sama, yang bisa kami lihat hanyalah bayangannya saja.
Aku pernah melihat jubah itu
sebelumnya. Itu adalah baju yang selalu digunakan pegawai Elemental yang
bekerja sebagai GM. Tapi semua GM pria mempunyai wajah seperti seorang penyihir
tua dengan janggut panjang, dan Yang wanita mempunyai avatar wanita seksi.
Mereka mungkin menggunakan jubah itu karena kurangnya waktu untuk menyiapkan
avatar yang layak, tapi tempat kosong dibalik tudungnya memberikanku perasaan
gelisah yang tidak bisa dijelaskan.
Para player di sekelilingku pasti
merasakan hal yang sama.
“Apa itu GM?”
“Kenapa dia tidak punya wajah?”
Banyak bisikan seperti itu yang
bisa terdengar.
Lalu tangan kanan dari jubah
besar itu bergerak seperti untuk mendiamkan mereka.
Sebuah sarung tangan putih bersih
muncul dari lipatan panjang lengan bajunya. Tapi lengan baju itu, seperti
bagian lain dari jubahnya, tidak terhubung dengan bagian tubuh manapun.
Lalu tangan kirinya
perlahan-lahan terangkat keatas juga. Kemudian dengan dua sarung tangan kosong
yang terbentang di depan 10 ribu player, orang tak berwajah itu mulai membuka
mulutnya—tidak, terasa seakan-akan dia melakukannya. Kemudian sebuah suara pria
yang tenang dan pelan terdengar bergema dari ketinggian.
‘Para Player sekalian, aku menyambut kalian semua kedalam dunia ku'
Aku tidak bisa segera mengerti.
«Duniaku»? Jika orang berjubah
merah itu adalah seorang GM, maka dia memang punya kekuatan seperti dewa di
dunia ini, yang mengizinkannya mengubah dunia ini sesukanya, tapi kenapa dia
mengatakannya sekarang?
Kuro dan aku melihat satu sama
lain kebingungan. Orang berjubah merah tanpa nama itu menurunkan kedua
tangannya dan melanjutkan perkataannya.
‘Namaku adalah Sanada Akihiko. Sekarang ini, akulah orang satu-satunya yang bisa mengendalikan dunia ini.’
“Apa…!?”
Avatarku menjadi kaku karena
shock, dan tenggorokanku, dan mungkin leherku di dunia nyata juga, berhenti
bekerja selama beberapa detik.
Sanada—Akihiko!!
Aku tahu nama itu. Tidak mungkin
aku tidak tahu.
Orang ini adalah seorang game
designer dan seorang genius di bidang quantum physics, orang yang membuat
Elemental, yang beberapa tahun lalu hanyalah satu dari banyak perusahaan kecil
lainnya, menjadi salah satu perusahaan yang bisa mengatur perekonomian dunia.
Dia merupakan direktur
pengembangan AQWO dan pada saat yang sama, pendesain Never Gear.
Sebagai salah seorang hardcore
gamer, aku sangat menghormati Sanada. Aku membeli seluruh majalah yang
menceritakan tentang dia dan telah membaca beberapa wawancaranya hingga aku
hampir hapal isinya. Aku hampir bisa membayangkan dia mengenakan baju putihnya
yang selalu dia gunakan hanya dengan mendengar suaranya.
Tapi dia selalu berdiri dibalik
layar, menolak tampil di depan media; dia tidak pernah menjadi GM
sebelumnya-jadi kenapa dia melakukan sesuatu seperti ini?
Aku berusaha berpikir lagi untuk
mengerti situasinya. Tapi kata-kata yang keluar dari orang itu terdengar
seperti ejekan bagiku yang sedang berusaha untuk mengerti.
‘Kupikir hampir semua orang telah
menyadari kalau tombol logout telah menghilang dari main menu. Itu bukanlah
bug, itu adalah bagian dari sistem «Adventure Quest World Online».’
“Bagian dari…sistemnya?”
Kuro bergumam, suaranya
terbata-bata. Pengumumannya berlanjut dengan suara yang pelan seperti untuk
menyembunyikan suara aslinya.
‘Hingga kalian mencapai ke lantai
teratas dari kota tua ini, kalian tidak bisa log out.’
Kota tua ini? Awalnya aku tidak
mengerti kata tersebut. Tidak ada kota tua di «Kota Awal».
Lalu kata-kata selanjutnya yang
di katakan Sanada menghilangkan semua kebingunganku.
‘…selain itu, dilarang
menghentikan atau melepas Never Gear dari luar. Jika hal-hal seperti itu
dilakukan…’
Sunyi.
Kesunyian diantara sepuluh ribu
orang ini sangat menekan. Kata-kata selanjutnya keluar secara perlahan-lahan.
‘Pengirim sinyal di Never Gear mu
akan mengirimkan sebuah gelombang elektromagnetik yang kuat, menghancurkan
otakmu, memanggang kepalamu dan menghentikan semua fungsi tubuhmu.’
Kuro dan aku melihat satu sama
lain dalam keadaan shock selama beberapa detik.
Pikiranku seakan-akan menolak
untuk mempercayai apa yang baru saja kudengar. Tapi pernyataan singkat yang
dikatakan Sanada menusuk ke pikiranku.
Menghancurkan otak kami.
Dengan kata lain, membunuh kami.
Pengguna manapun yang mematikan
Never Gear atau membuka kunci pengaman dan melepaskannya akan terbunuh. Itulah
apa yang baru saja Sanada maksudkan.
Orang-orang di keramaian mulai
bergumam, tapi tidak ada satupun yang berteriak atau panik. Tidak ada
seorangpun, sama halnya denganku, yang bisa mengerti ataupun memprotesnya.
Kuro mengangkat tangannya
perlahan-lahan dan mencoba untuk memegang head gear yang seharusnya berada di
sana di dunia nyata. Ketika dia melakukannya, dia mengeluarkan tawa kecil dan
mulai berbicara.
“Haha…Apa yang dia katakan? Pria
itu, apa dia gila? Omongannya tidak masuk akal. Never Gear… Ini hanya game.
Menghancurkan otak kita…Bagaimana dia bisa melakukannya? Benar kan, Rizuka?”
Suaranya terbata-bata di bagian
akhir. Kuro menatapku dengan serius, tapi aku tidak bisa mengangguk setuju.
Pengirim sinyal di dalam helm Never
Gear mengirimkan gelombang elektronik untuk mengirimkan sinyal virtual ke dalam
otak.
Mereka menyebut ini sebagai ultra
teknologi terbaru, tapi teori dasar penggunaannya sama dengan barang elektronik
yang sudah ada sejak 40 tahun yang lalu di jepang, microwave.
Jika listriknya mencukupi,
mungkin saja Nerve Gear nya bisa menggetarkan partikel air yang ada di dalam
otak kami dan membakarnya dengan panas yang dihasilkan. Tapi…
“…secara teori, itu mungkin, tapi
dia pasti hanya menggertak. Karena jika kita mencabut kabel Nerve Gear, tidak
mungkin itu dapat mengirimkan gelombang sekuat itu. Kecuali ada sejenis baterai
yang punya kapasitas penyimpanan yang cukup besar…didalam…”
Kuro mungkin sudah bisa mengira
alasan kenapa aku berhenti berbicara.
“Ada…satu,” katanya, kata-katanya
hampir seperti sebuah teriakan dengan ekspresi kosong diwajahnya. “30% dari
berat gearnya berasal dari baterainya. Tapi…itu benar-benar gila! Bagaimana
jika tiba-tiba terjadi mati listrik atau sejenisnya!?”
Sanada mulai menjelaskan, seperti
dia telah mendengar apa yang Kuro teriakkan.
‘Untuk lebih jelasnya, pemindahan
sumber tenaga listrik untuk 10 menit, terputus dari server lebih dari dua jam,
atau pencobaan untuk membuka kunci, mematikan, atau merusak Never Gear. Jika
salah satu dari kondisi itu terpenuhi, proses penghancuran otak akan dimulai.
Syarat-syarat itu telah diberitahukan kepada pemerintah dan kepada masyarakat
lewat seluruh media di dunia luar. Untuk catatan, sudah ada beberapa kasus
dimana ada keluarga atau teman yang mengabaikan peringatannya dan mencoba
dengan paksa melepaskan Never Gear. Hasilnya—’
Kata-katanya berhenti sesaat.
‘—sayangnya 215 player sudah
keluar dari dunia ini, dan dunia nyata untuk selamanya.’
Sebuah teriakan yang panjang dan
tipis bisa terdengar. Tapi sebagian besar dari player masih belum bisa
mempercayai atau menolak untuk mempercayai apa yang baru saja dikatakan dan
hanya berdiri saja dengan wajah yang pucat dan mulut yang terbuka atau senyuman
miris di wajah mereka.
Pikiranku mencoba menolak
mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Sanada. Tapi tubuhku
mengkhianatinya dan lututku mulai bergetar dengan kuat.
Aku tersandung kebelakang
beberapa langkah dengan lututku yang lemah dan berhasil mencegah diriku jatuh.
Tapi Kuro terjatuh kebelakang dengan wajah tanpa ekspresi.
215 player telah meninggalkan
dunia ini.
Kalimat itu terus menerus
berulang di dalam kepalaku.
Jika yang dikatakan Kayaba
benar-lebih dari 200 orang telah meninggal saat ini?
Beberapa dari mereka mungkin saja
ada beta tester sepertiku. Aku mungkin telah mengenal beberapa dari nama
karakter dan avatar mereka. Orang-orang itu telah terbakar otaknya dan…mati,
apa ini yang Sanada telah katakan?
“…dak percaya… Aku tidak
percaya.”
Kuro, yang masih duduk di lantai,
mulai berbicara dengan suara yang kaku.
“Dia hanya mencoba menakuti kita.
Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu? Berhenti bercanda dan
biarkan kami keluar dari sini. Kami tidak punya waktu untuk mengikuti upacara
pembukaan mu yang gila ini. Yeah…ini semua hanyalah sebuah event. Sebuah pertunjukan
pembuka, kan?”
Didalam kepalaku, aku meneriakkan
hal yang sama.
Tapi seperti untuk menghilangkan
harapan kami, suara Sanada yang seperti seorang pebisnis meneruskan
penjelasannya.
‘Para Player, kalian tidak perlu
mengkhawatirkan tubuh yang kalian tinggalkan di luar sana. Saat ini, seluruh
media TV, radio, dan internet sedang melaporkan situasi ini berulang kali,
termasuk kenyataan bahwa sudah ada beberapa korban jiwa. Kemungkinan Never Gear
kalian terlepas sudah menghilang. Sebentar lagi, menggunakan dua jam yang
kuberikan, kalian semua akan di pindahkan ke rumah sakit atau tempat-tempat
seperti itu untuk mendapatkan perawatan terbaik. Jadi kalian bisa tenang…dan
berkonsentrasi untuk menaklukkan game nya.’
“Apa…?”
Lalu, akhirnya mulutku mulai
berteriak dengan keras.
“Apa yang kau katakan!?
Menaklukkan game nya!? Kau ingin kami bermain di situasi seperti ini!?”
Aku terus berteriak, menatap
kearah jubah merah yang meresap kedalam permukaan dasar lantai atas.
“Ini bukan game lagi!!”
Lalu Sanada Akihiko mulai
mengumumkan perlahan dengan suaranya yang monoton.
‘Tapi aku ingin kalian semua
mengerti bahwa «Adventure Quest World Online» bukanlah sebuah game biasa lagi.
Ini adalah dunia nyata yang kedua. …mulai sekarang, segala jenis revival
didalam game tidak akan bekerja lagi. Disaat HP mu mencapai angka 0, avatar mu
akan menghilang selamanya, dan pada saat yang sama—’
Aku bisa menebak apa yang akan
dia katakan dengan sangat jelas.
‘Otakmu akan dihancurkan oleh Never
Gear.’
Tiba-tiba, rasa ingin tertawa
menggelembung di dasar perutku. Aku menahannya.
Sebuah garis horizontal panjang
bersinar di bagian kiri atas penglihatanku. Ketika aku memfokuskan pandanganku
kearahnya, angka 343/343 dapat terlihat.
Hit points. Nyawaku.
Saat itu mencapai nol, Aku akan
mati—sinyal gelombang elektromagnetik akan membakar otakku, membunuhku seketika.
Inilah yang telah Sanada katakan.
Tidak salah lagi ini adalah
sebuah game, sebuah game dengan nyawamu sebagai taruhannya. Dengan kata lain,
sebuah game kematian.
Aku pasti telah mati setidaknya
100 kali dalam dua bulan beta testing. Aku direspawned dengan sedikit senyum
malu di wajahku di bagian utara dari main plaza, di «Black Iron Shop», dan
berlari ke arah tempat perburuan lagi.
Itulah RPG, sebuah game dimana
kau berkali-kali mati dan belajar dan menaikkan level. Tapi sekarang kau tidak
bisa? Sekali kau mati, kau akan kehilangan nyawamu? Dan sebagai tambahan—kau
bahkan tidak bisa berhenti bermain?
“…tidak mungkin,” Aku berkata
dengan pelan.
Siapa yang mau pergi ke tempat
perburuan dengan kondisi seperti itu? Tentu saja semua orang hanya akan menetap
di dalam kota di tempat yang aman.
Lalu seperti membaca pikiran ku,
dan mungkin pikiran semua player lain, pengumuman berikutnya diberikan.
‘Para player, hanya ada satu cara
untuk keluar dari game ini, seperti yang kubilang sebelumnya, kalian harus memcapai
lantai teratas dari Devilcraft, lantai keseratus dan mengalahkan boss terakhir
yang ada disana. Semua player yang masih hidup pada saat itu akan secara
otomatis keluar dari game ini. Aku sudah mengatakan pada kalian semua yang
perlu kukatakan.’
Sepuluh ribu orang player berdiri
terdiam.
Itulah saat dimana aku menyadari
apa yang dimaksud Kayaba ketika dia mengatakan «capailah lantai teratas dari
kota tua ini». Kota tua ini—berarti tempat luas yang memenjarakan seluruh
player di lantai pertama dan 99 lantai lainnya yang ada diatas, bertumpuk
hingga ke langit dan melayang diatasnya. Dia membicarakan Devilcraft itu
sendiri.
“Menaklukan…seluruh 100 lantai!?”
Kuro tiba-tiba berteriak. Dia cepat-cepat berdiri dan mengangkat tinjunya ke
atas langit.
“Bagaimana mungkin kami
melakukannya? Kudengar menaiki satu lantai saja sangat sulit selama beta
testing!”
Itu benar. Selama dua bulan beta
testing, seribu orang player hanya bisa mencapai lantai keenam. Bahkan jika ada
sepuluh ribu orang yang log in, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk
melewati 100 lantai?
Kebanyakan player yang dipaksa
berada disini bertanya-tanya akan pertanyaan-yang tidak ada jawabannya ini.
Kesunyian menegangkan ini
perlahan-lahan menunjukan gumaman pelan. Tapi tidak ada tanda-tanda dari
ketakutan dan rasa putus asa.
Sebagian orang disini masih
bingung apakah ini benar-benar «bahaya nyata» atau sebuah «event pembukaan yang
sangat dibuat-buat». Semua yang dikatakan Kayaba terlalu menakutkan hingga
terasa tidak nyata.
Aku mengadahkan kepalaku lagi
untuk melihat ke arahnya dan moncoba untuk memaksakan pikiranku menerima
situasi ini.
Aku tidak bisa log out lagi,
selamanya. Aku juga tidak bisa kembali ke kamarku dan kehidupanku. Satu-satunya
cara untuk bisa kembali adalah jika seseorang mengalahkan boss di lantai
tertinggi dari kastil terbang ini. Jika HP mencapai angka nol meski sekali saja
sebelum itu—aku akan mati. Aku akan benar-benar mati dan akan menghilang
selamanya.
Tapi...
Betapapun aku mencoba menerima
kenyataan, ini mustahil. Hanya sekitar lima atau enam jam lalu aku masih makan
makanan buatan ibuku, berbicara sedikit dengan saudara perempuanku, dan
berjalan didalam rumahku.
Sekarang aku tidak bisa kembali
ke tempat itu lagi? Dan saat ini, ini adalah dunia nyata yang sebenarnya?
Lalu, ketika jubah merah yang
sejak tadi berada di depan kami mengibaskan sarung tangan kanannya dan mulai
berbicara dengan suara yang tidak memiliki emosi sama sekali.
‘Kalau begitu biar kutunjukkan
bukti kalau ini adalah kenyataan. Di dalam inventorimu akan ada hadiah dariku.
Ambillah.’
Segera setelah mendengarnya, aku
menekan jari telunjuk ku dan jempol ku bersamaan dan menarik nya kebawah. Semua
player melakukan hal yang sama dan plaza dipenuhi oleh suara gemerincing bel.
Aku menekan tombol item di menu
yang baru saja muncul dan ada item disana, di bagian teratas dari daftar
barang-barangku.
Nama itemnya adalah—«Hand Mirror»
Kenapa dia memberi kami benda
ini? Sambil berpikir aku menyentuh nama bendanya dan menekan tombol "buat
benda menjadi object". Segera setelahnya terdengar sebuah sound effect dan
sebuah kaca persegi berukuran kecil muncul.
Aku memegangnya dengan ragu-ragu
tapi tidak ada apapun yang terjadi. Apa yang muncul di dalam cermin adalah wajah
dari avatar yang kubuat dengan susah payah.
Aku memiringkan kepalaku dan
melihat ke arah Kuro. Dia juga melihat ke cermin dengan wajah yang tanpa
ekspresi.
—Lalu.
Tiba-tiba Kuro dan avatar-avatar
di sekeliling kami diselimuti oleh cahaya putih. Segera setelah melihatnya, aku
juga dikelilingi cahaya yang sama, dan apa yang bisa kulihat hanyalah warna
putih.
Sekitar 2, 3 detik kemudian,
sekelilingku menjadi jelas lagi seperti mereka baru saja…
Tidak.
Wajah di depanku bukanlah wajah
yang kukenal.
Armor yang terbuat dari besi yang
dijahit, bandana, dan rambut merah berdurinya sama. Tapi wajahnya berubah ke
bentuk yang lain. Matanya yang tajam berubah menjadi cekung dan berwarna lebih
terang. Hidungnya yang mancung menjadi sedikit pesek, dan muncul janggut di pipi
dan dagunya. Jika avatarnya adalah seorang samurai yang masih muda dan ceria,
maka yang ini adalah seorang warrior yang telah kalah—atau mungkin seorang
perampok.
Aku lupa akan situasinya selama
beberapa saat dan berkata.
“Siapa…kau?”
Kata yang sama terdengar dari
mulut orang yang berada didepanku.
“Hey…siapa kau?”
Lalu tiba-tiba menyadari apa guna
hadiah Sanada, «Hand Mirror» yang sedang kupegang.
Aku buru-buru mengangkat kacanya,
dan melihat muka yang terpantul.
Rambut hitam yang rapi diatas
kepala, sepasang mata indah yang kelihatan lemah dapat terlihat dibalik rambut
yang panjang, dan wajah yang orang-orang bisa lihat dan menganggapku sebagai
wanita ketika aku pergi keluar dengan menggunakan pakaian bebas bersama saudara
perempuan ku.
Wajah tenang dari warrior «Rizuka»
yang baru beberapa detik yang lalu masih ada telah menghilang. Wajah yang
terpantul di cermin—
Adalah wajah asliku yang
susah-payah ku sembunyikan.
“Ah…wajahku…”
Kuro, yang juga sedang memandangi
cerminnya terjatuh kebelakang. Kami berdua melihat satu sama lain dan berteriak
disaat yang sama.
“Kau Kuro!?” “Kau Rizuka!?"
“Kau cantik sekali”
“Terimakasih” jawabku tersipu
malu”
Suara kami juga berubah, mungkin
pengubah suaranya berhenti bekerja. Tapi kami tidak punya waktu untuk
memikirkan hal seperti itu.
Cerminnya terjatuh dari tangan
kami dan mengenai lantai, dan hancur dengan suara pecahan yang agak keras.
Ketika aku melihat sekeliling
lagi, kerumunannya sudah tidak lagi dipenuhi oleh orang yang terlihat seperti
karakter dari game-game fantasi. Sekumpulan anak muda normal sudah menggantikan
tempat mereka. Ini seperti melihat sekumpulan orang di dunia nyata di sebuah
perkumpulan game yang menggunakan kostum seperti armor. Bahkan perbedaan jumlah
laki-laki dan perempuannya berubah drastis.
Bagaimana ini mungkin terjadi?
Kuro dan aku, dan mungkin semua player di sekitar kami telah berubah dari
avatar yang mereka buat dari awal, menjadi diri asli kami. Tentu saja,
teksturnya sendiri masih terlihat seperti model poligon dan masih sedikit terasa
aneh, tapi yang paling menakutkan adalah keakuratannya. Seakan-akan gearnya
punya sebuah full body scanner yang terpasang.
—Scan.
“…ah, benar!” Aku melihat kearah
Kuro dan memaksakan suaraku untuk keluar.
“Ada pengirim sinyal di Nerve
Gear yang menutupi seluruh kepala kita. Jadi itu tidak hanya bisa melihat cara
berpikir otak kita, tapi wajah kita juga…”
“Ta-Tapi, bagaimana bisa mesin
itu tahu bagaimana bentuk tubuh kita terlihat… Seperti seberapa tinggi kita?”
Kuro berkata sambil diam-diam
melihat ke sekitar kami.
Rata-rata tinggi dari player,
yang sedang melihat diri mereka sendiri dan orang lain dengan berbagai
ekspresi, sangat terlihat berkurang setelah «perubahan» tadi. Aku—dan mungkin
Kuro juga-telah mensetting tinggi kami agar sesuai dengan tinggi asliku di
dunia nyata untuk menghindari tinggi yang berlebihan yang bisa menghambat
gerakanku, tapi hampir semua player sepertinya membuat diri mereka lebih tinggi
sekitar sepuluh hingga dua puluh cm. Bukan hanya itu, bentuk dan lebar tubuh
para player juga menjadi lebih besar sekarang. Tidak mungkin Nerve Gear bisa
mengetahui semua ini.
Tapi Kuro menjawab pertanyaan ini.
“Ah…tunggu. Aku baru membeli
Never Gear kemarin jadi aku masih ingat, ada bagian dari set-up…apa yah
disebutnya, pengukuran? Yah apapun itu, saat itu kau disuruh menyentuhkan nya
ke bagian tubuhmu di sana-sini, mungkin itu…?”
“Ah, benar……pasti itu…”
Pengukuran adalah saat dimana
Never Gear mengukur «seberapa jauh tanganmu bisa menggapai tubuhmu». Ini
dilakukan untuk menciptakan perasaan yang lebih nyata didalam game. Jadi bisa
dibilang kalau Never Gear punya data mengenai bentuk asli tubuh kita yang
tersimpan di dalamnya.
Itu mungkin untuk membuat semua
avatar para player menjadi replika yang sama persis dengan diri mereka. Tujuan
dari semua ini juga menjadi jelas sekarang.
“…kenyataan,” aku bergumam. “Dia
bilang ini adalah kenyataan . Avatar yang terbuat dari poligon ini…dan HP kita
adalah tubuh dan kehidupan asli kita. Untuk membuat kita percaya kalau dia
menciptakan tiruan sempurna dari kita…”
“Tapi…tapi kau tahu Rizuka.”
Kuro menggaruk kepalanya dengan
kasar dan matanya memantulkan sinar saat dia berteriak.
“Kenapa? Kenapa dia melakukan hal
seperti ini…?”
Aku tidak menjawabnya dan
menunjuk keatas.
“Tunggu saja. Mungkin dia akan
menjawab pertanyaan itu sebentar lagi.”
Sanada memenuhi harapanku.
Beberapa detik kemudian, sebuah suara yang terdengar serius, terdengar dari
langit yang berwarna merah darah.
‘Kalian pasti heran dan berpikir
‘kenapa’. Kenapa aku-pencipta dari Never Gear dan AQWO, Sanada
Akihiko-melakukan sesuatu yang seperti ini? Apakah ini sejenis serangan
teroris? Apakah dia melakukan ini untuk meminta uang tebusan untuk membebaskan
kami?’
Itulah saat ketika suara Sanada,
yang hingga sekarang tanpa emosi, mulai menunjukkan sedikit emosi di dalamnya.
Tiba-tiba kata «empati» terpikir oleh ku, meski tidak mungkin itu terjadi.
‘Itu semua bukanlah alasanku
melakukan ini. Bukan hanya itu, searang bagiku, sudah tidak ada alasan untuk
melakukan ini. Alasannya karena…situasi ini sendiri lah yang merupakan alasanku
melakukan ini. Untuk membuat dan mengamati dunia ini adalah satu-satunya
alasanku membuat Never Gear dan AQWO. Dan sekarang, semuanya telah menjadi
nyata.’
Lalu setelah istirahat singkat,
suara Sanada sekarang menjadi tanpa emosi lagi dan berkata.
‘…sekarang aku telah
menyelesaikan official tutorial dari «Adventure Quest World Online». Para
Player—semoga kalian beruntung.’
Kata-kata terakhirnya diikuti
oleh suara bergema kecil.
Jubah besar itu mulai melayang
lebih tinggi tanpa bersuara, dan mulai menyelam, dari kepalanya, kedalam system
message yang menutupi langit seakan-akan meleleh.
Bahunya, kemudian dadanya, lalu
kedua tangan dan kakinya bergabung kedalam permukaan merah, dan terakhir sebuah
noda merah yang tersisa menghilang. Segera sesudahnya system message yang telah
menutupi langit menghilang dengan tiba-tiba seperti saat itu muncul.
Suara dari angin yang bertiup di
atas plaza dan BGM dari orkestra NPC terdengar perlahan di telinga kami.
Game telah kembali ke keadaan
normal, kecuali beberapa peraturan yang baru saja diubah.
Lalu—akhirnya.
Kerumunan dari 10 ribu player
tadi mulai memberikan reaksi yang wajar.
Dengan kata lain, ribuan suara
mulai terdengar dengan keras di seluruh plaza.
“Itu bercanda kan…? Apa-apaan
itu? Itu lelucon kan!?”
“Berhenti bercanda! Biarkan aku
keluar! Biarkan aku keluar dari sini!”
“Tidak! Kau tidak bisa melakukan
ini! Aku harus segera bertemu dengan seseorang sebentar lagi!”
“Aku tidak suka ini! Aku mau
pulang! Aku mau pulang!!!!!!”
Pekikan. Tuntutan. Teriakan.
Kutukan. Cacian, Permohonan. Dan jeritan.
Orang-orang yang telah berubah
dari game player menjadi tahanan dalam hitungan menit berlutut dan memegangi
kepala mereka, melambaikan tangan mereka, memegang satu sama lain atau mulai
menyumpahi dengan suara yang keras.
Di tengah-tengah semua suara ini,
anehnya pikiranku menjadi jernih lagi.
Ini, adalah kenyataan.
Apa yang dinyatakan Sanada
Akihiko semuanya benar. Kalau begitu, ini sudah pasti terjadi. Itu akan aneh
jika tidak. Kejeniusan adalah satu sisi dari Sanada yang membuatnya terlihat
menarik.
Sekarang aku tidak bisa kembali
ke dunia nyata selama beberapa waktu—mungkin beberapa bulan atau bahkan lebih.
Saat ini aku tidak bisa melihat maupun berbicara dengan ibu dan saudara
perempuanku. Mungkin saja aku tidak akan punya kesempatan itu lagi. Jika aku
mati disini—
Aku akan mati di dunia nyata.
Never Gear, yang pernah menjadi
sebuah mesin game, sekarang menjadi kunci penjara ini dan alat eksekusi yang
akan memanggang otakku.
Aku bernapas perlahan menarik dan
menghela, dan membuka mulutku.
“Kuro, kesini sebentar.”
Aku memegang tangannya, yang
terlihat lebih tua dariku di dunia nyata, dan keluar dari kerumunan yang
berisik itu.
Kami bisa keluar dari sana dengan
lumayan cepat, mungkin karena kami berada di dekat pojokan. kami memasuki salah
satu jalan yang menuju keluar plaza dan aku bersembunyi di bayangan dibalik
kereta kuda yang tidak bergerak.
“…Kuro,” Aku memanggil namanya
lagi.
Dia masih terlihat tidak percaya.
Aku melanjutkan pembicaraan, berusaha keras agar kata-kataku terdengar serius.
“Dengarkan aku. Aku akan keluar
dari kota ini dan menuju ke desa selanjutnya. Ikutlah bersamaku.”
Klein membuka matanya lebar-lebar
dibawah bandana nya. Aku terus berbicara dengan suara yang pelan dan memaksa
mulutku untuk mengeluarkan kata-kata.
“Jika apa yang dikatakannya
benar, untuk bertahan hidup di dunia ini kita harus memperkuat diri kita. Kau
tahu kalau kan kalau MMORPG adalah pertarungan untuk memperebutkan sumber daya
diantara player. Hanya orang-orang yang bisa mendapat uang dan experience yang
paling banyak lah yang bisa menjadi kuat. …orang-orang yang telah menyadari hal
ini akan memburu semua monster disekitar «Kota Awal». Kau harus menunggu sangat
lama hingga monsternya muncul lagi. Pergi ke desa sebelah sekarang akan lebih
baik. Aku tahu jalannya dan semua daerah berbahayanya, jadi aku bisa pergi
kesana, meski aku masih level satu.”
Mengingat yang sedang berbicara
adalah aku, tumben sekali aku mengatakan kata sebanyak itu, tapi meski begitu
dia tetap diam.
Lalu beberapa detik kemudian
wajahnya berkerut.
“Tapi…tapi kau tahu. Seperti yang
kubilang sebelumnya kalau aku mengantri begitu lama untuk membeli game ini
bersama dengan teman-temanku. Mereka pasti sudah log in dan seharusnya mereka
masih berada di plaza sekarang. Aku tidak bisa…pergi tanpa mereka.
“…”
Aku menghela napasku dan
menggigit bibirku.
Aku bisa mengerti semuanya dengan
jelas tentang apa yang ingin dikatakan oleh Kuro melalui pandangan gugupnya.
Dia—orang yang ceria dan mudah
akrab dengan orang lain, dan mungkin dia sangat memperhatikan teman-temannya.
Dia pasti berharap kalau aku bisa membawa semua teman-temannya bersama kami.
Tapi aku tidak bisa mengangguk.
Jika hanya dengan Kuro, aku bisa
mencapai ke desa berikutnya sambil menjaga kami dari monster-monster yang
agresif. Tapi jika ada dua orang lagi—tidak, jika ada satu orang lagi yang
ikut—mungkin akan berbahaya.
Jika seseorang mati dalam
perjalanan, mereka akan mati seperti yang dikatakan oleh Sanada.
Tanggung jawabnya pasti akan
tertuju padaku yang menyarankan untuk keluar dari «Kota Awal» yang aman dan
gagal untuk menjaga teman-temanku.
Aku tidak bisa menanggung beban
yang seberat itu. Itu mustahil.
Kuro terlihat menyadari
kekhawatiranku. Sebuah senyuman muncul di wajahnya yang sedikit berjanggut dan
dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak…Aku tidak bisa terus
bergantung padamu. Aku adalah seorang guild master di game yang biasa
kumainkan. Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja dengan teknik yang kau
ajarkan padaku hingga sekarang. Dan…masih ada kemungkinan kalau ini hanyalah
sebuah lelucon dan kita akan bisa log off. Jadi jangan khawatirkan kami dan
pergilah ke desa itu.”
“…”
Dengan mulutku yang tertutup, aku
dibingungkan oleh ketidak-tegasan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.
Lalu aku mengatakan kata yang
akan menggerogotiku selama tiga tahun kedepan.
“…OK.”
Aku mengangguk , berjalan mundur,
dan mengatakannya dengan tenggorokanku yang kering.
“Baiklah, ayo berpisah disini.
Jika ada masalah kirimlah pesan padaku. …well, sampai jumpa, Kuro.”
Kuro memanggilku ketika aku
mengalihkan pandanganku dan akan pergi.
“Rizuka!”
“…”
Aku menengok tapi dia tidak
mengatakan apapun, pipinya hanya bergerak sedikit.
Aku melambaikan tanganku sekali
dan berbalik kearah barat laut—kearah desa yang akan kusinggahi.
Ketika aku baru berjalan lima
langkah, sebuah suara memanggilku dari belakang lagi.
“Hey, Rizuka! Kau terlihat cantik
dan imut di dunia nyata! Aku agak suka dengan gayamu!”
Aku tersenyum pahit dan menyahut
tanpa menengok.
“Wajahmu juga sepuluh kali lebih
cocok untukmu!”
Lalu aku meninggalkan teman
pertamaku di dunia ini dan berlari lurus tanpa ragu.
Setelah aku berlari melewati
jalan yang berangin selama beberapa menit, Aku melihat kebelakang lagi. Tentu
saja, tidak ada siapa-siapa disana.
Aku mengabaikan perasaan aneh di
dadaku dan berlari.
Aku berlari menuju ke gerbang
barat laut dari «Kota Awal» dan kemudian melewati padang yang luas dan hutan
yang lebat, kemudian menuju sebuah desa yang terletak dibalik semua itu—menuju
game survival tanpa akhir ini.
PART 4
Dua bulan setelah game dimulai,
dua ribu orang telah meninggal.
Harapan untuk menunggu
pertolongan dari luar telah hancur; tidak ada satupun kabar dari luar yang
datang.
Aku tidak melihatnya sendiri,
tapi katanya kepanikan dan kegilaan yang dialami oleh para pemain ketika mereka
menyadari kalau mereka tidak bisa kembali sangat besar. Ada orang yang menangis
dan ada yang meraung-raung, beberapa bahkan mencoba menggali tanah di kota
sambil mengatakan kalau mereka akan menghancurkan dunia ini. Tentu saja, semua
bangunan merupakan non-destructible objects(benda yang tidak bisa dihancurkan),
jadi usaha ini gagal tanpa ada hasil sama sekali.
Katanya butuh beberapa hari untuk
para pemain untuk menerima situasinya dan berpikir apa yang harus dilakukan
setelahnya.
Para pemain terbagi menjadi empat
kelompok.
Yang pertama terdiri lebih dari setengah jumlah player yang ada; mereka adalah orang-orang yang masih belum bisa menerima syarat yang diberikan oleh Sanada Akihiko dan masih menunggu pertolongan dari luar.
Aku mengerti bagaimana perasaan
mereka. Tubuh mereka mungkin sedang terbaring di kasur atau duduk di bangku
sambil tertidur. Itu adalah kenyataan dan situasi ini adalah <palsu>,
jika saja ada petunjuk sekecil apapun kalau mereka bisa keluar—tentu saja,
tombol log out nya sudah menghilang tapi mungkin ada sesuatu yang terlewatkan
oleh si pembuat game—.
Dan di luar, perusahaan yang
menjalankan game nya, Elemental, akan berusaha lebih keras dibanding siapapun
untuk menyelamatkan para pemain—jika mereka bisa bersabar mungkin mereka akan
bisa membuka mata mereka lagi, bertemu dengan keluarga mereka dan kembali ke
sekolah atau bekerja dan ini hanya akan menjadi bahan pembicaraan saja—.
Tidak salah mereka berpikir
seperti itu. Aku sendiri pun berharap hal yang sama jauh didalam hatiku.
Rencana mereka adalah untuk
<menunggu>. Mereka tidak selangkahpun menjejakkan kaki di luar kota dan
menggunakan uang yang mereka dapat di awal game—di dunia ini mata uangnya
disebut <Coll> —dengan hemat, membeli makanan yang mereka butuhkan untuk
melewati hari dan menemukan penginapan yang murah untuk tidur, dan
berjalan-jalan secara berkelompok untuk menghabiskan waktu tanpa berpikir.
Untungnya <Starting City>
adalah kota yang besarnya sekitar 20 persen dari lantai pertama dan cukup besar
seperti kota Tokyo. Jadi lima ribu pemain bisa punya ruangan yang cukup untuk
tinggal.
Tapi tidak ada pertolongan yang
datang berapa lama pun mereka menunggu. Sering kali langit diluar tidak biru
cerah tapi ditutupi oleh awan berwarna abu-abu. Uang mereka tidak akan bertahan
selamanya dan mereka menyadari kalau mereka harus melakukan sesuatu.
Grup kedua terdiri dari 30
persen, atau sekitar tiga ribu player. Itu adalah grup yang semua playernya
bekerja bersama-sama. Pemimpinnya adalah seorang admin dari sebuah situs info
game online terbesar.
Para player yang terkumpul dalam
grup ini membagi menjadi beberapa grup kecil dan membagi seluruh pendapatan
mereka dan informasi yang mereka dapatkan didalam game serta menjelajah ke
labyrinth area dimana tangganya berada. Pemimpin dari grup ini membuat
<Black Iron Castle> menjadi markas mereka dan mengirimkan perintah ke
berbagai grup.
Grup besar ini tidak mempunyai
nama selama beberapa waktu, tapi setelah semua anggotanya menerima seragam, ada
orang yang menyebut mereka dengan nama, yang agak seram, yaitu <The
Army>.
Grup ketiga terdiri dari sekitar seribu player. Grup itu terdiri dari orang-orang yang telah menghabiskan semua Coll mereka tapi tidak ingin mencari uang dengan mengalahkan monster.
Sebagai catatan sampingan, di
AQWO ada dua kebutuhan tubuh yang paling dasar yang perlu dipenuhi. Yang
pertama adalah kelelahan, dan yang satunya adalah rasa lapar.
Aku mengerti kenapa ada rasa
lelah. Informasi virtual dan informasi nyata tidak ada bedanya didalam otak
kami. Jika player menjadi mengantuk, mereka bisa pergi ke sebuah penginapan dan
menyewa kamar untuk tidur tergantung dengan jumlah uang yang mereka punya. Jika
seseorang memiliki cukup banyak Coll, mereka bisa membewli sebuah rumah, tetapi
jumlah uang yang di butuhkan tidaklah kecil.
Rasa lapar adalah kebutuhan yang
para player pikir sedikit aneh. Meski mereka tidak ingin membayangkan apa yang
akan terjadi dengan tubuh mereka yang ada di dunia nyata, tubuh mereka mungkin
mendapat nutrisi entah bagaimana caranya. Itu berarti rasa lapar yang kami
rasakan tidak ada hubungannya dengan tubuh kami di dunia nyata.
Tapi jika kami membeli roti atau
daging virtual di dalam game dan memakannyat, rasa laparnya menghilang dan akan
terasa kenyang. Tidak ada yang tahu bagaimana mekanismenya bekerja, kecuali
dengan bertanya ke seorang profesional di bidang neurology.
Jadi sebaliknya juga benar, rasa
laparnya tidak akan menghilang kecuali kami memakan sesuatu. Kemungkinan besar
kami tidak akan mati jika kelaparan, tapi kenyataan kalau itu adalah kebutuhan
yang sulit di abaikan tidak berubah. Jadi para player mengunjungi restoran yang
di buka oleh NPC dan makan di sana.
Selain itu, di dalam game kita
tidak perlu buang air. Entah bagaimana dengan tubuh di dunia nyata, Aku tidak
ingin memikirkannya.
Yah kembali ke pokok
permasalahan—
Para pemain yang telah
menghabiskan semua uang mereka di awal, tidak bisa tidur atau makan, biasanya
bergabung dengan organisasi besar yang kubicarakan barusan, <The Army>.
Ini karena mereka setidaknya akan mendapat sesuatu untuk dimakan jika mereka
menuruti perintah dari atas.
Tapi selalu ada orang yang tidak
bisa bekerja sama dengan orang lain betapa kerasnya mereka mencoba. Orang-orang
yang tidak ingin bergabung, atau di usir karena membuat masalah membuat
perkampungan di <Starting City> sebagai markas mereka dan mulai mencuri.
Di dalam kota, atau di
tempat-tempat yang biasanya disebut sebagai <Safe Area> dilindungi oleh
system dan para pemain tidak bisa menyakiti satu sama lain. Tapi di luar tidak
seperti itu. Orang-orang itu membuat tim dan menyergap player lainnya—itu lebih
menguntungkan daripada memburu monster di field dan labyrinth area.
Meski begitu, mereka tidak pernah
<membunuh> seorangpun—setidaknya selama tahun pertama,
Grup ini perlahan-lahan menjadi
besar hingga mencapai jumlah seribu orang.
Terakhir, grup keempat, atau bisa dibilang, yang tersisa.
Ada sekitar lima puluh organisasi
yang dibuat oleh orang-orang yang ingin menyelesaikan game nya tapi tidak ingin
bergabung dengan organisasi besar. Jumlah mereka sekitar lima ratus orang. Kami
menyebut grup-grup itu sebagai <Guilds> dan mereka memiliki daya gerak
yang tidak dimiliki oleh <The Army>; dan menggunakan itu, mereka
perlahan-lahan menjadi kuat.
Lalu ada beberapa yang memilih
merchant dan craftsman class. Mereka hanya berjumlah sekitar dua hingga tiga
ratus orang, tetapi mereka membuat guild sendiri dan mulai melatih skill yang
mereka perlukan untuk mendapatkan Coll.
Sisanya, sekitar seratus pemain
disebut sebagai <Solo Player>—ini adalah grup tempatku berada.
Mereka adalah grup yang egois
yang berpikir kalau bekerja sendiri lebih menguntungkan untuk memperkuat diri
mereka dan bertahan hidup. Jika seseorang bisa menggunakan informasi yang
mereka dapat dengan baik, mereka bisa dengan cepat menaikkan level mereka.
Setelah mereka memiliki kekuatan untuk sendirian melawan monster dan bandit,
sebenarnya tidak ada artinya bertarung dengan player lainnya.
Sebagai tambahan, didalam AQWO
tidak ada <Magic>, dengan kata lain tidak ada <serangan jarak jauh
yang memliliki keakuratan 100%>, jadi kami bisa melawan monster dalam jumlah
besar sendirian. Jika seseorang punya kemampuan yang cukup, bermain solo jauh
lebih efektif untuk mendapatkan experience point-dibandingkan dengan bermain
berkelompok.
Tentu saja ada resikonya.
Contohnya jika seseorang terkena <Paralyze>, kalau dia bersama dengan
party member mereka bisa menyembuhkannya, tapi jika orang itu bermain solo itu
bisa membawanya langsung menuju kematian. Sebenarnya, sejak awal, solo player
mempunyai resiko yang paling besar dibanding player lain.
Tapi jika kau punya pengalaman
dan pengetahuan untuk menang melalui semua keadaan berbahaya, keuntungannya
bisa menutupi sebagian resiko, dan seorang beta tester sepertiku memiliki kedua
hal tersebut.
Dengan informasi berharga itu,
solo player menaikan level dengan kecepatan yang lebih tinggi dan dengan cepat
terbentuk perbedaan level antara mereka dengan player lainnya. Setelah game nya
menjadi sedikit tenang, hampir semua solo player keluar dari lantai pertama dan
menggunakan kota di lantai yang lebih tinggi sebagai markas mereka.
Di dalam Black Iron Castle,
dimana <Room of the Resurrected> berada selama beta testing, sekarang
berdiri sebuah monumen besi besar yang tidak ada sebelumnya. Nama dari seluruh
sepuluh ribu player terukir di permukaannya. Selain itu, sebuah garis akan
muncul di nama orang yang telah mati dan akan tertulis waktu dan alasan
kematian di sampingnya.
Orang pertama yang tercoret
namanya mati tiga jam setelah game dimulai.
Alasan kematiannya bukanlah
karena kalah dari monster. Itu adalah bunuh diri.
Dia mempercayai teori kalau
"menurut struktur dari Never Gear, jika seseorang terputus dari system
maka secara otomatis mereka akan sadar." Dia memanjat pagar besi di bagian
utara kota, atau ujung dari Devilcraft, dan melompat.
Dibawah kota tua yang melayang
ini tidak ada daratan yang dapat terlihat, seberapa keraspun kau melihat. yang
ada hanyalah langit yang membentang tak terbatas ditambah dengan beberapa lapis
awan putih. Sambil ditonton oleh banyak player; orang itu perlahan-lahan
menjadi terlihat semakin kecil, meninggalkan sebuah teriakan panjang dan
akhirnya menghilang dibalik awan.
Sebuah garis muncul di namanya
dua menit kemudian. Alasan kematiannya adalah <Terjatuh di udara>. Aku
bahkan tidak ingin membayangkan apa yang dia alami selama dua menit itu. Tidak
ada cara untuk mengetahui apakah dia telah kembali ke dunia nyata, atau—seperti
yang dikatakan Sanada—otaknya telah terbakar. Tapi, sebagian besar orang
percaya kalau ada cara mudah untuk keluar dari game ini yaitu; jika orang di
luar mencabut kabelnya dan menyelamatkan kami.
Tetapi masih ada orang menyerah
memikirkan hal itu. Kebanyakan orang, termasuk aku, sulit menyamakan
<kematian> sebagai kenyataan. Itu masih tidak berubah. Fenomena saat HP
bar mencapai angka nol dan tubuh yang terbuat dari polygon ino hancur terlalu
seperti <Game Over> yang sudah biasa kami rasakan. Mungkin cara
satu-satunya untuk mengetahui arti sesungguhnya dari kematian di dalam AQWO adalah
dengan merasakannya sendiri. Kenyataan itu mungkin adalah alasan dari
berkurangnya kecepatan pengurangan jumlah player.
Di sisi lain, ada banyak player
yang merupakan bagian dari <The Army>, tertutama orang-orang yang
tergolong grup pertama, mulai kehilangan nyawa mereka ketika mereka mencoba
menyelesaikan gamenya dan bertarung dengan monster.
Bertarung di AQWO butuh sedikit
membiasakan diri. Itu tidak seperti mencoba memaksakan dirimu untuk bergerak,
tapi lebih seperti <mempercayakan> gerakanmu kepada system.
Contohnya, meski hanya sebuah
uppercut dengan one-handed sword, jika player itu telah menguasai
<One-handed Sword Skill> dan memakai <Uppercut> dari daftar skill,
mereka hanya perlu melakukan gerakan awal dan systemnya akan secara otomatis menggerakan
badan mereka. Tapi jika seseorang tanpa menggunakan skill mencoba untuk meniru
gerakannya, itu akan terlalu lambat dan lemah ketika digunakan dalam
pertarungan sesungguhnya. Itu sama seperti menekan tombol tertentu didalam
sebuah fighting game.
Orang-orang yang tidak terbiasa
akan hal ini hanya mengayunkan pedang mereka dan bahkan kalah kepada celeng dan
serigala yang bisa mereka kalahkan jika mereka menggunakan single strike skills
yang mereka punya sebagai skill awal. Meski begitu, jika mereka menyerah dan kabur
setelah kehilangan sebagian dari HP mereka, mereka tidak akan mati. Tapi—
Tidak seperti serangan monster 2D
yang kita lihat melalui layar monitor, pertarungan di AQWO sangat nyata
sehingga kau bisa merasa takut. Itu seperti jika monster sungguhan mengarahkan
taringnya padamu dan mengejarmu dengan niat membunuh.
Bahkan selama beta testing ada
beberapa orang yang panik ditengah pertarungan, tapi sekarang kematian
menantimu jika kau kalah. Rasa panik membuat para player lupa menggunakan skill
mereka dan bahkan lupa melarikan diri, HP mereka habis dan mereka menghilang
dari dunia ini selamanya.
Bunuh diri, kalah dari monster.
Angka dari nama yang tercoret berlipat ganda dengan kecepatan yang mengerikan.
Ketika angkanya mencapai dua
ribu, satu bulan setelah game dimulai, awan keputusasaan menyelimuti para
player yang masih selamat. Jika jumlah kematian terus meningkat dengan
kecepatan seperti ini, sepuluh ribu orang akan mati dalam waktu kurang dari
setengah tahun. Menyelesaikan lantai keseratus hanya terlihat seperti mimpi.
Tapi—manusia beradaptasi.
Setelah satu bulan kemudian,
labyrinth pertama di selesaikan dan jumlah kematian mulai berkurang dengan
cepat. Orang-orang mulai membagi informasi untuk bertahan hidup dan kebanyakan
orang merasakan kalau monster tidak begitu menakutkan jika kau mempunyai
experience points yang cukup dan menaikan level dengan benar.
Kamu mungkin bisa menyelesaikan
game nya dan kembali ke dunia nyata. Jumlah player yang mulai berpikir seperti
itu bertambah dengan perlahan tapi pasti.
Lantai teratas masih sangat jauh,
tapi para player mulai bergerak dengan harapan kecil ini-dan dunia mulai
berputar lagi.
Sekarang, tiga tahun kemudian dan dengan 26 lantai tersisa, jumlah orang yang bertahan hidup sekitar 6 ribu orang.
Ini adalah situasi dari Devilcraft yang sekarang.
PART 5
Setelah menyelesaikan
pertarunganku dengan musuh yang kuat yang sedang berpatroli di <Labyrinth
Area> di lantai 75, aku mengingat jalan kembaliku, begitu juga dengan masa
lalu, dan menghela napasku ketika aku melihat cahaya dari jalan keluar.
Aku mengosongkan pikiranku,
berjalan dengan cepat keluar dari labyrinth area, dan menghirup udara yang
segar dan bersih dalam-dalam.
Di hadapanku, lorong yang sempit
berubah menjadi hutan yang lebat dan penuh dengan pohon. Di belakang ku,
labyrinth area tempatku keluar barusan menjulang tinggi hingga ke langit—atau
lebih tepatnya hingga ke permukaan bagian bawah lantai selanjutnya.
Karena tujuan akhir gamenya
adalah untuk mencapai puncak tertinggi dari kastil ini, dungeon di dunia ini
tidak menuju ke bawah tanah melainkan berbentuk menara. Tapi, setting dasarnya
tidak berubah: monster di labyrinth area lebih kuat dibandingkan monster yang
berada di jalanan, dan boss monster menunggu di bagian terdalam dari labyrinth
area.
Saat ini, delapan puluh persen
dari labyrinth area di lantai 75 telah di jelajahi, atau dengan kata lain,
telah di <mapped>. Dalam beberapa hari, boss room mungkin akan ditemukan,
dan sebuah tim untuk melawan boss dengan anggota yang banyak akan dibuat. Saat
itu, bahkan aku, seorang solo player, akan ikut ambil bagian.
Aku tersenyum pada diriku sendiri
karena merasa tidak sabar dan frustasi pada saat yang sama dan mulai berjalan
melewati jalur yang ada.
Saat ini, rumah tempat tinggal ku
berada di kota terbesar di Devilcraft, yaitu <Algade>, yang lokasinya
berada di lantai ke 50. Yah, dari luasnya, Starting City lebih besar, tapi
tempat itu sekarang sudah menjadi markas <The Army> sepenuhnya, jadi
berjalan di sekitar sana menjadi agak tidak nyaman.
Segera setelah aku keluar dari
padang rumput yang mulai menggelap, sebuah hutan yang berisi pohon-pohon tua
membentang di depanku. Jika aku berjalan selama tiga puluh menit lewat sini,
Aku akan sampai di <Housing Area> dari lantai 75 dan bisa menggunakan
<Teleport Gate> disana untuk teleport ke Algade.
Aku bisa saja menggunakan satu
dari instant teleportation item didalam inventory ku untuk kembali ke Algade
kapanpun. Tapi karena harganya sedikit mahal, Aku enggan menggunakannya kecuali
jika aku sedang berada dalam situasi berbahaya. Masih ada sedikit waktu hingga
mataharinya menghilang sepenuhnya, jadi aku menolak godaan untuk kembali
kerumah secepatnya dan akhirnya masuk kedalam hutan.
Sebagai catatan, ujung-ujung dari
setiap lantai di Devilcraft biasanya terbuka lebar langsung ke langit, kecuali
bagian tiang penahannya. Pohon-pohon menjadi berwarna merah api karena terkena
cahaya yang masuk melalui celah tersebut. Kabut yang mengalir diantara cahaya
matahari memantulkan cahaya dengan indahnya. Suara kicau-an burung, yang sering
terdengar disiang hari, menjadi sulit terdengar, karena suara batang pohon yang
bergoyang-goyang karena tertiup angin yang kencang.
Aku tahu dengan jelas kalau aku
bisa bertarung dengan monster di area ini meskipun aku mengantuk, tapi rasa takut
yang datang bersamaan dengan kegelapan susah dihindari. Sebuah perasaan yang
mirip dengan ketika aku tersesat dan tidak bisa pulang waktu kecil
menyelimutiku.
Tapi aku tidak membenci perasaan
ini. Aku kadang-kadang melupakan rasa takut ini ketika aku masih di dunia
nyata. Rasa kesepian yang kau dapatkan ketika kau berkelana sendirian di tempat
asing tanpa seorangpun yang terlihat seberapa keraspun kau mencoba melihat—kau
bisa menyebutnya sebagai dasar dari RPG.
Ketika aku sedang terpaku
mengenang masa lalu, sebuah teriakan yang belum pernah kudengar sebelumnya
memasuki telingaku.
Itu terdengar hanya sesaat, keras
dan jelas seperti suara sebuah peluit. Aku menghentikan langkahku dan mencari
dengan seksama ke arah suaranya berasal. Jika kau mendengar atau melihat
sesuatu yang kau tidak pernah alami sebelumnya di dunia ini, itu bisa saja
berarti kalau kau sangat beruntung atau bisa juga sebaliknya.
Sebagai seorang solo player, Aku
melatih skill <Scan for Enemy>ku. Skill ini mencegah serangan tiba-tiba
dan ketika kau sudah ahli menggunakannya, itu akan memberikan kemampuan
tambahan pada si pemain untuk bisa mendeteksi monster yang sedang
"bersembunyi." Dengan itu, Aku bisa melihat seekor monster
bersembunyi diantara batang pohon di jarak sepuluh meter dariku.
Monster itu tidak terlalu besar.
Monster itu mempunyai bulu hijau untuk berkamuflase diantara dedaunan dan
mempunyai telinga yang lebih panjang dibandingkan tubuhnya. Ketika aku
berkonsentrasi kearahnya, secara automatis monster itu menjadi targetku dan sebuah
cursor berwarna kuning muncul bersama dengan namanya.
Aku menahan napasku saat aku
melihat namanya: <Ragout Rabbit>. Itu cukup langka hingga bisa mendapat
gelar "super."
Itu pertama kalinya aku melihat
yang asli. Kelinci yang hidup di batang pohon itu tidak begitu kuat, juga tidak
memberimu banyak experience points, tapi-
Aku diam-diam mengambil sebuah
throwing pick kecil dari sabuk ku. <Knife Throwing Skill> ku tidak begitu
tinggi. Aku hanya memilihnya sebagai cabang di skill tree ku pada suatu saat. Tapi
kudengar kalau Ragout Rabbit adalah monster tercepat dari seluruh monster yang
diketahui saat ini, jadi aku tidak terlalu percaya diri untuk menangkapnya
dengan pedangku.
Aku punya satu kesempatan untuk
menyerang sebelum musuh menyadari keberadaanku. Aku mengangkat pick tadi,
berdoa, dan bergerak mengikuti posisi gerak awal skill <Single Shot>.
Yah, sekecil apapun skill ku,
tanganku dibantu oleh dexterity ku yang tinggi dan melempar pick nya dengan
gerakan yang agak terlihat kabur. Pick nya berkilau sekali dan menghilang
dibalik pepohonan. Segera setelah aku menyerang, cursor kuning yang tadinya
menunjukkan lokasi Ragout Rabbit berada, berubah menjadi merah dan muncul HP
bar dibawahnya.
Sebuah teriakan kencang terdengar
dari arah pick ku terlempar. HP bar nya semakin mengecil dan kemudian mencapai
0. Terdengar suara polygon pecah yang tidak asing lagi.
Aku mengepalkan tangan kiriku.
Aku mengangkat tangan kananku dan membuka main menu. Aku membuka inventory
dengan cepat, meski begitu gerakan tanganku terlihat terlalu lambat bagiku, dan
benda itu ada di bagian teratas dari item list baru kudapat: <Ragout
Rabbit’s meat>. Itu adalah rare item yang bisa dijual ke player lain dengan
harga minimal seratus ribu Coll. Uang sebanyak itu cukup untuk membuat satu full
set dari armor terbaik dan masih ada sisa kembaliannya.
Alasan kenapa benda ini sangat
mahal simpel saja, karena benda ini adalah bahan makanan yang paling enak
dibandingkan bahan makanan lainnya di game ini.
Makan adalah satu-satunya
kenikmatan di AQWO, tapi makanan yang ada biasanya hanyalah sup dan roti yang
rasanya seperti berasal dari negara eropa—yah aku juga tidak begitu tahu; tapi
kenyataannya rasanya biasa saja. Beberapa player yang melatih skill memasak
mereka juga berpikir seperti itu dan tidak puas hanya dengan makanan itu. Tapi
melatih skill memasak bukanlah hal yang mudah, jadi banyak player yang tidak
bisa melakukannya.
Tentu saja aku tidak berbeda. Aku
tidak begitu membenci sup dan roti gandum yang sering kubeli dari restoran NPC.
Tapi sekali-sekali aku juga ingin makan daging.
Selama beberapa waktu aku melihat
kearah nama item itu dan berpikir apa yang harus kulakukan. Kemungkinan ku
mendapat bahan seperti ini lagi sangat rendah. Sejujurnya, aku sangat ingin
memakannya. Tapi semakin tinggi peringkat bahannya, semakin tinggi pula skill
yang dibutuhkan untuk memasaknya. Jadi aku harus menemukan orang yang sudah
menguasai skill memasak sepenuhnya untuk memasakannya untukku.
Tapi aku tidak tahu satupun. Yah,
aku tahu beberapa, tapi mencari merekalah yang membuat repot. Selain itu, sudah
waktunya aku membeli satu set equipment baru. Jadi, aku memutuskan untuk
menjualnya.
Aku menutup window nya untuk
menyingkirkan semua rasa menyesal, dan menscan area di sekitar dengan skill ku.
Kemungkinan bandit muncul di garis depan sangat tipis, tapi kau tidak akan
pernah terlalu berhati-hati ketika kau mempunyai sebuah benda S-class.
Aku bisa membeli berapapun
teleport item yang kubutuhkan setelah aku menjualnya, jadi aku memilih untuk
mengurangi resiko dan mulai merogoh saku-ku.
Benda yang kuambil adalah sebuah
kristal yang berbentuk seperti pilar bersisi delapan yang berwarna biru terang.
Sedikit dari magic item di dunia dimana <Magic> tidak ada, semuanya
berbentuk seperti permata. Biru adalah untuk instant teleportation, pink untuk
menyembuhkan HP, hijau untuk penawar racun, dan lain-lain. Mereka semua adalah
item praktis yang menciptakan efek secara instant, tapi mereka juga mahal. Jadi
orang-orang lebih sering menggunakan item yang lebih murah seperti potion yang
memiliki efek lambat setelah kabur dari pertarungan.
Berpikir kalau ini adalah, tidak
salah lagi, sebuah situasi darurat, Aku memegang kristal biru itu dan
berteriak.
“Teleport! Algade!”
Ada suara banyak bel bergema dan
kristal di tanganku pecah menjadi kepingan kecil. Pada saat yang sama, tubuhku
diselimuti oleh cahaya biru dan hutannya menghilang dari pandanganku seperti
meleleh. Sebuah cahaya yang lebih terang bersinar, dan setelah itu menghilang,
teleportasinya selesai. Dari suara daun-daun bergesekan berganti menjadi suara
palu para smith dan suara keras dari kota memasuki suaraku.
Tempatku muncul adalah
<Teleport Gate> yang berada di tengah Algade.
Dibagian tengah dari plaza yang
melingkar, sebuah gerbang yang terbuat dari logam berdiri setinggi lima meter
lebih. Didalamnya, udara berputar-putar seperti sebuah pusaran dan orang-orang
yang teleport keluar masuk.
Empat jalan utama membentang di
keempat arah dari plaza, dan disisi dari semua jalan itu, banyak toko-toko
kecil yang berdiri. Player-player yang pulang setelah seharian menjelajah
berbincang-bincang di depan toko makanan atau minuman.
Jika seseorang mencoba
mendeskripsikan Algade kedalam satu kata, itu pasti adalah <berantakan>.
Tidak ada jalan besar seperti
yang ada di Starting City dan banyak jalan gang yang bersilangan di seluruh
kota. Ada toko-toko yang kau mungkin tidak tahu apa yang dijualnya, dan
penginapan yang terlihat seperti kalau kau tidak akan pernah bisa keluar jika
kau masuk kedalam.
Sebenarnya, ada banyak player
yang secara tidak sengaja memasuki salah satu gang di Algate dan tersesat
selama beberapa hari sebelum bisa keluar. Aku sudah tinggal disini hampir
setahun sekarang, tapi aku masih tidak hapal setengah dari jalan disini. Bahkan
NPC disini adalah orang-orang aneh yang pekerjaannya susah untuk ditebak, dan
itu membuatmu berpikir kalau orang yang menjadikan tempat ini sebagai tempat
tinggal sekarang ini adalah orang-orang aneh juga.
Tapi aku menyukai jalan-jalan
disini. Aku tidak bohong saat aku pernah bilang satu-satunya waktu aku merasa
tenang adalah ketika aku meminum teh berbau aneh di sebuah toko di pojokan yang
biasa kukunjungi. Alasan dibaliknya adalah karena aku tempat itu terasa sedikit
mirip dengan toko elektronik yang sering kukunjungi di dunia nyata—yah tidak terlalu
juga sih, atau kuharap tidak.
Berpikir untuk menjual itemnya
sebelum kembali kerumah, aku berjalan ke sebuah toko. Jika aku berjalan
mengikuti jalur menuju ke barat dari central plaza, aku akan sampai ke toko itu
setelah melewati sedikit keramaian. Didalamnya, sangat sempit hingga meski
hanya ada 5 player saja terasa sempit disini, dan ada banyak papan toko
seperti: Peralatan, Senjata, dan bahkan bahan makanan yang bertumpuk disini.
Si pemilik toko sedang sibuk
melakukan tawar menawar.
Ada 2 cara untuk menjual item.
Yang pertama adalah dengan menjualnya ke NPC, atau character yang di gerakkan
oleh system. Cara ini tidak mempunyai resiko ditipu tetapi harganya selalu
sama. Untuk mengurangi peredaran uang berlebih, harganya dibuat lebih rendah
dibanding dengan harga pasaran.
Yang kedua adalah dengan
melakukan trade dengan player lain. Dengan cara ini, kau bisa menjual itemnya
dengan harga tinggi jika kau menawar dengan baik, tapi kau harus menemukan
seseorang untuk menemukannya, dan perselisihan antara player setelah trade
selesai sudah biasa terjadi.
Karena itu, player merchant yang
ahli dalam berdagang item muncul.
Player merchant tidak bisa hidup
hanya dengan berdagang saja. Seperti pemain dengan class technician, mereka
harus mengisi sebagian dari skill slot mereka dengan skill yang tidak
berhubungan dengan pertarungan. Tapi itu tidak berarti mereka tidak perlu ke
field. Merchant harus bertarung untuk barang dagangan, sedangkan technician
untuk bahan baku pembuatan barang, dan, tentu saja mereka mengalami kesulitan
yang lebih besar di bandingkan dengan petarung. Sulit bagi mereka untuk merasa
senang megalahkan musuh mereka.
Karena itu, mereka yang memilih
class tersebut adalah orang-orang hebat yang memebantu para player bertarung di
garis depan setiap hari. Jadi diam-diam aku sangat menghormati mereka.
…yah, Aku memang menghormati
mereka, tapi orang di depanku ini adalah seseorang yang tidak bisa disebut
baik.
“Oke, setuju! 25 buah <Dust
Lizard’s hide> untuk lima ratus Coll!”
Pemilik toko yang sering ku datangi
ini, Near, menepuk pundak orang yang sedang tawar-menawar dengannya, seorang
spearman yang terlihat lemah, dengan tangannya yang besar itu. Kemudian dia
dengan cepat membuka trade window dan memasukan jumlah uang di dalam trade list
nya.
Lawan transaksinya terlihat
sedang berpikir, tapi ketika dia melihat wajah Near, yang terlihat seperti
petarung kuat yang menakutkan—dan nyatanya, Near adalah salah satu warrior
pengguna dual axe yang paling hebat dan seorang merchant yang handal—spearman
yang terlihat lemah itu buru-buru menaruh item nya di trade list dan menekan
OK.
“Terima kasih banyak! Silahkan
datang kembali lain waktu!”
Near menepuk pundak spearman itu
sekali lagi dan tersenyum lebar. Dust Lizard's hide bisa digunakan untuk
membuat armor yang cukup bagus. Kupikir lima ratus Coll terlalu murah dilihat
dari manapun. Tapi aku tetap diam dan melihat spearman itu pergi. Ambil ini
sebagai pelajaran untuk tidak memperlihatkan kelemahan ketika sedang tawar
menawar, Aku berpikir seperti itu didalam kepalaku.
“Hey, kau melakukan bisnis
seperti itu tanpa malu seperti biasanya.”
Orang tinggi yang botak itu
melihat kearahku dan tersenyum ketika aku berbicara begitu dibelakangnya.
“Hey, Rizuka. Moto toko ku adalah
untuk beli murah dan jual murah,” dia berkata tanpa menunjukan sedikitpun rasa
menyesal.
“Yah, aku sedikit curiga dengan
’jual murah’nya tapi itu tidak penting. Aku ingin menjual sesuatu juga.”
“Kau itu pelanggan, jadi aku
tidak bisa menipumu. Yah, coba lihat…”
Sambil mengatakan itu, Agil
menjulurkan lehernya yang tebal dan pendek dan melihat ke trade window yang
kutunjukan.
Avatar di AQWO adalah replika
dari tubuh asli player yang dibuat dengan melakukan scan and pengukuran. Tapi
setiap kali aku melihat Near, Aku selalu bertanya pada diriku sendiri bagaimana
mungkin seseorang bisa memiliki tubuh yang cocok sekali dengan dirinya.
Tubuh setinggi 180 cm itu
seluruhnya dilapisi dengan otot dan lemak, dan dengan kepalanya itu dia
terlihat seperti seorang pegulat pro. Ditambah lagi, dia mensetting gaya rambutnya,
salah satu dari sedikit hal yang bisa dibuat sendiri, menjadi botak. Setidaknya
efeknya sama menakutkan dengan monster barbarian.
Meski begitu, dia memiliki wajah
menarik yang terlihat seperti anak kecil ketika dia terseyum. Kelihatannya dia
berumur dua puluhan lebih, tapi aku tidak bisa menebak apa yang dia kerjakan
didunia nyata. Salah satu peraturan tidak tertulis di dunia ini adalah untuk
tidak menanyakan orang lain tentang <Dirinya di dunia nyata>.
Kedua mata yang berada dibawah
alis tebalnya membesar ketika dia melihat kearah trade window.
“Wow, itu kan S-rank rare item.
<Ragout Rabbit’s meat>, ini pertama kalinya aku melihatnya… Kirito kau
tidak semiskin itu kan? Apakah kau tidak berpikir sedikitpun untuk memakannya?”
“Tentu saja aku berpikir begitu.
Sulit sekali menemukan benda seperti ini untuk kedua kalinya… Tapi agak susah
untuk menemukan orang yag bisa memasak bahan seperti ini…”
Lalu dari belakang seseorang
menepuk bahu ku. “Rizuka.”
Itu adalah suara laki-laki. Tidak
begitu banyak player perempuan yang tahu namaku. Yah sebenarnya, dalam situasi
seperti ini hanya ada satu orang. Aku menggenggam tangan yang berada di bahu
kiriku dan berkata.
“Chef yang keren.”
“A-Apa?”
Dengan tangannya di bahuku, orang
itu bertanya dengan ekspresi curiga di wajahnya.
Di wajah kecilnya, yang
dikelilingi dengan rambutpendek yang berwarna seperti rambut chef juna terdapat
dua mata yang berwarna kehitaman yang bersinar-sinar. Tubuhnya kekar yang
ditutupi dengan sebuah combat uniform yang berwarna hitam, dan ada sebuah
rapier yang berwarna hitam di dalam sarung pedangnya.
Namanya adalah Ryuzaki. Dia
sangat terkenal hingga hampir semua orang di AQWO mengenalnya.
Ada banyak alasan kenapa dia
terkenal, tapi salah satunya adalah karena dia adalah salah satu dari sedikit player
laki-laki, dan dia adalah pemilik dari wajah yang tidak kekurangan apapun,
alias dia sangat keren.
Sulit untuk mengatakannya di
dunia ini, dimana semua orang mempunyai tubuh asli mereka, tapi laki-laki yang
keren adalah hal sangat langka. Kau mungkin bisa menghitung dengan jari jumlah
player yang memiliki wajah sekeren Ryuzaki.
Alasan lainnya adalah karena dia
merupakan anggota guild <Black of the Knight>. Anggota-anggotanya disebut
BoK dengan menggunakan inisial dari <Black of the Knight>, dan, semua
guild, mengakui kalau mereka adalah guild terkuat.
Guild itu tidak terlalu besar dan
hanya terdiri dari tiga puluh player, tapi mereka semua berlevel tinggi dan
petarung berpengalaman, dengan ketua guildnya yang merupakan player terkuat dan
hampir menjadi legenda di dalam AQWO. Selain itu, dibandingkan penampilannya
yang keren, Ryuzaki adalah seorang wakil ketua. Kemampuan berpedangnya sangat
hebat hingga mendapat gelar <Flash>.
Jadi penampilan dan kemampuan
berpedangnya berada di puncak diantara 6 ribu player lainnya. Justru aneh kalau
dia tidak menjadi terkenal. Dia mempunyai banyak fans, tapi diantara mereka ada
beberapa penguntit yang memuja-muja dia, dan ada juga orang yang membencinya,
jadi sepertinya dia mengalami masa-masa yang sulit.
Yah, karena dia adalah seorang
petarung tingkat tinggi, seharusnya tidak ada begitu banyak orang yang akan
menantangnya secara langsung. Tapi guildnya sepertinya mau menunjukkan kalau
mereka akan melindunginya, dia sering diikuti oleh dua orang pengawal atau
lebih. Bahkan sekarang ada dua orang pria beberapa langkah di belakangnya yang
menggunakan equipment dengan equipment armor logam dan seragam BoK. Salah satu
diantara mereka, yang berambut ekor kuda, memelototi ku yang sedang memegang
tangan Ryuzaki.
Aku melepaskan tangan Ryuzaki dan
berkata.
“Ada apa, Ryuzaki? Tumben kau datang
ke tempat yang penuh armor dan senjata murahan seperti ini.”
Wajah dari pria berambut ekor
kuda dan si pemilik toko mengerut kesal; yang satu karena aku tidak memanggil
Ryuzaki dengan gelarnya dan yang satunya karena aku menyebut tokonya penuh
dengan murahan. Tapi si pemilik toko...
“Lama tidak bertemu, Near-san.”
...tersenyum gembira setelah
mendengar sapaan dari Ryuzaki.
Ryuzaki melihat kembali kearahku
dan mengecilkan bibirnya sambil terlihat tidak puas.
“Apa-apaan sih? Susah payah aku
mencarimu kesini untuk melihat apakah kau masih hidup untuk melawan boss yang
akan segera ditemukan.”
“Kau sudah mendaftarkanku sebagai
teman jadi kau bisa tahu hanya dengan melihatnya. Lagipula alasan kau bisa
menemukanku kan karena kau menggunakan friend trace di peta mu.”
Ryuzaki memalingkan kepalanya
kesamping setelah mendengar jawabanku.
Selain sebagai wakil ketua, dia
juga berada di garis depan untuk menyelesaikan game. Pekerjaan itu termasuk
mencari solo player yang menyendiri sepertiku dan membentuk sebuah party untuk
melawan boss. Tapi meski begitu, dia benar-benar mendatangiku, seberapa
tekunnya seseorang seharusnya masih ada batasnya.
Melihat ekspresiku yang setengah
lelah dan setengah heran, Ryuzaki menaruh tangannya di pinggangnya sebelum
berbicara dengan gaya seperti menaikkan dagunya.
“Yah, kau masih hidup dan itulah
yang penting. Se-Selain itu, apa yang kau maksud? Kau bilang sesuatu tentang
chef yang keren atau sejenisnya.”
“Oh, benar, benar. Berapa tinggi
teknik memasakmu sekarang?”
Yang kutahu, Ryuzaki memang rajin
menaikan skill memasaknya ketika dia punya waktu senggang diantara latihan
skill pedangnya. Dia menjawab pertanyaan ku dengan sebuah senyum bangga.
“Dengar dan terkejutlah! Aku
sudah <Mastered> skill itu minggu lalu dan aku sudah melebihi chef juna
yang sombong itu.”
“Apa!?”
Dia itu…bodoh.
Aku berpikir seperti itu. Tentu
saja aku tidak mengatakannya keras-keras.
Melatih skill itu sangat-sangat
membosankan dan menghabiskan waktu, dan hanya bisa <Mastered> setelah
menaikkan level mereka sebanyak 1000 kali. Sebagai catatan, level tidak ada
hubungannya dengan skill dan naik setelah mendapat cukup experience point.
Hal-hal yang naik bersama dengan level adalah HP, strength, status seperti dexterity,
dan jumlah dari <Skill Slots> yang menentukan berapa banyak skill yang
bisa kau kuasai.
Sekarang ini aku punya 12 slot,
tapi yang sudah kusempurnakan hanyalah skill one-handed straight sword, Scan
for Enemy, dan Weapon Guard. Itu berarti laki-laki ini telah menghabiskan
banyak waktu dan usaha untuk skill yang tidak akan membantu didalam
pertarungan.
“…yah, ada sesuatu yang aku ingin
minta tolong untuk kau lakukan dengan skill itu.”
Aku membuat windowku menjadi
terlihat untuk semua orang supaya dia bisa melihatnya. Ryuzaki melihatnya
dengan curiga, dan kemudian matanya terbuka lebar saat dia melihat nama item
itu.
“Uwa!! Itu…itu kan bahan makanan
rangking S!?”
“Jika kau memasakkannya, Aku akan
memberimu satu gigitan.”
Bahkan sebelum aku berhenti berbicara,
tangan kanan dari Ryuzaki si <Flash> menggenggam kerah leherku. Lalu dia
mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa beberapa cm jarak wajahnya dari
mukaku.
“Berikan. Aku. Setengah!!”
Detak jantungku berhenti seketika
karena kaget dan aku mengangguk tanpa berpikir. Ketika aku sadar itu sudah
terlambat, dan dia melambaikan tangannya kegirangan. Yah, anggap saja aku
beruntung karena aku bisa melihat wajah cantik itu dari dekat. Begitulah aku
meyakinkan diriku sendiri.
Aku menutup window nya dan
berbicara sambil melihat kearah wajah Near.
“Maaf. Tradenya batal.”
“Tidak. Itu tidak apa-apa…hey,
kita teman kan? Eh? Bisakah kau membiarkanku mencobanya juga…?”
“Aku akan memberikanmu esai
delapan ratus kata tentangnya.”
“Ja-jangan begitu!”
Ketika aku dengan dinginnya
memalingkan wajahku darinya, dia memanggilku dengan suara yang terdengar
seperti kalau dunia akan berakhir. Ketika aku akan berjalan pergi, Asuna
menarik lengan baju jaketku.
“Masaknya gampang saja, tapi
dimana kita akan melakukannya?”
“Ah…”
Jika kau ingin memasak, maka kau
memerlukan beberapa alat memasak seperti kompor dan oven, begitu juga dengan
bahan makanannya. Bukannya di rumahku tidak ada alat-alat seperti itu, tapi aku
tidak bisa mengundang wakil ketua BoK ke tempat yang berantakan seperti itu.
Ryuzaki melihat kearahku dengan
wajah tidak percaya.
“Yah, rumahmu pasti tidak
mempunyai alat yang dibutuhkan. Tapi aku bisa memasakannya dirumahku sekali ini
saja.”
Dia berkata sesuatu yang
mengejutkanku dengan suara yang tenang.
Ryuzaki mengabaikanku yang
berdiri kaku disana seperti aku sedang lag ketika otakku memproses apa yang
dikatakannya, dan berbalik menghadap ke pengawalnya lalu berbicara.
“Aku akan teleport ke
<Salemburg>, jadi kalian boleh pergi. Terima kasih atas kerja keras
kalian.”
“R-Ryuzaki-sama! Datang ke
perkampungan kumuh saja sudah cukup buruk, tapi kau juga mengundang seseorang
yang mencurigakan seperti dia kerumahmu. A-apa yang kau pikirkan!?”
Aku tidak percaya apa yang baru
saja kudengar. Dia bilang <Sama>. Dia pasti salah satu orang yang
memuja-muja Ryuzaki. Ketika aku melihat Ryuzaki dengan pikiran seperti itu,
orang yang baru saja dibicarakan terlihat jengkel.
“OK, kau mungkin bisa menyebutnya
mencurigakan, tapi kemampuannya tidak bisa dipertanyakan. Dia mungkin sekarang
sepuluh level diatasmu Kura.”
“A-Apa yang kau katakan Ryuzaki-sama?
apa kau mau mengatakan kalau aku tidak setara dengan orang sepertinya…!”
Suara pria itu terdengar hingga
keluar gang. Dia memelototiku dengan matanya yang sipit. Lalu wajahnya memucat
seperti dia telah menyadari sesuatu.
“Benar…kau, kau pasti seorang
<Beater>!”
Beater adalah kata gabungan dari
<Beta tester> dan <Cheater>. Itu adalah kata yang ditujukan untuk
orang yang menggunakan cara yang tidak adil dan juga kata untuk mengutuk atau
mengejek yang ada di AQWO. Itu adalah kata yang sering kudengar. Tapi berapa
kalipun mendengarnya, kata itu masih saja menyakiti hatiku. Wajah dari orang
yang pertama kali mengatakannya padaku, orang yang dulu adalah temanku,
tiba-tiba muncul di dalam kepalaku.
“Ya. Kau benar.”
Ketika aku mengakuinya dengan
wajah tanpa ekspresi, pria itu mulai berbicara tanpa henti.
“Ryuzaki-sama, orang-orang
seperti itu tidak peduli apapun selama mereka baik-baik saja! Tidak ada
untungnya berteman dengan orang-orang seperti itu!”
Ryuzaki, yang dari tadi tenang,
tiba-tiba mengernyitkan alis matanya karena jengkel. Tiba-tiba muncul kerumunan
dan kata-kata seperti <BoK> dan <Ryuzaki> dapat terdengar
disana-sini.
Ryuzaki melihat sekeliling dan
mengatakan kepada pria yang terus menerus berbicara tadi.
“Pergilah kau dari sini sekarang
juga. Itu perintah.”
Dia berkata dengan kasar dan
menarik ikat pinggangku dengan tangan kirinya. lalu dia mulai berjalan menuju
ke gerbang plaza sambil menarikku.
“Err…hey! Apakah boleh
meninggalkan mereka seperti itu?”
“Tidak apa-apa!”
Yah, aku tidak punya alasan untuk
komplain. Kami keluar dari kerumunan meninggalkan dua pengawal tadi dan Near
yang masih kecewa. Ketika aku mengintip kebelakang, ekspresi jengkel pria yang
bernama Kura menyangkut di pandanganku seperti terfoto.
Flash, sebuah garis perak
terlihat memotong udara didepanku, dan ketika aku menyadarinya, pisau Ryuzaki
sudah berada tepat didepan hidungku. Itu adalah skill dasar rapier yang
bernama, <Linear>. Yah, kubilang sih dasar, tapi karena dexterity Ryuzaki
yang sangat besar, kecepatannya sangat menakutkan. Sejujurnya, aku bahkan tidak
bisa melihat jejak senjatanya.
Dengan senyuman terpaksa, aku
mengangkat tanganku menyerah.
“…baiklah, kau pengecualian.”
“Hmmph.”
Dia menarik pisaunya dengan
ekspresi bosan dan memutarkannya dengan jarinya sambil mengatakan sesuatu yang
tidak bisa kuduga.
“Kalau begitu partylah denganku.
Sebagai ketua dari party untuk melawan boss, aku akan melihat apakah kau sekuat
apa yang dikatakan oleh rumor. Aku telah menunjukkanmu kalau aku cukup kuat.
Selain itu, warna keberuntungan minggu ini adalah hitam.”
“Apa, Apa yang kau katakan!?”
Aku hampir saja terjatuh karena
pernyataan yang gila itu dan segera mencari kata-kata untuk menolaknya.
“Tapi…jika kau melakukan itu,
bagaimana dengan guildmu!?”
“Guild kami tidak memiliki level
quota.”
“K-kalau begitu bagaimana dengan
pengawal-pengawalmu?”
“Aku akan meninggalkan mereka.”
Aku mengangkat gelas tehku ke
mulutku untuk menambah sedikit waktu untuk berpikir tapi akhirnya aku sadar kalau
gelasku sudah kosong. Ryuzaki mengambilnya dari tanganku dengan ekspresi puas
diwajahnya dan mengisinya kembali dengan cairan panas dari dalam teko.
Sebenarnya—itu adalah tawaran
yang menarik. Hampir semua wanita ingin membuat party dengan seseorang yang
dikatakan sebagai cowok terkeren di Devilcraft. Tapi karena itulah, aku terus
menanyakan kepada diriku sendiri kenapa orang terkenal seperti Ryuzaki mau
membuat party denganku.
Mungkin karena dia mengasihaniku
karena aku adalah seorang player solo yang menyendiri? Sesuatu yang kukatakan
tanpa sadar karena kepalaku dipenuhi oleh pikiran negative seperti itu hampir
saja membuat hidupku berakhir.
“Garis depan sangat berbahaya.”
Ryuzaki mengangkat pisaunya yang
terlihat agak lebih mengkilap dari sebelumnya lagi. Aku mengangguk secepat yang
ku bisa. Bahkan dengan keraguanku tentang mengapa dia memilihku yang tidak
terlalu mencolok diantara orang-orang yang mencoba menyelesaikan game ini, aku
mengatakan dengan penuh resolusi.
“Oke. Kalau begitu…Aku akan menunggu
di depan gerbang lantai 75, besok pagi jam Sembilan jangan telat kata Ryuzaki.”
Aku menjawabnya dengan senyuman
percaya diri sambil menurunkan tangannya.
Tidak tahu berapa lama aku bisa berada
di rumah seorang laki-laki tanpa melakukan hal yang tidak sopan, aku mengatakan
ucapan perpisahan segera setelah kami selesai makan. Ketika Ryuzaki menemaniku
ke pintu depan rumahnya, dia menganggukkan kepalanya sedikit dan berkata.
“Yah…Kupikir aku harus berterima
kasih untuk hari ini. Makanannya sangat enak.”
“Ah aku, aku juga. Aku ingin
minta tolong padamu lagi…tapi kupikir tidak semudah itu aku bisa mendapatkan
bahan makanan seperti itu lagi.”
“Oh, bahkan makanan biasa terasa
berbeda jika kau cukup ahli.”
Ryuzaki menjawab sebelum
menengokan kepalanya keatas untuk melihat langit. Langitnya sudah sepenuhnya
diselimuti oleh kegelapan malam. Tapi, tentu saja kau tidak bisa melihat
bintang. Ada besi dan batu berwarna gelap yang menutupinya seratus meter diatas
udara. Aku mengarahkan kepalaku keatas juga sambil berkata.
“…situasi ini, dunia ini, apa ini
yang mau dibuat oleh Sanada Akihiko…?”
Kami berdua tidak bisa menjawab
pertanyaan yang setengahnya ditujukan pada diriku sendiri.
Sanada, yang pastinya sedang
mengamati dunia ini sambil bersembunyi entah dimana, apa yang dapat dia
pikirkan? Situasi damai ini yang datang setelah kekacauan yang penuh darah di
awal, apakah dia puas ataukah dia kecewa? Tidak mungkin aku bisa tahu.
Ketika Ryuzaki berjalan mendekatiku
dengan tenang, aku bisa merasakan sedikit kehangatan di tanganku. Apakah aku
hanya membayangkannya, ataukah itu adalah hasil dari simulator yang sangat
patuh ini?
6 November 2023 adalah hari
dimulainya death game ini, dan sekarang sudah mendekati akhir dari Oktober 2025.
Sekarangpun setelah hampir dua tahun, masih belum ada satupun pesan yang datang
dari dunia luar, apalagi tanda-tanda pertolongan. Yang bisa kami lakukan adalah
hidup dan berjalan, selangkah demi selangkah, menuju ke puncak.
Satu hari lagi terlewati di
Devilcraft ketika aku memikirkan hal ini. Kemana kami pergi, atau apa yang
menunggu kami diakhir, itu semua hanyalah kumpulan hal yang masih belum kami
ketahui. Jalan di depan masih panjang, dan cahayanya redup. Tapi—ada beberapa
hal baik juga.
Ketika aku melihat kearah besi
penutup diatas, aku membiarkan imaginasiku terbang menuju dunia asing yang
masih belum kulihat.
PART 7
Jam 9 pagi.
Cuaca hari ini settingnya agak
mendung, dan kabut pagi yang menutupi kota masih belum hilang sepenuhnya.
Cahaya dari luar yang memantul di kabut, mewarnai kota dengan warna
kuning-lemon.
Menurut kalender Devicraft, bulan
ini adalah <Month of the Ash Tree>, yang berarti sekarang sudah mendekati
akhir musim gugur. Temperatur yang sedikit dingin membuat bulan ini sebagai
bulan yang paling menyegarkan di tahun ini. Tapi sekarang ini, aku merasa tidak
begitu menyukai cuacanya.
Aku sedang bersiap menuju gate
plaza di area yang menuju pemukiman dari lantai 75. Entah kenapa aku tidak bisa
tidur semalam, dan yang kulakukan di atas kasurku adalah berguling kesana
kemari. Kupikir aku akhirnya bisa tertidur sekitar jam tiga pagi lewat sedikit.
Ada banyak sekali fungsi di AQWO yang bisa membantu player tapi sayangnya
tombol yang bisa membuatmu tertidur tidak termasuk kedalamnya.
Anehnya, justru kebalikannya ada.
Di dalam option yang berhubungan dengan waktu di menu, ada sesuatu yang disebut
<Alarm Clock> yang memaksa pemain untuk bangun dari tidur mereka. Tentu
saja pilihan untuk bangun atau atau tidak sepenuhnya ada pada keputusanmu, tapi
aku berhasil mengumpulkan cukup tekad untuk merangkak keluar dari kasurku
ketika sistemnya membangunkanku jam sembilan kurang sepuluh menit.
Mungkin untuk membantu para
pemain yang malas, pemain tidak harus mandi ataupun mengganti baju di game
ini—meski begitu ada beberapa pemain yang sepertinya tetap mandi setiap
harinya. Tapi karena mereplika air itu sangat sulit bahkan bagi Never Gear,
maka di AQWO tidak ada mandi yang seperti di dunia nyata. Setelah bangun
sedikit dekat dengan waktu janjian, aku memakai semua equipment ku dan dalam
waktu sepuluh menit, aku harus sampai ke teleport gate di Algade dan yang
menuju ke lantai 75, dan sedikit jengkel karena kurang tidur, tapi-
“Aku terlambat…”
Sekarang sudah jam sembilan lewat
sepuluh menit. Aku harus cepat sampai kalau tidak Ryuzaki pasti akan kecewa.
Tanpa ada kegiatan apapun, aku
melihat kearah peta kota algade dan mencari jalan cepat menuju gate.
Ahh, kuharap aku punya teknik
lari cepat atau sejenisnya.
Aku tertegun dan tak bisa berkata
apa-apa karena pikiran itu. Berharap bisa main game didalam game, aku menjadi
semakin parah saja.
Apakah aku boleh pulang dan
kembali tidur... Aku bahkan mulai berpikir seperti itu. Akhirnya aku tiba di
gate algade yang menuju lantai 75 yang berwarna biru. Aku melihat tanpa terlalu
berharap, aku langsung cepat-cepat masuk ke teleport dan tiba di gate yang
berada di lantai 75. Tapi kemudian-
“Kyaaaaa! Tolong minggir dari
situ-! Teriak ku keras”
“Ahhhhhh!?”
Biasanya pemain yang teleport muncul
diatas tanah, tapi orang aku muncul satu meter diatas udara dan—terbang menuju
kearah Ryuzaki.
“Huh, huh…!?”
Tidak mempunyai waktu untuk menghindar,
kami bertabrakan dan terjatuh ke tanah. Bagian depankepalaku membentur muka
Ryuzaki dengan keras. Jika aku tidak berada di safe area, beberapa titik dari
HP ku pasti akan menghilang.
Ini berarti—sepertinya, pemain
bodoh sepertiku ini melompat ke dalam gate di sisi lain dan muncul seperti itu.
Pikiran itu muncul didalam kepalaku. Masih sedikit pusing, aku mencoba bangun
dari tubuh Ryuzakiyang tadi menangkap tubuhku.
“…hmm?”
Aku merasakan sesuatu yang aneh
ada yang meremas bagian dadaku. Dia meremasnya dua, tiga kali untuk memastikan
apa yang dia remas jelly atau yang lain.
“K-Kya-!!”
Akuberteriakdengan keras sampai terdengar
player lain. Pada saat yang sama,dengan muka memerah akumundur beberapa langkah
untuk menjauhi Ryuzaki.
Di depanku, Ryuzaki bangun dan
duduk di lantai, mengenakan seragam knight berwarna hitam dengan lambang merah
diatasnya dan sebuah celana panjang, dengan sebuah rapier berwarna hitam-putih
di sarung pedangnya. Dan entah kenapa, dia melotot kearahku dengan mata yang
terlihat sangat ketakutan. Wajahnya mengalami efek ketakutan tertinggi dan
seluruh wajahnya memerah hingga ke telinganya, dan kedua tangannya menyilang
sebagai isyarat meminta maaf-…maaf…?
Aku segera sadar apa yang baru
saja Ryuzaki barusan remas dengan tangannya. Pada saat yang sama aku menyadari,
agak sedikit terlambat, kalau aku sedang berada dalam situasi yang berbahaya.
Semua langkah menghindari bahaya yang sudah kulatih di kepalaku menghilang.
Sambil membuka dan menutup tangan kananku, tanpa tahu harus melakukan apa
dengannya, Aku membuka mulutku.
“Hey. Selamat pagi, Rizuka.”
Tanyanya dengan nada ketakutan.
Ketakutan di matanya terlihat
lebih jelas lagi. Itu adalah mata dari orang yang sudah berniat untuk lari dari
musuh.
Aku mulai berpikir apakah perlu
untuk <menyapa> ketika gerbangnya kembali bersinar biru lagi. Ryuzaki
melihat kebelakang dengan ekspresi terkejut dan buru-buru bangun untuk
merapikan armornya dan berdiri disampingku.
“Eh…?”
Tanpa tahu apa-apa, aku ikut
berdiri. Gerbangnya bersinar semakin terang ketika seseorang muncul
ditengahnya. Kali ini playernya muncul diatas tanah.
Ketika cahayanya memudar, aku
mengenali wajah orang yang muncul itu, dan jubah hitam dengan symbol merah
diatasnya. Orang itu, orang yang mengenakan seragam BoK dan membawa pedang yang
terlihat sedikit terlalu dihiasi, adalah pengawal berambut panjang yang
mengikuti Ryuzaki berkeliling kemarin. Namanya kalau tidak salah adalah Kura,
Kuma atau apalah itu.
Kura semakin menggerutu ketika
dia melihat Ryuzaki berada disampingku. Dia tidak terlihat begitu tua. Dia
mungkin baru berumur sekitar dua puluh tahunan, tapi kerutan diwajahnya
membuatnya terlihat lebih tua. Dia menggertakkan giginya dengan keras hingga
kami hampir bisa mendengarnya dan berbicara dengan suara yang terdengar sedikit
marah.
“R…Ryuzaki-sama, kau tidak boleh
bertindak semaumu seperti ini…!”
Ketika aku mendengar suara
histerisnya, aku berpikir Ini
pasti akan merepotkan dan
menurunkan bahuku sedikit. Dengan matanya yang sipit itu memandangku dengan
tajam, Kura berbicara lagi.
“Ayo, Ryuzaki-sama, kita kembali
ke markas pusat.”
“Tidak. Aku bahkan tidak sedang bertugas
hari ini! …dan Kura, kenapa kau berdiri di depan rumahku pagi-pagi sekali?”
Ryuzaki menjawab dengan marah
disampingku.
“Fufu, aku tahu kalau situasi
seperti ini akan terjadi, makanya aku mulai pergi ke Salemburg untuk mengawasi
rumahmu sejak sebulan yang lalu.”
Aku hanya bisa terkejut mendengar
jawaban bangga Kura. Ryuzaki juga kaget. Setelah kesunyian selama beberapa saat
Ryuzaki berbicara dengan suara yang agak dipaksakan.
“Itu…itu bukan bagian dari
perintah ketua kan…?”
“Tugasku adalah untuk mengawalmu,
Ryuzaki-sama. Mengawasi rumahmu juga termasuk kedalam…”
“Apa yang kau maksudkan dengan
termasuk, idiot!”
Kura berjalan mendekat dengan
ekspresi yang semakin marah dan jengkel, lalu mendorongku dan menarik tangan
Ryuzaki.
“Kau sepertinya tidak mengerti.
Tolong jangan seperti ini. …sekarang ayo kembali ke markas.”
Ryuzaki terlihat marah mendengar
suara yang terdengar seperti menyembunyikan sesuatu itu. Dia melihatku dengan
pandangan memohon.
Sejujurnya aku berpikir untuk
kabur seperti yang selama ini aku lakukan hingga sekarang. Tapi begitu melihat
mata Ryuzaki, tanganku mulai bergerak dengan sendirinya. Aku memegang tangan
kanan Kura, tangan yang menarik Ryuzaki, dan menguatkan tenaga di tanganku
tepat sebelum crime prevention code nya aktif.
“Maaf, tapi aku akan meminjam
wakil ketuamu untuk hari ini.”
Kalimat itu terdengar bodoh
bahkan ditelingaku, tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Kura, yang sengaja
mengabaikanku hingga sekarang, mengerutkan wajahnya dan menarik tangannya
menjauh.
“Kau…!”
Dia berteriak dengan suara yang
sedikti serak. Bahkan jika sistemnya melebih-lebihkan ekspresi pemain, masih
ada sesuatu yang aneh dibalik suaranya.
“Aku akan menjamin Ryuzaki akan
selamat bersamaku. Ini tidak seperti kalau kami akan melawan boss hari ini. Kau
bisa kembali ke markas sendiri.”
“J…Jangan bercanda denganku!! Kau
pikir pemain payah dan lemah sepertimu bisa melindungi Ryuzaki-sama!!”
“Lebih baik daripadamu,
pastinya.”
“K-Kau kurang ajar…! J-Jika kau
bisa berbicara sombong seperti itu berarti kau sudah siap dengan konsekuensinya
kan…?”
Kura, dengan wajahnya yang
semakin marah, memanggil layar menu dengan tangan kanannya dan memanipulasinya
dengan cepat. Lalu ada sebuah system message yang agak tembus pandang muncul
didepanku. Aku sudah bisa mengira apa itu sebelum aku membacanya.
[Sebuah duel 1-lawan-1 telah
diminta oleh Kura. Apa kau menerimanya?]
Dibawah pesan yang tak
berekspresi itu terdapat tombol Yes/No dan beberapa option lain. Aku melirik
kesamping kearah Ryuzaki. Dia tidak bisa melihat ke pesannya tapi dia terlihat
telah mengerti apa yang terjadi. Kupikir dia akan mencoba menghentikanku, tapi
mengejutkannya dia mengangguk dengan sedikit ekspresi kaku diwajahnya.
“…apa ini boleh? Tidakkah ini
akan membuat masalah ke guild mu…?”
Ryuzaki menjawab pertanyaan
bisikanku dengan bisikan juga.
“Tidak apa-apa. Aku akan
melaporkan sendiri hal ini ke ketua.”
Aku mengangguk, lalu menekan
tombol Yes dan memilih option <First Strike Mode>.
Ini adalah duel yang bisa
dimenangkan dengan mendaratkan satu pukulan telak atau dengan mengurangi HP
musuh hingga setengah. Pesannya berubah menjadi [Kau telah menerima duel 1-lawan-1
dengan Kura], dan sebuah hitungan mundur muncul 60 detik muncul dibawahnya.
Disaat angkanya mencapai nol, HP protection system yang ada di dalam kota akan
dihilangkan sementara, dan dia dan aku akan bisa beradu pedang hingga salah
satu dari kami menang.
Kura sepertinya telah menafsirkan
kalau Ryuzaki setuju.
“Tolong lihat, Ryuzaki-sama! Aku
akan membuktikan kalau tidak ada orang selain aku yang lebih baik untuk
mengawalmu!”
Dia berteriak dengan ekspresi
yang hanya bisa menutupi kesenangannya sedikit, menarik keluar two-handed sword
besarnya dari pinggangnya, dan bersiap dengan suara pedang berbunyi 'clank'.
Aku memastikan kalau Ryuzaki telah
mundur sedikit jauh sebelum aku menarik one-handed sword ku dari punggungku.
Seperti yang bisa diduga dari anggota guild terkenal, pedangnya terlihat jauh
lebih bagus dari punyaku. Bukan hanya perbedaan ukuran antara one-handed dan
two-handed sword, tapi juga pedangku hanyalah senjata simple, sedangkan
pedangnya telah didekorasi penuh oleh seorang top class craftsman.
Ketika kami berdiri sejauh lima
meter, menunggu hitung mundurnya untuk berakhir, orang-orang mulai berkumpul
disekitar kami. Ini tidak begitu aneh. Ini adalah gerbang plaza di tengah kota,
dan kami berdua adalah player yang lumayan terkenal.
“Solo player Rizuka dan seorang
anggota BoKtua akan berduel!”
Ketika seseorang meneriakkan
kalimat itu, sorakan terdengar disana-sini. Karena duel biasanya adalah untuk
membandingkan skillmu dengan seorang teman, semua penonton bersorak dan
bersiul, tidak peduli akan situasi yang menyebabkan semua ini.
Tapi saat timer nya mulai
mendekati nol, semua suara mulai menghilang. Aku merasa benang dingin melintas
melewati tubuhku seperti ketika aku bertarung dengan monster. Aku memfokuskan
diri untuk membaca suasana di sekitar Kura, yang melihat kesana kemari karena
jengkel, dan memeriksa cara berdirinya dan bagaimana kakinya bergerak.
Manusia biasanya menunjukkan
kebiasaan tertentu saat mereka akan menggunakan sebuah skill. Apakah itu adalah
skill menerjang atau bertahan, atau jika dia akam memulai dari bawah atau dari
atas, jika tubuh mereka menunjukan ciri-ciri seperti itu maka itu akan menjadi
kelemahan yang fatal.
Pedang Kura sedikit condong
kebelakang di bagian tengah tubuhnya dan bagian bawah tubuhnya membongkok
kebawah. Itu jelas-jelas tanda kalau dia akan menggunakan serangan menerjang
dari atas. Tentu saja, itu mungkin adalah tipuan. Aku sendiri sebenarnya
bersikap dengan pedangku di postur yang rendah dan relax, memberikan kesan
kalau serangan pertamaku adalah serangan lemah kebagian bawah tubuhnya. Kau
hanya bisa mengandalkan pengalaman dan "perasaan"mu ketika mencari
tipuan.
Ketika hitung mundurnya memasuki
satu digit, aku menutup windownya. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara di
sekelilingku lagi.
Aku melihat Kura, yang sejak tadi
melirik dari arahku ke window dan kembali lagi, menjadi kaku ketika otot
tubuhnya menjadi tegang. Kata [DUEL!!] muncul diantara kami dan aku melompat.
Percikan api muncul dari bawah sepatuku dan udara berbunyi ketika bahuku
memotong melewatinya.
Kura juga bergerak bersamaan
denganku. Tapi ada ekspresi kaget di wajahnya, karena aku telah menghancurkan
dugaannya kalau aku akan menyerang dengan skill serangan rendah tipe bertahan
dan menerjang.
Serangan pertama Kura, seperti
yang kuduga, sebuah serangan tinggi two-handed sword charge skill:
<Avalanche>. Jika pertahanan terlalu lemah, si penahan mungkin bisa
memblok serangannya tapi tidak bisa segera melakukan counterattack karena
benturannya, sedangkan player yang menggunakannya bisa mempersiapkan gaya
berdirinya lagi, karena terjangannya membuat jarak diantara mereka. Itu adalah
sebuah skill level tinggi yang sangat bagus. Yah setidaknya untuk melawan
monster.
Aku, yang sudah membaca apa yang
akan dilakukan Kura, memilih skill tipe menerjang <Sonic Leap>. Jika kami
berdua terus menerjang, skill kami akan beradu.
Jika kita melihat hanya dari
kekuatan skill, dialah yang lebih kuat, dan systemnya akan menguntungkan skill
yang lebih berat jika dua serangan beradu. Jika begitu pedangku akan
dipantulkan dan skillnya akan mengenaiku, sedikit diperlemah tapi masih cukup
untuk mengahiri duel. Tapi aku tidak mengincar Kura.
Jarak diantara kami semakin
menyempit dengan cepat. Tetapi persepsiku juga sudah semakin cepat, dan aku
merasa seperti waktu menjadi semakin pelan. Aku tidak yakin jika ini adalah
hasil dari system atau ini adalah kemampuan yang dimiliki manusia. Yang kutahu
adalah aku bisa melihat semua gerakannya.
Pedangnya, yang condong
kebelakang, mulai mengeluarkan sinar orange dan menuju kearahku dengan cepat.
Stats nya pasti agak tinggi, seperti yang bisa kau bayangkan dari anggota guild
terbaik, tapi waktu yang dibutuhkan skillnya untuk dimulai lebih cepat dari
dugaanku. Pedang yang bersinar terang itu menuju kearahku. Jika aku mengenai
skill itu dengan telak tanpa ragu lagi aku akan menerima damage yang cukup
untuk mengakhiri duel. Wajah Kura menunjukkan kenikmatan dari kemenangan yang
terlihat di depan mata. Tapi- Pedangku, dengan bagian kepalanya duluan,
bergerak agak lebih cepat, membuat sebuah garis hijau dan mengenai pedangnya
sebelum serangan dia berakhir. Systemnya mengkalkulasikan damage yang
dihasilkan oleh pedangku, dan menciptakan percikan yang besar.
Hasil lain dari dua senjata
beradu adalah <Weapon Break>. Itu hanya mungkin terjadi ketika sebuah
senjata menerima pukulan berat dibagian lemah strukturnya.
Tapi aku yakin kalau senjatanya
akan hancur. Senjata dengan dekorasi yang terlalu banyak punya ketahanan yang
rendah.
Seperti yang kuduga—dengan sebuah
suara yang menyakitkan telinga—pedang two-handed Kuradeel patah. Muncul efek
seperti ledakan.
Kami melewati satu sama lain
ditengah udara dan mendarat ditempat orang yang satunya melompat. Setengah
bagian yang patah dari pedangnya berputar diudara, memantulkan sinar matahari,
sebelum tertancap di lantai batu diantara kami. Setelah itu, patahan yang ada
di lantai dan di tangan Kuradeel pecah menjadi polygon fragment.
Kesunyian menguasai plaza selama
beberapa saat. Semua penonton membeku dengan mulut mereka yang terbuka lebar.
Tapi ketika aku mendarat, berdiri, dan mengayunkan pedangku dari kiri ke kanan
karena kebiasaan, mereka mulai bersorak.
“Hebat!”
“Apa dia mungkin mengincar hal
itu!?”
Ketika aku mendengar semua orang
mulai mengkritik pertarungan singkat itu, aku menghela napas. Bahkan jika itu
hanya satu skill, menunjukkan bahkan hanya satu kartu dari tanganku bukanlah
sesuatu yang bisa kugembirakan.
Dengan pedang di tanganku aku
mulai berjalan kearah Kura terduduk dengan punggungnya yang membelakangiku.
Punggungnya, yang ditutupi oleh jubah hitam, bergetar dengan keras. Setelah
menyarungkan pedangku dengan suara kencang yang disengaja, aku berkata dengan
suara pelan.
“Jika kau ingin menantangku lagi
dengan senjata baru aku akan melawanmu lagi…tapi ini sudah cukup kan?”
Kura bahkan tidak mencoba untuk
melihat kearahku. Dia menggoncangkan tangannya di lantai seperti orang gila.
Tapi dia mengatakan dengan suara yang bergetar “Aku mundur dari pertarungan.”
Seharusnya dia bisa mengatakan <Aku menyerah> atau <Aku kalah> kan.
Segera setelahnya, sebaris dari
garis berwarna ungu muncul tepat dimana itu pertama muncul ketika itu
menunjukkan saat pertarungan dimulai, kali ini menunjukkan kalau pertarungan
telah berakhir dan pemenangnya. Sorakan lainnya terdengar, kemudian Kuradeel
berdiri terhuyung dan berteriak pada para penonton.
“Apa yang kalian lihat! Pergi
kalian!”
Lalu dia berbalik perlahan
kearahku.
“Kau… Aku akan membunuhmu… Aku
pasti akan membunuhmu…”
Aku tidak bisa menyangkal kalau
aku agak takut dengan mata itu.
Emosi di AQWO terasa sedikit
berlebihan, tapi dengan kebencian yang terlihat di mata sipit Kuradeel, matanya
terlihat lebih menyeramkan dari monster.
Seseorang berdiri di sampingku
ketika aku terkejut.
“Kura, Aku memerintahkanmu
sebagai wakil ketua dari Blood of the Knight. Aku membebas tugaskanmu dari
jabatan sebagai pengawal. Kembalilah ke markas dan tunggu disana hingga ada
perintah lebih lanjut.”
Kata-kata dan ekspresi Ryuzaki
keduanya dingin. Tapi aku merasa ada rasa stress dibalik suaranya dan tanpa
sadar memegang pundaknya. Ryuzaki sedikit menyandarkan tubuhnya yang tegang.
“…ap…apa-apaan…ini…”
Suara itu sedikit terdengar di
telinga kami. Sisanya, mungkin sekumpulan kata kutukan yang tidak keluar dari
mulutnya. Kura melotot kearah kami. Tidak salah lagi dia berpikir untuk
menyerang kami dengan senjata cadangannya, meskipun dia tahu kalau crime
prevention code akan menghentikannya.
Tapi dia bisa menahan diri dan
mengambil keluar sebuah teleport crystal dari dalam jubahnya. Dia
mengangkatnya, menggenggamnya dengan begitu kuat hingga aku berpikir kalau itu
akan hancur, dan bergumam “Teleport…Grandum.” Dia memeloloti kami dengan
kebencian bahkan ketika badannya mulai menghilang didalam cahaya biru.
Ketika cahayanya menghilang,
sebuah kesunyian yang menusuk menyebar di sekitar plaza. Para penonton terlihat
kaget dengan kemarahan Kura, tapi mereka segera pergi dalam kelompok-kelompok
kecil. Pada akhirnya hanya aku dan Ryuzaki sajalah yang tertinggal.
Apa yang harus aku katakan?
Pikiran itu berputar-putar dikepalaku, tapi karena aku telah hidup sendiri
selama dua tahun, tidak ada satupun hal berguna yang muncul di pikiranku. Aku
bahkan merasa tidak ingin memastikan apa aku melakukan hal yang benar atau
tidak.
Lalu akhirnya Ryuzaki berjalan
dan mulai berbicara dengan suara yang rapuh.
“…maaf. Aku membuatmu terlibat
dalam hal ini.”
“Tidak…Aku sih tidak apa-apa,
Tapi apa kau akan baik-baik saja?”
Menggelengkan kepalanya perlahan,
si wakil ketua dari guild terkuat memberikan senyuman yang bersemangat tapi
lemah.
“Yeah, Kupikir aku juga salah
karena memaksakan peraturan guild kepada semuanya dengan keras demi
menyelesaikan game nya lebih cepat lagi…”
“Kupikir…wajar kau melakukan hal
seperti itu. Jika mereka tidak mempunyai orang sepertimu kecepatan
menyelesaikan game ini akan sangat berkurang. Yah, itu bukan hal yang bisa
dikatakan oleh player solo pemalas sepertiku…ah, aku tidak bermaksud begitu.”
Aku bahkan tidak tahu apa yang
ingin kukatakan lagi, jadi aku mengatakan apapun yang muncul di kepalaku.
“…jadi, tidak ada yang akan
protes, jika kau…mengambil cuti sementara dengan seseorang yang tidak
memikirkan apapun sepertiku.”
Mendengar kata-kata itu Ryuzaki
menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan ekspresi bingung, lalu dia
tersenyum yang agak pahit dan mengendurkan raut wajahnya.
“…yah, aku mengucapkan terima
kasih. Kalau begitu aku akan menikmati hari ini sebanyak yang aku bisa. Aku
akan mempercayakan posisi menyerang padamu.”
Dia berbalik dengan semangat dan
mulai berjalan melewati jalan yang menuju keluar kota.
“Apa? Hey! Menyerang kan
seharusnya dilakukan bergantian!”
Bahkan ketika aku mengkomplain,
aku menghela napas karena lega dan ikut berjalan kearah rambut berwarna
coklat-chestnut yang tertiup angin dengan perlahan.
PART 8
Udara yang terasa di hutan terasa
hangat. Perasaan gelisah yang muncul kemarin malam terasa seperti hanya sebuah
ilusi. Matahari pagi bersinar melewati celah pohon, membuat pilar keemasan yang
terbuat dari cahaya menyinari kupu-kupu dengan indahnya. Sayangnya, semua itu
hanyalah efek visual, jadi kau tidak bisa menangkapnya meskipun kau
mengejarnya.
Sambil menerobos melalui
semak-semak tipis, Ryuzaki berbicara dengan nada menyindir.
“Kau selalu memakai pakaian yang
sama.”
Ah.
Aku melihat ke badanku: Sebuah
kaos hitam yang agak longgar, sepasang celana dan baju yang berwarna sama. Aku
tidak mememakai equipment armor yang berbahan besi sedikitpun.
“Yah, memangnya kenapa? Jika aku
punya uang lebih untuk membeli baju, lebih baik aku membeli sesuatu untuk
dimakan…”
“Apa ada alasan kenapa kau yang
kau pakai semuanya hitam? Atau itu hanya untuk menunjukkan ekspresi
karaktermu?”
“B-bagaimana dengan kau sendiri?
Kau selalu mengenakan jubah berwarna hitam itu…”
Sambil berbicara, aku mulai
menscan area sekitar karena kebiasaanku tanpa berpikir sama sekali. Tidak ada
monster sama sekali disini. Tapi-
“Mau bagaimana lagi. Ini kan
seragam gui…huh? Ada apa?”
“Tunggu sebentar…”
Aku mengangkat tangan kananku
sedikit untuk mendiamkan Ryuzaki. Ada seorang player di ujung dari daerah yang
terkena scan. Ketika aku memfokuskan untuk menscan area dibelakangku, banyak
cursor berwarna hijau yang mulai muncul, menunjukkan kalau ada banyak player
disana.
Tidak mungkin itu kelompok
perampok. Perampok selalu memburu player yang lebih lemah dari mereka, Jadi
mereka sangat jarang terlihat disekitar garis depan, dimana semua player
terkuat berkumpul. Yang lebih penting, ketika seorang player melakukan sebuah
kejahatan, cursor mereka akan berubah menjadi oranye dan tidak akan kembali ke
hijau dalam waktu yang lama. Apa yang aku khawatirkan adalah jumlah mereka.
Aku membuka peta dari menu utama
dan menaruhnya dalam posisi show mode supaya Asuna bisa melihatnya. Peta dari
area yang terkena scan ku menunjukkan cursor berwarna hijau. Mereka ada dua
belas orang.
“Banyak sekali…”
Aku mengangguk mendengar apa yang
dikatakan Ryuzaki. Biasanya ketika ada terlalu banyak anggota dalam sebuah
party, akan menjadi lebih sulit untuk bertarung, jadi lima atau enam orang
adalah jumlah yang ideal.
“Lihat jumlah orangnya.”
Kumpulan cahaya itu dengan cepat
menuju kearah sini dalam bentuk barisan dua garis yang rapi. Kecuali di dalam
dungeon berbahaya, jarang sekali aku melihat grup besar yang kompak seperti itu
di atas field.
Jika kami bisa melihat level
anggotanya, kami mungkin bisa mengetahui apa yang mereka lakukan, tapi player
bahkan tidak bisa melihat nama player lain yang baru mereka temui. Itu adalah
sistem default yang dibuat untuk mencegah player melakukan PKing—membunuh
player—dengan bebas, jadi itu hanya menyisakan kami pilihan untuk menebak level
mereka dengan melihat equipment mereka.
Aku menutup map dan melirik
kearah Ryuzaki
“Kita harus melihat siapa mereka.
Ayo bersembunyi dibalik pepohonan hingga mereka lewat.”
“Ya, kau benar.”
Ryuzaki mengangguk dengan
ekspresi pucat. Kami memanjat ke sebuah tebing kecil dan menunduk dibalik
sebuah semak-semak yang hampir setiggi badan kami. Itu adalah tempat yang bagus
untuk mengamati grup itu ketika mereka lewat.
“Ah…”
Ryuzaki tiba-tiba melihat kearah
pakaiannya. Seragam hitam nya agak mencolok diantara pohon-pohon hijau ini.
“Apa yang harus kulakukan? Aku
tidak punya equipment lain…”
Titik-titik nya semakin mendekat.
mereka sekarang sudah berada didalam jarak pandang kami.
“Maafkan aku sebentar.”
Aku membuka mantelku dan
menggunakannya untuk menutupi Ryuzaki juga. Ryuzaki menatap kearahku sedikit
tapi akhirnya mengizinkanku untuk menutupinya. Mantelnya tidak terlalu bagus
untuk dilihat, tapi memberi sebuah bonus bersembunyi yang tinggi. Dengan ini,
akan sulit untuk menyadari kami tanpa menggunakan skill scanning tingkat
tinggi.
“Yah, mantel ini tidak terlalu
bagus, tapi ini sangat berguna kan?”
“Tau ah! …shh, mereka datang!”
Ryuzaki berbisik dan menaruh
jarinya ke bibirku. Aku membungkuk lebih rendah dan suara langkah kaki
terdengar di telingaku.
Perlahan, kami bisa melihat grup
itu melewati jalan setapak.
Mereka semua adalah warrior.
Semuanya menggunakan armor metal berwarna hitam dan pakaian bertarung berwarna
hijau yang sama. Equipment mereka mempunyai desain yang normal, kecuali untuk
gambar kastil di setiap perisai mereka yang mencolok.
Enam orang di depan mempunyai
one-handed sword dan enam dibelakang mempunyai halberd. Mereka semua menurunkan
penutup helm mereka, jadi kami tidak bisa melihat ekspresi mereka. Ketika kami
melihat ke dua belas player berjalan dengan barisan sempurna, aku sempat
berpikir kalau mereka adalah sebuah grup yang terdiri dari NPC.
Aku yakin sekarang. Mereka adalah
anggota dari grup besar yang membuat kota di lantai pertama sebagai markas
pusat mereka: <The Army>. Aku bisa merasakan kalau Ryuzaki menahan
napasnya.
Mereka bukan musuh bagi player
biasa. Malahan, mereka bisa dianggap sebagai grup yang paling bekerja keras
untuk menghentikan kejahatan.
Tapi cara mereka agak sedikit
kasar, dan ada yang bilang kalau mereka menyerang player oranye—disebut begitu
karena cursor mereka berwarna orange—segera setelah mereka ditemukan dan tanpa
berkata apapun. Lalu mereka akan melucuti equipment para player oranye dan
memenjarakan mereka di dalam ruang bawah tanah dari Black Iron Castle. Rumor
tentang bagaimana <The Army> memperlakukan orang-orang yang tidak
menyerah dan gagal melarikan diri agak menakutkan.
Mereka juga sering menjelajah
dengan party beranggotakan banyak dan mengontrol seluruh daerah berburu, jadi
kalimat "tidak boleh pergi mendekati <The Army>" menjadi
pengetahuan umum diantara para player. Yah, mereka biasanya beroperasi di
lantai lima puluhan dan dibawahnya, berusaha memperkuat grup mereka dan
menegakkan hukum, jadi jarang sekali melihat mereka di garis depan-
Ke dua belas warrior menghilang
kedalam hutan bersamaan dengan suara armor dan sepatu mereka.
Melihat cara semua player
mendapatkan softwarenya, kau bisa bilang kalau sebagian besar orang yang
terjebak didalam sao adalah maniak game, yang tidak peduli dengan kata
<Peraturan> atau sejenisnya. Tapi kenyataan kalau mereka masih
menunjukkan pergerakan yang teratur sangat hebat. Mereka mungkin adalah satuan
terkuat dari <The Army>.
Setelah memastikan kalau mereka
telah keluar dari batas peta, Ryuzaki dan aku menghela napas lega.
“…rumornya, sungguhan…”
Aku berbisik pada Ryuzaki saat
mantelku masih menutupinya untuk bertanya.
“Rumor?”
“Ya. aku mendengar saat guild meeting
kalau <The Army> mengubah cara mereka bekerja dan mulai muncul di
lantai-lantai atas. Mereka pernah disebut sebagai grup yang mencoba untuk
menyelesaikan gamenya kan? tapi setelah kerusakan yang mereka terima ketika
melawan boss di lantai 25, mereka mulai memfokuskan untuk memperkuat grup
mereka dan berhenti bertarung di garis depan. –Jadi, daripada pergi ke
labyrinth dengan jumlah besar seperti yang biasa mereka lakukan, mereka
memutuskan untuk mengirimkan unit yang lebih kecil dan elit dan mencoba untuk
menunjukkan kalau mereka masih berusaha keras untuk menyelesaikan game nya.
Laporan mengatakan kalau unit pertama akan segera muncul.”
“Jadi, mereka memamerkan
kemampuan mereka. Tapi apa mereka akan baik-baik saja menerjang begitu saja ke
area yang belum terjamah…? Mereka terlihat berlevel tinggi tapi…”
“Mungkin…mereka akan mencoba
untuk mengalahkan boss…”
Dalam setiap labyrinth, ada satu
boss yang menjaga tangga ke lantai selanjutnya.. Mereka tidak muncul lagi dan
mereka sangat kuat, tapi reputasi dan popularitas yang didapat untuk
mengalahkan mereka sangat besar. Itu pasti akan sangat efektif untuk
mendapatkan kehormatan.
“Jadi mereka mengumpulkan
orang-orang itu…? Tapi itu tetap bodoh. Masih belum ada orang yang pernah
melihat boss dari lantai 75. Biasanya, orang-orang akan terus mengirimkan grup
bantuan untuk menganalisa kekuatan dan gaya bertarung boss.”
“Yah, bahkan guild-guild bekerja
sama untuk mengalahkan para boss. Mungkin mereka melakukan hal yang sama…?”
“Aku tidak tahu… Yah, mereka
seharusnya juga tahu kalau mencoba melawan boss seperti ini akan sia-sia. Kita
harus cepat. Kuharap kita tidak akan bertemu mereka disana.”
Aku bangun dan agak sedikit
menyesal karena harus melepaskan Asuna. Asuna menggigil ketika dia keluar dari
mantelku.
“Sekarang sudah hampir musim
dingin… aku harus membeli sebuah mantel juga. Di toko mana kau membeli mantel
itu?”
“Hmm…mungkin di toko pemain
dibagian barat dari Algade.”
“Kalau begitu ajak aku kesana
kalau kita sudah selesai menjelajah.”
Setelah mengatakan itu, Ryuzaki
melompat turun perlahan ke jalan setapak. Aku mengikutinya. Dengan bantuan
sistem, ketinggian seperti ini tidak masalah bagiku.
Mataharinya sudah hampir berada
di tempat tertinggi. Ryuzaki dan aku menuruni jalan setapak dengan cepat sambil
memperhatikan sekeliling kami.
Untungnya, kami bisa keluar dari
hutan tanpa bertemu satu monster pun, dan padang rumput yang penuh dengan bunga
biru muncul didepan kami. Jalan setapaknya lurus melewati padang rumput, dan
pada ujung nya berdiri tegak Labyrinth Area.
Pada tempat tertinggi dari menara
ini, akan ada ruang besar dan satu boss akan menjaga tangga menuju ke lantai
selanjutnya-lantai 76. Jika boss nya sudah ditaklukkan dan seseorang sampai
pada living area dari lantai selanjutnya dan mengaktifkan teleport gate, maka
lantai ini akan clear.
<Pembukaan Kota> akan
diselenggarakan oleh kerumunan besar orang-orang dari lantai bawah yang datang
untuk melihat kota yang baru, dan seluruh tempat akan menjadi hidup seperti
sebuah festival. sekarang ini, sudah sembilan hari sejak orang-orang mulai
aktif menjelajah lantai 75. Sudah waktunya untuk seseorang menemukan boss nya.
Menara disini adalah bangunan
melingkar yang terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan. Ini adalah
tempat dimana aku dan Ryuzaki pernah berada sebelumnya, tapi aku masih merasa
terintimidasi dengan ukurannya yang besar. Meski begitu, ukurannya hanyalah
satu per seratus dari Aincrad. Ini adalah harapan yang tidak mungkin terkabul,
tapi, diam-diam, aku berharap untuk bisa melihat kota tua melayang ini dari
luar.
Kami tidak bisa melihat unit dari
<The Army>. Mereka kemungkinan besar sudah berada di dalam. Kami berjalan
menuju ke pintu masuk, mempercepat langkah kami tanpa sadar
PART 9.
Lebih dari setahun berlalu sejak
Blood of the Knights menempati posisi terbaik diantara semua guild yang ada.
Sejak saat itu, ketua guildnya,
Artix si <Man of Legend>, dan wakil ketua nya Ryuzaki si <Flash>
menjadi terkenal sebagai dua orang dari warrior terbaik di Devilcraft. Sekarang
aku mempunyai kesempatan untuk mengamati Ryuzaki yang sudah menyelesaikan
latihan skill yang dibutuhkan oleh seorang rapier-sword fencer, bertarung
melawan monster biasa.
Kami sedang berada didalam
pertarungan, dan musuhnya adalah swordman tengkorak yang bernama <Demonic
Servant>. Tingginya lebih dari dua meter, dikelilingi oleh sebuah cahaya
biru yang membuatku merinding, dan memegang sebuah pedang lurus yang besar di
tangan kanannya dan sebuah perisai bulat yang terbuat dari logam di tangan
kirinya. Monster itu tidak memiliki satu otot pun, meski begitu dia memiliki
strength stat yang sangat tinggi, membuatnya menjadi sulit untuk dilawan.
Tapi Ryuzaki tidak mempedulikan
hal itu.
“Hrrrrgrrrr!”
Dengan sebuah teriakan aneh,
tengkorak itu mengayunkan pedangnya beberapa kali meninggalkan sebuah garis
cahaya di jalur ayunannya. Itu adalah sebuah skill combo 4-hit: <Vertical
Square>. Ketika aku melihatnya sambil khawatir dari beberapa langkah
dibelakangnya, Ryuzaki melangkah kekiri dan kekanan, menghindari semua serangan
dengan penuh gaya.
Bahkan jika ini adalah situasi
2-lawan-1, kami tidak bisa bertarung sekaligus ketika menghadapi musuh yang
bersenjata lengkap. Itu tidaklah dilarang oleh systemnya, tapi ketika dua orang
berada terlalu dekat didalam pertarungan dimana pedang-pedang diayunkan dengan
kecepatan yang lebih cepat dari mata, itu lebih menjadi gangguan daripada
menolong. Jadi ketika berparty, sebuah kemampuan yang memerlukan kerjasama
tingkat tinggi yang di sebut <switching> digunakan.
Setelah ayunan penuhnya, dan
serangan terakhirnya meleset, postur dari Demonic Servant itu agak sedikit
goyah. Ryuzaki tidak melewatkan kesempatan ini dan langsung melakukan
counter-attack.
Tusukan dari pedang hitam-putih
nya mendarat satu per satu, semuanya dengan spektakular mengenai target mereka,
dan HP dari tengkorak itu berkurang. Setiap serangan tidak membuat damage yang
besar, tapi jumlah serangannya sangat besar.
Setelah terkena serangan tiga
tusukan cepat, perisai tengkorak itu menjadi sedikit naik, dan Ryuzaki
mengganti gayanya dan menebas dua kali di kaki musuhnya. Lalu, dengan ujung
pedangnya yang bersinar putih dengan terang, dia mengirimkan dua tusukan keras
di bagian atas dan bawah.
Itu adalah combo 8-hit. Itu
mungkin adalah sword skill level tinggi yang bernama <Star Splash>. Menyerang
tengkorak itu dengan tepat dengan pedangnya yang tipis, yang biasanya tidak
efektif melawan musuh seperti itu, itu adalah bukti dari kemampuannya yang luar
biasa.
Kekuatan yang telah mengurangi
sekitar tiga puluh persen dari HP tengkorak itu juga mengagumkan, tapi aku
terpanah melihat ke elegan-an player yang melakukannya. Ini pasti yang mereka
sebut dengan sword dancing.
Ryuzaki berteriak kepadaku, yang
sedang berdiri disana seperti orang bodoh, itu seperti kalau dia mempunyai mata
di belakang kepalanya.
“Rizuka, switch!”
“Ah, oke!”
Aku buru-buru mengangkat pedangku,
dan pada saat yang sama, Ryuzaki melakukan tusukan kuat.
Tengkorak itu menangkis serangan
itu dengan perisai di tangan kirinya dan percikan terang muncul. Tapi itu
adalah hasil yang diinginkan. Musuhnya menjadi terhenti selama beberapa saat
setelah menangkis serangan kuat itu, tidak bisa segera membalas.
Tentu saja, Ryuzaki juga terhenti
setelah mendapatkan serangannya dihentikan, tapi <celah> nya adalah yang
terpenting.
Aku segera menerobos dengan
sebuah charge-type skill. Membuat sebuah break point dengan sengaja
ditengah-tengah pertarungan dan bertukar tempat dengan teman, itulah yang
disebut <switching>.
Setelah memastikan kalau Ryuzaki
telah keluar dari jarak seranganku, aku menerjang dengan cepat kearah musuhku.
Kecuali kau adalah seorang ahli sepertinya, tebasan biasa jauh lebih berguna
melawan musuh yang mempunyai lebih banyak <celah> daripada Demonic
Servant ini. Dalam situasi seperti ini, yang paling efektif adalah dengan senjata
yang bertipe benturan seperti mace. Tapi aku dan mungkin asuna juga tidak
memiliki senjata tipe benturan.
<Vertical Square> yang
kugunakan untuk menyerang musuh kena keempatnya dan mengurangi banyak HP nya.
Tengkorak itu bereaksi dengan lambat. Ini mungkin karena AI dari monster
memiliki delay beberapa saat sebelum merespon ketika pola serangan penyerangnya
tiba-tiba berubah. Kemarin, aku telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk
melakukan hal ini saat melawan spiderman, tapi ketika kau mendapat seorang
teammate, satu switch adalah semua yang kau butuhkan. Ini adalah keuntungan
terbesar bertarung bersama party.
Aku menangkis serangan balasannya
dan memulai sebuah skill besar untuk mengakhiri pertarungan. Aku mengirimkan
sebuah serangan kuat menurun kearah kanan, lalu memutar pergelanganku dan
menebas keatas lagi, mengikuti jejak tebasanku tadi dengan gerakas seperti
melakukan ayunan golf. benturan dan sebuah cahaya orange keluar.
Tengkorak itu mengangkat
perisainya untuk menangkis serangan yang dipikirnya akan datang dari atas, tapi
aku tidak melakukan sesuai dugaannya dan menabraknya dengan bahu kiriku. Lalu
aku mengirimkan sebuah tebasan vertikal kearah tengkorak yang tidak seimbang
itu, dan tanpa berhenti aku menabraknya lagi dengan bahu kananku kali ini. Itu
adalah sebuah skill yang menggabungkan beberapa serangan kuat dengan melakukan
tackle: <Meteor Break>. Tidak menyombong, tapi ini adalah skill yanfg
membutuhkan kemampuan bertarung tanpa senjata dan juga kemampuan bertarung
dengan pedang satu tangan.
HP musuhnya berkurang banyak dari
semua serangan itu dan sekarang berada di area merah. Aku menggunakan semua
tenaga di tubuhku untuk melakukan tebasan horizontal kearah kiri terakhir dari
combo 7-hit <Meteor Break>. Pedangnya mengenai leher tengkorak itu,
menciptakan garis bersinar yang terang. Tulangnya patah dengan suara
menggeretak dan kepala tengkorak itu mental keudara, tubuhnya jatuh ke tanah
seperti sebuah boneka yang terputus tali yang menopangnya.
“Kita menang!!”
Ryuzaki menepuk pundakku dimana
pedangku berada.
Kami membiarkan pembagian itemnya
untuk nanti dan mulai berjalan lagi.
Hingga sekarang, kami telah
melawan monster empat kali tapi kami menang hampir tanpa ada damage yang
mengenai kami. Karena gaya bertarung Ryuzaki banyak menggunakan tusukan
sedangkan gaya bertarungku adalah untuk menggabungkan skill-skill besar, itu
membuat AI monsternya menjadi tegang-dalam hal algoritma, bukan kemampuan
proses CPU yang sebenarnya—dan membuat skill kami menjadi cocok. Mungkin level
kami juga tidak berbeda terlalu jauh.
Kami berjalan berhati-hati
melewati gang megah yang dikelilingi oleh tiang-tiang. Tidak ada kemungkinan
untuk diserang tiba-tiba dengan kemampuan scan ku, Tapi gema dari langkah kaki
kami terus membuatku khawatir. Di labyrinth ini tidak terdapat sumber cahaya,
tapi lingkungan di sekeliling kami mengeluarkan cahaya redup yang misterius,
jadi kami bisa melihat dengan baik.
Aku dengan hati-hati memeriksa
gang yang memantulkan cahaya biru yang lembut.
Di lantai bawah labyrinthnya
terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan. Tapi ketika kami naik ke
atas, lingkungannya terbuat dari sejenis batu yang mengeluarkan cahaya biru.
Tiang-tiangnya terukir dengan gambar yang menakjubkan tetapi membuat merinding,
dan genangan air yang dangkal mengalir dibawah kaki kami, menutupi lantainya.
Kau bisa bilang kalau suasananya menjadi <lebih berat>. Di peta tidak ada
lagi banyak tempat kosong. Jika tebakanku benar maka area di depan mungkin
adalah-
Di ujung gang, sepasang pintu
berwarna abu-abu kebiruan berdiri menanti kedatangan kami. Pahatan di pintu itu
mirip dengan yang ada di tiang-tiang. Bahkan jika semua ini hanyalah dunia yang
terbuat dari data, aura yang aneh terasa keluar dari pintu itu.
“…apakah, itu…”
“Mungkin…? Itu adalah ruangan
boss.”
Aku memegang lengan Ryuzaki
dengan erat.
“Apa yang harus kita lakukan…?
Hanya melihat saja tidak apa-apa kan?”
Kebalikan dengan apa yang dia
katakan, suaranya terdengar tidak tenang. Bahkan jika dia adalah seorang top
class swordswoman, sepertinya dia masih menganggap hal-hal seperti ini
menakutkan. Yah, itu wajar saja, sungguh. Akupun juga merasa takut.
“…Yah, untuk jaga-jaga ayo
siapkan item teleportasi.”
“Ya.”
Ryuzaki mengangguk dan
mengeluarkan sebuah kristal biru dari kantungnya. Aku juga menyiapkan itemku.
“Siap…? Aku akan membukanya…”
Dengan tangan kananku yang
memegang erat Ryuzaki, Aku menyentuh pintu besi itu, dan tangan kiriku
menggenggam crystal. Jika ini adalah dunia nyata, telapak tangan ku pasti sudah
dibanjiri oleh keringat sekarang.
Ketika aku perlahan-lahan
mengeluarkan tenaga dari tanganku, pintunya, yang setidaknya terlihat lebih
tinggi dua kali lipat dari tinggiku, terbuka dengan agak mudah. Ketika itu
mulai bergerak, kedua pintu itu terbuka dengan begitu cepat hingga kami berdua kaget.
Aku dan Ryuzaki berdiri disitu menahan napas kami ketika pintu besar itu
berhenti bergerak dengan suara benturan keras dan menunjukkan kami apa yang ada
didalam.
-Atau itulah yang kami pikir;
didalam sangat gelap. Cahaya yang menyinari gang tempat kami berada sepertinya
tidak mencapai ujung dari ruangan itu. Kegelapan dingin yang tebal tidak
menunjukkan apapun seberapa kerasnya kami mencoba melihatnya.
“…”
Segera setelah aku membuka
mulutku, sepasang api biru keputihan terlihat menyala jauh di dalam ruangan,
lalu pasangan api lainnya muncul dan muncul.
Whoooooosh… dengan suara yang
terus terdengar itu, sebuah jalan kecil menuju tengah ruangan terbentuk dalam
sekejap mata. Diujungnya, sebuah pilar api terbentuk, dan ruangan persegi itu
dipenuhi dengan cahaya biru. Ruangannya cukup luas. Sepertinya semua tempat
kosong dipeta termasuk kedalam ruangan ini.
Aku memegang erat tangan Ryuzaki untuk
menahan kegelisahanku, tapi aku tidak memiliki ruangan yang cukup dikepalaku
untuk menikmati perasaan ini. Itu karena, dibalik pilar api itu, sebuah tubuh
yang besar mulai muncul.
Tubuh yang besar itu dilapisi
dengan otot-otot yang menonjol. Kulit nya berwarna biru gelap dan kepala yang
berada diatas dadanya yang besar itu bukanlah kepala manusia, tapi kepala
kambing gunung.
Ada dua tandung yang meliuk yang
menempel di kedua sisi kepalanya. Matanya yang terlihat seperti terbakar oleh
api biru terang, tertuju kearah kami. Tubuh bagian bawahnya dilapisi oleh bulu
berwarna biru laut dan tidak terlihat terlalu jelas di balik apinya, tapi itu
terlihat kalau itu adalah bulu binatang. Simpelnya, monster itu adalah demon
(setan) dilihat dari manapun.
Ada jarak yang cukup jauh
diantara bagian tengah ruangan dan pintu masuknya. Meski begitu, kami berdiri
membatu di tempat ini tidak bisa menggerakkan satu ototpun. Dari semua monster
yang kami lawan hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya ada yang berbentuk
demon. Itu adalah sesuatu yang sudah terbiasa kulihat karena banyak sekali game
RPG yang telah kumainkan. Tapi sekarang aku benar-benar melihatnya, aku tidak
bisa menahan ketakutan yang keluar dari dalam tubuhku.
Aku perlahan-lahan memfokuskan
mataku dan membaca kata-kata yang muncul: <The Gleameyes>. Itu tidak
salah lagi adalah boss di lantai ini. Kata "The" di depan namanya
adalah buktinya. Gleameyes—yang matanya memancarkan cahaya.
Ketika aku memikirkan hal itu,
demon biru itu tiba-tiba mulai menggoyangkan hidungnya yang panjang dan mulai
berteriak. Api biru yang muncul mengguncang ruangannya dengan kasar dan
menggetarkan lantai ruangannya. Napasnya yang berapi keluar dari hidung dan
mulutnya ketika dia mengangkat pedangnya. Lalu demon biru itu mulai menerjang
lurus kearah kami dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya—membuat lantainya
berguncang—tanpa memberikan kami waktu untuk bisa berpikir.
“Ahhhhhhhhhhhhhhh!”
“Kyaaaaaaaaaaaaaa!”
Sambil berteriak bersamaan, kami
berbalik seratus delapan puluh derajat dan berlari secepat yang kami bisa. Kami
tahu secara teori kalau boss tidak bisa keluar dari ruangannya, tapi kami tidak
tahan berada disana. Mempercayakan tubuh kami kepada dexterity stats yang telah
kami latih hingga sekarang, kami berlari seperti angin melewati gang yang ada.
Part 10
Tanpa sekalipun berhenti untuk
menarik napas, Ryuzaki dan aku berlari ke safe zone yang ada di suatu tempat
ditengah Labyrinth Area. Aku merasa kalau kami sudah menjadi target monster
beberapa kali selama perjalanan. Tapi sejujurnya, kami sedang tidak dalam
kondisi pikiran yang cukup tenang untuk melawan mereka.
Kami menerjang masuk ke dalam ruangan
besar yang yang dibuat sebagai safe area dan duduk dilantai dengan punggung
kami bersandar di tembok. Setelah mengeluarkan napas yang panjang, kami melihat
wajah satu sama lain dan…
“…hahahaha.”
Kami berdua mulai tertawa
bersamaan. Jika kami memeriksa peta, kami pasti akan segera tahu kalau boss itu
tidak keluar dari ruangannya. Tapi kami tidak berpikir sama sekali untuk
berhenti dan memeriksanya.
“Ahahaha, ah—kita melarikan diri
cepat sekali!”
Aku tertawa dengan nada yang
riang.
“Sudah lama sekali sejak aku
berlari seperti kalau nyawaku bergantung pada lariku. Yah, kau bahkan berlari
lebih parah daripada aku!”
“…”
Aku tidak bisa menyangkalnya.
Ryuzaki terus tertawa melihat wajah cemberutku. Butuh usaha yang cukup banyak
baginya untuk berhenti tertawa; dan kemudian dia berkata,
“…itu, terlihat agak sulit.”
Kata Ryuzaki, wajahnya menjadi
serius.
“Ya. Kelihatannya dia hanya punya
pedang besar sebagai senjatanya, tapi dia pasti punya suatu serangan spesial
juga.”
“Kita harus mengirimkan banyak
penyerang yang memiliki defense tinggi dan terus melakukan switching.”
“Kita mungkin membutuhkan sekitar
sepuluh orang dengan perisai… Yah, untuk saat ini kita hanya perlu terus
menyerangnya dan melihat bagaimana dia melawan.”
“Pe…risai.”
Ryuzaki melihat kearahku sambil
berpikir.
“Ada apa?”
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
“Apa maksudmu tiba-tiba berbicara
begitu…?”
“Tapi ada yang aneh. Keuntungan
terbesar dari menggunakan one-handed swords adalah bisa memegang perisai di
tangan lainnya. Tapi aku belum pernah melihatmu memakainya sekalipun. Kalau
aku, aku tidak memakainya karena itu akan memperlambat kecepatan seranganku,
dan beberapa orang tidak memakainya karena mereka khawatir akan gaya mereka.
Tapi kau tidak termasuk diantara keduanya… Itu mencurigakan.”
Kata-katanya sangat tepat. Aku
memiliki skill tersembunyi. Tapi aku tidak pernah memakainya sekalipun didepan
orang lain.
Itu tidak hanya karena skill
sangat penting untuk bisa bertahan hidup, tapi juga karena kupikir itu akan
membuatku terlihat lebih mencolok jika ada yang mengetahuinya.
Tapi, jika dia yang
mengetahuinya, kupikir itu akan baik-baik saja…
Aku membuka mulutku sambil
memikirkan hal itu.
“Tidak apa, itu tidak penting.
Lagi pula mencari tahu tentang skill orang lain itu agak tidak sopan.”
Dia hanya menertawakannya.
Sekarang aku telah kehilangan kesempatanku, aku hanya bisa menggumamkan
beberapa kata di mulutku. Lalu, mata ku melebar setelah memastikan jam.
“Ah, ini sudah jam dua. Agak
terlambat, tapi ayo makan siang.”
“Apa!?”
Ryuzaki tidak bisa menyembunyikan
kegembiraannya.
“A-Apa itu buatan tanganmu!?”
Aku tersenyum tanpa berkata
apapun dan dengan cepat memanipulasi menu. Setelah menyingkirkan sarung
tanganku, aku mengeluarkan sebuah keranjang kecil. Ternyata ada satu hal yang
pasti menguntungkan jika ber-party dengannya—saat aku memikirkannya dengan
tidak sopan, Ryuzaki tiba-tiba melotot kearahku.
“…ide buruk apa yang baru saja
kau pikirkan?”
“Ti-tidak ada apa-apa. Daripada
itu, ayo makan.”
Ryuzaki cemberut, lalu aku
mengambil dua bungkusan keluar dari keranjang dan memberikan salah satunya
kepada Ryuzaki. Ryuzaki membuka bungkusan itu dan menemukan sebuah sandwich
bulat yang berisi banyak sayuran dan daging giling. Aroma yang mirip seperti
merica tercium dari sandwich itu. Tiba-tiba aku melihat Ryuzaki merasa sangat
lapar dan dia menggigitnya dengan lahap.
“Ini…benar-benar enak…”
Ryuzaki menggigitnya dua, tiga
kali sekaligus, dan mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan tulus. Bentuknya
terlihat seperti makanan Eropa, seperti makanan yang disediakan di restoran
NPC, tapi rasanya berbeda. Sedikit rasa asam dan manis terasa seperti makanan
fast food di jepang yang sering Ryuzaki makan hingga dua tahun yang lalu. Ryuzaki
menggigit sandwich besar itu dengan cepat, merasa seperti sedang makan makanan
buatan ibunya.
Setelah menyelesaikan potongan
terakhir dan meneguk teh yang kuberikan, Ryuzaki akhirnya menghela napasnya.
“Bagaimana kau bisa membuat rasa
seperti ini…? Tanya Ryuzaki”
“Itu adalah hasil dari latihan
dan experiment selama satu tahun. Aku membuatnya setelah menganalisa data rasa
dari semua herb yang ada. ini adalah glogwa seed, shuble leaf, dan calim
water.”
Sambil mengatakannya, Aku
mengeluarkan dua botol kecil dari keranjang, membuka salah satu dari mereka,
dan memasukkan jari telunjuknya kedalam. Jarinya keluar bersama dengan cairan
yang tidak bisa di deskripsikan yang lengket dan berwarna ungu. Lalu aku
berkata,
“Buka mulutmu.”
Ryuzaki tidak tahu apa itu, tapi
saat Ryuzaki membuka mulutku karena refleks, Aku melemparkan cairan itu kedalam
mulutnya. Cairan itu masuk kedalam mulutnya.
“…Ini mayonnaise!”
“Yang ini terbuat dari abilpa
beans, sag leaves, dan uransipi bones.”
Bahan yang terakhir terdengar
seperti bahan untuk sebuah penawar racun, tapi sebelum Ryuzaki sempat
menanyakannya cairan lain masuk kedalam mulutnya. Rasanya lebih mengejutkannya
dibanding yang sebelumnya. Tidak salah lagi ini pasti saus tomat jawab Ryuzaki.
dia sangat ketagihan hingga dia menarik tanganku dan memasukkan jariku ke
mulutnya.
“Kya!!”
Aku berteriak dan menarik
tanganku keluar sambil melotot kearahnya. Tapi kemudian dia mulai tertawa
melihat expresi wajahku.
“Itulah bagaimana aku bisa menciptakan
rasa itu.”
“…itu luar biasa! Sempurna! Kau
bisa mendapat banyak uang dengan ini!”
Sejujurnya, sandwich ini berasa
lebih enak dibandingkan makanan dari daging Ragout Rabbit yang kita makan
kemarin.
“Be-Benarkah?”
Aku tersenyum malu.
“Tidak, lebih baik jangan dijual.
Aku tidak bisa membiarkan bagianku menghilang. Jawab Ryuzaki”
“Uwa, kau sangat rakus! …jika kau
mau, aku akan membuatkannya lagi untukmu kapan-kapan.”
Aku mengatakan kalimat terakhir
dengan pelan dan sedikit bersandar di pundakku. Saat kesunyian memenuhi
ruangan, aku bahkan melupakan kalau ini ada di garis depan, tempat dimana kami
bertarung dengan mempertaruhkan nyawa kami.
Jika Ryuzaki bisa memakan makanan
seperti ini setiap hari, aku bisa menguatkan tekatku dan pindah ke Salemburg…tepat
disebelah rumah Ryuzaki… Tanpa sadar aku mulai berpikir seperti itu dan ketika
aku akan mengatakannya-.
Tiba-tiba, terdengar suara
gemerincing dari armor yang menunjukkan kedatangan grup player lain. Kami
dengan cepat membuat jarak diantara kami.
Aku melihat kearah ketua dari
party yang terdiri dari enam orang itu dan merilekskan pundakku. Dia adalah
katana-wielder yang telah kukenal paling lama di Devilcraft.
“Oh, Rizuka! Lama tak berjumpa!”
Aku berdiri dan menyapa orang
tinggi yang berjalan kesini setelah mengenaliku.
“Kau masih hidup, Kuro?”
“Mulutmu masih saja kasar seperti
biasanya. Kenapa kau dari semua pemain solo bisa membuat par-ty…”
Mata si pemegang katana itu
melebar ketika dia melihat Ryuzaki, yang sudah berdiri setelah membereskan
barang-barangnya.
“Ah-, …kalian mungkin sudah
pernah bertemu beberapa kali selama pertarungan melawan boss, tapi aku akan
memperkenalkan kalian lagi. Pria ini adalah Kuro dari guild <Fuurinkazan>,
dan ini Ryuzaki dari < Blood of the Knights>.”
Ryuzaki mengangguk perlahan
ketika aku memperkenalkannya, tapi Kuro hanya berdiri disana, dengan mata dan
mulutnya yang terbuka lebar.
“Hey, katakan sesuatu. Apa kau
sedang lag?”
Setelah aku menyikutnya dari
samping, Kuro akhirnya menutup mulutnya dan memperkenalkan dirinya sesopan
mungkin.
“Hello!!!!! Namaku Kuro Yamamoto
tapi orang-orang memanggilku Kuro! Dan umurku Dua puluh empat tahun!”
Ketika Kuro mengatakan sesuatu
yang bodoh dalam kebingungannya, aku memukulnya, dengan tenaga yang lebih kuat
kali ini. Tapi bahkan sebelum Kuro selesai berbicara, anggota party nya sudah
mendesak dan mulai memperkenalkan diri mereka.
Mereka bilang semua anggota dari
<Fuurinkazan> telah mengenal satu sama lain bahkan sebelum AQWO dimulai.
Kuro telah melindungi dan membimbing mereka semua, tanpa kehilangan satupun
anggota, hingga mereka semua menjadi player yang mampu berada di garis depan.
Dia mampu menopang beban yang telah kuhindari karena takut tiga tahun yang
lalu—dihari death game ini dimulai.
Mengabaikan kebencian terhadap
diriku yang telah menempel dengan erat didalam hatiku, Aku mulai berbicara
kepada Ryuzaki,
“…yah, mereka bukan orang yang
jahat, jika kau mengabaikan wajah jelek ketuanya.”
Kali ini, Kuromenjitak kepalaku
sekeras yang dia bisa. Melihat hal ini, Ryuzaki mulai tertawa, tidak bisa
menahan lebih lama lagi. Kuro juga ikut tertawa, tapi kemudian dia kembali
sadar dan bertanya padaku dengan suara yang terisi dengan niat membunuh.
“B-B-Bagaimana ini bisa terjadi
Rizuka!?”
Ketika aku berdiri disana tanpa
jawaban dipikiranku, Ryuzaki menjawabnya untukku dengan suara yang jelas:
“Senang bertemu denganmu. Aku
memutuskan untuk membuat party dengannya selama beberapa waktu. Kuharap aku
bisa akrab denganmu.”
Aku terkejut dengan apa yang
kudengar. Ketika aku berpikir ‘Eh!? Ini bukan hanya untuk hari ini!?’, Kuro dan
party nya membuat expresi yang berganti-ganti antara kemarahan dan depresi.
Akhirnya, Kuro melirik kearahku
dengan penuh amarah dimatanya dan menggeram sambil menggertakkan giginya.
“Rizuka, kau sialan…”
Aku menggoyangkan bahuku dan
berpikir kalau ini akan sulit untuk keluar dari masalah. Lalu…
Suara langkah kaki terdengar dari
pintu yang baru saja dilewati oleh Fuurinkazan. Ryuzaki menegang mendengar
suara yang terdengar seragam, lalu menarik tanganku dan berbisik.
“Rizuka, itu <The Army>!”
Aku segera mengalihkan
pandanganku ke arah pintu masuk, dan benar, unit yang bersenjata lengkap yang
kami lihat di hutan terlihat dalam pandanganku. Klein mengangkat tangannya dan
membawa kelima temannya mendekati tembok. Grup yang masuk kedalam ruangan ini,
masih dalam formasi berbaris dua, tetapi sudah tidak seteratur saat mereka
berada di hutan. Langkah kaku mereka berat, dan ekspresi dibalik helm mereka
terlihat lelah.
Mereka berhenti di tembok yang
berlawanan dari kami di dalam safe area. Pria yang berada didepan memberi
perintah “Istirahat,” sesaat sebelum kesebelas orang lainnya terduduk di
lantai. Pria itu kemudian berjalan kearah kami tanpa melihat sekalipun kearah
mereka.
Sekarang jika kulihat dengan
jelas, equipment nya agak berbeda dari yang lain. Armornya memiliki qualitas
yang sangat tinggi, dan sebuah lambang yang berbentuk Devilcraft yang terukir
didadanya—sesuatu yang tidak dimiliki oleh kesebelas orang lainnya.
Dia berhenti didepan kami dan
melepaskan helmnya. Dia agak tinggi dan terlihat berumur tiga puluhan lebih.
Dia memiliki wajah yang tajam, rambut yang sangat pendek, sepasang mata tajam
dibawah alisnya yang tebal, dan mulut yang tertutup rapat. Dia melihat kearah
kami semua dengan matanya, dan mulai berbicara padaku yang berada paling depan
diantara kami.
“Aku adalah Letnan Kolonel Cobert
dari Devilcraft Liberation Army.”
Apa-apaan itu? <The Army>
awalnya adalah nama yang digunakan orang untuk mengejek mereka. Kapan itu
menjadi nama resmi mereka? dan <Letnan Kolonel>? Merasa jengkel, aku
menjawab dengan singkat:
“Rizuka, Solo player.”
Dia mengangguk dan bertanya
dengan angkuh:
“Apa kau sudah memetakan area
sekitar sini?”
“…ya. Aku telah memetakan seluruh
jalan hingga ke ruangan boss.”
“Hmm. Kalau begitu kuharap kau
akan memberikan map data nya kepada kami.”
Aku terkejut akan sikapnya. Tapi
Kuro, yang berada dibelakangku, sudah menjadi marah.
“Apa? Memberikannya padamu secara
gratis!? Kau sialan, apa kau tahu betapa sulitnya memetakan area!?”
Dia berteriak dengan suara serak.
Peta-peta dari area yang belum terjamah adalah informasi yang penting. Mereka
juga bisa dijual kepada para pemburu harta, yang mencari kotak harta yang masih
terkunci, dengan harga tinggi.
Ketika dia mendengar suara Kuro,
orang the army itu menaikan salah satu alisnya dan mengumumkan dengan keras.
“Kami bertarung untuk kebebasan
para player seperti kalian.”
Dia memajukan dagunya kedepan dan
melanjutkan.
“Itu adalah tugas kalian untuk
bekerja sama dengan kami!”
-Kata angkuh sangat cocok untuk
sikapnya itu. The Army bahkan sudah lebih dari setahun tidak berada di garis
depan.
“Tunggu sebentar, bagaimana bisa
kau…”
“Kau, kau brengsek…”
Ryuzaki dan Kuro, yang berdiri
disampingku, keduanya melangkah kedepan dengan suara yang penuh kemarahan. Aku
melebarkan tanganku untuk menghentikan mereka.
“Tidak apa-apa. Lagipula aku
berniat untuk menyebarkannya saat kita kembali ke kota.”
“Hey, hey! Kau itu terlalu baik
Kirito!”
“Aku tidak berencana untuk
menjual petanya.”
Sambil mengatakan hal itu, aku
membuka trade window dan mengirimkan informasinya ke pria yang menyebut dirinya
sebagai Lieutenant Colonel Cobert. Dia mengambilnya tanpa ada perubahan di
ekspresinya dan berkata:
“Terima kasih atas kerjasama mu.”
Dia menjawab dengan suara yang
tidak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun, dan kemudian berbalik.
Aku berkata padanya sebelum dia
pergi:
“Sedikit saran dariku, lebih baik
kau tidak menyerang boss itu.”
Cobert melihat kebelakang.
“…itu hal yang harus kuputuskan
sendiri.”
“Kami baru saja memeriksa ruang
bossnya. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau kalahkan hanya dengan orang
sebanyak ini. Selain itu, orang-orangmu juga semuanya terlihat agak lelah.”
“…Orang-orangku tidak selemah itu
hingga bisa kelelahan oleh sesuatu seperti ini!”
Cobert menekankan kata
"orang-orangku" saat dia menjawab dengan jengkel. Tapi orang-orang
yang duduk dilantai tidak terlihat setuju.
“Bangun kalian sampah tidak
berguna!”
Mendengar perintah Cobert, mereka
berdiri dengan terhuyung-huyung dan membentuk dua baris. Cobert bahkan tidak
melihat kearah kami ketika dia kembali kedepan barisan dan memerintahkan dengan
tangannya. Ke dua belas orang itu kemudian mengangkat senjata mereka dan mulai
berjalan lagi, armor berat mereka mengeluarkan suara gemerincing.
Meski mereka masih memiliki 100%
HP mereka diluarnya, pertarungan yang berkelanjutan dalam AQWO meninggalkan
kelelahan yang tidak bisa terlihat. Tubuh kami di dunia asli mungkin tidak
bergerak sedikitpun, tapi perasaan lelah masih akan menetap hingga kami tidur
atau beristirahat di sini. Berdasarkan apa yang kulihat, para player The Army
itu sudah kelelahan, karena mereka tidak terbiasa bertarung di garis depan.
“…apa mereka akan baik-baik saja
ya…”
Kuro berbicara dengan suara
khawatir ketika anggota The Army menghilang kedalam jalan sempit yang menuju
kearah lantai atas dan suara langkah kaki mereka menghilang dari telinga kami.
Dia benar-benar orang yang baik.
“Mereka tidak begitu bodoh hingga
mau menantang bossnya kan…?”
Ryuzaki terlihat khawatir juga.
Ada sesuatu didalam suara Cobert yang menunjukkan suatu kecerobohan.
“…apa kita harus memeriksa apa
yang mereka lakukan…?”
Ketika aku berkata hal ini, bukan
hanya Kuro dan Ryuzaki, tapi bahkan kelima anggota yang lain juga setuju.
…dan mereka bilang kalau aku
terlalu baik…
Aku memikirkan hal ini dengan
senyuman pahit. Tapi, aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan bisa tidur
malam ini jika kami meninggalkan Labyrinth sekarang dan mendengar kalau mereka
tidak kembali dari sini.
Ketika aku dengan cepat memeriksa
equipmentku dan mulai berjalan, sebuah suara memasuki telingaku-
Aku bisa mendengar kalau Kuro
berbisik ke Ryuzaki dibelakangku. Aku memikirkan apakah dia masih belum puas
menerima sikutan dariku ketika aku mendengar isi pembicaraan mereka yang
mengejutkanku.
“Ah—Ryuzaki-san, bagaimana mengatakannya
yah…dia itu, Rizuka, tolong baik-baik lah terhadapnya. Bahkan jika dia tidak
terlalu bagus dalam menggunakan kata-katanya, meskipun dia terlalu cantik dan
lucu, tapidia seorang penggila bertarung yang terlalu tomboy.”
Aku menerjang mundur dan menarik
bandana Kuro sekeras yang aku bisa.
“A-apa yang kau bicarakan!?”
“T-Tapi.”
Si pemegang katana itu menarik
kepalanya dan menggaruk jenggotnya.
“Itu cukup aneh jika kau membuat
party dengan seseorang. Bahkan jika kau jatuh cinta pada Ryuzaki, itu adalah
kemajuan yang sangat besar untukmu. Makanya aku-”
“A-Aku tidak jatuh cinta
padanya!”
Aku memprotesnya. Tapi entah
kenapa, Kuro, anggota partynya, dan bahkan Ryuzaki melihat kearahku dengan
sebuah senyuman diwajah mereka. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali diam,
berbalik dan terus berjalan.
Lalu aku mendengar Ryuzaki
menyatakan:
“Serahkan dia padaku!”
Aku berlari menuju jalan yang
menuju ke lantai berikutnya sambil membuat suara berisik dengan sepatuku.
keren music nya (komentar 2017 :v)
BalasHapus